Tag: TBC

  • Lima Celah Menuju 2030: Tuberkulosis Indonesia di Antara Penemuan Kasus, Guncangan Pendanaan, dan Taruhan Vaksin M72

    Lima Celah Menuju 2030: Tuberkulosis Indonesia di Antara Penemuan Kasus, Guncangan Pendanaan, dan Taruhan Vaksin M72

    Artikel · Ilmu Kedokteran, Kebijakan Kesehatan & Asia Tenggara

    Lima Celah Menuju 2030:Tuberkulosis Indonesia di Antara Penemuan Kasus, Guncangan Pendanaan, dan Taruhan Vaksin M72

    Indonesia memikul sepersepuluh beban tuberkulosis dunia. Notifikasi kasus melonjak ke rekor tertinggi, tetapi resistansi obat, pencegahan yang tertinggal, dan pendanaan yang terguncang sejak 2025 membuat target eliminasi 2030 bergantung pada kemampuan negara menutup lima celah sekaligus.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • Artikel
    • 24 Oktober 2026
    • ± 28 menit baca
    Lima Celah Menuju 2030: Tuberkulosis Indonesia di Antara Penemuan Kasus, Guncangan Pendanaan, dan Taruhan Vaksin M72
    Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus tuberkulosis dunia pada 2024, kedua setelah India, menurut Laporan Tuberkulosis Global WHO 2025.

    Abstrak

    Artikel ini menilai apakah Indonesia masih dapat mencapai target eliminasi tuberkulosis 2030 sebagaimana ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021, yakni insidensi 65 per 100.000 penduduk dan kematian 6 per 100.000 penduduk. Dengan memadukan Laporan Tuberkulosis Global WHO 2025, studi inventori nasional 2023, data Kementerian Kesehatan, uji klinis vaksin M72/AS01E, serta perbandingan dengan India, Vietnam, Filipina, Afrika Selatan, dan Tiongkok, kajian ini menyusun kerangka lima celah: deteksi, pelaporan, pengobatan dan resistansi, pencegahan, serta pembiayaan dan perlindungan sosial. Temuan utamanya adalah bahwa Indonesia telah membuat lompatan nyata dalam pencatatan kasus, tetapi lompatan itu belum berubah menjadi penurunan insidensi karena pencegahan, pengobatan tuberkulosis resistan obat, dan perlindungan pasien dari biaya katastropik tertinggal jauh, sementara guncangan pendanaan donor sejak 2025 mempersempit ruang gerak program. Target angka 2030 hampir pasti tidak tercapai, namun arah kebijakan sepanjang 2026 hingga 2028 akan menentukan apakah Indonesia memasuki dekade berikutnya dengan kurva yang menurun atau stagnan.

    Tesis

    Indonesia tidak sedang kalah karena gagal menemukan pasien, melainkan karena belum mampu mengubah penemuan menjadi pemutusan rantai penularan, dan jendela untuk mengubahnya adalah 2026 hingga 2028, sebelum vaksin tiba.

    1. DataWHO 2025, studi inventori 2023, Profil Kesehatan 2025, uji M72, laporan pendanaan Global Fund
    2. KerangkaKaskade lima celah: deteksi, pelaporan, pengobatan, pencegahan, pembiayaan
    3. ProyeksiEmpat skenario 2030 dengan probabilitas, penanda arah, dan rekomendasi bertenggat

    Kata kunci

    • tuberkulosis
    • eliminasi TBC 2030
    • Perpres 67/2021
    • TBC resistan obat
    • vaksin M72/AS01E
    • Global Fund
    • Cek Kesehatan Gratis
    • kesehatan global
    • Asia Tenggara
    I

    Ringkasan Eksekutif: 2030 sebagai Ujian Kapasitas Negara

    Pertanyaan pokok artikel ini sederhana, tetapi jawabannya menentukan nasib ratusan ribu orang setiap tahun: dapatkah Indonesia, negara dengan beban tuberkulosis terbesar kedua di dunia, menekan penyakit itu ke tingkat yang dijanjikan untuk 2030? Laporan Tuberkulosis Global WHO 2025, yang dirilis pada 12 November 2025, mencatat 10,7 juta orang jatuh sakit karena tuberkulosis dan 1,23 juta meninggal sepanjang 2024. Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari seluruh kasus itu, hanya di bawah India yang menyumbang 25 persen, dan di atas Filipina, Tiongkok, serta Pakistan, sebagaimana dirangkum oleh ringkasan analitis atas laporan tersebut. Angka ini menjadikan tuberkulosis bukan sekadar masalah kesehatan nasional, melainkan variabel penentu bagi keberhasilan dunia mencapai target Strategi End TB dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

    Jawaban singkat kajian ini adalah bahwa target angka 2030 dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, yakni insidensi 65 per 100.000 penduduk dan kematian 6 per 100.000 penduduk, hampir pasti tidak akan tercapai, dengan tingkat keyakinan tinggi. Studi inventori nasional 2023 memperkirakan insidensi Indonesia berada pada 394 per 100.000 penduduk, sehingga mencapai 65 dalam tujuh tahun menuntut penurunan sekitar 83 persen, laju yang belum pernah dicapai negara berbeban tinggi mana pun dalam rentang waktu sependek itu. Kesimpulan ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan sikap pasrah. Sebaliknya, kajian ini berargumen bahwa pertanyaan kebijakan yang benar telah bergeser dari apakah angka 2030 tercapai menjadi apakah Indonesia akan memasuki 2030 dengan kurva insidensi dan kematian yang menurun secara meyakinkan, sehingga vaksin baru, bila terbukti efektif, mendarat di atas sistem yang siap mempercepat penurunan itu.

    Alasan persoalan ini penting secara global terletak pada tiga hal. Pertama, tidak ada skenario penurunan tuberkulosis dunia yang masuk akal tanpa Indonesia, karena satu dari sepuluh pasien baru di planet ini hidup di kepulauan ini. Kedua, Indonesia adalah tempat uji coba nyata bagi pertanyaan yang kini dihadapi banyak negara berpendapatan menengah: bagaimana program penyakit menular bertahan ketika bantuan luar negeri menyusut tajam, seperti yang terjadi setelah penghentian pendanaan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat pada awal 2025. Ketiga, Indonesia menjadi salah satu dari lima negara lokasi uji klinis fase 3 vaksin M72/AS01E, sehingga keputusan yang diambil Jakarta sepanjang tiga tahun ke depan akan memengaruhi seberapa cepat vaksin itu, jika berhasil, dapat diperkenalkan di Asia. Dengan demikian, artikel ini ditulis sebagai bahan ajar bagi studi ilmu kedokteran dan kebijakan publik sekaligus sebagai rujukan bagi pembuat keputusan di dalam dan luar negeri.

    Garis besar argumennya dapat dinyatakan dalam satu kalimat: Indonesia telah memenangkan babak pencatatan, tetapi belum memenangkan babak pemutusan penularan. Notifikasi kasus naik dari 384.025 pada masa pandemi 2020 menjadi 804.836 pada 2023, lalu menurut analisis spasiotemporal terbaru mencapai 867.480 kasus pada 2025. Namun cakupan penemuan kasus nasional pada 2025 masih 79,6 persen, di bawah sasaran 90 persen, pengobatan tuberkulosis resistan obat tertinggal jauh, terapi pencegahan bagi kontak serumah di sebagian besar provinsi berada di bawah 29 persen dari target, dan hampir empat dari sepuluh pasien menanggung biaya katastropik. Kelima kelemahan ini saling mengunci, sehingga perbaikan di satu titik akan bocor di titik lain bila tidak ditangani sebagai satu rangkaian.

    II

    Kerangka Analitik dan Catatan Metode: Kaskade Lima Celah

    Literatur kesehatan masyarakat telah lama memakai gagasan kaskade perawatan untuk menggambarkan bagaimana pasien hilang di setiap tahap, dari infeksi hingga kesembuhan. Kajian ini memperluas gagasan itu menjadi kerangka lima celah yang lebih sesuai untuk analisis kebijakan nasional. Celah pertama adalah celah deteksi, yaitu orang yang sakit tetapi tidak pernah terdiagnosis. Celah kedua adalah celah pelaporan, yaitu pasien yang telah didiagnosis, umumnya di fasilitas swasta, tetapi tidak tercatat dalam sistem informasi nasional. Celah ketiga adalah celah pengobatan dan resistansi, yaitu pasien yang tidak memulai atau tidak menuntaskan pengobatan, termasuk mereka dengan tuberkulosis resistan rifampisin. Celah keempat adalah celah pencegahan, mencakup terapi pencegahan tuberkulosis, perbaikan gizi, dan pada waktunya vaksin. Celah kelima adalah celah pembiayaan dan perlindungan, yang mencakup kecukupan anggaran program sekaligus perlindungan rumah tangga dari biaya katastropik.

    Keunggulan kerangka ini dibanding pembacaan berbasis satu indikator adalah kemampuannya memperlihatkan pergeseran beban dari satu celah ke celah lain. Program yang berhasil menekan celah pelaporan, misalnya, akan tampak menambah jumlah kasus dan memberi kesan memburuk, padahal yang terjadi adalah perbaikan visibilitas. Sebaliknya, program yang menghabiskan anggaran untuk penemuan kasus tanpa memperkuat pengobatan dan pencegahan akan menghasilkan lebih banyak pasien terdiagnosis tanpa mengurangi penularan. Logika saling kunci inilah yang membuat kajian ini menolak pembacaan sempit atas lonjakan notifikasi sebagai bukti kemajuan, sekaligus menolak pembacaan pesimistis atas kenaikan estimasi insidensi sebagai bukti kegagalan.

    Catatan metode perlu dikemukakan secara terbuka. Kajian ini merupakan analisis kebijakan berbasis dokumen dan data sekunder, bukan studi epidemiologi primer. Sumber utamanya adalah Laporan Tuberkulosis Global WHO 2025 beserta topik unggulannya, profil negara WHO, studi inventori nasional 2023 yang dilaporkan WHO, pernyataan resmi dan data Kementerian Kesehatan serta Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, publikasi uji klinis di New England Journal of Medicine dan The Lancet, dokumen Global Fund, serta pemberitaan media arus utama untuk peristiwa kebijakan. Setiap angka diperiksa silang terhadap sedikitnya satu sumber lain bila memungkinkan, dan perbedaan antarsumber dicatat secara eksplisit. Penilaian kunci diberi label keyakinan tinggi, sedang, atau rendah, mengikuti praktik lembaga analisis kebijakan internasional: tinggi berarti didukung data resmi yang konsisten dari beberapa sumber, sedang berarti didukung data yang kuat tetapi parsial atau berbeda periode, dan rendah berarti bertumpu pada indikasi awal, laporan tunggal, atau penalaran analitis.

    Satu kehati-hatian metodologis menyangkut perbedaan antara notifikasi, estimasi insidensi, dan prevalensi. Notifikasi adalah jumlah kasus yang dilaporkan program; insidensi adalah estimasi jumlah kasus baru yang sebenarnya terjadi, termasuk yang tidak terdeteksi; prevalensi adalah jumlah orang yang sedang sakit pada satu titik waktu. Ketiganya sering tertukar dalam perdebatan publik di Indonesia, bahkan dalam pernyataan pejabat, sehingga artikel ini selalu menyebut jenis angka yang dipakai. Perbedaan definisi itu juga menjelaskan mengapa angka estimasi beban yang dipakai Kementerian Kesehatan, sekitar 1,06 hingga 1,09 juta kasus per tahun, berbeda dari angka notifikasi tahunan yang berada di kisaran 800.000 hingga 890.000.

    III

    Peta Beban: Indonesia dalam Laporan Tuberkulosis Global

    Gambaran global memberi konteks yang tidak nyaman. Menurut laporan WHO 2025, insidensi tuberkulosis dunia pada 2024 berada pada 131 per 100.000 penduduk dan tiga puluh negara berbeban tinggi menanggung 87 persen kasus. Laporan yang sama mencatat sedikit kemajuan, dengan kematian turun sekitar tiga persen dan kasus baru turun sekitar satu persen dibanding tahun sebelumnya, seperti dilaporkan Health Policy Watch. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut fakta bahwa tuberkulosis masih membunuh lebih dari 1,2 juta orang pada 2024 sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima untuk penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan. Ringkasan laporan yang sama juga menempatkan Indonesia di antara sedikit negara, bersama Myanmar dan Filipina, yang insidensinya naik lima persen atau lebih menurut pengukuran laporan itu, sebuah sinyal bahwa Asia Tenggara kini menjadi titik lemah dalam peta tuberkulosis dunia.

    Untuk Indonesia, data paling teliti tentang beban yang sebenarnya berasal dari studi inventori nasional kedua yang dilaporkan WHO dalam Laporan Global 2024. Studi itu mengambil sampel acak bertingkat dari 31 kabupaten dan kota yang mewakili sekitar 18,5 persen penduduk, memetakan 6.362 penyedia layanan tuberkulosis, dan mencocokkan catatan mereka dengan sistem informasi tuberkulosis nasional selama 1 September hingga 30 November 2023. Hasilnya memperkirakan insidensi 2023 sebesar 394 per 100.000 penduduk, dengan interval ketidakpastian 363 hingga 428, naik dari 319 pada studi serupa tahun 2017. Studi itu juga memperkirakan sekitar 14 persen kasus insiden pada 2023 tidak terdiagnosis sama sekali. Kenaikan estimasi insidensi ini sebagian mencerminkan metode yang lebih baik dan sebagian mencerminkan dampak pandemi COVID-19 terhadap penularan yang tidak terputus selama 2020 dan 2021; kajian ini menilai kedua faktor itu berperan, dengan tingkat keyakinan sedang, tanpa dapat memisahkan porsi masing-masing secara pasti.

    Profil negara WHO untuk tahun 2022, yang dihimpun dalam profil tuberkulosis Indonesia, menambahkan dimensi kematian dan pembiayaan. Pada tahun itu insidensi diperkirakan 1,06 juta kasus, kematian di kalangan orang tanpa HIV sekitar 134.000 dan di kalangan orang dengan HIV sekitar 6.700, sementara pendanaan program tercatat 172 juta dolar Amerika dengan porsi domestik hanya 44 persen. Angka kematian itu sejalan dengan pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada pembukaan Konferensi Dunia tentang Kesehatan Paru di Bali pada 12 November 2024 bahwa tuberkulosis menewaskan sekitar 136.000 orang Indonesia per tahun, setara satu kematian setiap lima menit. Pada Juni 2026, dalam usulannya agar pasien tuberkulosis dimasukkan sebagai penerima Makan Bergizi Gratis, menteri yang sama menyebut angka sekitar 126.000 kematian per tahun, sebagaimana dilaporkan detikcom. Selisih kedua angka itu kemungkinan mencerminkan pembaruan estimasi, bukan perubahan dramatis di lapangan.

    Satu dari sepuluh orang yang jatuh sakit karena tuberkulosis di planet ini hidup di Indonesia; tidak ada jalan menuju akhir epidemi global yang tidak melewati kepulauan ini.

    Peta beban ini tidak merata secara geografis. Analisis spasiotemporal atas 514 kabupaten dan kota yang dipublikasikan di F1000Research pada September 2026 menemukan bahwa angka notifikasi nasional naik dari 162,6 per 100.000 pada 2021 menjadi 305,0 per 100.000 pada 2025, sementara pengelompokan spasial menguat, dengan indeks Moran naik dari 0,147 menjadi 0,255. Sebanyak 133 kabupaten dan kota, atau 25,9 persen, digolongkan sebagai wilayah berbeban tinggi yang persisten. Kepadatan penduduk dan ketersediaan puskesmas berasosiasi positif dengan notifikasi, sedangkan kemiskinan justru berasosiasi negatif secara ekologis. Tim peneliti studi itu mengingatkan bahwa asosiasi terbalik dengan kemiskinan kemungkinan besar mencerminkan lemahnya kapasitas deteksi di daerah miskin, bukan rendahnya penyakit. Penafsiran ini penting karena berarti wilayah termiskin, termasuk banyak kabupaten di kawasan timur Indonesia, berpotensi menjadi reservoir tersembunyi bagi penularan pada tahun-tahun mendatang, sebuah penilaian yang kajian ini pegang dengan keyakinan sedang.

    IV

    Dari Pencatatan ke Penemuan: Prestasi Notifikasi dan Batasnya

    Prestasi terbesar Indonesia dalam lima tahun terakhir adalah menutup celah pelaporan. Studi inventori 2023 menemukan bahwa tingkat kasus yang tidak dilaporkan turun menjadi 15,6 persen, dari 41 persen pada 2017, atau sekitar 2,6 kali lebih rendah. Di puskesmas tingkat itu hanya 8 persen, tetapi di klinik mencapai 28 persen dan di laboratorium hingga 55 persen. Fasilitas swasta, kasus yang didiagnosis secara klinis, tuberkulosis di luar paru, dan kasus anak tetap menjadi titik lemah pelaporan. Temuan ini, yang kajian ini nilai dengan keyakinan tinggi, menunjukkan bahwa reformasi pencatatan melalui Sistem Informasi Tuberkulosis dan kewajiban pelaporan bagi fasilitas swasta bekerja, tetapi belum menjangkau sektor swasta secara utuh. Di negara tempat sebagian besar pasien pertama kali mencari pertolongan ke dokter praktik, apotek, atau klinik swasta, celah yang tersisa ini bukan persoalan kecil.

    Data Kementerian Kesehatan memperlihatkan laju kenaikan yang mengesankan. Menurut keterangan Menteri Kesehatan di Bali, notifikasi mencapai 724.309 kasus pada 2022 dan 821.200 pada 2023, sementara jumlah pasien yang diobati naik dari 403.000 pada 2021 menjadi 722.000 pada 2023. Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Ina Agustina Isturini, dalam keterangan yang dilaporkan ANTARA pada 24 Maret 2025, menyatakan bahwa 889.000 kasus untuk tahun 2024 telah terdeteksi hingga awal Maret 2025, atau 81 persen dari sasaran 1.090.000. Data Profil Kesehatan Indonesia 2025, sebagaimana diolah GoodStats pada Oktober 2026, menempatkan cakupan penemuan kasus nasional 2025 pada 79,6 persen, naik tipis dari 78,6 persen tahun sebelumnya. Hanya Banten dengan 111,9 persen dan Jawa Barat dengan 96,9 persen yang melampaui sasaran 90 persen. Dengan kata lain, laju kenaikan mulai mendatar, dan kajian ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa tambahan penemuan berikutnya akan semakin mahal karena harus menjangkau kelompok yang paling sulit dijangkau.

    Di sinilah program Cek Kesehatan Gratis memasuki gambaran. Pada peringatan Hari Kesehatan Nasional 12 November 2025, Menteri Kesehatan menyatakan bahwa lebih dari 52 juta orang telah mengikuti program itu dalam setahun dan lebih dari 20 juta di antaranya menjalani skrining tuberkulosis, sebagaimana dilaporkan Metro TV. Pemerintah juga menyiapkan rencana penempatan unit rontgen di setiap kabupaten dan kota sejauh anggaran memungkinkan, menurut siaran Kementerian Kesehatan September 2025. Skala ini membuka peluang yang belum pernah ada sebelumnya. Namun skrining berbasis gejala dalam program pemeriksaan umum memiliki sensitivitas terbatas, karena sebagian besar pasien tuberkulosis pada tahap awal tidak menunjukkan batuk lama. Studi prevalensi di banyak negara Asia memperlihatkan porsi besar kasus subklinis, dan pengalaman kampanye India yang dibahas pada bagian VIII menunjukkan bahwa sekitar dua perlima kasus yang ditemukan melalui skrining aktif tidak bergejala. Tanpa rontgen dada, idealnya dibantu perangkat lunak pembaca berbasis kecerdasan buatan, dan tanpa tes molekuler cepat bagi yang hasilnya mencurigakan, jutaan skrining berpotensi menghasilkan sedikit kasus tambahan.

    Ada pula dimensi yang jarang dibahas, yaitu interaksi antara skrining massal dan beban penyakit pernapasan lain. Kajian Beyond the Smoke (2026) mencatat, merujuk data Kementerian Kesehatan yang dilaporkan Reuters, 277.075 kasus penyakit pernapasan terkait kebakaran hutan dan lahan di tujuh provinsi hingga 12 Oktober 2026. Lonjakan seperti ini membebani puskesmas yang sama yang harus menjalankan penemuan kasus tuberkulosis, dan gejala batuk akibat asap dapat mengaburkan algoritma skrining berbasis gejala. Implikasinya praktis: musim kabut asap semestinya menjadi momen untuk memperkuat, bukan menunda, rujukan tes molekuler bagi pasien dengan batuk berkepanjangan di provinsi terdampak. Penilaian ini bersifat analitis dan dipegang dengan keyakinan rendah sampai ada data yang memisahkan kedua beban penyakit tersebut.

    V

    Resistansi Obat dan Kaskade yang Bocor

    Bila celah pelaporan adalah cerita keberhasilan, celah pengobatan tuberkulosis resistan obat adalah cerita kegagalan yang paling berbahaya. Profil WHO untuk 2022 memperkirakan sekitar 31.000 kasus tuberkulosis resistan rifampisin atau resistan multiobat di Indonesia, sementara hanya 11.833 kasus yang terkonfirmasi laboratorium dan 7.745 pasien yang memulai pengobatan. Tingkat keberhasilan pengobatan untuk kohort pasien resistan obat yang memulai terapi lini kedua pada 2020 hanya 52 persen. Data yang dihimpun Management Sciences for Health untuk 2023 menunjukkan pola serupa: hanya 40,3 persen dari estimasi kasus resistan obat yang terdiagnosis dan dinotifikasi, 73 persen di antaranya memulai pengobatan, dan sekitar 55 persen yang menuntaskan rejimen. Bila ketiga persentase itu dikalikan, hanya sekitar satu dari enam pasien resistan obat yang diperkirakan ada yang melewati seluruh kaskade hingga tuntas, sebuah perhitungan kasar yang kajian ini sajikan sebagai ilustrasi dengan keyakinan sedang.

    Data 2024 tidak memperlihatkan perbaikan mendasar. Dalam keterangan Maret 2025, Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa cakupan pengobatan tuberkulosis sensitif obat mencapai 84 persen dari target 90 persen, sedangkan cakupan pengobatan tuberkulosis resistan obat baru 58 persen dari target 80 persen. Kesenjangan ini mengkhawatirkan karena setiap pasien resistan obat yang tidak diobati terus menularkan galur yang resistan, sehingga beban di masa depan bergeser ke bentuk penyakit yang lebih mahal dan lebih mematikan. Biaya pengobatan pasien resistan obat berlipat dibanding pasien sensitif obat, dan pengalaman pasien yang harus menjalani pengobatan hingga dua tahun dengan efek samping berat menjelaskan mengapa banyak yang putus di tengah jalan.

    Kabar baiknya, sains pengobatan bergerak lebih cepat daripada sistem. Rejimen enam bulan berbasis bedaquiline, pretomanid, linezolid, dengan atau tanpa moxifloxacin, yang dikenal sebagai BPaL dan BPaLM, kini direkomendasikan WHO dan mulai diperkenalkan di Indonesia. Management Sciences for Health melaporkan pelatihan rumah sakit dan puskesmas di Jawa Timur dan Sumatera Utara untuk memberikan rejimen ini, sementara Menteri Kesehatan dalam konferensi Bali menegaskan bahwa Indonesia sangat agresif mendorong rejimen baru yang lebih singkat. India, sebagaimana dicatat ringkasan laporan WHO 2025, telah menggunakan BPaLM untuk memangkas pengobatan resistan obat dari 18 hingga 24 bulan menjadi enam bulan. Tantangan Indonesia bukan lagi ketersediaan rejimen, melainkan desentralisasi: memindahkan inisiasi dan pemantauan pengobatan dari segelintir rumah sakit rujukan ke jaringan puskesmas yang dekat dengan tempat tinggal pasien, dengan dukungan tes molekuler cepat yang mendeteksi resistansi sejak diagnosis pertama.

    Persoalan resistansi juga berkaitan dengan celah pembiayaan rumah tangga. Profil WHO mencatat bahwa pada 2020 sekitar 38 persen pasien tuberkulosis di Indonesia menghadapi biaya total katastropik, yaitu biaya langsung dan tidak langsung yang melampaui 20 persen pendapatan rumah tangga. Penelitian disertasi Ahmad Fuady di Erasmus University Rotterdam (2020) tentang biaya katastropik sejak berlakunya Jaminan Kesehatan Nasional memperlihatkan bahwa jaminan kesehatan menanggung obat dan layanan, tetapi tidak menanggung hilangnya pendapatan, ongkos transportasi berulang, dan kebutuhan gizi selama berbulan-bulan pengobatan. Beban itu paling berat bagi pasien resistan obat. Di sinilah kebijakan perlindungan sosial, bukan kebijakan medis semata, menentukan apakah pasien bertahan hingga sembuh.

    VI

    Pendanaan setelah Guncangan 2025: Global Fund, Bantuan Amerika, dan Kemandirian Fiskal

    Tahun 2025 menandai patahan dalam arsitektur pendanaan tuberkulosis global. Topik unggulan WHO tentang dampak pemotongan pendanaan 2025 mencatat bahwa pemerintah Amerika Serikat menyumbang sekitar separuh dari seluruh pendanaan donor internasional untuk tuberkulosis selama 2015 hingga 2024 dan sekitar sepertiga kontribusi kepada Global Fund pada 2024. Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat kini tidak lagi ada sebagai entitas, dan siklus hibah Global Fund 2024 hingga 2026 dipotong 1,4 miliar dolar, atau sekitar 11 persen dari alokasi awal, per Juli 2025. Studi pemodelan yang dirangkum Health Policy Watch memperkirakan sekitar 500.000 kematian tambahan dan 1,4 juta kasus tambahan sepanjang 2025 hingga 2035 bila pendanaan Amerika tidak tergantikan, dan sekitar dua juta kematian serta lima juta kasus tambahan bila pemotongan Global Fund ikut diperhitungkan. Angka-angka pemodelan semacam ini bergantung pada asumsi, sehingga kajian ini memegangnya sebagai indikasi besaran risiko dengan keyakinan sedang, bukan sebagai ramalan.

    Untuk Indonesia, WHO mencatat dampak yang konkret. Sejak Februari 2025, hilangnya pendanaan Amerika dan realokasi anggaran nasional memengaruhi lebih dari 60 persen alokasi anggaran pemerintah untuk tuberkulosis. Pengadaan obat tuberkulosis resistan obat dan terapi pencegahan dialihkan ke Global Fund, program nasional merencanakan pemotongan 90 persen biaya perjalanan dan 50 persen biaya sumber daya manusia yang didukung Global Fund pada 2026, dukungan untuk tuberkulosis resistan obat dialihkan ke pendanaan domestik, skema Debt2Health diarahkan ulang untuk produk kesehatan esensial, pelatihan dan supervisi dipindahkan ke daring, dan algoritma diagnosis disesuaikan agar memakai lebih sedikit tes molekuler cepat. Butir terakhir ini paling mengkhawatirkan dari sudut pandang klinis, karena tes molekuler adalah pintu utama untuk mendeteksi resistansi rifampisin sejak awal. Penghematan di titik ini berpotensi memperbesar celah resistansi yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, sebuah risiko yang kajian ini nilai dengan keyakinan sedang hingga tinggi.

    Ruang pendanaan multilateral juga menyempit. Pengisian kembali kedelapan Global Fund di Johannesburg pada 21 November 2025, yang diselenggarakan bersama Afrika Selatan dan Inggris di sela pertemuan G20, menghimpun 11,34 miliar dolar, jauh di bawah sasaran 18 miliar dolar dan sekitar 4,4 miliar dolar lebih rendah daripada pengisian ketujuh yang menghimpun 15,7 miliar dolar, sebagaimana dicatat Aidspan. Amerika Serikat menjanjikan 4,6 miliar dolar, turun dari 6 miliar dolar pada 2022. Bagi Indonesia, yang menerima hibah Global Fund 2024 hingga 2026 senilai 309 juta dolar dengan porsi tuberkulosis 126 juta dolar menurut Kementerian Kesehatan, ini berarti siklus hibah berikutnya hampir pasti lebih kecil. Ironisnya, Indonesia sendiri telah bergerak dari penerima menjadi kontributor, dengan sumbangan pertama pemerintah sebesar 10 juta dolar dari APBN ditambah 5,5 juta dolar dari filantropi swasta pada pengisian ketujuh tahun 2022, sebagaimana diumumkan Kementerian Kesehatan.

    Pertanyaan fiskal yang sesungguhnya bukan apakah Indonesia mampu membiayai program tuberkulosis, karena kebutuhan itu relatif kecil dibanding anggaran negara, melainkan apakah tuberkulosis akan menang dalam persaingan prioritas. Kajian Dari Goro-Goro ke Huru-Hara (2026) mencatat bahwa anggaran Makan Bergizi Gratis naik dari sekitar Rp85 triliun pada 2025 menjadi sekitar Rp258 hingga Rp298 triliun pada 2026, mendekati sembilan persen anggaran negara. Program sebesar itu menyerap ruang fiskal, tetapi juga membuka peluang. Usulan Menteri Kesehatan pada Juni 2026 agar pasien tuberkulosis menjadi salah satu dari empat kelompok prioritas penerima program gizi itu, bersama ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita, adalah contoh bagaimana program unggulan pemerintah dapat diarahkan untuk menutup celah pencegahan dan perlindungan. Bukti ilmiah untuk langkah semacam ini kuat, sebagaimana diuraikan pada bagian perbandingan. Gates Foundation juga tetap menjadi mitra penting: dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka pada 7 Mei 2025, presiden menyebut hibah yayasan itu sebesar 159 juta dolar sejak 2009, mayoritas untuk kesehatan, dan yayasan itu menyatakan dukungan bagi uji vaksin tuberkulosis, sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia. Namun filantropi tidak dapat menggantikan anggaran negara sebagai tulang punggung program yang harus berjalan bertahun-tahun.

    VII

    Vaksin M72/AS01E: Janji, Jadwal, dan Kesiapan Hilir

    Selama lebih dari satu abad, satu-satunya vaksin tuberkulosis yang tersedia adalah BCG, yang melindungi bayi dari bentuk berat penyakit tetapi memberi perlindungan terbatas bagi remaja dan orang dewasa, kelompok yang paling banyak menularkan. Kandidat M72/AS01E mengubah perhitungan itu. Uji fase 2b yang dipublikasikan Tait dan rekan di New England Journal of Medicine pada 2019 melibatkan 3.289 orang dewasa tanpa HIV berusia 18 hingga 50 tahun dengan infeksi laten di Afrika Selatan, Zambia, dan Kenya. Setelah 36 bulan pemantauan, vaksin itu menunjukkan efikasi 49,7 persen terhadap tuberkulosis paru aktif, dengan 13 kasus pada kelompok vaksin dibanding 26 kasus pada kelompok plasebo. Hasil itu menjanjikan, tetapi berasal dari jumlah kejadian yang kecil, sehingga ketidakpastiannya lebar.

    Uji fase 3 yang disponsori Gates Medical Research Institute dimulai pada Maret 2024 dan, menurut Wellcome pada 16 Juli 2026, mencapai pendaftaran penuh 20.000 peserta pada April 2025 di 54 lokasi di Afrika Selatan, Kenya, Malawi, Zambia, dan Indonesia. Dokumen tanya jawab Gates MRI menjelaskan bahwa peserta adalah remaja dan orang dewasa berusia 15 hingga 44 tahun, termasuk orang dengan HIV, yang dipantau hingga empat tahun dalam desain tersamar ganda. Hasil diharapkan pada akhir 2028, dan pengajuan regulasi global maupun nasional diperkirakan dimulai pada 2029 bila hasilnya baik. Serum Institute of India dipilih sebagai produsen, dengan rencana investasi lebih dari 100 juta dolar dari dana sendiri, sementara GSK memasok adjuvan AS01E, dan produsen lokal di Indonesia serta Afrika Selatan direncanakan terlibat dalam sebagian rantai pasok.

    Keikutsertaan Indonesia tidak lepas dari kontroversi. Pendaftaran peserta di Indonesia dimulai pada September 2024, dengan pemantauan langsung oleh Menteri Kesehatan di lokasi uji di Jakarta Timur, menurut Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan. Pada Mei 2025, setelah pertemuan Presiden dengan Bill Gates, sebagian publik khawatir warga Indonesia dijadikan subjek percobaan. Juru bicara Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, menegaskan bahwa seluruh proses dipantau ketat oleh WHO, sebagaimana dilaporkan Asia News Network mengutip The Jakarta Post. Episode ini memberi pelajaran penting: kepercayaan publik terhadap vaksin tuberkulosis harus dibangun jauh sebelum vaksin itu tersedia, karena keraguan yang lahir dari ketidaktahuan tentang etika uji klinis dapat berubah menjadi penolakan saat program imunisasi dimulai.

    Dua kehati-hatian perlu dicatat dengan tegas. Pertama, belum ada kepastian bahwa uji fase 3 akan berhasil; efikasi 49,7 persen pada fase 2b dapat lebih rendah atau lebih tinggi pada populasi yang lebih besar dan lebih beragam, dan kajian ini tidak berasumsi vaksin akan tersedia sebelum 2030. Kedua, bahkan bila berhasil, vaksin hanya akan berdampak besar pada insidensi bila diberikan kepada puluhan juta remaja dan orang dewasa, sebuah operasi yang berbeda sama sekali dari imunisasi bayi rutin. Rencana Menteri Kesehatan pada 2024 untuk memulai penggunaan vaksin tuberkulosis pada 2029 karena itu harus dibaca sebagai sasaran aspiratif yang bergantung pada hasil uji, persetujuan regulator, harga, dan kapasitas produksi. Kesiapan hilir, yaitu data populasi sasaran, rantai dingin untuk kelompok dewasa, strategi komunikasi, dan pembiayaan pengadaan, dapat dan semestinya disiapkan sejak sekarang tanpa menunggu hasil akhir. Penilaian bahwa vaksin baru tidak akan mengubah kurva insidensi nasional sebelum 2030 dipegang kajian ini dengan keyakinan tinggi.

    VIII

    Perbandingan Internasional: India, Vietnam, Filipina, Afrika Selatan, dan Tiongkok

    India adalah pembanding paling relevan karena skalanya dan karena ia telah menunjukkan bahwa penurunan nyata mungkin terjadi di negara berbeban tertinggi. Menurut ringkasan Laporan WHO 2025, insidensi India turun 21 persen antara 2015 dan 2024, dari 237 menjadi 187 per 100.000 penduduk, sementara cakupan pengobatan naik dari 53 persen menjadi 92 persen dan tingkat keberhasilan pengobatan mencapai 90 persen. Kampanye intensif seratus hari TB Mukt Bharat Abhiyaan yang diluncurkan pada 7 Desember 2024 menskrining 12,97 crore, atau sekitar 129,7 juta orang rentan, dan menotifikasi 7,19 lakh pasien hingga 17 Maret 2025, dengan 2,85 lakh di antaranya tidak bergejala, menurut sinopsis Kementerian Kesehatan India. Kampanye itu memakai unit rontgen ultraportabel berbasis kecerdasan buatan dan mendaftarkan lebih dari 105.000 donatur Ni-kshay Mitra yang menyalurkan paket pangan. Pelajaran pokoknya bagi Indonesia adalah bahwa skrining massal menghasilkan kasus tambahan dalam jumlah besar hanya bila disertai rontgen dan tes molekuler, dan bahwa dukungan gizi dapat diorganisasi sebagai gerakan sosial, bukan sekadar anggaran negara.

    Bukti ilmiah untuk dukungan gizi datang juga dari India. Uji acak klaster RATIONS di empat distrik Jharkhand, yang dipublikasikan Bhargava dan rekan di The Lancet pada Agustus 2023, melibatkan 10.345 kontak serumah dari 2.800 pasien tuberkulosis paru. Pemberian dukungan pangan kepada keluarga menurunkan insidensi tuberkulosis semua bentuk sebesar 39 persen, dengan rasio laju insidensi yang disesuaikan 0,61, dan menurunkan tuberkulosis paru terkonfirmasi mikrobiologis sebesar 48 persen. Hasil ini memberi dasar empiris yang kuat bagi usulan memasukkan pasien tuberkulosis dan keluarganya ke dalam program gizi pemerintah Indonesia, dengan keyakinan tinggi bahwa intervensi itu efektif dan keyakinan sedang bahwa efek serupa dapat dicapai dalam konteks Indonesia yang berbeda tingkat kerawanan pangannya.

    Vietnam menyumbang bukti paling kuat tentang dampak skrining aktif berbasis komunitas. Uji ACT3 di Provinsi Ca Mau, yang dipublikasikan Marks dan rekan di New England Journal of Medicine pada Oktober 2019, mengacak 120 subkomune. Enam puluh subkomune menerima skrining tahunan selama tiga tahun dengan tes amplifikasi asam nukleat pada dahak, tanpa memandang gejala, sementara enam puluh lainnya hanya menerima deteksi pasif. Pada tahun keempat, prevalensi tuberkulosis paru di kelompok intervensi adalah 126 per 100.000 dibanding 226 per 100.000 di kelompok kontrol, dengan rasio prevalensi 0,56. Pelajarannya bagi Indonesia adalah bahwa skrining yang diulang setiap tahun di wilayah berbeban tinggi, bukan skrining sekali jalan, yang mampu menurunkan penularan. Bila diterapkan pada 133 kabupaten dan kota berbeban tinggi persisten, pendekatan ini jauh lebih efisien daripada skrining merata di seluruh negeri.

    Filipina berfungsi sebagai cermin peringatan. Negara itu menyumbang 6,8 persen kasus dunia, sekitar 70 orang meninggal setiap hari karena tuberkulosis, dan survei prevalensi nasional 2016 menemukan bahwa hanya 20 persen orang dengan gejala mencari pertolongan medis, sementara 40 persen mengobati sendiri dan 40 persen tidak melakukan apa pun, sebagaimana dirangkum DevelopmentAid pada Oktober 2025. Sekitar 42 persen rumah tangga terdampak menghadapi kesulitan ekonomi. Pola perilaku mencari pengobatan yang mirip di Indonesia, termasuk peran apotek dan pengobatan sendiri, menunjukkan bahwa celah deteksi bukan hanya soal ketersediaan fasilitas, tetapi juga soal literasi dan kepercayaan.

    Afrika Selatan dan Tiongkok melengkapi gambaran dengan dua jalur yang berbeda. Afrika Selatan, dengan beban tuberkulosis terkait HIV yang tinggi, mencatat penurunan jumlah orang yang jatuh sakit dari 292.000 pada 2022 menjadi 249.000 pada 2024, meski kematian masih sekitar 54.000, menurut News24, dan negara itu disebut Gates Foundation bersama Indonesia dan Nigeria sebagai negara yang menaikkan pendanaan domestik setelah pemotongan bantuan. Tiongkok, yang dahulu menempati posisi kedua dunia, menurunkan insidensinya menjadi 49 per 100.000 pada 2024, dengan estimasi kasus baru 696.000, dan untuk pertama kalinya masuk kategori beban menengah-rendah menurut WHO, sebagaimana dilaporkan Caixin Global. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono secara eksplisit merujuk pencapaian Tiongkok dalam kuliahnya di Ternate pada Juli 2025, sebagaimana dicatat Kementerian Kesehatan. Perbandingan ini menunjukkan bahwa penurunan berkelanjutan selalu bertumpu pada kombinasi pertumbuhan ekonomi, perbaikan perumahan dan gizi, sistem kesehatan primer yang kuat, dan pendanaan domestik yang stabil, bukan pada satu terobosan teknologi tunggal.

    IX

    Argumen Tandingan: Apakah Target 2030 Sebaiknya Dilepaskan?

    Argumen tandingan terkuat terhadap kerangka kajian ini layak disajikan dalam bentuk paling meyakinkan. Argumen itu menyatakan bahwa target 2030 telah kehilangan makna operasional, sehingga mempertahankannya justru merugikan. Target yang mustahil, menurut pandangan ini, mendorong birokrasi mengejar indikator yang mudah dicapai, terutama jumlah skrining dan notifikasi, sambil mengabaikan pekerjaan sulit seperti pengobatan resistan obat dan pencegahan. Target yang mustahil juga merusak kredibilitas negara ketika tenggat tiba dan angkanya jauh meleset, sehingga publik dan mitra internasional kehilangan kepercayaan. Lebih jauh, dalam lingkungan fiskal yang ketat, sumber daya untuk tuberkulosis mungkin lebih bermanfaat bila dialihkan ke penguatan layanan primer secara umum, yang memberi manfaat bagi banyak penyakit sekaligus, daripada kampanye vertikal yang dikejar tenggat. Para pendukung argumen ini dapat menunjuk pada kenyataan bahwa negara-negara yang berhasil menurunkan tuberkulosis, seperti Tiongkok, melakukannya terutama melalui pembangunan sosial-ekonomi dan sistem kesehatan secara luas.

    Kajian ini menerima sebagian argumen itu tetapi menolak kesimpulannya. Benar bahwa target yang mustahil menciptakan insentif yang menyimpang, dan benar bahwa penguatan layanan primer adalah fondasi. Namun pengalaman India dan Vietnam memperlihatkan bahwa intervensi spesifik tuberkulosis, seperti skrining aktif berulang dan dukungan gizi bagi keluarga pasien, menghasilkan penurunan yang terukur dalam jangka beberapa tahun, jauh lebih cepat daripada efek pembangunan umum. Lebih penting lagi, tuberkulosis memiliki logika penularan: setiap pasien yang tidak diobati dapat menulari orang lain setiap tahun, sehingga penundaan memiliki biaya berlipat. Melepaskan target juga akan mengirim sinyal politik yang keliru tepat ketika pendanaan donor menyusut dan program membutuhkan perlindungan anggaran. Jalan tengah yang lebih rasional adalah mempertahankan komitmen 2030 sebagai arah, sambil secara terbuka menetapkan target antara yang realistis dan bertumpu pada indikator hasil, misalnya penurunan kematian, cakupan pengobatan resistan obat, cakupan terapi pencegahan, dan proporsi pasien yang terlindungi dari biaya katastropik.

    Pernyataan pejabat sendiri menunjukkan bahwa pergeseran semacam ini sedang terjadi secara diam-diam. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, dalam rapat koordinasi 25 September 2025 menegaskan target Perpres 67/2021, tetapi juga menyatakan bahwa dalam lima tahun Indonesia harus menurunkan tuberkulosis sebesar 50 persen, sebagaimana dicatat Kemenko PMK. Wakil Menteri Kesehatan menyampaikan sasaran penurunan 50 persen kasus pada 2030 dalam kuliah Juli 2025. Sasaran setengah ini lebih realistis daripada penurunan 83 persen yang tersirat dalam angka 65 per 100.000, tetapi belum dirumuskan secara resmi dan belum dijabarkan menjadi indikator tahunan. Kajian ini menilai, dengan keyakinan sedang, bahwa perumusan resmi target antara semacam itu akan memperkuat, bukan melemahkan, akuntabilitas program.

    X

    Skenario 2030 dan Penanda Arah

    Skenario berikut disusun dengan memakai insidensi 394 per 100.000 pada 2023 dari studi inventori sebagai garis dasar dan dengan menimbang tiga penggerak utama: kualitas skrining aktif, kemampuan menutup celah resistan obat dan pencegahan, serta stabilitas pendanaan. Probabilitas yang diberikan adalah penilaian analitis, bukan keluaran model matematis, dan dimaksudkan untuk memaksa kejelasan tentang apa yang paling mungkin terjadi. Keempat skenario bersifat saling meniadakan dalam arti bahwa masing-masing menggambarkan rentang hasil insidensi pada 2030.

    Empat Skenario Tuberkulosis Indonesia hingga 2030 (penilaian penulis, 24 Oktober 2026)

    1. AAkselerasi: insidensi turun 30 persen atau lebih dari garis dasar 202315%
    2. BKemajuan lambat: pencatatan kuat, insidensi turun 10 hingga 30 persen45%
    3. CStagnasi: insidensi bergerak dalam kisaran plus minus 10 persen30%
    4. DKemunduran: insidensi dan resistansi naik, pendanaan tergerus10%

    Garis dasar: insidensi 394 per 100.000 (studi inventori 2023). Target Perpres 67/2021 sebesar 65 per 100.000 berada di luar keempat skenario dan dinilai hampir mustahil dicapai pada 2030.

    Skenario A mensyaratkan tiga hal terjadi bersamaan: skrining aktif bergeser dari berbasis gejala ke berbasis rontgen dan tes molekuler, terutama di kabupaten berbeban tinggi; cakupan terapi pencegahan bagi kontak serumah naik drastis dari tingkat saat ini; dan dukungan gizi bagi pasien serta keluarga menjadi kebijakan nasional yang berjalan. Skenario B adalah jalur paling mungkin, yakni berlanjutnya perbaikan pencatatan dan pengobatan sensitif obat, tetapi dengan kemajuan lambat dalam pencegahan dan resistansi, sehingga insidensi turun secara bertahap tanpa mendekati target. Skenario C terjadi bila skrining Cek Kesehatan Gratis tetap bertumpu pada gejala, anggaran program tergerus prioritas lain, dan pemotongan tes molekuler berlanjut. Skenario D, meski kecil kemungkinannya, perlu diwaspadai karena kombinasi pemotongan pendanaan, gangguan pasokan obat, dan pelemahan diagnosis resistansi dapat memicu kenaikan tuberkulosis resistan obat yang sulit dibalikkan.

    Penanda arah yang perlu dipantau publik, parlemen, dan mitra internasional sepanjang 2026 hingga 2028 dapat disusun dalam satu rangkaian logis. Penanda pertama adalah porsi skrining Cek Kesehatan Gratis yang disertai rontgen dada dan rujukan tes molekuler; bila porsi itu tetap kecil, skenario C menguat. Penanda kedua adalah cakupan pengobatan tuberkulosis resistan obat; kenaikan dari 58 persen ke atas 80 persen akan menjadi bukti terkuat pergerakan ke skenario A atau B. Penanda ketiga adalah cakupan terapi pencegahan bagi kontak serumah di provinsi berbeban tertinggi. Penanda keempat adalah besaran alokasi siklus hibah Global Fund berikutnya dan seberapa besar kekurangannya ditutup APBN. Penanda kelima adalah apakah pasien tuberkulosis benar-benar dimasukkan sebagai penerima program gizi nasional dengan mekanisme penyaluran yang jelas. Penanda keenam adalah hasil interim atau akhir uji M72/AS01E pada 2028, yang tidak mengubah kurva sebelum 2030 tetapi akan menentukan kecepatan penurunan sesudahnya. Laporan Tuberkulosis Global WHO edisi 2026, yang lazimnya terbit pada November, akan menjadi titik pemeriksaan pertama atas penilaian ini.

    XI

    Rekomendasi Berbasis Aktor dan Tenggat

    Kepada Kementerian Kesehatan, rekomendasi pertama adalah mengubah desain skrining Cek Kesehatan Gratis paling lambat pertengahan 2027 sehingga di 133 kabupaten dan kota berbeban tinggi persisten, setiap peserta dewasa dengan faktor risiko menjalani rontgen dada dengan bantuan pembacaan berbasis kecerdasan buatan, dan setiap hasil mencurigakan langsung dirujuk ke tes molekuler cepat. Kementerian juga perlu membatalkan, paling lambat anggaran 2027, penyesuaian algoritma yang mengurangi penggunaan tes molekuler, karena penghematan di titik itu memperbesar celah resistansi. Pada saat yang sama, desentralisasi rejimen BPaLM ke puskesmas di provinsi dengan cakupan pengobatan resistan obat terendah harus diselesaikan pada akhir 2027, disertai sasaran cakupan pengobatan resistan obat di atas 80 persen yang dilaporkan setiap triwulan.

    Kepada Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Badan Gizi Nasional, rekomendasinya adalah menetapkan, paling lambat tahun anggaran 2027, mekanisme resmi yang menjadikan pasien tuberkulosis dan kontak serumah dari keluarga miskin sebagai penerima prioritas program Makan Bergizi Gratis, dengan penyaluran melalui puskesmas yang menangani pasien. Desain ini harus dievaluasi dengan rancangan kuasi-eksperimental sejak awal, meniru ketelitian uji RATIONS, sehingga dalam dua tahun pemerintah memiliki bukti domestik tentang dampaknya. Kementerian Dalam Negeri perlu memastikan bahwa tim percepatan penanggulangan tuberkulosis di daerah dan alokasi anggaran daerah untuk tuberkulosis menjadi indikator kinerja kepala daerah mulai siklus perencanaan 2027.

    Kepada Kementerian Keuangan dan Dewan Perwakilan Rakyat, rekomendasinya adalah melindungi anggaran tuberkulosis sebagai belanja wajib yang tidak dapat dipotong dalam realokasi tengah tahun, mulai APBN 2027, serta menyiapkan rencana transisi pendanaan untuk menutup kemungkinan berkurangnya hibah Global Fund pada siklus berikutnya. Lembaga zakat dan filantropi keagamaan juga dapat berperan. Paparan tahun 2015 berjudul Seminar Hasil Penelitian Potensi Zakat Mal di Aceh meninjau dasar hukum zakat dalam Undang-Undang 23/2011, Undang-Undang Pemerintahan Aceh, dan qanun tentang Baitul Mal, sebuah kerangka yang memungkinkan dana zakat diarahkan kepada mustahik, termasuk pasien tuberkulosis miskin yang kehilangan pendapatan. Kemitraan seperti yang dibangun NU Care-LAZISNU dan Aisyiyah di Parepare untuk membantu pasien tuberkulosis dhuafa, sebagaimana dilaporkan NU Online pada Juli 2020, dapat direplikasi secara nasional melalui Badan Amil Zakat Nasional dan lembaga amil zakat besar paling lambat 2027.

    Kepada aktor internasional, rekomendasinya spesifik. Global Fund dan WHO perlu memprioritaskan, dalam siklus hibah berikutnya, pembiayaan tes molekuler dan obat resistan obat di Indonesia sebagai komponen yang paling tidak dapat digantikan oleh anggaran domestik dalam jangka pendek. Gates Foundation, Wellcome, dan Gates Medical Research Institute perlu menyepakati dengan pemerintah Indonesia, paling lambat akhir 2027, rencana akses yang mencakup harga, volume, dan peran produsen dalam negeri, sehingga bila hasil uji M72/AS01E positif pada 2028, Indonesia dapat mengajukan izin edar dan memulai pengenalan tanpa jeda bertahun-tahun. Mitra ASEAN dapat memanfaatkan kesamaan beban di Indonesia, Filipina, dan Myanmar untuk membangun mekanisme pengadaan bersama obat dan diagnostik tuberkulosis. Kepada perguruan tinggi dan lembaga penelitian, rekomendasinya adalah membangun bukti tentang biaya katastropik pasca-2025 dan efektivitas skrining berbasis rontgen dalam Cek Kesehatan Gratis, sebab kebijakan yang baik bergantung pada data yang diperbarui.

    XII

    Keterbatasan dan Kesimpulan

    Kajian ini memiliki keterbatasan yang perlu disadari pembaca. Pertama, kajian ini bergantung pada data sekunder dengan periode yang berbeda-beda: estimasi insidensi terbaru yang paling teliti berasal dari 2023, data pembiayaan rinci dari 2022, dan data biaya katastropik dari 2020, sehingga gambaran pasca-guncangan pendanaan 2025 belum sepenuhnya terekam. Kedua, Laporan Tuberkulosis Global WHO edisi 2026 belum terbit saat artikel ini ditulis, sehingga angka 2025 dari WHO belum dapat diverifikasi; angka notifikasi 2025 yang dipakai berasal dari analisis spasiotemporal yang masih menunggu telaah sejawat dan dari Profil Kesehatan Indonesia 2025 sebagaimana diolah pihak ketiga. Ketiga, sebagian pernyataan pejabat memuat angka yang tidak konsisten antarwaktu, dan kajian ini memilih angka yang paling dapat diverifikasi. Keempat, probabilitas skenario adalah penilaian analitis yang dapat berubah dengan cepat bila data baru muncul. Kelima, kajian ini tidak menganalisis secara rinci faktor risiko seperti merokok, diabetes, dan kekurangan gizi pada tingkat individu, yang berperan besar dalam epidemi tuberkulosis di Indonesia dan layak dikaji tersendiri.

    Sejarah memberi perspektif yang berguna. Pada tahun 2014, alih aksara Mohd. Kalam Daud dan T.A. Sakti atas Kitab al-Rahmah fi al-Tibb wa’l-Hikmah karya Tgk. Chik Kuta Karang memperlihatkan bagaimana ulama Aceh abad kesembilan belas memadukan teori humoral Hippokrates, Galenos, dan Ibnu Sina dengan pengetahuan pengobatan masyarakat setempat. Dunia Melayu, dengan kata lain, memiliki tradisi panjang memandang penyakit sebagai persoalan tubuh, lingkungan, dan masyarakat sekaligus. Kedokteran modern telah menggantikan teori humoral dengan mikrobiologi, tetapi pelajaran tentang keterkaitan itu tetap relevan bagi tuberkulosis, penyakit yang tumbuh di rumah sesak, perut lapar, dan sistem layanan yang jauh dari warga.

    Kesimpulan kajian ini dapat dirumuskan dengan tegas. Indonesia tidak akan mencapai angka 65 per 100.000 pada 2030, dan menyatakan hal itu secara terbuka adalah prasyarat kebijakan yang jujur. Namun Indonesia masih dapat memasuki 2030 dengan kurva insidensi dan kematian yang menurun nyata, bila tiga tahun ke depan dipakai untuk mengubah skrining massal menjadi skrining yang tepat sasaran dan berbasis bukti, menutup kaskade resistan obat, menjadikan gizi dan perlindungan sosial bagian dari pengobatan, serta melindungi anggaran dari guncangan. Vaksin M72/AS01E mungkin menjadi terobosan terbesar dalam satu abad, tetapi vaksin yang tiba di atas sistem yang lemah hanya akan memperpanjang ketimpangan. Ujian 2030 pada akhirnya bukan ujian bagi angka, melainkan bagi kemampuan negara mengubah penemuan menjadi pemutusan rantai penularan.

    ◆ ◆ ◆

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    Literatur ilmiah

    • Tait, D. R., Hatherill, M., Van Der Meeren, O., dkk. (2019). Final analysis of a trial of M72/AS01E vaccine to prevent tuberculosis. New England Journal of Medicine, 381, 2429–2439. Ringkasan: ERS Respiratory Digest.
    • Marks, G. B., Fox, G. J., dkk. (2019). Community-wide screening for tuberculosis in a high-prevalence setting. New England Journal of Medicine, 381(14), 1347–1357. Macquarie University Research.
    • Bhargava, A., Bhargava, M., Meher, A., dkk. (2023). Nutritional supplementation to prevent tuberculosis incidence in household contacts of patients with pulmonary tuberculosis in India (RATIONS): a field-based, open-label, cluster-randomised, controlled trial. The Lancet, 402(10402), 627–640. PubMed 37567200.
    • Yunizar, M. P., Saherti, E., Gia, M., dkk. (2026). Persistent and emerging tuberculosis notification burden across 514 districts and cities in Indonesia, 2021–2025. F1000Research, 15, 1544. f1000research.com.
    • Fuady, A. H. (2020). Tuberculosis-related Catastrophic Cost Since the Implementation of Universal Health Coverage in Indonesia. Disertasi, Erasmus University Rotterdam.

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    Media dan pemberitaan

    Arsip & Pustaka

    Cara Mengutip

    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad. (2026). Lima Celah Menuju 2030: Tuberkulosis Indonesia di Antara Penemuan Kasus, Guncangan Pendanaan, dan Taruhan Vaksin M72. KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/tuberkulosis-indonesia-eliminasi-2030/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama di UIN Ar-Raniry Banda Aceh; PhD Sosiologi, La Trobe University (2011). Pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy, menulis analisis geopolitik, kajian strategis, dan studi peradaban Islam di Dunia Melayu.

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →