Tag: Registered Reports

  • Ilmu yang Dapat Diulang: Krisis Replikasi, Infrastruktur Sains Terbuka, dan Reformasi Metodologi dari Selatan Global

    Ilmu yang Dapat Diulang: Krisis Replikasi, Infrastruktur Sains Terbuka, dan Reformasi Metodologi dari Selatan Global

    Buku · Metodologi Penelitian, Integritas & Sains Terbuka

    Ilmu yang Dapat Diulang:Krisis Replikasi, Infrastruktur Sains Terbuka, dan Reformasi Metodologi dari Selatan Global

    Satu dekade setelah proyek replikasi besar mengguncang psikologi dan biomedis, pertanyaan pokoknya tidak lagi berbunyi apakah ada krisis, melainkan siapa yang membangun infrastruktur agar temuan dapat diperiksa ulang. Kajian ini membandingkan Brasil, Inggris, Belanda, Tiongkok, dan Afrika dengan Indonesia, lalu menawarkan peta jalan reformasi hingga 2030.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • Buku
    • 24 Oktober 2026
    • ± 40 menit baca
    Ilmu yang Dapat Diulang: Krisis Replikasi, Infrastruktur Sains Terbuka, dan Reformasi Metodologi dari Selatan Global
    Keterulangan bukan sekadar soal etika individual peneliti; ia adalah properti infrastruktur, insentif, dan budaya kelembagaan sebuah sistem ilmu.

    Abstrak

    Kajian ini menelaah krisis replikasi sebagai persoalan infrastruktur pengetahuan, bukan semata kegagalan moral individu. Berangkat dari bukti proyek replikasi berskala besar dalam psikologi, ilmu sosial eksperimental, dan biologi kanker, kajian ini membandingkan lima respons kelembagaan: replikasi nasional Brasil, jaringan reproduksibilitas Inggris, pendanaan replikasi Belanda, penegakan integritas terpusat Tiongkok, dan gerakan jaringan di Afrika. Perbandingan itu lalu dipakai untuk membaca Indonesia, negara dengan jumlah jurnal terbanyak di Directory of Open Access Journals tetapi menghadapi rangkaian skandal kepengarangan, indeks risiko integritas yang menandai sejumlah kampus, dan ancaman baru dari pabrik makalah serta kecerdasan buatan generatif. Temuan utamanya adalah bahwa negara yang berhasil memperbaiki keterulangan bukan negara yang paling keras menghukum, melainkan negara yang membangun jalur murah dan dihargai bagi peneliti untuk berbagi data, mendaftarkan rencana analisis, dan mereplikasi temuan penting. Kajian ini menutup dengan empat skenario hingga 2030 serta rekomendasi bertenggat bagi kementerian, BRIN, universitas, pengelola jurnal, penyandang dana, dan mitra internasional.

    Tesis

    Ilmu menjadi dapat dipercaya bukan karena penelitinya suci, tetapi karena sistemnya membuat pemeriksaan ulang menjadi murah, lazim, dan dihargai; Selatan Global hanya dapat keluar dari jebakan volume jika membangun infrastruktur keterulangan sebelum menghukum kegagalannya.

    1. DataProyek replikasi besar 2015–2025, data DOAJ 2025, regulasi Indonesia, dan kasus integritas 2023–2026.
    2. KerangkaTiga lapis keterulangan: komputasional, empiris, dan interpretif, dibaca melalui rantai insentif kelembagaan.
    3. ProyeksiEmpat skenario hingga 2030, penanda arah, dan rekomendasi bertenggat untuk aktor nasional dan internasional.

    Kata kunci

    • krisis replikasi
    • reproduksibilitas
    • sains terbuka
    • pra-registrasi
    • integritas riset
    • pabrik makalah
    • Repositori Ilmiah Nasional
    • Selatan Global
    I

    Ringkasan Eksekutif: Pertanyaan, Jawaban, dan Mengapa Ini Penting

    Pertanyaan kajian ini sederhana tetapi menentukan nasib banyak sistem ilmu di dunia berkembang: mengapa sebagian besar temuan ilmiah yang diterbitkan sulit diulang, dan kebijakan seperti apa yang terbukti mampu memperbaikinya di negara yang sumber dayanya terbatas? Pada Agustus 2015, kolaborasi ratusan peneliti yang menamakan diri Open Science Collaboration melaporkan dalam jurnal Science bahwa dari seratus studi psikologi yang diulang, hanya 36 persen replikasi menghasilkan temuan bermakna secara statistik, padahal 97 persen studi aslinya mengklaim hasil signifikan (Open Science Collaboration, 2015). Enam tahun kemudian, Reproducibility Project: Cancer Biology hanya mampu mengulang 50 dari 193 eksperimen yang direncanakan, dengan ukuran efek rata-rata 85 persen lebih kecil daripada aslinya (Science News, 2021). Angka-angka itu tidak berarti bahwa sains gagal, tetapi menunjukkan bahwa sistem publikasi modern lebih pandai memproduksi klaim daripada memeriksanya.

    Jawaban pokok kajian ini dapat dirumuskan sejak awal. Keterulangan adalah properti sistem, bukan sekadar kebajikan pribadi. Negara yang paling berhasil memperbaikinya adalah negara yang membangun infrastruktur yang membuat berbagi data, mendaftarkan rencana analisis sebelum data dikumpulkan, dan mengulang temuan penting menjadi pekerjaan yang murah, lazim, dan dihargai dalam karier akademik. Sebaliknya, negara yang mengandalkan hukuman tanpa infrastruktur cenderung menghasilkan kepatuhan administratif: peneliti belajar menghindari pelanggaran yang mudah terdeteksi, tetapi tidak belajar menghasilkan temuan yang tahan uji. Brasil memberi pelajaran paling berharga bagi Selatan Global karena negara itu, dengan anggaran sekitar 1,2 juta real, berhasil mengorganisasi replikasi berskala nasional terhadap ilmu biomedisnya sendiri dan mendapati bahwa tingkat keberhasilan replikasi berkisar antara 15 dan 45 persen, bergantung pada kriteria yang dipakai (eLife, 2025). Penilaian ini dipegang dengan tingkat keyakinan tinggi karena konsisten di berbagai disiplin dan negara.

    Persoalan ini penting secara global karena tiga alasan yang saling terkait. Pertama, kebijakan publik, pengobatan, dan pendidikan semakin bergantung pada bukti terbitan; temuan yang rapuh berarti obat yang gagal di uji klinis, program sosial yang tidak bekerja, dan kurikulum yang dibangun di atas pasir. Kedua, ekonomi publikasi global sedang diserbu oleh pabrik makalah dan teks buatan mesin, sehingga kemampuan memeriksa ulang menjadi pertahanan terakhir kepercayaan publik. Ketiga, negara seperti Indonesia, yang memiliki 2.473 jurnal di Directory of Open Access Journals per Maret 2025 dan menempati urutan pertama dunia (DOAJ, 2025), berada pada titik belok: volume yang besar dapat menjadi modal sains terbuka kelas dunia, atau sebaliknya menjadi beban reputasi jika keterulangannya tidak terjamin. Kajian ini berargumen bahwa jendela untuk memilih jalan pertama terbuka sampai sekitar 2030, ketika generasi baru regulasi, repositori, dan alat deteksi berbasis kecerdasan buatan akan menetapkan pola untuk dua dekade berikutnya.

    II

    Kerangka Analitis dan Catatan Metode: Tiga Lapis Keterulangan

    Perdebatan tentang krisis replikasi sering kacau karena istilahnya dipakai secara longgar. Kajian ini membedakan tiga lapis keterulangan yang memiliki syarat kelembagaan berbeda. Lapis pertama adalah reproduksibilitas komputasional, yaitu kemampuan peneliti lain memperoleh angka yang sama dari data dan kode yang sama; syaratnya adalah akses terhadap data mentah, kode analisis, dan dokumentasi yang memadai. Lapis kedua adalah replikabilitas empiris, yaitu kemampuan memperoleh temuan serupa ketika eksperimen atau survei diulang dengan sampel baru; syaratnya adalah protokol yang rinci, materi yang dapat dibagikan, dan pendanaan bagi studi ulang. Lapis ketiga, yang jarang dibahas dalam literatur arus utama, adalah keterlacakan interpretif, yaitu kemampuan pembaca menelusuri bagaimana peneliti kualitatif sampai pada tafsirnya, dari catatan lapangan hingga kesimpulan. Ketiga lapis ini tidak dapat diperlakukan dengan satu resep, dan banyak kegagalan kebijakan berasal dari upaya memaksakan standar laboratorium pada etnografi atau, sebaliknya, membiarkan studi kuantitatif bersembunyi di balik retorika keunikan konteks.

    Di atas tiga lapis tersebut, kajian ini memasang apa yang dapat disebut rantai insentif kelembagaan. Rantai ini terdiri atas lima mata: siapa yang mendanai penelitian, siapa yang menilai karier peneliti, siapa yang menerbitkan hasilnya, siapa yang menyimpan data dan materi, dan siapa yang menegakkan sanksi ketika terjadi pelanggaran. Sebuah sistem ilmu dapat dinilai kesiapan keterulangannya dengan menanyakan, pada setiap mata rantai, apakah tindakan yang memperkuat keterulangan, seperti membagikan data atau menerbitkan hasil nol, mendatangkan imbalan, netral, atau justru merugikan karier. Kerangka ini meminjam semangat prinsip FAIR, yakni data yang dapat ditemukan, diakses, dioperasikan bersama, dan digunakan ulang, sebagaimana dirumuskan Wilkinson dan rekan (2016), tetapi memperluasnya ke wilayah insentif karier yang sering luput dari kerangka teknis semacam itu.

    Secara metodologis, kajian ini merupakan telaah komparatif terstruktur atas sumber primer dan sekunder yang dapat diverifikasi. Sumber primer meliputi naskah regulasi, kebijakan repositori, dan publikasi asli proyek replikasi; sumber sekunder meliputi laporan lembaga, analisis kebijakan, dan pemberitaan yang memuat data kasus. Lima kasus negara atau kawasan dipilih karena mewakili lima logika reformasi yang berbeda: replikasi nasional (Brasil), jaringan dari bawah yang didukung dana publik (Inggris), pendanaan khusus replikasi (Belanda), penegakan terpusat (Tiongkok), dan pembangunan komunitas di tengah keterbatasan infrastruktur (Afrika). Setiap penilaian kunci diberi label tingkat keyakinan tinggi, sedang, atau rendah, mengikuti praktik analisis intelijen dan kebijakan, sehingga pembaca dapat membedakan apa yang didukung bukti kuat dari apa yang merupakan inferensi. Kajian ini tidak melakukan replikasi primer dan tidak mengakses data internal kementerian atau universitas; keterbatasan ini dibahas pada bagian terakhir. Gagasan bahwa metode adalah cara berpikir, bukan sekadar prosedur, sejalan dengan argumen buku Beyond Method (2025), yang mengingatkan bahwa penelitian dapat benar secara prosedural tetapi dangkal secara intelektual.

    III

    Anatomi Krisis: Apa yang Sebenarnya Diketahui dari Proyek Replikasi Besar

    Sejarah intelektual krisis ini biasanya dimulai dari esai John Ioannidis tahun 2005 dalam PLoS Medicine berjudul “Why Most Published Research Findings Are False” (Ioannidis, 2005). Argumennya bersifat probabilistik: ketika studi berukuran kecil, efek yang dicari kecil, fleksibilitas analisis besar, dan persaingan untuk menerbitkan temuan baru sangat ketat, peluang bahwa sebuah temuan signifikan sebenarnya keliru menjadi lebih besar daripada peluang bahwa temuan itu benar. Esai tersebut semula diperlakukan sebagai provokasi teoretis. Baru ketika sejumlah konsorsium mulai benar-benar mengulang studi terbitan, provokasi itu berubah menjadi data. Rangkaian proyek replikasi sesudahnya patut dibaca bukan sebagai vonis atas disiplin tertentu, melainkan sebagai pengukuran pertama yang sistematis atas sesuatu yang selama ini hanya diduga.

    Bukti yang terkumpul menunjukkan pola yang konsisten meskipun angkanya bervariasi. Proyek Many Labs 2, yang melibatkan 15.305 partisipan dalam 125 sampel di 36 negara dan wilayah, mendapati bahwa 15 dari 28 temuan klasik psikologi, atau 54 persen, berhasil direplikasi pada ambang signifikansi konvensional (Klein dkk., 2018). Temuan penting lain dari proyek itu sering terlupakan: variasi hasil lebih banyak ditentukan oleh efek yang diteliti daripada oleh sampel atau lokasi, sehingga dalih bahwa kegagalan replikasi disebabkan perbedaan budaya peserta tidak didukung data dalam kasus tersebut. Camerer dan rekan mengulang 21 eksperimen ilmu sosial yang terbit di Nature dan Science antara 2010 dan 2015; sebanyak 13 di antaranya, atau 62 persen, menunjukkan efek searah yang signifikan, tetapi ukuran efek replikasi rata-rata hanya sekitar separuh dari aslinya (Camerer dkk., 2018). Survei Nature terhadap 1.576 peneliti pada 2016 menambahkan dimensi pengalaman: lebih dari 70 persen responden pernah gagal mengulang eksperimen peneliti lain, dan lebih dari separuh pernah gagal mengulang eksperimen mereka sendiri (Baker, 2016).

    Biologi kanker memberikan pelajaran paling tajam tentang dimensi infrastruktur krisis ini. Reproducibility Project: Cancer Biology menargetkan 193 eksperimen dari 53 makalah berpengaruh yang terbit pada 2010 hingga 2012, tetapi sebagian besar eksperimen bahkan tidak dapat dicoba karena informasi metode atau materi penelitiannya tidak tersedia; sekitar sepertiga peneliti asli tidak menjawab atau tidak membantu, sementara pemilik 41 persen eksperimen sangat membantu (Science News, 2021; eLife, 2021). Artinya, hambatan terbesar bukan ketidakjujuran, melainkan ketiadaan kebiasaan dan sarana untuk mendokumentasikan dan membagikan apa yang sebenarnya dilakukan di laboratorium. Kesimpulan analitis bagian ini dipegang dengan tingkat keyakinan tinggi: tingkat replikasi di berbagai disiplin berada pada kisaran sepertiga hingga dua pertiga, ukuran efek hampir selalu menyusut ketika diulang, dan sebagian besar masalah dapat ditelusuri ke ukuran sampel kecil, fleksibilitas analisis, bias publikasi, serta dokumentasi yang lemah. Kesimpulan bahwa sebagian besar temuan “palsu” dalam arti fabrikasi tidak didukung oleh bukti ini; yang didukung adalah bahwa sebagian besar temuan lebih rapuh daripada yang dikesankan oleh publikasinya.

    IV

    Brasil sebagai Cermin: Replikasi Nasional dari Selatan Global

    Ketika sebagian besar proyek replikasi besar dipimpin dari Amerika Utara dan Eropa, Brasil mengambil langkah yang hampir tidak lazim: memeriksa ilmu biomedisnya sendiri pada skala nasional. Brazilian Reproducibility Initiative dimulai pada 2017 oleh neurosains dan meta-peneliti Olavo Amaral dari Universidade Federal do Rio de Janeiro bersama Clarissa Carneiro, kini salah satu direktur eksekutif Brazilian Reproducibility Network (The Scientist, 2025). Tim tersebut menyaring lebih dari 2.700 publikasi peneliti Brasil, memilih tiga metode laboratorium yang sangat umum, yaitu uji reduksi MTT untuk metabolisme sel, RT-PCR untuk amplifikasi gen, dan uji elevated plus maze untuk perilaku kecemasan pada hewan, lalu meminta tiga laboratorium berbeda mengulang setiap eksperimen. Sebanyak 97 laboratorium mendaftar, 75 pernah bergabung, dan 56 menyelesaikan proyek; dari 143 replikasi atas 56 eksperimen yang datanya terkumpul, 97 replikasi atas 47 eksperimen dinilai sah untuk dianalisis (eLife, 2025).

    Hasilnya, yang diunggah sebagai pracetak di bioRxiv pada April 2025, menempatkan tingkat keberhasilan replikasi antara 15 dan 45 persen. Jika kriteria yang dipakai adalah apakah ukuran efek asli jatuh dalam interval prediksi 95 persen replikasi, angkanya 45 persen; jika kriterianya adalah signifikansi statistik replikasi pada p kurang dari 0,05, angkanya 19 persen; dan jika disyaratkan bahwa setidaknya separuh replikasi signifikan, angkanya turun menjadi 15 persen (eLife, 2025). Hampir sepertiga replikasi harus dikeluarkan karena menyimpang dari protokol, dan tim mencatat bahwa bahkan istilah dasar seperti apa yang dimaksud dengan “n sama dengan tiga” dalam kultur sel ditafsirkan berbeda oleh laboratorium yang berbeda. Proyek ini juga harus bertahan melewati penutupan laboratorium akibat pandemi dan pergantian staf, dua gangguan yang jauh lebih berat dampaknya bagi sistem ilmu yang pendanaannya tidak stabil.

    Hambatan terbesar keterulangan di Selatan Global bukan ketidakjujuran, melainkan ketiadaan bahasa protokol bersama yang membuat dua laboratorium dapat melakukan hal yang sama.

    Ada tiga pelajaran dari Brasil yang relevan bagi negara berkembang lain. Pertama, replikasi nasional mungkin dilakukan dengan biaya moderat; anggaran sekitar 1,2 juta real, kira-kira 208 ribu dolar AS, yang dibiayai Instituto Serrapilheira, adalah angka yang berada dalam jangkauan banyak lembaga riset nasional, termasuk di Asia Tenggara. Kedua, proyek semacam ini menghasilkan pengetahuan diagnostik yang tidak dapat diperoleh dari audit administratif: ia memperlihatkan secara konkret di mana protokol gagal dikomunikasikan, sehingga perbaikannya dapat diarahkan ke pelatihan dan standar pelaporan. Ketiga, dan paling penting secara politik, Brasil membuktikan bahwa memeriksa diri sendiri tidak harus berujung pada rasa malu nasional; proyek itu justru melahirkan jaringan reproduksibilitas nasional dan menempatkan peneliti Brasil sebagai rujukan global dalam meta-sains. Penilaian bahwa model Brasil dapat ditiru di Indonesia dengan penyesuaian dipegang dengan tingkat keyakinan sedang, karena keberhasilannya juga bergantung pada keberadaan filantropi ilmiah independen dan komunitas meta-peneliti yang di Indonesia masih kecil.

    V

    Infrastruktur sebagai Reformasi: Inggris, Belanda, dan Gerakan Jaringan di Afrika

    Inggris memilih jalur yang berbeda: alih-alih memulai dengan replikasi besar, negara itu membangun jaringan kelembagaan yang mengubah kebiasaan dari dalam universitas. UK Reproducibility Network diluncurkan secara resmi di King’s College London pada Maret 2019, berakar pada pertemuan di University of Bristol pada September 2018 dan gagasan yang dirumuskan antara lain oleh Dorothy Bishop, Chris Chambers, Laura Fortunato, dan Marcus Munafò (UKRN, t.t.). Strukturnya berlapis: relawan membentuk jaringan lokal di kampus masing-masing, universitas bergabung sebagai anggota kelembagaan, dan penyandang dana serta penerbit menjadi mitra. Pada September 2021, Research England mengucurkan 4,5 juta pound dari dana pengembangannya, ditambah 4 juta pound dari 18 universitas anggota dan mitra seperti Wiley, Springer Nature, Jisc, dan Academy of Medical Sciences, untuk program lima tahun pelatihan praktik riset terbuka (Times Higher Education, 2021). Logika Inggris adalah bahwa keterulangan pada akhirnya ditentukan oleh apa yang diajarkan kepada mahasiswa doktoral dan apa yang dihitung dalam penilaian karier, bukan oleh deklarasi.

    Belanda menyerang mata rantai lain: pendanaan. Pada Juli 2016, Netherlands Organisation for Scientific Research (NWO) mengumumkan program percontohan tiga tahun senilai 3 juta euro khusus untuk studi replikasi, yang disebut sebagai dana nasional pertama di dunia untuk tujuan itu, dengan target sekitar sepuluh proyek per tahun (Editage Insights, 2016). Kritik yang muncul saat itu, termasuk dari psikolog Harvard Daniel Gilbert, mempertanyakan apakah dana publik layak dipakai untuk riset yang tidak orisinal. Namun justru di situlah nilai simbolik dan praktis kebijakan Belanda: dengan menjadikan replikasi sebagai kategori hibah yang sah, NWO mengubah status replikasi dari pekerjaan sampingan yang merugikan karier menjadi kontribusi yang dapat dicantumkan dalam portofolio. Bersamaan dengan itu, format Registered Reports yang diperkenalkan Chris Chambers di jurnal Cortex pada 2013 mengubah mata rantai publikasi: makalah dinilai dan diterima berdasarkan pertanyaan dan metode sebelum hasil diketahui, sehingga hasil nol tidak lagi dihukum (Wikipedia, Registered report). Scheel dan rekan pada 2021 mendapati bahwa sekitar 96 persen artikel psikologi konvensional melaporkan hasil signifikan, berbanding 44 persen hipotesis dalam Registered Reports, sebuah selisih yang secara kasar mengukur besarnya bias publikasi, meskipun selisih korelasional itu tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.

    Afrika menunjukkan sisi lain dari persamaan ini, yaitu bagaimana gerakan keterulangan dapat dibangun ketika infrastruktur dasarnya sendiri belum tersedia. African Reproducibility Network dibentuk pada 2023 di bawah pimpinan Emmanuel Boakye dan menjadi anggota keluarga jaringan reproduksibilitas internasional; pendirinya secara terbuka menyebut adanya “celah besar” dalam gerakan sains terbuka Afrika, terutama infrastruktur, perbedaan praktik antarlembaga, dan langkanya kebijakan kelembagaan yang mewajibkan keterbukaan (Times Higher Education, 2023). Jaringan itu bekerja melalui lokakarya, komunitas praktik lokal, dan pelatihan pemimpin jaringan lokal, serta bermitra dengan Association of African Universities dan African Academy of Sciences (AfricArXiv, t.t.). Perbandingan tiga kasus ini menghasilkan penilaian dengan tingkat keyakinan sedang hingga tinggi: reformasi yang bertahan adalah reformasi yang menyentuh setidaknya dua mata rantai insentif sekaligus, misalnya pelatihan dan penilaian karier di Inggris, atau pendanaan dan publikasi di Belanda, sedangkan intervensi pada satu mata rantai saja cenderung diserap tanpa perubahan perilaku.

    VI

    Disiplin dari Atas: Model Tiongkok dan Batas Penegakan Integritas

    Tiongkok merupakan kasus pembanding yang wajib dibahas karena negara itu adalah produsen publikasi ilmiah terbesar di dunia dan sekaligus negara yang paling sering dikaitkan dengan penarikan massal makalah dari pabrik makalah. Respons negaranya bercorak terpusat. Pada 30 Mei 2018, Kantor Umum Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok dan Kantor Umum Dewan Negara menerbitkan pedoman penguatan integritas ilmiah yang menetapkan “toleransi nol” terhadap ketidakjujuran akademik serius, sembari secara eksplisit menyatakan toleransi terhadap percobaan dan kegagalan (State Council of the PRC, 2018). Pedoman itu menugaskan Kementerian Sains dan Teknologi memimpin pengawasan integritas di ilmu alam dan Chinese Academy of Social Sciences di ilmu sosial, membangun basis data catatan perilaku ilmuwan dan lembaga, membuat mekanisme peringatan yang memasukkan jurnal berbiaya tinggi bermutu rendah ke daftar hitam sehingga makalah di dalamnya tidak dihitung dalam penilaian apa pun, dan mengancam perantara jual-beli makalah dengan hukuman berat.

    Kekuatan model Tiongkok terletak pada kemampuannya mengubah sinyal pasar dengan cepat. Ketika sebuah jurnal masuk daftar peringatan, insentif untuk menerbitkan di sana hilang hampir seketika, karena penilaian karier di Tiongkok sangat terpusat. Pedoman 2018 juga menyentuh akar masalah ketika menyatakan bahwa makalah, paten, gelar, proyek, dan penghargaan tidak boleh menjadi syarat pembatas dalam evaluasi, sebuah pengakuan bahwa sistem yang menghitung jumlah makalah akan menghasilkan makalah, bukan pengetahuan. Namun kelemahan model ini juga tampak jelas dari sudut keterulangan. Penegakan dari atas efektif untuk pelanggaran yang dapat didefinisikan dan dideteksi, seperti plagiarisme, fabrikasi data, penulisan bayangan, dan manipulasi penelaahan sejawat; penegakan itu jauh kurang efektif untuk masalah keterulangan yang bersifat abu-abu, seperti analisis yang dipilih setelah data dilihat, ukuran sampel yang terlalu kecil, atau hasil nol yang disimpan di laci. Pelanggaran jenis kedua ini tidak melanggar aturan apa pun, tetapi justru merupakan penyumbang terbesar kerapuhan temuan sebagaimana ditunjukkan proyek-proyek replikasi.

    Pelajaran bagi negara lain karena itu bersifat ganda. Di satu sisi, negara memang memiliki peran yang tidak tergantikan dalam memutus pasar gelap publikasi, karena perantara jual-beli makalah dan jurnal predator tidak akan hilang oleh imbauan moral; di sisi lain, penegakan yang hanya menghukum tanpa membangun jalur alternatif yang dihargai akan menghasilkan perilaku menghindari deteksi, bukan perilaku menghasilkan temuan yang tahan uji. Penilaian kajian ini, dengan tingkat keyakinan sedang, adalah bahwa model Tiongkok paling berguna sebagai komponen penegakan dalam sistem yang lebih luas, bukan sebagai model utuh. Bagi negara demokratis dengan otonomi kampus yang lebih besar, seperti Indonesia, elemen yang paling layak diadopsi adalah daftar peringatan jurnal yang transparan dan dapat digugat, basis data integritas yang dapat diaudit, serta pernyataan normatif bahwa jumlah publikasi tidak boleh menjadi syarat tunggal kenaikan jabatan.

    VII

    Indonesia: Ekosistem Volume dan Defisit Keterulangan

    Indonesia memasuki perdebatan keterulangan dari posisi yang paradoksal. Dari sisi akses, negara ini adalah raksasa sains terbuka: 2.473 jurnal Indonesia terindeks di Directory of Open Access Journals per Maret 2025, sekitar 11,5 persen dari seluruh 21.457 jurnal di direktori itu, mengungguli Inggris dengan 2.176 jurnal, Brasil dengan 1.578, dan Amerika Serikat dengan 1.223 (Arief, DOAJ, 2025). Pertumbuhan itu melonjak pada 2016 dan 2017, ketika 466 jurnal Indonesia terindeks dalam satu tahun, bersamaan dengan diperkenalkannya Science and Technology Index (SINTA) pada 2017 dan aturan nasional yang mengaitkan pengindeksan dengan akreditasi, insentif, dan kenaikan jabatan. Jumlah publikasi peneliti Indonesia juga meningkat tajam, dari 6.080 pada 2013 menjadi 37.513 pada 2019 menurut data yang dikutip Tempo dari Nature, dan perubahan sistem penilaian peneliti tahun 2017 disebut sebagai salah satu pendorongnya (Tempo, 2024).

    Dari sisi keterulangan dan integritas, gambarnya jauh lebih muram. Pada 2023, sebanyak 124 peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tercantum sebagai pengarang satu artikel di jurnal Land terbitan MDPI; BRIN kemudian menyatakan adanya pelanggaran etik dan menjatuhkan sanksi kepada 121 peneliti berupa penurunan nilai perilaku dan pemotongan tunjangan kinerja 10 hingga 30 persen selama setahun (Tempo, 2024). Pada April 2024, dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional, Kumba Digdowiseiso, mengundurkan diri setelah peneliti Universiti Malaysia Terengganu menuduhnya mencantumkan puluhan kolega mereka sebagai rekan pengarang tanpa persetujuan, tuduhan yang ia bantah sebagai tidak berdasar (Retraction Watch, 2024). Pada Juli 2025, Research Integrity Risk Index (RI²) yang dikembangkan Lokman Meho dari American University of Beirut, berdasarkan tingkat retraksi per seribu publikasi dan porsi publikasi di jurnal yang dikeluarkan dari Scopus atau Web of Science, menempatkan 13 kampus Indonesia dalam kategori berisiko, lima di antaranya pada tingkat tertinggi; Forum Rektor meragukan validitas studi itu (Republika, 2025). Terakhir, pada Mei 2026, tiga warga negara Indonesia diduga memfabrikasi riset dan memalsukan identitas serta afiliasi pada konferensi ISPPD 2026 di Kopenhagen; Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyatakan bahwa ketiganya bukan akademisi aktif di lembaga mana pun (Metro TV News, 2026).

    Kerangka regulasi Indonesia sebenarnya tidak kosong, dan di sinilah peluang terbesarnya. Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2021 tentang integritas akademik merinci enam bentuk pelanggaran, yaitu fabrikasi, falsifikasi, plagiat, kepengarangan yang tidak sah, konflik kepentingan, dan pengajuan jamak (Metro TV News, 2026; LLDIKTI III, 2022). Lebih penting lagi dari sudut keterulangan, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi memuat kewajiban serah dan simpan data primer serta keluaran penelitian, yang dioperasikan BRIN melalui Repositori Ilmiah Nasional berbasis perangkat lunak terbuka Dataverse, dirancang mengikuti prinsip FAIR, dengan pilihan lisensi Creative Commons dan tiga tingkat akses: terbuka, terbatas melalui permintaan, dan tertutup (BRIN, Kebijakan Pengelolaan RIN, 2023). Indonesia juga memiliki sejarah inisiatif akar rumput yang penting: server pracetak INArxiv diluncurkan pada 17 Agustus 2017 di atas infrastruktur Open Science Framework, berhenti beroperasi pada Januari 2020 ketika tuntutan pendanaan pemeliharaan tidak tertanggungkan oleh komunitas, lalu lahir kembali sebagai RINarxiv pada 21 Mei 2020 di bawah lembaga pendahulu BRIN (Irawan, Zahroh, dan Puebla, 2022). Diagnosis kajian ini, dengan tingkat keyakinan tinggi, adalah bahwa Indonesia tidak kekurangan aturan maupun repositori; ia kekurangan mata rantai yang menghubungkan keduanya dengan penilaian karier, sehingga kewajiban serah simpan data diperlakukan sebagai formalitas administratif, bukan sebagai bukti mutu yang dihitung.

    Defisit ini juga bersifat historis. Pada tahun 2014, Budi Santosa dalam harian Kompas yang berjudul “Dari ‘Brain Drain’ ke ‘Brain Gain’” mengangkat kecemasan tentang hilangnya talenta di tengah pengiriman besar-besaran mahasiswa Indonesia ke luar negeri. Satu dekade kemudian, persoalannya bergeser: banyak lulusan doktoral luar negeri pulang membawa kebiasaan pra-registrasi, berbagi kode, dan penelaahan terbuka, tetapi mendapati bahwa sistem penilaian di dalam negeri lebih menghargai jumlah artikel terindeks daripada kualitas dokumentasi. Ketidaksesuaian antara kebiasaan yang dibawa pulang dan insentif yang menunggu di rumah inilah mekanisme halus yang menjelaskan mengapa pengetahuan metodologis tidak otomatis berubah menjadi praktik kelembagaan.

    VIII

    Ancaman Baru: Pabrik Makalah, Kecerdasan Buatan Generatif, dan Ekonomi Retraksi

    Jika krisis replikasi generasi pertama berpusat pada temuan jujur yang rapuh, gelombang kedua berpusat pada temuan yang sejak awal tidak pernah dihasilkan oleh penelitian. Skala masalah ini menjadi jelas pada 2023, ketika Hindawi, penerbit yang dibeli Wiley pada 2021, menarik lebih dari 8.000 artikel dalam setahun, lebih banyak daripada total retraksi seluruh penerbit dunia dalam satu tahun mana pun yang pernah dicatat Retraction Watch; Wiley memperkirakan kehilangan pendapatan 35 hingga 40 juta dolar AS dan memutuskan berhenti memakai nama Hindawi (Retraction Watch, 2023). Secara keseluruhan, sekitar 10.000 artikel ditarik pada 2023, naik sekitar 4.000 dari tahun sebelumnya (Tempo, 2024). Studi Richardson, Hong, Byrne, Stoeger, dan Amaral dalam Proceedings of the National Academy of Sciences pada Agustus 2025 menggambarkan entitas yang memungkinkan penipuan ilmiah berskala besar sebagai jaringan yang besar, tangguh, dan tumbuh cepat, melibatkan perantara yang menempatkan artikel di jurnal sesuai pesanan serta jaringan duplikasi gambar yang mencakup ribuan artikel (EASE, 2025). Menurut pemberitaan atas studi itu, jumlah naskah yang diduga berasal dari pabrik makalah berlipat dua setiap sekitar 18 bulan, sedangkan total keluaran publikasi berlipat dua sekitar setiap 15 tahun (Times Higher Education, 2025).

    Kecerdasan buatan generatif menambah lapisan kerumitan yang belum sepenuhnya dipahami. Kobak dan rekan dari Universitas Tübingen menganalisis sekitar 15,1 juta abstrak biomedis di PubMed dari 2010 hingga 2024 dengan meminjam kerangka “kematian berlebih” dari epidemiologi pandemi, lalu melacak kata-kata gaya yang frekuensinya melonjak setelah model bahasa besar tersedia luas; mereka memperkirakan hingga 13,5 persen abstrak tahun 2024 mungkin diproses dengan model bahasa besar (Scimex, 2025). Angka itu sendiri tidak menunjukkan kecurangan, karena banyak peneliti yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris memakai alat ini secara sah untuk menyunting. Masalahnya terletak pada asimetri biaya: teks yang tampak meyakinkan kini dapat diproduksi hampir tanpa biaya, sementara pemeriksaan terhadap apakah eksperimen di balik teks itu pernah dilakukan tetap mahal. Ketika biaya produksi klaim turun mendekati nol sementara biaya verifikasi tetap tinggi, satu-satunya pertahanan struktural adalah memindahkan bukti mutu dari teks ke artefak yang sulit dipalsukan, yaitu data mentah bertanda waktu, kode yang dapat dijalankan, protokol yang didaftarkan sebelumnya, dan materi yang dapat diminta.

    Implikasinya bagi Indonesia bersifat langsung. Sistem yang menilai karier terutama melalui jumlah artikel terindeks adalah sasaran ideal pabrik makalah, karena produk yang mereka jual adalah persis satuan yang dihitung. Penilaian ini, dengan tingkat keyakinan tinggi, menyatakan bahwa tanpa perubahan pada satuan yang dihitung, investasi apa pun pada alat deteksi akan menjadi perlombaan senjata yang mahal dan selalu tertinggal, sebagaimana digambarkan salah satu peneliti dalam studi PNAS itu sebagai upaya mengosongkan bak mandi yang meluap dengan sendok (Retraction Watch, 2025). Sebaliknya, ketika artefak keterulangan seperti set data di Repositori Ilmiah Nasional, pra-registrasi, dan laporan replikasi ikut dihitung dalam penilaian, pabrik makalah menghadapi biaya pemalsuan yang jauh lebih tinggi, karena memalsukan set data yang koheren dan kode yang dapat dijalankan jauh lebih sulit daripada memalsukan prosa. Tulisan berjudul “Jaringan Nalar” (2026) mengingatkan bahwa setiap pilihan metodologis membawa komitmen filosofis; dalam konteks ini, pilihan tentang apa yang dihitung sebagai bukti adalah pilihan tentang ilmu macam apa yang ingin dibangun sebuah bangsa.

    IX

    Argumen Tandingan Terkuat dan Jawabannya

    Argumen tandingan terkuat terhadap agenda keterulangan di Selatan Global perlu dirumuskan dalam bentuk paling kokohnya, bukan sebagai karikatur. Argumen itu berbunyi kira-kira sebagai berikut. Gerakan reproduksibilitas lahir dari krisis psikologi sosial dan biomedis di universitas kaya Amerika Utara dan Eropa, dan membawa asumsi epistemologis tertentu: bahwa pengetahuan yang sahih adalah pengetahuan yang dapat diulang dengan prosedur standar. Memaksakan asumsi itu pada sistem ilmu Indonesia, yang sebagian besar penelitiannya berada di ilmu sosial, humaniora, studi agama, hukum, dan pendidikan, berisiko menyingkirkan tradisi interpretif, etnografis, dan tekstual yang justru menjadi kekuatan khas kawasan ini. Selain itu, mewajibkan pra-registrasi, berbagi data, dan replikasi menambah beban administratif bagi dosen yang sudah terbebani mengajar, sementara dana riset per kapita sangat kecil; setiap rupiah yang dipakai untuk mengulang temuan lama adalah rupiah yang tidak dipakai untuk menjawab pertanyaan lokal yang belum pernah diteliti. Terakhir, standar keterbukaan dapat menjadi alat baru untuk mendiskualifikasi peneliti Selatan Global di mata penerbit dan pemeringkat Utara, menambah satu lagi lapisan “pajak” bagi mereka yang sudah tertinggal.

    Argumen ini mengandung kebenaran penting yang harus diakui. Benar bahwa replikasi dalam pengertian laboratorium tidak bermakna bagi sebuah etnografi tentang ritual di satu desa pada satu musim; tidak ada antropolog yang dapat mengulang peristiwa sosial yang sudah berlalu. Benar pula bahwa beban administratif tanpa imbalan akan memperburuk kelelahan dosen dan mendorong kepatuhan semu. Namun argumen itu keliru pada tiga titik. Pertama, ia menyamakan keterulangan dengan replikasi eksperimental, padahal kerangka tiga lapis yang dipakai kajian ini menunjukkan bahwa penelitian kualitatif dapat dan sudah memiliki standar keterlacakan interpretif, misalnya inisiatif Annotation for Transparent Inquiry dari Qualitative Data Repository, yang menautkan klaim dalam teks terbitan ke kutipan data, catatan analitis, dan sumber primer di baliknya (Elman dan Kapiszewski, 2018). Artikel “Etnografi Virtual” (2026), yang membaca jejak digital sebagai lapangan baru antropologi, juga memperlihatkan bahwa ketika lapangan menjadi digital, arsip lapangan itu sendiri menjadi dapat disimpan dan diperiksa, sehingga tuntutan keterlacakan justru semakin dapat dipenuhi oleh peneliti kualitatif.

    Kedua, argumen biaya mengabaikan bahwa ketidakterulangan itu sendiri sangat mahal. Ketika temuan rapuh dipakai untuk merancang program pendidikan atau kesehatan, biaya kegagalannya jauh melampaui biaya pemeriksaan awal; dan ketika reputasi sebuah sistem ilmu tercemar, seperti ketika majalah Science edisi Januari 2024 mengutip seorang pakar yang mengelompokkan peneliti Indonesia bersama beberapa negara lain sebagai pihak yang dicurigai dalam penipuan ilmiah (Tempo, 2024), seluruh peneliti jujur ikut membayar dalam bentuk kecurigaan editor dan mitra. Ketiga, argumen tentang “pajak” baru justru berbalik ketika Selatan Global membangun infrastrukturnya sendiri: Brasil menunjukkan bahwa negara yang memeriksa ilmunya sendiri menjadi pembuat standar, bukan penerima standar. Jawaban kajian ini karena itu bukan penolakan terhadap kritik, melainkan reformulasi agenda: keterulangan bertingkat sesuai jenis penelitian, dibiayai sebagai barang publik, dan diakui dalam penilaian karier. Penilaian bahwa argumen tandingan tersebut tidak membatalkan agenda keterulangan, tetapi menentukan bentuknya, dipegang dengan tingkat keyakinan tinggi.

    X

    Skenario hingga 2030 dan Penanda Arah

    Masa depan keterulangan ilmu di Indonesia hingga 2030 dapat dipetakan melalui dua ketidakpastian kunci. Ketidakpastian pertama adalah apakah satuan yang dihitung dalam penilaian karier dosen dan peneliti bergeser dari jumlah artikel terindeks ke kombinasi mutu artikel dan artefak keterulangan. Ketidakpastian kedua adalah apakah gelombang pabrik makalah dan teks buatan mesin akan melahirkan skandal besar yang memaksa reformasi dari luar, misalnya melalui penarikan massal yang menimpa jurnal atau kampus Indonesia. Kombinasi keduanya menghasilkan empat skenario. Probabilitas yang dicantumkan di bawah ini adalah penilaian analitis kajian ini per 24 Oktober 2026, bukan perhitungan statistik, dan dimaksudkan untuk diperbarui ketika penanda arah berubah.

    Empat Skenario Keterulangan Ilmu Indonesia hingga 2030 (penilaian penulis, 24 Oktober 2026)

    1. AKepatuhan administratif: aturan bertambah, insentif tetap menghitung volume40%
    2. BReformasi bertahap: artefak keterulangan mulai dihitung dalam penilaian karier32%
    3. CGuncangan reputasi: skandal pabrik makalah memaksa reformasi dari luar20%
    4. DLompatan: Indonesia menjadi simpul sains terbuka dan replikasi Selatan Global8%

    Probabilitas merupakan penilaian analitis, bukan hasil model statistik; total 100 persen. Penanda arah dibahas dalam teks.

    Skenario A, kepatuhan administratif, adalah skenario paling mungkin karena merupakan kelanjutan dari kecenderungan yang sudah berjalan: regulasi integritas bertambah, alat pemeriksa kemiripan dan detektor teks buatan mesin dibeli, tetapi penilaian jabatan fungsional tetap menghitung artikel. Dalam skenario ini, pelanggaran kasar seperti plagiarisme berkurang, tetapi kerapuhan temuan tidak berubah dan pabrik makalah beradaptasi dengan menjual produk yang lolos deteksi. Skenario B, reformasi bertahap, terjadi bila kementerian dan BRIN mulai memberi bobot pada set data yang tersimpan di repositori nasional, pra-registrasi, dan laporan replikasi dalam penilaian karier, setidaknya untuk hibah kompetitif. Skenario C dipicu oleh peristiwa di luar kendali domestik, misalnya penarikan massal yang menimpa banyak peneliti Indonesia atau keputusan pengindeks internasional mengeluarkan sejumlah jurnal Indonesia; reformasi dalam skenario ini cepat tetapi defensif, cenderung menghukum daripada membangun. Skenario D, lompatan, mensyaratkan bahwa Indonesia memanfaatkan modal terbesarnya, yaitu jumlah jurnal akses terbuka dan repositori nasional berbasis Dataverse, untuk memimpin replikasi kawasan bersama mitra ASEAN dan Selatan Global; skenario ini kecil kemungkinannya bukan karena mustahil, melainkan karena membutuhkan koordinasi lintas lembaga yang belum pernah terjadi.

    Lima penanda arah perlu diamati. Penanda pertama adalah revisi pedoman penilaian angka kredit dosen dan peneliti: munculnya butir yang menghargai set data terbuka, kode, dan replikasi akan menggeser peluang ke arah skenario B. Penanda kedua adalah statistik Repositori Ilmiah Nasional, khususnya proporsi set data yang benar-benar terbuka dan dapat digunakan ulang, bukan sekadar jumlah unggahan. Penanda ketiga adalah pembaruan indeks risiko integritas internasional seperti RI² dan pola retraksi yang menimpa afiliasi Indonesia; kenaikan tajam akan menggeser peluang ke skenario C. Penanda keempat adalah apakah jurnal Indonesia mulai menawarkan format Registered Reports dan kebijakan ketersediaan data. Penanda kelima adalah lahirnya jaringan reproduksibilitas nasional atau konsorsium replikasi lintas kampus, yang akan menjadi tanda paling awal skenario D. Pengamatan atas kelima penanda ini sebaiknya dilakukan setiap enam bulan.

    XI

    Rekomendasi: Aktor, Langkah, dan Tenggat

    Bagi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, rekomendasi paling strategis adalah mengubah satuan yang dihitung, karena seluruh rantai insentif berawal di sana. Paling lambat pertengahan 2027, kementerian perlu menerbitkan revisi pedoman penilaian karier yang memberi bobot eksplisit pada artefak keterulangan, yaitu set data terdeposit dengan pengenal persisten, kode analisis yang dapat dijalankan, pra-registrasi, Registered Reports, dan laporan replikasi, serta membatasi jumlah karya yang dapat diajukan untuk kenaikan jabatan sehingga penilai membaca mutu, bukan menghitung volume. Pada akhir 2027, kementerian juga perlu menyusun daftar peringatan jurnal yang transparan, dengan kriteria terbuka dan mekanisme keberatan, dengan meminjam unsur terbaik pedoman Tiongkok tanpa mengadopsi sifat tertutupnya. Bagi BRIN, prioritas hingga akhir 2027 adalah mengubah Repositori Ilmiah Nasional dari gudang kepatuhan menjadi infrastruktur riset hidup: menerbitkan statistik penggunaan ulang secara berkala, menyediakan templat dokumentasi per disiplin termasuk untuk data kualitatif, dan menghubungkan setiap set data dengan publikasi terkaitnya.

    Bagi universitas, rekomendasi berfokus pada pendidikan dan tata kelola. Mulai tahun akademik 2027/2028, setiap program doktoral sebaiknya mewajibkan mata kuliah atau modul tentang reproduksibilitas, pra-registrasi, manajemen data, dan transparansi penelitian kualitatif, sehingga generasi peneliti berikutnya memperlakukan dokumentasi sebagai bagian dari metode, bukan sebagai beban tambahan. Universitas juga perlu membentuk komite integritas riset yang independen dari pimpinan fakultas, dengan prosedur pelaporan yang melindungi pelapor, karena kasus seperti dosen yang melaporkan publikasi janggal seorang guru besar baru tanpa mendapat tanggapan, sebagaimana diberitakan Mojok (2025), menunjukkan bahwa saluran internal sering tidak bekerja. Bagi pengelola jurnal, langkah yang dapat dimulai dalam dua belas bulan adalah mengadopsi kebijakan ketersediaan data, menawarkan format Registered Reports setidaknya pada satu jurnal unggulan per kampus besar, dan menerbitkan hasil nol serta studi replikasi sebagai kategori artikel yang sah.

    Bagi penyandang dana, baik pemerintah melalui skema hibah riset maupun lembaga pengelola dana abadi pendidikan dan filantropi, rekomendasinya adalah meniru Belanda dan Brasil secara langsung: menyisihkan porsi kecil, misalnya satu hingga dua persen anggaran hibah kompetitif, untuk studi replikasi temuan Indonesia yang berpengaruh bagi kebijakan, mulai siklus pendanaan 2027, dan membiayai satu proyek replikasi nasional percontohan di bidang yang paling berdampak bagi kebijakan, seperti pendidikan atau kesehatan masyarakat, untuk diselesaikan pada 2030. Bagi mitra internasional, termasuk jaringan reproduksibilitas di Inggris dan Afrika, Brazilian Reproducibility Network, UNESCO dalam kerangka Rekomendasi tentang Sains Terbuka 2021, serta penerbit dan pengindeks global, rekomendasinya adalah membangun kemitraan pelatihan dan replikasi lintas negara dengan Indonesia dan ASEAN sebelum 2028, serta memastikan bahwa indikator risiko integritas yang mereka terbitkan disertai metodologi terbuka dan kesempatan klarifikasi bagi lembaga yang dinilai. Bagi komunitas peneliti sendiri, langkah paling murah dan paling cepat adalah memulai jaringan reproduksibilitas nasional berbasis relawan pada 2027, dengan memanfaatkan pengalaman INArxiv yang membuktikan bahwa inisiatif akar rumput Indonesia mampu bergerak lebih cepat daripada birokrasi.

    XII

    Keterbatasan dan Kesimpulan: Ilmu yang Berani Diperiksa

    Kajian ini memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu dinyatakan secara terbuka. Pertama, bukti tentang tingkat replikasi berasal terutama dari psikologi, ilmu sosial eksperimental, dan biomedis; belum ada proyek replikasi sistematis atas penelitian Indonesia, sehingga diagnosis tentang kerapuhan temuan Indonesia merupakan inferensi dari pola global dan dari indikator integritas, bukan pengukuran langsung. Kedua, sebagian data kasus Indonesia bersumber dari pemberitaan media dan indeks pihak ketiga seperti RI² yang validitasnya diperdebatkan oleh Forum Rektor; kajian ini memperlakukannya sebagai sinyal risiko, bukan vonis. Ketiga, kajian ini tidak mengakses data internal penilaian jabatan fungsional atau statistik penggunaan ulang Repositori Ilmiah Nasional, sehingga penilaian tentang lemahnya hubungan antara repositori dan penilaian karier perlu diuji dengan data administratif. Keempat, probabilitas skenario bersifat penilaian analitis dan sensitif terhadap perubahan kebijakan yang dapat terjadi dengan cepat setelah pergantian pejabat.

    Kesimpulannya dapat dirumuskan dengan lugas. Krisis replikasi bukan bukti bahwa sains gagal, melainkan bukti bahwa sains berhasil memeriksa dirinya sendiri ketika diberi sarana untuk itu. Negara yang paling banyak belajar dari krisis ini, yaitu Brasil, Inggris, dan Belanda, tidak memulai dengan hukuman, tetapi dengan infrastruktur yang membuat pemeriksaan ulang menjadi murah dan dihargai, sedangkan Tiongkok menunjukkan bahwa penegakan dari atas efektif untuk pelanggaran yang jelas tetapi tidak cukup untuk masalah kerapuhan yang abu-abu. Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara: ribuan jurnal akses terbuka, kewajiban serah simpan data dalam undang-undang, repositori nasional berbasis prinsip FAIR, dan sejarah inisiatif sains terbuka akar rumput. Modal itu akan tetap menjadi potensi selama satuan yang dihitung dalam karier akademik masih berupa jumlah artikel. Pilihan yang dihadapi sistem ilmu Indonesia hingga 2030 karena itu bukan antara keterbukaan dan kedaulatan ilmu, melainkan antara ilmu yang hanya banyak diterbitkan dan ilmu yang berani diperiksa ulang; hanya jenis kedua yang layak menjadi dasar kebijakan, pengobatan, dan pendidikan sebuah bangsa.

    ◆ ◆ ◆

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    • BRIN. (2023). Kebijakan Pengelolaan Repositori Ilmiah Nasional (RIN). rin.brin.go.id
    • BRIN. (2023). Panduan Teknis RIN 2023. rin.brin.go.id
    • LLDIKTI Wilayah III. (2022). Surat Tindak Lanjut Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2021 tentang Integritas Akademik dalam Menghasilkan Karya Ilmiah. lldikti3.kemdikbud.go.id
    • State Council of the People’s Republic of China. (2018, 31 Mei). China issues guideline on scientific integrity. english.www.gov.cn
    • Arief, I. (2025, 22 April). Understanding the growth of Indonesian journals in DOAJ. Directory of Open Access Journals. blog.doaj.org
    • ALLEA. (2021). UNESCO General Conference adopts Recommendation on Open Science. allea.org

    Literatur ilmiah

    • Open Science Collaboration. (2015). Estimating the reproducibility of psychological science. Science, 349(6251), aac4716. doi.org/10.1126/science.aac4716
    • Klein, R. A., dkk. (2018). Many Labs 2: Investigating variation in replicability across samples and settings. Advances in Methods and Practices in Psychological Science, 1(4), 443–490. research.monash.edu
    • Camerer, C. F., dkk. (2018). Evaluating the replicability of social science experiments in Nature and Science between 2010 and 2015. Nature Human Behaviour, 2, 637–644. pure.eur.nl
    • Baker, M. (2016). 1,500 scientists lift the lid on reproducibility. Nature, 533, 452–454. Ringkasan dan rujukan
    • Errington, T. M., dkk. (2021). Reproducibility in cancer biology: What have we learned? eLife. elifesciences.org
    • Richardson, R. A. K., Hong, S. S., Byrne, J. A., Stoeger, T., & Amaral, L. A. N. (2025). The entities enabling scientific fraud at scale are large, resilient, and growing rapidly. PNAS, 122(32), e2420092122. amaral.northwestern.edu
    • Wilkinson, M. D., dkk. (2016). The FAIR Guiding Principles for scientific data management and stewardship. Scientific Data, 3, 160018. dataverse.org
    • Elman, C., & Kapiszewski, D. (2018). The Qualitative Data Repository’s Annotation for Transparent Inquiry (ATI) Initiative. PS: Political Science & Politics, 51(1), 3–6. cambridge.org
    • Irawan, D. E., Zahroh, H., & Puebla, I. (2022). Preprints as a driver of open science: Opportunities for Southeast Asia. Frontiers in Research Metrics and Analytics. frontiersin.org

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    • eLife. (2025, 29 April). Reproducibility: How replicable is biomedical science in Brazil? elifesciences.org
    • UK Reproducibility Network. (t.t.). About UKRN. ukrn.org
    • African Reproducibility Network. (t.t.). The African Reproducibility Network (AREN): Building gateways to open science in Africa. AfricArXiv. info-africarxiv.ubuntunet.net
    • European Association of Science Editors. (2025, Agustus). Fraudulent publication growth is outpacing legitimate science. ease.org.uk
    • Bustamam Ahmad, K. (2026, 4 Mei). Jaringan Nalar: Ontologi, Epistemologi, dan Genealogi Teori Sosial dalam Studi Christopher Lloyd. kba13.com
    • Bustamam Ahmad, K. (2026, 9 Mei). Etnografi Virtual: Membaca Jejak Digital sebagai Lapangan Baru Antropologi Digital. kba13.com

    Media dan pemberitaan

    • Haelle, T. (2021, Desember). A massive 8-year effort finds that much cancer research can’t be replicated. Science News. sciencenews.org
    • Bradford, S. (2025). Brazilian scientists evaluate reproducibility in biomedical research. The Scientist. the-scientist.com
    • Times Higher Education. (2021, 15 September). UK reproducible science project wins £8.5 million. timeshighereducation.com
    • Times Higher Education. (2023). ‘Huge gaps’ in African open science movement, new network warns. timeshighereducation.com
    • Times Higher Education. (2025, 5 Agustus). ‘Sophisticated global networks’ undermining science, finds study. timeshighereducation.com
    • Editage Insights. (2016). Dutch organization launches world’s first national fund for replication studies. editage.com
    • Kincaid, E. (2023, 19 Desember). Hindawi reveals process for retracting more than 8,000 paper mill articles. Retraction Watch. retractionwatch.com
    • Retraction Watch. (2024, 19 April). Dean in Indonesia resigns following Retraction Watch report. retractionwatch.com
    • Retraction Watch. (2025, 4 Agustus). Fighting coordinated publication fraud is like ’emptying an overflowing bathtub with a spoon,’ study coauthor says. retractionwatch.com
    • Scimex. (2025, 4 Juli). AI chatbots might be helping to write more than 1 in 10 biomedical research papers. scimex.org
    • Tempo. (2024, 15 Februari). The poor reputation of our scientists. en.tempo.co
    • Republika. (2025, 2 Juli). Studi: 13 kampus ternama Indonesia diragukan integritas penelitiannya. republika.co.id
    • Metro TV News. (2026, 28 Mei). Riset WNI di Denmark langgar integritas akademik? Ini penjelasan dan sanksinya. metrotvnews.com
    • Effendi, A. (2025, 23 Oktober). Guru besar abal-abal: Gelarnya diperebutkan dengan penuh kecurangan. Mojok. mojok.co

    Arsip & Pustaka

    Cara Mengutip

    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad. (2026). Ilmu yang Dapat Diulang: Krisis Replikasi, Infrastruktur Sains Terbuka, dan Reformasi Metodologi dari Selatan Global. KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/ilmu-dapat-diulang-krisis-replikasi-sains-terbuka/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama di UIN Ar-Raniry Banda Aceh; PhD Sosiologi, La Trobe University (2011). Pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy, menulis analisis geopolitik, kajian strategis, dan studi peradaban Islam di Dunia Melayu.

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →