Tag: kamus data

  • Peta Kecondongan Asia Tenggara: Dataset Pilihan Elite antara Amerika Serikat dan Tiongkok 2020–2026

    Peta Kecondongan Asia Tenggara: Dataset Pilihan Elite antara Amerika Serikat dan Tiongkok 2020–2026

    Dataset · Geopolitik

    Peta Kecondongan Asia TenggaraDataset Pilihan Elite antara Amerika Serikat dan Tiongkok 2020–2026: Struktur, Kamus Data, dan Batas Tafsir

    Tujuh edisi survei ISEAS dihimpun menjadi dataset terdokumentasi: rata-rata regional, tabel per negara, indikator kepercayaan, kamus data, dan berkas CSV, lengkap dengan uji konsistensi dan peringatan tentang cara membacanya.

    Penulis: Kamaruzzaman Bustamam AhmadJenis: DatasetTanggal: 25 Oktober 2026± 30 menit baca
    Daftar Isi
    1. I. Ringkasan Eksekutif: Pertanyaan, Temuan, dan Mengapa Penting
    2. II. Kerangka Analitis dan Catatan Metode
    3. III. Sumber Data, Cakupan, dan Konstruksi Dataset
    4. IV. Tabel Inti 1: Lintasan Regional 2020–2026
    5. V. Tabel Inti 2: Kecondongan per Negara 2023–2026
    6. VI. Tabel Pendukung: Pengaruh, Kepercayaan, dan Kekhawatiran 2026
    7. VII. Kamus Data dan Panduan Penggunaan
    8. VIII. Perbandingan Internasional: Pew 2025, Afrobarometer 2026, dan Pelajaran Lintas Kawasan
    9. IX. Argumen Tandingan: “Survei Elite Bukan Barometer Geopolitik”
    10. X. Skenario dan Penanda Arah 2027–2029
    11. XI. Rekomendasi bagi Pengguna Data dan Pembuat Kebijakan
    12. XII. Keterbatasan dan Kesimpulan
    Peta Kecondongan Asia Tenggara
    Rata-rata regional menyembunyikan polarisasi: Indonesia 80,1% memilih Tiongkok, Filipina 76,8% memilih AS (2026).

    Abstrak

    Kajian data ini menyusun dataset terdokumentasi tentang pilihan elite Asia Tenggara antara Amerika Serikat dan Tiongkok berdasarkan tujuh edisi survei The State of Southeast Asia (ISEAS–Yusof Ishak Institute) tahun 2020–2026. Dataset memuat rata-rata regional tujuh tahun, proporsi per negara 2023–2026, indikator pengaruh, kepercayaan, dan kekhawatiran 2026, kamus data, serta berkas CSV. Setiap nilai diberi kode status (dilaporkan, diturunkan, tidak tersedia) dan diuji terhadap rata-rata resmi; uji untuk 2025 dan 2026 cocok sepenuhnya. Temuan utama menunjukkan sikap elite yang volatil, polarisasi tajam menurut geografi ancaman, dan kecondongan pragmatis ke Tiongkok pada 2026 yang tidak disertai kepercayaan. Latihan pembobotan populasi memperlihatkan betapa sensitif headline regional terhadap pilihan metode dan betapa menentukan sikap elite Indonesia. Kajian membandingkan data dengan Pew 2025 dan Afrobarometer 2026, menguji argumen tandingan tentang keabsahan survei elite, serta menyajikan skenario, rekomendasi, dan panduan penggunaan.

    TesisAsia Tenggara tidak sedang memilih blok; elite kawasan melakukan lindung nilai, dan pergeseran 2026 lebih merupakan kecemasan terhadap Washington daripada kepercayaan kepada Beijing.
    DataRata-rata regional 2020–2026, tabel per negara 2023–2026, indikator kepercayaan dan kekhawatiran 2026, CSV.
    KerangkaTeori lindung nilai, opini elite vs perilaku negara, aturan kode L/D/n.a. dan uji konsistensi.
    ProyeksiTiga skenario 2027–2029, penanda arah, dan panduan pemakaian ulang data.
    Kata kunciISEASopini eliterivalitas AS–Tiongkoklindung nilaiASEANdatasetkamus dataIndonesia
    I

    Ringkasan Eksekutif: Pertanyaan, Temuan, dan Mengapa Penting

    Kajian data ini menjawab pertanyaan yang terus diperdebatkan di ibu kota-ibu kota dunia: ke arah mana elite Asia Tenggara condong ketika dihadapkan pada pilihan hipotetis antara Amerika Serikat dan Tiongkok, dan seberapa jauh angka-angka survei itu dapat dipercaya sebagai petunjuk arah geopolitik kawasan? Untuk itu, kajian ini menyusun dataset terdokumentasi dari tujuh edisi survei tahunan The State of Southeast Asia yang diterbitkan ISEAS–Yusof Ishak Institute di Singapura, mencakup periode 2020 sampai 2026, lengkap dengan tabel per negara, indikator pendukung tentang pengaruh dan kepercayaan, kamus data, aturan konstruksi, serta catatan tentang nilai yang diturunkan. Dataset ini dirancang agar dapat dipakai ulang oleh peneliti, pengajar, dan analis kebijakan, sekaligus agar keterbatasannya terlihat jelas.

    Temuan pokok dapat diringkas dalam tiga penilaian. Pertama, dengan keyakinan tinggi, kecondongan elite kawasan bersifat volatil, bukan tren linear: proporsi responden yang memilih Amerika Serikat naik dari 53,6 persen pada 2020 ke 61,5 persen pada 2021, turun ke 49,5 persen pada 2024, naik lagi ke 52,3 persen pada 2025, lalu turun ke 48,0 persen pada 2026, ketika Tiongkok dipilih oleh 52,0 persen responden. Kedua, dengan keyakinan tinggi, rata-rata regional menyembunyikan polarisasi yang tajam dan semakin dalam: pada 2026 Indonesia mencatat 80,1 persen responden memilih Tiongkok, sementara Filipina mencatat 76,8 persen memilih Amerika Serikat. Ketiga, dengan keyakinan sedang, pergeseran 2026 lebih banyak didorong oleh kekhawatiran terhadap kebijakan Amerika Serikat daripada oleh meningkatnya kepercayaan terhadap Tiongkok, karena pada tahun yang sama Tiongkok hanya dipercaya oleh 39,8 persen responden, lebih rendah daripada Jepang, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.

    Mengapa ini penting secara global? Asia Tenggara adalah kawasan dengan sekitar 690 juta penduduk, jalur laut yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, serta rantai pasok manufaktur yang semakin penting setelah diversifikasi produksi dari Tiongkok. Persepsi elite kawasan, yang mencakup pejabat pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan aktivis masyarakat sipil, membentuk ruang gerak kebijakan luar negeri negara-negara ASEAN. Bila persepsi itu bergeser, pilihan tentang investasi, kerja sama pertahanan, dan keanggotaan dalam blok-blok baru juga ikut bergeser. Keputusan Indonesia menjadi anggota penuh BRICS, yang diumumkan Brasil pada 6 Januari 2025 sebagaimana tercatat di laman resmi kepresidenan BRICS Brasil, adalah contoh bagaimana suasana elite dan langkah diplomatik saling berkelindan.

    Namun kajian ini juga memperingatkan agar angka survei tidak dibaca secara naif. Pertanyaan tentang pilihan “jika ASEAN dipaksa memilih” adalah pertanyaan hipotetis tentang perilaku kolektif yang hampir mustahil terjadi; responden adalah elite yang dipilih secara purposif, bukan sampel acak penduduk; dan rata-rata regional memberi bobot yang sama kepada Brunei dan Indonesia, padahal populasinya berbeda ratusan kali lipat. Bagian-bagian berikut menjelaskan bagaimana dataset disusun, apa yang ditunjukkannya, bagaimana membandingkannya dengan survei global lain, dan bagaimana memakainya secara bertanggung jawab. Seluruh angka disertai sumber terbuka yang dapat diperiksa.

    II

    Kerangka Analitis dan Catatan Metode

    Kerangka analitis kajian ini bertumpu pada teori lindung nilai (hedging) dalam hubungan internasional Asia Tenggara. Kuik Cheng-Chwee, dalam artikelnya di Contemporary Southeast Asia tahun 2008, “The Essence of Hedging: Malaysia and Indonesia’s Response to a Rising China”, mendefinisikan lindung nilai sebagai perilaku negara kecil dan menengah yang menjalankan kebijakan yang tampak kontradiktif terhadap dua kekuatan besar sekaligus, untuk menyiapkan jalan mundur bila keadaan berubah. Menurut Kuik, lindung nilai paling mungkin terjadi ketika ancaman tidak segera dan tidak jelas, serta ketika sumber dukungan vital tidak pasti; di tingkat domestik, ia juga berfungsi sebagai strategi legitimasi elite penguasa. Kerangka ini penting untuk membaca data survei karena ia memprediksi bahwa kecondongan elite akan berfluktuasi mengikuti peristiwa, bukan mengeras menjadi blok permanen.

    Kerangka kedua berasal dari literatur opini elite dan kebijakan luar negeri, yang membedakan antara preferensi yang dinyatakan dalam survei dan perilaku negara yang dapat diamati. Preferensi elite adalah indikator suasana, bukan prediktor kebijakan. Hubungan keduanya dimediasi oleh struktur ekonomi, ikatan keamanan, kalkulasi politik domestik, dan kepemimpinan individual. Dataset ini karena itu diperlakukan sebagai sensor sikap yang dapat dibandingkan dengan indikator perilaku, misalnya keanggotaan dalam forum, kerja sama militer, atau kebijakan perdagangan. Kesenjangan antara sikap dan perilaku justru menjadi bahan analisis yang berharga.

    Catatan metode perlu dirinci. Sumber utama adalah laporan survei ISEAS edisi 2026, yang dapat diakses penuh di situs ISEAS, serta edisi-edisi sebelumnya sebagaimana dilaporkan oleh media dan lembaga kajian yang mengutipnya secara langsung. Survei 2026 dijalankan secara daring pada 5 Januari sampai 20 Februari 2026 dengan 2.008 responden dari sebelas negara anggota ASEAN, termasuk Timor-Leste. Komposisi responden menurut afiliasi adalah sektor swasta 42,9 persen, pemerintah 21,1 persen, akademisi dan lembaga riset 19,5 persen, masyarakat sipil, LSM, dan media 11,2 persen, serta organisasi regional atau internasional 5,3 persen. Survei 2025 dijalankan pada 3 Januari sampai 15 Februari 2025 dengan 2.023 responden, menurut ringkasan Manohar Parrikar Institute for Defence Studies and Analyses.

    Prosedur kompilasi mengikuti empat aturan. Aturan pertama: angka yang dilaporkan langsung oleh ISEAS atau dikutip tanpa perubahan oleh sumber sekunder bereputasi diberi kode L (dilaporkan). Aturan kedua: angka yang dihitung dari angka lain, misalnya proporsi pemilih Tiongkok yang diturunkan dari 100 dikurangi proporsi pemilih Amerika Serikat, diberi kode D (diturunkan), dan perhitungannya dijelaskan. Aturan ketiga: angka yang tidak dapat diverifikasi dibiarkan kosong dengan kode n.a., bukan diisi dengan perkiraan. Aturan keempat: setiap nilai diuji konsistensinya terhadap rata-rata regional yang dipublikasikan; bila rata-rata hasil perhitungan dari nilai per negara cocok dengan rata-rata resmi, keyakinan terhadap nilai per negara meningkat. Untuk 2025 dan 2026, uji ini berhasil: rata-rata sepuluh negara hasil hitung ulang adalah 47,7 persen pada 2025 dan 51,4 persen pada 2026, persis sama dengan angka yang dilaporkan.

    Uji konsistensi itu juga memungkinkan satu nilai diturunkan secara aljabar. Laporan media menyebut hasil Laos 2026 sebagai “hampir seimbang” tanpa angka pasti. Karena rata-rata sepuluh negara 2026 adalah 51,4 persen dan sembilan nilai lain diketahui, nilai Laos dapat diturunkan sebesar sekitar 49,5 persen untuk Tiongkok. Nilai ini diberi kode D dan keyakinan sedang, karena bergantung pada pembulatan angka lain. Di luar prosedur kuantitatif, kajian ini memakai pembacaan kualitatif terhadap konteks peristiwa tiap tahun untuk menafsirkan pergeseran, dengan label keyakinan yang eksplisit untuk setiap tafsir.

    III

    Sumber Data, Cakupan, dan Konstruksi Dataset

    Survei The State of Southeast Asia adalah instrumen opini elite paling konsisten di kawasan dan telah menjadi rujukan standar bagi pemerintah, lembaga kajian, dan media internasional. Kekuatannya terletak pada kontinuitas pertanyaan, cakupan seluruh negara anggota ASEAN, dan publikasi terbuka. Pertanyaan inti yang menjadi tulang punggung dataset ini berbunyi kurang lebih: jika ASEAN dipaksa menyelaraskan diri dengan salah satu rival strategis, mana yang harus dipilih? Responden hanya diberi dua pilihan, Amerika Serikat atau Tiongkok, sehingga hasilnya selalu berjumlah seratus persen. Desain biner ini memudahkan perbandingan antartahun, tetapi juga memaksa responden yang sebenarnya memilih netralitas untuk menyatakan kecondongan.

    Dataset terdiri atas empat tabel. Tabel 1 memuat rata-rata regional pilihan biner untuk tujuh tahun, 2020 sampai 2026. Tabel 2 memuat proporsi pemilih Tiongkok per negara untuk empat tahun terakhir, 2023 sampai 2026, yang merupakan rentang dengan data per negara paling lengkap dalam sumber terbuka yang dapat diverifikasi. Tabel 3 memuat indikator pendukung 2026: persepsi kekuatan ekonomi dan politik-strategis paling berpengaruh, tingkat kepercayaan terhadap kekuatan besar, serta dua indikator kekhawatiran per negara. Tabel 4 adalah kamus data yang mendefinisikan setiap variabel, satuan, kode sumber, dan catatan penggunaan. Sebuah berkas CSV yang memuat Tabel 2 disediakan untuk diunduh dan dipakai dalam perangkat analisis statistik.

    Data per negara untuk 2023 dan 2024 berasal dari analisis David Hutt untuk Radio Free Asia pada 20 April 2024 dan laporan Radio Free Asia pada 3 April 2024, yang melaporkan proporsi pemilih Amerika Serikat; proporsi pemilih Tiongkok diturunkan dengan pengurangan. Data per negara 2025 berasal dari ringkasan Temjenmeren Ao untuk MP-IDSA pada 2 Mei 2025. Data per negara 2026 berasal dari laporan Thairath dan The Thaiger pada 7 April 2026, yang dikonfirmasi silang dengan perubahan poin persentase yang dilaporkan Sinic Analytica, yakni kenaikan Singapura 19,2 poin, Vietnam 14,3 poin, Filipina 9,6 poin, dan Indonesia 7,9 poin. Keempat perubahan itu cocok dengan selisih antara nilai 2025 dan 2026 dalam dataset, sehingga keyakinan terhadap kedua seri tinggi.

    Rata-rata regional diambil dari sumber berikut: angka 2020 dan 2021 dari laporan CNBC pada 16 Februari 2021; angka 2022 dari tulisan Terence Chong di Fulcrum pada 16 Februari 2022; angka 2023 dan 2024 dari Radio Free Asia; angka 2025 dan 2026 dari South China Morning Post pada 7 April 2026 dan laporan ISEAS 2026. Untuk 2026, kajian ini mencatat dua angka: rata-rata sebelas negara (52,0 persen Tiongkok) dan rata-rata sepuluh negara tanpa Timor-Leste (51,4 persen), agar perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya tetap setara.

    Pilihan untuk tidak memasukkan data per negara 2020 sampai 2022 bersifat disengaja. Sumber terbuka yang dapat diverifikasi untuk periode itu hanya memberi gambaran parsial, misalnya bahwa pada 2021 mayoritas responden di tujuh negara memilih Amerika Serikat dan bahwa Kamboja, Indonesia, Malaysia, serta Thailand berpindah sisi dibandingkan 2020. Mengisi tabel dengan angka yang tidak dapat diperiksa akan bertentangan dengan prinsip transparansi dataset. Pengguna yang membutuhkan seri lengkap dianjurkan merujuk langsung ke laporan tahunan ISEAS edisi terkait.

    IV

    Tabel Inti 1: Lintasan Regional 2020–2026

    Tabel 1. Pilihan biner elite ASEAN jika “dipaksa memilih”, rata-rata regional (%)
    TahunAmerika SerikatTiongkokUnggulKodeSumber
    202053,646,4ASL/DCNBC 2021
    202161,538,5ASL/DCNBC 2021
    202257,043,0ASLFulcrum 2022
    202361,138,9ASLRFA 2024
    202449,550,5TiongkokLRFA 2024
    202552,347,7ASLMP-IDSA 2025
    2026 (ASEAN-11)48,052,0TiongkokLISEAS 2026
    2026 (ASEAN-10)48,651,4TiongkokLSinic Analytica 2026

    Kode L: dilaporkan langsung; D: diturunkan dengan pengurangan dari 100. Angka 2020–2021 untuk Tiongkok diturunkan dari proporsi pemilih AS yang dilaporkan.

    Tabel 1 memperlihatkan pola gelombang, bukan garis. Tiga fase dapat dibedakan. Fase pertama, 2020 sampai 2023, ditandai keunggulan Amerika Serikat dengan puncak 61,5 persen pada 2021 dan 61,1 persen pada 2023. Puncak 2021 bertepatan dengan awal pemerintahan Joe Biden dan janji pemulihan keterlibatan multilateral setelah periode pertama Donald Trump, sedangkan kekecewaan atas penanganan pandemi oleh Tiongkok kemungkinan memperkuat kecondongan tersebut. Penurunan pada 2022 ke 57,0 persen terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi pascapandemi, ketika peran Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar kawasan kembali menonjol. Tafsir ini diberi keyakinan sedang karena survei tidak mengukur sebab secara langsung.

    Fase kedua adalah pembalikan pada 2024, ketika Tiongkok unggul tipis dengan 50,5 persen. Survei 2024 dijalankan pada awal tahun, beberapa bulan setelah pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023. Analisis Hutt mencatat bahwa pergeseran terbesar terjadi di negara-negara mayoritas Muslim, yakni Malaysia, Indonesia, dan Brunei, ditambah Laos, dan mengaitkannya dengan kemarahan atas dukungan Amerika Serikat terhadap Israel. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan sedang hingga tinggi, adalah bahwa faktor Gaza merupakan pendorong utama pembalikan 2024, terutama di dunia Melayu, meski selisih regional yang hanya satu poin persentase berarti pergeseran itu setara dengan sekitar dua puluh responden saja.

    Fase ketiga adalah osilasi 2025 sampai 2026. Pada 2025 Amerika Serikat kembali unggul dengan 52,3 persen, didorong lonjakan di Filipina dan Vietnam, dua negara yang paling langsung berhadapan dengan Tiongkok di Laut Cina Selatan. Pada 2026, Tiongkok kembali unggul dengan 52,0 persen. Pergeseran 2026 menarik karena tidak didorong oleh negara-negara Muslim, melainkan oleh Singapura, Vietnam, Filipina, dan Indonesia secara bersamaan. Laporan ISEAS 2026 mencatat bahwa kekhawatiran geopolitik nomor satu responden adalah kepemimpinan Amerika Serikat di bawah Presiden Trump, dipilih oleh 51,9 persen responden, sedikit di atas operasi penipuan global sebesar 51,4 persen dan perilaku agresif di Laut Cina Selatan sebesar 48,2 persen. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan sedang, adalah bahwa pergeseran 2026 lebih merupakan penilaian negatif terhadap kebijakan Washington daripada penilaian positif terhadap Beijing.

    Implikasi metodologis dari Tabel 1 cukup tegas. Pertama, pengguna data tidak boleh memperlakukan satu tahun sebagai titik balik struktural; perubahan arah yang terjadi empat kali dalam tujuh tahun menunjukkan bahwa sikap elite sangat responsif terhadap peristiwa. Kedua, selisih regional sering berada dalam kisaran beberapa poin persentase, sehingga headline media tentang kawasan yang “memilih Tiongkok” atau “memilih Amerika Serikat” cenderung melebih-lebihkan. Ketiga, pola gelombang ini konsisten dengan teori lindung nilai: elite menyesuaikan kecondongan terhadap risiko yang paling menonjol pada saat survei, tanpa mengunci diri pada satu pihak.

    V

    Tabel Inti 2: Kecondongan per Negara 2023–2026

    Tabel 2. Proporsi responden yang memilih Tiongkok, per negara (%)
    Negara2023202420252026Δ 2025→2026
    Brunei55,0 D70,1 D55,053,5−1,5
    Kambojan.a.n.a.43,039,0 D−4,0
    Indonesia53,7 D73,2 D72,280,1+7,9
    Laos41,1 D70,6 D51,0≈49,5 D≈−1,5
    Malaysia54,8 D75,1 D70,868,0−2,8
    Myanmarn.a.n.a.42,338,6 D−3,7
    Filipina21,2 D16,7 D13,623,2 D+9,6
    Singapura38,9 D38,5 D47,166,3+19,2
    Thailand43,1 D52,2 D55,655,0−0,6
    Vietnam22,1 D21,0 D26,540,8 D+14,3
    Timor-Leste40,958,2+17,3

    D: diturunkan dari 100 dikurangi proporsi pemilih AS yang dilaporkan, kecuali Laos 2024 (nilai 2023 ditambah pergeseran 29,5 poin yang dilaporkan RFA) dan Laos 2026 (diturunkan dari rata-rata ASEAN-10 sebesar 51,4%). Timor-Leste baru dimasukkan pada 2025. Sumber: RFA (2023–2024), MP-IDSA (2025), Thairath/The Thaiger/Sinic Analytica (2026).

    Tabel 2 mengungkap struktur yang tidak terlihat dalam rata-rata regional. Kawasan terbelah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah poros kecondongan ke Tiongkok yang stabil, terdiri atas Indonesia, Malaysia, dan Brunei, ditambah Thailand yang lebih moderat. Di ketiga negara Muslim itu, proporsi pemilih Tiongkok melonjak pada 2024 dan bertahan tinggi sejak itu; Indonesia bahkan mencapai titik tertinggi dalam dataset, 80,1 persen, pada 2026. Kelompok kedua adalah poros kecondongan ke Amerika Serikat yang stabil, yaitu Filipina dan Vietnam, dua negara dengan sengketa maritim paling tajam dengan Tiongkok. Kelompok ketiga adalah negara-negara berayun, yaitu Singapura, Laos, Kamboja, Myanmar, dan Timor-Leste, yang kecondongannya berubah cukup besar dari tahun ke tahun.

    Kasus Singapura paling mengejutkan dan paling penting untuk dicermati. Dari 38,5 persen pada 2024 dan 47,1 persen pada 2025, proporsi pemilih Tiongkok di kalangan responden Singapura melonjak menjadi 66,3 persen pada 2026, kenaikan 19,2 poin dalam setahun. Singapura adalah mitra keamanan dekat Amerika Serikat, dengan fasilitas yang dipakai Angkatan Laut Amerika Serikat, dan elitenya secara tradisional memandang kehadiran Amerika Serikat sebagai penyeimbang yang diperlukan. Survei 2026 juga mencatat bahwa 76,8 persen responden Singapura menyebut kepemimpinan Amerika Serikat di bawah Trump sebagai kekhawatiran geopolitik utama, tertinggi di antara sebelas negara. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan sedang, adalah bahwa lonjakan Singapura mencerminkan kecemasan negara dagang terbuka terhadap proteksionisme dan ketidakpastian kebijakan Washington, bukan pergeseran aliansi.

    Kasus Indonesia memerlukan pembacaan berlapis. Kecondongan ke Tiongkok yang sangat tinggi, 80,1 persen, berdampingan dengan fakta bahwa 51,7 persen responden Indonesia menempatkan perambahan Tiongkok di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen sebagai kekhawatiran utama mereka di Laut Cina Selatan, serta 67,8 persen menyebut kepemimpinan Amerika Serikat di bawah Trump sebagai kekhawatiran geopolitik utama. Artinya, elite Indonesia tidak naif terhadap Tiongkok; mereka mencatat ancaman maritim, tetapi menilai risiko dari Washington lebih menonjol. Kombinasi solidaritas atas Gaza, ketergantungan ekonomi pada Tiongkok, dan tradisi politik luar negeri bebas aktif menjelaskan pola ini, dengan keyakinan sedang. Langkah Indonesia bergabung dengan BRICS pada awal 2025 konsisten dengan suasana elite tersebut, meski pemerintah Indonesia sendiri menegaskan bahwa keanggotaan itu tidak berarti meninggalkan kemitraan dengan Barat.

    Kasus Filipina dan Vietnam memperlihatkan bahwa geografi ancaman tetap menentukan. Meski proporsi pemilih Tiongkok naik di kedua negara pada 2026, mayoritas tetap memilih Amerika Serikat: 76,8 persen di Filipina dan 59,2 persen di Vietnam. Perlu dicatat bahwa Vietnam, negara komunis dengan hubungan partai yang erat dengan Partai Komunis Tiongkok, secara konsisten menjadi salah satu negara paling pro-Amerika Serikat dalam survei ini, sebuah bukti bahwa ideologi politik bukan penentu utama kecondongan elite. Sebaliknya, kedekatan geografis dengan sumber ancaman dan pengalaman sengketa langsung jauh lebih menentukan.

    Kelompok negara berayun memberi pelajaran tersendiri tentang sensitivitas data. Laos memperlihatkan ayunan paling liar: dari sekitar 80 persen pemilih Tiongkok pada 2021 dan 2022 menurut catatan Hutt, turun ke 41,1 persen pada 2023, melonjak ke sekitar 70,6 persen pada 2024, lalu kembali ke sekitar 51 persen pada 2025 dan hampir seimbang pada 2026. Negara yang secara ekonomi sangat dekat dengan Tiongkok ternyata tidak menghasilkan kecondongan elite yang stabil. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan rendah hingga sedang, adalah bahwa ayunan Laos sebagian mencerminkan ukuran sampel yang kecil dan perubahan komposisi responden, dan sebagian lagi mencerminkan ambivalensi nyata elite terhadap ketergantungan. Kamboja dan Myanmar, yang sering dianggap berada di orbit Tiongkok, justru mencatat mayoritas pemilih Amerika Serikat pada 2025 dan 2026, masing-masing 61,0 dan 61,4 persen pada 2026. Untuk Myanmar, pola ini masuk akal mengingat responden elite cenderung berasal dari kalangan yang kritis terhadap junta militer, yang menjalin hubungan erat dengan Beijing. Untuk Kamboja, angka itu mengingatkan bahwa sikap elite dapat berbeda tajam dari orientasi pemerintah, sebuah kesenjangan yang justru bernilai bagi analis.

    Timor-Leste, anggota termuda ASEAN, menambah dimensi baru. Proporsi pemilih Tiongkok naik dari 40,9 persen pada 2025 menjadi 58,2 persen pada 2026, kenaikan 17,3 poin. Dengan jumlah responden yang hanya sekitar 3,3 persen dari total sampel, atau kira-kira 66 orang, angka ini harus dibaca dengan sangat hati-hati. Namun arah pergeserannya sejalan dengan negara-negara lain yang mencatat kecemasan terhadap kebijakan Amerika Serikat. Bagi pengguna dataset, masuknya Timor-Leste juga menjadi pengingat praktis bahwa rata-rata regional 2026 tidak sepenuhnya dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sehingga seri sepuluh negara perlu dipertahankan sebagai acuan utama.

    Dataset ini juga memungkinkan latihan pembobotan yang mengungkap distorsi rata-rata regional. Dengan memakai perkiraan populasi 2024 yang dibulatkan berdasarkan Indikator Pembangunan Dunia Bank Dunia, rata-rata yang dibobot menurut populasi untuk 2026 menghasilkan sekitar 56,9 persen pemilih Tiongkok, lebih tinggi daripada rata-rata sederhana 52,0 persen. Untuk 2025, ketika rata-rata sederhana menunjukkan keunggulan Amerika Serikat, rata-rata berbobot justru menghasilkan sekitar 50,4 persen untuk Tiongkok. Bila Indonesia dikeluarkan, rata-rata berbobot 2026 turun menjadi sekitar 40,9 persen. Latihan ini bersifat ilustratif, karena responden adalah elite dan bukan sampel penduduk, tetapi ia menunjukkan dengan keyakinan tinggi bahwa headline regional sangat sensitif terhadap pilihan pembobotan, dan bahwa sikap elite Indonesia menjadi variabel paling menentukan bagi gambaran kawasan.

    VI

    Tabel Pendukung: Pengaruh, Kepercayaan, dan Kekhawatiran 2026

    Tabel 3a. Indikator pendukung tingkat ASEAN, 2026 (%)
    IndikatorTiongkokASJepangUEIndiaASEAN
    Kekuatan ekonomi paling berpengaruh55,915,37,13,01,513,2
    Kekuatan politik-strategis paling berpengaruh40,0n.a.n.a.n.a.n.a.n.a.
    Tingkat kepercayaan39,844,065,655,938,5

    Sumber: ISEAS 2026; Databoks Katadata untuk rincian pengaruh ekonomi. Kepercayaan terhadap AS: 42,4% (2024), 47,2% (2025), 44,0% (2026).

    Tabel 3b. Dua indikator kekhawatiran per negara, 2026 (%)
    NegaraKepemimpinan AS di bawah Trump sebagai kekhawatiran geopolitik utamaPerambahan Tiongkok di ZEE/landas kontinen sebagai kekhawatiran utama Laut Cina Selatan
    Brunei51,664,5
    Kamboja43,547,5
    Indonesia67,851,7
    Laos52,954,8
    Malaysia51,552,1
    Myanmar38,154,5
    Filipina43,164,5
    Singapura76,835,8
    Thailand56,142,7
    Timor-Leste44,834,3
    Vietnam44,666,3

    Tabel 3a memperlihatkan paradoks sentral geopolitik Asia Tenggara. Tiongkok diakui secara luas sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh, dipilih 55,9 persen responden, hampir empat kali lipat Amerika Serikat yang hanya 15,3 persen. Tiongkok juga dipandang sebagai kekuatan politik-strategis paling berpengaruh oleh 40,0 persen responden. Namun dalam hal kepercayaan, Tiongkok hanya berada di urutan keempat dengan 39,8 persen, di bawah Jepang (65,6 persen), Uni Eropa (55,9 persen), dan Amerika Serikat (44,0 persen). Ringkasan Sinic Analytica mencatat bahwa di antara responden yang menyebut Tiongkok sebagai kekuatan paling berpengaruh, 55,4 persen khawatir terhadap pengaruh ekonominya dan 66,1 persen khawatir terhadap pengaruh politik-strategisnya.

    Paradoks ini memperkuat penafsiran berbasis lindung nilai. Elite kawasan memilih Tiongkok dalam pertanyaan biner bukan karena percaya, melainkan karena menilai ketergantungan ekonomi sebagai kenyataan yang tidak dapat diabaikan dan karena kecewa terhadap alternatifnya. Kepercayaan yang jauh lebih tinggi terhadap Jepang dan Uni Eropa menunjukkan adanya permintaan akan mitra ketiga yang dapat mengurangi tekanan pilihan biner. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan tinggi, adalah bahwa pertanyaan “dipaksa memilih” mengukur penilaian relatif terhadap dua pilihan yang sama-sama tidak sepenuhnya disukai, bukan dukungan positif terhadap salah satunya.

    Tabel 3b memperlihatkan bahwa kekhawatiran elite tidak satu arah. Di Singapura, kekhawatiran terhadap kepemimpinan Amerika Serikat mencapai 76,8 persen, sementara kekhawatiran tentang perambahan maritim Tiongkok hanya 35,8 persen, terendah kedua di kawasan. Di Vietnam dan Filipina, pola terbalik: kekhawatiran terhadap perambahan Tiongkok tinggi, masing-masing 66,3 persen dan 64,5 persen, sementara kekhawatiran terhadap kepemimpinan Amerika Serikat lebih rendah. Indonesia menempati posisi unik dengan kedua kekhawatiran berada di atas lima puluh persen, yang mencerminkan dilema negara kepulauan terbesar di kawasan: terancam di laut oleh Tiongkok, tetapi juga tidak nyaman dengan arah kebijakan Amerika Serikat.

    Data pendukung lain dari survei 2026 juga relevan bagi pengguna dataset. Tantangan regional paling dikhawatirkan adalah perubahan iklim dan cuaca ekstrem (60,0 persen), ketegangan ekonomi antarkekuatan besar (51,7 persen), dan ketidakstabilan politik domestik (46,1 persen). Lebih dari 55,6 persen responden memperkirakan hubungan negara mereka dengan Tiongkok akan membaik dalam tiga tahun ke depan, menurut The Thaiger. Kombinasi angka-angka ini memberi konteks penting: elite kawasan tidak sedang memilih blok, melainkan mencari stabilitas di tengah ketidakpastian yang bersumber dari banyak arah.

    VII

    Kamus Data dan Panduan Penggunaan

    Tabel 4. Kamus data
    VariabelDefinisiSatuan/JenisCakupanCatatan
    countryNegara asal respondenTeks (nama negara)11 negara ASEANTimor-Leste mulai 2025
    yearTahun edisi survei (bukan tahun publikasi data mentah)Bilangan bulat2020–2026Survei dijalankan Januari–Februari
    align_chinaProporsi responden yang memilih Tiongkok bila ASEAN “dipaksa memilih”Persen (0–100)Per negara 2023–2026; regional 2020–2026align_us = 100 − align_china
    align_usProporsi responden yang memilih Amerika SerikatPersen (0–100)Sama dengan di atasDesain biner, tanpa opsi netral
    source_codeStatus nilaiKategori: L, D, n.a.Semua nilaiL = dilaporkan; D = diturunkan; n.a. = tidak tersedia
    econ_influenceKekuatan yang dinilai paling berpengaruh secara ekonomiPersen per kekuatanASEAN 2026Pilihan tunggal
    trustProporsi yang “yakin” atau “sangat yakin” kekuatan tersebut akan “berbuat benar”PersenASEAN 2026; AS 2024–2026Rumusan mengikuti laporan ISEAS
    concern_us_trumpProporsi yang memilih kepemimpinan AS di bawah Trump sebagai kekhawatiran geopolitik utamaPersenPer negara 2026Pertanyaan pilihan ganda (Q8)
    concern_scs_eezProporsi yang menempatkan perambahan Tiongkok di ZEE/landas kontinen sebagai kekhawatiran utama Laut Cina SelatanPersenPer negara 2026Pertanyaan pilihan ganda (Q10)

    Untuk memudahkan pemakaian ulang, Tabel 2 disediakan dalam format CSV yang dapat diunduh langsung dari halaman ini. Berkas itu memuat lima kolom, yaitu negara, tahun, proporsi pemilih Tiongkok, proporsi pemilih Amerika Serikat, dan kode status nilai, dalam format panjang yang siap dipakai di R, Python, Stata, atau lembar kerja. Pengguna dianjurkan selalu menyertakan kolom kode status dalam analisis, sehingga nilai yang diturunkan dapat dibedakan atau diuji kepekaannya.

    Panduan penggunaan pertama menyangkut unit analisis. Data ini adalah agregat persepsi elite per negara per tahun, bukan data individu. Karena itu, analisis yang menyimpulkan perilaku individu dari data agregat, sebuah kekeliruan yang dikenal sebagai ecological fallacy, harus dihindari. Pernyataan seperti “warga Indonesia pro-Tiongkok” tidak dapat diturunkan dari dataset ini; pernyataan yang sah adalah “responden elite Indonesia dalam survei ISEAS 2026 condong memilih Tiongkok dalam pertanyaan biner hipotetis”.

    Panduan kedua menyangkut ukuran sampel per negara. Dengan 2.008 responden yang tersebar di sebelas negara, jumlah responden per negara berkisar dari sekitar 66 untuk Timor-Leste (3,3 persen) hingga sekitar 247 untuk Singapura (12,3 persen). Margin kesalahan teoretis untuk sampel sebesar itu, seandainya sampel acak, berkisar dari sekitar 6 hingga 12 poin persentase. Karena sampel bersifat purposif, margin kesalahan dalam arti statistik klasik tidak berlaku, tetapi angka itu memberi gambaran tentang ketidakpastian: perubahan per negara di bawah sekitar sepuluh poin sebaiknya tidak ditafsirkan sebagai pergeseran substantif tanpa dukungan bukti lain.

    Panduan ketiga menyangkut pembandingan antartahun. Komposisi responden menurut afiliasi dan negara berubah dari tahun ke tahun, dan Timor-Leste baru masuk pada 2025. Perbandingan regional harus memakai basis yang setara, misalnya rata-rata sepuluh negara, dan perubahan komposisi sektor perlu dicatat sebagai sumber variasi yang mungkin. Panduan keempat adalah pengutipan: pengguna dianjurkan mengutip laporan ISEAS asli sebagai sumber primer dan dataset ini sebagai kompilasi sekunder, dengan menyebut kode status nilai yang dipakai.

    VIII

    Perbandingan Internasional: Pew 2025, Afrobarometer 2026, dan Pelajaran Lintas Kawasan

    Data Asia Tenggara menjadi lebih bermakna ketika ditempatkan dalam konteks survei global. Pembanding pertama adalah survei sikap global Pew Research Center yang dijalankan pada 8 Januari sampai 26 April 2025 terhadap 28.333 orang dewasa di 24 negara di luar Amerika Serikat. Median pandangan positif terhadap Amerika Serikat adalah 49 persen, sedangkan terhadap Tiongkok 37 persen. Pew mencatat bahwa pandangan terhadap Amerika Serikat memburuk sementara pandangan terhadap Tiongkok membaik di banyak negara, dan secara khusus menyebut Indonesia sebagai salah satu negara tempat Tiongkok dinilai lebih baik daripada Amerika Serikat. Berbeda dengan ISEAS, Pew memakai sampel penduduk dewasa yang representatif secara nasional, sehingga kesesuaian arah antara kedua survei untuk Indonesia memberi validasi silang yang berharga: kecondongan elite Indonesia tampaknya tidak terpisah jauh dari sikap publiknya.

    Pembanding kedua adalah Afrika. Laporan African Insights 2026 dari Afrobarometer, sebagaimana diberitakan MyJoyOnline pada 6 Agustus 2026, mencakup 38 negara Afrika dan menemukan 62 persen responden menilai pengaruh Tiongkok positif, sementara penilaian positif terhadap Amerika Serikat turun dari 59 persen menjadi 53 persen di 30 negara. Temuan paling relevan bagi kajian ini adalah preferensi netralitas: mayoritas besar responden menolak memilih pihak dalam rivalitas kekuatan besar. Pola ini sejalan dengan teori lindung nilai dan menunjukkan bahwa sikap elite Asia Tenggara bukan anomali regional, melainkan bagian dari gejala global di dunia Selatan: penilaian yang semakin kritis terhadap Amerika Serikat, pengakuan pragmatis terhadap Tiongkok, dan keengganan kuat untuk terseret ke dalam blok.

    Pembanding ketiga adalah kasus Singapura, yang secara internal memperlihatkan bagaimana sikap elite dapat berbeda dari arsitektur keamanan negara. Buku tahun 2025 berjudul Intelligence as Statecraft: Singapore’s Strategic Transformation in the Indo-Pacific menguraikan bagaimana Singapura membangun kemitraan intelijen dengan Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan negara-negara lain sambil menjaga otonomi strategisnya. Dengan latar seperti itu, lonjakan kecondongan responden Singapura ke Tiongkok pada 2026 tidak dapat dibaca sebagai sinyal perubahan aliansi; ia lebih tepat dibaca sebagai indikator kecemasan elite tentang keandalan mitra utama. Kesenjangan antara sikap dan struktur ini menjadi pelajaran metodologis penting bagi pengguna dataset di mana pun.

    Literatur internasional juga mengingatkan tentang keterbatasan survei pilihan biner. Edisi Foreign Affairs Januari/Februari 2024 bertajuk “The Self-Doubting Superpower”, dengan esai sampul Fareed Zakaria, menggambarkan keraguan diri Amerika Serikat terhadap tatanan yang dibangunnya sendiri. Persepsi luar negeri terhadap Amerika Serikat, sebagaimana diukur oleh ISEAS, Pew, dan Afrobarometer, tampaknya mencerminkan keraguan diri itu: ketika Washington sendiri tampak ragu, mitra-mitranya menyesuaikan ekspektasi. Dalam konteks ini, angka 2026 di Asia Tenggara lebih tepat dipahami sebagai bagian dari penyesuaian global terhadap ketidakpastian kepemimpinan Amerika Serikat, ketimbang sebagai kemenangan diplomatik Tiongkok.

    Perbandingan lintas kawasan menghasilkan tiga pelajaran. Pertama, arah pergeseran sikap terhadap Amerika Serikat pada 2025 sampai 2026 konsisten di Asia Tenggara, Afrika, dan sampel global Pew, sehingga dapat dinilai dengan keyakinan tinggi sebagai gejala lintas kawasan. Kedua, kepercayaan terhadap Tiongkok tetap terbatas di semua survei, sehingga kecondongan ke Tiongkok lebih banyak bersifat pragmatis. Ketiga, preferensi netralitas dan permintaan akan mitra ketiga, seperti Jepang dan Uni Eropa di Asia Tenggara, merupakan pola yang kuat dan sering terabaikan dalam headline yang berfokus pada pilihan biner.

    IX

    Argumen Tandingan: “Survei Elite Bukan Barometer Geopolitik”

    Argumen tandingan terkuat terhadap pemakaian dataset ini perlu dikemukakan secara utuh. Argumen ini menyatakan bahwa survei ISEAS, betapapun konsisten, tidak layak dijadikan barometer geopolitik. Sampelnya purposif dan tidak representatif; jumlah responden per negara kecil; pertanyaan biner memaksa pilihan yang tidak realistis; dan rata-rata regional memberi bobot sama pada negara dengan populasi yang sangat berbeda. David Hutt, dalam analisisnya untuk Radio Free Asia pada April 2024, menunjukkan bahwa keunggulan Tiongkok 2024 setara dengan sekitar dua puluh responden dari 1.994, bahwa pertanyaan itu menanyakan pilihan ASEAN sebagai blok padahal ASEAN bahkan tidak mampu bersepakat tentang Myanmar, dan bahwa headline media mengabaikan pertanyaan lain yang menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap Tiongkok. Argumen ini menyimpulkan bahwa mengompilasi angka-angka itu menjadi dataset hanya memberi kesan presisi palsu.

    Kritik ini kuat dan sebagian besar sahih. Kajian ini menerimanya pada empat titik: sampel memang tidak representatif dalam arti statistik; selisih tipis memang tidak bermakna; rata-rata sederhana memang mendistorsi; dan pertanyaan biner memang tidak mencerminkan pilihan kebijakan nyata. Itulah sebabnya dataset ini menyertakan kode status nilai, uji konsistensi, latihan pembobotan, panduan ukuran sampel, dan indikator pendukung tentang kepercayaan serta kekhawatiran.

    Meski demikian, kesimpulan bahwa data ini tidak berguna tidak dapat diterima, karena tiga alasan. Pertama, nilai survei ini tidak terletak pada akurasi titik, melainkan pada konsistensi instrumen dari tahun ke tahun. Pertanyaan yang sama, diajukan kepada kategori responden yang serupa, pada waktu yang sama setiap tahun, menghasilkan seri waktu yang memungkinkan identifikasi pergeseran besar, misalnya lonjakan 19,2 poin di Singapura atau 29,5 poin di Laos pada 2024, yang jauh melampaui ketidakpastian sampel. Kedua, populasi sasaran survei, yaitu elite pembuat dan pemengaruh kebijakan, justru merupakan kelompok yang paling relevan bagi analisis kebijakan luar negeri; survei penduduk umum menjawab pertanyaan yang berbeda. Ketiga, validasi silang dengan Pew dan Afrobarometer menunjukkan bahwa arah pergeseran yang ditangkap ISEAS konsisten dengan survei berbasis sampel representatif, sehingga data ini menangkap sinyal nyata, bukan sekadar derau.

    Dengan demikian, sikap yang tepat bukan menolak data, melainkan memakainya dengan disiplin: membaca pergeseran besar dan pola struktural, mengabaikan selisih kecil, selalu mendampingkan pilihan biner dengan indikator kepercayaan dan kekhawatiran, dan tidak pernah menyimpulkan kebijakan negara dari sikap elite semata. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan tinggi, adalah bahwa dataset ini paling bernilai sebagai sistem peringatan dini tentang perubahan suasana elite, bukan sebagai peta aliansi.

    X

    Skenario dan Penanda Arah 2027–2029

    Berdasarkan pola dalam dataset, kajian ini merumuskan tiga skenario untuk sikap elite Asia Tenggara hingga edisi survei 2029. Skenario disusun untuk membantu pengguna data menafsirkan rilis tahunan berikutnya, bukan untuk meramalkan angka tertentu.

    Skenario sikap elite ASEAN 2027–2029 (penilaian penulis)

    A. Osilasi berlanjut di sekitar titik tengah50%
    B. Kecondongan ke Tiongkok mengeras30%
    C. Pemulihan kecondongan ke AS20%

    Probabilitas subjektif per Oktober 2026; diperbarui setelah setiap rilis survei.

    Skenario A, osilasi berlanjut, membayangkan rata-rata regional terus bergerak dalam kisaran sekitar 45 sampai 55 persen, dengan pemenang yang berganti mengikuti peristiwa paling menonjol menjelang periode survei Januari sampai Februari. Polarisasi antarnegara tetap tinggi, dengan Indonesia, Malaysia, dan Brunei condong ke Tiongkok serta Filipina dan Vietnam condong ke Amerika Serikat. Skenario ini paling mungkin karena paling konsisten dengan pola tujuh tahun terakhir dan dengan logika lindung nilai.

    Skenario B, kecondongan ke Tiongkok mengeras, membayangkan rata-rata regional bertahan di atas 55 persen untuk Tiongkok selama dua atau tiga tahun berturut-turut, dengan negara berayun seperti Singapura dan Thailand mengonsolidasi kecondongannya. Pemicu yang mungkin meliputi berlanjutnya tarif dan ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat, berkurangnya kehadiran diplomatik dan bantuan Amerika Serikat, serta inisiatif ekonomi Tiongkok yang lebih menarik. Penanda utamanya adalah kenaikan kepercayaan terhadap Tiongkok di atas 45 persen; tanpa itu, kecondongan tetap bersifat negatif terhadap Washington, bukan positif terhadap Beijing.

    Skenario C, pemulihan kecondongan ke Amerika Serikat, membayangkan rata-rata regional kembali di atas 55 persen untuk Amerika Serikat. Pemicu yang mungkin meliputi krisis besar di Laut Cina Selatan yang memperlihatkan perilaku koersif Tiongkok secara dramatis, perubahan arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat, atau pergantian pemerintahan di Washington setelah pemilu presiden November 2028, yang akan tercermin pada survei 2029. Probabilitasnya lebih rendah karena memerlukan perubahan besar dalam salah satu dari dua arah tersebut dalam waktu singkat.

    Penanda arah yang perlu dipantau meliputi: tingkat kepercayaan terhadap Tiongkok dan Amerika Serikat dalam setiap rilis; besarnya kekhawatiran tentang kepemimpinan Amerika Serikat dibandingkan kekhawatiran tentang perambahan maritim Tiongkok; perubahan kecondongan di Singapura dan Thailand sebagai negara berayun yang berpengaruh; insiden besar di Laut Cina Selatan, terutama yang melibatkan Filipina atau Indonesia; serta perkembangan kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap negara-negara ASEAN. Pergeseran searah pada tiga atau lebih penanda akan menjadi alasan untuk memperbarui probabilitas.

    XI

    Rekomendasi bagi Pengguna Data dan Pembuat Kebijakan

    Bagi Kementerian Luar Negeri Indonesia, kajian ini merekomendasikan agar data sikap elite regional dipakai sebagai indikator dalam perumusan kebijakan luar negeri bebas aktif, khususnya untuk mengukur ruang gerak diplomasi Indonesia di dalam ASEAN. Mulai 2027, kementerian dapat menyusun analisis tahunan yang mendampingkan rilis ISEAS dengan survei opini publik nasional yang representatif, sehingga kesenjangan antara sikap elite dan publik dapat dipantau. Sikap elite Indonesia yang sangat condong ke Tiongkok, bersamaan dengan kekhawatiran tinggi tentang perambahan maritim, perlu dibaca sebagai mandat untuk diplomasi yang tegas di Natuna sekaligus pragmatis di bidang ekonomi.

    Bagi Sekretariat ASEAN dan pemerintah negara anggota, rekomendasinya adalah mendukung pengembangan survei opini regional berbasis sampel representatif, sebagai pelengkap survei elite, dalam kerangka kerja sama riset ASEAN, dengan target edisi perdana pada 2028. Pengetahuan tentang sikap publik, bukan hanya elite, semakin penting ketika protes generasi muda di kawasan menunjukkan bahwa jarak antara elite dan warga dapat berdampak besar terhadap stabilitas.

    Bagi pemerintah Amerika Serikat, data menunjukkan bahwa penurunan kecondongan elite kawasan berkorelasi dengan kekhawatiran terhadap kebijakan Washington sendiri. Rekomendasinya adalah menjadikan kepastian kebijakan dagang dan kehadiran diplomatik yang konsisten sebagai prioritas, terutama terhadap Singapura dan Thailand sebagai negara berayun yang berpengaruh, sebelum siklus survei 2027. Bagi pemerintah Tiongkok, data menunjukkan bahwa kecondongan pragmatis tidak disertai kepercayaan; tanpa perubahan perilaku di Laut Cina Selatan, keunggulan dalam pertanyaan biner akan tetap rapuh. Bagi Jepang dan Uni Eropa, tingkat kepercayaan tertinggi merupakan modal strategis yang dapat dimanfaatkan untuk menawarkan alternatif konkret dalam investasi infrastruktur dan transisi energi.

    Bagi media dan analis, rekomendasinya adalah menghentikan pembacaan headline yang menyatakan kawasan “memilih” salah satu kekuatan berdasarkan selisih beberapa poin, dan sebagai gantinya melaporkan polarisasi antarnegara, indikator kepercayaan, serta keterbatasan sampel. Bagi perguruan tinggi dan pengajar, dataset ini dapat dipakai dalam mata kuliah geopolitik, studi Asia Tenggara, dan metodologi riset sebagai latihan tentang konstruksi dataset, nilai turunan, pembobotan, dan bahaya ecological fallacy, mulai semester genap 2026/2027. Bagi ISEAS sendiri, rekomendasinya adalah mempublikasikan data per negara untuk seluruh edisi dalam format terbuka yang dapat diunduh, termasuk ukuran sampel per negara dan distribusi sektor, untuk memperkuat transparansi dan pemakaian ulang.

    Bagi analis intelijen dan peramalan strategis, rekomendasinya adalah memasukkan seri ini ke dalam dasbor indikator suasana regional, dengan ambang perubahan yang jelas, misalnya pergeseran per negara di atas sepuluh poin atau perubahan kepercayaan di atas lima poin, sebagai pemicu analisis mendalam. Pendekatan ini mengubah survei tahunan dari sekadar berita menjadi alat peringatan dini yang terstruktur.

    XII

    Keterbatasan dan Kesimpulan

    Dataset ini memiliki keterbatasan yang tidak boleh diabaikan. Pertama, sebagian besar nilai per negara untuk 2023 dan 2024 serta sebagian nilai 2026 diturunkan dari angka yang dilaporkan sumber sekunder, bukan diambil langsung dari tabel ISEAS, karena bagian laporan 2026 yang memuat tabel kekuatan besar tidak dapat diekstraksi secara utuh dari berkas terbuka. Uji konsistensi terhadap rata-rata regional mengurangi risiko kesalahan, tetapi tidak menghapusnya. Kedua, data per negara untuk 2020 sampai 2022 serta untuk Kamboja dan Myanmar pada 2023 sampai 2024 tidak tersedia dalam sumber terbuka yang dapat diverifikasi. Ketiga, latihan pembobotan memakai perkiraan populasi yang dibulatkan dan secara konseptual tidak sepenuhnya tepat untuk sampel elite. Keempat, tafsir tentang sebab-sebab pergeseran bersifat kualitatif dan diberi label keyakinan, karena survei tidak mengukur sebab secara langsung.

    Dengan memperhitungkan keterbatasan itu, kesimpulan kajian ini dapat dirumuskan dengan jelas. Sikap elite Asia Tenggara terhadap rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok bersifat cair, terpolarisasi menurut geografi ancaman, dan pragmatis. Pergeseran 2026 ke arah Tiongkok lebih merupakan ekspresi kecemasan terhadap Washington daripada kepercayaan kepada Beijing, sebagaimana diperlihatkan oleh rendahnya kepercayaan terhadap Tiongkok dan tingginya kepercayaan terhadap Jepang serta Uni Eropa. Indonesia, sebagai negara terbesar di kawasan, menjadi variabel paling menentukan bagi gambaran regional, dan sikap elitenya menggabungkan kecondongan ekonomi ke Tiongkok dengan kewaspadaan maritim yang tinggi.

    Pelajaran utama bagi pembaca global adalah bahwa Asia Tenggara tidak sedang memilih blok. Kawasan ini sedang menyesuaikan diri dengan dunia yang kurang dapat diprediksi, memakai survei tahunan sebagai cermin suasana dan lindung nilai sebagai strategi. Dataset yang terdokumentasi dengan baik, lengkap dengan keterbatasannya, membantu memisahkan sinyal dari derau, dan dengan demikian membantu pembuat kebijakan di dalam maupun di luar kawasan menghindari dua kesalahan yang sama berbahayanya: membaca setiap rilis sebagai titik balik, atau mengabaikan pergeseran besar ketika benar-benar terjadi.

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    1. ISEAS–Yusof Ishak Institute. (2026). The State of Southeast Asia: 2026 Survey Report. Singapura: ISEAS.
    2. ISEAS–Yusof Ishak Institute. (2024). The State of Southeast Asia: 2024 Survey Report. Singapura: ISEAS.
    3. World Bank. Population, total (SP.POP.TOTL). World Development Indicators.
    4. BRICS Brasil. (2025, 6 Januari). Brazil announces Indonesia as full member of BRICS.
    5. Pew Research Center. (2025, 15 Juli). Views of the U.S. have worsened while opinions of China have improved in many surveyed countries.

    Literatur ilmiah

    1. Kuik, C.-C. (2008). The Essence of Hedging: Malaysia and Indonesia’s Response to a Rising China. Contemporary Southeast Asia, 30(2).
    2. Kuik, C.-C. (2015). Why, When, and How Do Weaker States Hedge? Explaining Southeast Asia’s Responses to China’s Rise. Shorenstein APARC, Stanford University.

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    1. Ao, T. (2025, 2 Mei). ‘State of Southeast Asia 2025’: Key Highlights. MP-IDSA.
    2. Chong, T. (2022, 16 Februari). 2022 State of Southeast Asia Survey: Diverse Perspectives and Hard Realities. Fulcrum.
    3. Hutt, D. (2024, 20 April). No, Southeast Asians do not now prefer China over the US. Radio Free Asia.
    4. Sinic Analytica. (2026). The State of Southeast Asia 2026: China edges past the US at 52% yet ranks only fourth on trust.
    5. Afrobarometer, via MyJoyOnline. (2026, 6 Agustus). Africans reject choosing sides as China, US compete for influence.

    Media dan pemberitaan

    1. CNBC. (2021, 16 Februari). ASEAN would choose U.S. over China if forced to pick sides, survey.
    2. Radio Free Asia. (2024, 3 April). ASEAN is now more pro-China than US: survey.
    3. Lim, K. (2026, 7 April). Most Asean prefer China over US as partner, poll; Trump cited as biggest concern. South China Morning Post.
    4. Thairath English. (2026). Laporan tentang hasil per negara survei State of Southeast Asia 2026.
    5. The Thaiger. (2026, 7 April). Southeast Asia leans toward China over US, 2026 survey finds.
    6. Databoks Katadata. (2026). China is rated as the most influential economic power in Southeast Asia in 2026.

    Arsip & Pustaka

    1. Bustamam-Ahmad, K., & Ibrahim, F. Z. (2025). Intelligence as Statecraft: Singapore’s Strategic Transformation in the Indo-Pacific. Geopolitics & Strategic Intelligence Series #5. Arsip & Pustaka.
    2. Council on Foreign Relations. (2024). Foreign Affairs, 103(1): The Self-Doubting Superpower. Arsip & Pustaka.

    Cara Mengutip

    Bustamam-Ahmad, Kamaruzzaman. (2026). Peta Kecondongan Asia Tenggara: Dataset Pilihan Elite antara Amerika Serikat dan Tiongkok 2020–2026: Struktur, Kamus Data, dan Batas Tafsir. Dataset. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/dataset-kecondongan-asean-as-tiongkok/

    KB
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad Guru Besar Antropologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh; pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy. Meraih PhD Sosiologi dari La Trobe University.
  • Neraca Gelap Ekonomi Penipuan Digital: Dataset Kerugian, Korban, dan Respons Kebijakan atas Industri Scam di Asia Tenggara dan Indonesia, 2023–2026

    Neraca Gelap Ekonomi Penipuan Digital: Dataset Kerugian, Korban, dan Respons Kebijakan atas Industri Scam di Asia Tenggara dan Indonesia, 2023–2026

    Dataset · Peradaban Digital · Ekonomi Penipuan Lintas Negara

    Neraca Gelap Ekonomi Penipuan DigitalDataset Kerugian, Korban, dan Respons Kebijakan atas Industri Scam di Asia Tenggara dan Indonesia, 2023–2026

    Lebih dari 700.000 laporan penipuan, belasan ribu WNI yang meminta dipulangkan dari kompleks Kamboja, dan rasio intersepsi di bawah lima persen. Dataset ini merangkai angka resmi dan estimasi internasional 2023–2026, mencatat setiap konflik antarsumber, dan menunjukkan bahwa industri scam Asia Tenggara sedang berpindah, bukan runtuh.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • Dataset
    • 21 Oktober 2026
    • ± 32 menit baca
    Neraca Gelap Ekonomi Penipuan Digital: Dataset Kerugian, Korban, dan Respons Kebijakan atas Industri Scam di Asia Tenggara dan Indonesia, 2023–2026
    Industri penipuan digital Asia Tenggara 2023–2026 dalam angka: kerugian, korban, penindakan, dan respons kebijakan.

    Abstrak

    Kajian dataset ini menghimpun, membersihkan, dan menilai mutu data tentang ekonomi penipuan digital berskala industri di Asia Tenggara dan paparannya terhadap Indonesia pada 2023 hingga Oktober 2026. Tujuh tabel data dan satu kamus data menggabungkan seri kumulatif Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) milik OJK, catatan Kementerian Luar Negeri tentang warga negara Indonesia di kompleks penipuan Kamboja dan Myanmar, estimasi UNODC, USIP, OHCHR, GASA, dan FBI IC3, kronologi penindakan terhadap Prince Group, KK Park, dan jaringan Kokang, data perputaran judi online dari PPATK, serta indikator hasil kebijakan di Singapura, Inggris, dan Australia. Kerangka empat simpul (rekrutmen, produksi, kontak, monetisasi) dan tiga rasio (intersepsi, pemulihan, perpindahan) dipakai untuk membaca data tersebut. Temuan utamanya: hingga 30 September 2026 IASC menerima 702.342 laporan dan menahan Rp811,1 miliar, tetapi rasio intersepsi terhadap kerugian terlapor turun dari 8,5 persen menjadi sekitar 4,8 persen, dan dana yang benar-benar kembali ke korban tidak lebih dari 2,3 persen kerugian. Penindakan regional 2025 sampai 2026 memukul simpul paling terlihat, namun data menunjukkan fragmentasi dan relokasi, termasuk ke Indonesia. Kajian ini menawarkan tiga skenario hingga akhir 2027 beserta rekomendasi yang terikat aktor dan tenggat, sekaligus mencatat setiap konflik angka antarsumber.

    Tesis

    Ekonomi penipuan Asia Tenggara tidak sedang runtuh melainkan sedang terpecah dan berpindah, dan Indonesia kini terpapar dalam tiga peran sekaligus, sebagai pasar korban, pemasok tenaga kerja, dan tuan rumah baru, sementara arsitektur respons nasionalnya masih bertumpu pada pemblokiran yang menahan kurang dari lima persen kerugian.

    1. DataOJK/IASC, Kemlu dan KBRI, PPATK, Komdigi, UNODC, OHCHR, USIP, GASA, FBI IC3, serta otoritas Singapura, Inggris, dan Australia
    2. KerangkaEmpat simpul rantai nilai (rekrutmen, produksi, kontak, monetisasi) dan tiga rasio (intersepsi, pemulihan, perpindahan)
    3. ProyeksiTiga skenario hingga akhir 2027 beserta penanda dan enam rekomendasi berjangka waktu

    Kata kunci

    • penipuan digital
    • Indonesia Anti-Scam Centre
    • kompleks penipuan
    • perdagangan orang
    • judi online
    • Asia Tenggara
    • tanggung jawab bersama
    • kamus data
    I

    Ringkasan Eksekutif: Pertanyaan, Jawaban Pokok, dan Taruhannya

    Pertanyaan kajian ini sederhana untuk dirumuskan tetapi sulit dijawab dengan data: seberapa besar ekonomi penipuan digital berskala industri di Asia Tenggara pada 2023 hingga 2026, bagaimana Indonesia terpapar olehnya, dan apakah respons kebijakan yang tersedia sepadan dengan skala ancaman. Jawaban pokoknya dapat dinyatakan dalam satu kalimat. Gelombang penindakan sepanjang 2025 hingga 2026, mulai dari sanksi Amerika Serikat dan Inggris terhadap Prince Group, penghancuran sebagian KK Park di Myawaddy, ekstradisi Chen Zhi ke Tiongkok, sampai eksekusi para pemimpin keluarga Ming dan Bai, telah mematahkan simpul-simpul yang paling terlihat, tetapi tidak mematahkan model bisnisnya. Data dari Kamboja, Myanmar, dan Indonesia sendiri memperlihatkan pola fragmentasi ke lokasi yang lebih kecil dan relokasi ke yurisdiksi baru, sementara kerugian korban tetap berada pada orde puluhan miliar dolar per tahun di tingkat kawasan.

    Bagi Indonesia, bukti intinya terkumpul dalam seri IASC. Hingga 30 September 2026, pusat yang dibentuk OJK pada 22 November 2024 itu telah menerima 702.342 laporan, memverifikasi 1.372.483 rekening terkait penipuan, memblokir 702.833 di antaranya, menahan Rp811,1 miliar dana korban, dan mengembalikan Rp207,16 miliar, sebagaimana dipaparkan dalam konferensi pers OJK 5 Oktober 2026. Angka kerugian kumulatif terakhir yang dirilis, Rp9,1 triliun per 14 Januari 2026, berarti sistem hanya mampu menahan kira-kira lima rupiah dari setiap seratus rupiah yang hilang, dan mengembalikan jauh lebih sedikit lagi. Kajian ini menilai arah temuan tersebut dengan keyakinan tinggi, sedangkan besaran persisnya dengan keyakinan sedang, karena seri kerugian berhenti dipublikasikan setelah Januari 2026 dan definisi rekening diblokir mengalami patahan.

    Taruhannya bersifat global sekaligus peradaban. Laporan UNODC yang dirilis 21 Juli 2026 memperkirakan kerugian akibat scam di Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru mencapai US$88,3 sampai 114,1 miliar pada 2025, menurut liputan OCCRP. Di Amerika Serikat, laporan IC3 2025 mencatat kerugian terlapor sebesar US$20,877 miliar, lebih dari separuhnya terkait kripto. Industri ini bertumpu pada perdagangan orang, pencucian uang lintas yurisdiksi, dan perlindungan elite lokal, sehingga ia adalah persoalan keamanan, hak asasi, dan tata kelola sekaligus. Bagi negara dengan sistem pembayaran instan yang tumbuh cepat seperti Indonesia, yang dipertaruhkan pada akhirnya adalah kepercayaan, yakni modal tak kasatmata yang menopang seluruh agenda inklusi keuangan dan ekonomi digital. Dataset ini disusun agar perdebatan kebijakan berpijak pada angka yang dapat ditelusuri, lengkap dengan catatan di mana angka-angka itu saling bertentangan.

    II

    Kerangka Analitis dan Catatan Metode

    Kajian ini membaca ekonomi penipuan sebagai rantai nilai industri yang terdiri atas empat simpul. Simpul pertama adalah rekrutmen, yaitu pasokan tenaga kerja yang sering diperoleh melalui iklan lowongan palsu dan berakhir pada kerja paksa. Simpul kedua adalah produksi, yakni kompleks fisik di zona ekonomi khusus, bekas kasino, atau gedung perkantoran tempat skrip penipuan dijalankan dalam sif. Simpul ketiga adalah kontak, yaitu infrastruktur telekomunikasi dan platform digital yang memungkinkan pelaku menjangkau korban dalam jumlah besar. Simpul keempat adalah monetisasi, mencakup rekening penampung, dompet elektronik, kode QR pembayaran, aset kripto, dan, sebagaimana diuraikan pada bagian VIII, infrastruktur pembayaran judi online. Pembagian ini sejalan dengan meta-sintesis Lazarus dan kawan-kawan dalam Deviant Behavior (2026), yang menyimpulkan dari 50 publikasi bahwa kompleks penipuan adalah sistem sosio-teknis terindustrialisasi yang hidup di antara ekonomi legal dan ilegal, memanfaatkan zona ekonomi khusus yang longgar dan kerentanan migran.

    Di atas empat simpul itu, kajian ini menurunkan tiga rasio sebagai alat ukur respons. Rasio intersepsi adalah dana yang berhasil diblokir dibagi kerugian terlapor; ia mengukur kecepatan sistem menahan uang sebelum berpindah. Rasio pemulihan adalah dana yang benar-benar kembali ke korban dibagi kerugian atau dibagi dana yang diblokir; ia mengukur kemampuan sistem mengubah intersepsi menjadi keadilan bagi korban. Indikator perpindahan adalah himpunan penanda bahwa aktivitas tidak hilang tetapi bergeser, misalnya bertambahnya kompleks meski ada razia, penangkapan warga asing di luar pusat tradisional, atau fragmentasi transaksi menjadi nominal yang lebih kecil. Ketiga ukuran ini dipilih karena dapat dihitung dari data publik dan karena masing-masing menyasar satu titik lemah yang berbeda dalam rantai nilai.

    Metodenya terdiri atas empat langkah. Pertama, setiap angka dikumpulkan dari sumber primer atau dari media yang mengutip pejabat bernama pada tanggal tertentu, dan batas data dicatat terpisah dari tanggal publikasi. Kedua, angka yang saling bertentangan tidak dipilih salah satunya, melainkan ditampilkan berdampingan dan dicatat dalam kamus data. Ketiga, indikator turunan dihitung secara transparan dengan rumus yang dicantumkan. Keempat, setiap penilaian kunci diberi label keyakinan tinggi, sedang, atau rendah, dengan mengikuti praktik analisis intelijen terstruktur: keyakinan tinggi berarti beberapa sumber independen bermutu baik sejalan; keyakinan sedang berarti sumber kredibel tetapi tunggal atau berbeda cakupan; keyakinan rendah berarti bukti tidak langsung. Untuk pertanyaan sentral apakah ekonomi penipuan menyusut atau berpindah, kajian ini menimbang kedua hipotesis secara bersaing dan mencari bukti yang paling membedakan keduanya, bukan bukti yang sekadar konsisten dengan salah satunya.

    Kerangka ini juga bertumpu pada literatur yang lebih luas. Cassandra Cross (2024) menunjukkan bahwa penipuan yang dikenal sebagai pig butchering adalah konvergensi penipuan asmara dan penipuan investasi, sehingga kategori pelaporan konvensional cenderung salah menghitungnya. Laporan Global Initiative Against Transnational Organized Crime (Mei 2025) memperkenalkan konsep role shifters, yaitu aktor yang mengaburkan batas antara pemerintah, bisnis, dan kejahatan, yang menjelaskan mengapa penindakan sering berhenti pada pekerja lapangan. Jauh sebelum gelombang kompleks ini, buku Marc Goodman, Future Crimes, sudah menggambarkan ekonomi bawah tanah digital yang beroperasi layaknya korporasi. Adapun buku tahun 2026 berjudul The Digital Civilization menawarkan gagasan Abandoned Society, kelompok yang tersisih dari manfaat digital tetapi menanggung risikonya, yang dalam kajian ini menjadi lensa untuk membaca mengapa pencari kerja muda dan pengguna dompet digital berpenghasilan rendah menjadi bahan bakar sekaligus korban industri ini.

    III

    Provenans Data, Pengolahan, dan Kamus Data

    Seluruh data dalam kajian ini bersumber dari dokumen yang dapat diakses publik hingga 21 Oktober 2026. Seri Indonesia berasal dari paparan OJK dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner bulanan, rapat kerja dengan DPR, dan siaran pers resmi, yang kemudian diteruskan oleh media seperti Kontan, CNN Indonesia, Bisnis, dan Investortrust. Persoalan provenans pertama langsung tampak di sini: OJK tidak menerbitkan dataset IASC dalam format terbuka, sehingga peneliti bergantung pada transkripsi wartawan. Kajian ini menautkan setiap titik data ke artikel yang memuatnya dan memeriksa konsistensi internal, misalnya apakah jumlah laporan melalui pelaku usaha dan laporan langsung korban berjumlah sama dengan totalnya. Pada rilis 30 September 2026, misalnya, 334.756 laporan via pelaku usaha jasa keuangan dan 367.586 laporan langsung korban memang berjumlah 702.342.

    Data tentang warga negara Indonesia berasal dari pernyataan Kementerian Luar Negeri, KBRI Phnom Penh, dan KBRI Yangon yang dikutip media nasional dan kantor berita. Estimasi regional berasal dari tiga keluarga sumber yang metodenya berbeda secara mendasar: lembaga multilateral (UNODC, OHCHR) yang menggabungkan data resmi negara dan pemodelan, kelompok studi kebijakan (USIP) yang menggunakan triangulasi pakar, serta survei konsumen (GASA) yang mengekstrapolasi dari sampel daring. Data penindakan berasal dari siaran pers pemerintah Amerika Serikat, putusan pengadilan Tiongkok sebagaimana dilaporkan media, pernyataan pemerintah Kamboja dan Thailand, serta organisasi hak asasi. Data kebijakan pembanding berasal dari kepolisian Singapura, regulator sistem pembayaran Inggris, dan National Anti-Scam Centre Australia, yang semuanya menerbitkan statistik dengan metodologi tertulis.

    Pengolahan data mengikuti tiga aturan. Nilai mata uang tidak dikonversi ke satu mata uang bersama kecuali sumber sendiri yang melakukannya, karena konversi dengan kurs berbeda tanggal akan menambah lapisan galat yang tidak perlu. Indikator turunan hanya dihitung dari pasangan angka dengan batas data yang sama atau, jika tidak tersedia, dengan catatan eksplisit tentang ketidaksesuaian tanggal. Angka yang saling bertentangan dibiarkan berdampingan. Tabel 8 di bawah ini merangkum variabel, definisi, satuan, sumber, cakupan, dan nilai mutu setiap kelompok data, dengan skala A untuk statistik resmi bermetodologi terbit, B untuk data resmi yang parsial atau diteruskan media, dan C untuk estimasi, survei, atau angka yang bertentangan.

    Tabel 8. Kamus data: variabel, definisi, satuan, sumber, cakupan, dan mutu
    VariabelDefinisiSatuanSumberCakupanMutu dan catatan konflik
    iasc_laporanLaporan penipuan kumulatif yang diterima IASC, via pelaku usaha jasa keuangan dan langsung oleh korbanjumlahOJK, konferensi pers RDK, diteruskan media22 Nov 2024–30 Sep 2026B: resmi tetapi tanpa dataset terbuka
    iasc_kerugianKerugian yang dilaporkan korban, kumulatifRpOJKs.d. 14 Jan 2026C: swa-lapor tanpa verifikasi; tidak dirilis lagi setelah Jan 2026; GASA memperkirakan Rp49 T per 12 bulan
    iasc_rek_blokirRekening terindikasi penipuan yang telah diblokirjumlahOJKJul 2025–Sep 2026C: patahan definisi, 127.047 (23 Des 2025) melonjak ke 397.028 (14 Jan 2026); 510.357 (24 Okt 2025) vs 100.565 (31 Okt 2025)
    iasc_dana_blokir / dana_kembaliDana korban yang tertahan / telah dikembalikanRpOJKJul 2025–Sep 2026B: konsisten antarrilis; judul Kontan 10 Nov 2025 menyebut “September” padahal batas data 31 Okt 2025
    wni_kasus_scamKasus WNI terkait online scam di luar negerikasus/orangKemlu2020–Okt 2025C: ±7.600 (2021–Jun 2025) vs >10.000 (2020–Okt 2025); satuan kasus dan orang tercampur; korban berulang
    wni_repatriasi_khWNI meminta bantuan atau dipulangkan dari KambojaorangKBRI Phnom PenhJan–Jul 2026B: rincian harian 1.726+224+164 = 2.114, bukan 2.117
    kerugian_regionalKerugian akibat scam di kawasanUS$UNODC, USIP2023–2025C: cakupan berbeda; USIP Mekong US$43,8 mlrd (Asia Financial) vs US$39 mlrd (VOA)
    survei_gasaPrevalensi dan kerugian menurut survei% dan Rp/US$GASA2025C: survei daring n=1.000 (Indonesia), n=46.000 (global)
    ic3_kerugianKerugian terlapor ke FBIUS$FBI IC32025B: penipuan investasi >US$8,6 mlrd (WaterISAC) vs penipuan investasi kripto US$7,2 mlrd (FOX 5), kategori berbeda
    judol_perputaranPerputaran dana judi onlineRpPPATK2017–Sem. I 2026B: proyeksi Rp900 T untuk 2024 vs realisasi Rp359,81 T
    kh_penindakanLokasi, penahanan, deportasi di KambojajumlahPemerintah Kamboja; Amnesty2025–2026C: klaim “bersih” vs 86 kompleks (Amnesty)
    id_razia_wnaWNA ditangkap dalam razia scam/judi di IndonesiaorangPolri, ImigrasiMei 2026C: tanggal (7 vs 9 Mei) dan lokasi Jakarta berbeda antarmedia
    sg / uk / auKerugian, kasus, penggantianS$, £, A$SPF, PSR, UK Finance, NASC2024–Sem. I 2026A: statistik resmi; UK: 88% (dashboard, dalam cakupan) vs 65% (evaluasi, semua APP via FPS)

    Sumber: disusun kajian ini. Mutu A = statistik resmi dengan metodologi terbit; B = resmi tetapi parsial atau lewat media; C = estimasi, survei, atau angka bertentangan.

    Tiga konflik dalam kamus data layak disorot karena memengaruhi interpretasi. Konflik pertama menyangkut rekening diblokir: seri Kontan mencatat 127.047 rekening per 23 Desember 2025, lalu 397.028 per 14 Januari 2026, lonjakan tiga kali lipat dalam tiga minggu yang hampir pasti mencerminkan perubahan definisi atau penggabungan pemblokiran oleh bank, bukan peningkatan kinerja mendadak. Pada saat yang hampir sama, paparan OJK di sebuah forum industri pada 31 Oktober 2025 menyebut 510.357 rekening diblokir, sementara seri Kontan per 31 Oktober 2025 menyebut 100.565. Konflik kedua menyangkut besaran kerugian: Rp9,1 triliun versi IASC berbanding Rp49 triliun versi survei GASA, selisih lebih dari lima kali lipat yang mencerminkan perbedaan antara kerugian yang dilaporkan dan kerugian yang dialami. Konflik ketiga menyangkut warga negara Indonesia, karena Kemlu memakai satuan kasus dan satuan orang secara bergantian. Keyakinan kajian ini terhadap seri dana diblokir dan dana dikembalikan tinggi; terhadap seri rekening diblokir rendah.

    IV

    Indonesia sebagai Pasar Korban: Membaca Seri IASC

    Tabel 1 menyajikan sepuluh titik data IASC dari Juli 2025 hingga September 2026. Pola paling mencolok adalah pertumbuhan laporan yang tetap tinggi: dari 204.011 laporan per 29 Juli 2025 menjadi 702.342 per 30 September 2026, atau lebih dari tiga kali lipat dalam empat belas bulan. Kerugian kumulatif yang dilaporkan bergerak dari Rp4,1 triliun ke Rp9,1 triliun antara Juli 2025 dan Januari 2026, lalu berhenti dirilis. Sejak rilis Mei 2026, OJK menonjolkan dana diblokir dan dana dikembalikan, sebuah pergeseran komunikasi yang dapat dipahami secara kelembagaan tetapi menghilangkan penyebut yang paling penting untuk menilai kinerja.

    Tabel 1. Seri kumulatif Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), sejak 22 November 2024
    Batas dataLaporanKerugian dilaporkanRekening dilaporkanRekening diblokirDana diblokirDana dikembalikan
    29 Jul 2025204.011Rp4,1 T326.28366.271Rp348,3 Mn.a.
    24 Okt 2025311.597Rp7,3 Tn.a.510.357*Rp381,3 Mn.a.
    31 Okt 2025323.841Rp7,5 T530.794100.565Rp383,6 Mn.a.
    30 Nov 2025373.129Rp8,2 T619.394117.301Rp389,3 Mn.a.
    23 Des 2025411.055Rp9,0 T681.890127.047Rp402,5 Mn.a.
    14 Jan 2026432.637Rp9,1 T721.101397.028Rp436,88 Mn.a.
    31 Mei 2026579.459tidak dirilis998.558515.553Rp638,9 MRp169,3 M
    Juni 2026>608.000tidak dirilisn.a.>557.000Rp674 M±Rp200 M
    31 Jul 2026636.014tidak dirilis1.176.571604.923Rp723,7 MRp204,3 M
    30 Sep 2026702.342tidak dirilis1.372.483702.833Rp811,1 MRp207,16 M

    Sumber: Investortrust, 6 Agu 2025 · Indonesia Business Post, 3 Nov 2025 · Kontan, 10 Nov 2025 · Kontan, 12 Des 2025 · Kontan, 9 Jan 2026 · Kontan, 22 Jan 2026 · Kontan, 30 Jun 2026 · OJK SP 127, 6 Jul 2026 · CNN Indonesia, 5 Agu 2026 · Kontan, 6 Okt 2026. T = triliun, M = miliar. *Angka 510.357 disebut sebagai rekening diblokir dalam paparan 31 Oktober 2025, bertentangan dengan 100.565 pada seri Kontan; lihat Tabel 8.

    Tabel 2 mengubah seri mentah itu menjadi indikator. Rasio intersepsi turun dari 8,5 persen pada Juli 2025 menjadi 4,5 sampai 4,8 persen pada akhir 2025 dan awal 2026. Artinya, ketika volume laporan naik, kemampuan sistem menahan dana tidak ikut naik secara proporsional. Dana yang tertahan per rekening yang diblokir hanya sekitar Rp1,15 juta, angka yang menunjukkan bahwa sebagian besar rekening penampung sudah dikuras sebelum pemblokiran terjadi. Rasio pengembalian terhadap dana yang diblokir relatif stabil di kisaran seperempat, tetapi jika dibandingkan dengan kerugian terakhir yang dirilis, dana yang kembali ke korban tidak melebihi 2,3 persen. Batas atas ini sengaja dihitung dengan penyebut lama; kerugian sebenarnya hingga September 2026 pasti lebih besar, sehingga rasio sesungguhnya lebih kecil. Kajian ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa pemulihan bagi korban di Indonesia berada pada orde satu digit persen.

    Tabel 2. Indikator turunan Indonesia (dihitung oleh kajian ini dari Tabel 1)
    IndikatorNilaiRumus dan periode
    Rasio intersepsi8,5% → 5,1% → 4,7% → 4,5% → 4,8%Dana diblokir / kerugian dilaporkan; Jul, Okt, Nov, Des 2025, Jan 2026
    Rasio pengembalian atas dana diblokir26,5% (Mei 2026); 25,5% (Sep 2026)Dana dikembalikan / dana diblokir
    Batas atas pemulihan atas kerugian≤2,3%Rp207,16 M (Sep 2026) / Rp9,1 T (kerugian terakhir yang dirilis, Jan 2026)
    Laju laporan harian±1.353 → ±1.072 → ±1.00729 Jul 2025–14 Jan 2026; 14 Jan–31 Mei 2026; 31 Mei–30 Sep 2026
    Pangsa laporan langsung korban36,4% → 52,3%74.218/204.011 (Jul 2025); 367.586/702.342 (Sep 2026)
    Pangsa rekening dilaporkan yang diblokir51,2%702.833 / 1.372.483 (Sep 2026)
    Dana tertahan per rekening diblokir±Rp1,15 jutaRp811,1 M / 702.833 (Sep 2026)
    Kerugian rata-rata per laporan±Rp21,0 jutaRp9,1 T / 432.637 (Jan 2026)
    Konsentrasi geografis laporanJawa 69,8%; Jawa Barat 20,7%404.502 dan 119.750 dari 579.459 (Mei 2026)

    Sumber: perhitungan kajian ini dari Kontan, 6 Okt 2026, Investortrust, 6 Agu 2025, Kontan, 30 Jun 2026, Kontan, 22 Jan 2026. Angka dibulatkan.

    Dua indikator lain mengubah cara membaca pertumbuhan laporan. Laju laporan harian justru menurun, dari sekitar 1.353 laporan per hari pada paruh kedua 2025 menjadi sekitar 1.007 per hari antara Juni dan September 2026. Pada saat yang sama, pangsa laporan yang diajukan langsung oleh korban naik dari 36,4 persen menjadi 52,3 persen. Kombinasi ini konsisten dengan dua penjelasan yang tidak saling meniadakan: kanal pelaporan IASC makin dikenal sehingga lebih banyak korban melapor sendiri, sementara laporan yang diteruskan bank melambat, entah karena insiden menurun atau karena bank menangani sebagian kasus secara internal. Kajian ini tidak dapat membedakan keduanya dengan data yang ada dan karena itu menilai tren insiden sesungguhnya dengan keyakinan rendah.

    Komposisi jenis penipuan memperjelas simpul kontak yang dimanfaatkan. Per 31 Mei 2026, rilis Satgas PASTI mencatat penipuan transaksi belanja sebagai kategori terbesar dengan 77.740 laporan, disusul penipuan mengaku pihak lain atau fake call sebanyak 47.269, penipuan investasi 26.649, dan penipuan lowongan kerja 23.910. Konsentrasi geografisnya juga tajam: Pulau Jawa menyumbang 404.502 dari 579.459 laporan atau 69,8 persen, dan Jawa Barat sendiri 20,7 persen. Pola ini menunjukkan bahwa sebagian besar kerugian Indonesia tidak berasal dari skema canggih bernilai besar, melainkan dari volume tinggi penipuan bernilai menengah. Kerugian rata-rata per laporan pada Januari 2026 sekitar Rp21 juta. Data survei GASA untuk Indonesia (2025), yang menemukan 66 persen orang dewasa menjumpai upaya penipuan dalam setahun dan 14 persen kehilangan uang, mengisyaratkan bahwa IASC baru menangkap sebagian kecil dari populasi korban.

    Perbandingan lintas negara yang dipaparkan OJK sendiri menegaskan keunikan profil Indonesia. Menurut laporan Indonesia Business Post (November 2025), Indonesia mencatat sekitar 874 laporan per hari pada periode November 2024 hingga Oktober 2025, jauh di atas Malaysia, Singapura, atau Hong Kong, tetapi dengan total kerugian yang lebih rendah daripada Singapura dan Hong Kong. Dengan kata lain, Indonesia adalah pasar volume, bukan pasar nilai. Implikasi analitisnya penting: strategi yang berhasil di pasar bernilai tinggi, seperti investigasi mendalam per kasus, tidak dapat diskalakan ke ratusan ribu laporan bernilai menengah. Indonesia membutuhkan intersepsi otomatis pada simpul kontak dan monetisasi, bukan sekadar penanganan kasus yang lebih cepat.

    V

    Indonesia sebagai Pemasok Tenaga dan Tuan Rumah Baru

    Peran kedua Indonesia dalam ekonomi ini adalah sebagai pemasok tenaga kerja, dan datanya, seperti terangkum dalam Tabel 3, bertumbuh lebih cepat daripada kapasitas negara menanganinya. Kementerian Luar Negeri mencatat lebih dari 4.700 WNI dipulangkan dari operasi penipuan daring antara 2020 dan September 2024, menurut data yang dikutip AFP melalui Borneo Post. Pada Juni 2025, Menteri Luar Negeri Sugiono menyebut sekitar 7.600 kasus untuk periode 2021 hingga 2025, dengan Kamboja sekitar 4.300 dan Myanmar sekitar 1.100, sebagaimana dilaporkan Bisnis. Pada Oktober 2025, Direktur Pelindungan WNI menyebut lebih dari 10.000 kasus di sepuluh negara sejak 2020. Perbedaan angka 7.600 dan lebih dari 10.000 dalam rentang empat bulan sebagian disebabkan oleh perbedaan tahun awal, tetapi juga oleh pencampuran satuan kasus dan satuan orang, termasuk korban berulang yang kembali ke kompleks setelah dipulangkan.

    Tabel 3. Warga negara Indonesia dalam ekonomi kompleks penipuan, 2020–2026
    IndikatorNilaiPeriodeSumber
    WNI dipulangkan dari operasi online scam>4.7002020–Sep 2024Kemlu via AFP/Borneo Post
    WNI dari Myanmar dipulangkan via Thailand561 (±400 + ±161)Mar 2025Borneo Post, 18 Mar 2025
    Kasus WNI terkait online scam±7.600 (Kamboja ±4.300; Myanmar ±1.100; 1.508 terkait TPPO)2021–Jun 2025Bisnis, 30 Jun 2025
    Kasus online scam melibatkan WNI>10.000 di 10 negara2020–Okt 2025IDX Channel, 21 Okt 2025
    WNI terdampak operasi di Myawaddy±400 (>200 di Shwe Kokko)Okt–Nov 2025Metro TV, 22 Nov 2025
    Kasus ditangani KBRI Phnom Penh5.0882025Bisnis, 24 Jan 2026
    WNI minta dipulangkan pascarazia Kamboja2.11716–23 Jan 2026Bisnis, 24 Jan 2026
    WNI minta bantuan pulang / dipulangkan5.481 / 1.81616 Jan–8 Mar 2026RRI, 11 Mar 2026
    WNI minta dukungan repatriasi / dipulangkan12.207 / 5.966; ±1.100 ditahan di Pochentong; >600 di lokasi lain1 Jan–9 Jul 2026RRI, 10 Jul 2026
    WNI dituntut dalam jaringan scam di Bali yang menyasar warga AS38s.d. Nov 2025DOJ, 12 Nov 2025

    Sumber: sebagaimana tercantum per baris. Angka Kemlu mencampur satuan kasus dan orang; lihat Tabel 8.

    Tahun 2026 membawa lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setelah razia pemerintah Kamboja pada pertengahan Januari 2026, jumlah WNI yang mendaftar untuk dipulangkan mencapai 2.117 orang dalam sepekan, menurut Bisnis yang mengutip Duta Besar Santo Darmosumarto; sebagai pembanding, sepanjang 2025 KBRI Phnom Penh menangani 5.088 kasus. Hingga 8 Maret 2026, 5.481 orang meminta bantuan pulang dan 1.816 telah dipulangkan. Pada 10 Juli 2026, RRI melaporkan bahwa 12.207 WNI meminta dukungan repatriasi sejak awal tahun, 5.966 telah dipulangkan, sekitar 1.100 ditahan di fasilitas imigrasi Pochentong, dan lebih dari 600 lainnya berada di lokasi yang diduga kompleks penipuan di Bati, Siem Reap, Phnom Penh, dan Sihanoukville. Dalam enam bulan pertama 2026 saja, permintaan bantuan dari Kamboja lebih dari dua kali lipat total kasus setahun sebelumnya.

    Dari sisi Myanmar, operasi junta di KK Park pada Oktober 2025 dan di Shwe Kokko pada 17 November 2025 berdampak pada sekitar 400 WNI, dengan lebih dari 200 di antaranya ditahan di Shwe Kokko bersama 1.367 warga asing lain, menurut Metro TV yang mengutip KBRI Yangon. Pemulangan berlangsung lambat karena kapasitas penampungan penuh dan karena verifikasi status korban memakan waktu. Di sinilah literatur tentang kaburnya batas korban dan pelaku menjadi relevan secara operasional. Penelitian Luong dan rekan (2024) tentang pekerja Vietnam di Kamboja menunjukkan bagaimana lowongan palsu yang menyasar lulusan berketerampilan teknologi informasi dan layanan pelanggan menjadi pintu masuk kerja paksa. Profil serupa muncul dalam kasus Indonesia, dan ia menjelaskan mengapa penipuan lowongan kerja sekaligus menjadi kategori besar dalam laporan IASC: simpul rekrutmen dan simpul kontak memakai teknik yang sama terhadap populasi yang sama.

    Peran ketiga, sebagai tuan rumah, adalah perkembangan paling mengkhawatirkan dalam data 2025 hingga 2026. Siaran pers Departemen Kehakiman AS tentang Scam Center Strike Force pada November 2025 menyebut jaringan penipuan di Bali yang dikendalikan fasilitator berbasis Kamboja dan menargetkan lebih dari 150 korban di Amerika Serikat, dengan 38 warga negara Indonesia dituntut berdasarkan informasi satuan tugas tersebut. Pada Mei 2026, aparat menangkap 210 warga asing di Batam atas dugaan penipuan investasi daring dan 321 warga asing di Jakarta yang mengoperasikan 75 situs judi online, mayoritas warga Vietnam dan Tiongkok, menurut Reuters melalui Arab News. Pejabat Interpol Indonesia dalam laporan yang sama menyatakan bahwa operasi judi online tampak berpindah dari kota-kota Kamboja ke Indonesia, dan South China Morning Post mengutip analis yang menunjuk rezim visa yang longgar dan penegakan hukum yang lemah sebagai daya tariknya. Kajian ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa Indonesia sedang menjadi salah satu tujuan relokasi, dan dengan keyakinan rendah mengenai skala relokasi tersebut, karena data penangkapan belum menjadi seri yang konsisten.

    VI

    Skala Regional dan Global: Membandingkan Estimasi yang Bertentangan

    Tabel 4 mengumpulkan sepuluh estimasi kunci. Membacanya memerlukan disiplin metodologis, karena angka-angka itu mengukur hal yang berbeda: jumlah orang yang tertahan, dana yang dicuri, kerugian yang dilaporkan, atau kerugian menurut survei. Estimasi tenaga kerja paling awal yang berpengaruh datang dari OHCHR pada Agustus 2023, yang menyebut setidaknya 120.000 orang di Myanmar dan sekitar 100.000 di Kamboja mungkin dipaksa bekerja dalam operasi penipuan daring, sebagaimana dilaporkan UN News. Kelompok studi USIP pada Mei 2024 memperkirakan sekitar 305.000 pekerja scam di Myanmar, Kamboja, dan Laos, dan dalam kesaksian tertulis Jason Tower di Kongres AS (Juli 2024) menyatakan bahwa kelompok-kelompok ini mencuri sekitar US$64 miliar per tahun hingga akhir 2023.

    Tabel 4. Estimasi skala ekonomi penipuan: regional dan global
    EstimasiNilaiCakupan dan tahunSumber dan sifat data
    Orang tertahan di operasi scam≥120.000 (Myanmar); 100.000 (Kamboja)2023OHCHR via UN News; estimasi kredibel, bukan sensus
    Dana dicuri sindikatUS$63,9 mlrd global; Mekong US$43,8 mlrd atau US$39 mlrd2023Asia Financial vs VOA atas laporan USIP Mei 2024; pemodelan
    Tenaga kerja scam±305.000 di Myanmar, Kamboja, Laos2023–2024VOA; estimasi kelompok studi
    Kerugian di Asia Timur dan Tenggara±US$37 mlrdlaporan UNODC April 2025AsiaNews; agregasi data resmi
    Kerugian akibat scamUS$88,3–114,1 mlrdAsia Timur, Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru; 2025UNODC, Jul 2026 via OCCRP; rentang model
    Kerugian global (survei)US$442 mlrd; 57% orang dewasa mengalami scam42 negara, 46.000 responden; 2025GASA/Feedzai; survei daring
    Kerugian Indonesia (survei)Rp49 T (US$3,3 mlrd); 66% menjumpai, 14% kehilangan uang1.000 responden; 26 Feb–14 Mar 2025GASA/Mastercard; survei daring
    Kerugian terlapor di ASUS$20,877 mlrd; 1.008.597 aduan; kripto US$11,366 mlrd2025FBI IC3 via FOX 5; data aduan
    Kerugian warga AS akibat scam Asia Tenggara≥US$10 mlrd (+66%)2024US Treasury; estimasi pemerintah
    Hasil kejahatan keluarga Ming (Kokang)>100 mlrd yuan (±US$13,9 mlrd)2015–2023OCCRP; putusan pengadilan RRT

    Sumber: sebagaimana tercantum per baris. mlrd = miliar.

    Konflik internal muncul bahkan dalam satu laporan. Untuk wilayah Mekong, Asia Financial melaporkan angka US$43,8 miliar per tahun, setara sekitar 40 persen produk domestik bruto gabungan tiga negara, sedangkan VOA melaporkan US$39 miliar untuk Myanmar, Kamboja, dan Laos. Kajian ini mencatat keduanya tanpa memilih, karena dokumen primernya tidak dapat diakses ulang pada saat penyusunan untuk memastikan angka mana yang benar. Untuk Kamboja saja, kedua laporan sepakat bahwa hasil penipuan melampaui US$12,5 miliar pada 2023, kira-kira separuh PDB resmi negara itu. Angka-angka ini adalah estimasi kelompok pakar, sehingga kajian ini memperlakukannya dengan keyakinan sedang sebagai penunjuk orde besaran, bukan sebagai pengukuran.

    Lintasan estimasi UNODC sangat instruktif. Laporan April 2025 berjudul Inflection Point menyebut kerugian sekitar US$37 miliar di negara-negara Asia Timur dan Tenggara, menurut AsiaNews, dan memperingatkan bahwa industri ini menyebar ke Afrika, Amerika Latin, dan kawasan lain. Laporan Juli 2026, An Interconnected Criminal Ecosystem, menaikkan estimasi untuk 2025 menjadi US$88,3 sampai 114,1 miliar, dengan cakupan yang kini memasukkan Australia dan Selandia Baru, menurut Decrypt. Kenaikan lebih dari dua kali lipat tidak boleh dibaca sebagai pertumbuhan riil semata, karena cakupan geografis dan metode berbeda. Namun, arah keduanya jelas: tidak ada estimasi lembaga kredibel yang menunjukkan penyusutan. Laporan yang sama mencatat orang dari setidaknya 80 negara teridentifikasi di dalam kompleks, naik dari lebih dari 50 negara dalam laporan 2025, serta kenaikan 42 persen insiden iklan berbahaya pada 2025. Kajian ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa ekonomi penipuan regional pada 2025 tidak lebih kecil daripada pada 2023.

    Di ujung lain spektrum, survei konsumen menghasilkan angka jauh lebih besar. GASA (Oktober 2025) memperkirakan kerugian global US$442 miliar dari 46.000 responden di 42 negara, dan Rp49 triliun untuk Indonesia. Survei semacam ini cenderung menggelembungkan nilai karena ekstrapolasi dari sampel daring dan karena responden memasukkan pengalaman yang tidak semuanya merupakan penipuan dalam arti hukum. Sebaliknya, data aduan resmi seperti IC3 atau IASC menyusutkan nilai karena hanya sebagian kecil korban melapor. Pemerintah AS sendiri memperkirakan warga Amerika kehilangan setidaknya US$10 miliar akibat scam Asia Tenggara pada 2024, naik 66 persen, menurut Departemen Keuangan AS. Posisi kajian ini adalah triangulasi: kerugian riil kawasan hampir pasti berada di antara angka laporan resmi dan angka survei, dan untuk Indonesia, rentang yang dapat dipertahankan terbentang antara Rp9,1 triliun kerugian terlapor kumulatif selama sekitar empat belas bulan dan Rp49 triliun kerugian menurut survei dua belas bulan, dengan keyakinan rendah untuk titik mana pun di dalam rentang itu.

    VII

    Penindakan 2025–2026: Prince Group, KK Park, dan Efek Balon

    Tabel 5 menyusun kronologi sebelas peristiwa penindakan beserta penanda kuantitatifnya. Dari kronologi itu tampak tiga jenis tekanan yang bekerja bersamaan. Tekanan pertama bersifat finansial dan hukum: pada 14 Oktober 2025, Departemen Keuangan AS menetapkan Prince Group sebagai organisasi kriminal transnasional dan menyanksi 146 target, bersamaan dengan aksi Inggris, sementara FinCEN memutus Huione Group dari sistem keuangan Amerika karena mencuci sedikitnya US$4 miliar hasil kejahatan antara Agustus 2021 dan Januari 2025. Pada saat yang sama, jaksa AS mengajukan penyitaan 127.271 bitcoin yang bernilai sekitar US$15 miliar, yang oleh TRM Labs disebut sebagai penyitaan terbesar dalam sejarah Amerika. Tekanan kedua bersifat koersif ekstrateritorial, terutama dari Tiongkok, dan tekanan ketiga bersifat fisik terhadap infrastruktur, yang paling jelas dalam keputusan Thailand memutus listrik, bahan bakar, dan internet ke kawasan perbatasan Myanmar pada 5 Februari 2025.

    Tabel 5. Kronologi penindakan dan indikator hasilnya, 2025–2026
    TanggalAktor dan tindakanIndikator kuantitatifSumber
    5 Feb 2025Thailand memutus listrik, BBM, dan internet ke perbatasan Myanmar±7.000 korban menunggu repatriasiKhaosod; NPR/Michigan Public
    26 Jun 2025Amnesty International memetakan kompleks Kamboja≥53 kompleksAmnesty
    14 Okt 2025AS dan Inggris menyanksi jaringan Prince Group; FinCEN memutus Huione146 target; Huione mencuci ≥US$4 mlrd; 127.271 BTC (±US$15 mlrd) disitaUS Treasury; TRM Labs
    Pertengahan–27 Okt 2025Junta Myanmar menggerebek lalu meledakkan sebagian KK Park>1.500 orang menyeberang ke Thailand dalam sepekanAP via News4Jax
    12 Nov 2025Scam Center Strike Force AS dibentukUS$401,66 juta kripto disita; 38 WNI dituntut (Bali)DOJ
    17 Nov 2025Operasi di Shwe Kokko, Myawaddy>200 WNI di antara 1.367 WNA lainMetro TV
    Awal Jan 2026Chen Zhi ditangkap di Kamboja dan diekstradisi ke RRT; Prince Bank dilikuidasin.a.Decrypt; The Sun
    29 Jan & 2 Feb 2026RRT mengeksekusi 11 anggota keluarga Ming dan 4 tokoh keluarga Bai14 warga RRT tewas akibat jaringan MingOCCRP; Caixin
    Apr 2026Amnesty memperbarui pemetaan Kamboja53 → 86 kompleks; intervensi negara hanya di 24 lokasiThe Nation/ANN
    6–9 Mei 2026Penggerebekan di Batam dan Jakarta210 WNA (Batam, investasi); 321 WNA (Jakarta, 75 situs judi)Arab News/Reuters; Antara
    27 Agu 2026Kamboja mengklaim pusat scam besar telah bersih793 lokasi diperiksa; ±30.000 ditahan; 58.266 WNA dipulangkanANN

    Sumber: sebagaimana tercantum per baris.

    Hasil jangka pendek tekanan itu nyata. Setelah pemutusan listrik oleh Thailand, sekitar 7.000 korban dari berbagai negara menunggu repatriasi di sisi Myanmar, menurut Khaosod English. Pada pertengahan Oktober 2025, militer Myanmar menggerebek KK Park, lalu mulai 24 Oktober meledakkan sebagian bangunannya; lebih dari 1.500 orang menyeberang ke Thailand dalam sepekan, menurut Associated Press. Pada awal Januari 2026, Chen Zhi ditangkap di Kamboja dan diekstradisi ke Tiongkok, menurut Decrypt, dan bank sentral Kamboja memerintahkan likuidasi Prince Bank. Pada 29 Januari 2026, Tiongkok mengeksekusi sebelas anggota keluarga Ming yang menurut otoritas setempat menghasilkan lebih dari 100 miliar yuan hasil kejahatan dan menyebabkan kematian 14 warga Tiongkok, sebagaimana dilaporkan OCCRP; empat hari kemudian, empat tokoh keluarga Bai menyusul. Dalam ukuran simbolik, 2025 dan awal 2026 adalah periode penindakan paling keras sejak industri ini muncul.

    Namun indikator perpindahan menceritakan kisah lain. Amnesty International memetakan sedikitnya 53 kompleks di Kamboja dalam laporan Juni 2025; per April 2026, menurut pembaruan yang dilaporkan The Nation melalui Asia News Network, jumlahnya naik menjadi 86, dengan bukti intervensi negara hanya di 24 lokasi. Pada 27 Agustus 2026, pemerintah Kamboja mengklaim seluruh pusat penipuan besar telah dibersihkan, dengan 793 lokasi diperiksa, hampir 30.000 tersangka ditahan, dan 58.266 warga asing dipulangkan, menurut Asia News Network. Pejabat yang sama mengakui bahwa jaringan berpindah cepat ke lokasi yang lebih kecil dan tersembunyi seperti rumah tamu, kondominium, bahkan kendaraan. Analis CSIS dan Interpol yang dikutip dalam laporan Juni 2026 menggambarkan pola serupa: fragmentasi ke jaringan kecil dan penyebaran ke kawasan permukiman. Klaim pembersihan dan bukti fragmentasi bukanlah dua fakta yang bertentangan; keduanya adalah gambaran dari proses yang sama, yaitu pembongkaran kompleks besar yang memaksa model bisnis berubah bentuk.

    Logika ekonominya mudah dipahami. Biaya tetap kompleks besar, termasuk sewa, perlindungan, dan infrastruktur satelit, menjadi beban ketika penindakan meningkat, sementara aset inti industri ini, yakni skrip, basis data korban, akses ke rekening penampung, dan jaringan pencucian, bersifat portabel. UNODC dalam laporan Juli 2026 menggambarkan model ini sebagai waralaba korporat dan menegaskan bahwa disrupsi saja tidak cukup, sebagaimana dikutip Decrypt, sementara analis utamanya menyatakan bahwa skala dan kompleksitas ekonomi kriminal ini melampaui respons yang ada, menurut JURIST. Sebuah ringkasan intelijen Asia Tenggara KBA13 Insight untuk pekan 25–31 Agustus 2026 juga mencatat peringatan PBB bahwa operasi pusat penipuan dan tambang ilegal memperparah krisis hak asasi di Myanmar, sebuah pengingat bahwa di wilayah konflik, ekonomi penipuan menjadi sumber pendanaan bagi aktor bersenjata. Kajian ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa penindakan 2025 hingga 2026 telah menaikkan biaya operasi kompleks besar, dan dengan keyakinan sedang bahwa ia belum menurunkan total kerugian korban di kawasan.

    VIII

    Judi Online sebagai Infrastruktur Pembayaran Kembar

    Penipuan daring dan judi online sering dibahas sebagai dua persoalan terpisah, satu di bawah otoritas keuangan dan satu di bawah otoritas komunikasi. Data yang dihimpun dalam kajian ini menunjukkan bahwa keduanya berbagi simpul yang sama dalam rantai nilai. Kompleks di Myawaddy yang menahan WNI disebut sebagai pusat penipuan atau judi online dalam laporan yang sama. Penggerebekan Jakarta pada Mei 2026 menemukan 321 warga asing mengoperasikan 75 situs judi dari satu gedung, dan Interpol Indonesia mengaitkannya dengan perpindahan dari Kamboja. Pada simpul monetisasi, keduanya memakai rekening penampung, dompet elektronik, dan pembayaran berbasis kode QR yang sama. Karena itu, seri PPATK tentang perputaran judi online relevan sebagai indikator kesehatan simpul monetisasi yang juga melayani penipuan.

    Tabel 7. Judi online di Indonesia menurut data PPATK dan Komdigi
    PeriodePerputaran danaDepositTransaksiCatatan
    2023Rp327 Tn.a.n.a.Data PPATK dikutip Kominfo
    2024 (proyeksi Kominfo)Rp900 Tn.a.n.a.Proyeksi, tidak terealisasi
    2024 (realisasi)Rp359,81 TRp51,3 Tn.a.Puncak seri sejak 2017; 571.410 NIK penerima bansos terkait judol
    2025Rp286,84 T (±−20%)Rp36,01 Tn.a.Komdigi menangani 2.087.109 konten judi
    Semester I 2025Rp99,68 TRp17,50 T174,90 juta (deposit 94,50 juta)Rerata deposit ±Rp185.200*
    Semester I 2026Rp86,82 T (−12,9%)Rp22,05 T (QRIS Rp12,36 T)467,32 juta (deposit 226,76 juta; QRIS 87,66%)Rerata deposit ±Rp97.200* (−47,5%)

    Sumber: Bisnis, 1 Agu 2024 · Metro TV, 23 Jul 2026 · Bisnis, 5 Agu 2026 · Bisnis, 8 Okt 2026. *Dihitung kajian ini: nilai deposit / jumlah transaksi deposit.

    Tabel 7 memperlihatkan paradoks yang penting. Menurut Kepala PPATK Ivan Yustiavandana, perputaran dana judi online mencapai puncaknya pada 2024 sebesar Rp359,81 triliun dan turun sekitar 20 persen menjadi Rp286,84 triliun pada 2025, penurunan signifikan pertama sejak seri dimulai pada 2017, sebagaimana dilaporkan Metro TV. Pada semester pertama 2026, perputaran turun lagi 12,9 persen menjadi Rp86,82 triliun. Akan tetapi, jumlah transaksi justru melonjak dari 174,90 juta menjadi 467,32 juta, dan nilai deposit naik dari Rp17,50 triliun menjadi Rp22,05 triliun, menurut Bisnis. Perhitungan kajian ini menunjukkan bahwa rata-rata nilai per transaksi deposit turun hampir separuh, dari sekitar Rp185.200 menjadi sekitar Rp97.200. Kepala PPATK sendiri mengaitkan kenaikan jumlah transaksi dengan deteksi yang lebih baik, sambil mengakui bahwa jaringan judi memecah transaksi menjadi nominal lebih kecil dengan frekuensi lebih tinggi.

    Pemecahan transaksi, yang dalam literatur anti pencucian uang dikenal sebagai structuring, adalah indikator perpindahan pada simpul monetisasi yang sejajar dengan fragmentasi kompleks pada simpul produksi. QRIS menyumbang 87,66 persen jumlah transaksi deposit judi pada semester pertama 2026. Fakta ini tidak berarti QRIS adalah masalahnya; ia berarti bahwa infrastruktur pembayaran paling inklusif di Indonesia, yang dirancang untuk transaksi kecil yang cepat dan murah, adalah juga yang paling cocok bagi pelaku yang ingin bersembunyi di dalam volume. Kajian ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa penurunan nilai perputaran judi online sebagian mencerminkan keberhasilan penindakan dan sebagian mencerminkan adaptasi pelaku yang menurunkan visibilitas transaksi.

    Sejarah seri ini juga memberi pelajaran tentang bahaya proyeksi. Pada Agustus 2024, Kementerian Komunikasi dan Informatika memproyeksikan perputaran judi online 2024 akan mencapai Rp900 triliun, hampir tiga kali lipat realisasi 2023 sebesar Rp327 triliun, menurut Bisnis. Realisasinya ternyata Rp359,81 triliun. Selisih sebesar ini mengingatkan bahwa angka besar yang dikomunikasikan untuk memobilisasi perhatian publik dapat merusak kredibilitas seri data itu sendiri. Pada 8 Oktober 2026, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan bahwa ukuran keberhasilan harus bergeser dari jumlah konten yang dihapus ke sejauh mana rantai aktivitas judi terputus, menurut Bisnis; pada 2025 saja, kementerian menangani 2.087.109 konten judi. Pergeseran dari ukuran keluaran ke ukuran dampak ini tepat, dan logika yang sama perlu diterapkan pada penipuan: jumlah rekening diblokir bukan ukuran keberhasilan, rasio intersepsi dan pemulihanlah ukurannya.

    IX

    Perbandingan Internasional: Singapura, Inggris, Australia, dan Indonesia

    Tabel 6 membandingkan empat yurisdiksi yang mewakili tiga filosofi respons. Singapura menggabungkan komando penegakan hukum terpusat, alokasi tanggung jawab berjenjang, dan kewenangan intervensi preventif terhadap calon korban. Inggris memilih penggantian wajib, yaitu memindahkan beban kerugian dari korban ke penyedia jasa pembayaran agar insentif pencegahan berada pada pihak yang paling mampu mencegah. Australia memilih kewajiban ex ante lintas sektor, yaitu mewajibkan bank, operator telekomunikasi, dan platform digital mengambil langkah wajar untuk mencegah, mendeteksi, melaporkan, mengganggu, dan merespons penipuan, dengan ancaman denda besar. Indonesia, sejauh ini, bertumpu pada koordinasi pemblokiran melalui IASC dan penanganan konten, tanpa alokasi tanggung jawab penggantian yang mengikat.

    Tabel 6. Perbandingan respons kebijakan: Singapura, Inggris, Australia, Indonesia
    YurisdiksiInstrumen utama dan tanggalModel tanggung jawabIndikator hasil terbaru
    SingapuraAnti-Scam Command; Shared Responsibility Framework berlaku 16 Des 2024; Protection from Scams Act disahkan 7 Jan 2025, berlaku 1 Jul 2025Air terjun: bank, lalu operator seluler, lalu konsumen (phishing); perintah pembatasan rekening maks. 30 hari, dapat diperpanjang 5 kali2025: 41.974 kasus (−24,8%), kerugian S$913,1 juta, ±S$140 juta dipulihkan; Sem. I 2026: S$410,6 juta (−17,9%), >S$97,7 juta dipulihkan
    InggrisPenggantian wajib APP fraud oleh PSR sejak 7 Okt 2024; plafon £85.000, ekses £100Penyedia jasa pembayaran menanggung penggantian88% dana dalam cakupan diganti (Okt 2024–Mar 2026); evaluasi independen: 54% → 65%, kerugian via Faster Payments −21%; kerugian APP 2025 £576,4 juta (+19%)
    AustraliaScams Prevention Framework disahkan parlemen 13 Feb 2025; National Anti-Scam CentreKewajiban ex ante bagi bank, telko, platform digital; denda hingga A$50 juta; jalur sengketa eksternal2025: kerugian A$2,18 mlrd (+7,8%), 481.523 laporan; 29,7% di bawah puncak 2022
    IndonesiaIASC (OJK) sejak 22 Nov 2024 atas mandat UU 4/2023 (P2SK); Satgas PASTI (21 anggota); penanganan konten KomdigiBerbasis pemblokiran; belum ada alokasi tanggung jawab penggantianSep 2026: 702.342 laporan; Rp811,1 M diblokir; Rp207,16 M dikembalikan

    Sumber: SPF · Malay Mail · MHA · Reed Smith · PSR · Regulation Tomorrow · Fintech Futures/UK Finance · NASC · Jones Day · Kontan · Kontan

    Singapura menunjukkan hasil yang paling terukur. Menurut Kepolisian Singapura, jumlah kasus penipuan dan kejahatan siber turun 24,8 persen menjadi 41.974 pada 2025, kerugian turun dari sekitar S$1,1 miliar menjadi S$913,1 juta, dan sekitar S$140 juta berhasil dipulihkan, setara sekitar 15 persen kerugian. Pada semester pertama 2026, kerugian turun lagi 17,9 persen menjadi S$410,6 juta dengan pemulihan lebih dari S$97,7 juta, atau sekitar 24 persen, menurut Malay Mail. Shared Responsibility Framework yang berlaku sejak 16 Desember 2024 menempatkan kerugian akibat phishing pertama pada bank yang lalai, lalu operator seluler yang lalai, baru kemudian konsumen. Protection from Scams Act yang berlaku 1 Juli 2025 memberi polisi kewenangan mengeluarkan perintah pembatasan rekening hingga 30 hari terhadap orang yang diyakini akan mentransfer dana ke penipu, sebuah intervensi paternalistik yang dibenarkan oleh kenyataan bahwa lebih dari 80 persen kasus di Singapura melibatkan transfer yang dilakukan korban sendiri.

    Inggris menawarkan eksperimen kebijakan paling jelas tentang penggantian. Sejak 7 Oktober 2024, penyedia jasa pembayaran wajib mengganti korban penipuan pembayaran yang diotorisasi hingga £85.000. Dasbor Payment Systems Regulator menunjukkan 88 persen dana yang hilang dalam cakupan aturan telah diganti selama delapan belas bulan pertama, dan 82 persen klaim ditutup dalam lima hari kerja. Evaluasi independen yang diterbitkan Juli 2026, menurut Regulation Tomorrow, menemukan tingkat penggantian naik dari 54 menjadi 65 persen jika diukur atas seluruh penipuan APP melalui Faster Payments, dan kerugian melalui kanal itu turun sekitar 21 persen, setara £73 juta per tahun. Namun, laporan tahunan UK Finance mencatat kerugian APP 2025 naik 19 persen menjadi £576,4 juta, didorong penipuan investasi yang naik 40 persen, menurut Fintech Futures. Perbedaan cakupan menjelaskan sebagian kontradiksi ini, dan kajian ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa penggantian wajib meningkatkan keadilan bagi korban lebih cepat daripada ia menurunkan insiden.

    Australia memberi pelajaran tentang batas kewajiban ex ante. Parlemen mengesahkan Scams Prevention Framework pada 13 Februari 2025 dengan denda hingga A$50 juta per pelanggaran, menurut Jones Day. Kerugian gabungan 2025 tercatat A$2,18 miliar, naik 7,8 persen dari 2024, meski masih 29,7 persen di bawah puncak 2022, menurut National Anti-Scam Centre. Penipuan investasi tetap menjadi kategori terbesar dengan A$837,7 juta. Pelajaran dari ketiga yurisdiksi ini bagi Indonesia jelas. Rasio pemulihan Indonesia yang berada pada orde satu digit persen tertinggal jauh dari Singapura dan Inggris. Perbedaan itu bukan semata soal kapasitas teknis, melainkan soal desain insentif: selama kerugian sepenuhnya ditanggung korban, bank, penyedia dompet elektronik, dan operator seluler tidak memiliki dorongan finansial untuk berinvestasi dalam intersepsi waktu nyata. Langkah OJK mengajak asosiasi operator telekomunikasi bergabung dengan IASC, sebagaimana diumumkan Friderica Widyasari Dewi pada Januari 2026 menurut Kontan, adalah awal yang benar tetapi belum mengubah struktur insentif tersebut.

    X

    Kualitas Data, Celah Bukti, dan Argumen Tandingan

    Celah data terbesar terletak pada ketiadaan dataset terbuka. IASC adalah salah satu pusat anti-penipuan dengan volume laporan tertinggi di dunia, tetapi datanya hanya tersedia sebagai angka kumulatif dalam paparan lisan yang ditranskripsikan wartawan. Akibatnya, tidak ada seri bulanan insiden baru, tidak ada rincian kerugian per jenis penipuan, tidak ada distribusi waktu antara kejadian dan laporan, dan tidak ada data tentang bank atau penyedia mana yang paling sering menjadi tempat rekening penampung. Seri kerugian berhenti dirilis setelah Januari 2026, sehingga rasio intersepsi tidak dapat dihitung untuk periode terbaru. Patahan definisi rekening diblokir memperburuk keadaan. Celah kedua menyangkut WNI: tidak ada data publik yang memisahkan korban perdagangan orang, pekerja sukarela, dan perekrut, padahal ketiganya menuntut respons hukum yang berbeda. Celah ketiga menyangkut aliran kripto, yang dalam data Indonesia hampir tidak terlihat meskipun di Amerika Serikat lebih dari separuh kerugian terlapor terkait kripto.

    Argumen tandingan yang paling kuat terhadap tesis kajian ini perlu dinyatakan dalam bentuk terbaiknya. Argumen itu berbunyi sebagai berikut: ekonomi penipuan Asia Tenggara sedang melewati puncaknya. Kamboja mengklaim seluruh pusat besar telah bersih dan memulangkan lebih dari 58.000 warga asing. KK Park dihancurkan. Chen Zhi diekstradisi dan aset bitcoin terbesar dalam sejarah disita. Para pemimpin klan Kokang dieksekusi. Kerugian di Singapura turun dua tahun berturut-turut. Perputaran judi online di Indonesia turun 20 persen pada 2025 dan turun lagi pada 2026. Laju laporan harian IASC pun menurun. Menurut argumen ini, kenaikan angka kumulatif IASC hanyalah cerminan kematangan kanal pelaporan, bukan memburuknya kejahatan, dan tesis tentang perpindahan terlalu pesimistis.

    Argumen ini benar dalam beberapa hal, dan kajian ini menerimanya sebagian. Penindakan memang menaikkan biaya, kematangan kanal pelaporan memang menjelaskan sebagian kenaikan laporan, dan penurunan laju harian adalah sinyal yang tidak boleh diabaikan. Namun, empat bukti melemahkan kesimpulannya. Pertama, jumlah kompleks di Kamboja menurut Amnesty naik dari 53 menjadi 86 pada periode yang sama dengan klaim pembersihan. Kedua, estimasi kerugian regional UNODC untuk 2025 jauh di atas estimasi 2023, dan jumlah negara asal pekerja naik. Ketiga, penurunan nilai perputaran judi online disertai lonjakan jumlah transaksi dan penurunan nilai rata-rata deposit hampir separuh, pola klasik penghindaran deteksi. Keempat, dan paling relevan bagi Indonesia, penangkapan ratusan warga asing di Batam, Jakarta, dan Bali pada 2025 hingga 2026 adalah bukti langsung relokasi ke wilayah Indonesia. Keberhasilan Singapura pun tidak dapat digeneralisasi, karena ia lahir dari kombinasi kapasitas negara dan desain insentif yang belum dimiliki tetangganya. Kajian ini mempertahankan tesisnya dengan keyakinan sedang: ekonomi penipuan sedang berubah bentuk, bukan menghilang.

    XI

    Skenario hingga Akhir 2027 dan Rekomendasi Kebijakan

    Tiga skenario disusun untuk horizon hingga akhir 2027, dengan probabilitas yang merupakan penilaian berbasis bukti hingga 21 Oktober 2026. Skenario pertama, fragmentasi dan relokasi, membayangkan penindakan terus memecah kompleks besar, sementara operasi berpindah ke lokasi kecil di Kamboja dan Myanmar serta ke yurisdiksi baru, termasuk Indonesia, Filipina, dan kawasan di luar Asia; kerugian korban di Indonesia bertahan atau naik moderat. Skenario kedua, penyempitan bertahap, membayangkan tekanan terkoordinasi, yaitu sanksi, ekstradisi, penggabungan operator telekomunikasi ke IASC, dan pengaturan tanggung jawab bersama, mulai menurunkan kerugian per kapita secara terukur. Skenario ketiga, eskalasi berbasis kecerdasan buatan dan kripto, membayangkan pelaku memanfaatkan suara dan video sintetis serta stablecoin untuk menaikkan nilai per korban, sehingga kerugian melonjak meski jumlah kompleks fisik berkurang.

    Skenario ekonomi penipuan dan paparan Indonesia hingga akhir 2027 (penilaian penulis, 21 Oktober 2026)

    1. 1Fragmentasi dan relokasi50%
    2. 2Penyempitan bertahap30%
    3. 3Eskalasi berbasis AI dan kripto20%

    Probabilitas adalah penilaian analitis berdasarkan bukti yang tersedia hingga 21 Oktober 2026, bukan keluaran model statistik.

    Penanda yang perlu dipantau berbeda untuk setiap skenario. Skenario pertama menguat jika penangkapan warga asing dalam razia penipuan atau judi di Indonesia menjadi rutin setiap kuartal, jika pemetaan independen di Kamboja terus menunjukkan kompleks baru, dan jika permintaan repatriasi WNI dari Kamboja tetap di atas seribu orang per bulan. Skenario kedua menguat jika OJK kembali merilis seri kerugian dan rasio intersepsi naik di atas sepuluh persen, jika operator telekomunikasi benar-benar terintegrasi dalam IASC, dan jika laju laporan harian terus turun selama tiga kuartal berturut-turut. Skenario ketiga menguat jika kerugian rata-rata per laporan naik tajam, jika laporan penipuan dengan suara atau video sintetis menjadi kategori tersendiri, dan jika porsi kripto dalam kerugian terlapor meningkat. Data FBI tentang lebih dari 22.000 aduan terkait kecerdasan buatan dengan kerugian hampir US$900 juta pada 2025, menurut WaterISAC, adalah penanda awal yang patut dicermati.

    Rekomendasi pertama ditujukan kepada OJK: paling lambat kuartal kedua 2027, IASC perlu menerbitkan dataset bulanan terbuka dengan definisi baku, mencakup insiden baru, kerugian per jenis penipuan, waktu dari kejadian ke laporan, rasio intersepsi, dan rasio pemulihan, serta mengumumkan target rasio intersepsi tahunan. Rekomendasi kedua ditujukan kepada pemerintah dan DPR: sepanjang 2027, perlu disusun kerangka tanggung jawab bersama yang mengikat bank, penyedia dompet elektronik, dan operator seluler, dengan mengadaptasi model air terjun Singapura dan model penggantian Inggris secara bertahap, dimulai dari phishing dan rekening penampung yang terbukti lalai diawasi. Rekomendasi ketiga ditujukan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital bersama operator seluler: dalam dua belas bulan, integrasi penuh ke IASC, pemblokiran nomor yang dilaporkan secara waktu nyata, dan pengetatan registrasi kartu prabayar perlu dituntaskan, mengingat 173.718 nomor telepon telah dilaporkan korban hingga September 2026 menurut Kontan.

    Rekomendasi keempat ditujukan kepada Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran, Imigrasi, dan Polri: mulai 2027, perlu diterapkan penyaringan korban perdagangan orang yang seragam bagi setiap WNI yang dipulangkan, prinsip tidak menghukum korban yang dipaksa melakukan kejahatan, dan program reintegrasi untuk mencegah korban berulang, disertai satuan tugas bersama Polri dan Imigrasi untuk memetakan jaringan warga asing di Batam, Jakarta, Bali, dan kota lain sebelum operasi berskala kompleks terbentuk. Rekomendasi kelima ditujukan kepada PPATK dan Bank Indonesia: dalam satu tahun, pemantauan pola pemecahan transaksi pada pedagang QRIS dan dompet elektronik perlu diperkuat dengan indikator yang dipublikasikan secara agregat. Rekomendasi keenam ditujukan kepada aktor internasional: UNODC dan mitra ASEAN dapat memprioritaskan bantuan teknis untuk standardisasi data penipuan lintas negara, sedangkan Amerika Serikat, Inggris, dan Tiongkok perlu membuka jalur berbagi informasi tentang aset yang disita agar korban Indonesia dari jaringan yang sama berpeluang memperoleh restitusi.

    XII

    Keterbatasan dan Kesimpulan

    Keterbatasan kajian ini perlu dinyatakan secara terbuka. Pertama, sebagian besar data Indonesia diperoleh melalui transkripsi media atas paparan lisan, bukan dari dokumen statistik resmi, sehingga galat transkripsi tidak dapat sepenuhnya disingkirkan, sebagaimana tampak pada judul artikel yang tidak sesuai dengan batas datanya. Kedua, indikator turunan dihitung dengan penyebut yang kadang berbeda tanggal, dan batas atas pemulihan sengaja dibuat konservatif. Ketiga, estimasi regional bersandar pada pemodelan yang dokumen teknisnya tidak semuanya dapat diakses ulang. Keempat, data pelaku dan aliran kripto yang menyangkut Indonesia hampir tidak tersedia, sehingga analisis simpul monetisasi bertumpu pada data judi online sebagai proksi. Kelima, kajian ini belum memiliki data primer dari wawancara korban atau aparat, sehingga mekanisme mikro hanya dibaca melalui literatur dan laporan lembaga.

    Meski demikian, kesimpulan pokoknya kokoh terhadap keterbatasan itu. Ekonomi penipuan Asia Tenggara pada 2023 hingga 2026 adalah industri bernilai puluhan miliar dolar per tahun yang telah membuktikan kemampuannya beradaptasi terhadap penindakan paling keras dalam sejarahnya. Indonesia terpapar dalam tiga peran: sebagai pasar volume dengan lebih dari 700.000 laporan dalam kurang dari dua tahun, sebagai pemasok tenaga kerja dengan lebih dari 12.000 permintaan repatriasi dari Kamboja dalam enam bulan pertama 2026, dan sebagai tuan rumah baru bagi operasi yang terdesak dari pusat tradisionalnya. Respons nasional telah membangun fondasi kelembagaan yang berarti, tetapi masih mengukur keberhasilan dengan jumlah rekening yang diblokir, bukan dengan uang yang diselamatkan.

    Ukuran keberhasilan melawan penipuan bukan jumlah rekening yang diblokir, melainkan jumlah rupiah yang kembali ke tangan korban.

    Pilihan kebijakan di depan karena itu jelas. Selama kerugian sepenuhnya jatuh pada korban dan data tetap tertutup, Indonesia akan terus menjadi pasar yang menguntungkan, pemasok tenaga yang murah, dan tempat persembunyian yang nyaman bagi industri ini. Transparansi data, alokasi tanggung jawab yang mengubah insentif pelaku usaha, dan perlakuan terhadap WNI di kompleks sebagai korban sekaligus sumber intelijen adalah tiga tuas yang dapat menggeser Indonesia dari skenario fragmentasi menuju skenario penyempitan. Dalam peradaban digital, kepercayaan adalah infrastruktur, dan infrastruktur itu kini sedang digerogoti secara industrial.

    ◆

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    Literatur ilmiah

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    Media dan pemberitaan

    Arsip & Pustaka

    Cara Mengutip

    Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. (2026). Neraca Gelap Ekonomi Penipuan Digital: Dataset Kerugian, Korban, dan Respons Kebijakan atas Industri Scam di Asia Tenggara dan Indonesia, 2023–2026. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/dataset-ekonomi-penipuan-digital-asia-tenggara/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh; pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy. Meraih PhD Sosiologi dari La Trobe University.

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →