Tag: 377A

  • Di Bawah Langit yang Teratur: Peta Aliran Politik Singapura dan Akar Nasionalisme Ekstrem serta Konservatisme Keras di Negara-Kota

    Di Bawah Langit yang Teratur: Peta Aliran Politik Singapura dan Akar Nasionalisme Ekstrem serta Konservatisme Keras di Negara-Kota

    Telaah Strategis · Geopolitik · Kajian Asia Tenggara · Perdamaian & Keamanan

    Di Bawah Langit yang Teratur:Peta Aliran Politik Singapura dan Akar Nasionalisme Ekstrem serta Konservatisme Keras di Negara-Kota

    Apakah Singapura menyimpan arus ultra-nasionalis dan ultra-konservatif? Telaah ini memetakan seluruh aliran politik negara-kota itu, dari inti komunitarian PAP hingga nativisme daring, konservatisme religius, dan pinggiran kekerasan sayap kanan jauh, lalu menjelaskan mengapa arus keras itu ada, seberapa kuat, dan bagaimana ia bereaksi terhadap ketegangan dengan Indonesia pada Oktober 2026.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • Telaah Strategis
    • 28 Oktober 2026
    • ± 40 menit baca
    Di Bawah Langit yang Teratur: Peta Aliran Politik Singapura dan Akar Nasionalisme Ekstrem serta Konservatisme Keras di Negara-Kota
    Telaah ini memetakan delapan arus politik Singapura dan menguji apakah label “ultra” layak dikenakan pada masing-masing. Temuannya: nativisme ekonomi dan konservatisme moral nyata, tetapi tidak terorganisasi sebagai kekuatan radikal; kekerasan sayap kanan jauh hadir sebagai radikalisasi diri remaja yang terisolasi, sementara negara komunitarian menyerap dan mensekuritisasi semuanya.
    Daftar Isi
    1. ILangit yang Teratur
    2. IIKerangka, Metode, Keyakinan
    3. IIIInti Ideologis PAP
    4. IVPeta Elektoral dan Oposisi
    5. VNativisme Ekonomi
    6. VIKonservatisme Religius
    7. VIIPinggiran Kekerasan
    8. VIIIFaktor Tiongkok
    9. IXLiberal-Progresif dan Daring
    10. XRespons Negara
    11. XIMengapa, dan Uji Mudde
    12. XIIKata Para Pemimpin
    13. XIIICermin Indonesia 2026
    14. XIVTandingan, Skenario, Rekomendasi
    15. XVKeterbatasan dan Kesimpulan

    Abstrak

    Ketegangan Indonesia–Singapura pada Oktober 2026 memunculkan pertanyaan tentang watak politik domestik negara-kota itu: apakah di balik ketertiban Singapura tersimpan arus ultra-nasionalis dan ultra-konservatif yang dapat memperkeras sikapnya terhadap tetangga? Telaah strategis ini memetakan seluruh aliran politik Singapura dengan membedakan tiga lapis, yakni ideologi, retorika, dan organisasi, serta menolak menempelkan label “ultra” pada orang atau kelompok tanpa dukungan sumber. Data berasal dari rilis resmi ISD, MHA, MINDEF, dan Perpustakaan Nasional; survei IPS (Post-Election Survey 2025, World Values Survey 2020, Indikator Harmoni Ras dan Agama 2024); survei Ipsos; audit komputasional atas 31 juta unggahan daring; literatur Chua Beng Huat, Kenneth Paul Tan, Cherian George, Michael Barr, dan Garry Rodan; serta arsip kba13.com dan pustaka.kba13academy.com. Hasilnya menunjukkan bahwa nativisme ekonomi adalah arus paling mendekati kanan radikal, tetapi hidup sebagai wacana daring dan retorika pinggiran, bukan partai. Konservatisme moral-religius terlembaga dan berpengaruh, namun bekerja melalui jalur legal. Ekstremisme sayap kanan jauh hanya tampak sebagai radikalisasi diri remaja yang terisolasi. Negara komunitarian PAP menyerap, mengatur, dan mensekuritisasi semua arus itu. Telaah ini menutup dengan uji teori Mudde, skenario hingga 2030, dan rekomendasi bagi aktor Singapura dan Indonesia.

    Tesis

    Singapura memiliki nativisme tanpa partai kanan radikal dan konservatisme tanpa gerakan ultra: arus keras itu nyata dalam wacana dan pinggiran kekerasan individual, tetapi negara komunitarian yang bertumpu pada narasi kerentanan telah lebih dahulu menduduki ruang tempat kanan radikal biasanya tumbuh.

    1. DataRilis ISD/MHA/MINDEF/NLB, survei IPS dan Ipsos, audit 31 juta unggahan daring, media berkualitas, arsip kba13.com dan pustaka.kba13academy.com
    2. KerangkaMudde (kanan radikal populis), sekuritisasi Mazhab Kopenhagen, komunitarianisme Chua, meritokrasi Tan, Barr, George, Rodan
    3. ProyeksiLima skenario aliran politik Singapura hingga 2030 dan dampaknya bagi hubungan dengan Indonesia

    Kata kunci

    • Singapura
    • PAP
    • nativisme
    • nasionalisme
    • konservatisme religius
    • 377A
    • CECA
    • ekstremisme sayap kanan
    • sekuritisasi
    • FICA
    • Indonesia–Singapura
    • Mudde
    I

    Langit yang Teratur dan Pertanyaan tentang “Ultra”

    Pada pertengahan Oktober 2026, langit Singapura memutih oleh asap kebakaran hutan dan lahan dari Sumatra dan Kalimantan, bursa Jakarta terguncang oleh rencana reklasifikasi MSCI, dan pada 24 Oktober SKK Migas mulai memangkas pasokan gas pipa ke Singapura. Dalam suasana semacam itu, publik Indonesia mudah membayangkan Singapura sebagai satu tubuh politik yang seragam, rasional, dingin, dan, bagi sebagian orang, nasionalis secara berlebihan. Pada tahun 2026, esai di KBA13 Insight berjudul Masa Depan Konfrontasi menuju Perang Terbuka Antara Singapura dan Indonesia (25 Oktober 2026), yang juga tercatat sebagai dokumen di Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, merangkai tiga pemicu itu, yakni asap, saham, dan gas, ke dalam ingatan sejarah Konfrontasi 1963–1966 dan menawarkan skenario 2027–2030. Pertanyaan yang lahir dari situasi tersebut terdengar sederhana tetapi sesungguhnya rumit: mengapa ada aliran ultra-nasionalis dan ultra-konservatif di Singapura, dan seberapa besar pengaruhnya terhadap cara negara-kota itu memperlakukan tetangganya? Pertanyaan ini mengandung praanggapan bahwa arus “ultra” itu memang ada dan cukup kuat untuk dihitung. Telaah ini tidak menerima praanggapan tersebut begitu saja, melainkan mengujinya dengan memetakan seluruh aliran politik Singapura, dari partai berkuasa hingga pinggiran kekerasan, dan menimbang setiap label dengan bukti.

    Telaah ini sengaja ditempatkan di samping tiga kajian Research Center yang terbit sehari sebelumnya dan tidak mengulang sudut pandangnya. Kajian Perang Narasi di Seberang Selat (27 Oktober 2026) menilai bahwa opini warganet Singapura tentang krisis Oktober bersifat organik dan tidak menemukan bukti operasi pengaruh negara Singapura; kajian itu juga telah membedah arsitektur hukum POFMA dan FICA secara rinci, sehingga telaah ini hanya merujuknya. Kajian Tangga Eskalasi di Selat Singapura membaca sikap Singapura sebagai legalisme yang lahir dari kerentanan dan menyusun tangga eskalasi hingga 2030. Adapun kajian Damai tetapi Berjarak menunjukkan bahwa garis pemisah utama masyarakat Singapura kini adalah kelas dan status kewarganegaraan, bukan lagi ras. Ketiganya menyisakan celah yang diakui sendiri: belum ada peta menyeluruh tentang aliran ideologis di Singapura, belum ada pembacaan atas forum daring seperti HardwareZone dan Reddit, dan belum ada data kuantitatif tentang sentimen nativis. Telaah ini mengisi celah itu.

    Argumen yang dikembangkan berikut dapat diringkas sejak awal. Singapura memang menyimpan arus keras: nativisme ekonomi yang memusuhi pekerja asing dan perjanjian dagang, konservatisme moral-religius yang menolak perubahan norma seksual dan keluarga, serta segelintir remaja yang meradikalisasi diri melalui ideologi sayap kanan jauh dan gabungan ideologi kekerasan. Namun ketiganya tidak membentuk gerakan ultra yang terorganisasi. Sebabnya bukan semata represi, melainkan karena negara yang dibangun Partai Aksi Rakyat (PAP) sudah menduduki ruang ideologis yang di tempat lain diisi kanan radikal: negara itu sendiri konservatif secara komunitarian, nasionalis secara defensif, dan sangat cepat mengubah isu identitas menjadi isu keamanan. Lima belas bagian berikut menguraikan kerangka dan metode, inti ideologi PAP, peta elektoral dan oposisi, empat arus keras dan satu arus liberal, respons negara, penjelasan teoretis, suara para pemimpin, cermin Indonesia Oktober 2026, argumen tandingan, skenario, rekomendasi, dan keterbatasan.

    II

    Kerangka Analitis, Metode, dan Tingkat Keyakinan

    Telaah ini membedakan tiga lapis yang kerap dicampuradukkan dalam perbincangan publik. Lapis pertama adalah ideologi, yaitu seperangkat gagasan tentang siapa yang termasuk bangsa, bagaimana masyarakat seharusnya diatur, dan nilai apa yang harus dipertahankan. Lapis kedua adalah retorika, yaitu cara aktor politik membingkai isu, misalnya ketika perdebatan tentang tenaga kerja asing diberi nada rasial. Lapis ketiga adalah organisasi, yaitu kendaraan yang membawa ideologi dan retorika ke arena politik: partai, kelompok masyarakat sipil, jaringan keagamaan, atau komunitas daring. Sebuah arus baru layak disebut “ultra” bila memenuhi setidaknya dua syarat dari tiga: memeluk gagasan eksklusif yang memusuhi kelompok luar secara menyeluruh, menolak tatanan konstitusional pluralis atau membenarkan pemaksaan, dan memiliki pembawa yang terorganisasi. Atas dasar itu, telaah ini tidak menyebut orang atau kelompok bernama sebagai “ultra” kecuali sumber resmi atau akademik mendukungnya; dalam kebanyakan kasus, istilah yang lebih tepat adalah “nativis”, “konservatif”, atau “populis”, dan setiap istilah itu dikaitkan dengan bukti tertentu.

    Lensa teoretis pertama berasal dari karya Cas Mudde, Populist Radical Right Parties in Europe (Cambridge University Press, 2007), yang menjadi rujukan baku untuk mengenali kanan radikal populis. Pada tahun 2025, João Ferreira Dias dalam komentar di European Center for Populism Studies berjudul What Is the Ideology That Has Attained Social Hegemony? Let Us Call It Simply Nativism merangkum nativisme, dengan merujuk Mudde dan Rovira Kaltwasser, sebagai pandangan dunia yang membela populasi “asli” dari ancaman luar dan dalam, serta merumuskan populisme kanan radikal sebagai struktur rangkap tiga: pembelahan moral antara rakyat murni dan elite korup, pembelaan identitas nasional terhadap multikulturalisme, dan penentangan terhadap kiri. Lensa kedua adalah teori sekuritisasi Barry Buzan, Ole Wæver, dan Jaap de Wilde. Ulasan CESRAN atas Security: A New Framework for Analysis (Lynne Rienner, 1998) menegaskan bahwa sekuritisasi adalah tindak tutur yang berhasil bila khalayak menerima suatu isu sebagai “ancaman eksistensial” yang membenarkan tindakan darurat. Lensa ketiga berasal dari kesarjanaan Singapura sendiri: komunitarianisme Chua Beng Huat, kritik meritokrasi Kenneth Paul Tan, metafora “bangsa berpendingin udara” Cherian George, jaringan elite Michael Barr, dan teori partisipasi tanpa demokrasi Garry Rodan.

    Secara metodologis, telaah ini memadukan analisis dokumen resmi (rilis pers Internal Security Department, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertahanan, dan ensiklopedia Perpustakaan Nasional), data survei (IPS Post-Election Survey 2025, World Values Survey 2020 komponen Singapura, Indikator Harmoni Ras dan Agama IPS-OnePeople.sg 2024, survei Ipsos 2022), audit komputasional atas lebih dari 31 juta unggahan daring, liputan media berkualitas, serta arsip kba13.com dan pustaka.kba13academy.com. Batas data adalah 28 Oktober 2026. Setiap penilaian diberi tingkat keyakinan. Keyakinan Tinggi diberikan bila temuan bertumpu pada beberapa sumber resmi atau survei yang konsisten; Sedang bila bertumpu pada satu sumber berkualitas atau inferensi yang wajar dari beberapa indikator; Rendah bila masuk akal tetapi bukti terbuka tipis. Satu catatan istilah perlu diberikan sejak awal: dalam survei pascapemilu IPS, kluster “Conservative” berarti pemilih yang cenderung mempertahankan status quo politik dan dominasi partai berkuasa, bukan konservatisme moral atau religius. Mencampuradukkan keduanya akan menghasilkan kesimpulan keliru tentang besarnya “konservatisme” di Singapura.

    III

    Inti Ideologis PAP: Pragmatisme, Meritokrasi, Multirasialisme, dan Narasi Kerentanan

    Setiap peta aliran politik Singapura harus dimulai dari PAP, sebab partai yang berkuasa sejak 1959 itu bukan hanya satu pemain di antara banyak pemain, melainkan perancang lapangan permainan. Inti ideologinya paling jelas terbaca dalam dokumen Nilai Bersama. Ensiklopedia Perpustakaan Nasional Singapura, Infopedia, dalam entri tentang Shared Values, mencatat bahwa Goh Chok Tong pertama kali mengusulkan seperangkat nilai resmi pada 28 Oktober 1988, Presiden Wee Kim Wee mengulang seruan itu pada 9 Januari 1989, Buku Putih Nilai Bersama diajukan ke parlemen pada 2 Januari 1991, dan parlemen mengesahkannya pada 15 Januari 1991. Lima nilai itu ialah bangsa di atas komunitas dan masyarakat di atas diri, keluarga sebagai unit dasar masyarakat, dukungan komunitas dan penghormatan terhadap individu, konsensus bukan konflik, serta harmoni ras dan agama. Latar belakangnya adalah kecemasan elite bahwa warga bergeser menuju pandangan hidup yang, dalam kata-kata Wee, “more Westernised, individualistic, and self-centred”. Dokumen ini penting bagi telaah kita karena memperlihatkan bahwa konservatisme keluarga dan kecurigaan terhadap individualisme Barat bukan milik kelompok pinggiran, melainkan doktrin negara.

    Pada tahun 2017, Chua Beng Huat dalam buku Liberalism Disavowed: Communitarianism and State Capitalism in Singapore (NUS Press) menunjukkan bahwa PAP membangun ideologi komunitarian non-Barat sebagai alternatif liberalisme dan mengujinya pada perumahan publik, multirasialisme, dan kapitalisme negara; ia juga mencatat terjadinya “liberalisasi ranah budaya” tanpa runtuhnya hegemoni partai. Pada tahun 2008, Kenneth Paul Tan dalam International Political Science Review berjudul Meritocracy and Elitism in a Global City: Ideological Shifts in Singapore berargumen bahwa meritokrasi adalah ideologi yang tidak stabil karena cita egaliternya berbenturan dengan kompetisi dan ganjaran, sehingga dalam praktik ia membenarkan elitisme dan pemerintahan teknokratis, dan ia memperkirakan kesenjangan pendapatan serta krisis global akan menggerusnya. Michael Barr dalam The Ruling Elite of Singapore (I.B. Tauris, 2014) menelusuri jaringan kekuasaan yang dibangun di sekitar Lee Kuan Yew, sedangkan Barr bersama Zlatko Skrbis dalam Constructing Singapore: Elitism, Ethnicity and the Nation-building Project (NIAS Press, 2009) berpendapat bahwa proyek pembangunan bangsa yang dipimpin elite memungkinkan “versi Singapura dari etno-nasionalisme Tionghoa” mendominasi perdebatan tentang identitas nasional.

    Unsur ketiga adalah narasi kerentanan, yaitu keyakinan bahwa negara kecil tanpa sumber daya alam hanya dapat bertahan melalui disiplin, persatuan, dan kewaspadaan. Kementerian Pertahanan Singapura dalam lembar fakta tentang evolusi Total Defence (15 Februari 2019) mencatat bahwa konsep itu diperkenalkan pada 1984 dengan mengacu pada model Swedia dan Swiss, menjadikan Pertahanan Psikologis sebagai intinya, dan pada 2019 menambahkan Pertahanan Digital sebagai pilar keenam. Kenneth Paul Tan dalam Singapore: Identity, Brand, Power (Cambridge University Press, 2018) menggambarkan negara yang memimpin penciptaan narasi nasional demi pertahanan diri dan mengandalkan smart power karena sumber dayanya terbatas. Garis kepemimpinan dari Lee Kuan Yew, Goh Chok Tong, Lee Hsien Loong, hingga Lawrence Wong yang dilantik pada 15 Mei 2024 tidak mengubah inti ini. Cherian George dalam Singapore: The Air-Conditioned Nation (Landmark Books, 2000; edisi revisi 2020) menyebutnya politik kenyamanan dan kendali, sedangkan Garry Rodan dalam Participation without Democracy (Cornell University Press, 2018) menunjukkan bahwa saluran partisipasi konsultatif justru lebih banyak meredam kontestasi daripada memperluasnya. Konsekuensinya bagi telaah ini sangat menentukan: PAP sendiri adalah pembawa utama nasionalisme negara yang konservatif-komunitarian, sehingga arus kanan lain harus bersaing dengan negara di wilayah ideologis yang sama.

    IV

    Peta Elektoral dan Spektrum Ideologis Oposisi

    Dua pemilu terakhir memberi gambaran tentang batas-batas spektrum politik. Laporan Al Jazeera berjudul Singapore’s governing PAP returns to power but faces setback (11 Juli 2020) mencatat bahwa pada pemilu 10 Juli 2020 PAP meraih 83 dari 93 kursi dengan sekitar 61 persen suara, turun dari 70 persen pada 2015, sementara Partai Pekerja (WP) meraih 10 kursi, jumlah terbanyak yang pernah dimenangi oposisi; Lee Hsien Loong menyebutnya “not as strong a mandate as I hoped for but it’s a good mandate”. Pada pemilu 3 Mei 2025, laporan Mothership/MustShareNews berjudul GE2025: PAP forms Govt with landslide 65.57% of votes (4 Mei 2025) mencatat PAP memperoleh 65,57 persen suara dan 87 dari 97 kursi. Laporan The Edge Singapore berjudul PAP wins 87 of 97 seats, clinches 65.57% vote share menambahkan bahwa WP mempertahankan 10 kursi, Partai Kemajuan Singapura (PSP) kehilangan dua kursi anggota parlemen nonkonstituensi, dan partisipasi pemilih sebesar 92,47 persen merupakan titik terendah baru. Survei pascapemilu IPS, POPS(12) IPS Post-Election Survey 2025 (2.056 responden), menemukan biaya hidup dinilai sangat penting oleh 74 persen responden, 74 persen menganggap penting adanya oposisi terpilih, kredibilitas PAP turun 17 poin menjadi 69 persen, dan kredibilitas WP turun 14 poin menjadi 65 persen. Kluster “Conservative” naik dari 19 menjadi 25 persen dan “Pluralist” dari 22 menjadi 27 persen, sementara pemilih “Swing” menyusut dari 59 menjadi 48 persen; kenaikan kluster pro-status quo terutama terjadi pada usia 21–39 tahun.

    Spektrum oposisi sempit dan sebagian besar berada di tengah. WP memosisikan diri sebagai penyeimbang pemerintah dengan agenda upah minimum, kesehatan terjangkau, dan pengawasan belanja negara, sebagaimana dirangkum dalam panduan partai politik Singapura 2026 oleh The Money Bees, yang juga mencatat porsi suara nasional WP 14,99 persen, PSP 4,88 persen, Red Dot United (RDU) 3,96 persen, Partai Demokratik Singapura (SDP) 3,72 persen, People’s Alliance for Reform (PAR) 2,51 persen, dan Partai Rakyat Singapura (SPP) 1,18 persen. PSP digambarkan sebagai partai yang cenderung ke tengah dengan fokus pada biaya hidup, pekerjaan bagi warga lokal, dan kebijakan CPF. SDP berkampanye soal keterjangkauan perumahan dan kebebasan berpendapat; analisis Ng Reuben di Global-is-Asian berjudul Why did some opposition parties see stinging losses at GE2025? (Mei 2025) mencatat Chee Soon Juan meraih hampir 47 persen di Sembawang West dan menyebut agenda kesehatan pembayar-tunggal SDP. Ringkasan ensiklopedis tentang Red Dot United menyebut partai yang didirikan pada 26 Mei 2020 oleh Ravi Philemon dan Michelle Lee itu berhaluan sosial-demokrat progresif kiri-tengah.

    Di sisi lain spektrum terdapat partai-partai kecil yang memakai bahasa populis. Ringkasan ensiklopedis tentang Peoples Voice mencatat bahwa partai pimpinan Lim Tean itu didaftarkan pada Oktober 2018, dikategorikan sebagai populis, meraih 2,37 persen suara nasional pada 2020, dan sejak Juni 2023 bergabung dalam aliansi PAR. Sebelumnya, Malay Mail dalam laporan Singapore opposition party SingFirst dissolved (25 Juni 2020) mencatat bahwa partai bernama Singaporeans First, didirikan Tan Jee Say pada Agustus 2014, dibubarkan menjelang pemilu 2020 setelah kalah di dua GRC pada 2015. Nama partai itu sendiri merangkum slogan nasionalisme ekonomi yang populer sejak 2011, tetapi kiprah elektoralnya pendek. Pemungutan suara tentang pencabutan Pasal 377A pada 2022 memperlihatkan bahwa garis pembelah moral memotong partai-partai, bukan memisahkan mereka: dua anggota WP menolak pencabutan, dua anggota WP lain abstain atas amandemen konstitusi, dan dua anggota PSP menolak amandemen tersebut. Penilaian bagian ini adalah bahwa tidak ada partai bersuara signifikan di Singapura yang mengusung program ultra-nasionalis atau ultra-konservatif; retorika nativis memang muncul pada partai pinggiran dan pada isu tertentu di partai menengah, tetapi daya elektoralnya kecil (keyakinan Tinggi).

    V

    Nativisme dan Nasionalisme Ekonomi: dari Hong Lim hingga CECA

    Arus paling mendekati kanan radikal di Singapura adalah nativisme ekonomi, yaitu keyakinan bahwa warga lokal dirugikan oleh arus pendatang dan perjanjian dagang. Pada tahun 2015, J. Lim dalam Japanese Journal of Political Science berjudul Popular nationalism in the wake of the 2011 national elections in Singapore membedakan nasionalisme negara yang dipromosikan PAP, berpusat pada pertumbuhan ekonomi dan kemenangan partai atas kolonialisme, kekerasan rasial, dan komunisme, dari nasionalisme populer yang tumbuh dari bawah dan merasa identitas nasional terancam oleh kebijakan imigrasi liberal, khususnya pendatang yang dilabeli pemerintah sebagai foreign talent. Puncak publik arus ini terjadi dua tahun kemudian. Laporan Al Jazeera berjudul Singaporeans protest over population plan (16 Februari 2013) mencatat sedikitnya 4.000 orang berkumpul di Hong Lim Park menentang Buku Putih Kependudukan yang memproyeksikan populasi dapat tumbuh dari 5,3 juta menjadi 6,9 juta pada 2030, terutama melalui pekerja asing. Penyelenggaranya, Gilbert Goh, meminta pemerintah meninjau ulang kebijakan itu, dan perencana keuangan Leong Sze Hian berkata bahwa negara tidak dapat mendatangkan orang asing untuk bersaing dengan rakyatnya sendiri sambil sedikit sekali merawat rakyat itu.

    Akhir tahun yang sama, kerusuhan Little India menguji apakah ketegangan pendatang-lokal akan berubah menjadi kekerasan komunal. Malay Mail dalam laporan Little India riot was sparked off by accident, inquiry panel says (1 Juli 2014) mencatat bahwa sekitar 400 perusuh terlibat pada 8 Desember 2013 setelah seorang warga India tewas tertabrak bus. Komite penyelidikan menolak tafsir bahwa kerusuhan lahir dari ketidakpuasan pekerja asing atas kondisi kerja dan menegaskan bahwa upaya membingkainya sebagai isu rasial sama sekali tidak berdasar, sambil menyebut alkohol sebagai faktor penyumbang utama. Respons ini khas: negara membingkai peristiwa sebagai soal ketertiban umum, bukan keluhan struktural, sehingga ruang bagi mobilisasi nativis di sekitar peristiwa itu dipersempit. Gelombang berikutnya berpusat pada CECA, Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif dengan India. Mothership dalam laporan Ong Ye Kung agrees with Pritam Singh that early information on nativist issues could help quell falsehoods early (6 Juli 2021) mencatat Menteri Ong Ye Kung menegaskan bahwa “CECA Chapter 9 does not allow an unfettered inflow of Indian nationals” dan meminta PSP menarik tuduhannya, sementara Pritam Singh dari WP menyebut perlunya keterbukaan data untuk meredam perbincangan yang bergeser ke xenofobia atau nativisme. Mothership kembali mencatat dalam laporan PSP’s anti-CECA campaign has ‘strongly racist & xenophobic undertones’: Lawrence Wong (14 September 2021) bahwa Lawrence Wong menilai mosi PSP bernada rasis dan xenofobik dan meminta partai itu berhenti mengeksploitasi kecemasan warga; PSP sendiri menolak tuduhan itu; MustShareNews dalam laporan PSP Refutes Ong Ye Kung’s Claims That They Contributed To Racist Sentiments, Demands Apology (2 Juli 2021) mengutip Sekretaris Jenderal PSP Francis Yuen bahwa perdebatan itu menyangkut pekerja profesional, manajer, eksekutif, dan teknisi, bukan ketegangan rasial.

    Pada Mei 2021, perdebatan itu bersentuhan dengan kekerasan nyata. Malay Mail dalam laporan Singapore PM Lee and several ministers speak out against alleged racist attack (11 Mei 2021) mencatat serangan terhadap seorang perempuan keturunan India yang dikecam Lee Hsien Loong dan sejumlah menteri. Pada tahun 2022, sosiolog Laavanya Kathiravelu dalam esai di Academia.sg berjudul Doubly minoritised: Indianness in Singapore and xenophobia as racism berargumen bahwa warna kulit menjadi penanda “orang luar” ketika batas antara warga dan pendatang kabur, dan bahwa kemarahan terhadap CECA juga diarahkan kepada pemerintah yang dianggap mengistimewakan kelompok tertentu. Ukuran arus ini di ranah daring kini dapat diperkirakan. Emilio Ferrara dalam audit komputasional berjudul Cultural Targets, Structural Frames, Binding Morals: A Cross-Lingual Audit of Online Hate in Multicultural Singapore menganalisis 31.032.005 butir dari 231 halaman Facebook, 23 subreddit, dan 16 kanal YouTube berorientasi Singapura pada 2025. Dari 3.323 komentar yang terkonfirmasi sebagai ujaran kebencian, 31 persen memuat sikap anti-imigrasi eksplisit; sikap itu hadir pada 98–99 persen kebencian terhadap sasaran CECA dan pekerja migran, dan kebencian anti-CECA mengalami amplifikasi paling tinggi. Penilaian bagian ini: nativisme ekonomi adalah arus nyata dengan ideologi eksklusif dan retorika yang teramplifikasi (keyakinan Tinggi), tetapi pembawa organisasionalnya lemah dan ukurannya relatif kecil dibanding volume wacana daring secara keseluruhan (keyakinan Sedang, mengingat Ferrara sendiri memperingatkan bahwa pola relatif lebih andal daripada angka prevalensi absolut).

    VI

    Konservatisme Religius dan Moral: Pasal 377A dan Sesudahnya

    Arus kedua yang kerap disebut “ultra-konservatif” adalah konservatisme moral-religius. Basis sosialnya luas. Liputan The Straits Times yang diarsipkan IPS berjudul Singapore still conservative on moral, sexuality issues but more liberal since 2002 (3 Februari 2021), berdasarkan World Values Survey 2020 dengan lebih dari 2.000 responden, mencatat 59,3 persen responden menilai homoseksualitas “tidak pernah atau jarang dapat dibenarkan”, dengan angka 75,2 persen di kalangan Muslim, sementara arti penting agama menurun dari sekitar 76 persen pada 2002 dan 2012 menjadi 65,3 persen. Malay Mail dalam laporan Left or right? IPS survey finds almost half of Singaporeans undecided (3 Februari 2021) menambahkan bahwa 30,6 persen responden menempatkan diri di kiri dan 20,8 persen di kanan, dengan 42,7 persen kelompok usia 21–35 tahun di kiri dan 31,8 persen kelompok di atas 65 tahun di kanan. Arah perubahan juga terlihat dalam survei Ipsos berjudul Attitudes towards same-sex relationships shift towards greater inclusivity in Singapore (21 Juni 2022): dukungan untuk mempertahankan Pasal 377A turun dari 55 persen pada 2018 menjadi 44 persen pada 2022, sementara penolakan naik dari 12 menjadi 20 persen.

    Negara menavigasi perubahan itu dengan kompromi yang sekaligus konservatif. Malay Mail dalam laporan Singapore will decriminalise sex between men, says PM Lee (21 Agustus 2022) mengutip Lee Hsien Loong dalam Rapat Umum Hari Nasional bahwa pencabutan adalah langkah yang benar, disertai janji melindungi definisi perkawinan sebagai ikatan laki-laki dan perempuan dari gugatan konstitusional. Malay Mail dalam laporan Singapore Parliament repeals Section 377A, approves constitutional change (30 November 2022) mencatat bahwa pada 29 November 2022 pencabutan disahkan dengan 93 suara setuju dan 3 menolak, sedangkan Pasal 156 konstitusi yang baru disahkan dengan 85 suara setuju, 2 menolak, dan 2 abstain. Reaksi lembaga agama beragam. Mothership dalam laporan Disappointment, acceptance, relief: 34 religious, social, & LGBTQ+ groups’ responses to 377A repeal (22 Agustus 2022) mencatat Dewan Gereja Nasional menerima pencabutan sambil menilainya tidak perlu, Keuskupan Agung Katolik menegaskan tidak berusaha mengkriminalkan kelompok LGBTQ, Aliansi Gereja Pentakosta dan Karismatik yang mewakili lebih dari 80 gereja menyebutnya “an extremely regrettable decision”, sedangkan MUIS menegaskan pandangan Islam tentang perkawinan sekaligus menyatakan bahwa setiap orang, apa pun orientasi seksualnya, harus merasa aman.

    Di luar lembaga resmi, konservatisme moral dimobilisasi oleh kelompok sipil. Pada 30 Juli 2022, Kementerian Dalam Negeri dalam jawaban atas pertanyaan media tentang Protect Singapore Townhall menyatakan bahwa kelompok Protect Singapore tidak melanggar hukum dan bahwa pemerintah akan turun tangan bila ada hasutan atau serangan dari pihak mana pun. Dua tahun kemudian, Malay Mail dalam laporan In Singapore, politicians show up for Pink Dot despite scorecard grading their ‘family values’ (29 Juni 2024) mencatat kelompok itu menerbitkan kartu nilai yang menilai anggota parlemen berdasarkan sikap terhadap isu LGBTQ. Akar mobilisasi ini lebih tua: Global Voices dalam laporan Singapore’s ‘Pink Dot’ LGBT Rights Rally Was Bigger Than Ever, Despite #WearWhite Opponents (4 Juli 2014) mencatat bahwa pendidik Islam Noor Deros menggagas kampanye Wear White dan pendeta Lawrence Khong menggelar ibadah keluarga yang dihadiri sekitar 6.400 orang. Nama Noor Deros muncul kembali pada pemilu 2025. South China Morning Post dalam laporan Singapore doubles down on zero tolerance for identity politics, foreign interference (14 Oktober 2025) mencatat bahwa ia, bersama anggota PAS Malaysia, mendukung kandidat WP Faisal Manap di Tampines, dan Kementerian Dalam Negeri dalam tanggapan atas pernyataan PAS 15 Oktober 2025 menyebutnya “a serious interference in Singapore’s elections”. Penilaian bagian ini: konservatisme moral-religius adalah arus terbesar secara sosial dan terlembaga, tetapi bekerja melalui petisi, forum, dan lobi legal; label “ultra” tidak tepat untuk lembaga-lembaga ini, sementara dimensi transnasional pada pemilu 2025 lebih tepat dibaca sebagai upaya memobilisasi suara berdasarkan agama yang ditolak negara dan juga oleh WP (keyakinan Tinggi).

    VII

    Pinggiran Kekerasan: Radikalisasi Diri Sayap Kanan Jauh di Kalangan Remaja

    Jika ada arus yang secara ideologis pantas disebut ekstrem, ia ditemukan di pinggiran kekerasan, bukan di partai atau gereja. Pada 27 Januari 2021, Internal Security Department dalam rilis Detention of Singaporean youth who intended to attack Muslims on the anniversary of Christchurch attacks in New Zealand mengumumkan penahanan seorang pelajar Kristen Protestan keturunan India berusia 16 tahun yang berencana menyerang Masjid Assyafaah dan Masjid Yusof Ishak dengan parang pada 15 Maret 2021, tepat pada peringatan serangan Christchurch. ISD menyebutnya tahanan pertama yang terinspirasi ideologi ekstremis sayap kanan, didorong antipati kuat terhadap Islam dan ketertarikan pada kekerasan. Pada 10 Februari 2025, Malay Mail dalam laporan Singapore locks up self-radicalised ‘East Asian supremacist’ mencatat penahanan Nick Lee Xing Qiu, 18 tahun, yang memuja pelaku Christchurch, mengoleksi simbol neo-Nazi, menganut teori Great Replacement, dan berharap memicu “perang ras” di Singapura.

    Polanya berlanjut. ISD dalam rilis Issuance of Orders under the ISA against two self-radicalised Singaporean youths (2 April 2025) mengumumkan penahanan seorang remaja 17 tahun yang mengidentifikasi diri sebagai “East Asian Supremacist”, membenci Melayu dan Muslim, berencana menyerang masjid dengan senjata api sambil menyiarkannya secara langsung, dan merupakan kontak daring Nick Lee. Malay Mail dalam laporan In first case, Singapore detains teen who idolised Hitler, bin Laden and Kim Jong-il (9 September 2025) mencatat kasus remaja 14 tahun dengan campuran ideologi jihadis, sayap kanan jauh, dan kekaguman pada rezim Korea Utara, yang dikenai perintah pembatasan. ISD dalam rilis Issuance of Orders of Detention under the ISA against three self-radicalised Singaporean youths (27 Juli 2026) kemudian mengumumkan bahwa seorang siswa 14 tahun, tahanan ISA termuda sepanjang sejarah, menganut apa yang disebut Composite Violent Extremism: dukungan pada ISIS bercampur pandangan anti-Semit, neo-Nazi, akselerasionisme Atomwaffen Division, dan supremasi kulit putih. Ia menyusun manifesto 21 halaman dan merencanakan penikaman massal di sekolahnya, dipengaruhi antara lain oleh permainan tembak-menembak di Roblox yang merekonstruksi penembakan sekolah.

    Data agregat menempatkan kasus-kasus ini dalam proporsi. ISD dalam Singapore Terrorism Threat Assessment Report 2025 (29 Juli 2025) mencatat 17 pemuda berusia 20 tahun ke bawah ditangani dengan ISA sejak 2015, dua belas di antaranya dalam lima tahun terakhir, dan sembilan berniat menyerang di dalam negeri. Rilis Juli 2026 menyebut lebih dari separuh dari 23 pemuda yang ditangani dalam sekitar satu dasawarsa berniat menyerang Singapura, dan Malay Mail dalam laporan Singapore terror threat remains high as Middle East conflicts fuel radicalisation (10 September 2026) mengutip laporan ancaman 2026 bahwa kasus radikalisasi pemuda naik dari empat (2017–2021) menjadi lima belas (sejak 2022), dengan konflik Israel–Palestina dan perang AS–Israel dengan Iran meningkatkan ketegangan antarkomunitas. Mayoritas kasus pemuda tetap terkait ISIS; kasus sayap kanan jauh merupakan minoritas yang penting karena sasarannya hampir selalu Muslim dan Melayu, pelakunya berasal dari beragam latar etnis dan agama, dan inspirasinya diimpor dari ekosistem daring global. Penilaian bagian ini: ekstremisme sayap kanan jauh di Singapura nyata secara ideologis dan bersifat ultra dalam arti penuh, tetapi tampil sebagai radikalisasi diri individual tanpa organisasi lokal yang terdokumentasi dalam sumber terbuka (keyakinan Tinggi), dengan tren usia yang makin muda (keyakinan Tinggi).

    VIII

    Faktor Tiongkok, Kecemasan Sinisisasi, dan Etno-nasionalisme Tionghoa

    Arus keempat lebih sulit dipetakan karena bergerak di dua arah sekaligus. Di satu sisi terdapat kritik akademik bahwa nasionalisme resmi Singapura condong ke identitas Tionghoa. Barr dan Skrbis, sebagaimana disebut di atas, berbicara tentang versi Singapura dari etno-nasionalisme Tionghoa yang mendominasi perdebatan identitas. Data survei mengisyaratkan bahwa pengalaman minoritas memang berbeda. Liputan CNA yang diarsipkan IPS berjudul Trust between racial groups in Singapore grows but stereotyping rises (3 Februari 2025), berdasarkan survei IPS-OnePeople.sg terhadap 4.000 penduduk pada April–Agustus 2024, mencatat bahwa 18,4 persen responden Melayu dan 16,7 persen responden India melaporkan diskriminasi saat melamar kerja atau promosi, dibanding 3,7 persen responden Tionghoa; 43,5 persen mengaku membuat asumsi berdasarkan ras, naik dari 35,2 persen pada 2018; tetapi 65,4 persen menilai harmoni ras dan agama tinggi atau sangat tinggi dan ketidakpercayaan antarkelompok turun dari 42,7 persen pada 2013 menjadi 27,2 persen.

    Di sisi lain terdapat kecemasan negara terhadap pengaruh Republik Rakyat Tiongkok, yang ditangani melalui instrumen keamanan. Kementerian Dalam Negeri dalam rilis Cancellation of Singapore Permanent Residence Status: Huang Jing and Yang Xiuping (Agustus 2017) menyebut akademisi Lee Kuan Yew School of Public Policy itu sebagai “agent of influence of a foreign country” yang berupaya memengaruhi kebijakan luar negeri Singapura, tanpa menyebut nama negara tersebut. Kementerian yang sama dalam pemberitahuan Intended Designation of Chan Man Ping Philip as Politically Significant Person under FICA (2 Februari 2024) menilai pengusaha naturalisasi itu telah menunjukkan “susceptibility to be influenced by foreign actors”, dan menetapkannya secara resmi pada 26 Februari 2024. Undang-undang harmoni ras yang berlaku sejak September 2026 juga mewajibkan sekitar 300 perkumpulan klan dan bisnis berbasis ras melaporkan donasi dan afiliasi asing mulai April 2028.

    Di ruang daring, sentimen terhadap pendatang dari Tiongkok daratan justru banyak disuarakan oleh warga keturunan Tionghoa sendiri. Audit Ferrara mencatat bahwa diskursus berbahasa Mandarin berpusat pada poros warga Tionghoa-Singapura versus warga RRT, narasi anti-RRT hadir pada 15 persen kebencian berbahasa Inggris dan 16 persen berbahasa Mandarin, dan 59 persen kebencian terhadap sasaran RRT memuat sikap anti-imigrasi. Dengan demikian, “faktor Tiongkok” di Singapura tidak dapat dibaca sebagai satu arus chauvinis yang seragam. Terdapat kritik akademik tentang bias Tionghoa dalam proyek kebangsaan, ada pengawasan negara terhadap jalur pengaruh RRT, dan ada nativisme lokal yang menyasar pendatang RRT. Bagi pembaca Indonesia, temuan ini relevan karena wacana yang membayangkan Singapura sebagai “negara Tionghoa” yang seragam, sebagaimana diperingatkan kajian Tangga Eskalasi, mengabaikan pembelahan internal tersebut. Pada tahun 2026, buku The Beijing Factor in Southeast Asia yang tercatat di Arsip dan Pustaka KBA13 Academy juga menegaskan bahwa kehadiran kekuatan Tiongkok tidak otomatis berarti kendali atau kepatuhan politik negara-negara kawasan. Penilaian bagian ini: tidak ada gerakan chauvinis Tionghoa yang terorganisasi (keyakinan Sedang), sedangkan kecemasan terhadap pengaruh RRT dikelola terutama sebagai isu keamanan negara (keyakinan Tinggi).

    IX

    Arus Liberal-Progresif dan Ekologi Ruang Daring

    Peta yang hanya memuat arus keras akan menyesatkan, sebab arus liberal-progresif juga tumbuh dan menjadi lawan langsung konservatisme moral. Global Voices dalam laporan yang sama tentang Pink Dot 2014 mencatat lebih dari 26.000 orang berkumpul di Hong Lim Park pada 28 Juni 2014, kehadiran terbesar sejak acara pertama pada 2009, justru pada tahun kampanye Wear White. Satu dasawarsa kemudian, sejumlah anggota parlemen dari PAP, WP, PSP, dan RDU hadir di Pink Dot 2024 meskipun ada kartu nilai Protect Singapore; Malay Mail mengutip anggota parlemen PAP Eric Chua bahwa melayani rakyat Singapura hari ini berarti melayani masyarakat yang “very pluralistic”, dan anggota parlemen PAP Darryl David mempertanyakan tujuan memeringkat anggota parlemen berdasarkan sikap mereka. Kluster “Pluralist” dalam survei IPS 2025 dan kecenderungan kaum muda menempatkan diri di kiri dalam World Values Survey 2020 memperlihatkan basis sosial arus ini, meskipun pluralisme politik dan liberalisme moral tidak selalu bertumpang tindih.

    Ruang gerak arus liberal juga dibatasi negara, dan pembatasan itu berlaku simetris terhadap semua pihak yang dianggap membuka pintu pengaruh asing. Global Voices dalam laporan Singapore’s The Online Citizen news website stops operating after government suspends its license (18 September 2021) mencatat bahwa IMDA menangguhkan lisensi portal kritis itu karena dinilai gagal mengungkap penyandang dananya, dengan alasan bahwa situs politik tidak boleh “coming under the influence of foreign entities or funding”. Kasus Huang Jing pada 2017 memperlihatkan bahwa dunia akademik pun tidak berada di luar jangkauan logika keamanan. Cherian George sejak 2000 menyebut pola ini sebagai pertukaran antara kenyamanan dan kendali, dan edisi revisi bukunya pada 2020 menandakan bahwa metafora itu masih relevan dua dasawarsa kemudian.

    Ekologi daring menjadi arena tempat semua arus bertemu. Audit Ferrara memperlihatkan bahwa diskursus berbahasa Inggris luas dan didominasi sasaran Muslim, RRT, dan LGBTQ, diskursus berbahasa Melayu berpusat pada agama dan LGBTQ, sedangkan kebencian hampir seluruhnya digerakkan oleh rasa jijik (94–96 persen). Penting dicatat bahwa korpus itu tidak memuat HardwareZone, forum daring lokal yang populer di kalangan warganet Singapura, dan tidak ada data sistematis terbuka tentang TikTok; kedua celah ini harus dibaca sebagai batas pengetahuan, bukan sebagai bukti ketiadaan. Pada tahun 2025, esai di KBA13 Insight berjudul Ekosistem Blog Singapura: Gaya Hidup, Politik, dan Proyeksi Nasionalisme 2050 menggambarkan ekosistem tempat nasionalisme banal, satire, dan kritik terhadap pemerintah sendiri hidup berdampingan, dan menunjukkan bahwa identitas nasional Singapura tetap kuat karena dirawat melalui nasionalisme keseharian. Gambaran itu sejalan dengan reaksi daring pada Oktober 2026 yang diuraikan di Bagian XIII. Penilaian bagian ini: arus liberal-progresif tumbuh secara sosial dan mulai mendapat pengakuan simbolik dari politisi lintas partai (keyakinan Sedang), tetapi media alternatifnya rentan terhadap regulasi pengaruh asing (keyakinan Tinggi).

    X

    Arsitektur Respons Negara dan Logika Sekuritisasi

    Respons negara terhadap semua arus di atas mengikuti satu tata bahasa: isu identitas diperlakukan sebagai isu keamanan sebelum sempat menjadi isu politik. Arsitektur POFMA dan FICA telah diuraikan dalam kajian Perang Narasi, sehingga di sini cukup dicatat dua instrumen yang paling langsung berkaitan dengan arus nativis dan religius. Kementerian Dalam Negeri dalam rilis Commencement of the Maintenance of Religious Harmony (Amendment) Act 2019 menjelaskan bahwa sejak 1 November 2022 perintah pembatasan berlaku seketika dan menjangkau komunikasi daring, kelompok agama wajib dipimpin warga negara atau penduduk tetap, donasi asing tunggal sebesar S$10.000 atau lebih wajib dilaporkan, dan pelanggar dapat menempuh Inisiatif Pemulihan Komunitas. Mothership dalam laporan New law to safeguard racial harmony (September 2026) mencatat bahwa Undang-Undang Pemeliharaan Harmoni Rasial yang disahkan pada 4 Februari 2025 mulai berlaku pada 15 September 2026, membentuk Dewan Kepresidenan untuk Harmoni Ras dan Agama di bawah mantan hakim agung Choo Han Teck, memberi menteri kewenangan menerbitkan perintah pembatasan terhadap konten yang merugikan harmoni rasial, dan menggantikan Pasal 298 dan 298A KUHP. Pada pemilu 2025, pemerintah juga memerintahkan pemblokiran unggahan warga asing yang dinilai berusaha memengaruhi pemilih berdasarkan agama.

    Dibaca dengan lensa sekuritisasi, pola ini memiliki dua wajah. Wajah pertama adalah pencegahan: dengan menyatakan bahwa politik ras dan agama merupakan ancaman eksistensial bagi negara multirasial yang kecil, negara mencegah arus nativis dan religius berubah menjadi organisasi politik yang mengusung identitas. Penerimaan khalayak, syarat keberhasilan sekuritisasi menurut Buzan dan kawan-kawan, tampak cukup tinggi; survei IPS 2025 mencatat 84 persen pemilih merasa bebas memilih sesuai kehendaknya, dan sebagian besar warga menilai harmoni ras dan agama tinggi. Wajah kedua adalah penyempitan: perangkat yang sama membatasi media alternatif dan aktivisme sipil, sehingga warga yang tidak puas memiliki lebih sedikit saluran terbuka dan lebih mudah mengekspresikan kemarahan di forum anonim. Rumusan Kementerian Dalam Negeri bahwa negara akan bertindak terhadap hasutan “dari pihak mana pun” menunjukkan bahwa sekuritisasi ini dirancang simetris, menempatkan negara sebagai wasit di atas semua arus, bukan sebagai pendukung salah satu arus. Tabel berikut merangkum peta aliran beserta tingkat keyakinan penilaiannya.

    ArusIdeologi intiPembawaUkuran/indikatorRespons negaraKeyakinan
    Nasionalisme negara komunitarianPragmatisme, meritokrasi, multirasialisme, Nilai Bersama 1991, narasi kerentananPAP, birokrasi, Total Defence65,57% suara, 87/97 kursi (2025)Negara itu sendiriTinggi
    Oposisi reformis tengah dan kiri-tengahChecks and balances, kesejahteraan, kebebasan berpendapatWP, SDP, RDUWP 10 kursi + 2 NCMP; 74% ingin oposisi terpilihKompetisi elektoral, kritik publikTinggi
    Nativisme dan nasionalisme ekonomiWarga lokal didahulukan, anti-CECA, anti-pendatangWacana daring; retorika sebagian PSP (2021); partai populis kecil (PV/PAR)4.000 orang di Hong Lim (2013); sikap anti-imigrasi pada 31% kebencian daring terkonfirmasiBantahan menteri, keterbukaan data, UU harmoni rasialTinggi (keberadaan); Sedang (ukuran)
    Konservatisme moral-religiusKeluarga tradisional, penolakan normalisasi LGBTQAPCCS, NCCS, Protect Singapore, lembaga Islam, Wear White59,3% menilai homoseksualitas tak dapat dibenarkan (2020); dukungan 377A turun ke 44% (2022)Kompromi: cabut 377A, kunci definisi perkawinan (Pasal 156)Tinggi
    Mobilisasi religius transnasionalMemilih berdasarkan identitas agamaPendakwah berbasis luar negeri, anggota PASInsiden pemilu 2025; tidak ada organisasi lokalPemblokiran unggahan, pernyataan MHATinggi
    Ekstremisme sayap kanan jauh dan CoVESupremasi, Great Replacement, akselerasionisme, anti-MuslimIndividu remaja teradikalisasi daringKasus 2020–2026 (usia 14–18); minoritas dari 23 pemuda yang ditangani ISAISA, perintah penahanan/pembatasan, rehabilitasiTinggi
    Faktor TiongkokBias Tionghoa dalam identitas; pengaruh RRT; nativisme anti-RRTElite (menurut kritik akademik); jaringan pengaruh; warganetNarasi anti-RRT 15–16% kebencian daring; kasus Huang Jing 2017, Philip Chan 2024FICA, pencabutan izin tinggal, pelaporan perkumpulan klanSedang
    Liberal-progresifInklusi LGBTQ, kebebasan sipil, pluralismePink Dot, masyarakat sipil, media alternatifLebih dari 26.000 peserta (2014); kluster Pluralist 27% (2025)Toleransi terbatas; regulasi dana asingSedang
    XI

    Mengapa Arus Keras Muncul, dan Mengapa Ia Tetap Kerdil: Uji Mudde

    Pertanyaan “mengapa” memerlukan jawaban berlapis. Lapis pertama bersifat struktural: keterbukaan ekonomi Singapura menuntut arus tenaga kerja asing yang besar. Kajian Damai tetapi Berjarak mengutip data Kementerian Tenaga Kerja bahwa pada Juni 2026 terdapat 1.655.900 pekerja asing, sehingga persaingan kerja, perumahan, dan ruang publik menjadi pengalaman sehari-hari, bukan abstraksi. Lapis kedua bersifat ideologis dan paradoksal: narasi kerentanan yang diajarkan negara sejak 1984 menanamkan kewaspadaan terhadap ancaman, dan ketika ancaman itu tidak lagi digambarkan sebagai tentara asing melainkan pendatang yang bersaing, nasionalisme defensif dapat bergeser menjadi nativisme. Inilah yang ditangkap Lim sebagai munculnya nasionalisme populer setelah 2011. Lapis ketiga adalah ketegangan meritokrasi yang diramalkan Tan pada 2008: ketika ganjaran terkonsentrasi dan kesenjangan melebar, kelas menengah yang cemas mencari kambing hitam di luar, dan pendatang profesional menjadi sasaran yang terlihat. Lapis keempat adalah konservatisme moral yang dilegitimasi negara sendiri melalui Nilai Bersama dan definisi keluarga tradisional, sehingga kelompok religius merasa sedang membela doktrin resmi ketika menolak perubahan. Lapis kelima adalah globalisasi ekosistem ekstremisme daring, dari manifesto Christchurch hingga subkultur Atomwaffen, yang menjangkau remaja Singapura tanpa perlu organisasi lokal, dan diperparah oleh konflik Timur Tengah sebagaimana dicatat laporan ancaman 2026.

    Mengapa arus itu tetap kerdil? Uji Mudde memberikan jawaban yang tajam. Unsur nativisme hadir, terutama dalam wacana daring dan kampanye anti-CECA. Unsur otoritarianisme, yaitu tuntutan akan ketertiban dan hukuman keras, sudah dipenuhi oleh negara sendiri; tidak ada ruang bagi penantang yang menjanjikan lebih banyak ketertiban daripada negara yang paling tertib di kawasan. Unsur populisme, yaitu pembelahan antara rakyat murni dan elite korup, lemah karena reputasi integritas negara dan karena oposisi utama memilih bahasa penyeimbang yang moderat, bukan bahasa anti-elite. Partai yang dikategorikan populis, seperti Peoples Voice, hanya meraih 2,37 persen suara nasional pada 2020. Hasilnya adalah konfigurasi yang dapat disebut nativisme tanpa partai kanan radikal. Chua Beng Huat membantu menjelaskan mengapa: komunitarianisme negara telah menyerap konservatisme sosial ke dalam doktrin resmi, sehingga kanan radikal kehilangan monopoli atas nilai keluarga dan bangsa. Rodan menambahkan bahwa saluran partisipasi konsultatif menyedot keluhan sebelum menjadi kontestasi, dan George menunjukkan bahwa warga menukar sebagian kebebasan dengan kenyamanan yang nyata.

    Kanan radikal tumbuh di ruang yang ditinggalkan negara; di Singapura, negara tidak meninggalkan ruang itu, melainkan menempatinya sendiri.

    Kesimpulan ini tidak berarti arus keras dapat diabaikan. Ia berarti bahwa arus itu bekerja dengan cara berbeda dari kanan radikal Eropa. Alih-alih membangun partai, ia menekan agenda melalui opini daring yang teramplifikasi, memaksa pemerintah memperketat kebijakan tenaga kerja asing, dan sesekali menembus partai oposisi menengah dalam bentuk retorika. Alih-alih membangun gerakan jalanan, konservatisme moral memilih jalur lobi dan memperoleh hasil konstitusional berupa Pasal 156. Alih-alih membangun milisi, ekstremisme sayap kanan jauh tampil sebagai remaja yang menyendiri di depan layar. Ketiganya juga saling berbeda dalam sasarannya: nativisme menyasar pendatang India dan RRT serta pekerja migran, konservatisme moral menyasar perubahan norma seksual, dan ekstremisme kekerasan menyasar Muslim dan Melayu. Tidak ada satu “kubu ultra” yang menyatukan ketiganya. Penilaian ini diberi keyakinan Sedang hingga Tinggi: Tinggi untuk ketiadaan partai kanan radikal yang signifikan, Sedang untuk mekanisme penyerapan, karena hubungan kausal antara ideologi negara dan kerdilnya arus keras bersifat inferensial.

    XII

    Kata Para Pemimpin

    Suara para pemimpin Singapura memperlihatkan bagaimana negara menarik garis batas bagi arus-arus di atas. Tentang konservatisme moral, Lee Hsien Loong dalam Rapat Umum Hari Nasional 21 Agustus 2022, sebagaimana dikutip Malay Mail, berkata: “I believe this is the right thing to do, and something that most Singaporeans will now accept”, lalu menegaskan bahwa “marriage should be between a man and a woman” dan bahwa negara akan melindungi definisi itu dari gugatan di pengadilan. Kalimat-kalimat ini memperlihatkan kompromi khas PAP: melonggarkan hukum pidana sambil mengunci norma keluarga dalam konstitusi. Tentang nativisme, Lawrence Wong pada 14 September 2021 menilai mosi PSP tentang CECA memiliki “strong racist and xenophobic undertones” dan meminta partai itu “refrain from exploiting Singaporeans’ anxieties for your own political gain”. Setelah serangan rasis Mei 2021, Menteri Grace Fu menulis “Racism is unacceptable. So is xenophobia”, sementara Lee Hsien Loong menyatakan bahwa tidak ada tempat bagi perilaku semacam itu di Singapura.

    Tentang politik identitas dan campur tangan asing, laporan PTI yang dimuat The Week berjudul Singapore’s multiracial ideals still ‘work in progress’: Minister Shanmugam (14 Oktober 2025) mencatat K. Shanmugam memperingatkan bahwa bila pemimpin masa depan merangkul politik identitas, jalan itu akan menjadi “one-way street to ruin”, dan bahwa Singapura tidak lebih stabil daripada negara lain sebelum hubungan komunal di sana memburuk. Kementerian Dalam Negeri dalam tanggapan atas PAS menegaskan “It is not for foreign entities or individuals to tell Singaporeans how to vote”. Pada 4 Juli 2026, Malay Mail dalam laporan Singapore PM Lawrence Wong champions diversity in PAP ranks mencatat Wong mengajak kaum muda untuk “widen the circle” dan menegaskan bahwa Singapura tidak sanggup menanggung politik terpolarisasi seperti di tempat lain. Tentang Indonesia, Malay Mail dalam laporan ‘It’s not right to say this’: Singapore senior minister rebukes Indonesian official’s oxygen remark (19 Oktober 2026) mencatat Shanmugam menolak klaim seorang pejabat Indonesia bahwa oksigen Singapura berasal dari hutan Indonesia, menegaskan kesiapan bertindak berdasarkan Undang-Undang Polusi Asap Lintas Batas, tetapi juga memuji langkah Presiden Prabowo dan menyatakan bahwa rakyat Indonesia sendirilah yang paling menderita. Dari pihak Indonesia, Eco-Business dalam laporan Indonesia signals gas export curbs for countries that do not ‘respect’ it (22 Oktober 2026) mengutip Bahlil Lahadalia: “I will not hesitate to consider halting exports to countries that disrespect Indonesia”, dan Presiden Prabowo: “For certain countries that like to insult the Indonesian nation, in time we will reveal the companies.”

    XIII

    Cermin Indonesia: Bagaimana Arus Nasionalis Singapura Bereaksi terhadap Jakarta, Oktober 2026

    Krisis Oktober 2026 memberi kesempatan langka untuk menguji apakah arus nasionalis Singapura berubah menjadi permusuhan terhadap Indonesia. Kronologinya ringkas. The Independent Singapore dalam laporan Singaporeans urge PM Wong to do more after he announces probe into companies behind haze (16 Oktober 2026) mencatat unggahan Wong pada 15 Oktober bahwa pemerintah sedang menelusuri perusahaan yang mungkin bertanggung jawab atas kebakaran dan dapat bertindak berdasarkan undang-undang asap. Pada 21 dan 22 Oktober, Bahlil berbicara tentang “mode bertahan hidup” dan negara yang tidak menghormati Indonesia. Mothership dalam laporan Indonesia to cut gas exports to Singapore (24 Oktober 2026) mencatat pemangkasan 31 BBTUD mulai 24 Oktober, terdiri atas 15 BBTUD dari Natuna dan 16 BBTUD dari Sumatra, dan mengingatkan bahwa pengurangan bertahap sudah disepakati sejak perpanjangan kontrak 2022 hingga 2028. MustShareNews dalam laporan Indonesia cuts natural gas exports to S’pore by 9% (24 Oktober 2026) mengutip Otoritas Pasar Energi bahwa pengurangan itu kurang dari 2 persen kebutuhan gas harian Singapura yang melampaui 1.000 BBTUD.

    Bagaimana reaksi warganet Singapura? Bukti terbuka yang tersedia menunjukkan bahwa kemarahan terutama diarahkan ke pemerintah sendiri dan ke korporasi, bukan ke bangsa Indonesia. Laporan The Independent Singapore yang sama, berbasis tangkapan layar Reddit, mencatat komentar yang menuntut tindakan tegas dari pemerintah, misalnya “Singaporeans deserve decisive action, not just statements and tokens of concern”, serta desakan agar bisnis yang mengambil untung dari kebakaran dihentikan; laporan itu tidak memuat komentar yang menyerang Indonesia sebagai bangsa. JawaPos dalam laporan Gara-gara Kabut Asap Indonesia, PM Singapura Disindir Warganya Sendiri (14 Oktober 2026), mengutip The Online Citizen, mencatat sindiran warganet terhadap Wong, termasuk satu komentar yang menuding Indonesia menggunakan asap untuk menekan Singapura. Temuan ini konsisten dengan penilaian kajian Perang Narasi bahwa opini daring Singapura bersifat organik dan dengan gambaran esai Ekosistem Blog Singapura tentang satire dan kritik diri. Esai di KBA13 Insight berjudul Relasi Indonesia–Singapura: Interdependensi Ekonomi, Politik Keamanan, dan Dinamika Strategis ASEAN telah menunjukkan bahwa hubungan kedua negara selalu diwarnai ketegangan sekaligus ketergantungan, dan bahwa isu asap telah berubah menjadi persoalan keamanan nontradisional.

    Sejarah memberi preseden tentang bagaimana negara Singapura dapat merujuk “opini publik” dalam sengketa dengan Jakarta. The Jakarta Post dalam laporan RI-Singapore row worsens (10 Februari 2014) mencatat bahwa dalam sengketa penamaan KRI Usman-Harun, Singapura membatalkan pertemuan kerja sama pertahanan dengan alasan opini publik dan Menteri Tan Chuan-Jin menyatakan tidak ada yang heroik dari membunuh warga sipil tak bersalah. Arah sebaliknya juga terjadi: The Jakarta Post dalam laporan Singapore dismisses claims of taking advantage of Indonesia’s weakening economy (24 Juli 2026) mencatat kampanye tandingan “Sell Singapore” di media sosial Indonesia dan jawaban Menteri Negara Zhulkarnain Abdul Rahim bahwa serangan daring tidak mencerminkan sentimen sebenarnya dalam hubungan bilateral. Penilaian bagian ini: nasionalisme Singapura terhadap Indonesia pada Oktober 2026 bersifat defensif-legalistik dan disalurkan negara, bukan nativis-agresif (keyakinan Sedang, karena tidak ada data lintas platform yang sistematis). Risiko yang perlu dipantau adalah perpindahan kemarahan dari korporasi ke pekerja migran Indonesia, mengingat audit Ferrara menunjukkan pekerja migran sudah menjadi sasaran kebencian berbingkai ekonomi; hingga 28 Oktober 2026 tidak ditemukan bukti terbuka tentang perpindahan itu (keyakinan Rendah atas risiko, Sedang atas ketiadaan bukti). Bagi Jakarta, pelajaran terpentingnya adalah bahwa retorika “rasa hormat” dan “mode bertahan hidup” cenderung memperkuat narasi kerentanan Singapura dan merapatkan warga di belakang PAP, bukan melemahkannya.

    XIV

    Argumen Tandingan, Skenario hingga 2030, dan Rekomendasi

    Setidaknya empat argumen tandingan perlu ditimbang. Pertama, sebagian pengamat akan berkata bahwa negara Singapura itu sendirilah yang ultra-nasionalis dan ultra-konservatif. Argumen ini mengandung kebenaran parsial: negara memang komunitarian, konservatif dalam soal keluarga, dan sangat sigap mensekuritisasi identitas. Namun label “ultra” menyesatkan karena negara yang sama mencabut Pasal 377A, mempertahankan multirasialisme konstitusional, dan menindak xenofobia secara terbuka; istilah yang lebih tepat adalah konservatisme negara yang pragmatis. Kedua, ada yang berpendapat bahwa angka elektoral yang kecil menyembunyikan arus keras yang tertekan dan bisa meledak. Argumen ini sah sebagai peringatan, sebab survei dapat dipengaruhi kecenderungan menyembunyikan pandangan tidak populer, dan amplifikasi kebencian anti-CECA menunjukkan energi yang belum tersalurkan; namun tidak ada bukti terbuka tentang organisasi bawah tanah yang menunggu momentum. Ketiga, kasus sayap kanan jauh dapat dibaca sebagai awal gerakan. Data ISD justru menunjukkan pola individu yang saling terhubung secara longgar di dunia maya, seperti kontak antara remaja 17 tahun dan Nick Lee, bukan struktur gerakan; meski demikian, kontak semacam itu adalah indikator dini yang harus dipantau. Keempat, sebagian data survei dikumpulkan secara daring dan sebagian data media berbahasa Inggris, sehingga pandangan komunitas berbahasa Mandarin, Melayu, dan Tamil mungkin kurang terwakili; audit Ferrara yang lintas bahasa sebagian menutup celah ini.

    Skenario hingga 2030

    1. 1Hegemoni komunitarian terkelola: arus keras tetap diskursif dan terserap50%
    2. 2Nativisme ekonomi terlembaga dalam agenda oposisi menengah22%
    3. 3Polarisasi moral-kultural pasca-377A mengeras13%
    4. 4Nasionalisme defensif eksternal akibat krisis berulang dengan tetangga10%
    5. 5Serangan ekstremis sayap kanan atau CoVE berhasil dilakukan5%

    Probabilitas adalah penilaian analitis terstruktur, bukan keluaran model statistik, dan saling eksklusif dalam arti skenario dominan pada 2030. Indikator yang harus dipantau: porsi suara partai berplatform anti-pendatang pada pemilu berikutnya, intensitas kebencian anti-CECA dan anti-pekerja migran dalam audit daring, rilis ISD tentang kasus sayap kanan, serta sengketa asap, gas, dan pasar dengan Indonesia menjelang berakhirnya kontrak gas pada 2028.

    Skenario pertama paling mungkin karena seluruh mekanisme penyerapan masih bekerja dan PAP baru memperbarui mandatnya. Skenario kedua menjadi lebih mungkin bila biaya hidup tetap menjadi isu utama dan oposisi menengah tergoda memakai bahasa anti-pendatang untuk menembus pemilih muda. Skenario ketiga dapat dipicu oleh gugatan baru tentang hak keluarga atau kurikulum, sedangkan skenario keempat sangat bergantung pada perilaku Jakarta dan Kuala Lumpur. Skenario kelima berprobabilitas rendah berkat kapasitas deteksi dini ISD dan laporan dari teman sebaya, tetapi dampaknya terhadap harmoni komunal akan sangat besar. Atas dasar itu, rekomendasi disusun bagi aktor bernama. Kepada Kementerian Dalam Negeri Singapura dan otoritas digitalnya: perluas pendekatan rehabilitasi dan pelaporan sebaya ke ekosistem permainan daring seperti Roblox yang kini muncul dalam rilis ISD, dan terbitkan data agregat tentang penggunaan perintah pembatasan berdasarkan undang-undang harmoni rasial agar sekuritisasi tetap dapat diawasi publik. Kepada WP, PSP, dan partai oposisi lain: tetapkan kode etik internal yang memisahkan kritik kebijakan tenaga kerja dari bahasa rasial, sebagaimana diusulkan Pritam Singh pada 2021 melalui keterbukaan data. Kepada IPS dan perguruan tinggi Singapura: perluas audit sentimen ke HardwareZone dan TikTok, serta pisahkan secara tegas istilah konservatisme politik dan konservatisme moral dalam publikasi survei.

    Kepada Kementerian Luar Negeri Indonesia dan KBRI Singapura: bedakan secara eksplisit dalam komunikasi publik antara kebijakan pemerintah Singapura, korporasi yang terkait kebakaran, dan warga Singapura, karena data menunjukkan warga Singapura lebih banyak mengkritik pemerintahnya sendiri; perkuat pula perlindungan konsuler bagi pekerja migran Indonesia sebagai langkah pencegahan bila kemarahan daring bergeser sasaran. Kepada pejabat dan pemengaruh Indonesia: hindari bahasa yang dapat dibaca sebagai ancaman eksistensial, seperti klaim tentang oksigen atau “negara yang menghina”, karena bahasa itu menyediakan bahan sekuritisasi bagi narasi kerentanan Singapura. Esai di KBA13 Insight berjudul Islamophobia in Indonesia’s Cyberspace: Politics, Buzzers, and Virtual Fear menggambarkan buzzer sebagai milisi siber yang hidup dari penjualan narasi ketakutan, dan esai Pasca 25 Agustus 2025: Operasi Wacana, Influencer, dan Perang Informasi di Medsos mencatat betapa sulitnya menetapkan satu dalang dalam gelombang informasi; kedua pelajaran itu berlaku pula bagi perang wacana lintas selat. Kepada ASEAN dan mekanisme kawasan tentang polusi asap lintas batas: alihkan sengketa asap ke mekanisme teknis yang kredibel agar isu lingkungan tidak terus menjadi bahan bakar nasionalisme di kedua sisi selat.

    XV

    Keterbatasan dan Kesimpulan

    Telaah ini memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu dinyatakan terang. Data tentang forum HardwareZone dan TikTok tidak tersedia secara sistematis dalam sumber terbuka, sehingga penilaian tentang ruang daring bertumpu pada audit Ferrara yang mencakup Facebook, Reddit, dan YouTube, dengan peringatan penulisnya sendiri bahwa kesepakatan antar-model pada sampel sulit hanya sekitar κ 0,42. Laporan Penilaian Ancaman Terorisme 2026 dibaca melalui liputan media, bukan dokumen asli. Kluster “Conservative” dalam survei IPS mengukur preferensi politik, bukan moralitas, dan telaah ini tidak memiliki survei khusus tentang sikap warga Singapura terhadap Indonesia. Sebagian besar sumber berbahasa Inggris, sehingga suara komunitas berbahasa Mandarin, Melayu, dan Tamil mungkin kurang terwakili. Akhirnya, perkembangan krisis Oktober 2026 masih bergerak, sehingga penilaian di Bagian XIII perlu ditinjau ulang setiap kali ada pemicu baru, terutama keputusan MSCI pada 2027 dan berakhirnya kontrak gas pada 2028. Klaim yang tidak dapat diverifikasi, termasuk jumlah peserta Pink Dot setelah 2014 dan ukuran komunitas daring sayap kanan di Singapura, sengaja tidak dicantumkan.

    Dengan segala keterbatasan itu, kesimpulan pokok telaah ini cukup kokoh. Singapura memiliki arus keras, tetapi bukan dalam bentuk yang dibayangkan pertanyaan awal. Nativisme ekonomi nyata dan teramplifikasi secara daring, terutama terhadap pendatang India yang dikaitkan dengan CECA, pendatang dari RRT, dan pekerja migran; namun ia tidak memiliki partai yang kuat. Konservatisme moral-religius luas dan terlembaga, tetapi memilih jalur hukum dan memperoleh hasil konstitusional, sehingga tidak tepat disebut ultra. Ekstremisme sayap kanan jauh benar-benar ekstrem secara ideologis, tetapi hadir sebagai radikalisasi diri remaja yang terisolasi dan makin muda, dengan sasaran utama Muslim dan Melayu. Faktor Tiongkok bergerak dua arah: kritik tentang bias Tionghoa dalam proyek kebangsaan, pengawasan negara terhadap pengaruh RRT, dan nativisme lokal terhadap pendatang RRT. Arus liberal-progresif tumbuh, tetapi dibatasi regulasi. Di atas semua itu berdiri negara komunitarian yang menduduki ruang ideologis kanan, mengubah isu identitas menjadi isu keamanan, dan menjadikan dirinya wasit atas semua arus.

    Bagi hubungan dengan Indonesia, implikasinya bersifat ganda. Di satu sisi, tidak ada arus ultra-nasionalis Singapura yang terorganisasi dan siap mendorong pemerintahnya ke arah konfrontasi; reaksi warganet pada Oktober 2026 lebih banyak menuntut ketegasan pemerintah sendiri dan akuntabilitas korporasi. Di sisi lain, narasi kerentanan yang menjadi jantung ideologi negara akan semakin kuat setiap kali Jakarta berbicara dengan bahasa ancaman, dan dalam suasana itu legalisme Singapura akan mengeras, bukan melunak. Esai di KBA13 Insight berjudul Singapura di Selat Melaka: Konsentrasi Fungsi, Asimetri Kekuasaan, dan Risiko Eskalasi Kawasan (2026) mengingatkan bahwa konsentrasi fungsi menghasilkan efisiensi pada masa normal tetapi menjadi titik kegagalan tunggal pada masa krisis; logika yang sama berlaku bagi ideologi negara-kota itu. Langit Singapura yang teratur bukanlah langit tanpa awan, melainkan langit yang awannya terus diukur, dipetakan, dan dikendalikan. Memahami cara kerja pengendalian itu jauh lebih berguna bagi diplomasi Indonesia daripada membayangkan sebuah kubu ultra yang, menurut bukti yang tersedia, tidak pernah benar-benar terbentuk.

    ◆

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    Literatur ilmiah

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    Media dan pemberitaan

    Arsip & Pustaka

    Cara Mengutip

    Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. (2026). Di Bawah Langit yang Teratur: Peta Aliran Politik Singapura dan Akar Nasionalisme Ekstrem serta Konservatisme Keras di Negara-Kota. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/peta-aliran-politik-singapura-nasionalisme-konservatisme/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh; pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy. Meraih PhD Sosiologi dari La Trobe University.

    Kajian lainnya di Research Center → ↑ Kembali ke atas

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →