Tag: dataset

  • Menyerap Tanpa Mencipta: Kapasitas Produksi Pengetahuan Negara-Negara ASEAN

    Menyerap Tanpa Mencipta: Kapasitas Produksi Pengetahuan Negara-Negara ASEAN

    Datasets · Knowledge Systems

    Menyerap Tanpa MenciptaKapasitas produksi pengetahuan negara-negara ASEAN: dataset komparatif terdokumentasi dengan tolok ukur Korea Selatan, Tiongkok, dan India

    Asia Tenggara telah menjadi salah satu penyerap teknologi paling efektif di dunia, tetapi tetap menjadi produsen pengetahuan yang tipis. Dataset ini menghimpun belanja riset, jumlah peneliti, artikel ilmiah, paten, pendidikan tinggi, dan peringkat inovasi untuk sebelas negara, lengkap dengan tahun, sumber, dan kamus data, lalu membaca celah antara menyerap dan mencipta sebagai persoalan arsitektur sistem pengetahuan nasional.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • 1 November 2026
    • ~32 menit baca
    • Datasets
    • Bahasa Indonesia
    Daftar Isi
    1. IPertanyaan dan jawaban pokok
    2. IIKerangka analitis
    3. IIIDataset inti
    4. IVKamus data
    5. VCatatan metode dan mutu data
    6. VICelah absorpsi dan produksi
    7. VIIPosisi Indonesia
    8. VIIILintasan pembanding
    9. IXArgumen tandingan
    10. XSkenario hingga 2030
    11. XIRekomendasi per aktor
    12. XIIKeterbatasan dan kesimpulan
    Visualisasi data kapasitas riset dan inovasi negara-negara ASEAN dibandingkan dengan Korea Selatan, Tiongkok, dan India
    Dataset ini membandingkan input riset, output pengetahuan, dan output teknologi sebelas negara Asia, dengan tahun dan sumber untuk setiap angka.

    Abstrak

    Kajian ini menyajikan dataset komparatif terdokumentasi tentang kapasitas produksi pengetahuan delapan negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Brunei, Kamboja) dengan Korea Selatan, Tiongkok, dan India sebagai tolok ukur. Data dihimpun dari World Development Indicators Bank Dunia (yang meneruskan statistik UNESCO Institute for Statistics dan WIPO), profil Global Innovation Index 2026, serta laporan Indikator Iptek BRIN 2024, dengan tahun observasi terakhir dicatat untuk setiap nilai dan “n.a.” untuk nilai yang tidak terverifikasi. Kerangka analisisnya membedakan tiga lapis: input riset, output pengetahuan berupa publikasi, dan output teknologi berupa paten dan penerimaan kekayaan intelektual. Temuan pokoknya adalah celah sistematis antara kapasitas menyerap dan kapasitas mencipta. Malaysia, Filipina, dan Thailand mengekspor produk berteknologi tinggi dalam porsi besar, tetapi hanya 11 sampai 19 persen permohonan paten di negara mereka diajukan oleh penduduk, dan pembayaran royalti mereka sebelas sampai dua puluh kali lipat penerimaannya. Indonesia menambah artikel ilmiah dua puluh delapan kali lipat sejak 2010, tetapi permohonan paten residennya turun dari puncak 2019 dan belanja riset menurut ukuran BRIN hanya 0,10 persen PDB pada 2023. Kajian ini menutup dengan catatan metode, kamus data, skenario hingga 2030, dan rekomendasi bagi kementerian, BRIN, Bappenas, universitas, ASEAN COSTI, UNESCO, dan Bank Dunia.

    Tesis

    Asia Tenggara tidak kekurangan akses terhadap pengetahuan dunia; ia kekurangan simpul domestik yang mengubah akses itu menjadi kemampuan mencipta, dan celah itu lebih ditentukan oleh arsitektur institusi serta koalisi politik daripada oleh jumlah publikasi.

    • Input risetBelanja litbang terhadap PDB, peneliti per sejuta penduduk, dan partisipasi pendidikan tinggi.
    • Output pengetahuanArtikel ilmiah dan teknis, absolut dan per sejuta penduduk, beserta lintasannya sejak 2010.
    • Output teknologiPaten residen, rasio paten nonresiden, ekspor teknologi tinggi, dan neraca royalti kekayaan intelektual.

    Kata kunci

    • sistem inovasi nasional
    • kapasitas absorpsi
    • belanja riset dan pengembangan
    • ASEAN
    • jebakan pendapatan menengah
    • paten residen
    • BRIN
    • dataset terdokumentasi
    I

    Pertanyaan, jawaban pokok, dan mengapa ini penting

    Seberapa besar sesungguhnya kapasitas negara-negara Asia Tenggara untuk memproduksi pengetahuan baru, bukan sekadar mengonsumsi, mengadaptasi, atau merakit pengetahuan yang diciptakan di tempat lain? Pertanyaan itu sering dijawab dengan satu angka, biasanya peringkat dalam indeks inovasi global atau jumlah artikel terindeks, lalu diperdebatkan seolah-olah angka itu menggambarkan keseluruhan sistem. Dataset ini menolak jalan pintas tersebut. Ia menghimpun sebelas indikator dari sumber multilateral yang benar-benar diambil pada akhir Oktober 2026, mencatat tahun observasi setiap nilai, menandai kekosongan secara terbuka, dan menyusunnya dalam kerangka yang memisahkan input, output pengetahuan, dan output teknologi.

    Jawaban pokoknya dapat dinyatakan dalam satu kalimat. Kawasan ini telah menjadi penyerap teknologi yang sangat efektif, tetapi sebagian besar negaranya belum membangun simpul domestik yang mengubah penyerapan menjadi penciptaan. Bukti paling tajam datang dari kontras antara dua kelompok angka. Di satu sisi, ekspor berteknologi tinggi mencapai 60,4 persen ekspor manufaktur Filipina, 59,4 persen Singapura, dan 58,6 persen Malaysia pada 2024 menurut World Development Indicators, angka yang lebih tinggi daripada Korea Selatan (36,3 persen). Di sisi lain, penduduk Malaysia hanya mengajukan 841 permohonan paten pada 2024, Filipina 873, dan Thailand 930, sementara Korea mengajukan 195.786 menurut data paten residen WIPO yang diteruskan Bank Dunia. Kawasan ini mengirimkan cip ke seluruh dunia, tetapi hampir tidak mematenkan apa pun yang terkandung di dalamnya (tingkat keyakinan: tinggi).

    Indonesia menempati posisi yang khas dalam pola itu. Negeri ini tidak termasuk penyerap teknologi tinggi yang kuat, karena ekspor teknologi tingginya hanya 8,7 persen ekspor manufaktur pada 2024, dan juga belum menjadi produsen teknologi, karena belanja riset nasionalnya menurut Indikator Iptek, Riset, dan Inovasi Indonesia 2024 terbitan BRIN hanya sekitar Rp20,39 triliun atau 0,10 persen PDB pada 2023. Satu-satunya lapis yang tumbuh dramatis adalah publikasi: jumlah artikel ilmiah dan teknis naik dari 1.391 pada 2010 menjadi 38.992 pada 2023. Indonesia dengan demikian menghadapi celah ganda, yaitu belum cukup menyerap dan belum cukup mencipta, dan pertumbuhan publikasi belum tersambung ke kedua lapis lainnya (tingkat keyakinan: tinggi untuk arah, sedang untuk besaran karena perbedaan metode pengukuran yang diuraikan di Bagian V).

    Persoalan ini penting secara global karena tiga alasan. Pertama, laporan World Development Report 2024 Bank Dunia menempatkan peralihan dari investasi ke penyerapan lalu ke inovasi sebagai syarat keluar dari jebakan pendapatan menengah, dan sebagian besar negara ASEAN kini berada tepat di persimpangan tahap kedua dan ketiga. Kedua, peta rantai pasok teknologi sedang digambar ulang oleh persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok, sehingga negara yang hanya menjadi lokasi perakitan berisiko ditinggalkan ketika keputusan relokasi berikutnya dibuat. Ketiga, negara-negara dengan populasi terbesar di kawasan, yaitu Indonesia, Filipina, dan Vietnam, akan menentukan apakah Asia Tenggara secara keseluruhan menjadi kutub pengetahuan ketiga Asia atau tetap menjadi pinggiran yang produktif di antara Asia Timur Laut dan Asia Selatan.

    Dataset ini disusun sebagai bahan ajar bagi School of Knowledge Systems & Knowledge Management, sehingga ia dirancang agar dapat diperiksa ulang, diperbarui, dan dibantah. Setiap angka dalam tabel menyertakan tahun dan sumber; setiap kode indikator dicatat dalam kamus data; dan setiap keputusan harmonisasi dijelaskan. Kajian ini sengaja tidak mengulang perdebatan tentang metrik publikasi atau tentang miskinnya teori dalam ilmu sosial, dua tema yang sudah dibahas di tempat lain. Fokusnya adalah kapasitas sistem nasional: siapa yang membiayai riset, siapa yang mengerjakannya, apa yang dihasilkan, dan apakah hasil itu kembali ke ekonomi dalam bentuk kemampuan teknologi yang dimiliki sendiri.

    II

    Kerangka analitis: sistem inovasi nasional dan tiga lapis kapasitas

    Kerangka kajian ini bertumpu pada tradisi sistem inovasi nasional. Christopher Freeman, dalam artikel tahun 1995 berjudul “The ‘National System of Innovation’ in Historical Perspective” di Cambridge Journal of Economics, menelusuri gagasan itu hingga Friedrich List dan menunjukkan bahwa kinerja teknologi suatu bangsa ditentukan oleh jaringan lembaga, yakni perusahaan, universitas, lembaga pemerintah, dan sistem pendidikan, beserta cara jaringan itu belajar dan mengimpor teknologi. Bengt-Åke Lundvall, dalam buku National Systems of Innovation: Toward a Theory of Innovation and Interactive Learning (1992; terbit ulang Anthem Press), menambahkan bahwa inti sistem itu adalah pembelajaran interaktif antara pengguna dan produsen pengetahuan. Dari kedua sumber ini kajian ini mengambil satu prinsip metodologis: kapasitas produksi pengetahuan tidak dapat diukur dari satu simpul, karena yang menentukan adalah sambungan antarsimpul.

    Prinsip kedua diambil dari Wesley Cohen dan Daniel Levinthal, yang dalam artikel tahun 1990 berjudul “Absorptive Capacity: A New Perspective on Learning and Innovation” di Administrative Science Quarterly berargumen bahwa kemampuan sebuah organisasi untuk mengenali, mengasimilasi, dan memanfaatkan pengetahuan dari luar sangat bergantung pada pengetahuan terkait yang sudah dimilikinya, dan bahwa riset internal adalah salah satu cara utama membangun kemampuan itu. Implikasinya bagi analisis kebijakan sangat besar. Penyerapan dan penciptaan bukan dua strategi yang bisa dipilih salah satunya; keduanya adalah dua wajah dari investasi yang sama. Negara yang berhenti berinvestasi dalam riset sendiri, dengan alasan cukup mengandalkan teknologi impor, pada akhirnya juga kehilangan kemampuan untuk menyerap teknologi impor itu secara mendalam.

    Atas dasar itu kajian ini menyusun empat dimensi pengukuran. Dimensi input mencakup belanja riset dan pengembangan sebagai persen PDB, peneliti per sejuta penduduk, dan rasio partisipasi kasar pendidikan tinggi. Dimensi output pengetahuan mencakup artikel ilmiah dan teknis. Dimensi output teknologi mencakup permohonan paten oleh penduduk. Dimensi absorpsi mencakup ekspor teknologi tinggi, permohonan paten oleh nonpenduduk, dan pembayaran serta penerimaan biaya penggunaan kekayaan intelektual. Global Innovation Index 2026 dipakai sebagai indikator komposit pembanding, dengan kesadaran bahwa ia sendiri merupakan agregasi dari banyak indikator yang sebagian tumpang tindih dengan dataset ini.

    Empat dimensi kapasitas produksi pengetahuan

    1. 1Inputsumber dayaBelanja litbang, peneliti setara penuh waktu, partisipasi pendidikan tinggi.
    2. 2Output pengetahuanpublikasiArtikel ilmiah dan teknis, absolut dan per sejuta penduduk.
    3. 3Output teknologikepemilikanPaten residen dan penerimaan royalti kekayaan intelektual.
    4. 4AbsorpsipenyerapanEkspor teknologi tinggi, paten nonresiden, pembayaran royalti.

    Pembeda analitis yang paling penting dalam kerangka ini adalah rasio antara dimensi keempat dan dimensi ketiga, yang kajian ini sebut celah absorpsi-produksi. Celah itu diukur dengan dua cara yang saling menguatkan. Cara pertama adalah porsi penduduk dalam total permohonan paten di dalam negeri: semakin kecil porsinya, semakin besar ketergantungan sistem pada penemu asing yang melindungi teknologi mereka di pasar domestik. Cara kedua adalah rasio pembayaran terhadap penerimaan royalti: semakin besar rasionya, semakin besar aliran sewa pengetahuan ke luar negeri dibandingkan aliran masuk dari pengetahuan yang dimiliki sendiri. Kedua ukuran itu tidak sempurna, karena perusahaan multinasional dapat memindahkan pendapatan royalti antarnegara untuk alasan pajak, tetapi keduanya menangkap hal yang luput dari indikator input dan publikasi.

    Kerangka ini juga meminjam tradisi indeks ekonomi pengetahuan. Metodologi Penilaian Pengetahuan Bank Dunia yang dijelaskan Derek Chen dan Carl Dahlman dalam makalah tahun 2005 berjudul The Knowledge Economy, the KAM Methodology and World Bank Operations membagi ekonomi pengetahuan ke dalam empat pilar, yaitu rezim insentif ekonomi dan kelembagaan, pendidikan, sistem inovasi, dan teknologi informasi. Kajian ini tidak membangun indeks komposit baru, karena indeks semacam itu cenderung menyembunyikan kontradiksi antardimensi di balik satu skor. Sebaliknya, kajian ini membiarkan indikator berdiri berdampingan agar kontradiksinya terlihat, karena justru kontradiksi itulah yang menjadi objek analisis.

    Catatan metode ringkasnya sebagai berikut. Sumber utama adalah World Development Indicators Bank Dunia versi pembaruan 8 Oktober 2026, yang untuk belanja litbang dan peneliti meneruskan data UNESCO Institute for Statistics, untuk paten meneruskan data WIPO, dan untuk publikasi meneruskan Science and Engineering Indicators National Science Foundation Amerika Serikat yang menghitung artikel terindeks Scopus. Untuk setiap negara dan indikator diambil observasi terakhir yang tersedia, sehingga tahun observasi berbeda antarnegara dan dicatat di setiap sel. Peringkat inovasi diambil dari profil negara Global Innovation Index 2026 yang diterbitkan WIPO pada akhir September 2026. Data nasional Indonesia dibandingkan dengan laporan BRIN 2024. Periode lintasan yang dianalisis adalah 1996 sampai 2025, bergantung pada ketersediaan seri. Pendekatannya adalah perbandingan deskriptif terstruktur, bukan estimasi kausal, dan setiap penilaian utama diberi tingkat keyakinan.

    III

    Dataset inti: input, output, dan posisi komposit

    Tabel 1 menyajikan dimensi input untuk sebelas negara. Angka belanja litbang dan peneliti berasal dari seri GB.XPD.RSDV.GD.ZS dan SP.POP.SCIE.RD.P6, sedangkan partisipasi pendidikan tinggi berasal dari seri SE.TER.ENRR. Setiap nilai adalah observasi terakhir yang tersedia dalam World Development Indicators per 8 Oktober 2026, dibulatkan untuk keterbacaan, dengan tahun observasi di dalam kurung.

    Tabel 1. Dimensi input: belanja litbang, peneliti, dan partisipasi pendidikan tinggi
    NegaraBelanja litbang (% PDB)Peneliti per sejuta penduduk (FTE)APK pendidikan tinggi (%)
    Indonesia0,28 (2020)395 (2020)44,9 (2023)
    Malaysia1,01 (2022)1.218 (2022)38,5 (2024)
    Singapura1,81 (2022)8.782 (2022)97,3 (2023)
    Thailand0,94 (2023)1.592 (2023)49,1 (2025)
    Vietnam0,41 (2023)836 (2023)37,6 (2024)
    Filipina0,28 (2020)320 (2020)47,4 (2024)
    Brunei Darussalam0,28 (2018)506 (2022)36,4 (2023)
    Kamboja0,09 (2015)30 (2015)21,4 (2024)
    Korea Selatan4,94 (2023)9.472 (2023)111,9 (2024)
    Tiongkok2,58 (2023)2.107 (2023)76,9 (2024)
    India0,65 (2020)259 (2020)34,4 (2025)

    Tabel 1 sudah memperlihatkan tiga kelompok yang jelas. Kelompok pertama adalah Korea dan Singapura, dengan peneliti di atas 8.700 per sejuta penduduk dan belanja riset di atas 1,8 persen PDB. Kelompok kedua adalah Malaysia, Thailand, dan Tiongkok, dengan peneliti antara 1.200 dan 2.100 per sejuta, meskipun intensitas belanja Tiongkok jauh lebih tinggi daripada dua negara ASEAN itu. Kelompok ketiga adalah Indonesia, Vietnam, Filipina, Brunei, Kamboja, dan India, dengan peneliti di bawah 850 per sejuta. Vietnam berada di batas atas kelompok ketiga dengan 836 peneliti per sejuta pada 2023, lebih dari dua kali lipat angka Indonesia tahun 2020, padahal belanja riset kedua negara relatif dekat. Perbedaan itu menunjukkan bahwa jumlah peneliti dapat tumbuh lebih cepat daripada belanja ketika negara memprioritaskan pembentukan tenaga riset, tetapi juga mengingatkan bahwa peneliti yang kurang didanai mudah menjadi pengajar penuh waktu dengan gelar peneliti.

    Kolom partisipasi pendidikan tinggi memperlihatkan paradoks yang tidak boleh dilewatkan. Indonesia (44,9 persen) dan Filipina (47,4 persen) memiliki partisipasi pendidikan tinggi yang lebih tinggi daripada Malaysia (38,5 persen) dan Vietnam (37,6 persen), tetapi intensitas peneliti mereka jauh lebih rendah. Dengan kata lain, perluasan akses pendidikan tinggi di kedua negara kepulauan itu belum dikonversi menjadi kapasitas riset. Sistem pendidikan tinggi mereka tumbuh terutama sebagai sistem pengajaran massal, bukan sebagai sistem produksi pengetahuan, dan ini adalah temuan struktural yang lebih penting daripada selisih peringkat mana pun (tingkat keyakinan: tinggi).

    Tabel 2 menyajikan dimensi output dan posisi komposit. Artikel berasal dari seri IP.JRN.ARTC.SC untuk 2023, paten residen dari seri IP.PAT.RESD untuk 2024, dan nilai per sejuta penduduk dihitung kajian ini dengan membagi angka absolut dengan populasi 2023 dari seri SP.POP.TOTL. Peringkat Global Innovation Index 2026 berasal dari profil negara WIPO untuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Korea, Tiongkok, dan India; peringkat Brunei dan Kamboja diambil dari rangkuman SeasiaStats karena profil WIPO keduanya tidak diambil dalam kajian ini.

    Tabel 2. Dimensi output dan posisi komposit
    NegaraArtikel ilmiah dan teknis (2023)Artikel per sejuta pendudukPaten residen (2024)Paten residen per sejuta pendudukGII 2026: peringkat (input/output)
    Indonesia38.9921391.9316,955 (60/60)
    Malaysia23.69167484123,934 (29/40)
    Singapura11.8942.0101.898320,75 (1/9)
    Thailand16.65623293013,044 (46/41)
    Vietnam10.6441061.22612,243 (54/35)
    Filipina4.752418737,652 (69/49)
    Brunei Darussalam5021.09312,298 (n.a.)
    Kamboja2011210,193 (n.a.)
    Korea Selatan71.7241.387195.7863.7864 (4/6)
    Tiongkok932.7126611.672.0011.18510 (22/5)
    India228.17415963.21744,038 (49/25)

    Kolom terakhir Tabel 2 menyimpan informasi yang jarang dibaca, yaitu selisih antara peringkat input dan peringkat output dalam Global Innovation Index. Negara yang peringkat outputnya lebih baik daripada peringkat inputnya mengubah sumber daya menjadi hasil secara relatif efisien; negara dengan pola sebaliknya memiliki sumber daya dan lingkungan kelembagaan yang relatif baik tetapi hasilnya tertinggal. Vietnam (input 54, output 35), India (input 49, output 25), dan Tiongkok (input 22, output 5) berada di kelompok pertama. Malaysia (input 29, output 40) dan Singapura (input 1, output 9) berada di kelompok kedua, sedangkan Indonesia berada tepat di tengah dengan peringkat 60 untuk keduanya. Profil WIPO juga mencatat bahwa Vietnam dan India adalah dua ekonomi yang melampaui ekspektasi tingkat pembangunannya selama enam belas tahun berturut-turut, sebagaimana dilaporkan VietnamPlus pada 3 Oktober 2026.

    Perbandingan publikasi dengan paten di Tabel 2 menghasilkan pembacaan yang paling tajam. Indonesia menghasilkan artikel lebih banyak daripada Malaysia, Thailand, dan Vietnam secara absolut, tetapi per sejuta penduduk ia hanya menghasilkan seperlima dari Malaysia, dan paten residen per sejuta penduduknya (6,9) lebih rendah daripada Thailand, Vietnam, dan Malaysia, dan hanya sedikit di bawah Filipina. Singapura, dengan penduduk sekitar 5,9 juta, mengajukan hampir sama banyak paten residen dengan Indonesia yang berpenduduk lebih dari 281 juta. Korea mengajukan sekitar 2,7 paten residen untuk setiap artikel ilmiah, sedangkan Indonesia mengajukan sekitar lima paten untuk setiap seratus artikel. Rasio itu bukan ukuran mutu ilmu, tetapi ukuran sejauh mana kerja ilmiah tersambung dengan kerja teknologi di dalam sistem (tingkat keyakinan: tinggi).

    IV

    Kamus data

    Kamus data berikut mendefinisikan setiap variabel dalam dataset, satuannya, sumber aslinya, kode seri bila ada, dan cakupan negara serta tahunnya. Variabel turunan ditandai sebagai hasil hitung kajian ini, sehingga pembaca dapat membedakan angka yang dikutip langsung dari sumber dengan angka yang merupakan hasil operasi aritmetika atas angka sumber. Kamus ini dimaksudkan agar dataset dapat diperbarui setiap tahun oleh mahasiswa atau analis lain tanpa harus menebak keputusan yang diambil pada versi pertama.

    Tabel 3. Kamus data
    VariabelDefinisiSatuanSumberKodeCakupan
    Belanja litbangBelanja domestik bruto untuk riset dan pengembangan, modal dan rutin, di sektor bisnis, pemerintah, pendidikan tinggi, dan nirlaba swasta% PDBUNESCO UIS melalui WDI (rilis UIS Februari 2025)GB.XPD.RSDV.GD.ZS11 negara; 2015–2023; seri 1996–2023 untuk enam negara
    PenelitiProfesional yang menghasilkan pengetahuan, produk, proses, atau metode baru, dihitung setara penuh waktuper sejuta pendudukUNESCO UIS melalui WDISP.POP.SCIE.RD.P611 negara; 2015–2023
    APK pendidikan tinggiJumlah mahasiswa terhadap populasi kelompok usia pendidikan tinggi resmi; dapat melebihi 100%UNESCO UIS melalui WDISE.TER.ENRR11 negara; 2023–2025
    Artikel ilmiah dan teknisArtikel jurnal dan prosiding terindeks Scopus di bidang sains dan rekayasajumlahNSF Science and Engineering Indicators melalui WDIIP.JRN.ARTC.SC11 negara; 2010–2023
    Artikel per sejuta pendudukArtikel 2023 dibagi populasi 2023per sejutaHitungan kajian initurunan11 negara; 2023
    Paten residenPermohonan paten yang diajukan penduduk di kantor paten nasionaljumlahWIPO melalui WDIIP.PAT.RESD11 negara; 2010–2024
    Paten nonresidenPermohonan paten yang diajukan pihak asing di kantor paten nasionaljumlahWIPO melalui WDIIP.PAT.NRES9 negara; 2024
    Porsi paten residenPaten residen dibagi jumlah paten residen dan nonresiden%Hitungan kajian initurunan9 negara; 2024
    Ekspor teknologi tinggiEkspor produk berintensitas litbang tinggi terhadap ekspor manufaktur%WDITX.VAL.TECH.MF.ZS9 negara; 2023–2024
    Pembayaran royalti KIBiaya penggunaan kekayaan intelektual yang dibayarkan ke luar negeri, neraca pembayaranUSD harga berlakuWDIBM.GSR.ROYL.CD8 negara; 2025
    Penerimaan royalti KIBiaya penggunaan kekayaan intelektual yang diterima dari luar negeriUSD harga berlakuWDIBX.GSR.ROYL.CD8 negara; 2025
    Rasio royaltiPembayaran dibagi penerimaan royalti KIkaliHitungan kajian initurunan8 negara; 2025
    Peringkat GIIPeringkat Global Innovation Index, beserta subindeks input dan outputperingkat dari 139WIPO, profil negara GII 2026tidak ada11 negara; edisi 2026
    Belanja riset nasional (BRIN)Jumlah belanja riset pemerintah, perguruan tinggi, dan badan usaha menurut pedoman Frascati 2015Rp dan % PDBBRIN, Indikator Iptek 2024tidak adaIndonesia; 2023
    PopulasiJumlah penduduk pertengahan tahunjiwaWDISP.POP.TOTL11 negara; 2023

    Dua keputusan dalam kamus ini perlu dijelaskan. Pertama, artikel ilmiah dan teknis tidak mencakup humaniora dan sebagian besar ilmu sosial, karena taksonomi National Center for Science and Engineering Statistics berfokus pada sains dan rekayasa, sehingga indikator ini mengukur kapasitas sains-rekayasa, bukan seluruh produksi akademik. Kedua, paten residen menghitung permohonan, bukan paten yang diberikan, dan menghitungnya di kantor paten nasional masing-masing negara. Ukuran ini peka terhadap kebijakan insentif: lonjakan permohonan dapat terjadi karena syarat administratif bagi dosen atau peneliti, bukan karena lonjakan invensi. Karena itu kajian ini membaca angka paten bersama lintasannya, bukan sebagai titik tunggal.

    V

    Catatan metode dan mutu data: seleksi, harmonisasi, vintase, dan batas

    Seleksi negara mengikuti tiga kriteria. Enam negara inti ASEAN dipilih karena merupakan ekonomi terbesar di kawasan dan memiliki seri data paling lengkap. Brunei dan Kamboja dimasukkan karena datanya tersedia untuk sebagian besar indikator, meskipun dengan tahun yang tua, sehingga keberadaannya memperlihatkan rentang kapasitas di dalam ASEAN. Laos dan Myanmar, yang menurut rangkuman SeasiaStats masing-masing berada di peringkat 108 dan 125 dalam Global Innovation Index 2026, tidak dimasukkan karena kajian ini tidak mengambil seri belanja litbang dan peneliti untuk keduanya, sehingga memasukkan mereka hanya dengan peringkat komposit akan menghasilkan perbandingan yang timpang. Korea Selatan dipilih sebagai contoh paling berhasil dari peralihan penyerap menjadi pencipta, Tiongkok sebagai contoh peralihan berskala benua, dan India sebagai pembanding negara berpendapatan menengah bawah yang besar dengan kekuatan output yang tidak sebanding dengan inputnya.

    Harmonisasi dilakukan secara minimal dan eksplisit. Kajian ini tidak mengimputasi nilai yang hilang, tidak menginterpolasi antartahun, dan tidak menyesuaikan nilai ke tahun dasar bersama. Akibatnya, sel-sel dalam satu kolom dapat berasal dari tahun yang berbeda hingga delapan tahun, seperti belanja litbang Kamboja (2015) dibandingkan dengan Korea (2023). Pilihan ini sengaja diambil karena imputasi akan memberi kesan presisi yang tidak dimiliki data. Variabel per sejuta penduduk dihitung dengan populasi 2023 untuk semua negara; untuk paten tahun 2024 hal ini menghasilkan sedikit penaksiran berlebih, tetapi pertumbuhan penduduk satu tahun di negara-negara ini terlalu kecil untuk mengubah urutan atau besaran secara berarti.

    Masalah vintase jauh lebih serius daripada yang biasanya diakui. Metadata World Development Indicators menyatakan bahwa seri belanja litbang dan peneliti diambil dari layanan unduhan massal UNESCO Institute for Statistics yang terbit Februari 2025, meskipun basis data Bank Dunia itu sendiri diperbarui pada Oktober 2026. Profil Global Innovation Index 2026 untuk Korea mencantumkan belanja litbang 5,13 persen PDB untuk 2024, sementara World Development Indicators masih mencantumkan 4,94 persen untuk 2023. Dua angka resmi itu tidak saling bertentangan; keduanya berasal dari vintase yang berbeda. Namun pembaca yang mengambil satu angka tanpa tahun dan sumbernya akan menghasilkan perbandingan yang keliru. Kajian ini memilih angka World Development Indicators untuk konsistensi antarnegara dan mencatat angka WIPO yang lebih baru di dalam teks.

    Kelambatan pelaporan UIS memengaruhi negara-negara yang paling penting bagi analisis ini. Observasi terakhir belanja litbang dan peneliti untuk Indonesia, Filipina, dan India berasal dari 2020, tahun pandemi ketika PDB turun dan rasio belanja terhadap PDB dapat terdistorsi. Profil WIPO untuk Indonesia secara eksplisit menandai enam belas indikator sebagai usang, termasuk belanja litbang, peneliti, dan belanja litbang sektor bisnis, sedangkan profil India mencatat bahwa angka belanja litbang 0,65 persen dan 259,3 peneliti per sejuta adalah data 2020. Ini berarti bahwa posisi tiga negara berpenduduk besar dalam setiap indeks inovasi global sebagian ditentukan oleh data yang berumur enam tahun pada saat indeks diterbitkan (tingkat keyakinan: tinggi).

    Kasus Indonesia memerlukan catatan tersendiri karena reorganisasi kelembagaan riset sejak pembentukan BRIN mengubah cara data dikumpulkan dan dilaporkan. Laporan BRIN tahun 2024 menghitung belanja riset nasional 2023 sebesar Rp20.394.979.384.006, atau sekitar 0,10 persen dari PDB harga berlaku Rp20.892,4 triliun, dan menyatakan rasio itu tidak berubah dari tahun sebelumnya. Angka itu kurang dari separuh angka 0,28 persen untuk 2020 yang diteruskan UIS dan dipakai Global Innovation Index. Laporan BRIN sendiri menjelaskan bahwa datanya berasal dari beberapa instansi, yaitu BRIN untuk pemerintah, pusat data kementerian pendidikan untuk perguruan tinggi, sistem informasi industri Kementerian Perindustrian untuk badan usaha, dan Kementerian Dalam Negeri untuk pemerintah daerah, bahwa beberapa angka masih sementara, dan bahwa pengumpulan data sektor bisnis adalah tantangan utamanya. Kajian ini tidak dapat menentukan apakah selisih antara 0,28 dan 0,10 persen mencerminkan penurunan nyata, perbedaan cakupan survei, atau keduanya, sehingga kedua angka dilaporkan berdampingan (tingkat keyakinan bahwa belanja riset Indonesia berada di bawah 0,3 persen PDB: tinggi; tingkat keyakinan tentang besaran pastinya: rendah).

    Perbedaan definisi juga memengaruhi angka peneliti. UIS melaporkan 395 peneliti setara penuh waktu per sejuta penduduk untuk 2020. Laporan BRIN 2024 melaporkan 439.349 periset dalam hitungan kepala untuk 2023, yang jika dibagi populasi 279.179.042 jiwa yang dipakai laporan itu menghasilkan sekitar 1.574 periset per sejuta penduduk. Laporan yang sama tidak menyajikan angka setara penuh waktu dan mencatat bahwa 96,62 persen periset berada di perguruan tinggi, yang mencakup dosen dan mahasiswa doktoral terdaftar. Selisih empat kali lipat antara kedua angka itu bukan kesalahan; ia adalah ukuran berapa besar waktu dosen Indonesia yang secara efektif tersedia untuk riset. Hitungan kepala memotret jumlah orang yang secara administratif dapat meneliti, sedangkan hitungan setara penuh waktu memotret kerja riset yang benar-benar dilakukan.

    Batas terakhir menyangkut indikator absorpsi. Data pembayaran dan penerimaan royalti untuk Vietnam, Brunei, dan Kamboja tidak tersedia dalam penarikan yang dilakukan, sehingga ditulis “n.a.”. Ekspor teknologi tinggi Vietnam tersedia hingga 2023, bukan 2024. Pembayaran royalti juga dapat mencerminkan praktik penetapan harga transfer perusahaan multinasional, bukan semata aliran pengetahuan. Untuk alasan itu kajian ini memakai indikator absorpsi untuk membaca pola besar, bukan untuk membandingkan selisih kecil antarnegara.

    VI

    Celah absorpsi dan produksi: membaca kontradiksi kawasan

    Tabel 4 menyandingkan indikator absorpsi dengan indikator kepemilikan teknologi. Ekspor teknologi tinggi berasal dari seri TX.VAL.TECH.MF.ZS, paten nonresiden dari seri IP.PAT.NRES, serta pembayaran dan penerimaan royalti dari seri BM.GSR.ROYL.CD dan BX.GSR.ROYL.CD. Porsi paten residen dan rasio royalti adalah hitungan kajian ini.

    Tabel 4. Celah absorpsi dan produksi
    NegaraEkspor teknologi tinggi (% ekspor manufaktur, 2024)Paten nonresiden (2024)Porsi paten residen (%)Pembayaran royalti KI (miliar USD, 2025)Penerimaan royalti KI (miliar USD, 2025)Rasio bayar/terima
    Indonesia8,78.97117,72,490,2211,4
    Malaysia58,66.35611,72,660,2411,2
    Singapura59,411.52314,120,6915,681,3
    Thailand28,37.79710,76,970,3519,9
    Vietnam44,3 (2023)8.67812,4n.a.n.a.n.a.
    Filipina60,43.69819,10,380,0216,1
    Korea Selatan36,350.45979,514,149,981,4
    Tiongkok26,3156.05391,546,6313,073,6
    India18,641.94060,118,761,7410,8

    Pola dalam Tabel 4 konsisten dan mencolok. Di semua negara ASEAN dalam tabel, porsi penduduk dalam total permohonan paten berada di antara 10,7 dan 19,1 persen. Di Korea angkanya 79,5 persen, di Tiongkok 91,5 persen, dan bahkan di India, dengan belanja riset yang tidak lebih tinggi daripada Thailand, angkanya 60,1 persen. Artinya, kantor paten di Asia Tenggara terutama berfungsi sebagai tempat perusahaan asing melindungi teknologi mereka di pasar kawasan, bukan sebagai tempat penemu lokal mendaftarkan invensi. Kajian ini menilai bahwa porsi paten residen di bawah dua puluh persen di seluruh ASEAN adalah indikator paling ringkas dari celah absorpsi-produksi kawasan (tingkat keyakinan: tinggi).

    Neraca royalti mengonfirmasi pembacaan itu dari sisi aliran uang. Thailand membayar hampir dua puluh kali lipat lebih banyak royalti kekayaan intelektual daripada yang diterimanya pada 2025, Filipina enam belas kali, dan Indonesia serta Malaysia sekitar sebelas kali. Korea, sebaliknya, membayar hanya 1,4 kali penerimaannya, dan Singapura 1,3 kali. Bagi Singapura, rasio rendah itu sebagian mencerminkan perannya sebagai pusat regional kepemilikan kekayaan intelektual perusahaan multinasional, sehingga angka itu tidak dapat dibaca langsung sebagai keunggulan penemu lokal. Namun bagi Korea, rasio itu merupakan hasil dari empat dekade investasi yang membuat perusahaan domestik menjadi pemilik teknologi, bukan sekadar penggunanya.

    Kasus Malaysia dan Filipina adalah ilustrasi paling jelas dari absorpsi tanpa produksi. Kedua negara mengekspor produk teknologi tinggi dengan porsi yang lebih besar daripada Korea dan Tiongkok, tetapi porsi paten residen mereka termasuk yang terendah. Profil WIPO menempatkan Malaysia di peringkat pertama dunia untuk ekspor dan impor teknologi tinggi sebagai persen total perdagangan, dan Filipina di peringkat keempat untuk ekspor teknologi tinggi. Struktur seperti ini lazim terjadi ketika ekspor teknologi tinggi terutama berupa perakitan, pengujian, dan pengemasan komponen elektronik oleh anak perusahaan asing, dengan riset dan desain dilakukan di negara asal perusahaan induk. Profil WIPO untuk Filipina juga mencatat bahwa pilar modal manusia dan riset negara itu berada di peringkat 100, sebuah kontras tajam dengan peringkat keempat untuk ekspor teknologi tinggi.

    Kawasan ini mengirimkan cip ke seluruh dunia, tetapi hampir tidak mematenkan apa pun yang terkandung di dalamnya.

    Vietnam menunjukkan varian yang berbeda dan lebih dinamis. Porsi paten residennya (12,4 persen) masih rendah, tetapi angka mutlak paten residennya naik dari 306 pada 2010 menjadi 1.226 pada 2024, peningkatan empat kali lipat yang berlangsung hampir tanpa jeda, dan peringkat outputnya dalam Global Innovation Index (35) jauh di atas peringkat inputnya (54). Vietnam juga satu-satunya negara inti ASEAN yang memiliki target kuantitatif eksplisit untuk menaikkan intensitas riset. Opini tiga peneliti BRIN di The Jakarta Post pada Maret 2025 mencatat bahwa Resolusi Politbiro Nomor 57 menargetkan kenaikan belanja litbang dari 0,4 persen menjadi 2 persen PDB dan 12 peneliti per 10.000 penduduk pada 2030. Target itu sangat ambisius dan kemungkinan besar tidak akan tercapai penuh, tetapi ia mengubah percakapan kebijakan dari penyerapan investasi asing menjadi pembangunan kemampuan domestik.

    Pelajaran analitis dari bagian ini adalah bahwa indikator absorpsi yang tinggi tidak otomatis menandakan sistem pengetahuan yang kuat, dan bahwa indikator input yang sedang tidak otomatis menandakan sistem yang lemah. Negara yang tampak maju dalam ekspor teknologi tinggi dapat sangat rapuh bila keputusan lokasi produksi dibuat di tempat lain, sedangkan negara dengan input sedang dapat menunjukkan kemampuan konversi yang kuat bila simpul-simpulnya tersambung. Dalam bahasa Lundvall, yang menentukan adalah intensitas pembelajaran interaktif antara produsen dan pengguna pengetahuan di dalam sistem, dan indikator absorpsi semata tidak memberi tahu apakah pembelajaran itu terjadi di dalam negeri atau hanya melintas.

    VII

    Posisi Indonesia: publikasi melonjak, sistem tertinggal

    Lintasan Indonesia sejak 2010 adalah lintasan yang tidak seimbang. Jumlah artikel ilmiah dan teknis naik dari 1.391 (2010) menjadi 2.652 (2013), 5.850 (2016), 17.156 (2019), 23.654 (2021), dan 38.992 (2023). Peningkatan dua puluh delapan kali lipat dalam tiga belas tahun itu jauh melampaui Vietnam (hampir sepuluh kali lipat, dari 1.096 menjadi 10.644) dan Malaysia (sekitar dua kali lipat, dari 10.816 menjadi 23.691). Pada periode yang sama, permohonan paten residen Indonesia naik dari 508 (2010) menjadi 1.058 (2015) dan mencapai puncak 3.093 pada 2019, lalu turun menjadi 1.549 pada 2022 sebelum pulih sebagian menjadi 1.931 pada 2024. Lapis publikasi tumbuh eksponensial, sedangkan lapis teknologi berfluktuasi tanpa tren yang meyakinkan.

    Kajian ini tidak membahas mutu atau insentif di balik pertumbuhan publikasi itu, yang merupakan perdebatan tersendiri. Pertanyaan yang relevan bagi kapasitas sistem adalah mengapa pertumbuhan publikasi tidak tersambung ke lapis teknologi. Jawaban yang paling didukung data adalah struktur pelaku riset. Laporan BRIN 2024, sebagaimana juga dirangkum Good News From Indonesia pada September 2024, mencatat bahwa dari total belanja riset 2023, perguruan tinggi menyumbang 46,02 persen, pemerintah 32,42 persen, dan badan usaha atau industri hanya 21,56 persen. Dari sisi sumber daya manusia, 95,28 persen tenaga iptek berada di perguruan tinggi dan hanya 1,40 persen di badan usaha. Di Korea, profil WIPO mencatat belanja litbang yang dilakukan sektor bisnis sebesar 4,2 persen PDB, peringkat pertama dunia, sedangkan di Thailand belanja bisnis sekitar 0,6 persen PDB. Sistem Indonesia adalah sistem riset yang dijalankan hampir sepenuhnya oleh universitas, dalam ekonomi yang perusahaannya hampir tidak meneliti.

    Angka porsi industri itu sendiri diperdebatkan. Dalam acara Business Gathering 2025, sebagaimana diberitakan Bisnis.com pada 28 April 2025, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyebut belanja riset Indonesia 0,28 persen dibandingkan rata-rata ASEAN 0,70 persen, dan berita yang sama mengutip porsi pendanaan industri sebesar 7,3 persen, jauh di bawah angka BRIN. Perbedaan antara 7,3 dan 21,56 persen kemungkinan berasal dari perbedaan antara siapa yang membiayai dan siapa yang melaksanakan riset, atau dari perbedaan tahun dan sumber, tetapi berita itu tidak menyebut sumbernya. Fakta bahwa menteri dan badan riset nasional memakai angka yang berbeda untuk ukuran dasar sistem adalah temuan tersendiri tentang kapasitas statistik iptek Indonesia (tingkat keyakinan: tinggi).

    Reorganisasi kelembagaan menambah lapisan ketidakpastian. Peleburan lembaga-lembaga riset pemerintah ke dalam BRIN mengonsolidasikan anggaran dan peneliti, tetapi juga menempatkan sebagian besar riset pemerintah dalam satu jalur anggaran yang rentan terhadap kebijakan fiskal. Opini di The Jakarta Post yang sudah disebut mencatat bahwa dalam kebijakan efisiensi anggaran 2025, BRIN awalnya mengusulkan pemotongan sekitar Rp2 triliun dari usulan total sekitar Rp5,8 triliun, dan DPR akhirnya menyetujui pemotongan sekitar Rp1,4 triliun. Bagi sistem yang belanja riset nasionalnya hanya sekitar Rp20 triliun, pemotongan sebesar itu pada satu simpul adalah guncangan berarti. Di sisi lain, pembentukan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi membuka peluang untuk menyambungkan kembali kebijakan pendidikan tinggi dan riset yang sebelumnya terpisah.

    Masalah Indonesia bukan hal baru, dan sejumlah dokumen dalam koleksi Arsip & Pustaka memperlihatkan bahwa diagnosisnya telah dirumuskan lebih dari satu dekade lalu. Pada tahun 2014, Hendra Gunawan dalam harian Kompas yang berjudul “Mengintip Masa Depan” menyebut universitas dan lembaga riset sebagai lumbung benih bangsa yang investasinya sangat kecil, dan membandingkan anggaran pendidikan tinggi Indonesia 2014 sekitar Rp3,2 triliun dengan sekitar Rp18 triliun untuk National University of Singapore pada 2013. Pada hari yang sama, Budi Santosa dalam harian Kompas yang berjudul “Dari ‘Brain Drain’ ke ‘Brain Gain’” berargumen bahwa kekhawatiran tentang hilangnya talenta penerima beasiswa berlebihan, dengan menunjuk Tiongkok dan Korea yang menarik kembali ilmuwannya ketika ekonomi mereka membaik, dan mengusulkan pendanaan profesor dan peneliti pascadoktoral asing di universitas Indonesia. Pidato pengukuhan guru besar Al Makin tahun 2018 berjudul Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia?: Keilmuan, Birokrasi dan Globalisasi menambahkan diagnosis mikro bahwa beban birokrasi dan administrasi menggerus waktu riset dosen, sebuah diagnosis yang kini terbaca secara kuantitatif dalam selisih empat kali lipat antara hitungan kepala dan hitungan setara penuh waktu peneliti.

    Diagnosis itu juga berlaku bagi perguruan tinggi keagamaan, yang menampung sebagian besar dosen di luar sains dan rekayasa. Paparan tahun 2026 berjudul Rencana Strategis UIN Ar-Raniry menempatkan ekosistem riset sebagai salah satu strategi transformasi, berdampingan dengan internasionalisasi, kapasitas dosen, dan transformasi digital, sementara paparan tahun 2026 berjudul PKDP 2026: Memahami Paradigma Keilmuan di PTKI memetakan empat paradigma keilmuan yang berkembang di perguruan tinggi keagamaan Islam. Kedua dokumen itu menunjukkan bahwa di tingkat institusi, pertanyaan tentang kapasitas riset sudah menjadi bagian dari perencanaan strategis. Namun dataset ini memperlihatkan bahwa rencana institusional tidak akan menggeser angka nasional selama riset tetap diperlakukan sebagai fungsi tambahan bagi pengajar, bukan sebagai pekerjaan dengan waktu, dana, dan jalur karier sendiri.

    VIII

    Lintasan pembanding: Korea, Tiongkok, Malaysia, Thailand, dan Vietnam

    Titik tunggal dapat menyesatkan, sehingga Tabel 5 menyajikan lintasan belanja litbang terhadap PDB untuk enam negara sejak 1996, berdasarkan seri GB.XPD.RSDV.GD.ZS. Sel bertanda n.a. menandakan bahwa World Development Indicators tidak memuat observasi untuk tahun tersebut.

    Tabel 5. Lintasan belanja litbang (% PDB), 1996–2023
    Negara199620002005201020152018202020222023
    Korea Selatan2,142,052,433,183,794,274,524,854,94
    Tiongkok0,560,881,291,682,022,102,362,492,58
    Malaysia0,220,47n.a.1,041,281,040,951,01n.a.
    Thailand0,120,240,22n.a.0,621,111,331,160,94
    Vietnamn.a.n.a.n.a.n.a.0,36n.a.n.a.n.a.0,41
    Indonesian.a.0,07n.a.n.a.n.a.0,230,28n.a.n.a.

    Korea adalah kasus rujukan karena intensitas risetnya sudah di atas dua persen PDB pada 1996 dan terus naik hingga hampir lima persen pada 2023, bahkan 5,13 persen untuk 2024 menurut profil WIPO. Linsu Kim, dalam buku tahun 1997 berjudul Imitation to Innovation: The Dynamics of Korea’s Technological Learning (Harvard Business School Press), menggambarkan bagaimana perusahaan Korea bergerak dari peniruan teknologi matang menuju inovasi melalui pembelajaran yang disengaja dan sering dipaksakan oleh krisis. Keun Lee, dalam buku tahun 2013 berjudul Schumpeterian Analysis of Economic Catch-up (Cambridge University Press), berargumen bahwa negara pengejar yang berhasil cenderung masuk ke bidang teknologi dengan siklus pendek, di mana ketergantungan pada pengetahuan lama lebih kecil dan peluang lompatan lebih besar. Bagi dataset ini, pelajaran Korea bukan terletak pada besaran belanja, tetapi pada komposisinya: sektor bisnis menjadi pelaku riset utama, dan porsi paten residen hampir delapan puluh persen adalah konsekuensinya.

    Tiongkok memperlihatkan bahwa peralihan itu dapat dilakukan dalam skala yang jauh lebih besar dan dalam waktu yang lebih singkat. Intensitas risetnya naik dari 0,56 persen pada 1996 menjadi 2,58 persen pada 2023, dan porsi paten residennya mencapai 91,5 persen pada 2024. Profil WIPO menempatkan Tiongkok di peringkat 10 dalam Global Innovation Index 2026, dengan peringkat output 5 dan input 22, dan Yicai melaporkan bahwa klaster Shenzhen-Hong Kong-Guangzhou mempertahankan peringkat pertama dunia sebagai klaster inovasi. Bagi Asia Tenggara, kasus Tiongkok penting bukan sebagai model yang dapat ditiru, karena skala dan kapasitas negaranya tidak tersedia di kawasan, tetapi sebagai bukti bahwa porsi paten residen dapat bergeser drastis dalam satu generasi bila belanja bisnis dan target kebijakan bergerak bersama.

    Malaysia adalah peringatan. Intensitas risetnya naik cepat dari 0,22 persen pada 1996 menjadi 1,28 persen pada 2015, lalu turun dan bertahan di sekitar satu persen. Permohonan paten residennya justru menurun dari 1.231 pada 2010 menjadi 841 pada 2024. Malaysia memiliki salah satu sektor ekspor elektronik paling terintegrasi di dunia, tetapi lintasan ini menunjukkan bahwa integrasi itu tidak menghasilkan pendalaman kemampuan teknologi domestik yang sebanding. Richard Doner dan Ben Ross Schneider, dalam artikel tahun 2016 berjudul “The Middle-Income Trap: More Politics than Economics” di World Politics 68(4), berargumen bahwa peningkatan produktivitas melalui keterampilan dan inovasi menuntut investasi besar dalam kapasitas kelembagaan, sementara kapasitas politik untuk membangun lembaga itu dilemahkan oleh koalisi pendukung yang terfragmentasi, terutama di kalangan bisnis dan tenaga kerja, serta oleh ketimpangan. Dataset ini tidak dapat menguji argumen itu secara kausal, tetapi plateau Malaysia sejak 2015 sesuai dengan prediksinya: negara dapat mencapai tingkat belanja sedang melalui program pemerintah, tetapi melampauinya memerlukan koalisi dengan perusahaan domestik yang mau meneliti (tingkat keyakinan: sedang).

    Thailand memperlihatkan lintasan yang lebih bergelombang. Intensitas risetnya naik dari 0,12 persen pada 1996 menjadi 1,33 persen pada 2020, salah satu kenaikan tercepat di kawasan, lalu turun menjadi 0,94 persen pada 2023. Profil WIPO mencatat belanja litbang sektor bisnis Thailand sekitar 0,6 persen PDB dengan data 2023, yang menunjukkan bahwa sebagian besar kenaikan sebelumnya memang digerakkan oleh perusahaan. Namun permohonan paten residen Thailand bergerak dari 1.214 pada 2010 menjadi 930 pada 2024, sehingga kenaikan belanja bisnis belum tercermin dalam kepemilikan teknologi. Penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa sebagian riset bisnis di Thailand berupa pengembangan proses dan adaptasi produk yang tidak dipatenkan, atau dilakukan oleh anak perusahaan asing yang mematenkannya atas nama induk, tetapi kajian ini tidak memiliki data untuk memastikannya.

    Vietnam adalah kasus terakhir dan paling relevan bagi Indonesia. Intensitas risetnya hampir tidak berubah, dari 0,36 persen pada 2015 menjadi 0,41 persen pada 2023, tetapi peneliti per sejuta penduduk mencapai 836, naik 8,88 persen dari tahun sebelumnya menurut profil WIPO, paten residennya naik empat kali lipat sejak 2010, dan peringkat Global Innovation Index-nya naik ke 43 pada 2026. Vietnam juga diklasifikasikan sebagai negara berpendapatan menengah bawah dalam profil itu dan menempati peringkat kedua dari 36 negara dalam kelompoknya, sedangkan Indonesia menempati peringkat ketujuh dari 35 negara berpendapatan menengah atas. Dengan input yang mirip dan pendapatan per kapita yang lebih rendah, Vietnam menghasilkan output inovasi yang lebih tinggi. Kajian ini menilai bahwa perbedaan itu terutama berasal dari integrasi industri yang lebih dalam ke rantai pasok elektronik dan dari sinyal politik yang konsisten di tingkat tertinggi, bukan dari keunggulan sistem riset yang sudah terbukti (tingkat keyakinan: sedang).

    IX

    Argumen tandingan: apakah negara pengejar memang perlu mencipta?

    Argumen tandingan terkuat terhadap kajian ini patut disusun dalam versi terbaiknya. Bagi negara pengejar, menurut argumen itu, menyerap teknologi yang sudah ada jauh lebih murah dan lebih cepat daripada menciptakan teknologi baru, sehingga strategi rasional adalah memaksimalkan investasi asing, perdagangan, dan pendidikan massal, lalu membiarkan kemampuan inovasi tumbuh sendiri seiring kenaikan pendapatan. Singapura sering dijadikan bukti: negara-kota itu menjadi kaya terutama melalui perusahaan multinasional. Bagi Indonesia, argumen itu diperkuat oleh profil WIPO yang menempatkan skala pasar domestik di peringkat 7 dunia, perkembangan klaster di peringkat 7, kebijakan dan budaya kewirausahaan di peringkat 9, serta kolaborasi riset universitas-industri di peringkat 10. Ditambah lagi, indikator belanja litbang dan paten terkenal tidak menangkap inovasi informal, inovasi model bisnis, dan inovasi digital yang justru tumbuh pesat di ekonomi besar seperti Indonesia. Dari sudut ini, keprihatinan atas angka belanja riset yang rendah adalah fetisisme statistik.

    Argumen ini mengandung kebenaran penting, dan kajian ini menerima tiga bagiannya. Penyerapan memang merupakan tahap yang perlu, bukan kegagalan; indikator formal memang tidak lengkap; dan skala pasar domestik Indonesia memang aset strategis yang tidak dimiliki Malaysia atau Thailand. Namun argumen itu gagal pada tiga titik yang dapat diperiksa dengan data. Pertama, Cohen dan Levinthal menunjukkan bahwa kemampuan menyerap bergantung pada pengetahuan terkait yang sudah dimiliki dan dibangun antara lain melalui riset sendiri. Negara yang tidak meneliti tidak sekadar gagal mencipta; ia juga menyerap secara dangkal, sebatas mengoperasikan teknologi yang tidak dipahaminya. Lintasan paten Malaysia dan Thailand sejak 2010 adalah ilustrasi empiris dari penyerapan yang tidak mendalam.

    Kedua, kasus Singapura justru membantah argumen itu bila dibaca dengan data. Singapura memiliki 8.782 peneliti per sejuta penduduk, intensitas riset 1,81 persen PDB, dan peringkat pertama dunia untuk subindeks input Global Innovation Index 2026. Negara-kota itu tidak hanya menunggu perusahaan multinasional; ia membangun universitas riset dan lembaga riset publik dalam skala yang membuatnya menjadi salah satu produsen pengetahuan paling intensif di dunia per kapita, dengan 2.010 artikel per sejuta penduduk. Ketiga, laporan World Development Report 2024 tidak menyatakan bahwa penyerapan cukup; laporan itu menyatakan bahwa negara berpendapatan menengah harus berpindah dari investasi ke penyerapan teknologi lalu ke inovasi, dan bahwa peralihan itu tidak terjadi dengan sendirinya. Bukti bahwa kenaikan pendapatan otomatis melahirkan inovasi tidak ditemukan dalam dataset ini: Malaysia dan Thailand telah menjadi negara berpendapatan menengah atas selama bertahun-tahun, tetapi porsi paten residen mereka tetap di sekitar sebelas persen.

    Adapun kekuatan Indonesia dalam profil WIPO perlu dibaca dengan cermat. Skala pasar, klaster, kewirausahaan, dan kolaborasi universitas-industri menggambarkan potensi dan kondisi kelembagaan, bukan output teknologi. Profil yang sama menempatkan belanja pendidikan sebagai persen PDB di peringkat 131, artikel ilmiah per miliar dolar PPP PDB di peringkat 125, dan investasi asing langsung di bidang litbang dan teknologi tinggi di peringkat 112. Potensi yang tidak dikonversi tidak akan bertahan lama sebagai keunggulan, karena perusahaan digital yang tumbuh di pasar domestik besar akan membeli kemampuan teknologi dari luar bila kemampuan itu tidak tersedia di dalam negeri. Dengan demikian, argumen tandingan benar tentang urutan, tetapi keliru tentang otomatisme. Kesimpulan kajian ini tetap: tanpa investasi yang disengaja pada simpul produksi pengetahuan, terutama di sektor bisnis, celah absorpsi-produksi akan bertahan (tingkat keyakinan: tinggi).

    X

    Skenario hingga 2030 dan penanda yang perlu diamati

    Skenario berikut berfokus pada Indonesia dalam konteks kawasan, karena dataset ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara dengan selisih terbesar antara skala dan kapasitas. Horizon 2030 dipilih karena bertepatan dengan target Resolusi 57 Vietnam dan dengan paruh pertama pelaksanaan Rencana Aksi ASEAN untuk Sains, Teknologi, dan Inovasi 2026–2035. Probabilitas yang diberikan adalah penilaian kualitatif berdasarkan lintasan data dalam kajian ini, sinyal kebijakan yang terverifikasi, dan kendala fiskal yang diketahui.

    Skenario hingga 2030

    1. AStagnasi absorptif45%
    2. BKonsolidasi bertahap30%
    3. CKemunduran fiskal15%
    4. DLompatan terarah10%

    Probabilitas adalah penilaian penulis per 1 November 2026, bukan prediksi statistik.

    Skenario A, stagnasi absorptif, adalah kelanjutan pola saat ini dan karena itu paling mungkin. Dalam skenario ini, belanja riset nasional menurut ukuran BRIN tetap di bawah 0,2 persen PDB, publikasi terus tumbuh tetapi melambat, paten residen berfluktuasi di sekitar dua ribu permohonan per tahun, dan peringkat Global Innovation Index bergerak di rentang 50-an. Indonesia tetap menarik investasi pengolahan mineral dan manufaktur, tetapi kemampuan teknologi di dalam rantai nilai itu tetap dimiliki mitra asing. Skenario B, konsolidasi bertahap, terjadi bila pemerintah menyelaraskan statistik iptek, menetapkan target belanja bisnis, dan memberikan insentif fiskal yang dapat dimanfaatkan perusahaan menengah dan besar. Belanja riset naik mendekati 0,3 persen menurut ukuran BRIN, porsi belanja industri bergerak menuju sepertiga, dan paten residen melampaui puncak 2019.

    Skenario C, kemunduran fiskal, terjadi bila tekanan anggaran mendorong pemotongan lanjutan pada BRIN dan pendidikan tinggi tanpa kompensasi dari sektor swasta, sehingga peneliti senior pindah ke luar negeri atau ke sektor nonriset dan lapis publikasi pun mulai melemah. Pemotongan anggaran BRIN 2025 menunjukkan bahwa skenario ini bukan sekadar hipotetis. Skenario D, lompatan terarah, adalah varian Vietnam: komitmen politik tingkat tertinggi dengan target kuantitatif, kenaikan belanja publik yang cepat, dan kemitraan wajib antara investor asing dan lembaga riset domestik. Probabilitasnya rendah karena belum ada sinyal kebijakan sebesar itu, tetapi tidak nol karena pemerintah Indonesia memiliki kapasitas fiskal dan pasar untuk mengubah arah bila keputusan politik diambil.

    Penanda yang perlu diamati dapat diurutkan menurut kecepatan munculnya. Dalam jangka pendek, penanda terpenting adalah edisi berikutnya laporan Indikator Iptek BRIN: apakah rasio belanja riset terhadap PDB bergerak dari 0,10 persen, apakah porsi industri dihitung dengan metode yang stabil, dan apakah angka peneliti setara penuh waktu mulai disajikan. Penanda kedua adalah apakah UIS menerima observasi Indonesia, Filipina, dan India setelah 2020, sehingga indeks global berhenti mengandalkan data pandemi. Dalam jangka menengah, penanda yang paling informatif adalah porsi paten residen: bila angka itu di Indonesia atau Vietnam melampaui seperempat pada 2030, celah absorpsi-produksi mulai menyempit. Penanda kawasan adalah apakah pelaksanaan rencana aksi ASEAN untuk sains dan teknologi menghasilkan sistem statistik bersama yang memperkecil kelambatan data. Penanda terakhir adalah pencapaian Vietnam atas target 2030-nya, karena keberhasilan atau kegagalannya akan menjadi argumen terkuat dalam perdebatan kebijakan riset di seluruh kawasan.

    XI

    Rekomendasi per aktor dengan tenggat

    Bagi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, rekomendasi pertama adalah mengubah perlakuan riset dalam beban kerja dosen. Sebelum tahun akademik 2027/2028, kementerian perlu menetapkan pedoman alokasi waktu riset yang dapat diverifikasi dan mengadakan survei peneliti setara penuh waktu yang sejalan dengan pedoman Frascati, sehingga selisih empat kali lipat antara hitungan kepala dan hitungan setara penuh waktu dapat diukur, lalu diperkecil. Pada 2028, kementerian perlu mengaitkan sebagian pendanaan riset perguruan tinggi dengan kemitraan industri yang nyata, misalnya program doktor industri dan proyek bersama dengan pembiayaan bersama, alih-alih dengan jumlah publikasi. Kementerian juga perlu memastikan bahwa angka yang dipakai pejabatnya di forum publik bersumber dari statistik resmi yang sama dengan yang dilaporkan ke lembaga internasional.

    Bagi BRIN, prioritas paling mendesak adalah statistik. Pada pertengahan 2027, BRIN perlu menerbitkan catatan rekonsiliasi yang menjelaskan selisih antara angka 0,28 persen PDB untuk 2020 yang diteruskan UIS dan angka 0,10 persen PDB untuk 2023 dalam laporan BRIN, termasuk perbedaan cakupan sektor, sumber data, dan status angka sementara. Mulai siklus 2027, BRIN perlu melaporkan data belanja litbang dan peneliti ke UIS setiap tahun dengan kelambatan tidak lebih dari dua tahun. Dalam fungsi risetnya, BRIN perlu memprioritaskan kontrak riset bersama dengan industri dan pemerintah daerah, karena badan riset pemerintah yang tidak tersambung dengan pengguna pengetahuan hanya akan memindahkan masalah, bukan memecahkannya.

    Bagi Bappenas, rekomendasi utamanya adalah menjadikan indikator sistem pengetahuan bagian dari kerangka pemantauan pembangunan, bukan sekadar lampiran sektor pendidikan. Dalam evaluasi paruh waktu rencana pembangunan jangka menengah, Bappenas perlu menetapkan target terpisah untuk belanja riset total, porsi belanja riset bisnis, dan porsi paten residen, karena target agregat tanpa komposisi akan mendorong kenaikan belanja pemerintah tanpa mengubah struktur. Bappenas juga perlu menguji opsi insentif fiskal riset dan pengembangan berdasarkan data penggunaannya, dan menyusun kerangka agar investasi asing di sektor strategis disertai komitmen kemitraan riset domestik yang terukur.

    Bagi universitas, termasuk perguruan tinggi keagamaan, rekomendasinya adalah memisahkan jalur karier riset dari jalur pengajaran secara bertahap mulai 2027, membentuk kantor alih teknologi yang benar-benar dikelola tenaga profesional, dan memasukkan indikator kemitraan, paten, serta kontrak riset ke dalam rencana strategis institusi. Universitas juga perlu memanfaatkan dataset seperti ini sebagai bahan ajar dalam program studi kebijakan, manajemen pengetahuan, dan studi pembangunan, agar generasi berikutnya mampu membaca statistik iptek secara kritis. Bagi perusahaan besar, termasuk badan usaha milik negara, langkah minimum adalah melaporkan belanja riset secara sukarela dan konsisten kepada BRIN mulai 2027, karena kelemahan statistik sektor bisnis adalah salah satu penyebab utama ketidakpastian angka nasional.

    Bagi Komite ASEAN untuk Sains, Teknologi, dan Inovasi (COSTI, sebelumnya dikenal sebagai ASEAN COST), rekomendasinya adalah menjadikan observatorium statistik iptek kawasan sebagai salah satu keluaran awal Rencana Aksi ASEAN untuk Sains, Teknologi, dan Inovasi 2026–2035, yang tahap pertama penyusunannya dikerjakan konsorsium yang dipimpin Cambridge Industrial Innovation Policy untuk Sekretariat ASEAN. Observatorium itu perlu menghasilkan tabel tahunan yang selaras dengan UIS dan WIPO, dengan indikator porsi paten residen dan neraca royalti, sebelum 2028. Bagi UNESCO dan UIS, rekomendasinya adalah dukungan teknis yang terfokus untuk Indonesia, Filipina, dan Kamboja agar observasi setelah 2020 tersedia paling lambat 2028, serta penandaan vintase yang lebih jelas dalam distribusi data. Laporan UNESCO Science Report 2021 telah menyediakan kerangka regional yang dapat diperbarui dengan data tersebut.

    Bagi Bank Dunia, rekomendasinya adalah menerjemahkan diagnosis World Development Report 2024 ke dalam analisis tingkat negara untuk Indonesia, Filipina, dan Vietnam sebelum 2028, dengan menilai secara eksplisit di tahap mana masing-masing negara berada dalam urutan investasi, penyerapan, dan inovasi. Program pinjaman di sektor pendidikan tinggi dan inovasi perlu menyertakan komponen penguatan statistik iptek, karena tanpa data yang tepat waktu evaluasi program tidak dapat dilakukan. Bank Dunia juga perlu menandai vintase sumber dalam metadata World Development Indicators secara lebih menonjol, agar pengguna tidak membandingkan data 2020 dengan data 2024 seolah-olah keduanya sezaman.

    XII

    Keterbatasan dan kesimpulan

    Keterbatasan kajian ini perlu dinyatakan secara jelas. Pertama, dataset ini bersifat potong lintang dengan tahun observasi yang berbeda antarnegara, sehingga perbandingan antarnegara yang selisih tahunnya besar harus dibaca sebagai indikasi, bukan sebagai pengukuran presisi. Kedua, indikator formal seperti belanja litbang, paten, dan artikel terindeks tidak menangkap inovasi informal, inovasi organisasi, dan produksi pengetahuan di luar sains dan rekayasa, termasuk ilmu sosial, humaniora, dan pengetahuan lokal yang penting bagi kawasan. Ketiga, kajian ini tidak menguji hubungan kausal; pernyataan tentang mekanisme, misalnya tentang peran koalisi politik atau struktur kepemilikan perusahaan, adalah interpretasi yang konsisten dengan data, bukan kesimpulan statistik. Keempat, angka Brunei dan Kamboja untuk peringkat komposit berasal dari sumber sekunder, dan indikator royalti tidak tersedia untuk Vietnam, Brunei, dan Kamboja. Kelima, angka Indonesia bergantung pada dua sistem pengukuran yang belum direkonsiliasi.

    Kesimpulannya dapat dinyatakan dengan tegas. Asia Tenggara telah membuktikan kemampuannya menyerap teknologi, dan hal itu adalah prestasi pembangunan yang nyata. Namun dataset ini menunjukkan bahwa kemampuan menyerap belum dikonversi menjadi kemampuan mencipta: porsi paten residen di seluruh ASEAN berada di bawah dua puluh persen, neraca royalti sebagian besar negara defisit lebih dari sepuluh kali lipat, dan lintasan Malaysia serta Thailand memperlihatkan bahwa intensitas riset sedang tidak otomatis berlanjut menjadi kepemilikan teknologi. Indonesia menghadapi celah ganda, dengan lapis publikasi yang tumbuh pesat tetapi tidak tersambung ke lapis teknologi, sektor bisnis yang hampir tidak meneliti, dan statistik iptek yang belum mampu memberi satu angka dasar yang disepakati.

    Implikasi kebijakannya bukan sekadar menaikkan anggaran riset, meskipun itu diperlukan. Implikasinya adalah membangun simpul-simpul yang hilang dalam sistem: riset di dalam perusahaan, jalur karier peneliti yang nyata di universitas, sambungan antara investasi asing dan lembaga riset domestik, dan statistik yang tepat waktu dan dapat dipercaya. Korea dan Tiongkok menunjukkan bahwa peralihan dari penyerap menjadi pencipta dapat dicapai dalam satu generasi, sedangkan Vietnam menunjukkan bahwa sinyal politik yang konsisten dapat menghasilkan output di atas input. Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan lagi apakah sistem pengetahuan nasional perlu diubah, tetapi apakah keputusan untuk mengubahnya akan diambil sebelum jendela demografi dan rantai pasok yang terbuka saat ini menutup.

    ◆ ◆ ◆

    Referensi

    Dokumen resmi dan data

    Literatur ilmiah

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    Media dan pemberitaan

    Arsip & Pustaka

    Cara Mengutip

    Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. 2026. “Menyerap Tanpa Mencipta: Kapasitas Produksi Pengetahuan Negara-Negara ASEAN: Dataset Komparatif Terdokumentasi dengan Tolok Ukur Korea Selatan, Tiongkok, dan India.” KBA13 Academy Research Center, Datasets, 1 November 2026. https://kba13academy.com/kapasitas-produksi-pengetahuan-asean/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama di UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan pendiri KBA13 Academy. Kajiannya meliputi Islam di Asia Tenggara, antropologi, kajian strategis, dan sistem pengetahuan.

  • Sebelas Anggota, Satu Komunitas? Dataset Konvergensi dan Divergensi ASEAN-11 Setahun setelah Timor-Leste Bergabung

    Sebelas Anggota, Satu Komunitas? Dataset Konvergensi dan Divergensi ASEAN-11 Setahun setelah Timor-Leste Bergabung

    Dataset · Kajian Asia Tenggara · Kebijakan Publik

    Sebelas Anggota, Satu Komunitas?Dataset Konvergensi dan Divergensi ASEAN-11 Setahun setelah Timor-Leste Bergabung

    Dataset orisinal sebelas negara kali dua belas indikator menunjukkan ASEAN menyatu dalam akses listrik dan internet, tetapi makin terbelah dalam pendapatan di ekor bawah, tata kelola, dan investasi.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • Dataset
    • 29 Oktober 2026
    • ± 34 menit baca
    Sebelas Anggota, Satu Komunitas?: Dataset Konvergensi dan Divergensi ASEAN-11 Setahun setelah Timor-Leste Bergabung
    Dataset orisinal sebelas negara kali dua belas indikator menunjukkan ASEAN menyatu dalam akses listrik dan internet, tetapi makin terbelah dalam pendapatan di ekor bawah, tata kelola, dan investasi.
    Daftar Isi
    1. IRingkasan Eksekutif: Satu Tahun Sebelas Anggota
    2. IIKerangka Analitis dan Catatan Metode
    3. IIIDataset Inti ASEAN-11: Potret Tahun Terbaru
    4. IVSatu Dekade Perubahan: 2015 ke Tahun Terbaru
    5. VMengukur Konvergensi: Sigma, Beta, dan Klub
    6. VIPerbandingan Internasional: Eropa, Amerika Selatan, dan Afrika
    7. VIIArgumen Tandingan: Apakah Metrik Konvergensi Bermakna bagi ASEAN?
    8. VIIISkenario 2030–2035 dan Penanda Arah
    9. IXRekomendasi Berbasis Aktor dan Tenggat
    10. XKeterbatasan Data dan Kamus Data
    11. XIKesimpulan

    Abstrak

    Kajian ini menyusun dataset orisinal ASEAN-11, yakni sebelas negara anggota kali dua belas indikator, untuk tahun terbaru yang tersedia dengan pembanding 2015, setahun setelah Timor-Leste diterima sebagai anggota kesebelas pada 26 Oktober 2025 dan pada tahun pertama pelaksanaan Visi Komunitas ASEAN 2045. Data diambil dari World Development Indicators dan Worldwide Governance Indicators Bank Dunia serta Laporan Pembangunan Manusia UNDP 2025, lalu diolah menjadi statistik dispersi: koefisien variasi, simpangan baku logaritma, rasio maksimum-minimum, indeks Theil berbobot penduduk, dan regresi konvergensi beta. Hasilnya menunjukkan konvergensi akses yang kuat, dengan koefisien variasi akses listrik turun dari 0,175 menjadi 0,058 dan penggunaan internet dari 0,648 menjadi 0,268, tetapi divergensi kapasitas: rasio pendapatan per kapita tertinggi terhadap terendah melebar dari 24,6 menjadi 34,0 kali, sebaran efektivitas pemerintahan melebar, dan investasi asing makin terkonsentrasi. Tujuh ekonomi di tengah distribusi berkonvergensi sekitar 1 persen per tahun, sementara Myanmar, Timor-Leste, dan Brunei mencatat pendapatan riil 2025 di bawah 2015. Kajian ini membandingkan temuan dengan perluasan Uni Eropa 2004, Mercosur, dan AfCFTA, menguji argumen tandingan, menyusun empat skenario hingga 2030–2035, dan merumuskan rekomendasi bertenggat bagi Sekretariat ASEAN, Indonesia, Timor-Leste, Filipina, dan mitra eksternal.

    Tesis

    ASEAN-11 mengalami konvergensi akses tetapi divergensi kapasitas: kelompok tengah saling mendekat tanpa transfer fiskal, sementara ekor bawah, kini termasuk anggota terbarunya, tertinggal, sehingga kawasan ini lebih tepat dibaca sebagai tiga klub daripada dua kecepatan.

    1. DataWDI dan WGI Bank Dunia (pembaruan September–Oktober 2026), UNDP HDR 2025, UNCTAD, ASEANstats, IMF
    2. KerangkaKonvergensi beta dan sigma, klub konvergensi, desain ASEAN multi-kecepatan tanpa transfer
    3. ProyeksiEmpat skenario 2030–2035 dengan probabilitas dan penanda arah; kartu skor konvergensi

    Kata kunci

    • ASEAN-11
    • Timor-Leste
    • konvergensi ekonomi
    • kesenjangan pembangunan
    • Visi Komunitas ASEAN 2045
    • dataset
    • Myanmar
    • skenario 2035
    I

    Ringkasan Eksekutif: Satu Tahun Sebelas Anggota

    Pada 26 Oktober 2025, para pemimpin ASEAN menandatangani Deklarasi tentang Penerimaan Timor-Leste di sela Konferensi Tingkat Tinggi ke-47 di Kuala Lumpur, mengakhiri perjalanan empat belas tahun sejak permohonan resmi negara itu diajukan pada 2011, status pengamat pada 2022, dan peta jalan keanggotaan penuh pada 2023 (The ASEAN Magazine, 2026). Tujuh bulan sebelumnya, pada 26 Mei 2025, KTT ke-46 telah mengadopsi paket ASEAN 2045: Our Shared Future, yang memuat Visi Komunitas ASEAN 2045 beserta rencana strategis sektoral, termasuk Rencana Strategis Masyarakat Ekonomi ASEAN 2026–2030 yang berambisi menjadikan kawasan ini ekonomi terbesar keempat dunia pada 2045 dan secara eksplisit berjanji menyempitkan kesenjangan pembangunan “antara dan di dalam” negara anggota (ASEAN, 2025). Tahun 2026 dengan demikian adalah tahun pertama dua komitmen sekaligus: komunitas yang kini beranggota sebelas, dan visi dua dekade yang menjanjikan konvergensi. Kajian ini mengajukan pertanyaan sederhana yang jarang dijawab dengan angka: sejauh mana sebelas anggota itu benar-benar bergerak saling mendekat, dan di bidang apa mereka justru saling menjauh?

    Untuk menjawabnya, analisis ini membangun dataset orisinal yang ringkas, yakni sebelas negara kali dua belas indikator, untuk tahun terbaru yang tersedia dengan pembanding 2015, tahun peluncuran Masyarakat ASEAN. Seluruh angka ditarik dari sumber multilateral yang dapat ditelusuri, terutama World Development Indicators Bank Dunia (pembaruan 8 Oktober 2026), Worldwide Governance Indicators, dan Laporan Pembangunan Manusia UNDP 2025, lalu diolah menjadi statistik dispersi yang dihitung sendiri. Jawaban pokoknya dapat diringkas dalam satu kalimat: ASEAN-11 mengalami konvergensi akses tetapi divergensi kapasitas. Kesenjangan dalam akses listrik, penggunaan internet, dan harapan hidup menyempit tajam; koefisien variasi akses listrik turun dari 0,175 menjadi 0,058 dan penggunaan internet dari 0,648 menjadi 0,268. Akan tetapi rasio pendapatan per kapita tertinggi terhadap terendah melebar dari 24,6 kali pada 2015 menjadi 34,0 kali pada 2025, sebaran mutu tata kelola melebar, dan arus investasi asing makin terkonsentrasi.

    Gambaran itu lebih bernuansa daripada narasi “ASEAN dua kecepatan” yang lazim. Kelompok tengah, tujuh ekonomi di luar Singapura, Brunei, Myanmar, dan Timor-Leste, memang mengalami konvergensi pendapatan yang terukur: simpangan baku logaritma pendapatan per kapitanya turun dari 0,555 menjadi 0,507. Vietnam tumbuh 67 persen secara kumulatif dalam pendapatan per kapita riil selama satu dekade dan pada 2025 untuk pertama kalinya melampaui Indonesia dalam ukuran paritas daya beli konstan. Masalah ASEAN bukan ketiadaan konvergensi, melainkan konvergensi yang berhenti di tepi: tiga anggota, yakni Myanmar, Timor-Leste, dan Brunei, mencatat pendapatan per kapita riil 2025 yang lebih rendah daripada 2015, dan dua di antaranya berada di dasar distribusi.

    ASEAN-11 bergerak saling mendekat dalam akses, tetapi saling menjauh dalam kapasitas.

    Temuan ini penting di luar Asia Tenggara karena tiga alasan. Pertama, ASEAN adalah laboratorium terbesar di dunia bagi integrasi regional tanpa transfer fiskal supranasional; jika konvergensi tetap terjadi di kelompok tengah tanpa dana kohesi ala Eropa, itu menjadi bukti penting bagi Afrika dan Amerika Latin. Kedua, penerimaan Timor-Leste adalah perluasan pertama dalam seperempat abad dan berlangsung saat perekonomian anggota baru itu kehilangan produksi minyaknya; cara ASEAN menyerap anggota termiskinnya akan menjadi preseden bagi perluasan berikutnya. Ketiga, guncangan energi akibat konflik Timur Tengah pada 2026 menekan proyeksi pertumbuhan kawasan dan menguji apakah konvergensi kelompok tengah cukup tangguh. Kajian ini disusun sebagai bahan ajar dan rujukan kebijakan; dataset, metode, dan kamus datanya disajikan terbuka agar dapat direplikasi dan diperbarui.

    II

    Kerangka Analitis dan Catatan Metode

    Kerangka analitis kajian ini berpijak pada tradisi literatur pertumbuhan yang membedakan dua konsep konvergensi. Konvergensi beta terjadi bila negara yang lebih miskin pada titik awal tumbuh lebih cepat daripada negara yang lebih kaya; konvergensi sigma terjadi bila sebaran pendapatan antarnegara benar-benar menyempit dari waktu ke waktu. Robert Barro dan Xavier Sala-i-Martin dalam artikel klasik “Convergence” (Journal of Political Economy, 1992) menunjukkan bahwa konvergensi beta merupakan syarat perlu tetapi tidak cukup bagi konvergensi sigma, karena guncangan khusus negara dapat terus menambah sebaran meskipun negara miskin rata-rata tumbuh lebih cepat. Danny Quah dalam “Twin Peaks” (Economic Journal, 1996) menambahkan koreksi penting: distribusi pendapatan dunia cenderung membentuk klub-klub konvergensi, sehingga rerata dan regresi tunggal bisa menyembunyikan polarisasi menjadi dua puncak. Ketiga gagasan ini, beta, sigma, dan klub, menjadi lensa bagi dataset ASEAN-11.

    Lapisan kedua kerangka bersifat kelembagaan. Piagam ASEAN menetapkan “mempersempit kesenjangan pembangunan” sebagai salah satu tujuan organisasi dalam Pasal 1 ayat 6, sekaligus mengizinkan formula partisipasi fleksibel “ASEAN Minus X” dalam pelaksanaan komitmen ekonomi bila ada konsensus (Pasal 21 ayat 2), dan mewajibkan anggaran operasional Sekretariat dibiayai melalui “kontribusi tahunan yang setara” (Pasal 30 ayat 2) (Piagam ASEAN). Ketiga pasal itu menggambarkan desain “ASEAN multi-kecepatan”: ASEAN mengakui perbedaan kecepatan, menoleransi perbedaan kewajiban, tetapi tidak memiliki mekanisme redistribusi. Instrumen utama penyempitan kesenjangan, Initiative for ASEAN Integration, kini memasuki Rencana Kerja V (2026–2030) yang diadopsi pada 26 Oktober 2025, hari yang sama dengan penerimaan Timor-Leste (CIL NUS). Pertanyaan analitisnya adalah apakah desain tanpa transfer ini menghasilkan konvergensi yang dijanjikan.

    Dari sisi metode, dataset disusun dengan tiga prinsip. Pertama, satu sumber per indikator dengan tahun yang dinyatakan eksplisit; bila tahun terbaru berbeda antarnegara, perbedaan itu dicatat dalam tabel dan kamus data, bukan disembunyikan. Kedua, pendapatan diukur dengan produk domestik bruto per kapita berdasarkan paritas daya beli dalam dolar internasional konstan 2021 (WDI, NY.GDP.PCAP.PP.KD), bukan dolar berjalan, agar perubahan 2015–2025 mencerminkan pertumbuhan riil dan bukan revisi harga. Ketiga, statistik dispersi dihitung dengan Python dari angka sumber: koefisien variasi (simpangan baku populasi dibagi rerata), simpangan baku logaritma natural sebagai ukuran sigma yang tidak sensitif terhadap skala, rasio maksimum terhadap minimum, indeks Theil berbobot penduduk, serta regresi kuadrat terkecil biasa antara laju pertumbuhan tahunan rata-rata 2015–2025 dan logaritma pendapatan 2015 untuk menguji konvergensi beta.

    Pilihan dua belas indikator mengikuti logika “tangga kapasitas”. Lapisan pertama adalah skala dan dinamika ekonomi: penduduk, pendapatan per kapita, rata-rata pertumbuhan, keterbukaan perdagangan, dan investasi asing langsung. Lapisan kedua adalah akses dasar: listrik dan internet. Lapisan ketiga adalah modal manusia: angka partisipasi kasar pendidikan tinggi, harapan hidup, dan Indeks Pembangunan Manusia. Lapisan keempat adalah kapasitas negara dan beban masa depan: efektivitas pemerintahan dari Worldwide Governance Indicators dan emisi karbon dioksida per kapita sebagai proksi intensitas karbon jalur pembangunan. Hipotesis kerjanya, yang kemudian diuji, adalah bahwa konvergensi akan paling cepat di lapisan bawah tangga karena akses dapat dibeli dan dibangun, dan paling lambat di lapisan atas karena kapasitas harus ditumbuhkan.

    Dua catatan epistemik perlu dinyatakan sejak awal. Statistik dengan sebelas pengamatan sangat peka terhadap satu atau dua negara ekstrem, sehingga setiap hasil diuji ulang dengan mengeluarkan Singapura dan Brunei (dua ekonomi berpendapatan tinggi dengan struktur khas) serta Myanmar dan Timor-Leste (dua ekonomi dengan data paling rapuh). Selain itu, dataset ini bersifat deskriptif dan tidak menguji kausalitas; ia tidak menyatakan bahwa ASEAN menyebabkan konvergensi atau divergensi, melainkan memetakan apa yang terjadi di dalam wadah ASEAN. Peringatan tentang godaan “kaya data, miskin teori” dalam ilmu sosial Asia Tenggara, sebagaimana dibahas dalam kajian Kaya Data, Miskin Teori, menjadi alasan mengapa setiap tabel di bawah disertai tafsir kerangka, bukan dibiarkan berbicara sendiri. Setiap penilaian kunci diberi tingkat keyakinan tinggi, sedang, atau rendah.

    III

    Dataset Inti ASEAN-11: Potret Tahun Terbaru

    Tabel 1 menyajikan dataset inti. Populasi gabungan sebelas anggota mencapai sekitar 700,3 juta jiwa pada 2025 menurut WDI; Indonesia sendiri menampung 285,7 juta atau 40,8 persen, sedangkan Timor-Leste dengan 1,42 juta jiwa hanya 0,2 persen. Ketimpangan ukuran ini sudah menjadi ciri struktural sebelum dataset dibaca lebih jauh: satu anggota setara dengan dua per lima komunitas, sementara anggota terbaru lebih kecil daripada satu kota menengah di Jawa. Sebuah komunitas yang beroperasi dengan prinsip konsensus dan iuran setara, padahal anggotanya berbeda dua ratus kali lipat dalam jumlah penduduk, menghadapi dilema representasi dan beban yang tidak dihadapi organisasi regional yang lebih homogen.

    Tabel 1. Dataset inti ASEAN-11, tahun terbaru yang tersedia
    NegaraPenduduk 2025 (juta)PDB/kapita PPP 2025 (USD int. konstan 2021)Rerata pertumbuhan PDB 2016–2025 (%)IDE masuk 2025 (% PDB)Perdagangan (% PDB)Pengguna internet (%)Akses listrik 2024 (%)APK pendidikan tinggi (%)Harapan hidup 2024 (tahun)IPM 2023Efektivitas pemerintahan WGI 2025CO₂ per kapita 2024 (ton)
    Singapura6,11139.5933,4926,34320,3 (2025)94,4 (2024)100,097,3 (2023)83,30,9462,099,75
    Brunei0,4778.9850,660,41123,6 (2025)96,3 (2024)100,036,4 (2023)75,50,8370,8920,24
    Malaysia35,9835.4614,014,58136,4 (2025)98,0 (2024)100,038,5 (2024)76,80,8190,968,32
    Thailand71,6222.4321,953,21138,4 (2025)90,9 (2024)100,049,1 (2025)76,60,7980,263,96
    Vietnam101,6015.4576,254,27190,3 (2025)84,2 (2024)100,037,6 (2024)74,70,7660,184,27
    Indonesia285,7215.0914,231,5743,4 (2025)72,8 (2024)99,944,9 (2023)71,30,7280,262,87
    Filipina116,7910.7484,581,6766,8 (2025)67,3 (2024)94,847,4 (2024)69,90,7200,191,50
    Laos7,878.8734,367,68t.t. (terakhir 2016)65,6 (2024)96,514,9 (2023)69,20,617−0,593,35
    Kamboja17,857.3005,369,95136,1 (2025)68,5 (2024)99,221,4 (2024)70,80,606−0,401,10
    Myanmar54,855.1370,591,31t.t.45,4 (2020)80,420,4 (2018)67,10,609−1,620,58
    Timor-Leste1,424.1101,9913,3195,4 (2024)35,0 (2021)94,331,0 (2023)67,90,634−0,540,50

    Sumber: Bank Dunia, World Development Indicators via API (pembaruan 8 Oktober 2026): penduduk, PDB/kapita PPP, pertumbuhan, IDE, perdagangan, internet, listrik, pendidikan tinggi, harapan hidup, CO₂; Worldwide Governance Indicators, GE.EST (pembaruan 25 September 2026); UNDP, HDR 2025, tabel tren IPM. Rerata pertumbuhan dihitung kajian ini; t.t. = tidak tersedia.

    Tiga pola langsung terlihat. Pertama, rentang pendapatan ASEAN-11 lebar menurut standar organisasi regional mana pun: Singapura mencatat sekitar 139.600 dolar internasional per kapita pada 2025, sementara Timor-Leste sekitar 4.100 dan Myanmar sekitar 5.100. Kedua, peringkat pendapatan tidak sepenuhnya selaras dengan peringkat kapasitas. Indonesia dan Vietnam kini nyaris setara dalam pendapatan, tetapi Vietnam unggul dalam penggunaan internet (84,2 berbanding 72,8 persen) dan Indeks Pembangunan Manusia (0,766 berbanding 0,728), sedangkan Indonesia unggul dalam partisipasi pendidikan tinggi (44,9 berbanding 37,6 persen). Filipina, dengan pendapatan per kapita sekitar 70 persen dari Indonesia, memiliki partisipasi pendidikan tinggi yang lebih tinggi daripada Indonesia. Ketiga, Timor-Leste mencatat rasio investasi asing langsung terhadap PDB tertinggi kedua di kawasan, 13,3 persen pada 2025, angka yang lebih mencerminkan kecilnya penyebut dan aliran terkait proyek tertentu daripada daya tarik investasi yang luas.

    Kolom tata kelola memperlihatkan jurang yang tidak kalah dalam. Skor efektivitas pemerintahan berkisar dari 2,09 untuk Singapura hingga −1,62 untuk Myanmar pada skala kira-kira −2,5 hingga 2,5, rentang 3,71 poin yang meliputi hampir tiga perempat seluruh skala global. Lima anggota, yakni Thailand, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Malaysia, berada dalam pita sempit antara 0,18 dan 0,96, sedangkan Laos, Kamboja, Timor-Leste, dan Myanmar berada di wilayah negatif. Pola klub yang diramalkan Quah tampak jelas: bukan satu distribusi yang menyebar merata, melainkan sebuah inti kapasitas menengah dengan dua ekor, satu sangat tinggi dan satu rendah. Pada kolom emisi, Brunei mencatat 20,2 ton per kapita, sekitar empat puluh kali Timor-Leste, menegaskan bahwa transisi energi pun berlangsung dari titik awal yang sangat berbeda.

    IV

    Satu Dekade Perubahan: 2015 ke Tahun Terbaru

    Tabel 2 membandingkan 2015 dengan tahun terbaru untuk indikator yang datanya memungkinkan perbandingan. Dekade ini mencakup tiga guncangan besar: pandemi COVID-19 pada 2020, kudeta militer di Myanmar pada Februari 2021 yang diikuti perang saudara, dan berakhirnya produksi minyak Timor-Leste pada 2025. Karena itu, perubahan kumulatif sepuluh tahun lebih informatif daripada perubahan tahunan; ia meredam fluktuasi siklus tetapi tetap menangkap pergeseran struktural.

    Tabel 2. Perubahan 2015 ke tahun terbaru, ASEAN-11
    NegaraPDB/kapita PPP 2015PDB/kapita PPP 2025Perubahan kumulatif (%)Laju tahunan (%)Internet (Δ poin %)Listrik (Δ poin %)IPM 2015→2023WGI efektivitas 2015→2025IDE (% PDB) 2015→2025
    Vietnam9.24815.457+67,15,27+39,2+0,70,717→0,7660,10→0,184,93→4,27
    Kamboja4.9697.300+46,93,92+62,1+36,50,562→0,606−0,40→−0,407,54→9,95
    Filipina7.69210.748+39,73,40+30,4+5,70,690→0,7200,42→0,191,84→1,67
    Indonesia10.89415.091+38,53,31+50,7+2,40,701→0,7280,09→0,262,30→1,57
    Laos6.7048.873+32,42,84+47,4+6,80,604→0,617−0,36→−0,597,47→7,68
    Malaysia27.70035.461+28,02,50+26,9+0,10,800→0,8190,87→0,963,27→4,58
    Singapura109.894139.593+27,02,42+15,40,00,935→0,9462,02→2,0922,65→26,34
    Thailand18.81422.432+19,21,77+51,6+0,40,788→0,7980,05→0,262,22→3,21
    Myanmar5.3145.137−3,3−0,34+34,5 (s.d. 2020)+19,90,566→0,609−1,13→−1,626,85→1,31
    Brunei81.91078.985−3,6−0,36+25,10,00,839→0,8371,05→0,891,32→0,41
    Timor-Leste4.4684.110−8,0−0,83+16,4 (s.d. 2021)+27,00,628→0,634−0,64→−0,542,70→13,31

    Sumber: diolah dari WDI NY.GDP.PCAP.PP.KD dan seri lain pada Tabel 1; UNDP HDR 2025. PDB/kapita dalam dolar internasional konstan 2021. Laju tahunan = pertumbuhan majemuk 2015–2025. Internet dan listrik: tahun terbaru 2024 kecuali dinyatakan lain.

    Kolom pertumbuhan pendapatan memperlihatkan hierarki yang hampir terbalik dari hierarki tingkat pendapatan, setidaknya di kelompok tengah. Vietnam, Kamboja, Filipina, dan Indonesia, yang pada 2015 berada di bawah Malaysia dan Thailand, tumbuh lebih cepat daripada keduanya. Rasio pendapatan Vietnam terhadap Malaysia naik dari 0,33 menjadi 0,44, dan rasio Kamboja terhadap Thailand dari 0,26 menjadi 0,33. Thailand, dengan laju per kapita hanya 1,77 persen per tahun, adalah kasus “jebakan pendapatan menengah” yang paling terang di dataset ini; rerata pertumbuhan PDB-nya 1,95 persen per tahun selama 2016–2025, terendah di antara anggota yang tidak mengalami krisis politik atau kehilangan sumber daya. Persilangan Vietnam dan Indonesia terjadi bertahap: rasio pendapatan Vietnam terhadap Indonesia naik dari 0,91 pada 2019 menjadi 0,995 pada 2024 dan 1,02 pada 2025.

    Ekor bawah bergerak ke arah sebaliknya, dan sebabnya berbeda-beda. Myanmar tumbuh rata-rata 6,4 persen per tahun pada 2015–2019, lalu rata-rata −2,0 persen per tahun pada 2021–2025 menurut WDI; kontraksi berlanjut setelah gempa Maret 2025, dan pada Juni 2026 Bank Dunia memperkirakan PDB tahun fiskal 2025/26 menyusut 2,0 persen serta memangkas proyeksi 2026/27 dari 3,0 menjadi 2,0 persen akibat guncangan bahan bakar (DVB, 16 Juni 2026). Timor-Leste mencatat seri pertumbuhan paling volatil di kawasan, dari +31,7 persen pada 2020 hingga −20,5 persen pada 2022, yang mencerminkan bobot sektor perminyakan dalam PDB total; IMF mencatat pertumbuhan non-minyak 4,1 persen pada 2024 sekaligus menandai berhentinya produksi minyak pada 2025 sebagai risiko utama (IMF, September 2025). Brunei, ekonomi minyak berpendapatan tinggi, stagnan dengan rerata pertumbuhan 0,66 persen per tahun.

    Kolom akses menceritakan kisah yang sama sekali berbeda. Akses listrik Kamboja melonjak dari 62,7 menjadi 99,2 persen, Timor-Leste dari 67,3 menjadi 94,3 persen, dan bahkan Myanmar, di tengah konflik, dari 60,5 menjadi 80,4 persen. Penggunaan internet Kamboja naik dari 6,4 menjadi 68,5 persen dalam sembilan tahun. Korelasi antara tingkat awal dan besarnya perubahan bernilai −0,94 untuk listrik dan −0,59 untuk internet, tanda konvergensi tipe beta yang sangat kuat: negara yang tertinggal mengejar paling cepat. Kolom tata kelola, sebaliknya, menunjukkan korelasi positif sebesar 0,34 antara skor awal dan perubahan, artinya negara yang semula lebih baik cenderung sedikit membaik atau bertahan, sementara Myanmar dan Laos memburuk. Investasi asing juga bergerak divergen: rasio IDE terhadap PDB Myanmar jatuh dari 6,85 menjadi 1,31 persen, sedangkan Singapura naik dari 22,65 menjadi 26,34 persen.

    Dua kolom yang tidak dimuat dalam Tabel 2 tetapi tersedia di Tabel 1 melengkapi gambaran itu dan membawa implikasi masa depan. Di bidang pendidikan tinggi, angka partisipasi kasar tidak bergerak searah dengan pendapatan: Filipina naik dari 35,9 menjadi 47,4 persen dan Indonesia dari 32,5 menjadi 44,9 persen, tetapi Malaysia turun dari 44,3 menjadi 38,5 persen dan Laos dari 18,2 menjadi 14,9 persen (WDI). Penurunan di Laos, anggota yang beban utangnya paling berat, menandakan bahwa tekanan fiskal mulai menggerus investasi modal manusia. Di bidang emisi, konvergensi berlangsung ke arah yang mengkhawatirkan dari sudut pandang iklim: emisi per kapita Vietnam hampir berlipat dua dari 2,16 menjadi 4,27 ton dan Laos naik dari 1,31 menjadi 3,35 ton antara 2015 dan 2024, sementara Singapura dan Thailand datar (WDI). Anggota yang sedang mengejar pendapatan juga sedang mengejar intensitas karbon, sehingga penyempitan kesenjangan pembangunan dan target transisi energi dalam Visi 2045 akan saling bertabrakan bila tidak dirancang bersama.

    V

    Mengukur Konvergensi: Sigma, Beta, dan Klub

    Tabel 3 merangkum statistik dispersi yang dihitung dari dataset. Metodenya dinyatakan agar dapat direplikasi: koefisien variasi adalah simpangan baku populasi dibagi rerata aritmetika sebelas negara; simpangan baku logaritma dihitung dari logaritma natural pendapatan per kapita; indeks Theil dihitung sebagai jumlah berbobot pangsa penduduk dari (yi/μ)·ln(yi/μ), dengan μ rerata berbobot penduduk; sedangkan untuk indikator yang dapat bernilai negatif, seperti skor tata kelola, digunakan simpangan baku dan rentang, bukan koefisien variasi. Arah “konvergen” berarti ukuran dispersi turun, “divergen” berarti naik.

    Tabel 3. Ringkasan konvergensi dan dispersi, 2015 dibanding tahun terbaru (perhitungan kajian ini)
    Indikator dan kelompoknUkuran2015TerbaruArah
    PDB/kapita PPP, ASEAN-1111SD log / KV / rasio maks-min1,060 / 1,303 / 24,61,054 / 1,280 / 34,0Datar; ekor divergen
    PDB/kapita PPP, tanpa SGP, BRN, MMR, TLS7SD log / KV / rasio maks-min0,555 / 0,613 / 5,60,507 / 0,549 / 4,9Konvergen
    PDB/kapita PPP, tanpa SGP dan BRN9SD log / rasio maks-min0,584 / 6,20,654 / 8,6Divergen
    PDB/kapita PPP, berbobot penduduk11KV berbobot / indeks Theil0,879 / 0,1940,816 / 0,175Konvergen moderat
    Akses listrik11KV / rentang (poin %)0,175 / 39,50,058 / 19,6Konvergen kuat
    Pengguna internet11KV / rasio maks-min0,648 / 12,30,268 / 2,8Konvergen kuat
    Harapan hidup11KV / rentang (tahun)0,072 / 17,40,063 / 16,2Konvergen lemah
    IPM (2015 dan 2023)11KV / rasio maks-min0,160 / 1,660,144 / 1,56Konvergen lemah
    APK pendidikan tinggi9KV / rasio maks-min0,524 / 6,20,511 / 6,5Hampir datar
    Perdagangan (% PDB)9KV0,6600,547Konvergen
    CO₂ per kapita (2024)11KV / rasio maks-min1,193 / 44,71,086 / 40,5Konvergen lemah
    Efektivitas pemerintahan (WGI)11SD / rentang (poin)0,838 / 3,150,927 / 3,71Divergen
    IDE masuk (% PDB)11KV / rasio maks-min1,009 / 17,21,078 / 64,2Divergen

    Sumber: perhitungan kajian ini dari data pada Tabel 1 dan 2 (WDI, WGI, UNDP). SD = simpangan baku populasi; KV = koefisien variasi. APK pendidikan tinggi tanpa Myanmar dan Timor-Leste (tidak ada titik pembanding); nilai Singapura 2015 memakai tahun 2016. Perdagangan tanpa Laos dan Myanmar. Rasio maks-min IDE peka terhadap nilai Brunei yang sangat rendah pada 2025.

    Uji konvergensi beta pendapatan memperkuat gambaran klub. Untuk seluruh sebelas anggota, kemiringan regresi laju pertumbuhan tahunan 2015–2025 terhadap logaritma pendapatan 2015 adalah −0,21 poin persentase per satu satuan log, dengan galat baku 0,58, statistik t −0,36, dan R² 0,01; secara statistik tidak ada konvergensi beta di ASEAN-11. Bila Myanmar dan Timor-Leste dikeluarkan, kemiringan menjadi −0,98 dengan statistik t −2,57 dan R² 0,48, sebuah konvergensi bersyarat yang cukup kuat untuk sampel sekecil ini. Kemiringan itu setara dengan kecepatan konvergensi sekitar 1 persen per tahun, atau waktu paruh penutupan kesenjangan sekitar 67 tahun, kira-kira separuh dari kecepatan sekitar 2 persen per tahun yang ditemukan Barro dan Sala-i-Martin untuk negara bagian Amerika Serikat. Bila Brunei juga dikeluarkan, kemiringan melemah menjadi −0,57 (t −1,53, R² 0,28), sehingga sebagian kekuatan hasil ini memang bersumber dari stagnasi Brunei di puncak.

    Dari angka-angka itu, kajian ini menarik empat penilaian dengan tingkat keyakinan yang berbeda. Dengan keyakinan tinggi, konvergensi akses dasar, yakni listrik dan internet, adalah nyata, besar, dan mencakup hampir semua anggota termasuk Myanmar dan Timor-Leste; temuan ini tahan terhadap pengecualian negara mana pun. Dengan keyakinan sedang, kelompok tengah ASEAN mengalami konvergensi pendapatan sementara ekor bawah tertinggal, sehingga dispersi total praktis tidak berubah dan rasio maksimum-minimum melebar; keyakinan tidak tinggi karena seri Myanmar sejak 2021 bertumpu pada estimasi dan seri Timor-Leste sangat dipengaruhi minyak. Dengan keyakinan sedang, ketimpangan berbobot penduduk menurun karena negara-negara berpenduduk besar, yaitu Indonesia, Vietnam, dan Filipina, tumbuh di atas rerata; artinya, bagi rata-rata warga ASEAN, kawasan ini memang sedikit lebih setara daripada satu dekade lalu. Dengan keyakinan rendah, divergensi tata kelola mencerminkan perubahan kapasitas yang sesungguhnya, karena skor WGI berbasis persepsi dan memiliki margin galat yang tumpang tindih untuk banyak negara; hanya penurunan Myanmar yang cukup besar untuk ditafsirkan dengan yakin.

    Implikasi analitisnya adalah bahwa label “ASEAN dua kecepatan” terlalu kasar. Data menunjukkan setidaknya tiga klub: klub berpendapatan tinggi (Singapura, dengan Brunei yang melemah), klub konvergen menengah (Malaysia, Thailand, Vietnam, Indonesia, Filipina, Kamboja, Laos) yang bergerak mendekat satu sama lain, dan klub rentan (Myanmar dan Timor-Leste) yang pendapatan riilnya mundur. Di dalam klub menengah pun ada perbedaan arah antara pemenang rantai pasok elektronik seperti Vietnam dan Malaysia, ekonomi yang ditopang permintaan domestik seperti Indonesia dan Filipina, serta Thailand yang melambat. Kebijakan penyempitan kesenjangan yang memperlakukan “CLMV” sebagai satu kategori sejak akhir 1990-an kini kehilangan daya jelas: Vietnam sudah menyamai Indonesia, Kamboja tumbuh lebih cepat daripada Thailand, sementara Myanmar terlempar ke klub yang sama dengan anggota terbaru. Studi akademik yang secara khusus menguji kejar-mengejar CLMV, Furuoka (Applied Economics Letters, 2019), sudah menemukan bahwa Vietnam mengejar Indonesia dan Filipina sementara Laos dan Myanmar tidak menunjukkan penyempitan kesenjangan; dataset 2025 menunjukkan perbedaan itu kini mengeras menjadi struktur.

    VI

    Perbandingan Internasional: Eropa, Amerika Selatan, dan Afrika

    Perbandingan paling sering dirujuk adalah perluasan Uni Eropa tahun 2004, ketika delapan negara Eropa Tengah dan Timur bergabung bersama Siprus dan Malta. Kisah itu umumnya dibaca sebagai keberhasilan konvergensi. Polandia, yang pendapatan per kapitanya dalam standar daya beli sekitar 51 persen dari rerata Uni Eropa pada tahun bergabung, mencapai 80 persen pada 2023 menurut data Eurostat yang dikutip Polish Investment and Trade Agency (April 2024); Republik Ceko mencapai 91 persen dan Lituania 87 persen. Perbedaan kelembagaannya dengan ASEAN sangat mendasar. Calon anggota Uni Eropa harus mengadopsi seluruh acquis communautaire sebelum bergabung, dan setelah bergabung mereka menerima transfer dana kohesi dalam skala besar; untuk periode 2021–2027 saja, Komisi Eropa mengalokasikan 392 miliar euro bagi kebijakan kohesi (Komisi Eropa). ASEAN tidak memiliki keduanya: Timor-Leste diterima sebelum menyelesaikan aksesi pada seluruh instrumen ekonomi, dan Sekretariat ASEAN dibiayai iuran setara dengan anggaran yang pada 2016 hanya sekitar 20 juta dolar AS (Laksmana, ASPI, 2017).

    Perbandingan dengan Eropa karenanya mengajarkan dua hal yang sering terlewat. Pertama, konvergensi kelompok tengah ASEAN pada dekade 2015–2025, dengan kecepatan sekitar 1 persen per tahun, dicapai tanpa transfer fiskal regional sama sekali, terutama melalui integrasi ke rantai pasok global, investasi asing, dan reformasi domestik. Itu bukan pencapaian kecil. Kedua, Eropa menunjukkan bahwa konvergensi ekor bawah membutuhkan sesuatu yang lebih dari pasar: negara-negara anggota termiskin Uni Eropa memperoleh dukungan kapasitas administratif dan investasi publik yang dibiayai bersama. ASEAN tidak bisa meniru skala itu, tetapi kasus Myanmar dan Timor-Leste menunjukkan bahwa tanpa mekanisme apa pun di sisi kapasitas, keanggotaan sendiri tidak cukup menarik ekor bawah masuk ke klub tengah.

    Mercosur menawarkan perbandingan yang berlawanan. Blok Amerika Selatan itu memiliki lembaga dana konvergensi struktural, tetapi integrasi perdagangannya tetap dangkal: ekspor intrazona hanya 11,1 persen dari total ekspor blok pada 2025 menurut Kementerian Luar Negeri Argentina (Juli 2026). Di Afrika, perdagangan antarnegara Afrika mencapai 220,3 miliar dolar AS pada 2024 menurut Afreximbank (Ecofin, Juni 2025), atau sekitar 15 persen dari total perdagangan benua itu yang sekitar 1,5 triliun dolar. ASEAN berada di antara keduanya dan sedikit di atas: pangsa perdagangan intra-ASEAN sekitar 24,1 persen pada 2014 (ASEAN, tabel 24), sekitar 22 persen pada 2023 (ASEANstats, Mei 2024), dan 21,2 persen pada 2024 menurut Menteri Perdagangan Malaysia di hadapan Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN ke-57 (The Sun, September 2025).

    Data perdagangan ini mengoreksi asumsi yang lazim. Konvergensi kelompok tengah ASEAN tidak didorong oleh pendalaman pasar regional: pangsa perdagangan intra-ASEAN justru sedikit menurun selama dekade yang sama. Integrasi yang bekerja adalah integrasi ke rantai nilai Asia Timur dan global, sejalan dengan temuan Bank Pembangunan Asia bahwa perdagangan tetap menjadi penggerak terkuat integrasi Asia di tengah pergeseran rantai pasok (ADB, Asian Economic Integration Report 2026). Investasi menunjukkan pola serupa. Laporan Investasi ASEAN 2025 mencatat arus masuk IDE ke ASEAN sebesar 226 miliar dolar AS pada 2024, naik 8 persen ketika IDE global turun (UNCTAD/ASEAN, Oktober 2025); pangsa investasi intra-ASEAN memang tumbuh 45 persen tetapi hanya sekitar 14 persen dari total (Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam, Oktober 2025). Untuk 2025, UNCTAD mencatat arus masuk ke sepuluh anggota lama sebesar 243,9 miliar dolar AS (World Investment Report 2026).

    Pelajaran komparatifnya dapat dirumuskan sebagai berikut. Uni Eropa adalah model “konvergensi melalui institusi dan transfer”; Mercosur dan AfCFTA adalah contoh “institusi tanpa pasar yang dalam”; ASEAN adalah model “konvergensi melalui pasar global tanpa transfer”. Model terakhir efektif bagi negara yang memiliki kapasitas negara memadai untuk menarik dan menyerap investasi, tetapi meninggalkan negara yang kapasitasnya rapuh atau yang kehilangan legitimasi politik. Optimisme makro tentang “abad Asia”, seperti dalam The Future Is Asian karya Parag Khanna (2019), benar untuk agregat kawasan, tetapi dataset ini mengingatkan bahwa agregat yang bersinar dapat menutupi ekor yang tertinggal.

    VII

    Argumen Tandingan: Apakah Metrik Konvergensi Bermakna bagi ASEAN?

    Argumen tandingan terkuat terhadap seluruh pendekatan kajian ini perlu dirumuskan dalam bentuk paling meyakinkan. ASEAN bukan uni ekonomi supranasional; ia tidak memiliki anggaran bersama, kebijakan fiskal bersama, pengadilan dengan yurisdiksi mengikat, atau mandat untuk menyamakan pendapatan warga negara anggotanya. Mengukur ASEAN dengan metrik konvergensi yang lahir dari studi negara bagian Amerika Serikat dan kawasan Uni Eropa berarti menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon. David Martin Jones dan Michael L. R. Smith dalam “Making Process, Not Progress” (International Security, 2007) berpendapat bahwa ASEAN lebih tepat dipahami sebagai pembuat proses daripada pembuat kemajuan. Bila demikian, konvergensi atau divergensi anggota adalah fungsi kebijakan nasional, geografi, dan rantai pasok global, bukan fungsi ASEAN, dan mengaitkannya dengan visi 2045 adalah kesalahan atribusi.

    Argumen ini mengandung kebenaran penting yang diterima kajian ini. Dataset di atas memang tidak menunjukkan bahwa ASEAN menyebabkan konvergensi kelompok tengah; penjelasan yang lebih masuk akal adalah keterbukaan perdagangan dan investasi Vietnam, Kamboja, dan Malaysia terhadap rantai pasok elektronik global, ditambah pertumbuhan domestik Indonesia dan Filipina. Dataset ini juga tidak menunjukkan bahwa ASEAN menyebabkan kemunduran Myanmar; kudeta 2021 dan perang sesudahnya adalah sebab langsungnya. Lebih jauh, sebagian dari apa yang tampak sebagai divergensi, misalnya kemerosotan Brunei, adalah penurunan relatif ekonomi minyak yang justru bisa dibaca sebagai konvergensi dari atas.

    Namun argumen tandingan itu gagal pada tiga titik. Pertama, ASEAN sendiri yang menjadikan konvergensi tolok ukurnya. Piagam menyebut penyempitan kesenjangan pembangunan sebagai tujuan, Visi 2045 berjanji melanjutkannya, dan Rencana Kerja IAI V adalah program yang dirancang untuk itu; organisasi yang menetapkan tujuan dapat dan harus dinilai berdasarkan tujuannya, tanpa harus diasumsikan sebagai satu-satunya penyebab. Kedua, sifat non-supranasional justru membuat metrik semacam ini lebih penting, bukan kurang: tanpa transfer fiskal, satu-satunya alat ASEAN adalah informasi, tekanan sejawat, dan pengurutan komitmen, dan ketiganya membutuhkan data perbandingan yang konsisten. Ketiga, keputusan keanggotaan adalah keputusan kebijakan ASEAN, bukan kebijakan nasional. Dengan menerima anggota berpendapatan per kapita terendah pada saat sumber pendapatan utamanya habis, ASEAN mengambil tanggung jawab kolektif yang hanya dapat dipantau dengan metrik semacam ini.

    Ada pula versi argumen tandingan yang bersifat metodologis: bahwa statistik sebelas negara terlalu rapuh untuk ditafsirkan. Kritik ini ditanggapi dengan tiga cara. Hasil dilaporkan untuk beberapa subkelompok sehingga pembaca dapat melihat seberapa jauh kesimpulan bergantung pada negara tertentu. Ukuran dispersi yang berbeda, yakni koefisien variasi, simpangan baku logaritma, rasio maksimum-minimum, dan indeks Theil, digunakan berdampingan, dan arah kesimpulan hanya dinyatakan kuat bila ukuran-ukuran itu sejalan. Tingkat keyakinan dinyatakan eksplisit dan diturunkan ke rendah ketika data bersifat perseptual atau estimatif. Kesimpulan bahwa ASEAN-11 mengalami konvergensi akses tetapi divergensi kapasitas bertahan setelah semua pengujian itu.

    Versi ketiga argumen tandingan bersifat normatif dan berakar pada “cara ASEAN”: legitimasi organisasi ini bertumpu pada prinsip tidak campur tangan dan penghindaran rasa malu publik, sehingga papan peringkat konvergensi berisiko memecah konsensus dengan menempatkan anggota tertentu di dasar tabel secara permanen. Kekhawatiran ini sungguh-sungguh, terutama bagi Myanmar dan Laos. Akan tetapi ASEAN telah lama menerbitkan statistik perbandingan antaranggota melalui ASEANstats tanpa memicu krisis diplomatik, dan perbedaan antara statistik dan papan peringkat terletak pada desainnya. Kartu skor yang diusulkan kajian ini tidak memeringkat negara; ia melaporkan ukuran dispersi kawasan, memisahkan konvergensi akses dari konvergensi kapasitas, dan menyertakan penilaian mandiri setiap anggota. Desain semacam itu justru sejalan dengan cara ASEAN karena mengubah data menjadi bahan dialog sejawat, bukan alat sanksi. Risiko yang lebih besar bagi konsensus adalah ketiadaan data, karena tanpa angka bersama setiap anggota akan membaca kemajuan menurut kepentingannya sendiri.

    VIII

    Skenario 2030–2035 dan Penanda Arah

    Skenario berikut dibangun dari dua ketidakpastian kunci. Ketidakpastian pertama adalah apakah ekor bawah, yakni Myanmar dan Timor-Leste, berhasil kembali ke jalur pertumbuhan pendapatan riil positif. Ketidakpastian kedua adalah apakah kelompok tengah mempertahankan kecepatan konvergensinya di tengah guncangan energi 2026, hambatan perdagangan global, dan perlambatan Tiongkok. Bank Dunia pada April 2026 memperkirakan pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik melambat dari 5,0 persen pada 2025 menjadi 4,2 persen pada 2026, terutama akibat konflik Timur Tengah (Thailand Business News, April 2026). Ekstrapolasi sederhana tren 2015–2025 memberi patokan: jika setiap anggota mempertahankan laju per kapita dekade lalu, rasio pendapatan tertinggi terhadap terendah akan mencapai sekitar 40 kali pada 2030 dan 47 kali pada 2035, sementara rasio Vietnam terhadap Malaysia naik menjadi sekitar 0,50 pada 2030 dan 0,57 pada 2035.

    Empat Skenario hingga 2030–2035 (penilaian penulis, 29 Oktober 2026)

    1. AKonvergensi bertingkat terkelola40%
    2. BInti melaju, ekor tertinggal35%
    3. CFragmentasi akibat guncangan15%
    4. DKonvergensi luas10%

    Probabilitas merupakan penilaian penulis berdasarkan dataset ini dan informasi publik per 29 Oktober 2026; bukan proyeksi model ekonometrik.

    Skenario A, konvergensi bertingkat terkelola (40 persen), adalah kelanjutan pola klub dengan sedikit perbaikan di ekor. Kelompok tengah tetap konvergen pada kecepatan sekitar 1 persen per tahun, Timor-Leste mencatat pertumbuhan non-minyak sekitar 3 persen sesuai proyeksi IMF dan menahan laju penarikan Dana Perminyakan, dan Myanmar mengalami stabilisasi parsial tanpa penyelesaian politik. Rasio maksimum-minimum berhenti melebar di kisaran 35 hingga 38 kali pada 2030. Skenario B, inti melaju dan ekor tertinggal (35 persen), adalah ekstrapolasi tren: konvergensi kelompok tengah berlanjut tetapi Myanmar terus menyusut dan Timor-Leste gagal melakukan diversifikasi, sehingga rasio mendekati 40 kali pada 2030 dan ASEAN secara de facto menjadi komunitas tiga lapis yang dilembagakan.

    Skenario C, fragmentasi akibat guncangan (15 persen), terjadi bila guncangan energi berkepanjangan, perang tarif, dan krisis utang di anggota rentan saling memperkuat. Laos adalah titik rapuh yang paling jelas: utang bruto pemerintah umum diperkirakan 99,2 persen dari PDB pada 2024 dan 88,8 persen pada 2025 menurut IMF DataMapper, dibandingkan 53,1 persen pada 2015. Dalam skenario ini konvergensi kelompok tengah pun terhenti, dan Filipina, yang proyeksi pertumbuhannya untuk 2026 sudah dipangkas Bank Dunia menjadi 3,7 persen (Interaksyon, Agustus 2026) dari 5,3 persen dalam proyeksi Januari (The Investor, Januari 2026), tergelincir dari klub konvergen. Skenario D, konvergensi luas (10 persen), mensyaratkan penyelesaian politik di Myanmar yang memulihkan investasi, reformasi fiskal Timor-Leste yang berhasil, dan pemanfaatan penuh Perjanjian Kerangka Ekonomi Digital ASEAN; probabilitasnya rendah karena ketiganya harus terjadi bersamaan.

    Penanda arah yang perlu dipantau bersifat spesifik dan dapat diamati. Penandatanganan Perjanjian Kerangka Ekonomi Digital ASEAN (DEFA), yang perundingannya rampung pada 30 Mei 2026 dan dijadwalkan ditandatangani pada KTT ke-49 November 2026 (Manila Bulletin, Mei 2026), beserta ada tidaknya ketentuan perlakuan khusus bagi Timor-Leste, akan menguji Skenario A. Pertumbuhan riil Myanmar pada tahun fiskal 2026/27 di bawah atau di atas nol, dan apakah ASEAN mencapai konsensus tentang pemerintahan pascapemilu, membedakan B dari A. Rasio utang Laos dan saldo Dana Perminyakan Timor-Leste, yang menurut IMF diproyeksikan turun dari 18,27 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 12,81 miliar pada 2030, adalah penanda C. Pangsa perdagangan intra-ASEAN yang turun di bawah 20 persen atau naik di atas 23 persen akan menunjukkan apakah pasar regional melemah atau menguat sebagai jangkar.

    IX

    Rekomendasi Berbasis Aktor dan Tenggat

    Bagi Sekretariat ASEAN, rekomendasi utama adalah melembagakan pengukuran yang selama ini absen. Rencana Strategis Masyarakat Ekonomi ASEAN 2026–2030 menetapkan enam tujuan strategis, 44 sasaran, dan 192 langkah strategis dengan indikator kinerja yang masih harus ditetapkan untuk setiap sasaran (ASEAN, 2025). Sekretariat, melalui ASEANstats, sebaiknya menerbitkan “Kartu Skor Konvergensi ASEAN” tahunan mulai KTT pertama 2027, dengan indikator inti serupa dataset ini, ukuran dispersi yang dinyatakan metodenya, dan pemisahan eksplisit antara konvergensi akses dan konvergensi kapasitas. Kartu skor ini harus menjadi masukan wajib bagi tinjauan paruh waktu rencana strategis pada 2028. Sekretariat juga perlu menyepakati dengan Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia sebuah protokol estimasi untuk Myanmar dan Timor-Leste pada akhir 2027, agar kesenjangan data tidak menjadi dalih untuk tidak mengukur.

    Bagi Indonesia, anggota terbesar dengan 40,8 persen penduduk kawasan, dataset ini mengirim dua pesan yang tidak nyaman. Pesan pertama bersifat domestik: Vietnam, dengan penduduk sepertiga Indonesia, telah melampaui pendapatan per kapita Indonesia dalam ukuran paritas daya beli konstan pada 2025, sementara rasio IDE terhadap PDB Indonesia turun dari 2,30 menjadi 1,57 persen. Konvergensi kelompok tengah sedang dimenangkan oleh ekonomi yang paling terintegrasi ke rantai pasok, dan Indonesia perlu menjadikan perbandingan ini tolok ukur kebijakan investasi dan perdagangan hingga 2030. Pesan kedua bersifat regional: Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam keberhasilan Timor-Leste karena berbagi perbatasan darat di Nusa Tenggara Timur dan sejarah yang panjang, termasuk tragedi pengungsi 1999 yang direkam dalam Jembatan Air Mata (Sindhunata, ed., 2003). Jakarta sebaiknya mengusulkan, paling lambat pada 2027, koridor ekonomi lintas batas Nusa Tenggara Timur–Timor-Leste yang memadukan listrik, logistik, dan pendidikan vokasi, serta memimpin pembahasan reformasi formula iuran Sekretariat. Adopsi Protokol Cebu, amandemen pertama atas Piagam sejak 2007 yang diadopsi pada KTT ke-48 (The Star, Mei 2026), membuktikan bahwa Piagam dapat diubah ketika ada kemauan politik.

    Bagi Timor-Leste, prioritasnya adalah urutan, bukan kecepatan. Sejauh ini Timor-Leste telah menyetujui kontribusi 400.000 dolar AS untuk Unit Timor-Leste di Sekretariat ASEAN (Tatoli, Desember 2025), langkah yang tepat untuk membangun kapasitas birokrasi integrasi. Langkah berikutnya adalah aturan fiskal yang mengikat untuk memperlambat penarikan Dana Perminyakan sebelum 2028, mengingat defisit pada 2024 setara 45 persen dari PDB non-minyak menurut IMF; prioritas aksesi pada perjanjian yang memberi manfaat cepat bagi ekonomi kecil, terutama DEFA dan fasilitasi perdagangan, sebelum komitmen liberalisasi jasa yang lebih menuntut; dan survei nasional penggunaan teknologi informasi pada 2027, karena angka internet terakhir yang tersedia berasal dari 2021. Sebagai anggota dengan skor efektivitas pemerintahan yang membaik dari −0,64 menjadi −0,54, Timor-Leste memiliki modal kelembagaan untuk dibangun, tetapi waktu fiskalnya terbatas.

    Bagi Filipina, ketua ASEAN 2026 dengan tema “Navigating Our Future, Together” (Pernyataan Ketua KTT ke-48), jendela kebijakannya adalah KTT ke-49 di Metro Manila pada November 2026. Manila sebaiknya memastikan tiga hal sebelum menyerahkan keketuaan: penandatanganan DEFA dengan klausul bantuan teknis yang eksplisit bagi anggota yang paling tertinggal dalam akses digital; mandat para pemimpin kepada Sekretariat untuk menyusun kartu skor konvergensi tahunan; dan rumusan yang memperjelas sikap ASEAN terhadap Myanmar, tempat konsensus kawasan menurut pengamatan para analis “sedang terurai” (The Jakarta Post, Mei 2026). Filipina sendiri, dengan proyeksi pertumbuhan yang dipangkas tajam oleh guncangan energi, berkepentingan agar mekanisme ketahanan energi dan pangan yang disepakati di Cebu diubah menjadi instrumen operasional, bukan hanya pernyataan.

    Bagi mitra eksternal, rekomendasinya dibedakan menurut keunggulan masing-masing. Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia sebaiknya membiayai paket kapasitas statistik untuk Myanmar dan Timor-Leste dalam siklus pendanaan 2027, termasuk survei rumah tangga, karena angka kemiskinan terakhir Timor-Leste dalam WDI berasal dari 2014 dan Myanmar dari 2017. Jepang, melalui Japan-ASEAN Integration Fund yang telah lama mendukung IAI, dapat menyisihkan jalur khusus bagi Timor-Leste dalam Rencana Kerja V. Tiongkok, yang menandatangani protokol peningkatan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN–Tiongkok 3.0 di Kuala Lumpur pada Oktober 2025 (VnEconomy, Oktober 2025), sebaiknya mendampingi implementasinya dengan bantuan kapasitas bagi anggota berpendapatan rendah, bukan hanya akses pasar; pola tawar-menawar dan diversifikasi negara Asia Tenggara terhadap kekuatan Tiongkok, sebagaimana diuraikan dalam The Beijing Factor in Southeast Asia (2026), menunjukkan bahwa bantuan semacam itu akan diterima lebih baik daripada konsesi sepihak. Australia, melalui strategi Invested: Southeast Asia Economic Strategy to 2040, dan Uni Eropa, yang memiliki pengalaman kebijakan kohesi terpanjang di dunia, sebaiknya menawarkan program pertukaran teknis tentang desain kartu skor dan audit konvergensi sebelum tinjauan paruh waktu ASEAN 2028.

    X

    Keterbatasan Data dan Kamus Data

    Tabel 4 menyajikan kamus data agar setiap variabel dapat diperiksa, direplikasi, dan diperbarui. Keterbatasan terbesar dataset ini terkonsentrasi pada dua anggota yang paling penting bagi pertanyaan konvergensi. Untuk Myanmar, data penggunaan internet berhenti pada 2020, partisipasi pendidikan tinggi pada 2018, data perdagangan tidak tersedia dalam WDI, dan angka pertumbuhan sejak 2021 berupa estimasi bulat yang menunjukkan ketergantungan pada model, bukan pengukuran statistik resmi yang dapat diverifikasi. Untuk Timor-Leste, angka internet berhenti pada 2021, angka kemiskinan pada 2014, dan PDB total sangat dipengaruhi sektor perminyakan sehingga pendapatan per kapita PPP kurang mencerminkan standar hidup rumah tangga. Kedua masalah ini membuat penilaian tentang ekor bawah diberi keyakinan sedang, bukan tinggi.

    Tabel 4. Kamus data
    Variabel (kode)DefinisiSatuanSumberTahunCakupan dan catatan
    Penduduk (SP.POP.TOTL)Jumlah penduduk tengah tahunJuta jiwaBank Dunia, WDI2015, 202511/11; dasar bobot indeks Theil
    PDB/kapita PPP (NY.GDP.PCAP.PP.KD)PDB per kapita berdasarkan paritas daya beliDolar internasional konstan 2021Bank Dunia, WDI2015–202511/11; Myanmar 2021–2025 estimasi; Timor-Leste termasuk sektor minyak
    Pertumbuhan PDB (NY.GDP.MKTP.KD.ZG)Pertumbuhan PDB riil tahunanPersenBank Dunia, WDI2015–202511/11; rerata 2016–2025 dihitung kajian ini
    IDE masuk (BX.KLT.DINV.WD.GD.ZS)Arus masuk bersih investasi asing langsung% PDBBank Dunia, WDI2015, 202511/11; volatil untuk ekonomi kecil
    Perdagangan (NE.TRD.GNFS.ZS)Ekspor ditambah impor barang dan jasa% PDBBank Dunia, WDI2015, 2025 (TLS 2024)9/11; Laos terakhir 2016, Myanmar tidak tersedia
    Internet (IT.NET.USER.ZS)Individu yang menggunakan internet% pendudukBank Dunia, WDI (data ITU)2015, 202411/11; Myanmar 2020, Timor-Leste 2021
    Listrik (EG.ELC.ACCS.ZS)Penduduk dengan akses listrik% pendudukBank Dunia, WDI2015, 202411/11
    Pendidikan tinggi (SE.TER.ENRR)Angka partisipasi kasar pendidikan tinggi% kelompok usiaBank Dunia, WDI (data UNESCO)2015 dan terbaru 2023–20259/11 untuk perubahan; Myanmar hanya 2018, Timor-Leste hanya 2023; Singapura awal 2016
    Harapan hidup (SP.DYN.LE00.IN)Harapan hidup saat lahirTahunBank Dunia, WDI2015, 202411/11
    IPMIndeks Pembangunan ManusiaIndeks 0–1UNDP, HDR 20252015, 202311/11; tahun terbaru HDR 2025 adalah 2023
    Efektivitas pemerintahan (GE.EST)Persepsi mutu layanan publik, birokrasi, dan kredibilitas kebijakanSkor sekitar −2,5 hingga 2,5Bank Dunia, WGI2015, 202511/11; berbasis persepsi, margin galat tumpang tindih
    CO₂ per kapita (EN.GHG.CO2.PC.CE.AR5)Emisi CO₂ tanpa LULUCF per kapitaTon CO₂e per kapitaBank Dunia, WDI2015, 202411/11
    Statistik dispersi (turunan)KV, SD log, rasio maks-min, Theil, regresi betaTanpa satuanPerhitungan kajian ini2015 dan terbaruDihitung dengan Python dari angka sumber

    Sumber: metadata World Development Indicators, Worldwide Governance Indicators, dan UNDP HDR 2025; disusun kajian ini.

    Keterbatasan lain bersifat konseptual. Pangsa perdagangan intra-ASEAN per negara, yang semula direncanakan sebagai indikator inti, tidak dimasukkan karena tidak ditemukan seri resmi per negara yang konsisten untuk 2015 dan tahun terbaru; kajian ini hanya memakai angka agregat kawasan. Indikator utang pemerintah juga tidak dimasukkan ke tabel inti karena basis data IMF yang dapat diakses tidak memberikan cakupan lengkap untuk sebelas negara dalam proses penyusunan, meskipun angka Laos dikutip dalam analisis skenario. Pendapatan per kapita mengukur produksi, bukan distribusi di dalam negara; konvergensi antarnegara dapat berjalan bersama melebarnya ketimpangan di dalam negara, sesuatu yang ditekankan Rencana Strategis MEA dengan frasa “antara dan di dalam”. Terakhir, revisi paritas daya beli dapat menggeser tingkat pendapatan antarnegara; karena itu persilangan Vietnam dan Indonesia sebaiknya dibaca sebagai indikasi kuat kesetaraan, bukan keunggulan yang pasti.

    XI

    Kesimpulan

    Satu tahun setelah ASEAN menjadi sebelas, jawaban atas pertanyaan “satu komunitas?” adalah ya untuk akses dan belum untuk kapasitas. Dalam satu dekade, hampir seluruh warga ASEAN memperoleh listrik dan mayoritas besar terhubung ke internet; kesenjangan harapan hidup dan pembangunan manusia menyempit perlahan; dan tujuh ekonomi di tengah distribusi bergerak saling mendekat dengan kecepatan yang terukur, tanpa mekanisme transfer fiskal regional. Itu adalah pencapaian yang patut dicatat dalam literatur regionalisme komparatif. Akan tetapi jurang antara anggota terkaya dan termiskin melebar dari 24,6 menjadi 34,0 kali, tata kelola menyebar, dan investasi mengalir ke tempat kapasitas sudah ada.

    Untuk program studi dan pembuat kebijakan, temuan terpenting kajian ini adalah bahwa ASEAN tidak sedang terbelah menjadi dua kecepatan, melainkan terstruktur menjadi tiga klub, dan bahwa klub paling bawah kini memuat anggota yang paling baru diterima. Pemetaan geopolitik regional dari kolonialisme hingga rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, seperti dalam bahan ajar Transformasi Geopolitik Asia Tenggara (2025), perlu dilengkapi dengan peta kapasitas semacam ini, karena daya tawar kolektif ASEAN pada akhirnya bergantung pada ekor terlemahnya. Visi 2045 hanya akan kredibel bila ASEAN mau mengukur apa yang dijanjikannya, dan dataset ini adalah undangan untuk memulai pengukuran itu tahun ini.

    Komunitas tanpa transfer harus bertumpu pada pengukuran, karena hanya itu alat yang dimilikinya.
    ◆

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    Literatur ilmiah

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    Media dan pemberitaan

    Arsip & Pustaka

    Cara Mengutip

    Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. (2026). Sebelas Anggota, Satu Komunitas? Dataset Konvergensi dan Divergensi ASEAN-11 Setahun setelah Timor-Leste Bergabung. Dataset. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/dataset-konvergensi-asean-11/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh; pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy. Meraih PhD Sosiologi dari La Trobe University.

  • Peta Kecondongan Asia Tenggara: Dataset Pilihan Elite antara Amerika Serikat dan Tiongkok 2020–2026

    Peta Kecondongan Asia Tenggara: Dataset Pilihan Elite antara Amerika Serikat dan Tiongkok 2020–2026

    Dataset · Geopolitik

    Peta Kecondongan Asia TenggaraDataset Pilihan Elite antara Amerika Serikat dan Tiongkok 2020–2026: Struktur, Kamus Data, dan Batas Tafsir

    Tujuh edisi survei ISEAS dihimpun menjadi dataset terdokumentasi: rata-rata regional, tabel per negara, indikator kepercayaan, kamus data, dan berkas CSV, lengkap dengan uji konsistensi dan peringatan tentang cara membacanya.

    Penulis: Kamaruzzaman Bustamam AhmadJenis: DatasetTanggal: 25 Oktober 2026± 30 menit baca
    Daftar Isi
    1. I. Ringkasan Eksekutif: Pertanyaan, Temuan, dan Mengapa Penting
    2. II. Kerangka Analitis dan Catatan Metode
    3. III. Sumber Data, Cakupan, dan Konstruksi Dataset
    4. IV. Tabel Inti 1: Lintasan Regional 2020–2026
    5. V. Tabel Inti 2: Kecondongan per Negara 2023–2026
    6. VI. Tabel Pendukung: Pengaruh, Kepercayaan, dan Kekhawatiran 2026
    7. VII. Kamus Data dan Panduan Penggunaan
    8. VIII. Perbandingan Internasional: Pew 2025, Afrobarometer 2026, dan Pelajaran Lintas Kawasan
    9. IX. Argumen Tandingan: “Survei Elite Bukan Barometer Geopolitik”
    10. X. Skenario dan Penanda Arah 2027–2029
    11. XI. Rekomendasi bagi Pengguna Data dan Pembuat Kebijakan
    12. XII. Keterbatasan dan Kesimpulan
    Peta Kecondongan Asia Tenggara
    Rata-rata regional menyembunyikan polarisasi: Indonesia 80,1% memilih Tiongkok, Filipina 76,8% memilih AS (2026).

    Abstrak

    Kajian data ini menyusun dataset terdokumentasi tentang pilihan elite Asia Tenggara antara Amerika Serikat dan Tiongkok berdasarkan tujuh edisi survei The State of Southeast Asia (ISEAS–Yusof Ishak Institute) tahun 2020–2026. Dataset memuat rata-rata regional tujuh tahun, proporsi per negara 2023–2026, indikator pengaruh, kepercayaan, dan kekhawatiran 2026, kamus data, serta berkas CSV. Setiap nilai diberi kode status (dilaporkan, diturunkan, tidak tersedia) dan diuji terhadap rata-rata resmi; uji untuk 2025 dan 2026 cocok sepenuhnya. Temuan utama menunjukkan sikap elite yang volatil, polarisasi tajam menurut geografi ancaman, dan kecondongan pragmatis ke Tiongkok pada 2026 yang tidak disertai kepercayaan. Latihan pembobotan populasi memperlihatkan betapa sensitif headline regional terhadap pilihan metode dan betapa menentukan sikap elite Indonesia. Kajian membandingkan data dengan Pew 2025 dan Afrobarometer 2026, menguji argumen tandingan tentang keabsahan survei elite, serta menyajikan skenario, rekomendasi, dan panduan penggunaan.

    TesisAsia Tenggara tidak sedang memilih blok; elite kawasan melakukan lindung nilai, dan pergeseran 2026 lebih merupakan kecemasan terhadap Washington daripada kepercayaan kepada Beijing.
    DataRata-rata regional 2020–2026, tabel per negara 2023–2026, indikator kepercayaan dan kekhawatiran 2026, CSV.
    KerangkaTeori lindung nilai, opini elite vs perilaku negara, aturan kode L/D/n.a. dan uji konsistensi.
    ProyeksiTiga skenario 2027–2029, penanda arah, dan panduan pemakaian ulang data.
    Kata kunciISEASopini eliterivalitas AS–Tiongkoklindung nilaiASEANdatasetkamus dataIndonesia
    I

    Ringkasan Eksekutif: Pertanyaan, Temuan, dan Mengapa Penting

    Kajian data ini menjawab pertanyaan yang terus diperdebatkan di ibu kota-ibu kota dunia: ke arah mana elite Asia Tenggara condong ketika dihadapkan pada pilihan hipotetis antara Amerika Serikat dan Tiongkok, dan seberapa jauh angka-angka survei itu dapat dipercaya sebagai petunjuk arah geopolitik kawasan? Untuk itu, kajian ini menyusun dataset terdokumentasi dari tujuh edisi survei tahunan The State of Southeast Asia yang diterbitkan ISEAS–Yusof Ishak Institute di Singapura, mencakup periode 2020 sampai 2026, lengkap dengan tabel per negara, indikator pendukung tentang pengaruh dan kepercayaan, kamus data, aturan konstruksi, serta catatan tentang nilai yang diturunkan. Dataset ini dirancang agar dapat dipakai ulang oleh peneliti, pengajar, dan analis kebijakan, sekaligus agar keterbatasannya terlihat jelas.

    Temuan pokok dapat diringkas dalam tiga penilaian. Pertama, dengan keyakinan tinggi, kecondongan elite kawasan bersifat volatil, bukan tren linear: proporsi responden yang memilih Amerika Serikat naik dari 53,6 persen pada 2020 ke 61,5 persen pada 2021, turun ke 49,5 persen pada 2024, naik lagi ke 52,3 persen pada 2025, lalu turun ke 48,0 persen pada 2026, ketika Tiongkok dipilih oleh 52,0 persen responden. Kedua, dengan keyakinan tinggi, rata-rata regional menyembunyikan polarisasi yang tajam dan semakin dalam: pada 2026 Indonesia mencatat 80,1 persen responden memilih Tiongkok, sementara Filipina mencatat 76,8 persen memilih Amerika Serikat. Ketiga, dengan keyakinan sedang, pergeseran 2026 lebih banyak didorong oleh kekhawatiran terhadap kebijakan Amerika Serikat daripada oleh meningkatnya kepercayaan terhadap Tiongkok, karena pada tahun yang sama Tiongkok hanya dipercaya oleh 39,8 persen responden, lebih rendah daripada Jepang, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.

    Mengapa ini penting secara global? Asia Tenggara adalah kawasan dengan sekitar 690 juta penduduk, jalur laut yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, serta rantai pasok manufaktur yang semakin penting setelah diversifikasi produksi dari Tiongkok. Persepsi elite kawasan, yang mencakup pejabat pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan aktivis masyarakat sipil, membentuk ruang gerak kebijakan luar negeri negara-negara ASEAN. Bila persepsi itu bergeser, pilihan tentang investasi, kerja sama pertahanan, dan keanggotaan dalam blok-blok baru juga ikut bergeser. Keputusan Indonesia menjadi anggota penuh BRICS, yang diumumkan Brasil pada 6 Januari 2025 sebagaimana tercatat di laman resmi kepresidenan BRICS Brasil, adalah contoh bagaimana suasana elite dan langkah diplomatik saling berkelindan.

    Namun kajian ini juga memperingatkan agar angka survei tidak dibaca secara naif. Pertanyaan tentang pilihan “jika ASEAN dipaksa memilih” adalah pertanyaan hipotetis tentang perilaku kolektif yang hampir mustahil terjadi; responden adalah elite yang dipilih secara purposif, bukan sampel acak penduduk; dan rata-rata regional memberi bobot yang sama kepada Brunei dan Indonesia, padahal populasinya berbeda ratusan kali lipat. Bagian-bagian berikut menjelaskan bagaimana dataset disusun, apa yang ditunjukkannya, bagaimana membandingkannya dengan survei global lain, dan bagaimana memakainya secara bertanggung jawab. Seluruh angka disertai sumber terbuka yang dapat diperiksa.

    II

    Kerangka Analitis dan Catatan Metode

    Kerangka analitis kajian ini bertumpu pada teori lindung nilai (hedging) dalam hubungan internasional Asia Tenggara. Kuik Cheng-Chwee, dalam artikelnya di Contemporary Southeast Asia tahun 2008, “The Essence of Hedging: Malaysia and Indonesia’s Response to a Rising China”, mendefinisikan lindung nilai sebagai perilaku negara kecil dan menengah yang menjalankan kebijakan yang tampak kontradiktif terhadap dua kekuatan besar sekaligus, untuk menyiapkan jalan mundur bila keadaan berubah. Menurut Kuik, lindung nilai paling mungkin terjadi ketika ancaman tidak segera dan tidak jelas, serta ketika sumber dukungan vital tidak pasti; di tingkat domestik, ia juga berfungsi sebagai strategi legitimasi elite penguasa. Kerangka ini penting untuk membaca data survei karena ia memprediksi bahwa kecondongan elite akan berfluktuasi mengikuti peristiwa, bukan mengeras menjadi blok permanen.

    Kerangka kedua berasal dari literatur opini elite dan kebijakan luar negeri, yang membedakan antara preferensi yang dinyatakan dalam survei dan perilaku negara yang dapat diamati. Preferensi elite adalah indikator suasana, bukan prediktor kebijakan. Hubungan keduanya dimediasi oleh struktur ekonomi, ikatan keamanan, kalkulasi politik domestik, dan kepemimpinan individual. Dataset ini karena itu diperlakukan sebagai sensor sikap yang dapat dibandingkan dengan indikator perilaku, misalnya keanggotaan dalam forum, kerja sama militer, atau kebijakan perdagangan. Kesenjangan antara sikap dan perilaku justru menjadi bahan analisis yang berharga.

    Catatan metode perlu dirinci. Sumber utama adalah laporan survei ISEAS edisi 2026, yang dapat diakses penuh di situs ISEAS, serta edisi-edisi sebelumnya sebagaimana dilaporkan oleh media dan lembaga kajian yang mengutipnya secara langsung. Survei 2026 dijalankan secara daring pada 5 Januari sampai 20 Februari 2026 dengan 2.008 responden dari sebelas negara anggota ASEAN, termasuk Timor-Leste. Komposisi responden menurut afiliasi adalah sektor swasta 42,9 persen, pemerintah 21,1 persen, akademisi dan lembaga riset 19,5 persen, masyarakat sipil, LSM, dan media 11,2 persen, serta organisasi regional atau internasional 5,3 persen. Survei 2025 dijalankan pada 3 Januari sampai 15 Februari 2025 dengan 2.023 responden, menurut ringkasan Manohar Parrikar Institute for Defence Studies and Analyses.

    Prosedur kompilasi mengikuti empat aturan. Aturan pertama: angka yang dilaporkan langsung oleh ISEAS atau dikutip tanpa perubahan oleh sumber sekunder bereputasi diberi kode L (dilaporkan). Aturan kedua: angka yang dihitung dari angka lain, misalnya proporsi pemilih Tiongkok yang diturunkan dari 100 dikurangi proporsi pemilih Amerika Serikat, diberi kode D (diturunkan), dan perhitungannya dijelaskan. Aturan ketiga: angka yang tidak dapat diverifikasi dibiarkan kosong dengan kode n.a., bukan diisi dengan perkiraan. Aturan keempat: setiap nilai diuji konsistensinya terhadap rata-rata regional yang dipublikasikan; bila rata-rata hasil perhitungan dari nilai per negara cocok dengan rata-rata resmi, keyakinan terhadap nilai per negara meningkat. Untuk 2025 dan 2026, uji ini berhasil: rata-rata sepuluh negara hasil hitung ulang adalah 47,7 persen pada 2025 dan 51,4 persen pada 2026, persis sama dengan angka yang dilaporkan.

    Uji konsistensi itu juga memungkinkan satu nilai diturunkan secara aljabar. Laporan media menyebut hasil Laos 2026 sebagai “hampir seimbang” tanpa angka pasti. Karena rata-rata sepuluh negara 2026 adalah 51,4 persen dan sembilan nilai lain diketahui, nilai Laos dapat diturunkan sebesar sekitar 49,5 persen untuk Tiongkok. Nilai ini diberi kode D dan keyakinan sedang, karena bergantung pada pembulatan angka lain. Di luar prosedur kuantitatif, kajian ini memakai pembacaan kualitatif terhadap konteks peristiwa tiap tahun untuk menafsirkan pergeseran, dengan label keyakinan yang eksplisit untuk setiap tafsir.

    III

    Sumber Data, Cakupan, dan Konstruksi Dataset

    Survei The State of Southeast Asia adalah instrumen opini elite paling konsisten di kawasan dan telah menjadi rujukan standar bagi pemerintah, lembaga kajian, dan media internasional. Kekuatannya terletak pada kontinuitas pertanyaan, cakupan seluruh negara anggota ASEAN, dan publikasi terbuka. Pertanyaan inti yang menjadi tulang punggung dataset ini berbunyi kurang lebih: jika ASEAN dipaksa menyelaraskan diri dengan salah satu rival strategis, mana yang harus dipilih? Responden hanya diberi dua pilihan, Amerika Serikat atau Tiongkok, sehingga hasilnya selalu berjumlah seratus persen. Desain biner ini memudahkan perbandingan antartahun, tetapi juga memaksa responden yang sebenarnya memilih netralitas untuk menyatakan kecondongan.

    Dataset terdiri atas empat tabel. Tabel 1 memuat rata-rata regional pilihan biner untuk tujuh tahun, 2020 sampai 2026. Tabel 2 memuat proporsi pemilih Tiongkok per negara untuk empat tahun terakhir, 2023 sampai 2026, yang merupakan rentang dengan data per negara paling lengkap dalam sumber terbuka yang dapat diverifikasi. Tabel 3 memuat indikator pendukung 2026: persepsi kekuatan ekonomi dan politik-strategis paling berpengaruh, tingkat kepercayaan terhadap kekuatan besar, serta dua indikator kekhawatiran per negara. Tabel 4 adalah kamus data yang mendefinisikan setiap variabel, satuan, kode sumber, dan catatan penggunaan. Sebuah berkas CSV yang memuat Tabel 2 disediakan untuk diunduh dan dipakai dalam perangkat analisis statistik.

    Data per negara untuk 2023 dan 2024 berasal dari analisis David Hutt untuk Radio Free Asia pada 20 April 2024 dan laporan Radio Free Asia pada 3 April 2024, yang melaporkan proporsi pemilih Amerika Serikat; proporsi pemilih Tiongkok diturunkan dengan pengurangan. Data per negara 2025 berasal dari ringkasan Temjenmeren Ao untuk MP-IDSA pada 2 Mei 2025. Data per negara 2026 berasal dari laporan Thairath dan The Thaiger pada 7 April 2026, yang dikonfirmasi silang dengan perubahan poin persentase yang dilaporkan Sinic Analytica, yakni kenaikan Singapura 19,2 poin, Vietnam 14,3 poin, Filipina 9,6 poin, dan Indonesia 7,9 poin. Keempat perubahan itu cocok dengan selisih antara nilai 2025 dan 2026 dalam dataset, sehingga keyakinan terhadap kedua seri tinggi.

    Rata-rata regional diambil dari sumber berikut: angka 2020 dan 2021 dari laporan CNBC pada 16 Februari 2021; angka 2022 dari tulisan Terence Chong di Fulcrum pada 16 Februari 2022; angka 2023 dan 2024 dari Radio Free Asia; angka 2025 dan 2026 dari South China Morning Post pada 7 April 2026 dan laporan ISEAS 2026. Untuk 2026, kajian ini mencatat dua angka: rata-rata sebelas negara (52,0 persen Tiongkok) dan rata-rata sepuluh negara tanpa Timor-Leste (51,4 persen), agar perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya tetap setara.

    Pilihan untuk tidak memasukkan data per negara 2020 sampai 2022 bersifat disengaja. Sumber terbuka yang dapat diverifikasi untuk periode itu hanya memberi gambaran parsial, misalnya bahwa pada 2021 mayoritas responden di tujuh negara memilih Amerika Serikat dan bahwa Kamboja, Indonesia, Malaysia, serta Thailand berpindah sisi dibandingkan 2020. Mengisi tabel dengan angka yang tidak dapat diperiksa akan bertentangan dengan prinsip transparansi dataset. Pengguna yang membutuhkan seri lengkap dianjurkan merujuk langsung ke laporan tahunan ISEAS edisi terkait.

    IV

    Tabel Inti 1: Lintasan Regional 2020–2026

    Tabel 1. Pilihan biner elite ASEAN jika “dipaksa memilih”, rata-rata regional (%)
    TahunAmerika SerikatTiongkokUnggulKodeSumber
    202053,646,4ASL/DCNBC 2021
    202161,538,5ASL/DCNBC 2021
    202257,043,0ASLFulcrum 2022
    202361,138,9ASLRFA 2024
    202449,550,5TiongkokLRFA 2024
    202552,347,7ASLMP-IDSA 2025
    2026 (ASEAN-11)48,052,0TiongkokLISEAS 2026
    2026 (ASEAN-10)48,651,4TiongkokLSinic Analytica 2026

    Kode L: dilaporkan langsung; D: diturunkan dengan pengurangan dari 100. Angka 2020–2021 untuk Tiongkok diturunkan dari proporsi pemilih AS yang dilaporkan.

    Tabel 1 memperlihatkan pola gelombang, bukan garis. Tiga fase dapat dibedakan. Fase pertama, 2020 sampai 2023, ditandai keunggulan Amerika Serikat dengan puncak 61,5 persen pada 2021 dan 61,1 persen pada 2023. Puncak 2021 bertepatan dengan awal pemerintahan Joe Biden dan janji pemulihan keterlibatan multilateral setelah periode pertama Donald Trump, sedangkan kekecewaan atas penanganan pandemi oleh Tiongkok kemungkinan memperkuat kecondongan tersebut. Penurunan pada 2022 ke 57,0 persen terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi pascapandemi, ketika peran Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar kawasan kembali menonjol. Tafsir ini diberi keyakinan sedang karena survei tidak mengukur sebab secara langsung.

    Fase kedua adalah pembalikan pada 2024, ketika Tiongkok unggul tipis dengan 50,5 persen. Survei 2024 dijalankan pada awal tahun, beberapa bulan setelah pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Analisis Hutt mencatat bahwa pergeseran terbesar terjadi di negara-negara mayoritas Muslim, yakni Malaysia, Indonesia, dan Brunei, ditambah Laos, dan mengaitkannya dengan kemarahan atas dukungan Amerika Serikat terhadap Israel. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan sedang hingga tinggi, adalah bahwa faktor Gaza merupakan pendorong utama pembalikan 2024, terutama di dunia Melayu, meski selisih regional yang hanya satu poin persentase berarti pergeseran itu setara dengan sekitar dua puluh responden saja.

    Fase ketiga adalah osilasi 2025 sampai 2026. Pada 2025 Amerika Serikat kembali unggul dengan 52,3 persen, didorong lonjakan di Filipina dan Vietnam, dua negara yang paling langsung berhadapan dengan Tiongkok di Laut Cina Selatan. Pada 2026, Tiongkok kembali unggul dengan 52,0 persen. Pergeseran 2026 menarik karena tidak didorong oleh negara-negara Muslim, melainkan oleh Singapura, Vietnam, Filipina, dan Indonesia secara bersamaan. Laporan ISEAS 2026 mencatat bahwa kekhawatiran geopolitik nomor satu responden adalah kepemimpinan Amerika Serikat di bawah Presiden Trump, dipilih oleh 51,9 persen responden, sedikit di atas operasi penipuan global sebesar 51,4 persen dan perilaku agresif di Laut Cina Selatan sebesar 48,2 persen. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan sedang, adalah bahwa pergeseran 2026 lebih merupakan penilaian negatif terhadap kebijakan Washington daripada penilaian positif terhadap Beijing.

    Implikasi metodologis dari Tabel 1 cukup tegas. Pertama, pengguna data tidak boleh memperlakukan satu tahun sebagai titik balik struktural; perubahan arah yang terjadi empat kali dalam tujuh tahun menunjukkan bahwa sikap elite sangat responsif terhadap peristiwa. Kedua, selisih regional sering berada dalam kisaran beberapa poin persentase, sehingga headline media tentang kawasan yang “memilih Tiongkok” atau “memilih Amerika Serikat” cenderung melebih-lebihkan. Ketiga, pola gelombang ini konsisten dengan teori lindung nilai: elite menyesuaikan kecondongan terhadap risiko yang paling menonjol pada saat survei, tanpa mengunci diri pada satu pihak.

    V

    Tabel Inti 2: Kecondongan per Negara 2023–2026

    Tabel 2. Proporsi responden yang memilih Tiongkok, per negara (%)
    Negara2023202420252026Δ 2025→2026
    Brunei55,0 D70,1 D55,053,5−1,5
    Kambojan.a.n.a.43,039,0 D−4,0
    Indonesia53,7 D73,2 D72,280,1+7,9
    Laos41,1 D70,6 D51,0≈49,5 D≈−1,5
    Malaysia54,8 D75,1 D70,868,0−2,8
    Myanmarn.a.n.a.42,338,6 D−3,7
    Filipina21,2 D16,7 D13,623,2 D+9,6
    Singapura38,9 D38,5 D47,166,3+19,2
    Thailand43,1 D52,2 D55,655,0−0,6
    Vietnam22,1 D21,0 D26,540,8 D+14,3
    Timor-Leste40,958,2+17,3

    D: diturunkan dari 100 dikurangi proporsi pemilih AS yang dilaporkan, kecuali Laos 2024 (nilai 2023 ditambah pergeseran 29,5 poin yang dilaporkan RFA) dan Laos 2026 (diturunkan dari rata-rata ASEAN-10 sebesar 51,4%). Timor-Leste baru dimasukkan pada 2025. Sumber: RFA (2023–2024), MP-IDSA (2025), Thairath/The Thaiger/Sinic Analytica (2026).

    Tabel 2 mengungkap struktur yang tidak terlihat dalam rata-rata regional. Kawasan terbelah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah poros kecondongan ke Tiongkok yang stabil, terdiri atas Indonesia, Malaysia, dan Brunei, ditambah Thailand yang lebih moderat. Di ketiga negara Muslim itu, proporsi pemilih Tiongkok melonjak pada 2024 dan bertahan tinggi sejak itu; Indonesia bahkan mencapai titik tertinggi dalam dataset, 80,1 persen, pada 2026. Kelompok kedua adalah poros kecondongan ke Amerika Serikat yang stabil, yaitu Filipina dan Vietnam, dua negara dengan sengketa maritim paling tajam dengan Tiongkok. Kelompok ketiga adalah negara-negara berayun, yaitu Singapura, Laos, Kamboja, Myanmar, dan Timor-Leste, yang kecondongannya berubah cukup besar dari tahun ke tahun.

    Kasus Singapura paling mengejutkan dan paling penting untuk dicermati. Dari 38,5 persen pada 2024 dan 47,1 persen pada 2025, proporsi pemilih Tiongkok di kalangan responden Singapura melonjak menjadi 66,3 persen pada 2026, kenaikan 19,2 poin dalam setahun. Singapura adalah mitra keamanan dekat Amerika Serikat, dengan fasilitas yang dipakai Angkatan Laut Amerika Serikat, dan elitenya secara tradisional memandang kehadiran Amerika Serikat sebagai penyeimbang yang diperlukan. Survei 2026 juga mencatat bahwa 76,8 persen responden Singapura menyebut kepemimpinan Amerika Serikat di bawah Trump sebagai kekhawatiran geopolitik utama, tertinggi di antara sebelas negara. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan sedang, adalah bahwa lonjakan Singapura mencerminkan kecemasan negara dagang terbuka terhadap proteksionisme dan ketidakpastian kebijakan Washington, bukan pergeseran aliansi.

    Kasus Indonesia memerlukan pembacaan berlapis. Kecondongan ke Tiongkok yang sangat tinggi, 80,1 persen, berdampingan dengan fakta bahwa 51,7 persen responden Indonesia menempatkan perambahan Tiongkok di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen sebagai kekhawatiran utama mereka di Laut Cina Selatan, serta 67,8 persen menyebut kepemimpinan Amerika Serikat di bawah Trump sebagai kekhawatiran geopolitik utama. Artinya, elite Indonesia tidak naif terhadap Tiongkok; mereka mencatat ancaman maritim, tetapi menilai risiko dari Washington lebih menonjol. Kombinasi solidaritas atas Gaza, ketergantungan ekonomi pada Tiongkok, dan tradisi politik luar negeri bebas aktif menjelaskan pola ini, dengan keyakinan sedang. Langkah Indonesia bergabung dengan BRICS pada awal 2025 konsisten dengan suasana elite tersebut, meski pemerintah Indonesia sendiri menegaskan bahwa keanggotaan itu tidak berarti meninggalkan kemitraan dengan Barat.

    Kasus Filipina dan Vietnam memperlihatkan bahwa geografi ancaman tetap menentukan. Meski proporsi pemilih Tiongkok naik di kedua negara pada 2026, mayoritas tetap memilih Amerika Serikat: 76,8 persen di Filipina dan 59,2 persen di Vietnam. Perlu dicatat bahwa Vietnam, negara komunis dengan hubungan partai yang erat dengan Partai Komunis Tiongkok, secara konsisten menjadi salah satu negara paling pro-Amerika Serikat dalam survei ini, sebuah bukti bahwa ideologi politik bukan penentu utama kecondongan elite. Sebaliknya, kedekatan geografis dengan sumber ancaman dan pengalaman sengketa langsung jauh lebih menentukan.

    Kelompok negara berayun memberi pelajaran tersendiri tentang sensitivitas data. Laos memperlihatkan ayunan paling liar: dari sekitar 80 persen pemilih Tiongkok pada 2021 dan 2022 menurut catatan Hutt, turun ke 41,1 persen pada 2023, melonjak ke sekitar 70,6 persen pada 2024, lalu kembali ke sekitar 51 persen pada 2025 dan hampir seimbang pada 2026. Negara yang secara ekonomi sangat dekat dengan Tiongkok ternyata tidak menghasilkan kecondongan elite yang stabil. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan rendah hingga sedang, adalah bahwa ayunan Laos sebagian mencerminkan ukuran sampel yang kecil dan perubahan komposisi responden, dan sebagian lagi mencerminkan ambivalensi nyata elite terhadap ketergantungan. Kamboja dan Myanmar, yang sering dianggap berada di orbit Tiongkok, justru mencatat mayoritas pemilih Amerika Serikat pada 2025 dan 2026, masing-masing 61,0 dan 61,4 persen pada 2026. Untuk Myanmar, pola ini masuk akal mengingat responden elite cenderung berasal dari kalangan yang kritis terhadap junta militer, yang menjalin hubungan erat dengan Beijing. Untuk Kamboja, angka itu mengingatkan bahwa sikap elite dapat berbeda tajam dari orientasi pemerintah, sebuah kesenjangan yang justru bernilai bagi analis.

    Timor-Leste, anggota termuda ASEAN, menambah dimensi baru. Proporsi pemilih Tiongkok naik dari 40,9 persen pada 2025 menjadi 58,2 persen pada 2026, kenaikan 17,3 poin. Dengan jumlah responden yang hanya sekitar 3,3 persen dari total sampel, atau kira-kira 66 orang, angka ini harus dibaca dengan sangat hati-hati. Namun arah pergeserannya sejalan dengan negara-negara lain yang mencatat kecemasan terhadap kebijakan Amerika Serikat. Bagi pengguna dataset, masuknya Timor-Leste juga menjadi pengingat praktis bahwa rata-rata regional 2026 tidak sepenuhnya dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sehingga seri sepuluh negara perlu dipertahankan sebagai acuan utama.

    Dataset ini juga memungkinkan latihan pembobotan yang mengungkap distorsi rata-rata regional. Dengan memakai perkiraan populasi 2024 yang dibulatkan berdasarkan Indikator Pembangunan Dunia Bank Dunia, rata-rata yang dibobot menurut populasi untuk 2026 menghasilkan sekitar 56,9 persen pemilih Tiongkok, lebih tinggi daripada rata-rata sederhana 52,0 persen. Untuk 2025, ketika rata-rata sederhana menunjukkan keunggulan Amerika Serikat, rata-rata berbobot justru menghasilkan sekitar 50,4 persen untuk Tiongkok. Bila Indonesia dikeluarkan, rata-rata berbobot 2026 turun menjadi sekitar 40,9 persen. Latihan ini bersifat ilustratif, karena responden adalah elite dan bukan sampel penduduk, tetapi ia menunjukkan dengan keyakinan tinggi bahwa headline regional sangat sensitif terhadap pilihan pembobotan, dan bahwa sikap elite Indonesia menjadi variabel paling menentukan bagi gambaran kawasan.

    VI

    Tabel Pendukung: Pengaruh, Kepercayaan, dan Kekhawatiran 2026

    Tabel 3a. Indikator pendukung tingkat ASEAN, 2026 (%)
    IndikatorTiongkokASJepangUEIndiaASEAN
    Kekuatan ekonomi paling berpengaruh55,915,37,13,01,513,2
    Kekuatan politik-strategis paling berpengaruh40,0n.a.n.a.n.a.n.a.n.a.
    Tingkat kepercayaan39,844,065,655,938,5

    Sumber: ISEAS 2026; Databoks Katadata untuk rincian pengaruh ekonomi. Kepercayaan terhadap AS: 42,4% (2024), 47,2% (2025), 44,0% (2026).

    Tabel 3b. Dua indikator kekhawatiran per negara, 2026 (%)
    NegaraKepemimpinan AS di bawah Trump sebagai kekhawatiran geopolitik utamaPerambahan Tiongkok di ZEE/landas kontinen sebagai kekhawatiran utama Laut Cina Selatan
    Brunei51,664,5
    Kamboja43,547,5
    Indonesia67,851,7
    Laos52,954,8
    Malaysia51,552,1
    Myanmar38,154,5
    Filipina43,164,5
    Singapura76,835,8
    Thailand56,142,7
    Timor-Leste44,834,3
    Vietnam44,666,3

    Tabel 3a memperlihatkan paradoks sentral geopolitik Asia Tenggara. Tiongkok diakui secara luas sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh, dipilih 55,9 persen responden, hampir empat kali lipat Amerika Serikat yang hanya 15,3 persen. Tiongkok juga dipandang sebagai kekuatan politik-strategis paling berpengaruh oleh 40,0 persen responden. Namun dalam hal kepercayaan, Tiongkok hanya berada di urutan keempat dengan 39,8 persen, di bawah Jepang (65,6 persen), Uni Eropa (55,9 persen), dan Amerika Serikat (44,0 persen). Ringkasan Sinic Analytica mencatat bahwa di antara responden yang menyebut Tiongkok sebagai kekuatan paling berpengaruh, 55,4 persen khawatir terhadap pengaruh ekonominya dan 66,1 persen khawatir terhadap pengaruh politik-strategisnya.

    Paradoks ini memperkuat penafsiran berbasis lindung nilai. Elite kawasan memilih Tiongkok dalam pertanyaan biner bukan karena percaya, melainkan karena menilai ketergantungan ekonomi sebagai kenyataan yang tidak dapat diabaikan dan karena kecewa terhadap alternatifnya. Kepercayaan yang jauh lebih tinggi terhadap Jepang dan Uni Eropa menunjukkan adanya permintaan akan mitra ketiga yang dapat mengurangi tekanan pilihan biner. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan tinggi, adalah bahwa pertanyaan “dipaksa memilih” mengukur penilaian relatif terhadap dua pilihan yang sama-sama tidak sepenuhnya disukai, bukan dukungan positif terhadap salah satunya.

    Tabel 3b memperlihatkan bahwa kekhawatiran elite tidak satu arah. Di Singapura, kekhawatiran terhadap kepemimpinan Amerika Serikat mencapai 76,8 persen, sementara kekhawatiran tentang perambahan maritim Tiongkok hanya 35,8 persen, terendah kedua di kawasan. Di Vietnam dan Filipina, pola terbalik: kekhawatiran terhadap perambahan Tiongkok tinggi, masing-masing 66,3 persen dan 64,5 persen, sementara kekhawatiran terhadap kepemimpinan Amerika Serikat lebih rendah. Indonesia menempati posisi unik dengan kedua kekhawatiran berada di atas lima puluh persen, yang mencerminkan dilema negara kepulauan terbesar di kawasan: terancam di laut oleh Tiongkok, tetapi juga tidak nyaman dengan arah kebijakan Amerika Serikat.

    Data pendukung lain dari survei 2026 juga relevan bagi pengguna dataset. Tantangan regional paling dikhawatirkan adalah perubahan iklim dan cuaca ekstrem (60,0 persen), ketegangan ekonomi antarkekuatan besar (51,7 persen), dan ketidakstabilan politik domestik (46,1 persen). Lebih dari 55,6 persen responden memperkirakan hubungan negara mereka dengan Tiongkok akan membaik dalam tiga tahun ke depan, menurut The Thaiger. Kombinasi angka-angka ini memberi konteks penting: elite kawasan tidak sedang memilih blok, melainkan mencari stabilitas di tengah ketidakpastian yang bersumber dari banyak arah.

    VII

    Kamus Data dan Panduan Penggunaan

    Tabel 4. Kamus data
    VariabelDefinisiSatuan/JenisCakupanCatatan
    countryNegara asal respondenTeks (nama negara)11 negara ASEANTimor-Leste mulai 2025
    yearTahun edisi survei (bukan tahun publikasi data mentah)Bilangan bulat2020–2026Survei dijalankan Januari–Februari
    align_chinaProporsi responden yang memilih Tiongkok bila ASEAN “dipaksa memilih”Persen (0–100)Per negara 2023–2026; regional 2020–2026align_us = 100 − align_china
    align_usProporsi responden yang memilih Amerika SerikatPersen (0–100)Sama dengan di atasDesain biner, tanpa opsi netral
    source_codeStatus nilaiKategori: L, D, n.a.Semua nilaiL = dilaporkan; D = diturunkan; n.a. = tidak tersedia
    econ_influenceKekuatan yang dinilai paling berpengaruh secara ekonomiPersen per kekuatanASEAN 2026Pilihan tunggal
    trustProporsi yang “yakin” atau “sangat yakin” kekuatan tersebut akan “berbuat benar”PersenASEAN 2026; AS 2024–2026Rumusan mengikuti laporan ISEAS
    concern_us_trumpProporsi yang memilih kepemimpinan AS di bawah Trump sebagai kekhawatiran geopolitik utamaPersenPer negara 2026Pertanyaan pilihan ganda (Q8)
    concern_scs_eezProporsi yang menempatkan perambahan Tiongkok di ZEE/landas kontinen sebagai kekhawatiran utama Laut Cina SelatanPersenPer negara 2026Pertanyaan pilihan ganda (Q10)

    Untuk memudahkan pemakaian ulang, Tabel 2 disediakan dalam format CSV yang dapat diunduh langsung dari halaman ini. Berkas itu memuat lima kolom, yaitu negara, tahun, proporsi pemilih Tiongkok, proporsi pemilih Amerika Serikat, dan kode status nilai, dalam format panjang yang siap dipakai di R, Python, Stata, atau lembar kerja. Pengguna dianjurkan selalu menyertakan kolom kode status dalam analisis, sehingga nilai yang diturunkan dapat dibedakan atau diuji kepekaannya.

    Panduan penggunaan pertama menyangkut unit analisis. Data ini adalah agregat persepsi elite per negara per tahun, bukan data individu. Karena itu, analisis yang menyimpulkan perilaku individu dari data agregat, sebuah kekeliruan yang dikenal sebagai ecological fallacy, harus dihindari. Pernyataan seperti “warga Indonesia pro-Tiongkok” tidak dapat diturunkan dari dataset ini; pernyataan yang sah adalah “responden elite Indonesia dalam survei ISEAS 2026 condong memilih Tiongkok dalam pertanyaan biner hipotetis”.

    Panduan kedua menyangkut ukuran sampel per negara. Dengan 2.008 responden yang tersebar di sebelas negara, jumlah responden per negara berkisar dari sekitar 66 untuk Timor-Leste (3,3 persen) hingga sekitar 247 untuk Singapura (12,3 persen). Margin kesalahan teoretis untuk sampel sebesar itu, seandainya sampel acak, berkisar dari sekitar 6 hingga 12 poin persentase. Karena sampel bersifat purposif, margin kesalahan dalam arti statistik klasik tidak berlaku, tetapi angka itu memberi gambaran tentang ketidakpastian: perubahan per negara di bawah sekitar sepuluh poin sebaiknya tidak ditafsirkan sebagai pergeseran substantif tanpa dukungan bukti lain.

    Panduan ketiga menyangkut pembandingan antartahun. Komposisi responden menurut afiliasi dan negara berubah dari tahun ke tahun, dan Timor-Leste baru masuk pada 2025. Perbandingan regional harus memakai basis yang setara, misalnya rata-rata sepuluh negara, dan perubahan komposisi sektor perlu dicatat sebagai sumber variasi yang mungkin. Panduan keempat adalah pengutipan: pengguna dianjurkan mengutip laporan ISEAS asli sebagai sumber primer dan dataset ini sebagai kompilasi sekunder, dengan menyebut kode status nilai yang dipakai.

    VIII

    Perbandingan Internasional: Pew 2025, Afrobarometer 2026, dan Pelajaran Lintas Kawasan

    Data Asia Tenggara menjadi lebih bermakna ketika ditempatkan dalam konteks survei global. Pembanding pertama adalah survei sikap global Pew Research Center yang dijalankan pada 8 Januari sampai 26 April 2025 terhadap 28.333 orang dewasa di 24 negara di luar Amerika Serikat. Median pandangan positif terhadap Amerika Serikat adalah 49 persen, sedangkan terhadap Tiongkok 37 persen. Pew mencatat bahwa pandangan terhadap Amerika Serikat memburuk sementara pandangan terhadap Tiongkok membaik di banyak negara, dan secara khusus menyebut Indonesia sebagai salah satu negara tempat Tiongkok dinilai lebih baik daripada Amerika Serikat. Berbeda dengan ISEAS, Pew memakai sampel penduduk dewasa yang representatif secara nasional, sehingga kesesuaian arah antara kedua survei untuk Indonesia memberi validasi silang yang berharga: kecondongan elite Indonesia tampaknya tidak terpisah jauh dari sikap publiknya.

    Pembanding kedua adalah Afrika. Laporan African Insights 2026 dari Afrobarometer, sebagaimana diberitakan MyJoyOnline pada 6 Agustus 2026, mencakup 38 negara Afrika dan menemukan 62 persen responden menilai pengaruh Tiongkok positif, sementara penilaian positif terhadap Amerika Serikat turun dari 59 persen menjadi 53 persen di 30 negara. Temuan paling relevan bagi kajian ini adalah preferensi netralitas: mayoritas besar responden menolak memilih pihak dalam rivalitas kekuatan besar. Pola ini sejalan dengan teori lindung nilai dan menunjukkan bahwa sikap elite Asia Tenggara bukan anomali regional, melainkan bagian dari gejala global di dunia Selatan: penilaian yang semakin kritis terhadap Amerika Serikat, pengakuan pragmatis terhadap Tiongkok, dan keengganan kuat untuk terseret ke dalam blok.

    Pembanding ketiga adalah kasus Singapura, yang secara internal memperlihatkan bagaimana sikap elite dapat berbeda dari arsitektur keamanan negara. Buku tahun 2025 berjudul Intelligence as Statecraft: Singapore’s Strategic Transformation in the Indo-Pacific menguraikan bagaimana Singapura membangun kemitraan intelijen dengan Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan negara-negara lain sambil menjaga otonomi strategisnya. Dengan latar seperti itu, lonjakan kecondongan responden Singapura ke Tiongkok pada 2026 tidak dapat dibaca sebagai sinyal perubahan aliansi; ia lebih tepat dibaca sebagai indikator kecemasan elite tentang keandalan mitra utama. Kesenjangan antara sikap dan struktur ini menjadi pelajaran metodologis penting bagi pengguna dataset di mana pun.

    Literatur internasional juga mengingatkan tentang keterbatasan survei pilihan biner. Edisi Foreign Affairs Januari/Februari 2024 bertajuk “The Self-Doubting Superpower”, dengan esai sampul Fareed Zakaria, menggambarkan keraguan diri Amerika Serikat terhadap tatanan yang dibangunnya sendiri. Persepsi luar negeri terhadap Amerika Serikat, sebagaimana diukur oleh ISEAS, Pew, dan Afrobarometer, tampaknya mencerminkan keraguan diri itu: ketika Washington sendiri tampak ragu, mitra-mitranya menyesuaikan ekspektasi. Dalam konteks ini, angka 2026 di Asia Tenggara lebih tepat dipahami sebagai bagian dari penyesuaian global terhadap ketidakpastian kepemimpinan Amerika Serikat, ketimbang sebagai kemenangan diplomatik Tiongkok.

    Perbandingan lintas kawasan menghasilkan tiga pelajaran. Pertama, arah pergeseran sikap terhadap Amerika Serikat pada 2025 sampai 2026 konsisten di Asia Tenggara, Afrika, dan sampel global Pew, sehingga dapat dinilai dengan keyakinan tinggi sebagai gejala lintas kawasan. Kedua, kepercayaan terhadap Tiongkok tetap terbatas di semua survei, sehingga kecondongan ke Tiongkok lebih banyak bersifat pragmatis. Ketiga, preferensi netralitas dan permintaan akan mitra ketiga, seperti Jepang dan Uni Eropa di Asia Tenggara, merupakan pola yang kuat dan sering terabaikan dalam headline yang berfokus pada pilihan biner.

    IX

    Argumen Tandingan: “Survei Elite Bukan Barometer Geopolitik”

    Argumen tandingan terkuat terhadap pemakaian dataset ini perlu dikemukakan secara utuh. Argumen ini menyatakan bahwa survei ISEAS, betapapun konsisten, tidak layak dijadikan barometer geopolitik. Sampelnya purposif dan tidak representatif; jumlah responden per negara kecil; pertanyaan biner memaksa pilihan yang tidak realistis; dan rata-rata regional memberi bobot sama pada negara dengan populasi yang sangat berbeda. David Hutt, dalam analisisnya untuk Radio Free Asia pada April 2024, menunjukkan bahwa keunggulan Tiongkok 2024 setara dengan sekitar dua puluh responden dari 1.994, bahwa pertanyaan itu menanyakan pilihan ASEAN sebagai blok padahal ASEAN bahkan tidak mampu bersepakat tentang Myanmar, dan bahwa headline media mengabaikan pertanyaan lain yang menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap Tiongkok. Argumen ini menyimpulkan bahwa mengompilasi angka-angka itu menjadi dataset hanya memberi kesan presisi palsu.

    Kritik ini kuat dan sebagian besar sahih. Kajian ini menerimanya pada empat titik: sampel memang tidak representatif dalam arti statistik; selisih tipis memang tidak bermakna; rata-rata sederhana memang mendistorsi; dan pertanyaan biner memang tidak mencerminkan pilihan kebijakan nyata. Itulah sebabnya dataset ini menyertakan kode status nilai, uji konsistensi, latihan pembobotan, panduan ukuran sampel, dan indikator pendukung tentang kepercayaan serta kekhawatiran.

    Meski demikian, kesimpulan bahwa data ini tidak berguna tidak dapat diterima, karena tiga alasan. Pertama, nilai survei ini tidak terletak pada akurasi titik, melainkan pada konsistensi instrumen dari tahun ke tahun. Pertanyaan yang sama, diajukan kepada kategori responden yang serupa, pada waktu yang sama setiap tahun, menghasilkan seri waktu yang memungkinkan identifikasi pergeseran besar, misalnya lonjakan 19,2 poin di Singapura atau 29,5 poin di Laos pada 2024, yang jauh melampaui ketidakpastian sampel. Kedua, populasi sasaran survei, yaitu elite pembuat dan pemengaruh kebijakan, justru merupakan kelompok yang paling relevan bagi analisis kebijakan luar negeri; survei penduduk umum menjawab pertanyaan yang berbeda. Ketiga, validasi silang dengan Pew dan Afrobarometer menunjukkan bahwa arah pergeseran yang ditangkap ISEAS konsisten dengan survei berbasis sampel representatif, sehingga data ini menangkap sinyal nyata, bukan sekadar derau.

    Dengan demikian, sikap yang tepat bukan menolak data, melainkan memakainya dengan disiplin: membaca pergeseran besar dan pola struktural, mengabaikan selisih kecil, selalu mendampingkan pilihan biner dengan indikator kepercayaan dan kekhawatiran, dan tidak pernah menyimpulkan kebijakan negara dari sikap elite semata. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan tinggi, adalah bahwa dataset ini paling bernilai sebagai sistem peringatan dini tentang perubahan suasana elite, bukan sebagai peta aliansi.

    X

    Skenario dan Penanda Arah 2027–2029

    Berdasarkan pola dalam dataset, kajian ini merumuskan tiga skenario untuk sikap elite Asia Tenggara hingga edisi survei 2029. Skenario disusun untuk membantu pengguna data menafsirkan rilis tahunan berikutnya, bukan untuk meramalkan angka tertentu.

    Skenario sikap elite ASEAN 2027–2029 (penilaian penulis)

    A. Osilasi berlanjut di sekitar titik tengah50%
    B. Kecondongan ke Tiongkok mengeras30%
    C. Pemulihan kecondongan ke AS20%

    Probabilitas subjektif per Oktober 2026; diperbarui setelah setiap rilis survei.

    Skenario A, osilasi berlanjut, membayangkan rata-rata regional terus bergerak dalam kisaran sekitar 45 sampai 55 persen, dengan pemenang yang berganti mengikuti peristiwa paling menonjol menjelang periode survei Januari sampai Februari. Polarisasi antarnegara tetap tinggi, dengan Indonesia, Malaysia, dan Brunei condong ke Tiongkok serta Filipina dan Vietnam condong ke Amerika Serikat. Skenario ini paling mungkin karena paling konsisten dengan pola tujuh tahun terakhir dan dengan logika lindung nilai.

    Skenario B, kecondongan ke Tiongkok mengeras, membayangkan rata-rata regional bertahan di atas 55 persen untuk Tiongkok selama dua atau tiga tahun berturut-turut, dengan negara berayun seperti Singapura dan Thailand mengonsolidasi kecondongannya. Pemicu yang mungkin meliputi berlanjutnya tarif dan ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat, berkurangnya kehadiran diplomatik dan bantuan Amerika Serikat, serta inisiatif ekonomi Tiongkok yang lebih menarik. Penanda utamanya adalah kenaikan kepercayaan terhadap Tiongkok di atas 45 persen; tanpa itu, kecondongan tetap bersifat negatif terhadap Washington, bukan positif terhadap Beijing.

    Skenario C, pemulihan kecondongan ke Amerika Serikat, membayangkan rata-rata regional kembali di atas 55 persen untuk Amerika Serikat. Pemicu yang mungkin meliputi krisis besar di Laut Cina Selatan yang memperlihatkan perilaku koersif Tiongkok secara dramatis, perubahan arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat, atau pergantian pemerintahan di Washington setelah pemilu presiden November 2028, yang akan tercermin pada survei 2029. Probabilitasnya lebih rendah karena memerlukan perubahan besar dalam salah satu dari dua arah tersebut dalam waktu singkat.

    Penanda arah yang perlu dipantau meliputi: tingkat kepercayaan terhadap Tiongkok dan Amerika Serikat dalam setiap rilis; besarnya kekhawatiran tentang kepemimpinan Amerika Serikat dibandingkan kekhawatiran tentang perambahan maritim Tiongkok; perubahan kecondongan di Singapura dan Thailand sebagai negara berayun yang berpengaruh; insiden besar di Laut Cina Selatan, terutama yang melibatkan Filipina atau Indonesia; serta perkembangan kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap negara-negara ASEAN. Pergeseran searah pada tiga atau lebih penanda akan menjadi alasan untuk memperbarui probabilitas.

    XI

    Rekomendasi bagi Pengguna Data dan Pembuat Kebijakan

    Bagi Kementerian Luar Negeri Indonesia, kajian ini merekomendasikan agar data sikap elite regional dipakai sebagai indikator dalam perumusan kebijakan luar negeri bebas aktif, khususnya untuk mengukur ruang gerak diplomasi Indonesia di dalam ASEAN. Mulai 2027, kementerian dapat menyusun analisis tahunan yang mendampingkan rilis ISEAS dengan survei opini publik nasional yang representatif, sehingga kesenjangan antara sikap elite dan publik dapat dipantau. Sikap elite Indonesia yang sangat condong ke Tiongkok, bersamaan dengan kekhawatiran tinggi tentang perambahan maritim, perlu dibaca sebagai mandat untuk diplomasi yang tegas di Natuna sekaligus pragmatis di bidang ekonomi.

    Bagi Sekretariat ASEAN dan pemerintah negara anggota, rekomendasinya adalah mendukung pengembangan survei opini regional berbasis sampel representatif, sebagai pelengkap survei elite, dalam kerangka kerja sama riset ASEAN, dengan target edisi perdana pada 2028. Pengetahuan tentang sikap publik, bukan hanya elite, semakin penting ketika protes generasi muda di kawasan menunjukkan bahwa jarak antara elite dan warga dapat berdampak besar terhadap stabilitas.

    Bagi pemerintah Amerika Serikat, data menunjukkan bahwa penurunan kecondongan elite kawasan berkorelasi dengan kekhawatiran terhadap kebijakan Washington sendiri. Rekomendasinya adalah menjadikan kepastian kebijakan dagang dan kehadiran diplomatik yang konsisten sebagai prioritas, terutama terhadap Singapura dan Thailand sebagai negara berayun yang berpengaruh, sebelum siklus survei 2027. Bagi pemerintah Tiongkok, data menunjukkan bahwa kecondongan pragmatis tidak disertai kepercayaan; tanpa perubahan perilaku di Laut Cina Selatan, keunggulan dalam pertanyaan biner akan tetap rapuh. Bagi Jepang dan Uni Eropa, tingkat kepercayaan tertinggi merupakan modal strategis yang dapat dimanfaatkan untuk menawarkan alternatif konkret dalam investasi infrastruktur dan transisi energi.

    Bagi media dan analis, rekomendasinya adalah menghentikan pembacaan headline yang menyatakan kawasan “memilih” salah satu kekuatan berdasarkan selisih beberapa poin, dan sebagai gantinya melaporkan polarisasi antarnegara, indikator kepercayaan, serta keterbatasan sampel. Bagi perguruan tinggi dan pengajar, dataset ini dapat dipakai dalam mata kuliah geopolitik, studi Asia Tenggara, dan metodologi riset sebagai latihan tentang konstruksi dataset, nilai turunan, pembobotan, dan bahaya ecological fallacy, mulai semester genap 2026/2027. Bagi ISEAS sendiri, rekomendasinya adalah mempublikasikan data per negara untuk seluruh edisi dalam format terbuka yang dapat diunduh, termasuk ukuran sampel per negara dan distribusi sektor, untuk memperkuat transparansi dan pemakaian ulang.

    Bagi analis intelijen dan peramalan strategis, rekomendasinya adalah memasukkan seri ini ke dalam dasbor indikator suasana regional, dengan ambang perubahan yang jelas, misalnya pergeseran per negara di atas sepuluh poin atau perubahan kepercayaan di atas lima poin, sebagai pemicu analisis mendalam. Pendekatan ini mengubah survei tahunan dari sekadar berita menjadi alat peringatan dini yang terstruktur.

    XII

    Keterbatasan dan Kesimpulan

    Dataset ini memiliki keterbatasan yang tidak boleh diabaikan. Pertama, sebagian besar nilai per negara untuk 2023 dan 2024 serta sebagian nilai 2026 diturunkan dari angka yang dilaporkan sumber sekunder, bukan diambil langsung dari tabel ISEAS, karena bagian laporan 2026 yang memuat tabel kekuatan besar tidak dapat diekstraksi secara utuh dari berkas terbuka. Uji konsistensi terhadap rata-rata regional mengurangi risiko kesalahan, tetapi tidak menghapusnya. Kedua, data per negara untuk 2020 sampai 2022 serta untuk Kamboja dan Myanmar pada 2023 sampai 2024 tidak tersedia dalam sumber terbuka yang dapat diverifikasi. Ketiga, latihan pembobotan memakai perkiraan populasi yang dibulatkan dan secara konseptual tidak sepenuhnya tepat untuk sampel elite. Keempat, tafsir tentang sebab-sebab pergeseran bersifat kualitatif dan diberi label keyakinan, karena survei tidak mengukur sebab secara langsung.

    Dengan memperhitungkan keterbatasan itu, kesimpulan kajian ini dapat dirumuskan dengan jelas. Sikap elite Asia Tenggara terhadap rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok bersifat cair, terpolarisasi menurut geografi ancaman, dan pragmatis. Pergeseran 2026 ke arah Tiongkok lebih merupakan ekspresi kecemasan terhadap Washington daripada kepercayaan kepada Beijing, sebagaimana diperlihatkan oleh rendahnya kepercayaan terhadap Tiongkok dan tingginya kepercayaan terhadap Jepang serta Uni Eropa. Indonesia, sebagai negara terbesar di kawasan, menjadi variabel paling menentukan bagi gambaran regional, dan sikap elitenya menggabungkan kecondongan ekonomi ke Tiongkok dengan kewaspadaan maritim yang tinggi.

    Pelajaran utama bagi pembaca global adalah bahwa Asia Tenggara tidak sedang memilih blok. Kawasan ini sedang menyesuaikan diri dengan dunia yang kurang dapat diprediksi, memakai survei tahunan sebagai cermin suasana dan lindung nilai sebagai strategi. Dataset yang terdokumentasi dengan baik, lengkap dengan keterbatasannya, membantu memisahkan sinyal dari derau, dan dengan demikian membantu pembuat kebijakan di dalam maupun di luar kawasan menghindari dua kesalahan yang sama berbahayanya: membaca setiap rilis sebagai titik balik, atau mengabaikan pergeseran besar ketika benar-benar terjadi.

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    1. ISEAS–Yusof Ishak Institute. (2026). The State of Southeast Asia: 2026 Survey Report. Singapura: ISEAS.
    2. ISEAS–Yusof Ishak Institute. (2024). The State of Southeast Asia: 2024 Survey Report. Singapura: ISEAS.
    3. World Bank. Population, total (SP.POP.TOTL). World Development Indicators.
    4. BRICS Brasil. (2025, 6 Januari). Brazil announces Indonesia as full member of BRICS.
    5. Pew Research Center. (2025, 15 Juli). Views of the U.S. have worsened while opinions of China have improved in many surveyed countries.

    Literatur ilmiah

    1. Kuik, C.-C. (2008). The Essence of Hedging: Malaysia and Indonesia’s Response to a Rising China. Contemporary Southeast Asia, 30(2).
    2. Kuik, C.-C. (2015). Why, When, and How Do Weaker States Hedge? Explaining Southeast Asia’s Responses to China’s Rise. Shorenstein APARC, Stanford University.

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    1. Ao, T. (2025, 2 Mei). ‘State of Southeast Asia 2025’: Key Highlights. MP-IDSA.
    2. Chong, T. (2022, 16 Februari). 2022 State of Southeast Asia Survey: Diverse Perspectives and Hard Realities. Fulcrum.
    3. Hutt, D. (2024, 20 April). No, Southeast Asians do not now prefer China over the US. Radio Free Asia.
    4. Sinic Analytica. (2026). The State of Southeast Asia 2026: China edges past the US at 52% yet ranks only fourth on trust.
    5. Afrobarometer, via MyJoyOnline. (2026, 6 Agustus). Africans reject choosing sides as China, US compete for influence.

    Media dan pemberitaan

    1. CNBC. (2021, 16 Februari). ASEAN would choose U.S. over China if forced to pick sides, survey.
    2. Radio Free Asia. (2024, 3 April). ASEAN is now more pro-China than US: survey.
    3. Lim, K. (2026, 7 April). Most Asean prefer China over US as partner, poll; Trump cited as biggest concern. South China Morning Post.
    4. Thairath English. (2026). Laporan tentang hasil per negara survei State of Southeast Asia 2026.
    5. The Thaiger. (2026, 7 April). Southeast Asia leans toward China over US, 2026 survey finds.
    6. Databoks Katadata. (2026). China is rated as the most influential economic power in Southeast Asia in 2026.

    Arsip & Pustaka

    1. Bustamam-Ahmad, K., & Ibrahim, F. Z. (2025). Intelligence as Statecraft: Singapore’s Strategic Transformation in the Indo-Pacific. Geopolitics & Strategic Intelligence Series #5. Arsip & Pustaka.
    2. Council on Foreign Relations. (2024). Foreign Affairs, 103(1): The Self-Doubting Superpower. Arsip & Pustaka.

    Cara Mengutip

    Bustamam-Ahmad, Kamaruzzaman. (2026). Peta Kecondongan Asia Tenggara: Dataset Pilihan Elite antara Amerika Serikat dan Tiongkok 2020–2026: Struktur, Kamus Data, dan Batas Tafsir. Dataset. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/dataset-kecondongan-asean-as-tiongkok/

    KB
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad Guru Besar Antropologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh; pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy. Meraih PhD Sosiologi dari La Trobe University.
Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →