Tag: rivalitas AS–Tiongkok

  • Peta Kecondongan Asia Tenggara: Dataset Pilihan Elite antara Amerika Serikat dan Tiongkok 2020–2026

    Peta Kecondongan Asia Tenggara: Dataset Pilihan Elite antara Amerika Serikat dan Tiongkok 2020–2026

    Dataset · Geopolitik

    Peta Kecondongan Asia TenggaraDataset Pilihan Elite antara Amerika Serikat dan Tiongkok 2020–2026: Struktur, Kamus Data, dan Batas Tafsir

    Tujuh edisi survei ISEAS dihimpun menjadi dataset terdokumentasi: rata-rata regional, tabel per negara, indikator kepercayaan, kamus data, dan berkas CSV, lengkap dengan uji konsistensi dan peringatan tentang cara membacanya.

    Penulis: Kamaruzzaman Bustamam AhmadJenis: DatasetTanggal: 25 Oktober 2026± 30 menit baca
    Daftar Isi
    1. I. Ringkasan Eksekutif: Pertanyaan, Temuan, dan Mengapa Penting
    2. II. Kerangka Analitis dan Catatan Metode
    3. III. Sumber Data, Cakupan, dan Konstruksi Dataset
    4. IV. Tabel Inti 1: Lintasan Regional 2020–2026
    5. V. Tabel Inti 2: Kecondongan per Negara 2023–2026
    6. VI. Tabel Pendukung: Pengaruh, Kepercayaan, dan Kekhawatiran 2026
    7. VII. Kamus Data dan Panduan Penggunaan
    8. VIII. Perbandingan Internasional: Pew 2025, Afrobarometer 2026, dan Pelajaran Lintas Kawasan
    9. IX. Argumen Tandingan: “Survei Elite Bukan Barometer Geopolitik”
    10. X. Skenario dan Penanda Arah 2027–2029
    11. XI. Rekomendasi bagi Pengguna Data dan Pembuat Kebijakan
    12. XII. Keterbatasan dan Kesimpulan
    Peta Kecondongan Asia Tenggara
    Rata-rata regional menyembunyikan polarisasi: Indonesia 80,1% memilih Tiongkok, Filipina 76,8% memilih AS (2026).

    Abstrak

    Kajian data ini menyusun dataset terdokumentasi tentang pilihan elite Asia Tenggara antara Amerika Serikat dan Tiongkok berdasarkan tujuh edisi survei The State of Southeast Asia (ISEAS–Yusof Ishak Institute) tahun 2020–2026. Dataset memuat rata-rata regional tujuh tahun, proporsi per negara 2023–2026, indikator pengaruh, kepercayaan, dan kekhawatiran 2026, kamus data, serta berkas CSV. Setiap nilai diberi kode status (dilaporkan, diturunkan, tidak tersedia) dan diuji terhadap rata-rata resmi; uji untuk 2025 dan 2026 cocok sepenuhnya. Temuan utama menunjukkan sikap elite yang volatil, polarisasi tajam menurut geografi ancaman, dan kecondongan pragmatis ke Tiongkok pada 2026 yang tidak disertai kepercayaan. Latihan pembobotan populasi memperlihatkan betapa sensitif headline regional terhadap pilihan metode dan betapa menentukan sikap elite Indonesia. Kajian membandingkan data dengan Pew 2025 dan Afrobarometer 2026, menguji argumen tandingan tentang keabsahan survei elite, serta menyajikan skenario, rekomendasi, dan panduan penggunaan.

    TesisAsia Tenggara tidak sedang memilih blok; elite kawasan melakukan lindung nilai, dan pergeseran 2026 lebih merupakan kecemasan terhadap Washington daripada kepercayaan kepada Beijing.
    DataRata-rata regional 2020–2026, tabel per negara 2023–2026, indikator kepercayaan dan kekhawatiran 2026, CSV.
    KerangkaTeori lindung nilai, opini elite vs perilaku negara, aturan kode L/D/n.a. dan uji konsistensi.
    ProyeksiTiga skenario 2027–2029, penanda arah, dan panduan pemakaian ulang data.
    Kata kunciISEASopini eliterivalitas AS–Tiongkoklindung nilaiASEANdatasetkamus dataIndonesia
    I

    Ringkasan Eksekutif: Pertanyaan, Temuan, dan Mengapa Penting

    Kajian data ini menjawab pertanyaan yang terus diperdebatkan di ibu kota-ibu kota dunia: ke arah mana elite Asia Tenggara condong ketika dihadapkan pada pilihan hipotetis antara Amerika Serikat dan Tiongkok, dan seberapa jauh angka-angka survei itu dapat dipercaya sebagai petunjuk arah geopolitik kawasan? Untuk itu, kajian ini menyusun dataset terdokumentasi dari tujuh edisi survei tahunan The State of Southeast Asia yang diterbitkan ISEAS–Yusof Ishak Institute di Singapura, mencakup periode 2020 sampai 2026, lengkap dengan tabel per negara, indikator pendukung tentang pengaruh dan kepercayaan, kamus data, aturan konstruksi, serta catatan tentang nilai yang diturunkan. Dataset ini dirancang agar dapat dipakai ulang oleh peneliti, pengajar, dan analis kebijakan, sekaligus agar keterbatasannya terlihat jelas.

    Temuan pokok dapat diringkas dalam tiga penilaian. Pertama, dengan keyakinan tinggi, kecondongan elite kawasan bersifat volatil, bukan tren linear: proporsi responden yang memilih Amerika Serikat naik dari 53,6 persen pada 2020 ke 61,5 persen pada 2021, turun ke 49,5 persen pada 2024, naik lagi ke 52,3 persen pada 2025, lalu turun ke 48,0 persen pada 2026, ketika Tiongkok dipilih oleh 52,0 persen responden. Kedua, dengan keyakinan tinggi, rata-rata regional menyembunyikan polarisasi yang tajam dan semakin dalam: pada 2026 Indonesia mencatat 80,1 persen responden memilih Tiongkok, sementara Filipina mencatat 76,8 persen memilih Amerika Serikat. Ketiga, dengan keyakinan sedang, pergeseran 2026 lebih banyak didorong oleh kekhawatiran terhadap kebijakan Amerika Serikat daripada oleh meningkatnya kepercayaan terhadap Tiongkok, karena pada tahun yang sama Tiongkok hanya dipercaya oleh 39,8 persen responden, lebih rendah daripada Jepang, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.

    Mengapa ini penting secara global? Asia Tenggara adalah kawasan dengan sekitar 690 juta penduduk, jalur laut yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, serta rantai pasok manufaktur yang semakin penting setelah diversifikasi produksi dari Tiongkok. Persepsi elite kawasan, yang mencakup pejabat pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan aktivis masyarakat sipil, membentuk ruang gerak kebijakan luar negeri negara-negara ASEAN. Bila persepsi itu bergeser, pilihan tentang investasi, kerja sama pertahanan, dan keanggotaan dalam blok-blok baru juga ikut bergeser. Keputusan Indonesia menjadi anggota penuh BRICS, yang diumumkan Brasil pada 6 Januari 2025 sebagaimana tercatat di laman resmi kepresidenan BRICS Brasil, adalah contoh bagaimana suasana elite dan langkah diplomatik saling berkelindan.

    Namun kajian ini juga memperingatkan agar angka survei tidak dibaca secara naif. Pertanyaan tentang pilihan “jika ASEAN dipaksa memilih” adalah pertanyaan hipotetis tentang perilaku kolektif yang hampir mustahil terjadi; responden adalah elite yang dipilih secara purposif, bukan sampel acak penduduk; dan rata-rata regional memberi bobot yang sama kepada Brunei dan Indonesia, padahal populasinya berbeda ratusan kali lipat. Bagian-bagian berikut menjelaskan bagaimana dataset disusun, apa yang ditunjukkannya, bagaimana membandingkannya dengan survei global lain, dan bagaimana memakainya secara bertanggung jawab. Seluruh angka disertai sumber terbuka yang dapat diperiksa.

    II

    Kerangka Analitis dan Catatan Metode

    Kerangka analitis kajian ini bertumpu pada teori lindung nilai (hedging) dalam hubungan internasional Asia Tenggara. Kuik Cheng-Chwee, dalam artikelnya di Contemporary Southeast Asia tahun 2008, “The Essence of Hedging: Malaysia and Indonesia’s Response to a Rising China”, mendefinisikan lindung nilai sebagai perilaku negara kecil dan menengah yang menjalankan kebijakan yang tampak kontradiktif terhadap dua kekuatan besar sekaligus, untuk menyiapkan jalan mundur bila keadaan berubah. Menurut Kuik, lindung nilai paling mungkin terjadi ketika ancaman tidak segera dan tidak jelas, serta ketika sumber dukungan vital tidak pasti; di tingkat domestik, ia juga berfungsi sebagai strategi legitimasi elite penguasa. Kerangka ini penting untuk membaca data survei karena ia memprediksi bahwa kecondongan elite akan berfluktuasi mengikuti peristiwa, bukan mengeras menjadi blok permanen.

    Kerangka kedua berasal dari literatur opini elite dan kebijakan luar negeri, yang membedakan antara preferensi yang dinyatakan dalam survei dan perilaku negara yang dapat diamati. Preferensi elite adalah indikator suasana, bukan prediktor kebijakan. Hubungan keduanya dimediasi oleh struktur ekonomi, ikatan keamanan, kalkulasi politik domestik, dan kepemimpinan individual. Dataset ini karena itu diperlakukan sebagai sensor sikap yang dapat dibandingkan dengan indikator perilaku, misalnya keanggotaan dalam forum, kerja sama militer, atau kebijakan perdagangan. Kesenjangan antara sikap dan perilaku justru menjadi bahan analisis yang berharga.

    Catatan metode perlu dirinci. Sumber utama adalah laporan survei ISEAS edisi 2026, yang dapat diakses penuh di situs ISEAS, serta edisi-edisi sebelumnya sebagaimana dilaporkan oleh media dan lembaga kajian yang mengutipnya secara langsung. Survei 2026 dijalankan secara daring pada 5 Januari sampai 20 Februari 2026 dengan 2.008 responden dari sebelas negara anggota ASEAN, termasuk Timor-Leste. Komposisi responden menurut afiliasi adalah sektor swasta 42,9 persen, pemerintah 21,1 persen, akademisi dan lembaga riset 19,5 persen, masyarakat sipil, LSM, dan media 11,2 persen, serta organisasi regional atau internasional 5,3 persen. Survei 2025 dijalankan pada 3 Januari sampai 15 Februari 2025 dengan 2.023 responden, menurut ringkasan Manohar Parrikar Institute for Defence Studies and Analyses.

    Prosedur kompilasi mengikuti empat aturan. Aturan pertama: angka yang dilaporkan langsung oleh ISEAS atau dikutip tanpa perubahan oleh sumber sekunder bereputasi diberi kode L (dilaporkan). Aturan kedua: angka yang dihitung dari angka lain, misalnya proporsi pemilih Tiongkok yang diturunkan dari 100 dikurangi proporsi pemilih Amerika Serikat, diberi kode D (diturunkan), dan perhitungannya dijelaskan. Aturan ketiga: angka yang tidak dapat diverifikasi dibiarkan kosong dengan kode n.a., bukan diisi dengan perkiraan. Aturan keempat: setiap nilai diuji konsistensinya terhadap rata-rata regional yang dipublikasikan; bila rata-rata hasil perhitungan dari nilai per negara cocok dengan rata-rata resmi, keyakinan terhadap nilai per negara meningkat. Untuk 2025 dan 2026, uji ini berhasil: rata-rata sepuluh negara hasil hitung ulang adalah 47,7 persen pada 2025 dan 51,4 persen pada 2026, persis sama dengan angka yang dilaporkan.

    Uji konsistensi itu juga memungkinkan satu nilai diturunkan secara aljabar. Laporan media menyebut hasil Laos 2026 sebagai “hampir seimbang” tanpa angka pasti. Karena rata-rata sepuluh negara 2026 adalah 51,4 persen dan sembilan nilai lain diketahui, nilai Laos dapat diturunkan sebesar sekitar 49,5 persen untuk Tiongkok. Nilai ini diberi kode D dan keyakinan sedang, karena bergantung pada pembulatan angka lain. Di luar prosedur kuantitatif, kajian ini memakai pembacaan kualitatif terhadap konteks peristiwa tiap tahun untuk menafsirkan pergeseran, dengan label keyakinan yang eksplisit untuk setiap tafsir.

    III

    Sumber Data, Cakupan, dan Konstruksi Dataset

    Survei The State of Southeast Asia adalah instrumen opini elite paling konsisten di kawasan dan telah menjadi rujukan standar bagi pemerintah, lembaga kajian, dan media internasional. Kekuatannya terletak pada kontinuitas pertanyaan, cakupan seluruh negara anggota ASEAN, dan publikasi terbuka. Pertanyaan inti yang menjadi tulang punggung dataset ini berbunyi kurang lebih: jika ASEAN dipaksa menyelaraskan diri dengan salah satu rival strategis, mana yang harus dipilih? Responden hanya diberi dua pilihan, Amerika Serikat atau Tiongkok, sehingga hasilnya selalu berjumlah seratus persen. Desain biner ini memudahkan perbandingan antartahun, tetapi juga memaksa responden yang sebenarnya memilih netralitas untuk menyatakan kecondongan.

    Dataset terdiri atas empat tabel. Tabel 1 memuat rata-rata regional pilihan biner untuk tujuh tahun, 2020 sampai 2026. Tabel 2 memuat proporsi pemilih Tiongkok per negara untuk empat tahun terakhir, 2023 sampai 2026, yang merupakan rentang dengan data per negara paling lengkap dalam sumber terbuka yang dapat diverifikasi. Tabel 3 memuat indikator pendukung 2026: persepsi kekuatan ekonomi dan politik-strategis paling berpengaruh, tingkat kepercayaan terhadap kekuatan besar, serta dua indikator kekhawatiran per negara. Tabel 4 adalah kamus data yang mendefinisikan setiap variabel, satuan, kode sumber, dan catatan penggunaan. Sebuah berkas CSV yang memuat Tabel 2 disediakan untuk diunduh dan dipakai dalam perangkat analisis statistik.

    Data per negara untuk 2023 dan 2024 berasal dari analisis David Hutt untuk Radio Free Asia pada 20 April 2024 dan laporan Radio Free Asia pada 3 April 2024, yang melaporkan proporsi pemilih Amerika Serikat; proporsi pemilih Tiongkok diturunkan dengan pengurangan. Data per negara 2025 berasal dari ringkasan Temjenmeren Ao untuk MP-IDSA pada 2 Mei 2025. Data per negara 2026 berasal dari laporan Thairath dan The Thaiger pada 7 April 2026, yang dikonfirmasi silang dengan perubahan poin persentase yang dilaporkan Sinic Analytica, yakni kenaikan Singapura 19,2 poin, Vietnam 14,3 poin, Filipina 9,6 poin, dan Indonesia 7,9 poin. Keempat perubahan itu cocok dengan selisih antara nilai 2025 dan 2026 dalam dataset, sehingga keyakinan terhadap kedua seri tinggi.

    Rata-rata regional diambil dari sumber berikut: angka 2020 dan 2021 dari laporan CNBC pada 16 Februari 2021; angka 2022 dari tulisan Terence Chong di Fulcrum pada 16 Februari 2022; angka 2023 dan 2024 dari Radio Free Asia; angka 2025 dan 2026 dari South China Morning Post pada 7 April 2026 dan laporan ISEAS 2026. Untuk 2026, kajian ini mencatat dua angka: rata-rata sebelas negara (52,0 persen Tiongkok) dan rata-rata sepuluh negara tanpa Timor-Leste (51,4 persen), agar perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya tetap setara.

    Pilihan untuk tidak memasukkan data per negara 2020 sampai 2022 bersifat disengaja. Sumber terbuka yang dapat diverifikasi untuk periode itu hanya memberi gambaran parsial, misalnya bahwa pada 2021 mayoritas responden di tujuh negara memilih Amerika Serikat dan bahwa Kamboja, Indonesia, Malaysia, serta Thailand berpindah sisi dibandingkan 2020. Mengisi tabel dengan angka yang tidak dapat diperiksa akan bertentangan dengan prinsip transparansi dataset. Pengguna yang membutuhkan seri lengkap dianjurkan merujuk langsung ke laporan tahunan ISEAS edisi terkait.

    IV

    Tabel Inti 1: Lintasan Regional 2020–2026

    Tabel 1. Pilihan biner elite ASEAN jika “dipaksa memilih”, rata-rata regional (%)
    TahunAmerika SerikatTiongkokUnggulKodeSumber
    202053,646,4ASL/DCNBC 2021
    202161,538,5ASL/DCNBC 2021
    202257,043,0ASLFulcrum 2022
    202361,138,9ASLRFA 2024
    202449,550,5TiongkokLRFA 2024
    202552,347,7ASLMP-IDSA 2025
    2026 (ASEAN-11)48,052,0TiongkokLISEAS 2026
    2026 (ASEAN-10)48,651,4TiongkokLSinic Analytica 2026

    Kode L: dilaporkan langsung; D: diturunkan dengan pengurangan dari 100. Angka 2020–2021 untuk Tiongkok diturunkan dari proporsi pemilih AS yang dilaporkan.

    Tabel 1 memperlihatkan pola gelombang, bukan garis. Tiga fase dapat dibedakan. Fase pertama, 2020 sampai 2023, ditandai keunggulan Amerika Serikat dengan puncak 61,5 persen pada 2021 dan 61,1 persen pada 2023. Puncak 2021 bertepatan dengan awal pemerintahan Joe Biden dan janji pemulihan keterlibatan multilateral setelah periode pertama Donald Trump, sedangkan kekecewaan atas penanganan pandemi oleh Tiongkok kemungkinan memperkuat kecondongan tersebut. Penurunan pada 2022 ke 57,0 persen terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi pascapandemi, ketika peran Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar kawasan kembali menonjol. Tafsir ini diberi keyakinan sedang karena survei tidak mengukur sebab secara langsung.

    Fase kedua adalah pembalikan pada 2024, ketika Tiongkok unggul tipis dengan 50,5 persen. Survei 2024 dijalankan pada awal tahun, beberapa bulan setelah pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Analisis Hutt mencatat bahwa pergeseran terbesar terjadi di negara-negara mayoritas Muslim, yakni Malaysia, Indonesia, dan Brunei, ditambah Laos, dan mengaitkannya dengan kemarahan atas dukungan Amerika Serikat terhadap Israel. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan sedang hingga tinggi, adalah bahwa faktor Gaza merupakan pendorong utama pembalikan 2024, terutama di dunia Melayu, meski selisih regional yang hanya satu poin persentase berarti pergeseran itu setara dengan sekitar dua puluh responden saja.

    Fase ketiga adalah osilasi 2025 sampai 2026. Pada 2025 Amerika Serikat kembali unggul dengan 52,3 persen, didorong lonjakan di Filipina dan Vietnam, dua negara yang paling langsung berhadapan dengan Tiongkok di Laut Cina Selatan. Pada 2026, Tiongkok kembali unggul dengan 52,0 persen. Pergeseran 2026 menarik karena tidak didorong oleh negara-negara Muslim, melainkan oleh Singapura, Vietnam, Filipina, dan Indonesia secara bersamaan. Laporan ISEAS 2026 mencatat bahwa kekhawatiran geopolitik nomor satu responden adalah kepemimpinan Amerika Serikat di bawah Presiden Trump, dipilih oleh 51,9 persen responden, sedikit di atas operasi penipuan global sebesar 51,4 persen dan perilaku agresif di Laut Cina Selatan sebesar 48,2 persen. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan sedang, adalah bahwa pergeseran 2026 lebih merupakan penilaian negatif terhadap kebijakan Washington daripada penilaian positif terhadap Beijing.

    Implikasi metodologis dari Tabel 1 cukup tegas. Pertama, pengguna data tidak boleh memperlakukan satu tahun sebagai titik balik struktural; perubahan arah yang terjadi empat kali dalam tujuh tahun menunjukkan bahwa sikap elite sangat responsif terhadap peristiwa. Kedua, selisih regional sering berada dalam kisaran beberapa poin persentase, sehingga headline media tentang kawasan yang “memilih Tiongkok” atau “memilih Amerika Serikat” cenderung melebih-lebihkan. Ketiga, pola gelombang ini konsisten dengan teori lindung nilai: elite menyesuaikan kecondongan terhadap risiko yang paling menonjol pada saat survei, tanpa mengunci diri pada satu pihak.

    V

    Tabel Inti 2: Kecondongan per Negara 2023–2026

    Tabel 2. Proporsi responden yang memilih Tiongkok, per negara (%)
    Negara2023202420252026Δ 2025→2026
    Brunei55,0 D70,1 D55,053,5−1,5
    Kambojan.a.n.a.43,039,0 D−4,0
    Indonesia53,7 D73,2 D72,280,1+7,9
    Laos41,1 D70,6 D51,0≈49,5 D≈−1,5
    Malaysia54,8 D75,1 D70,868,0−2,8
    Myanmarn.a.n.a.42,338,6 D−3,7
    Filipina21,2 D16,7 D13,623,2 D+9,6
    Singapura38,9 D38,5 D47,166,3+19,2
    Thailand43,1 D52,2 D55,655,0−0,6
    Vietnam22,1 D21,0 D26,540,8 D+14,3
    Timor-Leste40,958,2+17,3

    D: diturunkan dari 100 dikurangi proporsi pemilih AS yang dilaporkan, kecuali Laos 2024 (nilai 2023 ditambah pergeseran 29,5 poin yang dilaporkan RFA) dan Laos 2026 (diturunkan dari rata-rata ASEAN-10 sebesar 51,4%). Timor-Leste baru dimasukkan pada 2025. Sumber: RFA (2023–2024), MP-IDSA (2025), Thairath/The Thaiger/Sinic Analytica (2026).

    Tabel 2 mengungkap struktur yang tidak terlihat dalam rata-rata regional. Kawasan terbelah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah poros kecondongan ke Tiongkok yang stabil, terdiri atas Indonesia, Malaysia, dan Brunei, ditambah Thailand yang lebih moderat. Di ketiga negara Muslim itu, proporsi pemilih Tiongkok melonjak pada 2024 dan bertahan tinggi sejak itu; Indonesia bahkan mencapai titik tertinggi dalam dataset, 80,1 persen, pada 2026. Kelompok kedua adalah poros kecondongan ke Amerika Serikat yang stabil, yaitu Filipina dan Vietnam, dua negara dengan sengketa maritim paling tajam dengan Tiongkok. Kelompok ketiga adalah negara-negara berayun, yaitu Singapura, Laos, Kamboja, Myanmar, dan Timor-Leste, yang kecondongannya berubah cukup besar dari tahun ke tahun.

    Kasus Singapura paling mengejutkan dan paling penting untuk dicermati. Dari 38,5 persen pada 2024 dan 47,1 persen pada 2025, proporsi pemilih Tiongkok di kalangan responden Singapura melonjak menjadi 66,3 persen pada 2026, kenaikan 19,2 poin dalam setahun. Singapura adalah mitra keamanan dekat Amerika Serikat, dengan fasilitas yang dipakai Angkatan Laut Amerika Serikat, dan elitenya secara tradisional memandang kehadiran Amerika Serikat sebagai penyeimbang yang diperlukan. Survei 2026 juga mencatat bahwa 76,8 persen responden Singapura menyebut kepemimpinan Amerika Serikat di bawah Trump sebagai kekhawatiran geopolitik utama, tertinggi di antara sebelas negara. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan sedang, adalah bahwa lonjakan Singapura mencerminkan kecemasan negara dagang terbuka terhadap proteksionisme dan ketidakpastian kebijakan Washington, bukan pergeseran aliansi.

    Kasus Indonesia memerlukan pembacaan berlapis. Kecondongan ke Tiongkok yang sangat tinggi, 80,1 persen, berdampingan dengan fakta bahwa 51,7 persen responden Indonesia menempatkan perambahan Tiongkok di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen sebagai kekhawatiran utama mereka di Laut Cina Selatan, serta 67,8 persen menyebut kepemimpinan Amerika Serikat di bawah Trump sebagai kekhawatiran geopolitik utama. Artinya, elite Indonesia tidak naif terhadap Tiongkok; mereka mencatat ancaman maritim, tetapi menilai risiko dari Washington lebih menonjol. Kombinasi solidaritas atas Gaza, ketergantungan ekonomi pada Tiongkok, dan tradisi politik luar negeri bebas aktif menjelaskan pola ini, dengan keyakinan sedang. Langkah Indonesia bergabung dengan BRICS pada awal 2025 konsisten dengan suasana elite tersebut, meski pemerintah Indonesia sendiri menegaskan bahwa keanggotaan itu tidak berarti meninggalkan kemitraan dengan Barat.

    Kasus Filipina dan Vietnam memperlihatkan bahwa geografi ancaman tetap menentukan. Meski proporsi pemilih Tiongkok naik di kedua negara pada 2026, mayoritas tetap memilih Amerika Serikat: 76,8 persen di Filipina dan 59,2 persen di Vietnam. Perlu dicatat bahwa Vietnam, negara komunis dengan hubungan partai yang erat dengan Partai Komunis Tiongkok, secara konsisten menjadi salah satu negara paling pro-Amerika Serikat dalam survei ini, sebuah bukti bahwa ideologi politik bukan penentu utama kecondongan elite. Sebaliknya, kedekatan geografis dengan sumber ancaman dan pengalaman sengketa langsung jauh lebih menentukan.

    Kelompok negara berayun memberi pelajaran tersendiri tentang sensitivitas data. Laos memperlihatkan ayunan paling liar: dari sekitar 80 persen pemilih Tiongkok pada 2021 dan 2022 menurut catatan Hutt, turun ke 41,1 persen pada 2023, melonjak ke sekitar 70,6 persen pada 2024, lalu kembali ke sekitar 51 persen pada 2025 dan hampir seimbang pada 2026. Negara yang secara ekonomi sangat dekat dengan Tiongkok ternyata tidak menghasilkan kecondongan elite yang stabil. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan rendah hingga sedang, adalah bahwa ayunan Laos sebagian mencerminkan ukuran sampel yang kecil dan perubahan komposisi responden, dan sebagian lagi mencerminkan ambivalensi nyata elite terhadap ketergantungan. Kamboja dan Myanmar, yang sering dianggap berada di orbit Tiongkok, justru mencatat mayoritas pemilih Amerika Serikat pada 2025 dan 2026, masing-masing 61,0 dan 61,4 persen pada 2026. Untuk Myanmar, pola ini masuk akal mengingat responden elite cenderung berasal dari kalangan yang kritis terhadap junta militer, yang menjalin hubungan erat dengan Beijing. Untuk Kamboja, angka itu mengingatkan bahwa sikap elite dapat berbeda tajam dari orientasi pemerintah, sebuah kesenjangan yang justru bernilai bagi analis.

    Timor-Leste, anggota termuda ASEAN, menambah dimensi baru. Proporsi pemilih Tiongkok naik dari 40,9 persen pada 2025 menjadi 58,2 persen pada 2026, kenaikan 17,3 poin. Dengan jumlah responden yang hanya sekitar 3,3 persen dari total sampel, atau kira-kira 66 orang, angka ini harus dibaca dengan sangat hati-hati. Namun arah pergeserannya sejalan dengan negara-negara lain yang mencatat kecemasan terhadap kebijakan Amerika Serikat. Bagi pengguna dataset, masuknya Timor-Leste juga menjadi pengingat praktis bahwa rata-rata regional 2026 tidak sepenuhnya dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sehingga seri sepuluh negara perlu dipertahankan sebagai acuan utama.

    Dataset ini juga memungkinkan latihan pembobotan yang mengungkap distorsi rata-rata regional. Dengan memakai perkiraan populasi 2024 yang dibulatkan berdasarkan Indikator Pembangunan Dunia Bank Dunia, rata-rata yang dibobot menurut populasi untuk 2026 menghasilkan sekitar 56,9 persen pemilih Tiongkok, lebih tinggi daripada rata-rata sederhana 52,0 persen. Untuk 2025, ketika rata-rata sederhana menunjukkan keunggulan Amerika Serikat, rata-rata berbobot justru menghasilkan sekitar 50,4 persen untuk Tiongkok. Bila Indonesia dikeluarkan, rata-rata berbobot 2026 turun menjadi sekitar 40,9 persen. Latihan ini bersifat ilustratif, karena responden adalah elite dan bukan sampel penduduk, tetapi ia menunjukkan dengan keyakinan tinggi bahwa headline regional sangat sensitif terhadap pilihan pembobotan, dan bahwa sikap elite Indonesia menjadi variabel paling menentukan bagi gambaran kawasan.

    VI

    Tabel Pendukung: Pengaruh, Kepercayaan, dan Kekhawatiran 2026

    Tabel 3a. Indikator pendukung tingkat ASEAN, 2026 (%)
    IndikatorTiongkokASJepangUEIndiaASEAN
    Kekuatan ekonomi paling berpengaruh55,915,37,13,01,513,2
    Kekuatan politik-strategis paling berpengaruh40,0n.a.n.a.n.a.n.a.n.a.
    Tingkat kepercayaan39,844,065,655,938,5

    Sumber: ISEAS 2026; Databoks Katadata untuk rincian pengaruh ekonomi. Kepercayaan terhadap AS: 42,4% (2024), 47,2% (2025), 44,0% (2026).

    Tabel 3b. Dua indikator kekhawatiran per negara, 2026 (%)
    NegaraKepemimpinan AS di bawah Trump sebagai kekhawatiran geopolitik utamaPerambahan Tiongkok di ZEE/landas kontinen sebagai kekhawatiran utama Laut Cina Selatan
    Brunei51,664,5
    Kamboja43,547,5
    Indonesia67,851,7
    Laos52,954,8
    Malaysia51,552,1
    Myanmar38,154,5
    Filipina43,164,5
    Singapura76,835,8
    Thailand56,142,7
    Timor-Leste44,834,3
    Vietnam44,666,3

    Tabel 3a memperlihatkan paradoks sentral geopolitik Asia Tenggara. Tiongkok diakui secara luas sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh, dipilih 55,9 persen responden, hampir empat kali lipat Amerika Serikat yang hanya 15,3 persen. Tiongkok juga dipandang sebagai kekuatan politik-strategis paling berpengaruh oleh 40,0 persen responden. Namun dalam hal kepercayaan, Tiongkok hanya berada di urutan keempat dengan 39,8 persen, di bawah Jepang (65,6 persen), Uni Eropa (55,9 persen), dan Amerika Serikat (44,0 persen). Ringkasan Sinic Analytica mencatat bahwa di antara responden yang menyebut Tiongkok sebagai kekuatan paling berpengaruh, 55,4 persen khawatir terhadap pengaruh ekonominya dan 66,1 persen khawatir terhadap pengaruh politik-strategisnya.

    Paradoks ini memperkuat penafsiran berbasis lindung nilai. Elite kawasan memilih Tiongkok dalam pertanyaan biner bukan karena percaya, melainkan karena menilai ketergantungan ekonomi sebagai kenyataan yang tidak dapat diabaikan dan karena kecewa terhadap alternatifnya. Kepercayaan yang jauh lebih tinggi terhadap Jepang dan Uni Eropa menunjukkan adanya permintaan akan mitra ketiga yang dapat mengurangi tekanan pilihan biner. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan tinggi, adalah bahwa pertanyaan “dipaksa memilih” mengukur penilaian relatif terhadap dua pilihan yang sama-sama tidak sepenuhnya disukai, bukan dukungan positif terhadap salah satunya.

    Tabel 3b memperlihatkan bahwa kekhawatiran elite tidak satu arah. Di Singapura, kekhawatiran terhadap kepemimpinan Amerika Serikat mencapai 76,8 persen, sementara kekhawatiran tentang perambahan maritim Tiongkok hanya 35,8 persen, terendah kedua di kawasan. Di Vietnam dan Filipina, pola terbalik: kekhawatiran terhadap perambahan Tiongkok tinggi, masing-masing 66,3 persen dan 64,5 persen, sementara kekhawatiran terhadap kepemimpinan Amerika Serikat lebih rendah. Indonesia menempati posisi unik dengan kedua kekhawatiran berada di atas lima puluh persen, yang mencerminkan dilema negara kepulauan terbesar di kawasan: terancam di laut oleh Tiongkok, tetapi juga tidak nyaman dengan arah kebijakan Amerika Serikat.

    Data pendukung lain dari survei 2026 juga relevan bagi pengguna dataset. Tantangan regional paling dikhawatirkan adalah perubahan iklim dan cuaca ekstrem (60,0 persen), ketegangan ekonomi antarkekuatan besar (51,7 persen), dan ketidakstabilan politik domestik (46,1 persen). Lebih dari 55,6 persen responden memperkirakan hubungan negara mereka dengan Tiongkok akan membaik dalam tiga tahun ke depan, menurut The Thaiger. Kombinasi angka-angka ini memberi konteks penting: elite kawasan tidak sedang memilih blok, melainkan mencari stabilitas di tengah ketidakpastian yang bersumber dari banyak arah.

    VII

    Kamus Data dan Panduan Penggunaan

    Tabel 4. Kamus data
    VariabelDefinisiSatuan/JenisCakupanCatatan
    countryNegara asal respondenTeks (nama negara)11 negara ASEANTimor-Leste mulai 2025
    yearTahun edisi survei (bukan tahun publikasi data mentah)Bilangan bulat2020–2026Survei dijalankan Januari–Februari
    align_chinaProporsi responden yang memilih Tiongkok bila ASEAN “dipaksa memilih”Persen (0–100)Per negara 2023–2026; regional 2020–2026align_us = 100 − align_china
    align_usProporsi responden yang memilih Amerika SerikatPersen (0–100)Sama dengan di atasDesain biner, tanpa opsi netral
    source_codeStatus nilaiKategori: L, D, n.a.Semua nilaiL = dilaporkan; D = diturunkan; n.a. = tidak tersedia
    econ_influenceKekuatan yang dinilai paling berpengaruh secara ekonomiPersen per kekuatanASEAN 2026Pilihan tunggal
    trustProporsi yang “yakin” atau “sangat yakin” kekuatan tersebut akan “berbuat benar”PersenASEAN 2026; AS 2024–2026Rumusan mengikuti laporan ISEAS
    concern_us_trumpProporsi yang memilih kepemimpinan AS di bawah Trump sebagai kekhawatiran geopolitik utamaPersenPer negara 2026Pertanyaan pilihan ganda (Q8)
    concern_scs_eezProporsi yang menempatkan perambahan Tiongkok di ZEE/landas kontinen sebagai kekhawatiran utama Laut Cina SelatanPersenPer negara 2026Pertanyaan pilihan ganda (Q10)

    Untuk memudahkan pemakaian ulang, Tabel 2 disediakan dalam format CSV yang dapat diunduh langsung dari halaman ini. Berkas itu memuat lima kolom, yaitu negara, tahun, proporsi pemilih Tiongkok, proporsi pemilih Amerika Serikat, dan kode status nilai, dalam format panjang yang siap dipakai di R, Python, Stata, atau lembar kerja. Pengguna dianjurkan selalu menyertakan kolom kode status dalam analisis, sehingga nilai yang diturunkan dapat dibedakan atau diuji kepekaannya.

    Panduan penggunaan pertama menyangkut unit analisis. Data ini adalah agregat persepsi elite per negara per tahun, bukan data individu. Karena itu, analisis yang menyimpulkan perilaku individu dari data agregat, sebuah kekeliruan yang dikenal sebagai ecological fallacy, harus dihindari. Pernyataan seperti “warga Indonesia pro-Tiongkok” tidak dapat diturunkan dari dataset ini; pernyataan yang sah adalah “responden elite Indonesia dalam survei ISEAS 2026 condong memilih Tiongkok dalam pertanyaan biner hipotetis”.

    Panduan kedua menyangkut ukuran sampel per negara. Dengan 2.008 responden yang tersebar di sebelas negara, jumlah responden per negara berkisar dari sekitar 66 untuk Timor-Leste (3,3 persen) hingga sekitar 247 untuk Singapura (12,3 persen). Margin kesalahan teoretis untuk sampel sebesar itu, seandainya sampel acak, berkisar dari sekitar 6 hingga 12 poin persentase. Karena sampel bersifat purposif, margin kesalahan dalam arti statistik klasik tidak berlaku, tetapi angka itu memberi gambaran tentang ketidakpastian: perubahan per negara di bawah sekitar sepuluh poin sebaiknya tidak ditafsirkan sebagai pergeseran substantif tanpa dukungan bukti lain.

    Panduan ketiga menyangkut pembandingan antartahun. Komposisi responden menurut afiliasi dan negara berubah dari tahun ke tahun, dan Timor-Leste baru masuk pada 2025. Perbandingan regional harus memakai basis yang setara, misalnya rata-rata sepuluh negara, dan perubahan komposisi sektor perlu dicatat sebagai sumber variasi yang mungkin. Panduan keempat adalah pengutipan: pengguna dianjurkan mengutip laporan ISEAS asli sebagai sumber primer dan dataset ini sebagai kompilasi sekunder, dengan menyebut kode status nilai yang dipakai.

    VIII

    Perbandingan Internasional: Pew 2025, Afrobarometer 2026, dan Pelajaran Lintas Kawasan

    Data Asia Tenggara menjadi lebih bermakna ketika ditempatkan dalam konteks survei global. Pembanding pertama adalah survei sikap global Pew Research Center yang dijalankan pada 8 Januari sampai 26 April 2025 terhadap 28.333 orang dewasa di 24 negara di luar Amerika Serikat. Median pandangan positif terhadap Amerika Serikat adalah 49 persen, sedangkan terhadap Tiongkok 37 persen. Pew mencatat bahwa pandangan terhadap Amerika Serikat memburuk sementara pandangan terhadap Tiongkok membaik di banyak negara, dan secara khusus menyebut Indonesia sebagai salah satu negara tempat Tiongkok dinilai lebih baik daripada Amerika Serikat. Berbeda dengan ISEAS, Pew memakai sampel penduduk dewasa yang representatif secara nasional, sehingga kesesuaian arah antara kedua survei untuk Indonesia memberi validasi silang yang berharga: kecondongan elite Indonesia tampaknya tidak terpisah jauh dari sikap publiknya.

    Pembanding kedua adalah Afrika. Laporan African Insights 2026 dari Afrobarometer, sebagaimana diberitakan MyJoyOnline pada 6 Agustus 2026, mencakup 38 negara Afrika dan menemukan 62 persen responden menilai pengaruh Tiongkok positif, sementara penilaian positif terhadap Amerika Serikat turun dari 59 persen menjadi 53 persen di 30 negara. Temuan paling relevan bagi kajian ini adalah preferensi netralitas: mayoritas besar responden menolak memilih pihak dalam rivalitas kekuatan besar. Pola ini sejalan dengan teori lindung nilai dan menunjukkan bahwa sikap elite Asia Tenggara bukan anomali regional, melainkan bagian dari gejala global di dunia Selatan: penilaian yang semakin kritis terhadap Amerika Serikat, pengakuan pragmatis terhadap Tiongkok, dan keengganan kuat untuk terseret ke dalam blok.

    Pembanding ketiga adalah kasus Singapura, yang secara internal memperlihatkan bagaimana sikap elite dapat berbeda dari arsitektur keamanan negara. Buku tahun 2025 berjudul Intelligence as Statecraft: Singapore’s Strategic Transformation in the Indo-Pacific menguraikan bagaimana Singapura membangun kemitraan intelijen dengan Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan negara-negara lain sambil menjaga otonomi strategisnya. Dengan latar seperti itu, lonjakan kecondongan responden Singapura ke Tiongkok pada 2026 tidak dapat dibaca sebagai sinyal perubahan aliansi; ia lebih tepat dibaca sebagai indikator kecemasan elite tentang keandalan mitra utama. Kesenjangan antara sikap dan struktur ini menjadi pelajaran metodologis penting bagi pengguna dataset di mana pun.

    Literatur internasional juga mengingatkan tentang keterbatasan survei pilihan biner. Edisi Foreign Affairs Januari/Februari 2024 bertajuk “The Self-Doubting Superpower”, dengan esai sampul Fareed Zakaria, menggambarkan keraguan diri Amerika Serikat terhadap tatanan yang dibangunnya sendiri. Persepsi luar negeri terhadap Amerika Serikat, sebagaimana diukur oleh ISEAS, Pew, dan Afrobarometer, tampaknya mencerminkan keraguan diri itu: ketika Washington sendiri tampak ragu, mitra-mitranya menyesuaikan ekspektasi. Dalam konteks ini, angka 2026 di Asia Tenggara lebih tepat dipahami sebagai bagian dari penyesuaian global terhadap ketidakpastian kepemimpinan Amerika Serikat, ketimbang sebagai kemenangan diplomatik Tiongkok.

    Perbandingan lintas kawasan menghasilkan tiga pelajaran. Pertama, arah pergeseran sikap terhadap Amerika Serikat pada 2025 sampai 2026 konsisten di Asia Tenggara, Afrika, dan sampel global Pew, sehingga dapat dinilai dengan keyakinan tinggi sebagai gejala lintas kawasan. Kedua, kepercayaan terhadap Tiongkok tetap terbatas di semua survei, sehingga kecondongan ke Tiongkok lebih banyak bersifat pragmatis. Ketiga, preferensi netralitas dan permintaan akan mitra ketiga, seperti Jepang dan Uni Eropa di Asia Tenggara, merupakan pola yang kuat dan sering terabaikan dalam headline yang berfokus pada pilihan biner.

    IX

    Argumen Tandingan: “Survei Elite Bukan Barometer Geopolitik”

    Argumen tandingan terkuat terhadap pemakaian dataset ini perlu dikemukakan secara utuh. Argumen ini menyatakan bahwa survei ISEAS, betapapun konsisten, tidak layak dijadikan barometer geopolitik. Sampelnya purposif dan tidak representatif; jumlah responden per negara kecil; pertanyaan biner memaksa pilihan yang tidak realistis; dan rata-rata regional memberi bobot sama pada negara dengan populasi yang sangat berbeda. David Hutt, dalam analisisnya untuk Radio Free Asia pada April 2024, menunjukkan bahwa keunggulan Tiongkok 2024 setara dengan sekitar dua puluh responden dari 1.994, bahwa pertanyaan itu menanyakan pilihan ASEAN sebagai blok padahal ASEAN bahkan tidak mampu bersepakat tentang Myanmar, dan bahwa headline media mengabaikan pertanyaan lain yang menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap Tiongkok. Argumen ini menyimpulkan bahwa mengompilasi angka-angka itu menjadi dataset hanya memberi kesan presisi palsu.

    Kritik ini kuat dan sebagian besar sahih. Kajian ini menerimanya pada empat titik: sampel memang tidak representatif dalam arti statistik; selisih tipis memang tidak bermakna; rata-rata sederhana memang mendistorsi; dan pertanyaan biner memang tidak mencerminkan pilihan kebijakan nyata. Itulah sebabnya dataset ini menyertakan kode status nilai, uji konsistensi, latihan pembobotan, panduan ukuran sampel, dan indikator pendukung tentang kepercayaan serta kekhawatiran.

    Meski demikian, kesimpulan bahwa data ini tidak berguna tidak dapat diterima, karena tiga alasan. Pertama, nilai survei ini tidak terletak pada akurasi titik, melainkan pada konsistensi instrumen dari tahun ke tahun. Pertanyaan yang sama, diajukan kepada kategori responden yang serupa, pada waktu yang sama setiap tahun, menghasilkan seri waktu yang memungkinkan identifikasi pergeseran besar, misalnya lonjakan 19,2 poin di Singapura atau 29,5 poin di Laos pada 2024, yang jauh melampaui ketidakpastian sampel. Kedua, populasi sasaran survei, yaitu elite pembuat dan pemengaruh kebijakan, justru merupakan kelompok yang paling relevan bagi analisis kebijakan luar negeri; survei penduduk umum menjawab pertanyaan yang berbeda. Ketiga, validasi silang dengan Pew dan Afrobarometer menunjukkan bahwa arah pergeseran yang ditangkap ISEAS konsisten dengan survei berbasis sampel representatif, sehingga data ini menangkap sinyal nyata, bukan sekadar derau.

    Dengan demikian, sikap yang tepat bukan menolak data, melainkan memakainya dengan disiplin: membaca pergeseran besar dan pola struktural, mengabaikan selisih kecil, selalu mendampingkan pilihan biner dengan indikator kepercayaan dan kekhawatiran, dan tidak pernah menyimpulkan kebijakan negara dari sikap elite semata. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan tinggi, adalah bahwa dataset ini paling bernilai sebagai sistem peringatan dini tentang perubahan suasana elite, bukan sebagai peta aliansi.

    X

    Skenario dan Penanda Arah 2027–2029

    Berdasarkan pola dalam dataset, kajian ini merumuskan tiga skenario untuk sikap elite Asia Tenggara hingga edisi survei 2029. Skenario disusun untuk membantu pengguna data menafsirkan rilis tahunan berikutnya, bukan untuk meramalkan angka tertentu.

    Skenario sikap elite ASEAN 2027–2029 (penilaian penulis)

    A. Osilasi berlanjut di sekitar titik tengah50%
    B. Kecondongan ke Tiongkok mengeras30%
    C. Pemulihan kecondongan ke AS20%

    Probabilitas subjektif per Oktober 2026; diperbarui setelah setiap rilis survei.

    Skenario A, osilasi berlanjut, membayangkan rata-rata regional terus bergerak dalam kisaran sekitar 45 sampai 55 persen, dengan pemenang yang berganti mengikuti peristiwa paling menonjol menjelang periode survei Januari sampai Februari. Polarisasi antarnegara tetap tinggi, dengan Indonesia, Malaysia, dan Brunei condong ke Tiongkok serta Filipina dan Vietnam condong ke Amerika Serikat. Skenario ini paling mungkin karena paling konsisten dengan pola tujuh tahun terakhir dan dengan logika lindung nilai.

    Skenario B, kecondongan ke Tiongkok mengeras, membayangkan rata-rata regional bertahan di atas 55 persen untuk Tiongkok selama dua atau tiga tahun berturut-turut, dengan negara berayun seperti Singapura dan Thailand mengonsolidasi kecondongannya. Pemicu yang mungkin meliputi berlanjutnya tarif dan ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat, berkurangnya kehadiran diplomatik dan bantuan Amerika Serikat, serta inisiatif ekonomi Tiongkok yang lebih menarik. Penanda utamanya adalah kenaikan kepercayaan terhadap Tiongkok di atas 45 persen; tanpa itu, kecondongan tetap bersifat negatif terhadap Washington, bukan positif terhadap Beijing.

    Skenario C, pemulihan kecondongan ke Amerika Serikat, membayangkan rata-rata regional kembali di atas 55 persen untuk Amerika Serikat. Pemicu yang mungkin meliputi krisis besar di Laut Cina Selatan yang memperlihatkan perilaku koersif Tiongkok secara dramatis, perubahan arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat, atau pergantian pemerintahan di Washington setelah pemilu presiden November 2028, yang akan tercermin pada survei 2029. Probabilitasnya lebih rendah karena memerlukan perubahan besar dalam salah satu dari dua arah tersebut dalam waktu singkat.

    Penanda arah yang perlu dipantau meliputi: tingkat kepercayaan terhadap Tiongkok dan Amerika Serikat dalam setiap rilis; besarnya kekhawatiran tentang kepemimpinan Amerika Serikat dibandingkan kekhawatiran tentang perambahan maritim Tiongkok; perubahan kecondongan di Singapura dan Thailand sebagai negara berayun yang berpengaruh; insiden besar di Laut Cina Selatan, terutama yang melibatkan Filipina atau Indonesia; serta perkembangan kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap negara-negara ASEAN. Pergeseran searah pada tiga atau lebih penanda akan menjadi alasan untuk memperbarui probabilitas.

    XI

    Rekomendasi bagi Pengguna Data dan Pembuat Kebijakan

    Bagi Kementerian Luar Negeri Indonesia, kajian ini merekomendasikan agar data sikap elite regional dipakai sebagai indikator dalam perumusan kebijakan luar negeri bebas aktif, khususnya untuk mengukur ruang gerak diplomasi Indonesia di dalam ASEAN. Mulai 2027, kementerian dapat menyusun analisis tahunan yang mendampingkan rilis ISEAS dengan survei opini publik nasional yang representatif, sehingga kesenjangan antara sikap elite dan publik dapat dipantau. Sikap elite Indonesia yang sangat condong ke Tiongkok, bersamaan dengan kekhawatiran tinggi tentang perambahan maritim, perlu dibaca sebagai mandat untuk diplomasi yang tegas di Natuna sekaligus pragmatis di bidang ekonomi.

    Bagi Sekretariat ASEAN dan pemerintah negara anggota, rekomendasinya adalah mendukung pengembangan survei opini regional berbasis sampel representatif, sebagai pelengkap survei elite, dalam kerangka kerja sama riset ASEAN, dengan target edisi perdana pada 2028. Pengetahuan tentang sikap publik, bukan hanya elite, semakin penting ketika protes generasi muda di kawasan menunjukkan bahwa jarak antara elite dan warga dapat berdampak besar terhadap stabilitas.

    Bagi pemerintah Amerika Serikat, data menunjukkan bahwa penurunan kecondongan elite kawasan berkorelasi dengan kekhawatiran terhadap kebijakan Washington sendiri. Rekomendasinya adalah menjadikan kepastian kebijakan dagang dan kehadiran diplomatik yang konsisten sebagai prioritas, terutama terhadap Singapura dan Thailand sebagai negara berayun yang berpengaruh, sebelum siklus survei 2027. Bagi pemerintah Tiongkok, data menunjukkan bahwa kecondongan pragmatis tidak disertai kepercayaan; tanpa perubahan perilaku di Laut Cina Selatan, keunggulan dalam pertanyaan biner akan tetap rapuh. Bagi Jepang dan Uni Eropa, tingkat kepercayaan tertinggi merupakan modal strategis yang dapat dimanfaatkan untuk menawarkan alternatif konkret dalam investasi infrastruktur dan transisi energi.

    Bagi media dan analis, rekomendasinya adalah menghentikan pembacaan headline yang menyatakan kawasan “memilih” salah satu kekuatan berdasarkan selisih beberapa poin, dan sebagai gantinya melaporkan polarisasi antarnegara, indikator kepercayaan, serta keterbatasan sampel. Bagi perguruan tinggi dan pengajar, dataset ini dapat dipakai dalam mata kuliah geopolitik, studi Asia Tenggara, dan metodologi riset sebagai latihan tentang konstruksi dataset, nilai turunan, pembobotan, dan bahaya ecological fallacy, mulai semester genap 2026/2027. Bagi ISEAS sendiri, rekomendasinya adalah mempublikasikan data per negara untuk seluruh edisi dalam format terbuka yang dapat diunduh, termasuk ukuran sampel per negara dan distribusi sektor, untuk memperkuat transparansi dan pemakaian ulang.

    Bagi analis intelijen dan peramalan strategis, rekomendasinya adalah memasukkan seri ini ke dalam dasbor indikator suasana regional, dengan ambang perubahan yang jelas, misalnya pergeseran per negara di atas sepuluh poin atau perubahan kepercayaan di atas lima poin, sebagai pemicu analisis mendalam. Pendekatan ini mengubah survei tahunan dari sekadar berita menjadi alat peringatan dini yang terstruktur.

    XII

    Keterbatasan dan Kesimpulan

    Dataset ini memiliki keterbatasan yang tidak boleh diabaikan. Pertama, sebagian besar nilai per negara untuk 2023 dan 2024 serta sebagian nilai 2026 diturunkan dari angka yang dilaporkan sumber sekunder, bukan diambil langsung dari tabel ISEAS, karena bagian laporan 2026 yang memuat tabel kekuatan besar tidak dapat diekstraksi secara utuh dari berkas terbuka. Uji konsistensi terhadap rata-rata regional mengurangi risiko kesalahan, tetapi tidak menghapusnya. Kedua, data per negara untuk 2020 sampai 2022 serta untuk Kamboja dan Myanmar pada 2023 sampai 2024 tidak tersedia dalam sumber terbuka yang dapat diverifikasi. Ketiga, latihan pembobotan memakai perkiraan populasi yang dibulatkan dan secara konseptual tidak sepenuhnya tepat untuk sampel elite. Keempat, tafsir tentang sebab-sebab pergeseran bersifat kualitatif dan diberi label keyakinan, karena survei tidak mengukur sebab secara langsung.

    Dengan memperhitungkan keterbatasan itu, kesimpulan kajian ini dapat dirumuskan dengan jelas. Sikap elite Asia Tenggara terhadap rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok bersifat cair, terpolarisasi menurut geografi ancaman, dan pragmatis. Pergeseran 2026 ke arah Tiongkok lebih merupakan ekspresi kecemasan terhadap Washington daripada kepercayaan kepada Beijing, sebagaimana diperlihatkan oleh rendahnya kepercayaan terhadap Tiongkok dan tingginya kepercayaan terhadap Jepang serta Uni Eropa. Indonesia, sebagai negara terbesar di kawasan, menjadi variabel paling menentukan bagi gambaran regional, dan sikap elitenya menggabungkan kecondongan ekonomi ke Tiongkok dengan kewaspadaan maritim yang tinggi.

    Pelajaran utama bagi pembaca global adalah bahwa Asia Tenggara tidak sedang memilih blok. Kawasan ini sedang menyesuaikan diri dengan dunia yang kurang dapat diprediksi, memakai survei tahunan sebagai cermin suasana dan lindung nilai sebagai strategi. Dataset yang terdokumentasi dengan baik, lengkap dengan keterbatasannya, membantu memisahkan sinyal dari derau, dan dengan demikian membantu pembuat kebijakan di dalam maupun di luar kawasan menghindari dua kesalahan yang sama berbahayanya: membaca setiap rilis sebagai titik balik, atau mengabaikan pergeseran besar ketika benar-benar terjadi.

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    1. ISEAS–Yusof Ishak Institute. (2026). The State of Southeast Asia: 2026 Survey Report. Singapura: ISEAS.
    2. ISEAS–Yusof Ishak Institute. (2024). The State of Southeast Asia: 2024 Survey Report. Singapura: ISEAS.
    3. World Bank. Population, total (SP.POP.TOTL). World Development Indicators.
    4. BRICS Brasil. (2025, 6 Januari). Brazil announces Indonesia as full member of BRICS.
    5. Pew Research Center. (2025, 15 Juli). Views of the U.S. have worsened while opinions of China have improved in many surveyed countries.

    Literatur ilmiah

    1. Kuik, C.-C. (2008). The Essence of Hedging: Malaysia and Indonesia’s Response to a Rising China. Contemporary Southeast Asia, 30(2).
    2. Kuik, C.-C. (2015). Why, When, and How Do Weaker States Hedge? Explaining Southeast Asia’s Responses to China’s Rise. Shorenstein APARC, Stanford University.

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    1. Ao, T. (2025, 2 Mei). ‘State of Southeast Asia 2025’: Key Highlights. MP-IDSA.
    2. Chong, T. (2022, 16 Februari). 2022 State of Southeast Asia Survey: Diverse Perspectives and Hard Realities. Fulcrum.
    3. Hutt, D. (2024, 20 April). No, Southeast Asians do not now prefer China over the US. Radio Free Asia.
    4. Sinic Analytica. (2026). The State of Southeast Asia 2026: China edges past the US at 52% yet ranks only fourth on trust.
    5. Afrobarometer, via MyJoyOnline. (2026, 6 Agustus). Africans reject choosing sides as China, US compete for influence.

    Media dan pemberitaan

    1. CNBC. (2021, 16 Februari). ASEAN would choose U.S. over China if forced to pick sides, survey.
    2. Radio Free Asia. (2024, 3 April). ASEAN is now more pro-China than US: survey.
    3. Lim, K. (2026, 7 April). Most Asean prefer China over US as partner, poll; Trump cited as biggest concern. South China Morning Post.
    4. Thairath English. (2026). Laporan tentang hasil per negara survei State of Southeast Asia 2026.
    5. The Thaiger. (2026, 7 April). Southeast Asia leans toward China over US, 2026 survey finds.
    6. Databoks Katadata. (2026). China is rated as the most influential economic power in Southeast Asia in 2026.

    Arsip & Pustaka

    1. Bustamam-Ahmad, K., & Ibrahim, F. Z. (2025). Intelligence as Statecraft: Singapore’s Strategic Transformation in the Indo-Pacific. Geopolitics & Strategic Intelligence Series #5. Arsip & Pustaka.
    2. Council on Foreign Relations. (2024). Foreign Affairs, 103(1): The Self-Doubting Superpower. Arsip & Pustaka.

    Cara Mengutip

    Bustamam-Ahmad, Kamaruzzaman. (2026). Peta Kecondongan Asia Tenggara: Dataset Pilihan Elite antara Amerika Serikat dan Tiongkok 2020–2026: Struktur, Kamus Data, dan Batas Tafsir. Dataset. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/dataset-kecondongan-asean-as-tiongkok/

    KB
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad Guru Besar Antropologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh; pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy. Meraih PhD Sosiologi dari La Trobe University.
Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →