Tag: wisata medis

  • Pasien yang Menyeberang: Wisata Medis, Devisa Kesehatan, dan Reformasi Sistem Kesehatan Indonesia di Hadapan Malaysia dan Singapura

    Pasien yang Menyeberang: Wisata Medis, Devisa Kesehatan, dan Reformasi Sistem Kesehatan Indonesia di Hadapan Malaysia dan Singapura

    Laporan Penelitian · Ilmu Kedokteran · Kebijakan Publik · Kajian Asia Tenggara

    Pasien yang Menyeberang:Wisata Medis, Devisa Kesehatan, dan Reformasi Sistem Kesehatan Indonesia di Hadapan Malaysia dan Singapura

    Setiap tahun ratusan ribu orang Indonesia, dari Medan, Banda Aceh, Pekanbaru, Jakarta, hingga Surabaya, menyeberangi Selat Malaka untuk berobat di Penang, Melaka, Kuala Lumpur, dan Singapura. Laporan penelitian ini menelusuri berapa besar arus itu sebenarnya, siapa yang meraup pasarnya, mengapa pasien memilih pergi, dan apakah jawaban Jakarta, dari KEK Kesehatan Sanur hingga dokter asing, menyentuh akar persoalannya.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • Laporan Penelitian
    • 24 Oktober 2026
    • ± 32 menit baca
    Pasien yang Menyeberang: Wisata Medis, Devisa Kesehatan, dan Reformasi Sistem Kesehatan Indonesia di Hadapan Malaysia dan Singapura
    Setiap tahun ratusan ribu orang Indonesia, dari Medan, Banda Aceh, Pekanbaru, Jakarta, hingga Surabaya, menyeberangi Selat Malaka untuk berobat di Penang, Melaka, Kuala Lumpur, dan Singapura. Laporan penelitian ini menelusuri berapa besar arus itu sebenarnya, siapa yang meraup pasarnya, mengapa pasien memilih pergi, dan apakah jawaban Jakarta, dari KEK Kesehatan Sanur hingga dokter asing, menyentuh akar persoalannya.
    Daftar Isi
    1. IRingkasan Eksekutif
    2. IIKerangka dan Metode
    3. IIISejarah
    4. IVBerapa Besar Arusnya
    5. VPeta Penawaran
    6. VIMengapa Mereka Pergi
    7. VIIAceh dan Sumatra
    8. VIIIRespons Indonesia
    9. IXDokter dan Brain Drain
    10. XKata Para Pemimpin
    11. XIArgumen Tandingan
    12. XIISkenario dan Rekomendasi
    13. XIIIKeterbatasan
    14. XIVKesimpulan

    Abstrak

    Laporan penelitian ini mengkaji arus pasien Indonesia ke Malaysia dan Singapura sebagai cermin kegagalan dan potensi reformasi sistem kesehatan Indonesia. Kajian ini memadukan esai di kba13.com dan koleksi Arsip dan Pustaka KBA13 Academy dengan Survei Kesehatan Indonesia 2023, data Malaysia Healthcare Travel Council, laporan bursa dan analis tentang IHH Healthcare, KPJ, dan Island Hospital, jawaban tertulis Kementerian Kesehatan Singapura, pernyataan Presiden Joko Widodo, Presiden Prabowo Subianto, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, serta menteri dan pejabat Malaysia dan Singapura. Kajian ini menemukan tiga hal. Pertama, angka resmi Indonesia tentang besarnya arus pasien tidak konsisten, berkisar dari satu juta hingga dua juta orang dan dari Rp150 triliun hingga Rp170 triliun per tahun, dan sulit dipertemukan dengan data penerimaan rumah sakit Malaysia yang mencatat sekitar 970.000 kunjungan pasien Indonesia dengan pendapatan RM2,2 miliar pada 2025. Kedua, faktor penentu utama bukan harga semata, melainkan kepercayaan, kecepatan, kelengkapan layanan, dan komunikasi dokter dengan pasien. Ketiga, respons Indonesia masih bertumpu pada pembangunan rumah sakit premium, sementara akar persoalannya terletak pada kekurangan dan ketimpangan distribusi dokter, biaya obat dan alat, serta budaya pelayanan. Kajian ini menawarkan tiga skenario hingga 2030 dan rekomendasi bagi lembaga yang disebut namanya.

    Tesis

    Pasien Indonesia yang menyeberang ke Penang dan Singapura bukan sekadar pembeli jasa yang mencari harga murah, melainkan warga yang memberikan suara dengan kakinya terhadap sistem kesehatan yang belum mereka percayai; selama Indonesia menjawab arus itu dengan rumah sakit mewah dan retorika devisa, bukan dengan memperbaiki kepercayaan, waktu tunggu, distribusi dokter, dan komunikasi klinis, selat itu akan tetap menjadi lorong rujukan informal bagi kelas menengah Sumatra dan Jawa.

    1. DataSurvei Kesehatan Indonesia 2023, data Malaysia Healthcare Travel Council dan Penang (2023–2026), laporan analis tentang IHH, KPJ, dan Island Hospital, jawaban tertulis MOH Singapura (2018–2020), data BPJS Kesehatan 2025, UU 17/2023, pernyataan presiden dan menteri Indonesia, Malaysia, dan Singapura (2023–2026), literatur ilmiah, esai kba13.com, dan koleksi Arsip dan Pustaka KBA13 Academy
    2. KerangkaMobilitas pasien sebagai “suara dengan kaki”, ekonomi kepercayaan klinis, koridor kesehatan lintas batas, dan penilaian bukti bertingkat
    3. ProyeksiTiga skenario arus pasien Indonesia 2026–2030 dan delapan rekomendasi untuk Kemenkes, BPJS Kesehatan, Kemenkeu, pemerintah daerah Aceh dan Sumatra Utara, dan rumah sakit pendidikan

    Kata kunci

    • wisata medis
    • Penang
    • Malaysia
    • Singapura
    • devisa kesehatan
    • UU Kesehatan 17/2023
    • KEK Sanur
    • JKN
    • distribusi dokter
    • Aceh
    I

    Ringkasan Eksekutif: Selat yang Menjadi Lorong Rujukan

    Pada 6 Maret 2023, ketika meresmikan Rumah Sakit Mayapada di Bandung, Presiden Joko Widodo menyampaikan angka yang kemudian dikutip berulang kali: hampir dua juta warga Indonesia berobat ke luar negeri, sekitar satu juta ke Malaysia dan sekitar 750 ribu ke Singapura, sehingga devisa sebesar Rp165 triliun hilang, sebagaimana dilaporkan Bisnis.com. Tiga tahun kemudian, Malaysia mencatat rekor baru. Menurut New Straits Times, lebih dari 970.000 pasien Indonesia datang ke Malaysia pada 2025 dan menghasilkan pendapatan RM2,2 miliar, naik 23 persen dari tahun sebelumnya. Penang sendiri, menurut pernyataan pemerintah negara bagian yang dilaporkan The Star, melayani 527.176 pasien asing di enam belas rumah sakit swasta pada 2025, dengan Indonesia sebagai pasar terbesarnya. Laporan ini bertanya mengapa arus itu terus membesar meskipun Indonesia telah mengesahkan Undang-Undang Kesehatan baru, memperluas Jaminan Kesehatan Nasional hingga mencakup 98,62 persen penduduk, dan meresmikan kawasan ekonomi khusus kesehatan pertamanya di Sanur.

    Jawaban singkatnya adalah bahwa pasien yang menyeberang tidak terutama membeli harga, melainkan kepastian. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat bahwa di antara rumah tangga yang pernah berobat ke luar negeri, 93,5 persen menilai fasilitas di negara tujuan lebih lengkap, 91,7 persen menilai layanan sesuai harapan, dan 89,3 persen menilai layanan cepat, tepat, dan akurat. Empat penilaian lahir dari bukti yang dihimpun kajian ini. Dengan keyakinan tinggi, Malaysia, khususnya Penang, telah menjadi tujuan utama pasien Indonesia dan secara sistematis memasarkan diri di kota-kota Indonesia, sementara Singapura bergeser ke ceruk kasus kompleks dan pasien kaya. Dengan keyakinan tinggi, angka resmi Indonesia tentang besarnya arus pasien dan nilai devisanya tidak konsisten dan kemungkinan besar dibesar-besarkan bila dibandingkan dengan data penerimaan rumah sakit di negara tujuan. Dengan keyakinan sedang, faktor kepercayaan, waktu tunggu, dan komunikasi klinis lebih menentukan daripada harga. Dengan keyakinan sedang, respons kebijakan Indonesia hingga 2026 lebih banyak menyasar segmen premium daripada memperbaiki rujukan bagi kelas menengah di Sumatra, padahal di sanalah koridor paling padat terbentuk.

    II

    Kerangka Analitis, Metode, dan Tingkat Keyakinan

    Kajian ini memakai tiga konsep. Konsep pertama adalah mobilitas pasien sebagai “suara dengan kaki”. Dalam ekonomi politik, warga yang tidak puas terhadap layanan publik dapat menyuarakan protes atau keluar dari sistem itu. Pasien Indonesia yang mampu membayar memilih keluar, dan pilihan itu memberi informasi berharga tentang titik lemah sistem yang ditinggalkan, sekaligus mengurangi tekanan politik dari kelompok yang paling vokal untuk memperbaikinya. Konsep kedua adalah ekonomi kepercayaan klinis. Esai di kba13.com berjudul “Introduction to Medical Science: The Architecture of Healing, Knowledge, and Human Care” (Juli 2026) menegaskan bahwa kedokteran adalah sains sekaligus seni dan panggilan, bahwa hubungan dokter dan pasien bersifat fidusia, dan bahwa pasien yang memercayai dokternya lebih mungkin patuh berobat dan mengungkapkan informasi penting. Esai itu juga mengingatkan bahwa keterampilan teknis seorang dokter dapat dilumpuhkan oleh pembiayaan yang lemah dan distribusi tenaga kesehatan yang buruk. Dalam kerangka ini, kepercayaan bukan perasaan subjektif belaka, melainkan modal sistem yang dapat bertambah atau terkikis. Konsep ketiga adalah koridor kesehatan lintas batas, yaitu jalur mobilitas pasien yang terbentuk oleh kedekatan geografis, konektivitas penerbangan, bahasa, jaringan keluarga, dan pemasaran rumah sakit, sebagaimana koridor Medan–Penang atau Pekanbaru–Melaka.

    Metodenya adalah riset pustaka dengan analisis dokumen dan triangulasi data. Sumber primernya mencakup esai di kba13.com tentang hubungan Aceh dan Penang, migrasi orang Aceh ke Semenanjung Malaya, Aceh sebagai cermin Indonesia, dan refleksi kemerdekaan, serta koleksi Arsip dan Pustaka KBA13 Academy yang memuat artikel opini Kompas tentang Ebola, brain drain, dan kesehatan pangan, presentasi tentang jejak Aceh dalam dunia Melayu, dan buku pidato Mahathir Mohamad serta Najib Razak tentang globalisasi Malaysia. Sumber-sumber itu dicocokkan dengan Survei Kesehatan Indonesia 2023, data BPJS Kesehatan, data dan siaran pers Malaysia Healthcare Travel Council, laporan analis sekuritas, jawaban tertulis Kementerian Kesehatan Singapura di parlemen, kajian akademik, dan liputan media Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Penilaian berkeyakinan tinggi bila bertumpu pada beberapa sumber independen termasuk sumber resmi, berkeyakinan sedang bila buktinya kuat tetapi belum lengkap atau berasal dari satu jenis sumber, dan berkeyakinan rendah bila terutama bertumpu pada inferensi. Kajian ini tidak memiliki akses pada data imigrasi tentang tujuan perjalanan medis, sehingga angka jumlah pasien selalu diperlakukan sebagai perkiraan dari sumber tertentu, bukan sebagai fakta tunggal.

    III

    Sejarah: Selat sebagai Ruang Hidup, dari Lebuh Aceh ke Lorong Rumah Sakit

    Arus pasien dari Sumatra ke Penang tidak lahir dari brosur rumah sakit, melainkan menumpang di atas jalur yang jauh lebih tua. Esai di kba13.com berjudul “How the Early History of Aceh’s Relations with Penang in the Malay Peninsula” (Juli 2026) menunjukkan bahwa pedagang Aceh telah aktif di Pulau Pinang sebelum Francis Light membuka pelabuhan itu pada 1786, berdagang di Teluk Jelutung, dan bahwa pesisir utara dan timur Aceh, dari Lhokseumawe, Idi, dan Simpang Ulim hingga Tamiang, menggerakkan perdagangan yang luas dengan Penang. Esai itu menyebut Penang sebagai gerbang bagi pedagang, pelobi politik, dan jemaah haji Aceh. Presentasi “Jejak Aceh dalam Dunia Melayu” yang disampaikan di Riau pada November 2013 (Arsip & Pustaka KBA13) menelusuri jejak yang sama dari arah lain: ingatan kolektif tentang ekspansi Sultan Iskandar Muda, peran Pasai dalam islamisasi Melaka, dan hubungan Aceh dengan Perak dan Pinang. Pelajaran kedua sumber itu jelas: bagi orang Aceh dan Sumatra bagian utara, Semenanjung Malaya bukan luar negeri dalam arti budaya, melainkan sisi lain dari satu ruang hidup yang dipisahkan oleh garis batas kolonial.

    Esai kba13.com lainnya, “How is the Migration of the Acehnese to the Malay Peninsula?” (Juli 2026), menambahkan lapisan sosial yang lebih dekat dengan zaman kita. Esai itu mencatat permukiman Aceh di sekitar Lebuh Aceh yang hingga pertengahan abad kedua puluh dikenal sebagai “Jeddah Kedua” karena melayani jemaah haji, pernyataan pemerintah negara bagian Penang bahwa sebagian besar orang Aceh telah terserap penuh ke dalam komunitas Melayu, dan rute modern dari Banda Aceh ke Penang melalui penerbangan langsung atau lewat Kuala Lumpur. Esai itu juga mencatat, dalam satu kalimat yang penting bagi kajian ini, bahwa sebagian orang Aceh pergi ke Penang untuk berobat di beberapa rumah sakit di sana, terutama Hospital Lam Wah Ee. Kalimat itu menunjukkan bahwa berobat ke Penang telah menjadi bagian dari repertoar biasa kehidupan keluarga Aceh, setara dengan berdagang, merantau, atau singgah dalam perjalanan haji, bukan peristiwa luar biasa yang hanya dilakukan orang kaya.

    Lapisan komersial modern dibangun di atas lapisan budaya itu. Pada Maret 2018, menurut ANTARA Aceh, Malindo Air membuka rute Banda Aceh–Penang tiga kali seminggu, dan Direktur Tourism Malaysia Medan, Azhari Haron, menyatakan bahwa wisata medis merupakan salah satu daya tarik masyarakat Aceh berkunjung ke Penang; perjalanan pengenalan bagi agen perjalanan dan wartawan Banda Aceh itu mencakup sesi bisnis dengan Rumah Sakit Adventist dan Gleneagles Penang. Pada April 2019, menurut IMTJ, KPJ Penang Hospital membuka kantor perwakilan di Banda Aceh yang membantu transportasi, hotel, dan komunikasi dengan dokter, menawarkan penjemputan gratis dari bandara dan penginapan gratis bagi pasien Aceh dan keluarganya, serta sebelumnya telah menjalin kesepakatan dengan RSUD Meuraxa dan RSUD dr. Zainoel Abidin di Banda Aceh. Fakta terakhir itu patut digarisbawahi: rumah sakit Malaysia tidak hanya bersaing dengan rumah sakit Aceh, tetapi juga menjalin hubungan kelembagaan dengan rumah sakit rujukan utama provinsi itu, sehingga jalur rujukan informal ke luar negeri mendapat legitimasi semi-formal.

    IV

    Berapa Besar Arusnya? Angka-angka yang Saling Bertabrakan

    Besarnya arus pasien Indonesia ke luar negeri adalah salah satu angka kebijakan yang paling sering dikutip dan paling jarang diuji. Pada 6 Maret 2023, Presiden Joko Widodo menyebut hampir dua juta orang dan Rp165 triliun. Pada 14 Juni 2023, ketika meresmikan Rumah Sakit Tzu Chi di PIK, Jakarta, ia menyebut angka yang berbeda: sekitar satu juta orang per tahun dengan kehilangan devisa 11,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp170 triliun, dengan sekitar 60 persen pasien berasal dari Jakarta, 15 persen dari Surabaya, dan sisanya dari Medan dan Batam, sebagaimana dilaporkan DDTCNews. Pada 25 Juni 2025, saat peresmian KEK Sanur, Menteri BUMN Erick Thohir menyebut sekitar dua juta orang dengan pengeluaran hampir Rp150 triliun per tahun, menurut Bisnis.com. Pada 20 Januari 2026 di London, Presiden Prabowo Subianto memperkirakan penghematan sebesar 6 miliar dolar AS per tahun dari berkurangnya pengobatan ke luar negeri, menurut Bisnis.com. Jumlah orangnya berubah dari dua juta menjadi satu juta lalu kembali ke dua juta dalam tiga tahun, sementara nilai devisanya bergerak dari sekitar 6 hingga lebih dari 11 miliar dolar AS, tanpa satu pun pernyataan yang menyebut sumber datanya.

    Sumber dan tanggalJumlah orangNilaiJenis bukti
    Presiden Jokowi, 6 Maret 2023Hampir 2 juta (±1 juta ke Malaysia, ±750 ribu ke Singapura)Rp165 triliunPidato, sumber tidak disebut
    Presiden Jokowi, 14 Juni 2023Sekitar 1 juta per tahun11,5 miliar dolar AS (±Rp170 triliun)Pidato, sumber tidak disebut
    Menteri BUMN dan Dirut InJourney, 25 Juni 2025Sekitar 2 juta per tahunHampir Rp150 triliun per tahunPernyataan pejabat
    Presiden Prabowo, 20 Januari 2026Tidak disebutPenghematan 6 miliar dolar AS per tahunPidato di London
    Survei Kesehatan Indonesia 2023Sekitar 0,1 persen rumah tangga dalam tiga tahunTidak diukurSurvei rumah tangga nasional
    MHTC, data 2025Lebih dari 970.000 kunjungan pasien Indonesia ke MalaysiaRM2,2 miliar penerimaan rumah sakitData penyedia layanan negara tujuan
    Dewan Nasional KEK, 2022Target KEK Sanur 123.000–240.000 pasien, setara 4–8 persen pasien ke luar negeriPenghematan hingga Rp86 triliun pada 2045Proyeksi perencanaan

    Data dari sisi negara tujuan memberi gambaran yang lebih sempit tetapi lebih dapat diperiksa. Menurut New Straits Times, Malaysia mencatat 1,8 juta wisatawan medis global pada 2025 dengan pendapatan RM3,35 miliar, dan pasien Indonesia menyumbang lebih dari 970.000 kunjungan dengan pendapatan RM2,2 miliar. Untuk Singapura, laporan Business Times pada Desember 2024 mengutip perkiraan RHB bahwa pendapatan wisata medis Singapura pada 2023 hanya sekitar 250 hingga 270 juta dolar AS untuk semua kebangsaan, dibandingkan sekitar 444 juta dolar AS untuk Malaysia dan 850 juta dolar AS untuk Thailand. Bahkan bila seluruh pendapatan wisata medis Malaysia dan Singapura dijumlahkan dan dianggap berasal dari Indonesia, hasilnya masih jauh di bawah satu miliar dolar AS, sementara angka resmi Indonesia berbicara tentang sepuluh miliar dolar lebih. Penjabat CEO MHTC, Farizal Jaafar, menyatakan kepada The Edge Malaysia pada Agustus 2023 bahwa setiap satu ringgit belanja pengobatan menghasilkan sekitar empat ringgit di industri terkait seperti hotel, transportasi, dan belanja. Dengan pengganda paling murah hati sekalipun, total belanja pasien Indonesia di Malaysia tidak mendekati angka Rp150 triliun.

    Survei rumah tangga menambah ketegangan itu. Menurut ringkasan GoodStats atas Survei Kesehatan Indonesia 2023, hanya sekitar 0,1 persen rumah tangga Indonesia yang pernah mengakses layanan kesehatan luar negeri dalam tiga tahun terakhir, dengan Malaysia di urutan teratas disusul Singapura, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Korea Selatan, sementara jenis layanan terbanyak adalah pemeriksaan kesehatan menyeluruh atau medical check-up sebesar 65,7 persen, disusul bedah 19,2 persen, kesehatan reproduksi dan ibu-anak 7,3 persen, dan pengobatan kanker 5,7 persen. Angka sekecil itu sulit dipertemukan dengan klaim dua juta orang per tahun, kecuali survei rumah tangga gagal menjangkau kelompok kaya perkotaan, sesuatu yang lazim terjadi dalam survei nasional. Penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa ketiga angka mengukur hal yang berbeda: angka MHTC menghitung kunjungan, termasuk kunjungan berulang oleh orang yang sama; angka presiden kemungkinan berasal dari perkiraan industri yang mencampur belanja medis dengan belanja perjalanan; dan survei rumah tangga menghitung rumah tangga, bukan perjalanan. Laporan ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa arusnya nyata dan membesar, tetapi menilai dengan keyakinan sedang bahwa angka devisa yang dipakai pemerintah Indonesia melebih-lebihkan nilai ekonomi langsungnya, setidaknya untuk koridor Malaysia dan Singapura.

    Ketidakpastian ini bukan perkara akademis belaka. Angka “Rp165 triliun devisa hilang” telah menjadi justifikasi utama bagi kebijakan seperti KEK Kesehatan Sanur, pelonggaran dokter asing, dan rumah sakit internasional milik BUMN. Proyeksi yang dikutip Bisnis.com pada November 2022 menyebut KEK Sanur diharapkan melayani 4 hingga 8 persen orang Indonesia yang sebelumnya berobat ke luar negeri, atau sekitar 123.000 hingga 240.000 pasien, sebuah perhitungan yang secara implisit mengandaikan basis sekitar tiga juta pasien, lebih besar lagi dari angka presiden. Bila basis angka itu keliru, maka target investasi, perkiraan penghematan devisa hingga Rp86 triliun pada 2045, dan ukuran kebijakan yang dibangun di atasnya juga keliru. Langkah pertama yang paling murah dan paling mendesak bagi Kementerian Kesehatan dan Badan Pusat Statistik adalah membangun statistik resmi mobilitas pasien dengan metodologi terbuka, bekerja sama dengan otoritas imigrasi dan dengan MHTC, sebelum menambah satu rupiah pun investasi berdasarkan angka yang tidak pernah diuji.

    V

    Peta Penawaran: Penang, Melaka, Kuala Lumpur, dan Singapura

    Di sisi penawaran, Malaysia memperlakukan pasien Indonesia sebagai pasar ekspor strategis yang digarap dengan disiplin negara. Malaysia Healthcare Travel Council adalah badan di bawah Kementerian Kesehatan Malaysia, dan Menteri Kesehatan Dzulkefly Ahmad sekaligus menjabat ketuanya. Pada 24 Juli 2025, menurut siaran pers MHTC, ia meresmikan Malaysia Year of Medical Tourism 2026 dengan target pendapatan industri RM12 miliar pada 2030, setelah pendapatan 2024 mencapai RM2,72 miliar dan jumlah wisatawan medis 1,6 juta. Kampanye itu kemudian diterjemahkan menjadi serangkaian acara di Indonesia: Malaysia Fair di Gandaria City, Jakarta, pada 4 hingga 7 Juni 2026 dengan dua puluh penyedia layanan kesehatan Malaysia; MHX Medan pada April 2026, acara besar pertama di kota itu sejak 2022, yang menurut ANTARA diikuti sembilan belas institusi dan menargetkan sedikitnya 1.665 calon pasien; dan MHX Yogyakarta pada 20 hingga 23 Agustus 2026, yang menurut Bernama dipilih karena penduduknya terdidik, permintaan layanan spesialis meningkat, dan ada penerbangan langsung ke Kuala Lumpur.

    Pemasaran itu dirancang dengan bahasa yang cermat. MHX Medan menempatkan Malaysia sebagai tujuan tepercaya untuk pendapat kedua dan kasus kompleks, menyasar keluarga yang mencari kepastian atas diagnosis rumit, dan membingkai acara itu sebagai penguatan “koridor layanan kesehatan Medan–Penang”, koridor berpenduduk lebih dari lima belas juta jiwa dengan jarak sekitar 160 kilometer dan sekitar 56 penerbangan per minggu. Pada Oktober 2024, menurut CNA Indonesia, sebuah poster bertuliskan “Mau Berobat? Ke Malaysia aja! Lebih dekat, lebih terjangkau” yang disponsori MHTC terpajang di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jalan HR Rasuna Said, sekitar 650 meter dari kantor Kementerian Kesehatan Indonesia. Duta merek Malaysia Healthcare, penyanyi Siti Nurhaliza, berbicara di Jakarta pada Juni 2026 tentang kebutuhan pasien akan rasa tenang, pengertian, dan harapan. Semua itu menunjukkan bahwa Malaysia tidak menjual prosedur medis, melainkan menjual pengalaman dipercaya, ditemani, dan dimengerti, tepat pada titik yang paling sering dikeluhkan pasien tentang rumah sakit di dalam negeri.

    Penang adalah pusat gravitasi pasar ini. Pada 2025, menurut pernyataan Ketua Komite Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Penang, Wong Hon Wai, kepada The Star, enam belas rumah sakit swasta di Penang melayani 527.176 pasien asing, naik 25,94 persen dari 418.608 pada 2024, dengan pendapatan RM1,14 miliar. Ia menyebut Penang menyumbang sekitar 45 persen pendapatan wisata medis nasional, meskipun angka yang sama menunjukkan rasio sekitar 34 persen bila dibagi dengan pendapatan nasional RM3,35 miliar, sehingga klaim 45 persen kemungkinan memakai basis perhitungan yang berbeda. Island Hospital, menurut CEO-nya, Lim Kooi Ling, kepada Bernama pada Juli 2025, melayani lebih dari 230.000 pasien pada 2024, separuhnya dari Indonesia, dengan 600 tempat tidur, dan menawarkan penjemputan bandara, pemesanan hotel, serta paket wisata; ia menegaskan bahwa dokter dan stafnya dapat berbahasa Indonesia. Pada November 2024, menurut The Edge, IHH Healthcare menuntaskan akuisisi Island Hospital dengan nilai ekuitas sekitar RM3,9 miliar. Dengan akuisisi itu, IHH, yang juga memiliki Gleneagles Penang dan jaringan Parkway di Singapura, menguasai dua simpul terbesar koridor Sumatra–Penang sekaligus simpul utama koridor ke Singapura.

    Kelompok rumah sakit lain memperlihatkan ketergantungan yang sama. Menurut The Edge Malaysia pada 2023, Indonesia menyumbang 78 persen segmen pasien internasional KPJ Healthcare, dan Presiden Sunway Healthcare Group, Lau Beng Long, menyatakan bahwa tujuan utama mereka adalah melengkapi apa yang kurang dan mengisi celah layanan kesehatan di Indonesia. Laporan Alvarez & Marsal tahun 2024 mencatat Mahkota Medical Centre di Melaka sebagai salah satu tujuan utama pasien Indonesia, dengan rute feri dari Dumai dan Pekanbaru, dan mencatat bahwa harga rumah sakit swasta di Penang rata-rata 10 hingga 20 persen lebih rendah daripada di Kuala Lumpur. Singapura bergerak ke arah berbeda. Menurut liputan yang dimuat HealthXchange SingHealth, pasien asing turun menjadi sekitar 15 persen basis pasien IHH Healthcare Singapura pada akhir 2023 dari 20 persen pada 2019, akibat biaya tinggi, dolar Singapura yang kuat, dan persaingan Malaysia dan Thailand, sementara pasien asing justru makin banyak datang untuk perawatan kritis dan kompleks seperti terapi proton. Singapura, dengan kata lain, telah menyerahkan pasar pemeriksaan rutin kepada Penang dan mempertahankan pasar kanker kompleks dan pasien kaya.

    VI

    Mengapa Mereka Pergi? Kepercayaan, Harga, Waktu, dan Komunikasi

    Penjelasan populer menyebut harga sebagai alasan utama, tetapi bukti menunjukkan gambaran yang lebih berlapis. Kajian Meghann Ormond dan Dian Sulianto tentang pasien Indonesia di Kuching, Sarawak, yang dilaporkan IMTJ pada Juni 2014 berdasarkan 35 wawancara mendalam, menyimpulkan bahwa anggapan orang Indonesia pergi ke Malaysia hanya demi harga termurah terlalu menyederhanakan persoalan. Biaya diagnosis, pengobatan, dan obat dinilai serupa di kedua negara, dan pasien tetap rela menanggung biaya transportasi dan penginapan karena keyakinan pada kualitas diagnosis, pengobatan, dan obat, rekomendasi dari kerabat, serta jaringan keluarga lintas batas. Survei Trie Damayanti dan rekan-rekannya dalam Jurnal Kajian Komunikasi (2021) terhadap sekitar 96 responden di Sumatra dan Jawa menemukan bahwa persepsi paling menonjol tentang Malaysia menyangkut kredibilitas layanan dan dokter, peralatan medis, kemampuan menyampaikan informasi, dan infrastruktur. Keduanya menunjuk pada hal yang sama: komoditas yang dicari adalah kredibilitas.

    Harga tetap penting, tetapi sebagai harga kepastian, bukan semata harga prosedur. Laporan Alvarez & Marsal mencatat penggantian lutut di Malaysia berkisar 7.000 hingga 8.000 dolar AS dibandingkan 15.500 hingga 16.500 dolar AS di Singapura, dan memperkirakan harga Malaysia sekitar separuh harga Singapura, sambil mengakui bahwa sebagian perawatan di rumah sakit swasta Indonesia bisa lebih murah daripada di Malaysia. Para pelaku di Indonesia sendiri menunjuk struktur biaya. Ketua Umum PB IDI, Adib Khumaidi, pada 9 Maret 2023 menyebut pajak sebagai masalah utama dan membandingkan sistem paket pemeriksaan menyeluruh di luar negeri dengan alur klinis di Indonesia, sebagaimana dilaporkan Suara Surabaya. Guru Besar FKUI, Tjandra Yoga Aditama, pada 13 Maret 2023 menyatakan kepada Tirto bahwa harga alat kedokteran di Indonesia memang lebih mahal daripada di sebagian negara tetangga, dan bahwa pasien juga tertarik pada layanan dan hasil pemeriksaan yang lebih cepat. Pada November 2024, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Azhar Jaya, mengakui kepada detikHealth bahwa banyak obat masih diimpor dan bahwa Kemenkes bernegosiasi dengan Kementerian Keuangan untuk menurunkan pajak, sembari menambahkan bahwa tidak semuanya disebabkan pajak.

    Faktor waktu dan komunikasi muncul berulang kali, termasuk dari mulut pejabat sendiri. Dalam artikel detikHealth yang sama, dokter onkologi Ronald A. Hukom dari PERHOMPEDIN menyatakan bahwa pasien kanker di Penang dapat menuntaskan rangkaian perawatan dalam sekitar satu minggu, sementara di Indonesia perawatan yang sama dapat memakan waktu hingga empat minggu, dan bahwa sebagian obat kemoterapi belum ditanggung BPJS Kesehatan karena dinilai terlalu mahal. Azhar Jaya menambahkan bahwa dokter di luar negeri memiliki lebih banyak waktu bagi pasien dan bahwa komunikasi dokter dan pasien di Indonesia masih sulit. Ekonom kesehatan Hasbullah Thabrany, dalam laporan Nikkei Asia yang dimuat ulang KrASIA pada Maret 2025, menjelaskan akar strukturalnya: dokter di Indonesia kerap membagi waktunya di beberapa fasilitas sehingga waktu untuk tiap pasien menyusut. Esai kba13.com tentang ilmu kedokteran yang dirujuk di atas menekankan anamnesis sebagai pintu pertama diagnosis, protokol penyampaian kabar buruk, dan pengambilan keputusan bersama antara dokter dan pasien. Semua itu membutuhkan waktu, dan waktu itulah yang tidak tersedia dalam sistem yang kekurangan dokter dan membayar dokter per kunjungan di banyak tempat sekaligus.

    Persepsi salah diagnosis adalah lapisan paling sensitif dan paling sulit diukur. Juru bicara Kemenkes, Mohammad Syahril, pada 29 Mei 2023 menanggapi ramainya warga berobat ke Penang dengan menyatakan bahwa berobat ke luar negeri adalah pilihan dan keyakinan, bahwa ujungnya adalah kepercayaan, bahwa sebagian penyakit terbukti dapat sembuh di Indonesia, dan bahwa sebagian orang mungkin pergi karena gengsi dan bisik-bisik tetangga, sebagaimana dilaporkan detikHealth. Pemicu perdebatan itu adalah kesaksian seorang warganet bahwa lima belas dokter di Indonesia merekomendasikan operasi penggantian lutut, sementara di Penang ia memperoleh perawatan yang jauh lebih murah. Sementara itu, Direktur Utama BPJS Kesehatan saat itu, Ali Ghufron Mukti, pada 15 Maret 2023 menyatakan kepada Bisnis.com bahwa layanan Indonesia secara umum tidak kalah, kecuali dalam keramahtamahan dan ketelitian, dan mencontohkan pasien hepatitis yang dioperasi di Singapura tetapi justru sembuh setelah dirawat di dalam negeri. Kedua tanggapan itu mengandung kebenaran, tetapi juga memperlihatkan kecenderungan pejabat untuk memindahkan persoalan ke psikologi pasien. Pengakuan bahwa Indonesia kalah dalam “ketelitian” adalah pengakuan tentang mutu klinis, bukan tentang gengsi, dan laporan ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa pengalaman diagnosis yang berbeda-beda di dalam negeri, entah benar keliru atau sekadar tidak dijelaskan dengan baik, adalah pendorong utama pencarian pendapat kedua di luar negeri.

    VII

    Aceh dan Sumatra: Koridor Kesehatan di Mulut Selat Malaka

    Bagi Aceh, berobat ke Penang bukan statistik nasional, melainkan pengalaman sosial sehari-hari. Esai kba13.com berjudul “Aceh sebagai Cermin Indonesia: Dari Nalar Keamanan menuju Nalar Geopolitik dan Geostrategi” (September 2026) mencatat bahwa rumah sakit di Pulau Pinang telah lama menjadi tujuan berobat bagi keluarga Aceh kelas menengah, bahwa pengaruh Malaysia di Aceh bekerja melalui pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, bantuan kemanusiaan, perdagangan, dan identitas Melayu-Islam, dan bahwa bantuan medis Malaysia adalah bantuan medis internasional pertama yang tiba di Aceh setelah banjir akhir November 2025. Esai itu memperingatkan bahwa absennya Jakarta dalam bidang-bidang itu berisiko menggeser orientasi masyarakat Aceh secara perlahan ke arah Malaysia. Dari perspektif kajian ini, peringatan tersebut perlu dibaca secara presisi: arus pasien ke Penang bukan ancaman kedaulatan, tetapi indikator bahwa negara kehilangan salah satu saluran paling intim untuk membangun kepercayaan warga, yaitu merawat mereka ketika sakit.

    Krisis Jaminan Kesehatan Aceh pada 2026 memperlihatkan betapa rapuhnya saluran itu. Esai kba13.com “Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan RI: Masih Relevankah Aceh Merdeka?” (Agustus 2026) mencatat bahwa Peraturan Gubernur Nomor 2 Tahun 2026 tentang JKA, yang ditandatangani pada 29 Januari 2026 di bawah tekanan fiskal, membatasi JKA pada rumah tangga desil 6 dan 7 dan mendorong sekitar 500.000 warga desil 8 hingga 10 ke BPJS. Pelaksanaannya pada 1 Mei 2026 terganggu data penerima yang tidak andal; tukang ojek, pekerja informal, dan penyandang disabilitas mendapati diri mereka masuk kategori sejahtera, rumah sakit dan puskesmas terganggu, protes meluas, dan gubernur mencabut peraturan itu pada 18 Mei 2026. Esai itu merangkum pelajarannya dengan tajam: orang tidak berhenti peduli, orang berhenti percaya bahwa saluran resmi akan menghasilkan apa pun. Ketika jaminan kesehatan di dalam negeri dapat berubah dalam hitungan minggu karena kesalahan data, keluarga kelas menengah yang mampu membayar memiliki alasan rasional untuk mempertahankan Penang sebagai jalur cadangan.

    Namun data nasional mengingatkan agar tidak menjadikan Aceh sebagai pusat tunggal cerita. Menurut Presiden Joko Widodo pada Juni 2023, sekitar 60 persen pasien yang berobat ke luar negeri berasal dari Jakarta dan 15 persen dari Surabaya, dan analis TA Securities yang dikutip MIDA pada September 2024 juga menyebut Jakarta dan Surabaya sebagai asal utama pasien Indonesia di Malaysia. Koridor Sumatra paling padat dalam arti kedekatan dan frekuensi: menurut laporan Alvarez & Marsal, penerbangan Medan–Penang memakan waktu sekitar 55 menit, sementara Medan–Jakarta sekitar dua setengah jam. Ketika rumah sakit rujukan nasional lebih jauh dari rumah sakit swasta di negara tetangga, garis batas negara kehilangan makna praktisnya bagi pasien. Sumatra bagian utara, dengan demikian, adalah tempat di mana kegagalan rujukan berjenjang paling cepat berubah menjadi arus lintas batas, sementara Jakarta dan Surabaya adalah tempat asal sebagian besar uangnya. Kebijakan yang hanya menyasar salah satunya akan meleset.

    VIII

    Respons Indonesia: KEK Sanur, Dokter Asing, UU 17/2023, dan JKN

    Respons paling simbolis adalah KEK Kesehatan Sanur dan Bali International Hospital. Kawasan seluas 41,26 hektare itu ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2022, dikelola PT Hotel Indonesia Natour di bawah InJourney, dan, menurut ANTARA Bali, telah menarik investasi kumulatif Rp2,99 triliun hingga semester I 2024. Presiden Prabowo meresmikannya pada 25 Juni 2025 dan, menurut Tirto, menyatakan bahwa begitu banyak warga Indonesia mencari pengobatan di luar negeri sehingga pengeluaran devisa sangat besar. Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyatakan kawasan itu dapat memangkas arus keluar devisa sedikitnya separuh, atau sekitar Rp75 triliun. Namun proyek itu juga memperlihatkan keterbatasannya. Menurut laporan Nikkei Asia di KrASIA, Mayo Clinic yang semula menjadi mitra unggulan kemudian hanya bersedia berperan sebagai konsultan, pembukaan rumah sakit yang semula dijadwalkan 2023 berulang kali tertunda, dan perizinan dokter spesialis asing terlambat. Menurut detikFinance, Direktur Utama IHC, Mira Dyah Wahyuni, menegaskan pada Juli 2023 bahwa rumah sakit itu tidak akan menerima pasien BPJS dan menyasar kalangan menengah atas.

    Keputusan untuk tidak menerima BPJS secara logis konsisten dengan tujuan menahan pasien kaya, tetapi ia juga mengungkapkan cara berpikir yang keliru tentang masalahnya. Pasien keluarga kelas menengah dari Medan atau Banda Aceh yang pergi ke Penang untuk pemeriksaan menyeluruh atau pendapat kedua tidak akan terbang ke Bali; bagi mereka, Penang lebih dekat, lebih murah, dan lebih akrab. Menempatkan pusat wisata medis nasional di Bali berarti bersaing dengan Singapura dan Bangkok di segmen premium, bukan dengan Penang di segmen yang justru paling besar menurut data MHTC. Laporan ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa KEK Sanur dapat menahan sebagian pasien kaya dari Jakarta dan Bali sendiri, terutama untuk kardiologi, onkologi, dan layanan estetika, tetapi hampir tidak menyentuh koridor Sumatra–Penang yang merupakan wajah paling nyata dari arus pasien itu. Seandainya target 123.000 hingga 240.000 pasien tercapai pun, angka itu hanya sebagian kecil dari 970.000 kunjungan pasien Indonesia ke Malaysia pada 2025.

    Respons kedua adalah pelonggaran tenaga medis asing melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Menurut analisis Hukumonline pada Oktober 2024, Pasal 248 membatasi praktik tenaga medis asing lulusan luar negeri pada dokter spesialis dan subspesialis serta tenaga kesehatan berkompetensi tertentu setelah evaluasi kompetensi; Pasal 251 mensyaratkan permintaan fasilitas kesehatan berdasarkan kebutuhan, alih teknologi dan ilmu pengetahuan, serta jangka waktu paling lama dua tahun yang dapat diperpanjang satu kali; dan Pasal 252 mewajibkan STR dan SIP. Analisis yang sama mencatat celah hukum dalam pertanggungjawaban pidana dokter asing, ketidakjelasan sistem penggajian, dan ketidakjelasan uji kompetensi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, pada 3 Juli 2024, menyatakan kepada ANTARA Jawa Barat bahwa dokter asing didatangkan bukan untuk bersaing, melainkan untuk menyelamatkan nyawa, dengan merujuk pada sekitar 12.000 bayi dengan kelainan jantung bawaan per tahun sementara dokter lokal hanya mampu melakukan sekitar 6.000 operasi jantung per tahun. Pada 14 Agustus 2026, dalam pidato pengantar RUU APBN 2027, Presiden Prabowo membuka kemungkinan memperluas izin praktik dokter asing untuk waktu terbatas, sebagaimana dilaporkan Katadata.

    Respons ketiga, dan secara fiskal paling besar, adalah JKN. Menurut Bisnis.com, BPJS Kesehatan mencatat 282,7 juta peserta atau 98,62 persen penduduk per 31 Desember 2025, lebih dari 725,3 juta pemanfaatan layanan sepanjang 2025, dan beban pelayanan kesehatan Rp191,3 triliun, dengan 26,42 persen untuk penyakit katastropik. Angka-angka ini penting untuk menempatkan isu devisa dalam perspektif: bahkan angka devisa tertinggi yang dikutip pemerintah tidak lebih besar dari belanja JKN setahun, dan JKN melayani seluruh bangsa, bukan segelintir pasien mampu. Namun JKN juga menjadi bagian dari mekanisme yang mendorong pasien keluar. Sistem rujukan berjenjang, antrean panjang di rumah sakit rujukan, dan daftar obat yang terbatas, termasuk obat kemoterapi tertentu yang belum ditanggung, mendorong pasien yang mampu untuk membayar sendiri, dan bila harus membayar sendiri, Penang sering kali menjadi pilihan yang lebih masuk akal daripada rumah sakit swasta di Medan atau Jakarta. Adib Khumaidi bahkan mengeluhkan pola pasien yang menjalani operasi di luar negeri lalu kembali memakai BPJS ketika dananya habis. Pola itu menunjukkan bahwa sistem dalam negeri dan luar negeri tidak berdiri sendiri, melainkan saling menyambung dalam strategi keluarga.

    IX

    Dokter, Distribusi, dan Arus Keluar Tenaga Kesehatan

    Di balik semua keluhan pasien terdapat satu fakta struktural: Indonesia kekurangan dokter, dan dokter yang ada tidak tersebar merata. Saat meluncurkan Pendidikan Dokter Spesialis Berbasis Rumah Sakit pada 6 Mei 2024, Kementerian Kesehatan mencatat rasio 0,47 dokter per 1.000 penduduk, peringkat 147 dunia, kekurangan sekitar 29.179 dokter spesialis berdasarkan standar ideal Bappenas sebesar 0,28 spesialis per 1.000 penduduk, produksi sekitar 2.700 lulusan spesialis per tahun dari 24 fakultas kedokteran, dan konsentrasi sekitar 59 persen dokter spesialis di Jawa. Pada 20 Januari 2026 di London, Presiden Prabowo menyatakan bahwa Indonesia hanya menghasilkan sekitar 9.000 dokter setiap tahun. Pada 14 Agustus 2026, menurut Katadata, pemerintah menyebut kebutuhan nasional hampir 270.000 dokter, termasuk kekurangan 84.811 dokter umum di 474 kabupaten dan kota dan defisit 55.712 dokter spesialis di 481 kabupaten dan kota, serta mengumumkan pembukaan sembilan fakultas kedokteran baru dan 170 program studi spesialis dan subspesialis. Angka kekurangan itu berbeda-beda antarsumber dan antartahun, tetapi arahnya sama: dengan produksi dokter seperti sekarang, kesenjangan tidak akan tertutup sebelum 2030.

    Kekurangan itu menjelaskan mengapa dokter Indonesia terburu-buru, mengapa antrean panjang, dan mengapa komunikasi klinis menjadi korban pertama. Arus keluar tenaga kesehatan memperparah keadaan. Pada Maret 2023, menurut Suara Surabaya, Binawan Group telah meloloskan 133 perawat Indonesia untuk bekerja di rumah sakit pemerintah Singapura dari target 1.100 pada tahun itu. Di Malaysia, Presiden Asosiasi Rumah Sakit Swasta Malaysia, Kuljit Singh, menyebut kekurangan perawat sebagai tantangan terbesar industri wisata medis, sebagaimana dilaporkan The Star melalui The Daily Star pada Juni 2025, dan Konsul Jenderal RI di Johor Bahru, Sigit S. Widiyanto, mengusulkan agar perawat Indonesia dipekerjakan di rumah sakit pemerintah Malaysia dengan alasan bahwa sekitar 70 persen pasien asing di Malaysia adalah orang Indonesia. Usulan itu, betapapun bermaksud baik, memperlihatkan paradoks yang menyakitkan: Indonesia menawarkan untuk mengirim perawatnya guna merawat pasien Indonesia di Malaysia, alih-alih membangun kapasitas untuk merawat mereka di rumah sendiri.

    Perdebatan tentang brain drain bukan hal baru. Pada tahun 2014, Budi Santosa dalam harian Kompas yang berjudul “Dari ‘Brain Drain’ ke ‘Brain Gain’” (Arsip & Pustaka KBA13) berargumen bahwa kekhawatiran terhadap brain drain penerima beasiswa LPDP dapat dimengerti tetapi berlebihan, bahwa brain drain biasanya diikuti arus balik ketika ekonomi negara asal membaik, dan bahwa Indonesia sebaiknya meniru program aktif Tiongkok dan Korea Selatan untuk menarik kembali ilmuwannya. Ia juga mengingatkan pengalaman era Habibie, ketika negara tidak siap menampung para lulusan yang pulang. Pelajaran itu berlaku tepat bagi kedokteran. Program adaptasi dokter spesialis WNI lulusan luar negeri, menurut Kementerian Kesehatan per Desember 2024, baru menerima 77 pelamar dari sebelas negara, dengan 32 telah ditempatkan dan hanya tujuh yang menuntaskan adaptasi. Menteri Budi Gunadi meminta agar prosesnya dipersingkat dan berharap lebih banyak diaspora mengetahui program itu sehingga mereka dapat pulang. Angka sekecil itu menunjukkan bahwa brain gain di bidang kedokteran belum menjadi kebijakan, melainkan masih eksperimen administratif.

    X

    Kata Para Pemimpin: Dari Devisa yang Hilang ke Introspeksi Diri

    Pernyataan para pemimpin Indonesia memperlihatkan pergeseran dari bahasa devisa ke bahasa reformasi, tetapi pergeseran itu belum tuntas. Presiden Joko Widodo, pada 6 Maret 2023 di Bandung, membingkai masalah sebagai kebocoran modal, menyebut Rp165 triliun devisa hilang karena ada modal keluar. Pada 14 Juni 2023 di Jakarta ia menambahkan pembelaan profesi dengan menyatakan bahwa dokter Indonesia tidak kalah pintar dari dokter di Malaysia, Singapura, dan Thailand, sementara fasilitas dan infrastruktur yang masih perlu dibenahi. Pembingkaian ini politis dan dapat dimengerti: ia menghindari menyalahkan dokter dan memusatkan perhatian pada investasi rumah sakit, bidang di mana pemerintah dapat menunjukkan hasil yang terlihat melalui peresmian. Namun bahasa devisa juga menyesatkan, karena memperlakukan pasien yang pergi sebagai masalah neraca pembayaran, bukan sebagai sinyal kegagalan layanan, dan karena angka devisanya sendiri, sebagaimana diuraikan di atas, tidak pernah diberi dasar metodologis.

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan diagnosis yang paling jujur. Dalam webinar penyakit langka pada 28 Februari 2023, sebagaimana dilaporkan detikHealth, ia menyebut antrean yang sangat panjang, kualitas perawatan dan layanan nonmedis yang tidak bagus di rumah sakit vertikal, dokter yang sering tidak ada di tempat, dan menyatakan malu karena Indonesia baru melakukan lima transplantasi sumsum tulang untuk leukemia sementara Malaysia telah melakukan ratusan. Pada 10 Oktober 2024, menanggapi poster MHTC di depan Kedutaan Besar Malaysia, ia menyatakan bahwa Indonesia harus introspeksi diri dan meningkatkan layanan kesehatannya. Kejujuran itu patut dihargai, tetapi ia juga memperlihatkan jarak antara diagnosis dan terapi. Diagnosisnya berbicara tentang antrean, perilaku dokter, dan layanan nonmedis, tetapi terapi yang paling menonjol, yaitu KEK Sanur dan dokter asing, menyasar fasilitas premium dan kekurangan spesialis, bukan disiplin waktu, budaya pelayanan, dan transparansi biaya di rumah sakit rujukan biasa.

    Presiden Prabowo Subianto memindahkan pusat argumen ke produksi dokter. Pada 16 Juni 2025, dalam Leaders’ Retreat di Singapura, ia mengundang Singapura untuk lebih aktif dalam transformasi sektor kesehatan Indonesia dan menyatakan rencananya membangun lebih banyak sekolah kedokteran dan keperawatan, sebagaimana dilaporkan INP Polri. Pada 20 Januari 2026 di London, ia mengajak universitas Inggris mendirikan sepuluh kampus berstandar dunia dengan fokus kedokteran, kedokteran gigi, dan farmasi, dengan beasiswa penuh dan target penerimaan pertama awal 2028, dan memperkirakan penghematan devisa 6 miliar dolar AS per tahun dapat membiayai proyek itu. Di pihak Singapura, Perdana Menteri Lawrence Wong, dalam konferensi pers bersama dengan Prabowo di Jakarta pada 6 Juli 2026, menyatakan bahwa Singapura akan terus mendukung prioritas pembangunan Indonesia melalui program peningkatan kapasitas, termasuk di bidang kesehatan, sebagaimana tercatat di PMO Singapura. Pilihan kata itu penting: Singapura menawarkan peningkatan kapasitas, bukan pasar, dan sejak 2023 kedua menteri kesehatan telah menandatangani memorandum saling pengertian yang mencakup layanan primer, layanan rujukan, pembiayaan, dan sumber daya manusia, menurut Kemenkes.

    Sikap resmi Singapura terhadap pasien asing memang berbeda dari Malaysia. Dalam jawaban tertulis di parlemen pada 19 November 2018, Kementerian Kesehatan Singapura menyatakan bahwa rumah sakit publiknya tidak diizinkan memasarkan diri secara aktif kepada pasien asing, bahwa kontrak dengan agen perujuk pasien asing telah diakhiri, dan bahwa pasien asing yang datang atas kemauan sendiri hanya sekitar 1,5 persen dari total rawat inap dan bedah harian pada 2013–2017; IMTJ mencatat bahwa satu agen di Jakarta mengklaim telah mengirim 15.000 pasien Indonesia ke Singapura dan Malaysia dalam sebelas tahun. Pada September 2020, menjawab pertanyaan parlemen tentang pasien asing selama pandemi, MOH Singapura mencatat bahwa sebagian besar pasien asing yang diizinkan masuk berasal dari Indonesia, kebanyakan pasien lama spesialis Singapura yang menjalani kemoterapi atau perawatan ginjal. Malaysia sebaliknya menjadikan pasien asing sebagai industri ekspor. Menteri Kesehatan Dzulkefly Ahmad, saat meluncurkan MYMT 2026, menyatakan bahwa Malaysia bukan orang asing sebagai tujuan wisata medis pilihan, dan pada 9 Agustus 2025, menurut Malay Mail, ia menegaskan belum ada pembicaraan resmi dengan Jakarta tentang perekrutan perawat Indonesia. Perbedaan kedua strategi itu berakar dalam visi globalisasi masing-masing negara. Buku Globalisation and the New Realities (Arsip & Pustaka KBA13), himpunan pidato Mahathir Mohamad yang disunting Hashim Makaruddin, memperlihatkan sikap Malaysia yang menerima globalisasi dengan syarat negara mengatur sendiri posisinya, dan buku Najib Razak Globalising Malaysia: Towards Building a Developed Nation (2006, Arsip & Pustaka KBA13) membingkai globalisasi sebagai jalan menuju negara maju. Industri wisata medis Malaysia adalah salah satu buah praktis dari nalar itu: jasa bernilai tambah diekspor ke tetangga yang sistem layanannya tertinggal.

    XI

    Argumen Tandingan: Apakah Arus Pasien Itu Masalah?

    Argumen tandingan pertama menyatakan bahwa arus pasien lintas batas bukan masalah, melainkan efisiensi pasar regional. Bila Penang dapat memberikan pemeriksaan menyeluruh atau penggantian lutut dengan mutu baik dan harga bersaing hanya 55 menit dari Medan, maka memaksa pasien tetap di dalam negeri sama saja dengan memaksa konsumen membeli barang yang lebih mahal dan lebih buruk. Dalam kerangka integrasi ASEAN, perdagangan jasa kesehatan adalah hal wajar, dan Indonesia sendiri mengharapkan pasien asing datang ke Sanur. Argumen ini kuat dan sebagian benar. Laporan ini tidak menganjurkan pembatasan perjalanan medis; pilihan pasien adalah hak, dan keberadaan Penang bahkan bermanfaat sebagai tolok ukur yang memaksa rumah sakit Indonesia memperbaiki diri. Namun argumen pasar mengabaikan dua hal. Pertama, pasien yang pergi adalah mereka yang mampu, sehingga arus keluar memisahkan kelas menengah dari nasib sistem yang dipakai mayoritas warga dan melemahkan tekanan politik untuk reformasi. Kedua, pilihan pasien itu sendiri dibentuk oleh kegagalan yang dapat diperbaiki, seperti antrean dan komunikasi, bukan oleh keunggulan komparatif yang permanen.

    Argumen tandingan kedua menyatakan bahwa pejabat Kemenkes benar: sebagian pasien pergi karena gengsi, karena pemasaran yang agresif, atau karena kabar dari mulut ke mulut, bukan karena mutu yang lebih baik, dan bahwa banyak penyakit dapat ditangani sama baiknya di Indonesia. Bukti untuk argumen ini ada: Tjandra Yoga Aditama menyebut pengaruh berita yang membuat layanan luar negeri tampak bagus, dan kampanye MHTC memang dirancang untuk membangun citra. Argumen tandingan ketiga menyatakan bahwa angka devisa yang dibesar-besarkan pun tetap berguna secara politis, karena memaksa pemerintah berinvestasi pada kesehatan. Laporan ini menolak argumen ketiga dan menerima argumen kedua dengan catatan. Angka yang salah melahirkan kebijakan yang salah sasaran, sebagaimana KEK Sanur yang dirancang untuk pasar premium. Adapun gengsi dan pemasaran memang nyata, tetapi keduanya hanya efektif karena ada pengalaman nyata yang mereka tumpangi. Survei Kesehatan Indonesia 2023 memperlihatkan bahwa pasien menilai layanan luar negeri lengkap, sesuai harapan, dan cepat; pemasaran tidak dapat menciptakan penilaian seperti itu pada pasien yang telah mengalaminya sendiri, kecuali ada kesenjangan nyata yang dirasakan.

    XII

    Skenario 2026–2030 dan Rekomendasi Kebijakan

    Skenario pertama, kebocoran berlanjut, adalah skenario dasar. Malaysia mempertahankan pertumbuhan dua digit pasien Indonesia sebagaimana diperkirakan Phillip Capital Research, yang menurut The Star pada Agustus 2026 melihat tidak ada tanda perlambatan dan mencatat bahwa pajak penjualan dan jasa atas pasien asing sejak Juli 2025 tidak berdampak berarti pada kedatangan pasien Indonesia. MHTC mengejar target RM12 miliar pada 2030, rumah sakit Penang menambah kapasitas, dan KEK Sanur menahan sebagian pasien premium tanpa menyentuh koridor Sumatra. Dalam skenario ini, kunjungan pasien Indonesia ke Malaysia melampaui satu juta per tahun sebelum 2027, dan Indonesia tetap mengulang angka devisa tanpa data. Skenario kedua, reformasi dari tengah, terjadi bila program pendidikan spesialis berbasis rumah sakit, fakultas kedokteran baru, dan pemangkasan bea dan pajak alat dan obat mulai berdampak sekitar 2028, ditambah perbaikan nyata pada waktu tunggu dan komunikasi di rumah sakit rujukan provinsi. Arus ke Malaysia tetap tumbuh, tetapi lebih lambat, dan bergeser dari pemeriksaan rutin ke kasus kompleks. Skenario ketiga, guncangan, terjadi bila pandemi baru, krisis fiskal JKN, atau kejutan nilai tukar memutus koridor itu secara tiba-tiba, seperti yang terjadi pada 2020, ketika pasien kanker dan ginjal Indonesia yang bergantung pada Singapura harus meminta izin khusus untuk masuk.

    Skenario ketiga mengingatkan bahwa ketergantungan pada layanan lintas batas juga merupakan kerentanan keamanan kesehatan. Pada tahun 2014, Maria Guevara dari Médecins Sans Frontières dalam harian Kompas yang berjudul “Peran ASEAN dalam Melawan Ebola” (Arsip & Pustaka KBA13) menulis di puncak wabah Ebola di Afrika Barat bahwa krisis itu bersifat transnasional dan bahwa ASEAN, dengan pengalaman SARS 2003 dan perencanaan kesiapsiagaan pandemi, harus menunjukkan kepemimpinan regional. Argumennya relevan bagi koridor Selat Malaka: ketika ratusan ribu perjalanan medis setiap tahun menghubungkan Sumatra dengan Semenanjung Malaya, kesiapsiagaan wabah, kesinambungan perawatan pasien kronis, dan pertukaran rekam medis lintas batas tidak dapat diserahkan kepada pasar. Laporan ini menilai skenario pertama paling mungkin hingga 2027, skenario kedua paling mungkin sesudahnya bila kebijakan sumber daya manusia konsisten, dan skenario ketiga sebagai risiko berpeluang rendah tetapi berdampak tinggi yang perlu diantisipasi sekarang.

    Dari analisis ini lahir delapan rekomendasi. Pertama, Kementerian Kesehatan bersama Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Imigrasi perlu menerbitkan statistik tahunan resmi mobilitas pasien ke luar negeri dengan metodologi terbuka, membedakan orang dari kunjungan dan belanja medis dari belanja perjalanan, serta menukar data dengan MHTC melalui memorandum yang sudah ada. Kedua, Kementerian Kesehatan perlu menetapkan standar waktu tunggu dan waktu konsultasi minimum yang dipublikasikan untuk rumah sakit rujukan provinsi, mulai dari RSUD dr. Zainoel Abidin di Banda Aceh dan RSUP H. Adam Malik di Medan, karena kedua kota itu adalah pintu koridor Penang. Ketiga, Kementerian Keuangan perlu meninjau bea masuk dan pajak atas alat kesehatan dan obat yang tidak diproduksi di dalam negeri, sebagaimana telah dinegosiasikan Kemenkes, dengan evaluasi dampak terhadap harga layanan. Keempat, BPJS Kesehatan perlu mempercepat penilaian teknologi kesehatan untuk obat kanker dan prosedur yang paling sering dicari di luar negeri, khususnya kemoterapi dan transplantasi sumsum tulang, dan mempublikasikan alasan setiap penolakan.

    Kelima, pemerintah Aceh dan Sumatra Utara perlu memperlakukan koridor Penang sebagai kenyataan kebijakan, bukan aib, dengan membangun mekanisme rujukan balik terstruktur bagi pasien yang menjalani perawatan di Malaysia, termasuk tindak lanjut kemoterapi dan rehabilitasi di rumah sakit daerah, sehingga hubungan kelembagaan seperti yang pernah terjalin antara KPJ Penang dan rumah sakit Banda Aceh menjadi jalur alih pengetahuan, bukan hanya jalur rujukan keluar. Keenam, rumah sakit pendidikan dan kolegium perlu menjadikan komunikasi klinis dan pengambilan keputusan bersama sebagai kompetensi yang diuji, bukan sekadar materi kuliah, sejalan dengan penekanan esai kba13.com tentang ilmu kedokteran pada anamnesis, penyampaian kabar buruk, dan kepercayaan pasien. Ketujuh, Kementerian Kesehatan perlu menyederhanakan program adaptasi dokter spesialis diaspora dan menargetkannya secara aktif, belajar dari peringatan tahun 2014 bahwa negara yang tidak siap menampung lulusannya akan kehilangan mereka. Kedelapan, kebijakan kesehatan harus kembali ke pencegahan: pada tahun 2015, Handrawan Nadesul dalam harian Kompas yang berjudul “Kesehatan Sejati Ada di Dapur, Bukan di Restoran” (Arsip & Pustaka KBA13) mengingatkan bahwa banyak penyakit metabolik dan kanker berakar pada pola makan dan bahan pangan yang tidak aman. Mengingat 65,7 persen layanan yang dicari di luar negeri adalah pemeriksaan kesehatan, layanan skrining yang tepercaya, cepat, dan terjangkau di dalam negeri adalah intervensi paling langsung untuk menahan bagian terbesar arus pasien.

    XIII

    Keterbatasan Kajian

    Kajian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, tidak tersedia statistik resmi Indonesia tentang jumlah warga yang berobat ke luar negeri; angka yang dipakai berasal dari pidato pejabat tanpa rujukan data, dari survei rumah tangga yang kemungkinan tidak menjangkau kelompok kaya, dan dari data penyedia layanan Malaysia yang menghitung kunjungan, bukan orang. Kedua, data Singapura tentang pasien Indonesia tidak dipublikasikan secara rinci, sehingga perkiraan pasar Singapura bertumpu pada laporan analis dan media bisnis. Ketiga, angka Penang mengandung ketidakkonsistenan internal, seperti klaim pangsa 45 persen yang tidak sesuai dengan pembagian pendapatan Penang terhadap pendapatan nasional. Keempat, kajian ini tidak melakukan wawancara lapangan baru dengan pasien di Penang atau Banda Aceh dan bergantung pada kajian kualitatif terdahulu, terutama studi Kuching tahun 2014 dan survei tahun 2021, serta catatan lapangan dalam esai kba13.com tentang migrasi orang Aceh ke Penang. Kelima, kajian ini tidak dapat memverifikasi sejumlah angka yang beredar di media, termasuk klaim persentase pasien Indonesia di rumah sakit tertentu yang berasal dari kesaksian pribadi tokoh publik di media sosial, sehingga angka-angka itu tidak digunakan.

    Keterbatasan lain menyangkut mutu klinis. Laporan ini membahas persepsi salah diagnosis dan keunggulan kecepatan layanan di luar negeri, tetapi tidak memiliki data hasil klinis yang membandingkan, misalnya, kelangsungan hidup pasien kanker Indonesia yang dirawat di Penang dengan yang dirawat di Jakarta atau Medan. Tanpa data semacam itu, klaim bahwa layanan luar negeri lebih baik tetap merupakan klaim tentang pengalaman dan persepsi, bukan tentang hasil pengobatan. Kajian lanjutan sebaiknya memadukan data registri kanker, survei pasien di bandara Kualanamu, Sultan Iskandar Muda, dan Penang, serta wawancara dengan dokter di kedua sisi selat. Penelitian semacam itu dapat menjadi agenda bersama universitas di Aceh, Sumatra Utara, dan Penang, yang secara historis terhubung oleh jaringan yang sama dengan jaringan yang kini membawa pasien.

    XIV

    Kesimpulan: Dari Devisa ke Kepercayaan

    Selat Malaka telah berabad-abad menjadi ruang hidup bersama bagi orang Aceh, Melayu, dan Sumatra, dan arus pasien hari ini berjalan di atas jalur yang sama dengan jalur pedagang, perantau, dan jemaah haji di Lebuh Aceh. Malaysia, dengan disiplin negara yang memasarkan jasa kesehatannya, telah mengubah jalur budaya itu menjadi industri yang pada 2025 mencatat lebih dari 970.000 kunjungan pasien Indonesia. Singapura bergeser ke ceruk kasus kompleks, dan IHH Healthcare kini menguasai simpul-simpul utama di kedua negara. Indonesia menjawab dengan angka devisa yang tidak konsisten, kawasan ekonomi khusus yang menyasar pasar premium, dan pelonggaran dokter asing, sambil mengakui, melalui menteri kesehatannya sendiri, bahwa antrean, layanan nonmedis, dan kehadiran dokter adalah inti persoalannya.

    Laporan ini menyimpulkan bahwa pertanyaan kebijakan yang tepat bukan bagaimana menahan devisa, melainkan bagaimana memulihkan kepercayaan. Pasien yang menyeberang telah memberi tahu negara, dengan biaya dan tenaga mereka sendiri, di mana sistem kesehatan Indonesia gagal: waktu, kepastian, komunikasi, dan kelengkapan layanan. Jika Indonesia mendengar pesan itu, memperbaiki rumah sakit rujukan di Banda Aceh, Medan, dan kota-kota lain, menambah dan menyebarkan dokter, serta menjadikan pemeriksaan kesehatan dan pendapat kedua yang tepercaya tersedia di dalam negeri, maka arus pasien akan menyusut dengan sendirinya, dan Penang akan kembali menjadi tetangga, bukan rumah sakit rujukan tak resmi bagi Sumatra. Jika tidak, setiap peresmian rumah sakit baru akan terus dibayangi angka kunjungan yang setiap tahun dilaporkan dengan bangga oleh negara tetangga.

    ◆

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    Literatur ilmiah

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    Media dan pemberitaan

    Arsip & Pustaka

    Cara Mengutip

    Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. (2026). Pasien yang Menyeberang: Wisata Medis, Devisa Kesehatan, dan Reformasi Sistem Kesehatan Indonesia di Hadapan Malaysia dan Singapura. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/pasien-menyeberang-wisata-medis-indonesia-malaysia-singapura/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh; pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy. Meraih PhD Sosiologi dari La Trobe University.

    Kajian lainnya di Research Center → ↑ Kembali ke atas