Tag: Korea Selatan

  • Menyerap Tanpa Mencipta: Kapasitas Produksi Pengetahuan Negara-Negara ASEAN

    Menyerap Tanpa Mencipta: Kapasitas Produksi Pengetahuan Negara-Negara ASEAN

    Datasets · Knowledge Systems

    Menyerap Tanpa MenciptaKapasitas produksi pengetahuan negara-negara ASEAN: dataset komparatif terdokumentasi dengan tolok ukur Korea Selatan, Tiongkok, dan India

    Asia Tenggara telah menjadi salah satu penyerap teknologi paling efektif di dunia, tetapi tetap menjadi produsen pengetahuan yang tipis. Dataset ini menghimpun belanja riset, jumlah peneliti, artikel ilmiah, paten, pendidikan tinggi, dan peringkat inovasi untuk sebelas negara, lengkap dengan tahun, sumber, dan kamus data, lalu membaca celah antara menyerap dan mencipta sebagai persoalan arsitektur sistem pengetahuan nasional.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • 1 November 2026
    • ~32 menit baca
    • Datasets
    • Bahasa Indonesia
    Daftar Isi
    1. IPertanyaan dan jawaban pokok
    2. IIKerangka analitis
    3. IIIDataset inti
    4. IVKamus data
    5. VCatatan metode dan mutu data
    6. VICelah absorpsi dan produksi
    7. VIIPosisi Indonesia
    8. VIIILintasan pembanding
    9. IXArgumen tandingan
    10. XSkenario hingga 2030
    11. XIRekomendasi per aktor
    12. XIIKeterbatasan dan kesimpulan
    Visualisasi data kapasitas riset dan inovasi negara-negara ASEAN dibandingkan dengan Korea Selatan, Tiongkok, dan India
    Dataset ini membandingkan input riset, output pengetahuan, dan output teknologi sebelas negara Asia, dengan tahun dan sumber untuk setiap angka.

    Abstrak

    Kajian ini menyajikan dataset komparatif terdokumentasi tentang kapasitas produksi pengetahuan delapan negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Brunei, Kamboja) dengan Korea Selatan, Tiongkok, dan India sebagai tolok ukur. Data dihimpun dari World Development Indicators Bank Dunia (yang meneruskan statistik UNESCO Institute for Statistics dan WIPO), profil Global Innovation Index 2026, serta laporan Indikator Iptek BRIN 2024, dengan tahun observasi terakhir dicatat untuk setiap nilai dan “n.a.” untuk nilai yang tidak terverifikasi. Kerangka analisisnya membedakan tiga lapis: input riset, output pengetahuan berupa publikasi, dan output teknologi berupa paten dan penerimaan kekayaan intelektual. Temuan pokoknya adalah celah sistematis antara kapasitas menyerap dan kapasitas mencipta. Malaysia, Filipina, dan Thailand mengekspor produk berteknologi tinggi dalam porsi besar, tetapi hanya 11 sampai 19 persen permohonan paten di negara mereka diajukan oleh penduduk, dan pembayaran royalti mereka sebelas sampai dua puluh kali lipat penerimaannya. Indonesia menambah artikel ilmiah dua puluh delapan kali lipat sejak 2010, tetapi permohonan paten residennya turun dari puncak 2019 dan belanja riset menurut ukuran BRIN hanya 0,10 persen PDB pada 2023. Kajian ini menutup dengan catatan metode, kamus data, skenario hingga 2030, dan rekomendasi bagi kementerian, BRIN, Bappenas, universitas, ASEAN COSTI, UNESCO, dan Bank Dunia.

    Tesis

    Asia Tenggara tidak kekurangan akses terhadap pengetahuan dunia; ia kekurangan simpul domestik yang mengubah akses itu menjadi kemampuan mencipta, dan celah itu lebih ditentukan oleh arsitektur institusi serta koalisi politik daripada oleh jumlah publikasi.

    • Input risetBelanja litbang terhadap PDB, peneliti per sejuta penduduk, dan partisipasi pendidikan tinggi.
    • Output pengetahuanArtikel ilmiah dan teknis, absolut dan per sejuta penduduk, beserta lintasannya sejak 2010.
    • Output teknologiPaten residen, rasio paten nonresiden, ekspor teknologi tinggi, dan neraca royalti kekayaan intelektual.

    Kata kunci

    • sistem inovasi nasional
    • kapasitas absorpsi
    • belanja riset dan pengembangan
    • ASEAN
    • jebakan pendapatan menengah
    • paten residen
    • BRIN
    • dataset terdokumentasi
    I

    Pertanyaan, jawaban pokok, dan mengapa ini penting

    Seberapa besar sesungguhnya kapasitas negara-negara Asia Tenggara untuk memproduksi pengetahuan baru, bukan sekadar mengonsumsi, mengadaptasi, atau merakit pengetahuan yang diciptakan di tempat lain? Pertanyaan itu sering dijawab dengan satu angka, biasanya peringkat dalam indeks inovasi global atau jumlah artikel terindeks, lalu diperdebatkan seolah-olah angka itu menggambarkan keseluruhan sistem. Dataset ini menolak jalan pintas tersebut. Ia menghimpun sebelas indikator dari sumber multilateral yang benar-benar diambil pada akhir Oktober 2026, mencatat tahun observasi setiap nilai, menandai kekosongan secara terbuka, dan menyusunnya dalam kerangka yang memisahkan input, output pengetahuan, dan output teknologi.

    Jawaban pokoknya dapat dinyatakan dalam satu kalimat. Kawasan ini telah menjadi penyerap teknologi yang sangat efektif, tetapi sebagian besar negaranya belum membangun simpul domestik yang mengubah penyerapan menjadi penciptaan. Bukti paling tajam datang dari kontras antara dua kelompok angka. Di satu sisi, ekspor berteknologi tinggi mencapai 60,4 persen ekspor manufaktur Filipina, 59,4 persen Singapura, dan 58,6 persen Malaysia pada 2024 menurut World Development Indicators, angka yang lebih tinggi daripada Korea Selatan (36,3 persen). Di sisi lain, penduduk Malaysia hanya mengajukan 841 permohonan paten pada 2024, Filipina 873, dan Thailand 930, sementara Korea mengajukan 195.786 menurut data paten residen WIPO yang diteruskan Bank Dunia. Kawasan ini mengirimkan cip ke seluruh dunia, tetapi hampir tidak mematenkan apa pun yang terkandung di dalamnya (tingkat keyakinan: tinggi).

    Indonesia menempati posisi yang khas dalam pola itu. Negeri ini tidak termasuk penyerap teknologi tinggi yang kuat, karena ekspor teknologi tingginya hanya 8,7 persen ekspor manufaktur pada 2024, dan juga belum menjadi produsen teknologi, karena belanja riset nasionalnya menurut Indikator Iptek, Riset, dan Inovasi Indonesia 2024 terbitan BRIN hanya sekitar Rp20,39 triliun atau 0,10 persen PDB pada 2023. Satu-satunya lapis yang tumbuh dramatis adalah publikasi: jumlah artikel ilmiah dan teknis naik dari 1.391 pada 2010 menjadi 38.992 pada 2023. Indonesia dengan demikian menghadapi celah ganda, yaitu belum cukup menyerap dan belum cukup mencipta, dan pertumbuhan publikasi belum tersambung ke kedua lapis lainnya (tingkat keyakinan: tinggi untuk arah, sedang untuk besaran karena perbedaan metode pengukuran yang diuraikan di Bagian V).

    Persoalan ini penting secara global karena tiga alasan. Pertama, laporan World Development Report 2024 Bank Dunia menempatkan peralihan dari investasi ke penyerapan lalu ke inovasi sebagai syarat keluar dari jebakan pendapatan menengah, dan sebagian besar negara ASEAN kini berada tepat di persimpangan tahap kedua dan ketiga. Kedua, peta rantai pasok teknologi sedang digambar ulang oleh persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok, sehingga negara yang hanya menjadi lokasi perakitan berisiko ditinggalkan ketika keputusan relokasi berikutnya dibuat. Ketiga, negara-negara dengan populasi terbesar di kawasan, yaitu Indonesia, Filipina, dan Vietnam, akan menentukan apakah Asia Tenggara secara keseluruhan menjadi kutub pengetahuan ketiga Asia atau tetap menjadi pinggiran yang produktif di antara Asia Timur Laut dan Asia Selatan.

    Dataset ini disusun sebagai bahan ajar bagi School of Knowledge Systems & Knowledge Management, sehingga ia dirancang agar dapat diperiksa ulang, diperbarui, dan dibantah. Setiap angka dalam tabel menyertakan tahun dan sumber; setiap kode indikator dicatat dalam kamus data; dan setiap keputusan harmonisasi dijelaskan. Kajian ini sengaja tidak mengulang perdebatan tentang metrik publikasi atau tentang miskinnya teori dalam ilmu sosial, dua tema yang sudah dibahas di tempat lain. Fokusnya adalah kapasitas sistem nasional: siapa yang membiayai riset, siapa yang mengerjakannya, apa yang dihasilkan, dan apakah hasil itu kembali ke ekonomi dalam bentuk kemampuan teknologi yang dimiliki sendiri.

    II

    Kerangka analitis: sistem inovasi nasional dan tiga lapis kapasitas

    Kerangka kajian ini bertumpu pada tradisi sistem inovasi nasional. Christopher Freeman, dalam artikel tahun 1995 berjudul “The ‘National System of Innovation’ in Historical Perspective” di Cambridge Journal of Economics, menelusuri gagasan itu hingga Friedrich List dan menunjukkan bahwa kinerja teknologi suatu bangsa ditentukan oleh jaringan lembaga, yakni perusahaan, universitas, lembaga pemerintah, dan sistem pendidikan, beserta cara jaringan itu belajar dan mengimpor teknologi. Bengt-Åke Lundvall, dalam buku National Systems of Innovation: Toward a Theory of Innovation and Interactive Learning (1992; terbit ulang Anthem Press), menambahkan bahwa inti sistem itu adalah pembelajaran interaktif antara pengguna dan produsen pengetahuan. Dari kedua sumber ini kajian ini mengambil satu prinsip metodologis: kapasitas produksi pengetahuan tidak dapat diukur dari satu simpul, karena yang menentukan adalah sambungan antarsimpul.

    Prinsip kedua diambil dari Wesley Cohen dan Daniel Levinthal, yang dalam artikel tahun 1990 berjudul “Absorptive Capacity: A New Perspective on Learning and Innovation” di Administrative Science Quarterly berargumen bahwa kemampuan sebuah organisasi untuk mengenali, mengasimilasi, dan memanfaatkan pengetahuan dari luar sangat bergantung pada pengetahuan terkait yang sudah dimilikinya, dan bahwa riset internal adalah salah satu cara utama membangun kemampuan itu. Implikasinya bagi analisis kebijakan sangat besar. Penyerapan dan penciptaan bukan dua strategi yang bisa dipilih salah satunya; keduanya adalah dua wajah dari investasi yang sama. Negara yang berhenti berinvestasi dalam riset sendiri, dengan alasan cukup mengandalkan teknologi impor, pada akhirnya juga kehilangan kemampuan untuk menyerap teknologi impor itu secara mendalam.

    Atas dasar itu kajian ini menyusun empat dimensi pengukuran. Dimensi input mencakup belanja riset dan pengembangan sebagai persen PDB, peneliti per sejuta penduduk, dan rasio partisipasi kasar pendidikan tinggi. Dimensi output pengetahuan mencakup artikel ilmiah dan teknis. Dimensi output teknologi mencakup permohonan paten oleh penduduk. Dimensi absorpsi mencakup ekspor teknologi tinggi, permohonan paten oleh nonpenduduk, dan pembayaran serta penerimaan biaya penggunaan kekayaan intelektual. Global Innovation Index 2026 dipakai sebagai indikator komposit pembanding, dengan kesadaran bahwa ia sendiri merupakan agregasi dari banyak indikator yang sebagian tumpang tindih dengan dataset ini.

    Empat dimensi kapasitas produksi pengetahuan

    1. 1Inputsumber dayaBelanja litbang, peneliti setara penuh waktu, partisipasi pendidikan tinggi.
    2. 2Output pengetahuanpublikasiArtikel ilmiah dan teknis, absolut dan per sejuta penduduk.
    3. 3Output teknologikepemilikanPaten residen dan penerimaan royalti kekayaan intelektual.
    4. 4AbsorpsipenyerapanEkspor teknologi tinggi, paten nonresiden, pembayaran royalti.

    Pembeda analitis yang paling penting dalam kerangka ini adalah rasio antara dimensi keempat dan dimensi ketiga, yang kajian ini sebut celah absorpsi-produksi. Celah itu diukur dengan dua cara yang saling menguatkan. Cara pertama adalah porsi penduduk dalam total permohonan paten di dalam negeri: semakin kecil porsinya, semakin besar ketergantungan sistem pada penemu asing yang melindungi teknologi mereka di pasar domestik. Cara kedua adalah rasio pembayaran terhadap penerimaan royalti: semakin besar rasionya, semakin besar aliran sewa pengetahuan ke luar negeri dibandingkan aliran masuk dari pengetahuan yang dimiliki sendiri. Kedua ukuran itu tidak sempurna, karena perusahaan multinasional dapat memindahkan pendapatan royalti antarnegara untuk alasan pajak, tetapi keduanya menangkap hal yang luput dari indikator input dan publikasi.

    Kerangka ini juga meminjam tradisi indeks ekonomi pengetahuan. Metodologi Penilaian Pengetahuan Bank Dunia yang dijelaskan Derek Chen dan Carl Dahlman dalam makalah tahun 2005 berjudul The Knowledge Economy, the KAM Methodology and World Bank Operations membagi ekonomi pengetahuan ke dalam empat pilar, yaitu rezim insentif ekonomi dan kelembagaan, pendidikan, sistem inovasi, dan teknologi informasi. Kajian ini tidak membangun indeks komposit baru, karena indeks semacam itu cenderung menyembunyikan kontradiksi antardimensi di balik satu skor. Sebaliknya, kajian ini membiarkan indikator berdiri berdampingan agar kontradiksinya terlihat, karena justru kontradiksi itulah yang menjadi objek analisis.

    Catatan metode ringkasnya sebagai berikut. Sumber utama adalah World Development Indicators Bank Dunia versi pembaruan 8 Oktober 2026, yang untuk belanja litbang dan peneliti meneruskan data UNESCO Institute for Statistics, untuk paten meneruskan data WIPO, dan untuk publikasi meneruskan Science and Engineering Indicators National Science Foundation Amerika Serikat yang menghitung artikel terindeks Scopus. Untuk setiap negara dan indikator diambil observasi terakhir yang tersedia, sehingga tahun observasi berbeda antarnegara dan dicatat di setiap sel. Peringkat inovasi diambil dari profil negara Global Innovation Index 2026 yang diterbitkan WIPO pada akhir September 2026. Data nasional Indonesia dibandingkan dengan laporan BRIN 2024. Periode lintasan yang dianalisis adalah 1996 sampai 2025, bergantung pada ketersediaan seri. Pendekatannya adalah perbandingan deskriptif terstruktur, bukan estimasi kausal, dan setiap penilaian utama diberi tingkat keyakinan.

    III

    Dataset inti: input, output, dan posisi komposit

    Tabel 1 menyajikan dimensi input untuk sebelas negara. Angka belanja litbang dan peneliti berasal dari seri GB.XPD.RSDV.GD.ZS dan SP.POP.SCIE.RD.P6, sedangkan partisipasi pendidikan tinggi berasal dari seri SE.TER.ENRR. Setiap nilai adalah observasi terakhir yang tersedia dalam World Development Indicators per 8 Oktober 2026, dibulatkan untuk keterbacaan, dengan tahun observasi di dalam kurung.

    Tabel 1. Dimensi input: belanja litbang, peneliti, dan partisipasi pendidikan tinggi
    NegaraBelanja litbang (% PDB)Peneliti per sejuta penduduk (FTE)APK pendidikan tinggi (%)
    Indonesia0,28 (2020)395 (2020)44,9 (2023)
    Malaysia1,01 (2022)1.218 (2022)38,5 (2024)
    Singapura1,81 (2022)8.782 (2022)97,3 (2023)
    Thailand0,94 (2023)1.592 (2023)49,1 (2025)
    Vietnam0,41 (2023)836 (2023)37,6 (2024)
    Filipina0,28 (2020)320 (2020)47,4 (2024)
    Brunei Darussalam0,28 (2018)506 (2022)36,4 (2023)
    Kamboja0,09 (2015)30 (2015)21,4 (2024)
    Korea Selatan4,94 (2023)9.472 (2023)111,9 (2024)
    Tiongkok2,58 (2023)2.107 (2023)76,9 (2024)
    India0,65 (2020)259 (2020)34,4 (2025)

    Tabel 1 sudah memperlihatkan tiga kelompok yang jelas. Kelompok pertama adalah Korea dan Singapura, dengan peneliti di atas 8.700 per sejuta penduduk dan belanja riset di atas 1,8 persen PDB. Kelompok kedua adalah Malaysia, Thailand, dan Tiongkok, dengan peneliti antara 1.200 dan 2.100 per sejuta, meskipun intensitas belanja Tiongkok jauh lebih tinggi daripada dua negara ASEAN itu. Kelompok ketiga adalah Indonesia, Vietnam, Filipina, Brunei, Kamboja, dan India, dengan peneliti di bawah 850 per sejuta. Vietnam berada di batas atas kelompok ketiga dengan 836 peneliti per sejuta pada 2023, lebih dari dua kali lipat angka Indonesia tahun 2020, padahal belanja riset kedua negara relatif dekat. Perbedaan itu menunjukkan bahwa jumlah peneliti dapat tumbuh lebih cepat daripada belanja ketika negara memprioritaskan pembentukan tenaga riset, tetapi juga mengingatkan bahwa peneliti yang kurang didanai mudah menjadi pengajar penuh waktu dengan gelar peneliti.

    Kolom partisipasi pendidikan tinggi memperlihatkan paradoks yang tidak boleh dilewatkan. Indonesia (44,9 persen) dan Filipina (47,4 persen) memiliki partisipasi pendidikan tinggi yang lebih tinggi daripada Malaysia (38,5 persen) dan Vietnam (37,6 persen), tetapi intensitas peneliti mereka jauh lebih rendah. Dengan kata lain, perluasan akses pendidikan tinggi di kedua negara kepulauan itu belum dikonversi menjadi kapasitas riset. Sistem pendidikan tinggi mereka tumbuh terutama sebagai sistem pengajaran massal, bukan sebagai sistem produksi pengetahuan, dan ini adalah temuan struktural yang lebih penting daripada selisih peringkat mana pun (tingkat keyakinan: tinggi).

    Tabel 2 menyajikan dimensi output dan posisi komposit. Artikel berasal dari seri IP.JRN.ARTC.SC untuk 2023, paten residen dari seri IP.PAT.RESD untuk 2024, dan nilai per sejuta penduduk dihitung kajian ini dengan membagi angka absolut dengan populasi 2023 dari seri SP.POP.TOTL. Peringkat Global Innovation Index 2026 berasal dari profil negara WIPO untuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Korea, Tiongkok, dan India; peringkat Brunei dan Kamboja diambil dari rangkuman SeasiaStats karena profil WIPO keduanya tidak diambil dalam kajian ini.

    Tabel 2. Dimensi output dan posisi komposit
    NegaraArtikel ilmiah dan teknis (2023)Artikel per sejuta pendudukPaten residen (2024)Paten residen per sejuta pendudukGII 2026: peringkat (input/output)
    Indonesia38.9921391.9316,955 (60/60)
    Malaysia23.69167484123,934 (29/40)
    Singapura11.8942.0101.898320,75 (1/9)
    Thailand16.65623293013,044 (46/41)
    Vietnam10.6441061.22612,243 (54/35)
    Filipina4.752418737,652 (69/49)
    Brunei Darussalam5021.09312,298 (n.a.)
    Kamboja2011210,193 (n.a.)
    Korea Selatan71.7241.387195.7863.7864 (4/6)
    Tiongkok932.7126611.672.0011.18510 (22/5)
    India228.17415963.21744,038 (49/25)

    Kolom terakhir Tabel 2 menyimpan informasi yang jarang dibaca, yaitu selisih antara peringkat input dan peringkat output dalam Global Innovation Index. Negara yang peringkat outputnya lebih baik daripada peringkat inputnya mengubah sumber daya menjadi hasil secara relatif efisien; negara dengan pola sebaliknya memiliki sumber daya dan lingkungan kelembagaan yang relatif baik tetapi hasilnya tertinggal. Vietnam (input 54, output 35), India (input 49, output 25), dan Tiongkok (input 22, output 5) berada di kelompok pertama. Malaysia (input 29, output 40) dan Singapura (input 1, output 9) berada di kelompok kedua, sedangkan Indonesia berada tepat di tengah dengan peringkat 60 untuk keduanya. Profil WIPO juga mencatat bahwa Vietnam dan India adalah dua ekonomi yang melampaui ekspektasi tingkat pembangunannya selama enam belas tahun berturut-turut, sebagaimana dilaporkan VietnamPlus pada 3 Oktober 2026.

    Perbandingan publikasi dengan paten di Tabel 2 menghasilkan pembacaan yang paling tajam. Indonesia menghasilkan artikel lebih banyak daripada Malaysia, Thailand, dan Vietnam secara absolut, tetapi per sejuta penduduk ia hanya menghasilkan seperlima dari Malaysia, dan paten residen per sejuta penduduknya (6,9) lebih rendah daripada Thailand, Vietnam, dan Malaysia, dan hanya sedikit di bawah Filipina. Singapura, dengan penduduk sekitar 5,9 juta, mengajukan hampir sama banyak paten residen dengan Indonesia yang berpenduduk lebih dari 281 juta. Korea mengajukan sekitar 2,7 paten residen untuk setiap artikel ilmiah, sedangkan Indonesia mengajukan sekitar lima paten untuk setiap seratus artikel. Rasio itu bukan ukuran mutu ilmu, tetapi ukuran sejauh mana kerja ilmiah tersambung dengan kerja teknologi di dalam sistem (tingkat keyakinan: tinggi).

    IV

    Kamus data

    Kamus data berikut mendefinisikan setiap variabel dalam dataset, satuannya, sumber aslinya, kode seri bila ada, dan cakupan negara serta tahunnya. Variabel turunan ditandai sebagai hasil hitung kajian ini, sehingga pembaca dapat membedakan angka yang dikutip langsung dari sumber dengan angka yang merupakan hasil operasi aritmetika atas angka sumber. Kamus ini dimaksudkan agar dataset dapat diperbarui setiap tahun oleh mahasiswa atau analis lain tanpa harus menebak keputusan yang diambil pada versi pertama.

    Tabel 3. Kamus data
    VariabelDefinisiSatuanSumberKodeCakupan
    Belanja litbangBelanja domestik bruto untuk riset dan pengembangan, modal dan rutin, di sektor bisnis, pemerintah, pendidikan tinggi, dan nirlaba swasta% PDBUNESCO UIS melalui WDI (rilis UIS Februari 2025)GB.XPD.RSDV.GD.ZS11 negara; 2015–2023; seri 1996–2023 untuk enam negara
    PenelitiProfesional yang menghasilkan pengetahuan, produk, proses, atau metode baru, dihitung setara penuh waktuper sejuta pendudukUNESCO UIS melalui WDISP.POP.SCIE.RD.P611 negara; 2015–2023
    APK pendidikan tinggiJumlah mahasiswa terhadap populasi kelompok usia pendidikan tinggi resmi; dapat melebihi 100%UNESCO UIS melalui WDISE.TER.ENRR11 negara; 2023–2025
    Artikel ilmiah dan teknisArtikel jurnal dan prosiding terindeks Scopus di bidang sains dan rekayasajumlahNSF Science and Engineering Indicators melalui WDIIP.JRN.ARTC.SC11 negara; 2010–2023
    Artikel per sejuta pendudukArtikel 2023 dibagi populasi 2023per sejutaHitungan kajian initurunan11 negara; 2023
    Paten residenPermohonan paten yang diajukan penduduk di kantor paten nasionaljumlahWIPO melalui WDIIP.PAT.RESD11 negara; 2010–2024
    Paten nonresidenPermohonan paten yang diajukan pihak asing di kantor paten nasionaljumlahWIPO melalui WDIIP.PAT.NRES9 negara; 2024
    Porsi paten residenPaten residen dibagi jumlah paten residen dan nonresiden%Hitungan kajian initurunan9 negara; 2024
    Ekspor teknologi tinggiEkspor produk berintensitas litbang tinggi terhadap ekspor manufaktur%WDITX.VAL.TECH.MF.ZS9 negara; 2023–2024
    Pembayaran royalti KIBiaya penggunaan kekayaan intelektual yang dibayarkan ke luar negeri, neraca pembayaranUSD harga berlakuWDIBM.GSR.ROYL.CD8 negara; 2025
    Penerimaan royalti KIBiaya penggunaan kekayaan intelektual yang diterima dari luar negeriUSD harga berlakuWDIBX.GSR.ROYL.CD8 negara; 2025
    Rasio royaltiPembayaran dibagi penerimaan royalti KIkaliHitungan kajian initurunan8 negara; 2025
    Peringkat GIIPeringkat Global Innovation Index, beserta subindeks input dan outputperingkat dari 139WIPO, profil negara GII 2026tidak ada11 negara; edisi 2026
    Belanja riset nasional (BRIN)Jumlah belanja riset pemerintah, perguruan tinggi, dan badan usaha menurut pedoman Frascati 2015Rp dan % PDBBRIN, Indikator Iptek 2024tidak adaIndonesia; 2023
    PopulasiJumlah penduduk pertengahan tahunjiwaWDISP.POP.TOTL11 negara; 2023

    Dua keputusan dalam kamus ini perlu dijelaskan. Pertama, artikel ilmiah dan teknis tidak mencakup humaniora dan sebagian besar ilmu sosial, karena taksonomi National Center for Science and Engineering Statistics berfokus pada sains dan rekayasa, sehingga indikator ini mengukur kapasitas sains-rekayasa, bukan seluruh produksi akademik. Kedua, paten residen menghitung permohonan, bukan paten yang diberikan, dan menghitungnya di kantor paten nasional masing-masing negara. Ukuran ini peka terhadap kebijakan insentif: lonjakan permohonan dapat terjadi karena syarat administratif bagi dosen atau peneliti, bukan karena lonjakan invensi. Karena itu kajian ini membaca angka paten bersama lintasannya, bukan sebagai titik tunggal.

    V

    Catatan metode dan mutu data: seleksi, harmonisasi, vintase, dan batas

    Seleksi negara mengikuti tiga kriteria. Enam negara inti ASEAN dipilih karena merupakan ekonomi terbesar di kawasan dan memiliki seri data paling lengkap. Brunei dan Kamboja dimasukkan karena datanya tersedia untuk sebagian besar indikator, meskipun dengan tahun yang tua, sehingga keberadaannya memperlihatkan rentang kapasitas di dalam ASEAN. Laos dan Myanmar, yang menurut rangkuman SeasiaStats masing-masing berada di peringkat 108 dan 125 dalam Global Innovation Index 2026, tidak dimasukkan karena kajian ini tidak mengambil seri belanja litbang dan peneliti untuk keduanya, sehingga memasukkan mereka hanya dengan peringkat komposit akan menghasilkan perbandingan yang timpang. Korea Selatan dipilih sebagai contoh paling berhasil dari peralihan penyerap menjadi pencipta, Tiongkok sebagai contoh peralihan berskala benua, dan India sebagai pembanding negara berpendapatan menengah bawah yang besar dengan kekuatan output yang tidak sebanding dengan inputnya.

    Harmonisasi dilakukan secara minimal dan eksplisit. Kajian ini tidak mengimputasi nilai yang hilang, tidak menginterpolasi antartahun, dan tidak menyesuaikan nilai ke tahun dasar bersama. Akibatnya, sel-sel dalam satu kolom dapat berasal dari tahun yang berbeda hingga delapan tahun, seperti belanja litbang Kamboja (2015) dibandingkan dengan Korea (2023). Pilihan ini sengaja diambil karena imputasi akan memberi kesan presisi yang tidak dimiliki data. Variabel per sejuta penduduk dihitung dengan populasi 2023 untuk semua negara; untuk paten tahun 2024 hal ini menghasilkan sedikit penaksiran berlebih, tetapi pertumbuhan penduduk satu tahun di negara-negara ini terlalu kecil untuk mengubah urutan atau besaran secara berarti.

    Masalah vintase jauh lebih serius daripada yang biasanya diakui. Metadata World Development Indicators menyatakan bahwa seri belanja litbang dan peneliti diambil dari layanan unduhan massal UNESCO Institute for Statistics yang terbit Februari 2025, meskipun basis data Bank Dunia itu sendiri diperbarui pada Oktober 2026. Profil Global Innovation Index 2026 untuk Korea mencantumkan belanja litbang 5,13 persen PDB untuk 2024, sementara World Development Indicators masih mencantumkan 4,94 persen untuk 2023. Dua angka resmi itu tidak saling bertentangan; keduanya berasal dari vintase yang berbeda. Namun pembaca yang mengambil satu angka tanpa tahun dan sumbernya akan menghasilkan perbandingan yang keliru. Kajian ini memilih angka World Development Indicators untuk konsistensi antarnegara dan mencatat angka WIPO yang lebih baru di dalam teks.

    Kelambatan pelaporan UIS memengaruhi negara-negara yang paling penting bagi analisis ini. Observasi terakhir belanja litbang dan peneliti untuk Indonesia, Filipina, dan India berasal dari 2020, tahun pandemi ketika PDB turun dan rasio belanja terhadap PDB dapat terdistorsi. Profil WIPO untuk Indonesia secara eksplisit menandai enam belas indikator sebagai usang, termasuk belanja litbang, peneliti, dan belanja litbang sektor bisnis, sedangkan profil India mencatat bahwa angka belanja litbang 0,65 persen dan 259,3 peneliti per sejuta adalah data 2020. Ini berarti bahwa posisi tiga negara berpenduduk besar dalam setiap indeks inovasi global sebagian ditentukan oleh data yang berumur enam tahun pada saat indeks diterbitkan (tingkat keyakinan: tinggi).

    Kasus Indonesia memerlukan catatan tersendiri karena reorganisasi kelembagaan riset sejak pembentukan BRIN mengubah cara data dikumpulkan dan dilaporkan. Laporan BRIN tahun 2024 menghitung belanja riset nasional 2023 sebesar Rp20.394.979.384.006, atau sekitar 0,10 persen dari PDB harga berlaku Rp20.892,4 triliun, dan menyatakan rasio itu tidak berubah dari tahun sebelumnya. Angka itu kurang dari separuh angka 0,28 persen untuk 2020 yang diteruskan UIS dan dipakai Global Innovation Index. Laporan BRIN sendiri menjelaskan bahwa datanya berasal dari beberapa instansi, yaitu BRIN untuk pemerintah, pusat data kementerian pendidikan untuk perguruan tinggi, sistem informasi industri Kementerian Perindustrian untuk badan usaha, dan Kementerian Dalam Negeri untuk pemerintah daerah, bahwa beberapa angka masih sementara, dan bahwa pengumpulan data sektor bisnis adalah tantangan utamanya. Kajian ini tidak dapat menentukan apakah selisih antara 0,28 dan 0,10 persen mencerminkan penurunan nyata, perbedaan cakupan survei, atau keduanya, sehingga kedua angka dilaporkan berdampingan (tingkat keyakinan bahwa belanja riset Indonesia berada di bawah 0,3 persen PDB: tinggi; tingkat keyakinan tentang besaran pastinya: rendah).

    Perbedaan definisi juga memengaruhi angka peneliti. UIS melaporkan 395 peneliti setara penuh waktu per sejuta penduduk untuk 2020. Laporan BRIN 2024 melaporkan 439.349 periset dalam hitungan kepala untuk 2023, yang jika dibagi populasi 279.179.042 jiwa yang dipakai laporan itu menghasilkan sekitar 1.574 periset per sejuta penduduk. Laporan yang sama tidak menyajikan angka setara penuh waktu dan mencatat bahwa 96,62 persen periset berada di perguruan tinggi, yang mencakup dosen dan mahasiswa doktoral terdaftar. Selisih empat kali lipat antara kedua angka itu bukan kesalahan; ia adalah ukuran berapa besar waktu dosen Indonesia yang secara efektif tersedia untuk riset. Hitungan kepala memotret jumlah orang yang secara administratif dapat meneliti, sedangkan hitungan setara penuh waktu memotret kerja riset yang benar-benar dilakukan.

    Batas terakhir menyangkut indikator absorpsi. Data pembayaran dan penerimaan royalti untuk Vietnam, Brunei, dan Kamboja tidak tersedia dalam penarikan yang dilakukan, sehingga ditulis “n.a.”. Ekspor teknologi tinggi Vietnam tersedia hingga 2023, bukan 2024. Pembayaran royalti juga dapat mencerminkan praktik penetapan harga transfer perusahaan multinasional, bukan semata aliran pengetahuan. Untuk alasan itu kajian ini memakai indikator absorpsi untuk membaca pola besar, bukan untuk membandingkan selisih kecil antarnegara.

    VI

    Celah absorpsi dan produksi: membaca kontradiksi kawasan

    Tabel 4 menyandingkan indikator absorpsi dengan indikator kepemilikan teknologi. Ekspor teknologi tinggi berasal dari seri TX.VAL.TECH.MF.ZS, paten nonresiden dari seri IP.PAT.NRES, serta pembayaran dan penerimaan royalti dari seri BM.GSR.ROYL.CD dan BX.GSR.ROYL.CD. Porsi paten residen dan rasio royalti adalah hitungan kajian ini.

    Tabel 4. Celah absorpsi dan produksi
    NegaraEkspor teknologi tinggi (% ekspor manufaktur, 2024)Paten nonresiden (2024)Porsi paten residen (%)Pembayaran royalti KI (miliar USD, 2025)Penerimaan royalti KI (miliar USD, 2025)Rasio bayar/terima
    Indonesia8,78.97117,72,490,2211,4
    Malaysia58,66.35611,72,660,2411,2
    Singapura59,411.52314,120,6915,681,3
    Thailand28,37.79710,76,970,3519,9
    Vietnam44,3 (2023)8.67812,4n.a.n.a.n.a.
    Filipina60,43.69819,10,380,0216,1
    Korea Selatan36,350.45979,514,149,981,4
    Tiongkok26,3156.05391,546,6313,073,6
    India18,641.94060,118,761,7410,8

    Pola dalam Tabel 4 konsisten dan mencolok. Di semua negara ASEAN dalam tabel, porsi penduduk dalam total permohonan paten berada di antara 10,7 dan 19,1 persen. Di Korea angkanya 79,5 persen, di Tiongkok 91,5 persen, dan bahkan di India, dengan belanja riset yang tidak lebih tinggi daripada Thailand, angkanya 60,1 persen. Artinya, kantor paten di Asia Tenggara terutama berfungsi sebagai tempat perusahaan asing melindungi teknologi mereka di pasar kawasan, bukan sebagai tempat penemu lokal mendaftarkan invensi. Kajian ini menilai bahwa porsi paten residen di bawah dua puluh persen di seluruh ASEAN adalah indikator paling ringkas dari celah absorpsi-produksi kawasan (tingkat keyakinan: tinggi).

    Neraca royalti mengonfirmasi pembacaan itu dari sisi aliran uang. Thailand membayar hampir dua puluh kali lipat lebih banyak royalti kekayaan intelektual daripada yang diterimanya pada 2025, Filipina enam belas kali, dan Indonesia serta Malaysia sekitar sebelas kali. Korea, sebaliknya, membayar hanya 1,4 kali penerimaannya, dan Singapura 1,3 kali. Bagi Singapura, rasio rendah itu sebagian mencerminkan perannya sebagai pusat regional kepemilikan kekayaan intelektual perusahaan multinasional, sehingga angka itu tidak dapat dibaca langsung sebagai keunggulan penemu lokal. Namun bagi Korea, rasio itu merupakan hasil dari empat dekade investasi yang membuat perusahaan domestik menjadi pemilik teknologi, bukan sekadar penggunanya.

    Kasus Malaysia dan Filipina adalah ilustrasi paling jelas dari absorpsi tanpa produksi. Kedua negara mengekspor produk teknologi tinggi dengan porsi yang lebih besar daripada Korea dan Tiongkok, tetapi porsi paten residen mereka termasuk yang terendah. Profil WIPO menempatkan Malaysia di peringkat pertama dunia untuk ekspor dan impor teknologi tinggi sebagai persen total perdagangan, dan Filipina di peringkat keempat untuk ekspor teknologi tinggi. Struktur seperti ini lazim terjadi ketika ekspor teknologi tinggi terutama berupa perakitan, pengujian, dan pengemasan komponen elektronik oleh anak perusahaan asing, dengan riset dan desain dilakukan di negara asal perusahaan induk. Profil WIPO untuk Filipina juga mencatat bahwa pilar modal manusia dan riset negara itu berada di peringkat 100, sebuah kontras tajam dengan peringkat keempat untuk ekspor teknologi tinggi.

    Kawasan ini mengirimkan cip ke seluruh dunia, tetapi hampir tidak mematenkan apa pun yang terkandung di dalamnya.

    Vietnam menunjukkan varian yang berbeda dan lebih dinamis. Porsi paten residennya (12,4 persen) masih rendah, tetapi angka mutlak paten residennya naik dari 306 pada 2010 menjadi 1.226 pada 2024, peningkatan empat kali lipat yang berlangsung hampir tanpa jeda, dan peringkat outputnya dalam Global Innovation Index (35) jauh di atas peringkat inputnya (54). Vietnam juga satu-satunya negara inti ASEAN yang memiliki target kuantitatif eksplisit untuk menaikkan intensitas riset. Opini tiga peneliti BRIN di The Jakarta Post pada Maret 2025 mencatat bahwa Resolusi Politbiro Nomor 57 menargetkan kenaikan belanja litbang dari 0,4 persen menjadi 2 persen PDB dan 12 peneliti per 10.000 penduduk pada 2030. Target itu sangat ambisius dan kemungkinan besar tidak akan tercapai penuh, tetapi ia mengubah percakapan kebijakan dari penyerapan investasi asing menjadi pembangunan kemampuan domestik.

    Pelajaran analitis dari bagian ini adalah bahwa indikator absorpsi yang tinggi tidak otomatis menandakan sistem pengetahuan yang kuat, dan bahwa indikator input yang sedang tidak otomatis menandakan sistem yang lemah. Negara yang tampak maju dalam ekspor teknologi tinggi dapat sangat rapuh bila keputusan lokasi produksi dibuat di tempat lain, sedangkan negara dengan input sedang dapat menunjukkan kemampuan konversi yang kuat bila simpul-simpulnya tersambung. Dalam bahasa Lundvall, yang menentukan adalah intensitas pembelajaran interaktif antara produsen dan pengguna pengetahuan di dalam sistem, dan indikator absorpsi semata tidak memberi tahu apakah pembelajaran itu terjadi di dalam negeri atau hanya melintas.

    VII

    Posisi Indonesia: publikasi melonjak, sistem tertinggal

    Lintasan Indonesia sejak 2010 adalah lintasan yang tidak seimbang. Jumlah artikel ilmiah dan teknis naik dari 1.391 (2010) menjadi 2.652 (2013), 5.850 (2016), 17.156 (2019), 23.654 (2021), dan 38.992 (2023). Peningkatan dua puluh delapan kali lipat dalam tiga belas tahun itu jauh melampaui Vietnam (hampir sepuluh kali lipat, dari 1.096 menjadi 10.644) dan Malaysia (sekitar dua kali lipat, dari 10.816 menjadi 23.691). Pada periode yang sama, permohonan paten residen Indonesia naik dari 508 (2010) menjadi 1.058 (2015) dan mencapai puncak 3.093 pada 2019, lalu turun menjadi 1.549 pada 2022 sebelum pulih sebagian menjadi 1.931 pada 2024. Lapis publikasi tumbuh eksponensial, sedangkan lapis teknologi berfluktuasi tanpa tren yang meyakinkan.

    Kajian ini tidak membahas mutu atau insentif di balik pertumbuhan publikasi itu, yang merupakan perdebatan tersendiri. Pertanyaan yang relevan bagi kapasitas sistem adalah mengapa pertumbuhan publikasi tidak tersambung ke lapis teknologi. Jawaban yang paling didukung data adalah struktur pelaku riset. Laporan BRIN 2024, sebagaimana juga dirangkum Good News From Indonesia pada September 2024, mencatat bahwa dari total belanja riset 2023, perguruan tinggi menyumbang 46,02 persen, pemerintah 32,42 persen, dan badan usaha atau industri hanya 21,56 persen. Dari sisi sumber daya manusia, 95,28 persen tenaga iptek berada di perguruan tinggi dan hanya 1,40 persen di badan usaha. Di Korea, profil WIPO mencatat belanja litbang yang dilakukan sektor bisnis sebesar 4,2 persen PDB, peringkat pertama dunia, sedangkan di Thailand belanja bisnis sekitar 0,6 persen PDB. Sistem Indonesia adalah sistem riset yang dijalankan hampir sepenuhnya oleh universitas, dalam ekonomi yang perusahaannya hampir tidak meneliti.

    Angka porsi industri itu sendiri diperdebatkan. Dalam acara Business Gathering 2025, sebagaimana diberitakan Bisnis.com pada 28 April 2025, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyebut belanja riset Indonesia 0,28 persen dibandingkan rata-rata ASEAN 0,70 persen, dan berita yang sama mengutip porsi pendanaan industri sebesar 7,3 persen, jauh di bawah angka BRIN. Perbedaan antara 7,3 dan 21,56 persen kemungkinan berasal dari perbedaan antara siapa yang membiayai dan siapa yang melaksanakan riset, atau dari perbedaan tahun dan sumber, tetapi berita itu tidak menyebut sumbernya. Fakta bahwa menteri dan badan riset nasional memakai angka yang berbeda untuk ukuran dasar sistem adalah temuan tersendiri tentang kapasitas statistik iptek Indonesia (tingkat keyakinan: tinggi).

    Reorganisasi kelembagaan menambah lapisan ketidakpastian. Peleburan lembaga-lembaga riset pemerintah ke dalam BRIN mengonsolidasikan anggaran dan peneliti, tetapi juga menempatkan sebagian besar riset pemerintah dalam satu jalur anggaran yang rentan terhadap kebijakan fiskal. Opini di The Jakarta Post yang sudah disebut mencatat bahwa dalam kebijakan efisiensi anggaran 2025, BRIN awalnya mengusulkan pemotongan sekitar Rp2 triliun dari usulan total sekitar Rp5,8 triliun, dan DPR akhirnya menyetujui pemotongan sekitar Rp1,4 triliun. Bagi sistem yang belanja riset nasionalnya hanya sekitar Rp20 triliun, pemotongan sebesar itu pada satu simpul adalah guncangan berarti. Di sisi lain, pembentukan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi membuka peluang untuk menyambungkan kembali kebijakan pendidikan tinggi dan riset yang sebelumnya terpisah.

    Masalah Indonesia bukan hal baru, dan sejumlah dokumen dalam koleksi Arsip & Pustaka memperlihatkan bahwa diagnosisnya telah dirumuskan lebih dari satu dekade lalu. Pada tahun 2014, Hendra Gunawan dalam harian Kompas yang berjudul “Mengintip Masa Depan” menyebut universitas dan lembaga riset sebagai lumbung benih bangsa yang investasinya sangat kecil, dan membandingkan anggaran pendidikan tinggi Indonesia 2014 sekitar Rp3,2 triliun dengan sekitar Rp18 triliun untuk National University of Singapore pada 2013. Pada hari yang sama, Budi Santosa dalam harian Kompas yang berjudul “Dari ‘Brain Drain’ ke ‘Brain Gain’” berargumen bahwa kekhawatiran tentang hilangnya talenta penerima beasiswa berlebihan, dengan menunjuk Tiongkok dan Korea yang menarik kembali ilmuwannya ketika ekonomi mereka membaik, dan mengusulkan pendanaan profesor dan peneliti pascadoktoral asing di universitas Indonesia. Pidato pengukuhan guru besar Al Makin tahun 2018 berjudul Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia?: Keilmuan, Birokrasi dan Globalisasi menambahkan diagnosis mikro bahwa beban birokrasi dan administrasi menggerus waktu riset dosen, sebuah diagnosis yang kini terbaca secara kuantitatif dalam selisih empat kali lipat antara hitungan kepala dan hitungan setara penuh waktu peneliti.

    Diagnosis itu juga berlaku bagi perguruan tinggi keagamaan, yang menampung sebagian besar dosen di luar sains dan rekayasa. Paparan tahun 2026 berjudul Rencana Strategis UIN Ar-Raniry menempatkan ekosistem riset sebagai salah satu strategi transformasi, berdampingan dengan internasionalisasi, kapasitas dosen, dan transformasi digital, sementara paparan tahun 2026 berjudul PKDP 2026: Memahami Paradigma Keilmuan di PTKI memetakan empat paradigma keilmuan yang berkembang di perguruan tinggi keagamaan Islam. Kedua dokumen itu menunjukkan bahwa di tingkat institusi, pertanyaan tentang kapasitas riset sudah menjadi bagian dari perencanaan strategis. Namun dataset ini memperlihatkan bahwa rencana institusional tidak akan menggeser angka nasional selama riset tetap diperlakukan sebagai fungsi tambahan bagi pengajar, bukan sebagai pekerjaan dengan waktu, dana, dan jalur karier sendiri.

    VIII

    Lintasan pembanding: Korea, Tiongkok, Malaysia, Thailand, dan Vietnam

    Titik tunggal dapat menyesatkan, sehingga Tabel 5 menyajikan lintasan belanja litbang terhadap PDB untuk enam negara sejak 1996, berdasarkan seri GB.XPD.RSDV.GD.ZS. Sel bertanda n.a. menandakan bahwa World Development Indicators tidak memuat observasi untuk tahun tersebut.

    Tabel 5. Lintasan belanja litbang (% PDB), 1996–2023
    Negara199620002005201020152018202020222023
    Korea Selatan2,142,052,433,183,794,274,524,854,94
    Tiongkok0,560,881,291,682,022,102,362,492,58
    Malaysia0,220,47n.a.1,041,281,040,951,01n.a.
    Thailand0,120,240,22n.a.0,621,111,331,160,94
    Vietnamn.a.n.a.n.a.n.a.0,36n.a.n.a.n.a.0,41
    Indonesian.a.0,07n.a.n.a.n.a.0,230,28n.a.n.a.

    Korea adalah kasus rujukan karena intensitas risetnya sudah di atas dua persen PDB pada 1996 dan terus naik hingga hampir lima persen pada 2023, bahkan 5,13 persen untuk 2024 menurut profil WIPO. Linsu Kim, dalam buku tahun 1997 berjudul Imitation to Innovation: The Dynamics of Korea’s Technological Learning (Harvard Business School Press), menggambarkan bagaimana perusahaan Korea bergerak dari peniruan teknologi matang menuju inovasi melalui pembelajaran yang disengaja dan sering dipaksakan oleh krisis. Keun Lee, dalam buku tahun 2013 berjudul Schumpeterian Analysis of Economic Catch-up (Cambridge University Press), berargumen bahwa negara pengejar yang berhasil cenderung masuk ke bidang teknologi dengan siklus pendek, di mana ketergantungan pada pengetahuan lama lebih kecil dan peluang lompatan lebih besar. Bagi dataset ini, pelajaran Korea bukan terletak pada besaran belanja, tetapi pada komposisinya: sektor bisnis menjadi pelaku riset utama, dan porsi paten residen hampir delapan puluh persen adalah konsekuensinya.

    Tiongkok memperlihatkan bahwa peralihan itu dapat dilakukan dalam skala yang jauh lebih besar dan dalam waktu yang lebih singkat. Intensitas risetnya naik dari 0,56 persen pada 1996 menjadi 2,58 persen pada 2023, dan porsi paten residennya mencapai 91,5 persen pada 2024. Profil WIPO menempatkan Tiongkok di peringkat 10 dalam Global Innovation Index 2026, dengan peringkat output 5 dan input 22, dan Yicai melaporkan bahwa klaster Shenzhen-Hong Kong-Guangzhou mempertahankan peringkat pertama dunia sebagai klaster inovasi. Bagi Asia Tenggara, kasus Tiongkok penting bukan sebagai model yang dapat ditiru, karena skala dan kapasitas negaranya tidak tersedia di kawasan, tetapi sebagai bukti bahwa porsi paten residen dapat bergeser drastis dalam satu generasi bila belanja bisnis dan target kebijakan bergerak bersama.

    Malaysia adalah peringatan. Intensitas risetnya naik cepat dari 0,22 persen pada 1996 menjadi 1,28 persen pada 2015, lalu turun dan bertahan di sekitar satu persen. Permohonan paten residennya justru menurun dari 1.231 pada 2010 menjadi 841 pada 2024. Malaysia memiliki salah satu sektor ekspor elektronik paling terintegrasi di dunia, tetapi lintasan ini menunjukkan bahwa integrasi itu tidak menghasilkan pendalaman kemampuan teknologi domestik yang sebanding. Richard Doner dan Ben Ross Schneider, dalam artikel tahun 2016 berjudul “The Middle-Income Trap: More Politics than Economics” di World Politics 68(4), berargumen bahwa peningkatan produktivitas melalui keterampilan dan inovasi menuntut investasi besar dalam kapasitas kelembagaan, sementara kapasitas politik untuk membangun lembaga itu dilemahkan oleh koalisi pendukung yang terfragmentasi, terutama di kalangan bisnis dan tenaga kerja, serta oleh ketimpangan. Dataset ini tidak dapat menguji argumen itu secara kausal, tetapi plateau Malaysia sejak 2015 sesuai dengan prediksinya: negara dapat mencapai tingkat belanja sedang melalui program pemerintah, tetapi melampauinya memerlukan koalisi dengan perusahaan domestik yang mau meneliti (tingkat keyakinan: sedang).

    Thailand memperlihatkan lintasan yang lebih bergelombang. Intensitas risetnya naik dari 0,12 persen pada 1996 menjadi 1,33 persen pada 2020, salah satu kenaikan tercepat di kawasan, lalu turun menjadi 0,94 persen pada 2023. Profil WIPO mencatat belanja litbang sektor bisnis Thailand sekitar 0,6 persen PDB dengan data 2023, yang menunjukkan bahwa sebagian besar kenaikan sebelumnya memang digerakkan oleh perusahaan. Namun permohonan paten residen Thailand bergerak dari 1.214 pada 2010 menjadi 930 pada 2024, sehingga kenaikan belanja bisnis belum tercermin dalam kepemilikan teknologi. Penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa sebagian riset bisnis di Thailand berupa pengembangan proses dan adaptasi produk yang tidak dipatenkan, atau dilakukan oleh anak perusahaan asing yang mematenkannya atas nama induk, tetapi kajian ini tidak memiliki data untuk memastikannya.

    Vietnam adalah kasus terakhir dan paling relevan bagi Indonesia. Intensitas risetnya hampir tidak berubah, dari 0,36 persen pada 2015 menjadi 0,41 persen pada 2023, tetapi peneliti per sejuta penduduk mencapai 836, naik 8,88 persen dari tahun sebelumnya menurut profil WIPO, paten residennya naik empat kali lipat sejak 2010, dan peringkat Global Innovation Index-nya naik ke 43 pada 2026. Vietnam juga diklasifikasikan sebagai negara berpendapatan menengah bawah dalam profil itu dan menempati peringkat kedua dari 36 negara dalam kelompoknya, sedangkan Indonesia menempati peringkat ketujuh dari 35 negara berpendapatan menengah atas. Dengan input yang mirip dan pendapatan per kapita yang lebih rendah, Vietnam menghasilkan output inovasi yang lebih tinggi. Kajian ini menilai bahwa perbedaan itu terutama berasal dari integrasi industri yang lebih dalam ke rantai pasok elektronik dan dari sinyal politik yang konsisten di tingkat tertinggi, bukan dari keunggulan sistem riset yang sudah terbukti (tingkat keyakinan: sedang).

    IX

    Argumen tandingan: apakah negara pengejar memang perlu mencipta?

    Argumen tandingan terkuat terhadap kajian ini patut disusun dalam versi terbaiknya. Bagi negara pengejar, menurut argumen itu, menyerap teknologi yang sudah ada jauh lebih murah dan lebih cepat daripada menciptakan teknologi baru, sehingga strategi rasional adalah memaksimalkan investasi asing, perdagangan, dan pendidikan massal, lalu membiarkan kemampuan inovasi tumbuh sendiri seiring kenaikan pendapatan. Singapura sering dijadikan bukti: negara-kota itu menjadi kaya terutama melalui perusahaan multinasional. Bagi Indonesia, argumen itu diperkuat oleh profil WIPO yang menempatkan skala pasar domestik di peringkat 7 dunia, perkembangan klaster di peringkat 7, kebijakan dan budaya kewirausahaan di peringkat 9, serta kolaborasi riset universitas-industri di peringkat 10. Ditambah lagi, indikator belanja litbang dan paten terkenal tidak menangkap inovasi informal, inovasi model bisnis, dan inovasi digital yang justru tumbuh pesat di ekonomi besar seperti Indonesia. Dari sudut ini, keprihatinan atas angka belanja riset yang rendah adalah fetisisme statistik.

    Argumen ini mengandung kebenaran penting, dan kajian ini menerima tiga bagiannya. Penyerapan memang merupakan tahap yang perlu, bukan kegagalan; indikator formal memang tidak lengkap; dan skala pasar domestik Indonesia memang aset strategis yang tidak dimiliki Malaysia atau Thailand. Namun argumen itu gagal pada tiga titik yang dapat diperiksa dengan data. Pertama, Cohen dan Levinthal menunjukkan bahwa kemampuan menyerap bergantung pada pengetahuan terkait yang sudah dimiliki dan dibangun antara lain melalui riset sendiri. Negara yang tidak meneliti tidak sekadar gagal mencipta; ia juga menyerap secara dangkal, sebatas mengoperasikan teknologi yang tidak dipahaminya. Lintasan paten Malaysia dan Thailand sejak 2010 adalah ilustrasi empiris dari penyerapan yang tidak mendalam.

    Kedua, kasus Singapura justru membantah argumen itu bila dibaca dengan data. Singapura memiliki 8.782 peneliti per sejuta penduduk, intensitas riset 1,81 persen PDB, dan peringkat pertama dunia untuk subindeks input Global Innovation Index 2026. Negara-kota itu tidak hanya menunggu perusahaan multinasional; ia membangun universitas riset dan lembaga riset publik dalam skala yang membuatnya menjadi salah satu produsen pengetahuan paling intensif di dunia per kapita, dengan 2.010 artikel per sejuta penduduk. Ketiga, laporan World Development Report 2024 tidak menyatakan bahwa penyerapan cukup; laporan itu menyatakan bahwa negara berpendapatan menengah harus berpindah dari investasi ke penyerapan teknologi lalu ke inovasi, dan bahwa peralihan itu tidak terjadi dengan sendirinya. Bukti bahwa kenaikan pendapatan otomatis melahirkan inovasi tidak ditemukan dalam dataset ini: Malaysia dan Thailand telah menjadi negara berpendapatan menengah atas selama bertahun-tahun, tetapi porsi paten residen mereka tetap di sekitar sebelas persen.

    Adapun kekuatan Indonesia dalam profil WIPO perlu dibaca dengan cermat. Skala pasar, klaster, kewirausahaan, dan kolaborasi universitas-industri menggambarkan potensi dan kondisi kelembagaan, bukan output teknologi. Profil yang sama menempatkan belanja pendidikan sebagai persen PDB di peringkat 131, artikel ilmiah per miliar dolar PPP PDB di peringkat 125, dan investasi asing langsung di bidang litbang dan teknologi tinggi di peringkat 112. Potensi yang tidak dikonversi tidak akan bertahan lama sebagai keunggulan, karena perusahaan digital yang tumbuh di pasar domestik besar akan membeli kemampuan teknologi dari luar bila kemampuan itu tidak tersedia di dalam negeri. Dengan demikian, argumen tandingan benar tentang urutan, tetapi keliru tentang otomatisme. Kesimpulan kajian ini tetap: tanpa investasi yang disengaja pada simpul produksi pengetahuan, terutama di sektor bisnis, celah absorpsi-produksi akan bertahan (tingkat keyakinan: tinggi).

    X

    Skenario hingga 2030 dan penanda yang perlu diamati

    Skenario berikut berfokus pada Indonesia dalam konteks kawasan, karena dataset ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara dengan selisih terbesar antara skala dan kapasitas. Horizon 2030 dipilih karena bertepatan dengan target Resolusi 57 Vietnam dan dengan paruh pertama pelaksanaan Rencana Aksi ASEAN untuk Sains, Teknologi, dan Inovasi 2026–2035. Probabilitas yang diberikan adalah penilaian kualitatif berdasarkan lintasan data dalam kajian ini, sinyal kebijakan yang terverifikasi, dan kendala fiskal yang diketahui.

    Skenario hingga 2030

    1. AStagnasi absorptif45%
    2. BKonsolidasi bertahap30%
    3. CKemunduran fiskal15%
    4. DLompatan terarah10%

    Probabilitas adalah penilaian penulis per 1 November 2026, bukan prediksi statistik.

    Skenario A, stagnasi absorptif, adalah kelanjutan pola saat ini dan karena itu paling mungkin. Dalam skenario ini, belanja riset nasional menurut ukuran BRIN tetap di bawah 0,2 persen PDB, publikasi terus tumbuh tetapi melambat, paten residen berfluktuasi di sekitar dua ribu permohonan per tahun, dan peringkat Global Innovation Index bergerak di rentang 50-an. Indonesia tetap menarik investasi pengolahan mineral dan manufaktur, tetapi kemampuan teknologi di dalam rantai nilai itu tetap dimiliki mitra asing. Skenario B, konsolidasi bertahap, terjadi bila pemerintah menyelaraskan statistik iptek, menetapkan target belanja bisnis, dan memberikan insentif fiskal yang dapat dimanfaatkan perusahaan menengah dan besar. Belanja riset naik mendekati 0,3 persen menurut ukuran BRIN, porsi belanja industri bergerak menuju sepertiga, dan paten residen melampaui puncak 2019.

    Skenario C, kemunduran fiskal, terjadi bila tekanan anggaran mendorong pemotongan lanjutan pada BRIN dan pendidikan tinggi tanpa kompensasi dari sektor swasta, sehingga peneliti senior pindah ke luar negeri atau ke sektor nonriset dan lapis publikasi pun mulai melemah. Pemotongan anggaran BRIN 2025 menunjukkan bahwa skenario ini bukan sekadar hipotetis. Skenario D, lompatan terarah, adalah varian Vietnam: komitmen politik tingkat tertinggi dengan target kuantitatif, kenaikan belanja publik yang cepat, dan kemitraan wajib antara investor asing dan lembaga riset domestik. Probabilitasnya rendah karena belum ada sinyal kebijakan sebesar itu, tetapi tidak nol karena pemerintah Indonesia memiliki kapasitas fiskal dan pasar untuk mengubah arah bila keputusan politik diambil.

    Penanda yang perlu diamati dapat diurutkan menurut kecepatan munculnya. Dalam jangka pendek, penanda terpenting adalah edisi berikutnya laporan Indikator Iptek BRIN: apakah rasio belanja riset terhadap PDB bergerak dari 0,10 persen, apakah porsi industri dihitung dengan metode yang stabil, dan apakah angka peneliti setara penuh waktu mulai disajikan. Penanda kedua adalah apakah UIS menerima observasi Indonesia, Filipina, dan India setelah 2020, sehingga indeks global berhenti mengandalkan data pandemi. Dalam jangka menengah, penanda yang paling informatif adalah porsi paten residen: bila angka itu di Indonesia atau Vietnam melampaui seperempat pada 2030, celah absorpsi-produksi mulai menyempit. Penanda kawasan adalah apakah pelaksanaan rencana aksi ASEAN untuk sains dan teknologi menghasilkan sistem statistik bersama yang memperkecil kelambatan data. Penanda terakhir adalah pencapaian Vietnam atas target 2030-nya, karena keberhasilan atau kegagalannya akan menjadi argumen terkuat dalam perdebatan kebijakan riset di seluruh kawasan.

    XI

    Rekomendasi per aktor dengan tenggat

    Bagi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, rekomendasi pertama adalah mengubah perlakuan riset dalam beban kerja dosen. Sebelum tahun akademik 2027/2028, kementerian perlu menetapkan pedoman alokasi waktu riset yang dapat diverifikasi dan mengadakan survei peneliti setara penuh waktu yang sejalan dengan pedoman Frascati, sehingga selisih empat kali lipat antara hitungan kepala dan hitungan setara penuh waktu dapat diukur, lalu diperkecil. Pada 2028, kementerian perlu mengaitkan sebagian pendanaan riset perguruan tinggi dengan kemitraan industri yang nyata, misalnya program doktor industri dan proyek bersama dengan pembiayaan bersama, alih-alih dengan jumlah publikasi. Kementerian juga perlu memastikan bahwa angka yang dipakai pejabatnya di forum publik bersumber dari statistik resmi yang sama dengan yang dilaporkan ke lembaga internasional.

    Bagi BRIN, prioritas paling mendesak adalah statistik. Pada pertengahan 2027, BRIN perlu menerbitkan catatan rekonsiliasi yang menjelaskan selisih antara angka 0,28 persen PDB untuk 2020 yang diteruskan UIS dan angka 0,10 persen PDB untuk 2023 dalam laporan BRIN, termasuk perbedaan cakupan sektor, sumber data, dan status angka sementara. Mulai siklus 2027, BRIN perlu melaporkan data belanja litbang dan peneliti ke UIS setiap tahun dengan kelambatan tidak lebih dari dua tahun. Dalam fungsi risetnya, BRIN perlu memprioritaskan kontrak riset bersama dengan industri dan pemerintah daerah, karena badan riset pemerintah yang tidak tersambung dengan pengguna pengetahuan hanya akan memindahkan masalah, bukan memecahkannya.

    Bagi Bappenas, rekomendasi utamanya adalah menjadikan indikator sistem pengetahuan bagian dari kerangka pemantauan pembangunan, bukan sekadar lampiran sektor pendidikan. Dalam evaluasi paruh waktu rencana pembangunan jangka menengah, Bappenas perlu menetapkan target terpisah untuk belanja riset total, porsi belanja riset bisnis, dan porsi paten residen, karena target agregat tanpa komposisi akan mendorong kenaikan belanja pemerintah tanpa mengubah struktur. Bappenas juga perlu menguji opsi insentif fiskal riset dan pengembangan berdasarkan data penggunaannya, dan menyusun kerangka agar investasi asing di sektor strategis disertai komitmen kemitraan riset domestik yang terukur.

    Bagi universitas, termasuk perguruan tinggi keagamaan, rekomendasinya adalah memisahkan jalur karier riset dari jalur pengajaran secara bertahap mulai 2027, membentuk kantor alih teknologi yang benar-benar dikelola tenaga profesional, dan memasukkan indikator kemitraan, paten, serta kontrak riset ke dalam rencana strategis institusi. Universitas juga perlu memanfaatkan dataset seperti ini sebagai bahan ajar dalam program studi kebijakan, manajemen pengetahuan, dan studi pembangunan, agar generasi berikutnya mampu membaca statistik iptek secara kritis. Bagi perusahaan besar, termasuk badan usaha milik negara, langkah minimum adalah melaporkan belanja riset secara sukarela dan konsisten kepada BRIN mulai 2027, karena kelemahan statistik sektor bisnis adalah salah satu penyebab utama ketidakpastian angka nasional.

    Bagi Komite ASEAN untuk Sains, Teknologi, dan Inovasi (COSTI, sebelumnya dikenal sebagai ASEAN COST), rekomendasinya adalah menjadikan observatorium statistik iptek kawasan sebagai salah satu keluaran awal Rencana Aksi ASEAN untuk Sains, Teknologi, dan Inovasi 2026–2035, yang tahap pertama penyusunannya dikerjakan konsorsium yang dipimpin Cambridge Industrial Innovation Policy untuk Sekretariat ASEAN. Observatorium itu perlu menghasilkan tabel tahunan yang selaras dengan UIS dan WIPO, dengan indikator porsi paten residen dan neraca royalti, sebelum 2028. Bagi UNESCO dan UIS, rekomendasinya adalah dukungan teknis yang terfokus untuk Indonesia, Filipina, dan Kamboja agar observasi setelah 2020 tersedia paling lambat 2028, serta penandaan vintase yang lebih jelas dalam distribusi data. Laporan UNESCO Science Report 2021 telah menyediakan kerangka regional yang dapat diperbarui dengan data tersebut.

    Bagi Bank Dunia, rekomendasinya adalah menerjemahkan diagnosis World Development Report 2024 ke dalam analisis tingkat negara untuk Indonesia, Filipina, dan Vietnam sebelum 2028, dengan menilai secara eksplisit di tahap mana masing-masing negara berada dalam urutan investasi, penyerapan, dan inovasi. Program pinjaman di sektor pendidikan tinggi dan inovasi perlu menyertakan komponen penguatan statistik iptek, karena tanpa data yang tepat waktu evaluasi program tidak dapat dilakukan. Bank Dunia juga perlu menandai vintase sumber dalam metadata World Development Indicators secara lebih menonjol, agar pengguna tidak membandingkan data 2020 dengan data 2024 seolah-olah keduanya sezaman.

    XII

    Keterbatasan dan kesimpulan

    Keterbatasan kajian ini perlu dinyatakan secara jelas. Pertama, dataset ini bersifat potong lintang dengan tahun observasi yang berbeda antarnegara, sehingga perbandingan antarnegara yang selisih tahunnya besar harus dibaca sebagai indikasi, bukan sebagai pengukuran presisi. Kedua, indikator formal seperti belanja litbang, paten, dan artikel terindeks tidak menangkap inovasi informal, inovasi organisasi, dan produksi pengetahuan di luar sains dan rekayasa, termasuk ilmu sosial, humaniora, dan pengetahuan lokal yang penting bagi kawasan. Ketiga, kajian ini tidak menguji hubungan kausal; pernyataan tentang mekanisme, misalnya tentang peran koalisi politik atau struktur kepemilikan perusahaan, adalah interpretasi yang konsisten dengan data, bukan kesimpulan statistik. Keempat, angka Brunei dan Kamboja untuk peringkat komposit berasal dari sumber sekunder, dan indikator royalti tidak tersedia untuk Vietnam, Brunei, dan Kamboja. Kelima, angka Indonesia bergantung pada dua sistem pengukuran yang belum direkonsiliasi.

    Kesimpulannya dapat dinyatakan dengan tegas. Asia Tenggara telah membuktikan kemampuannya menyerap teknologi, dan hal itu adalah prestasi pembangunan yang nyata. Namun dataset ini menunjukkan bahwa kemampuan menyerap belum dikonversi menjadi kemampuan mencipta: porsi paten residen di seluruh ASEAN berada di bawah dua puluh persen, neraca royalti sebagian besar negara defisit lebih dari sepuluh kali lipat, dan lintasan Malaysia serta Thailand memperlihatkan bahwa intensitas riset sedang tidak otomatis berlanjut menjadi kepemilikan teknologi. Indonesia menghadapi celah ganda, dengan lapis publikasi yang tumbuh pesat tetapi tidak tersambung ke lapis teknologi, sektor bisnis yang hampir tidak meneliti, dan statistik iptek yang belum mampu memberi satu angka dasar yang disepakati.

    Implikasi kebijakannya bukan sekadar menaikkan anggaran riset, meskipun itu diperlukan. Implikasinya adalah membangun simpul-simpul yang hilang dalam sistem: riset di dalam perusahaan, jalur karier peneliti yang nyata di universitas, sambungan antara investasi asing dan lembaga riset domestik, dan statistik yang tepat waktu dan dapat dipercaya. Korea dan Tiongkok menunjukkan bahwa peralihan dari penyerap menjadi pencipta dapat dicapai dalam satu generasi, sedangkan Vietnam menunjukkan bahwa sinyal politik yang konsisten dapat menghasilkan output di atas input. Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan lagi apakah sistem pengetahuan nasional perlu diubah, tetapi apakah keputusan untuk mengubahnya akan diambil sebelum jendela demografi dan rantai pasok yang terbuka saat ini menutup.

    ◆ ◆ ◆

    Referensi

    Dokumen resmi dan data

    Literatur ilmiah

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    Media dan pemberitaan

    Arsip & Pustaka

    Cara Mengutip

    Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. 2026. “Menyerap Tanpa Mencipta: Kapasitas Produksi Pengetahuan Negara-Negara ASEAN: Dataset Komparatif Terdokumentasi dengan Tolok Ukur Korea Selatan, Tiongkok, dan India.” KBA13 Academy Research Center, Datasets, 1 November 2026. https://kba13academy.com/kapasitas-produksi-pengetahuan-asean/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama di UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan pendiri KBA13 Academy. Kajiannya meliputi Islam di Asia Tenggara, antropologi, kajian strategis, dan sistem pengetahuan.

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →