Tag: AI berdaulat

  • Tuan Rumah tanpa Kendali: Kedaulatan Komputasi, Pusat Data, dan Geopolitik Kecerdasan Buatan di Asia Tenggara

    Tuan Rumah tanpa Kendali: Kedaulatan Komputasi, Pusat Data, dan Geopolitik Kecerdasan Buatan di Asia Tenggara

    Bab Buku · Kecerdasan Buatan, Geopolitik & Asia Tenggara

    Tuan Rumah tanpa Kendali:Kedaulatan Komputasi, Pusat Data, dan Geopolitik Kecerdasan Buatan di Asia Tenggara

    Asia Tenggara sedang menjadi salah satu kawasan dengan pembangunan pusat data tercepat di dunia, tetapi hampir seluruh cip, model, dan aturan yang menggerakkannya dikendalikan dari luar kawasan. Bab ini menimbang apa arti “AI berdaulat” bagi negara yang menjadi tuan rumah komputasi tanpa memegang kendalinya, lalu menawarkan jalan kedaulatan tawar yang realistis hingga 2030.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • Bab Buku
    • 24 Oktober 2026
    • ± 32 menit baca
    Tuan Rumah tanpa Kendali: Kedaulatan Komputasi, Pusat Data, dan Geopolitik Kecerdasan Buatan di Asia Tenggara
    Kawasan yang menyediakan tanah, listrik, dan air bagi komputasi dunia belum tentu memegang kunci atas cip, model, dan aturan yang menjalankannya.

    Abstrak

    Bab ini menelaah kedaulatan komputasi di Asia Tenggara pada periode Januari 2025 hingga Oktober 2026, ketika kawasan ini menjadi salah satu tujuan utama investasi pusat data kecerdasan buatan sekaligus medan tarik-menarik kontrol ekspor Amerika Serikat dan tawaran teknologi Tiongkok. Dengan kerangka empat lapis, yakni lapis fisik (tanah, listrik, air), lapis silikon (cip dan rezim ekspornya), lapis yurisdiksi (data, perizinan, dan hukum), serta lapis kognitif (model bahasa, talenta, dan aplikasi), kajian ini membandingkan Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Vietnam dengan empat kasus luar kawasan: negara Teluk, India, Uni Eropa, dan Jepang. Temuan utamanya ialah bahwa kawasan ini memegang daya tawar nyata pada lapis fisik dan yurisdiksi, tetapi nyaris tidak berdaya pada lapis silikon, sehingga kedaulatan penuh atas tumpukan teknologi bukan tujuan yang masuk akal. Kajian ini mengusulkan konsep kedaulatan tawar, yaitu kemampuan mengubah posisi tuan rumah menjadi posisi penawar melalui standar energi dan air, klausul akses komputasi bagi riset domestik, pengadaan kolektif, dan model bahasa terbuka yang dapat dipindahkan antarpenyedia.

    Tesis

    Asia Tenggara tidak akan memiliki tumpukan AI-nya sendiri, tetapi kawasan ini dapat memiliki syarat-syaratnya: tanah, listrik, air, izin, dan bahasa adalah sumber kedaulatan yang selama ini dijual terlalu murah.

    1. DataDokumen resmi, rilis kebijakan, dan laporan lembaga 2024–2026 dari lima negara kawasan dan empat kasus pembanding.
    2. KerangkaEmpat lapis kedaulatan komputasi dan uji daya tawar: substitusi, opsi keluar, dan tangkapan nilai lokal.
    3. ProyeksiEmpat skenario 2026–2030 berprobabilitas, penanda arah, dan rekomendasi berbatas waktu.

    Kata kunci

    • kedaulatan komputasi
    • AI berdaulat
    • pusat data
    • kontrol ekspor cip
    • Johor
    • Batam
    • Sahabat-AI
    • SEA-LION
    • Pax Silica
    • ASEAN
    I

    Ringkasan Eksekutif: Kawasan yang Menjadi Lumbung Komputasi

    Pertanyaan yang diajukan bab ini sederhana dalam rumusan tetapi berat dalam konsekuensi: apa arti kedaulatan atas kecerdasan buatan bagi kawasan yang menjadi tuan rumah komputasi dunia tanpa memegang kendali atas cip, model, dan aturan yang menjalankannya? Asia Tenggara menyediakan tanah, listrik, air, dan stabilitas politik bagi gelombang pusat data yang dibangun untuk melatih dan menjalankan model AI. Pada Oktober 2026, Kementerian Transisi Energi dan Transformasi Air Malaysia melaporkan kepada parlemen bahwa empat puluh lima pusat data telah beroperasi di Semenanjung dengan kapasitas pasokan gabungan 6.041 megawatt, dan kebutuhan listriknya diproyeksikan mencapai 8.391 megawatt pada 2030, dengan Johor sendiri menyerap 4.428 megawatt (Media Selangor, 2026). Thailand mencatat komitmen investasi pusat data senilai 521,2 miliar baht dari dua puluh delapan proyek hanya pada semester pertama 2025 (W.Media, 2025). Indonesia, dengan 196 fasilitas, menargetkan kenaikan kapasitas dari sekitar 600 megawatt menuju 1,65 gigawatt pada akhir 2026 (Tech For Good Institute, 2026). Angka-angka ini menempatkan kawasan sebagai lumbung komputasi, tetapi lumbung tidak sama dengan pemilik panen.

    Jawaban pokok kajian ini dapat dirumuskan dalam satu kalimat: kedaulatan penuh atas tumpukan teknologi AI berada di luar jangkauan setiap negara Asia Tenggara, tetapi kedaulatan tawar, yaitu kemampuan menentukan syarat atas sumber daya yang dibutuhkan pihak lain, sepenuhnya mungkin dan selama ini belum dimanfaatkan. Pada lapis silikon, kawasan ini sepenuhnya bergantung pada rantai pasok cip yang dikendalikan Amerika Serikat dan sekutunya, sementara alternatif Tiongkok membawa risiko sanksi. Pada lapis fisik dan yurisdiksi, kawasan ini justru memegang sesuatu yang langka: lahan berizin, sambungan listrik tegangan tinggi, air pendingin, dan kepastian hukum. Tingkat keyakinan atas penilaian ini tinggi untuk lapis silikon, karena ketergantungannya terdokumentasi dalam rezim kontrol ekspor dan perjanjian dagang, dan sedang untuk lapis fisik, karena daya tawar itu bergantung pada apakah pemerintah kawasan bertindak bersama atau saling bersaing menurunkan syarat.

    Persoalan ini penting secara global karena tiga alasan. Pertama, pusat gravitasi infrastruktur AI sedang bergeser ke yurisdiksi menengah yang menawarkan energi dan ruang, sehingga cara Asia Tenggara mengatur pusat data akan menjadi preseden bagi Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin. Kedua, kawasan ini adalah garis depan perlombaan teknologi Amerika Serikat dan Tiongkok, tempat kebijakan kontrol ekspor diuji, disiasati, dan dinegosiasikan ulang. Ketiga, sebagian besar warga dunia yang belum terlayani AI dalam bahasanya sendiri hidup di kawasan seperti ini; Badan Energi Internasional mencatat bahwa negara berkembang di luar Tiongkok menampung separuh pengguna internet dunia tetapi kurang dari sepuluh persen kapasitas pusat data global (IEA, 2025). Apakah Asia Tenggara hanya menjadi ruang mesin bagi kecerdasan yang dirancang di tempat lain, atau berhasil menukar posisinya dengan akses, pengetahuan, dan suara, akan ikut menentukan apakah tata kelola AI global bersifat multipolar atau hierarkis.

    II

    Kerangka Analitis: Empat Lapis Kedaulatan Komputasi

    Istilah “AI berdaulat” dipopulerkan oleh industri sebelum dirumuskan oleh ilmuwan. Pada Februari 2024, di World Government Summit di Dubai, pimpinan Nvidia Jensen Huang menyatakan bahwa setiap negara perlu membangun infrastruktur AI-nya sendiri dan bahwa produksi kecerdasan nasional “tidak bisa diserahkan kepada orang lain” (Malay Mail, 2024). Rumusan itu menarik bagi pemerintah, tetapi ia juga strategi pasar: setiap negara yang ingin berdaulat adalah pelanggan baru bagi pemasok cip. Karena itu, kajian ini memisahkan kedaulatan sebagai slogan dari kedaulatan sebagai kapasitas yang dapat diukur. Literatur tata kelola komputasi menegaskan bahwa daya komputasi adalah titik kendali yang unik karena dapat dideteksi, dapat dikecualikan, dan dapat dikuantifikasi, serta rantai pasoknya sangat terkonsentrasi (Sastry dkk., 2024). Konsentrasi semacam itu, sebagaimana dijelaskan dalam teori interdependensi yang dipersenjatai, memungkinkan negara yang menguasai simpul jaringan menggunakan simpul itu untuk mengawasi dan menekan pihak lain (Farrell dan Newman, 2019).

    Dari dua tradisi itu, kajian ini menyusun empat lapis kedaulatan komputasi. Lapis fisik meliputi tanah, sambungan listrik, sumber air, dan izin lingkungan; inilah lapis tempat negara tuan rumah memiliki kewenangan paling langsung. Lapis silikon meliputi akselerator, server, dan jaringan berkecepatan tinggi beserta rezim kontrol ekspor yang mengaturnya; di sini kewenangan tuan rumah paling lemah. Lapis yurisdiksi meliputi hukum pelindungan data, kewajiban lokalisasi, hak akses aparat asing, dan aturan pengadaan; lapis ini menentukan siapa yang dapat memerintah data dan beban kerja yang berada di wilayah nasional. Lapis kognitif meliputi model bahasa, korpus, talenta, dan aplikasi publik; lapis ini menentukan apakah komputasi yang ditampung menghasilkan kecerdasan yang memahami bahasa, hukum, dan kebutuhan warga setempat. Pemetaan Lehdonvirta, Wú, dan Hawkins atas wilayah komputasi awan publik menunjukkan bahwa dunia terbelah antara “Compute North” yang menampung komputasi untuk pengembangan model, “Compute South” yang hanya menampung komputasi untuk penerapan, dan “gurun komputasi” yang tidak menampung apa pun (Lehdonvirta dkk., 2024). Pertanyaan bagi Asia Tenggara ialah apakah ledakan pusat data memindahkan kawasan dari Selatan ke Utara komputasi, atau hanya memperbesar fungsi penerapan.

    Untuk menilai kedaulatan tawar pada setiap lapis, kajian ini menggunakan tiga uji. Uji substitusi menanyakan apakah negara dapat mengganti pemasok tanpa kerugian besar. Uji opsi keluar menanyakan apakah negara dapat menghentikan atau memindahkan beban kerja tanpa kehilangan layanan publik yang vital. Uji tangkapan nilai menanyakan seberapa besar nilai tambah, pengetahuan, dan akses komputasi yang tertinggal di dalam negeri dibandingkan dengan yang mengalir keluar. Sebuah lapis dianggap berdaulat secara tawar bila negara lulus setidaknya dua dari tiga uji tersebut.

    Empat Lapis Kedaulatan Komputasi

    1. 01Lapis FisikDaya tawar: tinggiTanah, listrik, air, izin lingkungan; kewenangan tuan rumah paling langsung.
    2. 02Lapis SilikonDaya tawar: rendahAkselerator, server, jaringan, dan rezim kontrol ekspor yang ditetapkan di luar kawasan.
    3. 03Lapis YurisdiksiDaya tawar: sedangPelindungan data, lokalisasi, akses aparat asing, pengadaan publik.
    4. 04Lapis KognitifDaya tawar: sedangModel bahasa, korpus, talenta, dan aplikasi layanan publik.

    Catatan metode perlu disampaikan secara terbuka. Kajian ini menggunakan perbandingan terstruktur dan terfokus atas lima negara Asia Tenggara dan empat kasus pembanding, ditambah penelusuran proses atas keputusan kebijakan utama antara Januari 2025 dan Oktober 2026. Sumber primer meliputi rilis pemerintah, jawaban parlemen, dokumen strategi nasional, dan siaran pers perusahaan; sumber sekunder meliputi literatur ilmiah, laporan lembaga riset, dan pemberitaan yang dapat diverifikasi. Klaim yang hanya bersumber dari laporan anonim ditandai sebagai laporan, bukan fakta. Tingkat keyakinan dinyatakan sebagai tinggi, sedang, atau rendah berdasarkan jumlah sumber independen, kedekatan sumber dengan peristiwa, dan konsistensi antardokumen.

    III

    Peta Ledakan Pusat Data: Johor, Batam–Jakarta, dan Pesisir Timur Thailand

    Geografi pusat data Asia Tenggara dibentuk oleh satu keputusan kebijakan yang sering dilupakan: pembatasan pembangunan pusat data baru di Singapura sejak 2019, yang kemudian dilonggarkan secara selektif. Ketika negara-kota itu menerbitkan Peta Jalan Pusat Data Hijau pada 30 Mei 2024 (IMDA, 2024), tambahan kapasitas yang dibuka hanya sekurang-kurangnya 300 megawatt, dengan syarat efisiensi dan energi hijau yang ketat (Linklaters, 2024). Kelangkaan yang disengaja di Singapura menciptakan limpahan ke tetangga. Johor, yang hanya dipisahkan selat sempit, menjadi penerima utama, disusul Batam di sisi selatan, dan kemudian Jakarta serta Greater Bangkok. Pola ini memperlihatkan bahwa yang terbentuk bukan tiga atau empat pasar nasional yang terpisah, melainkan satu kawasan komputasi lintas batas yang otak komersial dan kontraktualnya tetap berada di Singapura, sementara mesin fisiknya tersebar di wilayah yang lebih murah.

    Malaysia adalah pemenang terbesar gelombang ini sejauh ini. Jawaban parlemen Oktober 2026 yang dikutip di atas menunjukkan bahwa kapasitas pasokan untuk pusat data di Semenanjung sudah melampaui enam gigawatt, dengan Johor diproyeksikan menyerap lebih dari separuh kebutuhan 2030 dan Selangor di posisi kedua dengan 1.481 megawatt (Media Selangor, 2026). Perusahaan teknologi Amerika memperluas operasinya di Malaysia secara signifikan, dan negara itu kini dipandang sebagai simpul pusat data AI terdepan di ASEAN (W.Media, 2025a). Thailand bergerak dengan pendekatan insentif bersyarat: Dewan Investasi Thailand menyetujui enam proyek pusat data Tier 3 dengan beban TI gabungan sekitar 740 megawatt pada Mei–Juni 2025, sebagian besar di Rayong dan Chonburi, dan merevisi kriteria sehingga pembebasan pajak penghasilan badan delapan tahun hanya diberikan kepada proyek yang memenuhi standar efektivitas penggunaan daya dan menawarkan komputasi berbasis GPU (W.Media, 2025b). Syarat terakhir ini penting secara analitis karena merupakan salah satu contoh awal negara kawasan yang mengikat insentif fiskal pada kontribusi terhadap kapasitas komputasi AI, bukan sekadar pada ruang rak.

    Indonesia berada pada posisi yang lebih ambigu. Kawasan Nongsa di Batam menjadi simpul utama, dan pemerintah mulai menimbang wilayah Batam–Bintan–Karimun ketika Nongsa mendekati batas kapasitasnya, dengan insentif berupa libur pajak, perizinan yang disederhanakan, dan pembebasan bea masuk (Tech For Good Institute, 2026). Di Jakarta, penyedia awan global telah membuka wilayah komputasi baru; Microsoft, misalnya, mengumumkan investasi 1,7 miliar dolar AS untuk awan dan AI di Indonesia pada April 2024 (Al Jazeera, 2024) dan meresmikan wilayah awan Indonesia Central pada Mei 2025 (Bisnis.com, 2025). Namun Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria sendiri mengakui pada Desember 2025 bahwa infrastruktur AI nasional masih belum memadai, terutama di hulu, dan ia mencontohkan pabrik semikonduktor di Batam yang harus mengimpor kawat emas dari Jepang sementara nikel dan pasir silika dalam negeri belum diolah (Bisnis.com, 2025).

    Penilaian kajian ini atas lapis fisik ialah bahwa kawasan sedang menjual komoditas langka dengan harga pasar biasa. Investor membutuhkan kombinasi lahan, listrik stabil, air, kabel laut, dan kepastian hukum yang hanya tersedia di segelintir lokasi di dunia, tetapi pemerintah kawasan bersaing satu sama lain dengan menurunkan syarat. Keyakinan atas penilaian ini sedang hingga tinggi: data kapasitas dan insentif terdokumentasi dengan baik, tetapi nilai tawar yang hilang sulit dihitung secara presisi karena kontrak antara pemerintah daerah dan operator jarang dipublikasikan.

    IV

    Listrik dan Air: Batas Fisik Kedaulatan Digital

    Kecerdasan buatan sering dibicarakan sebagai sesuatu yang tanpa bobot, padahal ia adalah industri berat yang menyerap listrik dan air dalam skala yang sebanding dengan kota. Badan Energi Internasional memperkirakan konsumsi listrik pusat data global sebesar 415 terawatt-jam pada 2024, atau sekitar 1,5 persen konsumsi listrik dunia, dan memproyeksikan angka itu lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 945 terawatt-jam pada 2030; satu pusat data yang berfokus pada AI dapat menggunakan listrik setara seratus ribu rumah tangga, sementara yang terbesar yang sedang dibangun akan mengonsumsi sekitar dua puluh kali lipatnya (IEA, 2025). Bagi kawasan yang jaringan listriknya masih bergantung pada batu bara dan gas, dan yang target transisi energinya sudah dinegosiasikan dengan donor internasional, angka-angka itu bukan statistik abstrak melainkan pertanyaan tentang siapa yang mendapat prioritas ketika pasokan terbatas.

    Malaysia adalah laboratorium paling jelas dari ketegangan ini. Proyeksi kebutuhan air pusat data di Selangor dan Johor mencapai 389,04 juta liter per hari pada 2030, padahal konsumsi aktual yang dilaporkan saat ini sekitar 63,9 juta liter per hari (Media Selangor, 2026). Pemerintah federal memberlakukan tarif tegangan ultra-tinggi sejak 1 Juli 2025, menaikkan biaya beban tersambung untuk mencegah kapasitas yang dipesan tetapi tidak dipakai, dan mewajibkan sekurang-kurangnya tiga puluh persen energi pusat data berasal dari sumber terbarukan. Pada akhir November 2025, Pemerintah Negeri Johor mengumumkan tidak akan lagi menyetujui pusat data Tier 1 dan Tier 2 karena dinilai boros air, serta mensyaratkan air daur ulang dan lokasi yang jauh dari permukiman (W.Media, 2025c). Pada Juli 2026, laporan lapangan mencatat bahwa operator di Ulu Tiram dan Gelang Patah telah membangun instalasi pengolahan air limbah sendiri berkapasitas jutaan liter per hari, bahwa Dewan Rakyat diberi tahu pusat data baru hanya akan disetujui bila pasokan energi dan air mencukupi, dan bahwa protes warga terhadap pusat data di Gelang Patah telah terjadi pada Februari 2026 (The Star, 2026).

    Kecerdasan buatan sering dibicarakan sebagai sesuatu yang tanpa bobot, padahal ia adalah industri berat yang menyerap listrik dan air dalam skala sebuah kota.

    Episode Johor mengandung pelajaran yang melampaui Malaysia. Pertama, kendala fisik adalah sumber daya tawar, bukan sekadar hambatan; begitu negara bagian mulai memilih jenis pusat data yang diizinkan, ia sesungguhnya sedang menegosiasikan ulang syarat masuk. Kedua, legitimasi sosial adalah bagian dari lapis fisik. Protes warga, keluhan tentang air, dan pertanyaan parlemen menunjukkan bahwa izin sosial untuk menampung komputasi dunia dapat ditarik bila manfaatnya tidak terasa di tingkat lokal. Ketiga, standar efisiensi yang tinggi cenderung menguntungkan operator besar yang mampu membangun sistem pendingin canggih, sehingga regulasi lingkungan dapat sekaligus berfungsi sebagai kebijakan industri yang menyaring pemain.

    Bagi Indonesia dan Thailand, pelajaran ini datang lebih awal dari krisisnya. Kedua negara masih dapat merancang syarat air dan energi sebelum lonjakan permintaan menekan jaringan, termasuk mewajibkan pembangkit terbarukan tambahan, bukan sekadar sertifikat, serta mengaitkan sambungan listrik prioritas dengan komitmen akses komputasi bagi lembaga riset nasional. Penilaian kajian ini, dengan tingkat keyakinan sedang, ialah bahwa negara yang lebih dahulu menetapkan standar fisik yang tegas tidak akan kehilangan investasi, melainkan akan menyaring investasi menuju operator dengan horizon jangka panjang, sebagaimana diperlihatkan oleh Singapura sejak 2019.

    V

    Rezim Cip: Dari Aturan Difusi ke Diplomasi Tumpukan Penuh

    Jika lapis fisik adalah wilayah tempat kawasan memegang kartu, lapis silikon adalah wilayah tempat kartu itu dibagikan oleh pihak lain. Pada 13 Januari 2025, pemerintahan Biden menerbitkan Kerangka Difusi Kecerdasan Buatan yang membagi dunia ke dalam tiga tingkatan akses terhadap cip AI tercanggih, dengan sebagian besar negara Asia Tenggara di luar lingkar sekutu terdekat. Aturan itu dijadwalkan berlaku 15 Mei 2025, tetapi pada 13 Mei Departemen Perdagangan memulai pencabutannya, sekaligus menerbitkan panduan bahwa penggunaan cip Huawei Ascend 910B, 910C, dan 910D di mana pun berisiko melanggar kontrol ekspor Amerika, serta menambahkan sebelas tanda bahaya baru untuk mencegah pengalihan cip (Kirkland & Ellis, 2025). Pencabutan itu tidak berarti pelonggaran bagi kawasan; ia menggantikan sistem tingkatan yang dapat diprediksi dengan rezim kepatuhan berbasis kasus yang lebih bergantung pada hubungan bilateral.

    Kawasan ini segera merasakan akibatnya. Pada 27 Februari 2025, Singapura mendakwa tiga orang dalam perkara penipuan terkait server yang diduga berisi cip Nvidia; jaksa menyebut nilai transaksi sekitar 390 juta dolar AS dan menyatakan server itu dipindahkan ke Malaysia, sementara tujuan akhirnya tidak jelas (TechCrunch, 2025). Laporan yang sama mencatat bahwa Singapura menyumbang delapan belas persen pendapatan Nvidia dalam tahun fiskal yang berakhir Januari 2025, padahal pengiriman fisik ke Singapura kurang dari dua persen, sebuah selisih yang mencerminkan peran negara-kota itu sebagai pusat penagihan dan kontrak (Nvidia, 2025). Pada 14 Juli 2025, Malaysia mewajibkan Izin Dagang Strategis untuk setiap ekspor, transhipment, dan transit cip AI berkinerja tinggi asal Amerika dengan dasar ketentuan sapu jagat Undang-Undang Perdagangan Strategis 2010, sambil menegaskan tidak ada bukti pengiriman ilegal (W.Media, 2025a).

    Langkah berikutnya lebih struktural. Pada 23 Juli 2025, Gedung Putih merilis Rencana Aksi AI Amerika beserta Perintah Eksekutif 14320 tentang promosi ekspor tumpukan teknologi AI Amerika, yang mengundang konsorsium industri mengajukan paket ekspor “tumpukan penuh” berupa perangkat keras, model, dan aplikasi untuk negara atau kawasan tertentu, dengan dukungan pembiayaan dan diplomasi pemerintah (Jones Day, 2025). Pada 26 Oktober 2025, Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Amerika–Malaysia memuat komitmen Malaysia untuk menyelaraskan diri dengan seluruh kontrol ekspor unilateral Amerika yang berlaku serta mengadopsi pembatasan setara bila Amerika memberlakukan pembatasan impor atas negara ketiga dengan alasan keamanan; perjanjian dengan Kamboja pada tanggal yang sama memuat penyelarasan berbasis kasus (Mondaq, 2025). Pada Desember 2025, Washington juga mengumumkan bahwa cip H200 dapat dijual kepada pelanggan yang disetujui di Tiongkok dengan potongan dua puluh lima persen bagi pemerintah Amerika, sementara generasi Blackwell tetap dilarang (The Register, 2025).

    Akhir 2025 juga memperkenalkan Deklarasi Pax Silica, lingkar mitra tepercaya Amerika dalam rantai pasok AI, dengan Singapura sebagai satu-satunya penanda tangan Asia Tenggara bersama Jepang, Korea Selatan, Australia, Inggris, dan Israel (Fortune, 2025); pada pertengahan 2026, Filipina dilaporkan mengejar kesepakatan kerangka serupa (The Star, 2026b). Penilaian kajian ini, dengan keyakinan tinggi, ialah bahwa rezim cip telah bergeser dari aturan teknis menjadi instrumen tata susunan aliansi: akses terhadap silikon kini ditukar dengan penyelarasan kebijakan, dan kawasan terbelah menjadi lingkar dalam, lingkar tengah, dan lingkar luar.

    VI

    Bayangan Tiongkok: Ascend, Qwen, dan Pilihan yang Tidak Biner

    Narasi persaingan Amerika–Tiongkok sering menggambarkan pilihan kawasan sebagai biner, padahal praktiknya berlapis. Episode Malaysia pada Mei 2025 menunjukkan betapa tipisnya ruang gerak di lapis silikon. Sekitar 20 Mei 2025, pernyataan Wakil Menteri Komunikasi Teo Nie Ching tentang rencana sistem AI nasional berbasis server Huawei Ascend, dengan target tiga ribu server hingga 2026, ditarik dalam waktu sehari tanpa penjelasan, sementara Huawei menyatakan belum ada cip Ascend yang terjual di Malaysia (Malay Mail, 2025). Lebih dari setahun kemudian, pada September 2026, Bloomberg dan Free Malaysia Today melaporkan berdasarkan sumber anonim bahwa Malaysia kembali menimbang perangkat keras Huawei untuk proyek AI berdaulat senilai dua miliar ringgit yang dijalankan Telekom Malaysia, dengan alasan menjaga data pemerintah, militer, dan intelijen di bawah yurisdiksi nasional dan kekhawatiran terhadap CLOUD Act Amerika, sambil mempertimbangkan tender terpisah yang memungkinkan Nvidia dan AMD bersaing (SoyaCincau, 2026). Laporan ini belum terkonfirmasi, dan kajian ini memperlakukannya dengan keyakinan rendah, tetapi logikanya penting: alasan yang dikemukakan bukan harga, melainkan yurisdiksi.

    Di lapis kognitif, pengaruh Tiongkok justru lebih dalam dan kurang diperdebatkan. Pada 25 November 2025, AI Singapore meluncurkan Qwen-SEA-LION-v4, versi terbaru model bahasa regionalnya, yang dibangun di atas model dasar Qwen3-32B dari Alibaba dan dilatih lanjut dengan lebih dari seratus miliar token bahasa Asia Tenggara (eCommerceNews Asia, 2025). Dengan kata lain, negara yang menjadi satu-satunya penanda tangan Pax Silica di kawasan menggunakan fondasi model terbuka dari Tiongkok untuk proyek bahasa regionalnya. Paradoks ini bukan inkonsistensi melainkan rasionalitas: model terbuka yang efisien dan berlisensi longgar menurunkan biaya pengembangan secara drastis. Publikasi DeepSeek-R1 pada Januari 2025, yang menunjukkan bahwa kemampuan penalaran dapat ditingkatkan terutama melalui pembelajaran penguatan (DeepSeek-AI, 2025), memperkuat keyakinan banyak pengembang kawasan bahwa kecerdasan yang kompetitif tidak selalu memerlukan akses terhadap cip tercanggih.

    Implikasinya bagi kedaulatan bersifat dua arah. Model terbuka, dari mana pun asalnya, memperluas opsi keluar karena dapat dijalankan di perangkat keras milik sendiri dan dipindahkan antarpenyedia awan; dalam pengertian ini, ia lulus uji substitusi lebih baik daripada layanan model tertutup. Namun model dasar juga membawa nilai, sensor, dan pilihan kurasi data dari pembuatnya, sehingga ketergantungan dapat berpindah dari lapis silikon ke lapis kognitif tanpa disadari. Kawasan ini, dengan demikian, tidak sedang memilih antara Amerika dan Tiongkok, melainkan menyusun portofolio ketergantungan: silikon dan awan dari Amerika, sebagian fondasi model dari Tiongkok, dan lapis bahasa dari kerja sama regional.

    Penilaian kajian ini, dengan keyakinan sedang, ialah bahwa portofolio ketergantungan semacam itu lebih tangguh daripada keberpihakan tunggal, asalkan dikelola dengan sadar. Risikonya terletak pada titik ketika tekanan kepatuhan Amerika, misalnya melalui klausul penyelarasan dalam perjanjian dagang, mulai menjangkau lapis model dan bukan hanya lapis cip. Bila itu terjadi, ruang yang kini dimanfaatkan oleh proyek seperti SEA-LION dapat menyempit, dan kawasan akan dipaksa memilih di lapis yang selama ini menjadi ruang bernapasnya.

    VII

    Strategi Nasional dan Model Bahasa Berdaulat

    Setiap negara utama kawasan kini memiliki strategi AI, tetapi strategi itu berbeda dalam satu hal mendasar: apakah komputasi diperlakukan sebagai infrastruktur publik atau sebagai daya tarik investasi. Singapura meluncurkan Strategi AI Nasional 2.0 pada 4 Desember 2023, menargetkan peningkatan jumlah praktisi AI menjadi sekitar lima belas ribu orang, menarik pusat keunggulan AI perusahaan, dan berkomitmen memastikan ketersediaan daya komputasi yang memadai bagi riset dan industri, meskipun tanpa angka kuantitatif (MDDI, 2023). Malaysia membentuk Kantor AI Nasional pada 12 Desember 2024 sebagai lembaga pusat untuk perencanaan strategis, riset, dan pengawasan regulasi, dengan tujuh keluaran tahun pertama termasuk kode etik AI, kerangka regulasi, dan rencana aksi teknologi AI hingga 2030 (Malay Mail, 2024b). Vietnam melangkah paling jauh secara legislatif: pada 10 Desember 2025, Majelis Nasional mengesahkan undang-undang AI pertama negara itu dengan 429 dari 434 suara, berlaku 1 Maret 2026, yang mengatur sistem AI berdasarkan tingkat risiko dan secara eksplisit mengizinkan investasi negara dalam pusat komputasi AI nasional serta sistem data terbuka terkendali untuk menurunkan biaya komputasi, disertai dana pengembangan AI nasional dan mekanisme voucer bagi dunia usaha (VnEconomy, 2025).

    Indonesia memperlihatkan jarak antara ambisi dan penyelesaian. Peta jalan AI nasional yang dirancang Komdigi membagi strategi ke dalam tiga horizon, dengan rencana jangka pendek 2025–2027 mencakup tata kelola ekosistem, pelatihan seratus ribu talenta AI per tahun, dan pembangunan infrastruktur pusat data berdaulat (Bisnis.com, 2025). Buku putih yang dikonsultasikan pada Agustus 2025 mengusulkan dana AI berdaulat yang dikelola Danantara pada jendela 2027–2029, tanpa angka besaran dana (W.Media, 2025d). Rancangan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan AI 2026–2029 menetapkan sepuluh sektor strategis dan program cepat seperti penapisan tuberkulosis serta pemetaan risiko tengkes, sementara rancangan Perpres Etika AI menetapkan tiga tingkat risiko dari rendah hingga tidak dapat diterima (Katadata, 2026). Namun hingga Agustus 2026 kedua rancangan itu masih menunggu penetapan Presiden, dengan pemerintah menyebutnya sebagai uji coba menuju undang-undang AI (Warta Alor, 2026), dan analis mengingatkan bahwa tanpa otoritas pelindungan data yang independen, aturan etika dapat berubah menjadi alat kontrol negara (Hermawan, 2026).

    Di lapis kognitif, dua proyek menjadi rujukan kawasan. Sahabat-AI, yang diluncurkan Indosat Ooredoo Hutchison dan GoTo pada 14 November 2024 dengan model berukuran delapan dan sembilan miliar parameter untuk bahasa Indonesia dan bahasa daerah, dilatih dengan platform Nvidia, didukung AI Singapore, dan dikembangkan lebih lanjut di awan GPU Merdeka milik Indosat; peluncurannya dibingkai secara eksplisit sebagai langkah memajukan kedaulatan digital Indonesia (GoTo, 2024). SEA-LION dari Singapura berfungsi sebagai fondasi regional yang dipakai lintas negara. Kedua proyek ini menunjukkan bahwa kedaulatan kognitif di kawasan bersifat hibrida: model dasarnya impor, perangkat kerasnya impor, tetapi korpus bahasa, evaluasi, dan penerapannya lokal.

    Penilaian kajian ini atas strategi nasional ialah bahwa kawasan lebih maju dalam merumuskan etika dan menarik investasi daripada dalam menjamin akses komputasi bagi publik. Hanya Vietnam yang secara hukum menempatkan pusat komputasi nasional sebagai infrastruktur negara, dan hanya Thailand yang mengikat insentif fiskal pada ketersediaan GPU. Keyakinan atas penilaian ini sedang, karena beberapa program akses komputasi mungkin berjalan melalui kerja sama universitas yang tidak terdokumentasi dalam sumber publik.

    VIII

    Perbandingan Internasional: Teluk, India, Eropa, dan Jepang

    Empat kasus luar kawasan memperlihatkan empat jalan menuju kedaulatan komputasi, masing-masing dengan harga yang berbeda. Jalan Teluk adalah kedaulatan melalui modal dan keberpihakan. Pada Mei 2025, Uni Emirat Arab mengumumkan rencana Kampus AI UEA–AS berkapasitas lima gigawatt, dengan klaster Stargate UAE satu gigawatt yang dibangun G42 bersama OpenAI, Oracle, Cisco, Nvidia, dan SoftBank; pada 19 November 2025, Departemen Perdagangan Amerika menyetujui G42 dan perusahaan Saudi Humain masing-masing membeli setara hingga 35.000 cip Blackwell GB300 dengan syarat keamanan dan pelaporan yang ketat (The National, 2025). Model ini membuktikan bahwa negara menengah dapat memperoleh komputasi kelas dunia, tetapi dengan menukar kebebasan memilih pemasok dan menerima pengawasan pihak pengekspor atas penggunaannya.

    Jalan India adalah kedaulatan melalui subsidi publik dan skala pasar. Misi IndiaAI yang diluncurkan Maret 2024 dengan anggaran lebih dari 10.300 crore rupee menargetkan 38.000 GPU dalam lima tahun dan menyediakan akses GPU kelas atas dengan harga bersubsidi sekitar 65 rupee per jam, serta mendukung model fondasi multibahasa seperti BharatGen (The Statesman, 2025). Pelajaran utamanya bagi Asia Tenggara ialah bahwa komputasi dapat diperlakukan sebagai utilitas publik yang disewakan murah kepada perusahaan rintisan dan peneliti, alih-alih sekadar sebagai properti operator swasta. Jalan Eropa adalah kedaulatan melalui pengumpulan sumber daya. Pada 30 Juli 2026, Uni Eropa membuka seruan untuk hingga tujuh gigafactory AI dengan pendanaan publik hingga sepuluh miliar euro yang diharapkan memobilisasi sedikitnya dua puluh miliar euro investasi swasta, melengkapi sembilan belas pabrik AI yang sudah ada, dengan penutupan seruan pada 12 November 2026 (ERA Portal Austria, 2026).

    Jalan Jepang adalah kedaulatan melalui industri hulu. Pada 12 November 2024, pemerintahan Ishiba menjanjikan dukungan lebih dari sepuluh triliun yen hingga tahun fiskal 2030 bagi semikonduktor dan AI, termasuk bagi Rapidus yang berupaya memproduksi cip generasi berikutnya (ICIS, 2024). Namun bahkan Jepang tidak mengklaim kedaulatan penuh. Analisis Brookings pada September 2026 menyimpulkan bahwa kedaulatan AI tumpukan penuh secara struktural mustahil bagi hampir semua negara, bahwa kekuatan data, robotika, dan aplikasi Jepang menciptakan daya ungkit tetapi bukan kedaulatan komputasi, dan bahwa negara menengah memerlukan cukup kapasitas, portabilitas, pilihan, dan daya tawar untuk mencegah ketergantungan berubah menjadi subordinasi (Rediker, 2026).

    Dibandingkan dengan keempat kasus itu, Asia Tenggara memiliki keunggulan fisik yang tidak dimiliki Eropa dan Jepang, yaitu ruang dan potensi energi, tetapi tidak memiliki modal terkonsentrasi seperti Teluk, pasar tunggal sebesar India, maupun industri hulu seperti Jepang. Kombinasi yang paling relevan bagi kawasan, menurut penilaian kajian ini dengan keyakinan sedang, ialah gabungan model India dan Eropa: komputasi sebagai utilitas publik yang disubsidi di tingkat nasional, ditambah pengumpulan sumber daya dan pengadaan bersama di tingkat regional, sambil memanfaatkan keunggulan fisik sebagai alat tawar terhadap operator global.

    IX

    Argumen Tandingan: Apakah Kedaulatan Komputasi Hanya Ilusi Mahal?

    Argumen tandingan terkuat terhadap tesis kajian ini layak dirumuskan dalam bentuk terbaiknya. Menurut pandangan ini, kedaulatan komputasi adalah ilusi mahal yang akan merugikan negara berkembang. Pasar komputasi awan global sangat efisien; perusahaan rintisan dan universitas di Jakarta atau Hanoi dapat menyewa GPU dari penyedia global dengan harga yang terus turun, sementara pembangunan pusat komputasi nasional akan menghasilkan aset yang cepat usang karena generasi cip berganti setiap satu hingga dua tahun. Syarat air, energi, dan akses komputasi yang ketat hanya akan mengusir investasi ke negara tetangga yang lebih lunak, sehingga kawasan kehilangan lapangan kerja, pajak, dan transfer keterampilan. Lebih jauh, upaya menyusun portofolio ketergantungan dengan melibatkan perangkat keras atau model Tiongkok mengundang sanksi sekunder yang dapat memutus akses terhadap seluruh ekosistem Amerika. Bagi pandangan ini, kebijakan terbaik adalah menjadi tuan rumah yang ramah, mengatur di lapis aplikasi, dan membiarkan pasar menyediakan komputasi.

    Argumen ini mengandung kebenaran penting, dan kajian ini menerimanya sebagian. Benar bahwa membangun pabrik cip atau pusat komputasi nasional berskala besar tanpa permintaan yang jelas adalah pemborosan, dan benar bahwa sanksi sekunder adalah risiko nyata, sebagaimana diperlihatkan oleh penarikan cepat pengumuman Huawei di Malaysia pada Mei 2025. Namun argumen ini keliru dalam tiga hal. Pertama, ia mengandaikan pasar komputasi bersifat netral, padahal akses terhadap cip tercanggih kini ditentukan oleh keputusan politik di Washington, sebagaimana terlihat dalam persetujuan berbasis kasus untuk G42 dan Humain serta klausul penyelarasan dalam perjanjian dagang. Komputasi yang dapat disewa hari ini dapat menjadi komputasi yang ditolak besok. Kedua, ia mengabaikan bahwa daya tawar fisik bersifat kolektif: syarat ketat hanya mengusir investasi bila negara tetangga menawarkan syarat lebih lunak, sehingga jawabannya adalah koordinasi regional, bukan penurunan standar. Ketiga, ia meremehkan legitimasi sosial; protes di Johor menunjukkan bahwa tuan rumah yang terlalu ramah dapat kehilangan izin sosial, yang pada akhirnya justru merugikan investor.

    Dengan demikian, kajian ini mempertahankan tesisnya dalam bentuk yang lebih sempit: kedaulatan yang dicari bukan kepemilikan tumpukan teknologi, melainkan kemampuan menetapkan syarat dan mempertahankan opsi keluar. Pendekatan ini tidak menuntut pembangunan pabrik cip, tidak menuntut keberpihakan pada Tiongkok, dan tidak menuntut penolakan investasi asing. Ia hanya menuntut agar sumber daya fisik yang langka tidak diberikan tanpa imbalan berupa akses, pengetahuan, dan portabilitas.

    X

    Skenario 2026–2030 dan Penanda Arah

    Pandangan bahwa teknologi telah menjadi mata uang utama kekuasaan bukan hal baru. Edisi Maret/April 2023 majalah Foreign Affairs bertajuk Innovation Power: How Technology Will Reshape Geopolitics menempatkan inovasi sebagai penentu keseimbangan kekuatan global, dan analisis berjudul Kekuatan Inovasi: Mengapa Teknologi Menjadi Senjata Baru Geopolitik Dunia membaca AI, komputasi awan, dan semikonduktor sebagai sumber kekuasaan geopolitik baru. Persoalan yang belum banyak dibahas dalam literatur itu ialah posisi kawasan yang menampung infrastruktur kekuatan inovasi tanpa memilikinya. Berdasarkan kerangka empat lapis dan bukti hingga Oktober 2026, kajian ini menyusun empat skenario bagi Asia Tenggara hingga 2030. Probabilitasnya merupakan penilaian analitis yang dapat berubah seiring penanda arah yang diuraikan di bawah.

    Empat Skenario Kedaulatan Komputasi Asia Tenggara 2026–2030 (penilaian penulis, 24 Oktober 2026)

    1. ATuan rumah bertingkat45%
    2. BKawasan terbelah dua tumpukan25%
    3. CKedaulatan tawar kolektif15%
    4. DKemacetan fisik15%

    Probabilitas bersifat subjektif dan berjumlah 100 persen; disusun dari kerangka empat lapis dan bukti kebijakan Januari 2025–Oktober 2026.

    Skenario A, tuan rumah bertingkat, adalah kelanjutan arah saat ini dan paling mungkin terjadi. Kawasan terus menampung pertumbuhan pusat data, tetapi akses terhadap cip tercanggih bertingkat sesuai kedekatan politik dengan Washington: Singapura dan mungkin Filipina di lingkar dalam, Malaysia dan Vietnam di lingkar tengah yang terikat klausul penyelarasan, sementara Indonesia dan Thailand bernegosiasi kasus per kasus. Komputasi berkembang, tetapi fungsinya tetap dominan untuk penerapan, bukan pelatihan model. Skenario B, kawasan terbelah dua tumpukan, terjadi bila satu atau dua negara, misalnya Malaysia melalui proyek AI berdaulat atau negara lain di bawah tekanan keamanan data, mengadopsi perangkat keras Tiongkok untuk beban kerja pemerintah, sehingga kawasan memiliki dua standar teknis dan dua rezim kepatuhan yang saling mencurigai. Skenario C, kedaulatan tawar kolektif, terjadi bila ASEAN atau koalisi beberapa negara menyepakati standar minimum bersama untuk energi, air, dan akses komputasi riset, serta pengadaan bersama untuk model bahasa terbuka. Skenario D, kemacetan fisik, terjadi bila keterbatasan listrik, air, dan penolakan warga memperlambat pembangunan, sehingga investasi bergeser ke India, Timur Tengah, atau Australia.

    Penanda arah untuk masing-masing skenario dapat diamati dalam dua belas hingga delapan belas bulan ke depan. Penanda Skenario A meliputi bertambahnya negara kawasan dalam Pax Silica, terbitnya paket ekspor tumpukan penuh Amerika untuk negara Asia Tenggara, dan berlanjutnya persetujuan cip berbasis kasus. Penanda Skenario B meliputi konfirmasi resmi pengadaan Huawei Ascend untuk proyek pemerintah Malaysia, munculnya pusat data pemerintah berbasis perangkat keras Tiongkok di negara lain, dan tanggapan Amerika berupa penambahan entitas kawasan ke daftar pembatasan. Penanda Skenario C meliputi masuknya standar pusat data hijau dalam agenda menteri digital ASEAN, perjanjian pengadaan bersama, dan klausul akses komputasi riset dalam izin pusat data di lebih dari satu negara. Penanda Skenario D meliputi moratorium baru di tingkat negara bagian atau provinsi, penundaan sambungan jaringan listrik, dan meningkatnya protes lingkungan seperti yang terjadi di Gelang Patah.

    XI

    Rekomendasi bagi Aktor Kawasan dan Internasional

    Bagi Pemerintah Indonesia, langkah paling mendesak ialah menetapkan kedua Peraturan Presiden tentang peta jalan dan etika AI sebelum akhir 2026, disertai pembentukan otoritas pelindungan data pribadi yang independen sebagaimana diamanatkan undang-undang, agar aturan etika tidak menjadi alat kontrol yang selektif. Dalam enam bulan berikutnya, Komdigi bersama Kementerian Investasi dan BKPM sebaiknya menambahkan syarat baru dalam izin pusat data berskala besar: sebagian kecil kapasitas GPU, misalnya pada kisaran lima persen, dialokasikan dengan harga biaya bagi universitas dan lembaga riset nasional, mengikuti logika subsidi komputasi Misi IndiaAI. Danantara, sebelum jendela 2027–2029 yang diusulkan dalam buku putih, perlu menerbitkan kerangka investasi yang menjelaskan apakah dana AI berdaulat akan membeli kapasitas, membiayai model bahasa terbuka, atau mengambil saham operator, karena ketiganya memiliki implikasi kedaulatan yang berbeda.

    Bagi Pemerintah Malaysia dan Pemerintah Negeri Johor, rekomendasinya ialah mengubah syarat air dan energi yang sudah ada menjadi paket tawar yang eksplisit pada 2027: prioritas sambungan listrik dan izin air diberikan kepada operator yang menyediakan akses komputasi bagi peneliti dan perusahaan rintisan lokal serta pelatihan teknisi. Dalam urusan proyek AI berdaulat, Kuala Lumpur sebaiknya menjalankan tender terbuka yang membandingkan biaya, keamanan, dan risiko sanksi secara transparan di hadapan parlemen, sehingga keputusan apa pun, baik memilih pemasok Amerika maupun Tiongkok, memiliki legitimasi domestik. Bagi Singapura, kedudukan di lingkar dalam Pax Silica memberikan tanggung jawab regional: hingga 2028, AI Singapore dapat memperluas SEA-LION menjadi infrastruktur bersama dengan tata kelola multinegara, termasuk evaluasi bias dan keamanan atas model dasar yang digunakan, sehingga ketergantungan pada fondasi model mana pun dapat diaudit.

    Bagi ASEAN, khususnya pertemuan menteri digital pada 2027, kajian ini merekomendasikan tiga keputusan: standar minimum bersama untuk efisiensi energi dan penggunaan air pusat data agar negara anggota tidak berlomba menurunkan syarat; mekanisme pengadaan bersama untuk lisensi model, layanan evaluasi, dan kapasitas komputasi riset; serta forum kepatuhan kontrol ekspor regional yang memungkinkan negara anggota bernegosiasi sebagai kelompok, bukan satu per satu. Bagi Vietnam dan Thailand, prioritasnya ialah mengoperasionalkan pusat komputasi nasional dan insentif berbasis GPU dengan laporan pemanfaatan yang dipublikasikan setiap tahun mulai 2027.

    Bagi aktor internasional, rekomendasinya bersifat timbal balik. Pemerintah Amerika Serikat, melalui Departemen Perdagangan dan program ekspor AI-nya, sebaiknya menawarkan kepada mitra Asia Tenggara jalur lisensi yang dapat diprediksi dan dipublikasikan, bukan semata persetujuan berbasis kasus, karena ketidakpastian mendorong kawasan mencari alternatif. Pemerintah Tiongkok dan penyedia model terbuka Tiongkok sebaiknya mempublikasikan dokumentasi data pelatihan dan kebijakan penyaringan konten agar model dasarnya dapat diaudit oleh pengguna kawasan. Uni Eropa, Jepang, dan India dapat menawarkan kemitraan komputasi riset dan pertukaran talenta yang memberikan opsi ketiga di luar dua kutub. Lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia sebaiknya memasukkan kebutuhan listrik pusat data ke dalam perencanaan transisi energi kawasan hingga 2030, agar komputasi tidak bersaing dengan elektrifikasi rumah tangga.

    XII

    Keterbatasan dan Kesimpulan: Dari Tuan Rumah ke Penawar

    Kajian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dinyatakan. Pertama, data kapasitas pusat data di kawasan berasal dari sumber yang tidak seragam: jawaban parlemen Malaysia, data persetujuan investasi Thailand, dan laporan lembaga riset tentang Indonesia, sehingga perbandingan langsung antarnegara harus dibaca dengan hati-hati. Kedua, kontrak antara pemerintah dan operator pusat data jarang dipublikasikan, sehingga penilaian tentang nilai tawar yang hilang bersandar pada bukti tidak langsung. Ketiga, beberapa peristiwa penting, terutama laporan September 2026 tentang pertimbangan Malaysia atas perangkat keras Huawei, bersumber dari laporan anonim yang belum terkonfirmasi. Keempat, kebijakan kontrol ekspor Amerika berubah cepat, sehingga analisis lapis silikon dapat usang dalam hitungan bulan. Kelima, kajian ini tidak mengukur secara kuantitatif kualitas model bahasa kawasan dibandingkan model global, dan tidak membahas Filipina, Kamboja, Laos, Myanmar, serta Brunei secara mendalam.

    Kesimpulan kajian ini dapat dipadatkan dalam satu gagasan. Asia Tenggara sedang menjadi tuan rumah bagi salah satu infrastruktur paling strategis abad ini, tetapi posisi tuan rumah tidak otomatis memberikan kendali. Kendali atas cip berada di luar kawasan dan akan tetap demikian dalam horizon yang dapat diperkirakan. Namun kendali atas tanah, listrik, air, izin, data, dan bahasa berada di dalam kawasan, dan selama ini sumber daya itu diberikan dengan syarat yang terlalu ringan karena negara-negara kawasan saling bersaing. Paparan tahun 2026 berjudul Wacana Kontemporer dalam Studi Islam: Peradaban, Otoritas, dan Kesadaran di Hadapan Kecerdasan Buatan mengingatkan bahwa AI pada akhirnya menyangkut otoritas pengetahuan dan kesadaran peradaban, bukan hanya mesin; dalam bahasa kajian ini, lapis kognitif adalah tempat kedaulatan paling bermakna bagi masyarakat yang ingin mesin memahami bahasa, hukum, dan nilai mereka sendiri.

    Peralihan dari tuan rumah menjadi penawar tidak memerlukan pabrik cip atau keberpihakan geopolitik yang dramatis. Ia memerlukan tiga hal yang lebih sederhana tetapi lebih sulit secara politik: kesediaan menetapkan syarat fisik yang tegas, kemampuan bertindak bersama di tingkat regional, dan komitmen memperlakukan sebagian komputasi sebagai barang publik bagi riset dan layanan warga. Bila ketiganya terwujud sebelum gelombang pembangunan berikutnya mencapai puncaknya pada akhir dekade ini, kawasan akan memasuki tata dunia AI bukan sebagai ruang mesin, melainkan sebagai pihak yang ikut menentukan syarat. Bila tidak, Asia Tenggara akan tetap menjadi lumbung yang penuh, dengan panen yang dibawa pergi.

    ◆ ◆ ◆

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    • IEA. (2025). Energy and AI: Executive Summary. International Energy Agency. iea.org
    • IMDA. (2024, 30 Mei). Charting Green Growth for Data Centres in SG (Green Data Centre Roadmap). imda.gov.sg
    • MDDI Singapura. (2023, 4 Desember). Launch of Singapore’s Second National AI Strategy. mddi.gov.sg
    • Nvidia Corporation. (2025). Form 10-K, Fiscal Year 2025. U.S. Securities and Exchange Commission. sec.gov
    • DeepSeek-AI. (2025). DeepSeek-R1: Incentivizing Reasoning Capability in LLMs via Reinforcement Learning. arXiv:2501.12948. arxiv.org

    Literatur ilmiah

    • Farrell, H., & Newman, A. L. (2019). Weaponized Interdependence: How Global Economic Networks Shape State Coercion. International Security, 44(1). henryfarrell.net
    • Lehdonvirta, V., Wú, B., & Hawkins, Z. (2024). Compute North vs. Compute South: The Uneven Possibilities of Compute-based AI Governance Around the Globe. Proceedings of the AAAI/ACM Conference on AI, Ethics, and Society, 7(1), 828–838. ojs.aaai.org
    • Sastry, G., dkk. (2024). Computing Power and the Governance of Artificial Intelligence. Institute for Law & AI. law-ai.org

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    • Rediker, D. A. (2026, 8 September). Middle-Power AI Agency: Preserving Choice between the United States and China. Brookings Institution. brookings.edu
    • Hermawan, A. (2026, 5 September). Indonesia’s AI Regulations Leave State Repression Unchecked. East Asia Forum. eastasiaforum.org
    • Noer, H., & Putra, M. I. D. (2026, 10 Juli). Consolidation Without Completion: Indonesia’s AI Developments in 2026. Tech For Good Institute. techforgoodinstitute.org
    • Kirkland & Ellis. (2025, 27 Mei). BIS Rescission of the Biden Administration’s AI Diffusion Rule. kirkland.com
    • Jones Day. (2025, Agustus). White House Issues Executive Orders on AI Action Plan. jonesday.com
    • Mondaq. (2025). Shifts in U.S. Trade in Asia: Key Agreements from President Trump’s October 2025 Asia Trip, Part I: Southeast Asia. mondaq.com
    • Linklaters TechInsights. (2024). Powering Up to Go Green: Singapore Announces at Least 300 Megawatts Increase in Data Centre Capacity. linklaters.com
    • Kekuatan Inovasi: Mengapa Teknologi Menjadi Senjata Baru Geopolitik Dunia. kba13.com. kba13.com

    Media dan pemberitaan

    • Media Selangor. (2026, 20 Oktober). Data Centres to Need 8GW by 2030, Selangor Facilities Require Second-Largest Share. mediaselangor.com
    • The Star. (2026, 23 Juli). Johor Data Centres Turn to Recycled Water. thestar.com.my
    • The Star. (2026, 7 Juli). Philippines Eyes Pax Silica Framework Deal with US within This Year. thestar.com.my
    • W.Media. (2025a, 15 Juli). Malaysia Imposes Curbs on Exports of US-Origin AI Chips. w.media
    • W.Media. (2025b, 6 Agustus). Thailand Data Center Investments Hit US$16.1 Billion from 28 Projects in 1H 2025. w.media
    • W.Media. (2025c, 28 November). Johor Stops Approving Tier 1 and Tier 2 Data Centers Due to Water “Overuse”. w.media
    • W.Media. (2025d, 15 Agustus). Indonesia Mulls “Sovereign AI Fund” in AI Push. w.media
    • Bisnis.com. (2025, 18 Desember). Komdigi: Ruang Pengembangan Infrastruktur Penunjang AI Masih Luas. bisnis.com
    • Bisnis.com. (2025, 27 Mei). Microsoft Resmikan Indonesia Central Cloud Region. bisnis.com
    • Katadata. (2026, 15 April). Dua Perpres AI Segera Terbit: Atur Tiga Tingkatan Risiko dan Mitigasi Kerugian. katadata.co.id
    • Warta Alor. (2026, 8 Agustus). Pemerintah Antisipasi Disrupsi AI lewat Perpres Peta Jalan dan Etika AI. wartaalor.com
    • Al Jazeera. (2024, 1 Mei). Microsoft to Invest $1.7bn in AI, Cloud Infrastructure in Indonesia. aljazeera.com
    • GoTo. (2024, 15 November). Indosat Ooredoo Hutchison and GoTo Launch Sahabat-AI. gotocompany.com
    • eCommerceNews Asia. (2025, 25 November). AI Singapore, Alibaba Unveil Regional Model for 1,200 Languages. ecommercenews.asia
    • TechCrunch. (2025, 13 Maret). Singapore Grants Bail for Nvidia Chip Smugglers in Alleged $390M Fraud. techcrunch.com
    • Malay Mail. (2024, 12 Februari). Nvidia CEO Huang Says Countries Must Build Sovereign AI Infrastructure. malaymail.com
    • Malay Mail. (2024b, 12 Desember). PM Anwar Launches National AI Office. malaymail.com
    • Malay Mail. (2025, 21 Mei). Malaysia Walks Back Huawei AI Project amid US–China Tech Tensions. malaymail.com
    • SoyaCincau. (2026, 10 September). Malaysia Reportedly Eyeing Huawei Chips for RM2 Billion Sovereign AI Push. soyacincau.com
    • The Register. (2025, 9 Desember). Trump Says Nvidia Can Sell H200s to China – If Washington Gets a 25 Percent Cut. theregister.com
    • Fortune. (2025, 30 Desember). Why Singapore Is the Only Southeast Asian Country in Pax Silica. fortune.com
    • The National. (2025, 20 November). US Approves Export of Nvidia AI Chips to UAE and Saudi Arabia. thenationalnews.com
    • The Statesman. (2025, 30 Desember). India Steps Up AI Push with Rs 10,300 Crore Investment, 38,000 GPUs Deployed. thestatesman.com
    • ERA Portal Austria. (2026, 30 Juli). EU Launches AI Gigafactories Call to Boost Europe’s Computing Capacity. era.gv.at
    • ICIS. (2024, 12 November). Ishiba Stays on as Japan PM; Pledges $65bn Semiconductor/AI Support. icis.com
    • VnEconomy. (2025, 11 Desember). National Assembly Approves Vietnam’s First AI Law. vneconomy.vn

    Arsip & Pustaka

    • Council on Foreign Relations. (2023). Foreign Affairs, 102(2), Maret/April 2023: “Innovation Power: How Technology Will Reshape Geopolitics”. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy. pustaka.kba13academy.com/s/arsip/item/740
    • Paparan (2026). Wacana Kontemporer dalam Studi Islam: Peradaban, Otoritas, dan Kesadaran di Hadapan Kecerdasan Buatan. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy. pustaka.kba13academy.com/s/arsip/item/917

    Cara Mengutip

    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad. (2026). Tuan Rumah tanpa Kendali: Kedaulatan Komputasi, Pusat Data, dan Geopolitik Kecerdasan Buatan di Asia Tenggara. KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/kedaulatan-komputasi-ai-asia-tenggara/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama di UIN Ar-Raniry Banda Aceh; PhD Sosiologi, La Trobe University (2011). Pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy, menulis analisis geopolitik, kajian strategis, dan studi peradaban Islam di Dunia Melayu.

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →