Dataset · Peradaban Digital · Ekonomi Penipuan Lintas Negara
Neraca Gelap Ekonomi Penipuan DigitalDataset Kerugian, Korban, dan Respons Kebijakan atas Industri Scam di Asia Tenggara dan Indonesia, 2023–2026
Lebih dari 700.000 laporan penipuan, belasan ribu WNI yang meminta dipulangkan dari kompleks Kamboja, dan rasio intersepsi di bawah lima persen. Dataset ini merangkai angka resmi dan estimasi internasional 2023–2026, mencatat setiap konflik antarsumber, dan menunjukkan bahwa industri scam Asia Tenggara sedang berpindah, bukan runtuh.

Abstrak
Kajian dataset ini menghimpun, membersihkan, dan menilai mutu data tentang ekonomi penipuan digital berskala industri di Asia Tenggara dan paparannya terhadap Indonesia pada 2023 hingga Oktober 2026. Tujuh tabel data dan satu kamus data menggabungkan seri kumulatif Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) milik OJK, catatan Kementerian Luar Negeri tentang warga negara Indonesia di kompleks penipuan Kamboja dan Myanmar, estimasi UNODC, USIP, OHCHR, GASA, dan FBI IC3, kronologi penindakan terhadap Prince Group, KK Park, dan jaringan Kokang, data perputaran judi online dari PPATK, serta indikator hasil kebijakan di Singapura, Inggris, dan Australia. Kerangka empat simpul (rekrutmen, produksi, kontak, monetisasi) dan tiga rasio (intersepsi, pemulihan, perpindahan) dipakai untuk membaca data tersebut. Temuan utamanya: hingga 30 September 2026 IASC menerima 702.342 laporan dan menahan Rp811,1 miliar, tetapi rasio intersepsi terhadap kerugian terlapor turun dari 8,5 persen menjadi sekitar 4,8 persen, dan dana yang benar-benar kembali ke korban tidak lebih dari 2,3 persen kerugian. Penindakan regional 2025 sampai 2026 memukul simpul paling terlihat, namun data menunjukkan fragmentasi dan relokasi, termasuk ke Indonesia. Kajian ini menawarkan tiga skenario hingga akhir 2027 beserta rekomendasi yang terikat aktor dan tenggat, sekaligus mencatat setiap konflik angka antarsumber.
Ekonomi penipuan Asia Tenggara tidak sedang runtuh melainkan sedang terpecah dan berpindah, dan Indonesia kini terpapar dalam tiga peran sekaligus, sebagai pasar korban, pemasok tenaga kerja, dan tuan rumah baru, sementara arsitektur respons nasionalnya masih bertumpu pada pemblokiran yang menahan kurang dari lima persen kerugian.
- DataOJK/IASC, Kemlu dan KBRI, PPATK, Komdigi, UNODC, OHCHR, USIP, GASA, FBI IC3, serta otoritas Singapura, Inggris, dan Australia
- KerangkaEmpat simpul rantai nilai (rekrutmen, produksi, kontak, monetisasi) dan tiga rasio (intersepsi, pemulihan, perpindahan)
- ProyeksiTiga skenario hingga akhir 2027 beserta penanda dan enam rekomendasi berjangka waktu
Kata kunci
- penipuan digital
- Indonesia Anti-Scam Centre
- kompleks penipuan
- perdagangan orang
- judi online
- Asia Tenggara
- tanggung jawab bersama
- kamus data
Ringkasan Eksekutif: Pertanyaan, Jawaban Pokok, dan Taruhannya
Pertanyaan kajian ini sederhana untuk dirumuskan tetapi sulit dijawab dengan data: seberapa besar ekonomi penipuan digital berskala industri di Asia Tenggara pada 2023 hingga 2026, bagaimana Indonesia terpapar olehnya, dan apakah respons kebijakan yang tersedia sepadan dengan skala ancaman. Jawaban pokoknya dapat dinyatakan dalam satu kalimat. Gelombang penindakan sepanjang 2025 hingga 2026, mulai dari sanksi Amerika Serikat dan Inggris terhadap Prince Group, penghancuran sebagian KK Park di Myawaddy, ekstradisi Chen Zhi ke Tiongkok, sampai eksekusi para pemimpin keluarga Ming dan Bai, telah mematahkan simpul-simpul yang paling terlihat, tetapi tidak mematahkan model bisnisnya. Data dari Kamboja, Myanmar, dan Indonesia sendiri memperlihatkan pola fragmentasi ke lokasi yang lebih kecil dan relokasi ke yurisdiksi baru, sementara kerugian korban tetap berada pada orde puluhan miliar dolar per tahun di tingkat kawasan.
Bagi Indonesia, bukti intinya terkumpul dalam seri IASC. Hingga 30 September 2026, pusat yang dibentuk OJK pada 22 November 2024 itu telah menerima 702.342 laporan, memverifikasi 1.372.483 rekening terkait penipuan, memblokir 702.833 di antaranya, menahan Rp811,1 miliar dana korban, dan mengembalikan Rp207,16 miliar, sebagaimana dipaparkan dalam konferensi pers OJK 5 Oktober 2026. Angka kerugian kumulatif terakhir yang dirilis, Rp9,1 triliun per 14 Januari 2026, berarti sistem hanya mampu menahan kira-kira lima rupiah dari setiap seratus rupiah yang hilang, dan mengembalikan jauh lebih sedikit lagi. Kajian ini menilai arah temuan tersebut dengan keyakinan tinggi, sedangkan besaran persisnya dengan keyakinan sedang, karena seri kerugian berhenti dipublikasikan setelah Januari 2026 dan definisi rekening diblokir mengalami patahan.
Taruhannya bersifat global sekaligus peradaban. Laporan UNODC yang dirilis 21 Juli 2026 memperkirakan kerugian akibat scam di Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru mencapai US$88,3 sampai 114,1 miliar pada 2025, menurut liputan OCCRP. Di Amerika Serikat, laporan IC3 2025 mencatat kerugian terlapor sebesar US$20,877 miliar, lebih dari separuhnya terkait kripto. Industri ini bertumpu pada perdagangan orang, pencucian uang lintas yurisdiksi, dan perlindungan elite lokal, sehingga ia adalah persoalan keamanan, hak asasi, dan tata kelola sekaligus. Bagi negara dengan sistem pembayaran instan yang tumbuh cepat seperti Indonesia, yang dipertaruhkan pada akhirnya adalah kepercayaan, yakni modal tak kasatmata yang menopang seluruh agenda inklusi keuangan dan ekonomi digital. Dataset ini disusun agar perdebatan kebijakan berpijak pada angka yang dapat ditelusuri, lengkap dengan catatan di mana angka-angka itu saling bertentangan.
Kerangka Analitis dan Catatan Metode
Kajian ini membaca ekonomi penipuan sebagai rantai nilai industri yang terdiri atas empat simpul. Simpul pertama adalah rekrutmen, yaitu pasokan tenaga kerja yang sering diperoleh melalui iklan lowongan palsu dan berakhir pada kerja paksa. Simpul kedua adalah produksi, yakni kompleks fisik di zona ekonomi khusus, bekas kasino, atau gedung perkantoran tempat skrip penipuan dijalankan dalam sif. Simpul ketiga adalah kontak, yaitu infrastruktur telekomunikasi dan platform digital yang memungkinkan pelaku menjangkau korban dalam jumlah besar. Simpul keempat adalah monetisasi, mencakup rekening penampung, dompet elektronik, kode QR pembayaran, aset kripto, dan, sebagaimana diuraikan pada bagian VIII, infrastruktur pembayaran judi online. Pembagian ini sejalan dengan meta-sintesis Lazarus dan kawan-kawan dalam Deviant Behavior (2026), yang menyimpulkan dari 50 publikasi bahwa kompleks penipuan adalah sistem sosio-teknis terindustrialisasi yang hidup di antara ekonomi legal dan ilegal, memanfaatkan zona ekonomi khusus yang longgar dan kerentanan migran.
Di atas empat simpul itu, kajian ini menurunkan tiga rasio sebagai alat ukur respons. Rasio intersepsi adalah dana yang berhasil diblokir dibagi kerugian terlapor; ia mengukur kecepatan sistem menahan uang sebelum berpindah. Rasio pemulihan adalah dana yang benar-benar kembali ke korban dibagi kerugian atau dibagi dana yang diblokir; ia mengukur kemampuan sistem mengubah intersepsi menjadi keadilan bagi korban. Indikator perpindahan adalah himpunan penanda bahwa aktivitas tidak hilang tetapi bergeser, misalnya bertambahnya kompleks meski ada razia, penangkapan warga asing di luar pusat tradisional, atau fragmentasi transaksi menjadi nominal yang lebih kecil. Ketiga ukuran ini dipilih karena dapat dihitung dari data publik dan karena masing-masing menyasar satu titik lemah yang berbeda dalam rantai nilai.
Metodenya terdiri atas empat langkah. Pertama, setiap angka dikumpulkan dari sumber primer atau dari media yang mengutip pejabat bernama pada tanggal tertentu, dan batas data dicatat terpisah dari tanggal publikasi. Kedua, angka yang saling bertentangan tidak dipilih salah satunya, melainkan ditampilkan berdampingan dan dicatat dalam kamus data. Ketiga, indikator turunan dihitung secara transparan dengan rumus yang dicantumkan. Keempat, setiap penilaian kunci diberi label keyakinan tinggi, sedang, atau rendah, dengan mengikuti praktik analisis intelijen terstruktur: keyakinan tinggi berarti beberapa sumber independen bermutu baik sejalan; keyakinan sedang berarti sumber kredibel tetapi tunggal atau berbeda cakupan; keyakinan rendah berarti bukti tidak langsung. Untuk pertanyaan sentral apakah ekonomi penipuan menyusut atau berpindah, kajian ini menimbang kedua hipotesis secara bersaing dan mencari bukti yang paling membedakan keduanya, bukan bukti yang sekadar konsisten dengan salah satunya.
Kerangka ini juga bertumpu pada literatur yang lebih luas. Cassandra Cross (2024) menunjukkan bahwa penipuan yang dikenal sebagai pig butchering adalah konvergensi penipuan asmara dan penipuan investasi, sehingga kategori pelaporan konvensional cenderung salah menghitungnya. Laporan Global Initiative Against Transnational Organized Crime (Mei 2025) memperkenalkan konsep role shifters, yaitu aktor yang mengaburkan batas antara pemerintah, bisnis, dan kejahatan, yang menjelaskan mengapa penindakan sering berhenti pada pekerja lapangan. Jauh sebelum gelombang kompleks ini, buku Marc Goodman, Future Crimes, sudah menggambarkan ekonomi bawah tanah digital yang beroperasi layaknya korporasi. Adapun buku tahun 2026 berjudul The Digital Civilization menawarkan gagasan Abandoned Society, kelompok yang tersisih dari manfaat digital tetapi menanggung risikonya, yang dalam kajian ini menjadi lensa untuk membaca mengapa pencari kerja muda dan pengguna dompet digital berpenghasilan rendah menjadi bahan bakar sekaligus korban industri ini.
Provenans Data, Pengolahan, dan Kamus Data
Seluruh data dalam kajian ini bersumber dari dokumen yang dapat diakses publik hingga 21 Oktober 2026. Seri Indonesia berasal dari paparan OJK dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner bulanan, rapat kerja dengan DPR, dan siaran pers resmi, yang kemudian diteruskan oleh media seperti Kontan, CNN Indonesia, Bisnis, dan Investortrust. Persoalan provenans pertama langsung tampak di sini: OJK tidak menerbitkan dataset IASC dalam format terbuka, sehingga peneliti bergantung pada transkripsi wartawan. Kajian ini menautkan setiap titik data ke artikel yang memuatnya dan memeriksa konsistensi internal, misalnya apakah jumlah laporan melalui pelaku usaha dan laporan langsung korban berjumlah sama dengan totalnya. Pada rilis 30 September 2026, misalnya, 334.756 laporan via pelaku usaha jasa keuangan dan 367.586 laporan langsung korban memang berjumlah 702.342.
Data tentang warga negara Indonesia berasal dari pernyataan Kementerian Luar Negeri, KBRI Phnom Penh, dan KBRI Yangon yang dikutip media nasional dan kantor berita. Estimasi regional berasal dari tiga keluarga sumber yang metodenya berbeda secara mendasar: lembaga multilateral (UNODC, OHCHR) yang menggabungkan data resmi negara dan pemodelan, kelompok studi kebijakan (USIP) yang menggunakan triangulasi pakar, serta survei konsumen (GASA) yang mengekstrapolasi dari sampel daring. Data penindakan berasal dari siaran pers pemerintah Amerika Serikat, putusan pengadilan Tiongkok sebagaimana dilaporkan media, pernyataan pemerintah Kamboja dan Thailand, serta organisasi hak asasi. Data kebijakan pembanding berasal dari kepolisian Singapura, regulator sistem pembayaran Inggris, dan National Anti-Scam Centre Australia, yang semuanya menerbitkan statistik dengan metodologi tertulis.
Pengolahan data mengikuti tiga aturan. Nilai mata uang tidak dikonversi ke satu mata uang bersama kecuali sumber sendiri yang melakukannya, karena konversi dengan kurs berbeda tanggal akan menambah lapisan galat yang tidak perlu. Indikator turunan hanya dihitung dari pasangan angka dengan batas data yang sama atau, jika tidak tersedia, dengan catatan eksplisit tentang ketidaksesuaian tanggal. Angka yang saling bertentangan dibiarkan berdampingan. Tabel 8 di bawah ini merangkum variabel, definisi, satuan, sumber, cakupan, dan nilai mutu setiap kelompok data, dengan skala A untuk statistik resmi bermetodologi terbit, B untuk data resmi yang parsial atau diteruskan media, dan C untuk estimasi, survei, atau angka yang bertentangan.
| Variabel | Definisi | Satuan | Sumber | Cakupan | Mutu dan catatan konflik |
|---|---|---|---|---|---|
| iasc_laporan | Laporan penipuan kumulatif yang diterima IASC, via pelaku usaha jasa keuangan dan langsung oleh korban | jumlah | OJK, konferensi pers RDK, diteruskan media | 22 Nov 2024–30 Sep 2026 | B: resmi tetapi tanpa dataset terbuka |
| iasc_kerugian | Kerugian yang dilaporkan korban, kumulatif | Rp | OJK | s.d. 14 Jan 2026 | C: swa-lapor tanpa verifikasi; tidak dirilis lagi setelah Jan 2026; GASA memperkirakan Rp49 T per 12 bulan |
| iasc_rek_blokir | Rekening terindikasi penipuan yang telah diblokir | jumlah | OJK | Jul 2025–Sep 2026 | C: patahan definisi, 127.047 (23 Des 2025) melonjak ke 397.028 (14 Jan 2026); 510.357 (24 Okt 2025) vs 100.565 (31 Okt 2025) |
| iasc_dana_blokir / dana_kembali | Dana korban yang tertahan / telah dikembalikan | Rp | OJK | Jul 2025–Sep 2026 | B: konsisten antarrilis; judul Kontan 10 Nov 2025 menyebut “September” padahal batas data 31 Okt 2025 |
| wni_kasus_scam | Kasus WNI terkait online scam di luar negeri | kasus/orang | Kemlu | 2020–Okt 2025 | C: ±7.600 (2021–Jun 2025) vs >10.000 (2020–Okt 2025); satuan kasus dan orang tercampur; korban berulang |
| wni_repatriasi_kh | WNI meminta bantuan atau dipulangkan dari Kamboja | orang | KBRI Phnom Penh | Jan–Jul 2026 | B: rincian harian 1.726+224+164 = 2.114, bukan 2.117 |
| kerugian_regional | Kerugian akibat scam di kawasan | US$ | UNODC, USIP | 2023–2025 | C: cakupan berbeda; USIP Mekong US$43,8 mlrd (Asia Financial) vs US$39 mlrd (VOA) |
| survei_gasa | Prevalensi dan kerugian menurut survei | % dan Rp/US$ | GASA | 2025 | C: survei daring n=1.000 (Indonesia), n=46.000 (global) |
| ic3_kerugian | Kerugian terlapor ke FBI | US$ | FBI IC3 | 2025 | B: penipuan investasi >US$8,6 mlrd (WaterISAC) vs penipuan investasi kripto US$7,2 mlrd (FOX 5), kategori berbeda |
| judol_perputaran | Perputaran dana judi online | Rp | PPATK | 2017–Sem. I 2026 | B: proyeksi Rp900 T untuk 2024 vs realisasi Rp359,81 T |
| kh_penindakan | Lokasi, penahanan, deportasi di Kamboja | jumlah | Pemerintah Kamboja; Amnesty | 2025–2026 | C: klaim “bersih” vs 86 kompleks (Amnesty) |
| id_razia_wna | WNA ditangkap dalam razia scam/judi di Indonesia | orang | Polri, Imigrasi | Mei 2026 | C: tanggal (7 vs 9 Mei) dan lokasi Jakarta berbeda antarmedia |
| sg / uk / au | Kerugian, kasus, penggantian | S$, £, A$ | SPF, PSR, UK Finance, NASC | 2024–Sem. I 2026 | A: statistik resmi; UK: 88% (dashboard, dalam cakupan) vs 65% (evaluasi, semua APP via FPS) |
Sumber: disusun kajian ini. Mutu A = statistik resmi dengan metodologi terbit; B = resmi tetapi parsial atau lewat media; C = estimasi, survei, atau angka bertentangan.
Tiga konflik dalam kamus data layak disorot karena memengaruhi interpretasi. Konflik pertama menyangkut rekening diblokir: seri Kontan mencatat 127.047 rekening per 23 Desember 2025, lalu 397.028 per 14 Januari 2026, lonjakan tiga kali lipat dalam tiga minggu yang hampir pasti mencerminkan perubahan definisi atau penggabungan pemblokiran oleh bank, bukan peningkatan kinerja mendadak. Pada saat yang hampir sama, paparan OJK di sebuah forum industri pada 31 Oktober 2025 menyebut 510.357 rekening diblokir, sementara seri Kontan per 31 Oktober 2025 menyebut 100.565. Konflik kedua menyangkut besaran kerugian: Rp9,1 triliun versi IASC berbanding Rp49 triliun versi survei GASA, selisih lebih dari lima kali lipat yang mencerminkan perbedaan antara kerugian yang dilaporkan dan kerugian yang dialami. Konflik ketiga menyangkut warga negara Indonesia, karena Kemlu memakai satuan kasus dan satuan orang secara bergantian. Keyakinan kajian ini terhadap seri dana diblokir dan dana dikembalikan tinggi; terhadap seri rekening diblokir rendah.
Indonesia sebagai Pasar Korban: Membaca Seri IASC
Tabel 1 menyajikan sepuluh titik data IASC dari Juli 2025 hingga September 2026. Pola paling mencolok adalah pertumbuhan laporan yang tetap tinggi: dari 204.011 laporan per 29 Juli 2025 menjadi 702.342 per 30 September 2026, atau lebih dari tiga kali lipat dalam empat belas bulan. Kerugian kumulatif yang dilaporkan bergerak dari Rp4,1 triliun ke Rp9,1 triliun antara Juli 2025 dan Januari 2026, lalu berhenti dirilis. Sejak rilis Mei 2026, OJK menonjolkan dana diblokir dan dana dikembalikan, sebuah pergeseran komunikasi yang dapat dipahami secara kelembagaan tetapi menghilangkan penyebut yang paling penting untuk menilai kinerja.
| Batas data | Laporan | Kerugian dilaporkan | Rekening dilaporkan | Rekening diblokir | Dana diblokir | Dana dikembalikan |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 29 Jul 2025 | 204.011 | Rp4,1 T | 326.283 | 66.271 | Rp348,3 M | n.a. |
| 24 Okt 2025 | 311.597 | Rp7,3 T | n.a. | 510.357* | Rp381,3 M | n.a. |
| 31 Okt 2025 | 323.841 | Rp7,5 T | 530.794 | 100.565 | Rp383,6 M | n.a. |
| 30 Nov 2025 | 373.129 | Rp8,2 T | 619.394 | 117.301 | Rp389,3 M | n.a. |
| 23 Des 2025 | 411.055 | Rp9,0 T | 681.890 | 127.047 | Rp402,5 M | n.a. |
| 14 Jan 2026 | 432.637 | Rp9,1 T | 721.101 | 397.028 | Rp436,88 M | n.a. |
| 31 Mei 2026 | 579.459 | tidak dirilis | 998.558 | 515.553 | Rp638,9 M | Rp169,3 M |
| Juni 2026 | >608.000 | tidak dirilis | n.a. | >557.000 | Rp674 M | ±Rp200 M |
| 31 Jul 2026 | 636.014 | tidak dirilis | 1.176.571 | 604.923 | Rp723,7 M | Rp204,3 M |
| 30 Sep 2026 | 702.342 | tidak dirilis | 1.372.483 | 702.833 | Rp811,1 M | Rp207,16 M |
Sumber: Investortrust, 6 Agu 2025 · Indonesia Business Post, 3 Nov 2025 · Kontan, 10 Nov 2025 · Kontan, 12 Des 2025 · Kontan, 9 Jan 2026 · Kontan, 22 Jan 2026 · Kontan, 30 Jun 2026 · OJK SP 127, 6 Jul 2026 · CNN Indonesia, 5 Agu 2026 · Kontan, 6 Okt 2026. T = triliun, M = miliar. *Angka 510.357 disebut sebagai rekening diblokir dalam paparan 31 Oktober 2025, bertentangan dengan 100.565 pada seri Kontan; lihat Tabel 8.
Tabel 2 mengubah seri mentah itu menjadi indikator. Rasio intersepsi turun dari 8,5 persen pada Juli 2025 menjadi 4,5 sampai 4,8 persen pada akhir 2025 dan awal 2026. Artinya, ketika volume laporan naik, kemampuan sistem menahan dana tidak ikut naik secara proporsional. Dana yang tertahan per rekening yang diblokir hanya sekitar Rp1,15 juta, angka yang menunjukkan bahwa sebagian besar rekening penampung sudah dikuras sebelum pemblokiran terjadi. Rasio pengembalian terhadap dana yang diblokir relatif stabil di kisaran seperempat, tetapi jika dibandingkan dengan kerugian terakhir yang dirilis, dana yang kembali ke korban tidak melebihi 2,3 persen. Batas atas ini sengaja dihitung dengan penyebut lama; kerugian sebenarnya hingga September 2026 pasti lebih besar, sehingga rasio sesungguhnya lebih kecil. Kajian ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa pemulihan bagi korban di Indonesia berada pada orde satu digit persen.
| Indikator | Nilai | Rumus dan periode |
|---|---|---|
| Rasio intersepsi | 8,5% → 5,1% → 4,7% → 4,5% → 4,8% | Dana diblokir / kerugian dilaporkan; Jul, Okt, Nov, Des 2025, Jan 2026 |
| Rasio pengembalian atas dana diblokir | 26,5% (Mei 2026); 25,5% (Sep 2026) | Dana dikembalikan / dana diblokir |
| Batas atas pemulihan atas kerugian | ≤2,3% | Rp207,16 M (Sep 2026) / Rp9,1 T (kerugian terakhir yang dirilis, Jan 2026) |
| Laju laporan harian | ±1.353 → ±1.072 → ±1.007 | 29 Jul 2025–14 Jan 2026; 14 Jan–31 Mei 2026; 31 Mei–30 Sep 2026 |
| Pangsa laporan langsung korban | 36,4% → 52,3% | 74.218/204.011 (Jul 2025); 367.586/702.342 (Sep 2026) |
| Pangsa rekening dilaporkan yang diblokir | 51,2% | 702.833 / 1.372.483 (Sep 2026) |
| Dana tertahan per rekening diblokir | ±Rp1,15 juta | Rp811,1 M / 702.833 (Sep 2026) |
| Kerugian rata-rata per laporan | ±Rp21,0 juta | Rp9,1 T / 432.637 (Jan 2026) |
| Konsentrasi geografis laporan | Jawa 69,8%; Jawa Barat 20,7% | 404.502 dan 119.750 dari 579.459 (Mei 2026) |
Sumber: perhitungan kajian ini dari Kontan, 6 Okt 2026, Investortrust, 6 Agu 2025, Kontan, 30 Jun 2026, Kontan, 22 Jan 2026. Angka dibulatkan.
Dua indikator lain mengubah cara membaca pertumbuhan laporan. Laju laporan harian justru menurun, dari sekitar 1.353 laporan per hari pada paruh kedua 2025 menjadi sekitar 1.007 per hari antara Juni dan September 2026. Pada saat yang sama, pangsa laporan yang diajukan langsung oleh korban naik dari 36,4 persen menjadi 52,3 persen. Kombinasi ini konsisten dengan dua penjelasan yang tidak saling meniadakan: kanal pelaporan IASC makin dikenal sehingga lebih banyak korban melapor sendiri, sementara laporan yang diteruskan bank melambat, entah karena insiden menurun atau karena bank menangani sebagian kasus secara internal. Kajian ini tidak dapat membedakan keduanya dengan data yang ada dan karena itu menilai tren insiden sesungguhnya dengan keyakinan rendah.
Komposisi jenis penipuan memperjelas simpul kontak yang dimanfaatkan. Per 31 Mei 2026, rilis Satgas PASTI mencatat penipuan transaksi belanja sebagai kategori terbesar dengan 77.740 laporan, disusul penipuan mengaku pihak lain atau fake call sebanyak 47.269, penipuan investasi 26.649, dan penipuan lowongan kerja 23.910. Konsentrasi geografisnya juga tajam: Pulau Jawa menyumbang 404.502 dari 579.459 laporan atau 69,8 persen, dan Jawa Barat sendiri 20,7 persen. Pola ini menunjukkan bahwa sebagian besar kerugian Indonesia tidak berasal dari skema canggih bernilai besar, melainkan dari volume tinggi penipuan bernilai menengah. Kerugian rata-rata per laporan pada Januari 2026 sekitar Rp21 juta. Data survei GASA untuk Indonesia (2025), yang menemukan 66 persen orang dewasa menjumpai upaya penipuan dalam setahun dan 14 persen kehilangan uang, mengisyaratkan bahwa IASC baru menangkap sebagian kecil dari populasi korban.
Perbandingan lintas negara yang dipaparkan OJK sendiri menegaskan keunikan profil Indonesia. Menurut laporan Indonesia Business Post (November 2025), Indonesia mencatat sekitar 874 laporan per hari pada periode November 2024 hingga Oktober 2025, jauh di atas Malaysia, Singapura, atau Hong Kong, tetapi dengan total kerugian yang lebih rendah daripada Singapura dan Hong Kong. Dengan kata lain, Indonesia adalah pasar volume, bukan pasar nilai. Implikasi analitisnya penting: strategi yang berhasil di pasar bernilai tinggi, seperti investigasi mendalam per kasus, tidak dapat diskalakan ke ratusan ribu laporan bernilai menengah. Indonesia membutuhkan intersepsi otomatis pada simpul kontak dan monetisasi, bukan sekadar penanganan kasus yang lebih cepat.
Indonesia sebagai Pemasok Tenaga dan Tuan Rumah Baru
Peran kedua Indonesia dalam ekonomi ini adalah sebagai pemasok tenaga kerja, dan datanya, seperti terangkum dalam Tabel 3, bertumbuh lebih cepat daripada kapasitas negara menanganinya. Kementerian Luar Negeri mencatat lebih dari 4.700 WNI dipulangkan dari operasi penipuan daring antara 2020 dan September 2024, menurut data yang dikutip AFP melalui Borneo Post. Pada Juni 2025, Menteri Luar Negeri Sugiono menyebut sekitar 7.600 kasus untuk periode 2021 hingga 2025, dengan Kamboja sekitar 4.300 dan Myanmar sekitar 1.100, sebagaimana dilaporkan Bisnis. Pada Oktober 2025, Direktur Pelindungan WNI menyebut lebih dari 10.000 kasus di sepuluh negara sejak 2020. Perbedaan angka 7.600 dan lebih dari 10.000 dalam rentang empat bulan sebagian disebabkan oleh perbedaan tahun awal, tetapi juga oleh pencampuran satuan kasus dan satuan orang, termasuk korban berulang yang kembali ke kompleks setelah dipulangkan.
| Indikator | Nilai | Periode | Sumber |
|---|---|---|---|
| WNI dipulangkan dari operasi online scam | >4.700 | 2020–Sep 2024 | Kemlu via AFP/Borneo Post |
| WNI dari Myanmar dipulangkan via Thailand | 561 (±400 + ±161) | Mar 2025 | Borneo Post, 18 Mar 2025 |
| Kasus WNI terkait online scam | ±7.600 (Kamboja ±4.300; Myanmar ±1.100; 1.508 terkait TPPO) | 2021–Jun 2025 | Bisnis, 30 Jun 2025 |
| Kasus online scam melibatkan WNI | >10.000 di 10 negara | 2020–Okt 2025 | IDX Channel, 21 Okt 2025 |
| WNI terdampak operasi di Myawaddy | ±400 (>200 di Shwe Kokko) | Okt–Nov 2025 | Metro TV, 22 Nov 2025 |
| Kasus ditangani KBRI Phnom Penh | 5.088 | 2025 | Bisnis, 24 Jan 2026 |
| WNI minta dipulangkan pascarazia Kamboja | 2.117 | 16–23 Jan 2026 | Bisnis, 24 Jan 2026 |
| WNI minta bantuan pulang / dipulangkan | 5.481 / 1.816 | 16 Jan–8 Mar 2026 | RRI, 11 Mar 2026 |
| WNI minta dukungan repatriasi / dipulangkan | 12.207 / 5.966; ±1.100 ditahan di Pochentong; >600 di lokasi lain | 1 Jan–9 Jul 2026 | RRI, 10 Jul 2026 |
| WNI dituntut dalam jaringan scam di Bali yang menyasar warga AS | 38 | s.d. Nov 2025 | DOJ, 12 Nov 2025 |
Sumber: sebagaimana tercantum per baris. Angka Kemlu mencampur satuan kasus dan orang; lihat Tabel 8.
Tahun 2026 membawa lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setelah razia pemerintah Kamboja pada pertengahan Januari 2026, jumlah WNI yang mendaftar untuk dipulangkan mencapai 2.117 orang dalam sepekan, menurut Bisnis yang mengutip Duta Besar Santo Darmosumarto; sebagai pembanding, sepanjang 2025 KBRI Phnom Penh menangani 5.088 kasus. Hingga 8 Maret 2026, 5.481 orang meminta bantuan pulang dan 1.816 telah dipulangkan. Pada 10 Juli 2026, RRI melaporkan bahwa 12.207 WNI meminta dukungan repatriasi sejak awal tahun, 5.966 telah dipulangkan, sekitar 1.100 ditahan di fasilitas imigrasi Pochentong, dan lebih dari 600 lainnya berada di lokasi yang diduga kompleks penipuan di Bati, Siem Reap, Phnom Penh, dan Sihanoukville. Dalam enam bulan pertama 2026 saja, permintaan bantuan dari Kamboja lebih dari dua kali lipat total kasus setahun sebelumnya.
Dari sisi Myanmar, operasi junta di KK Park pada Oktober 2025 dan di Shwe Kokko pada 17 November 2025 berdampak pada sekitar 400 WNI, dengan lebih dari 200 di antaranya ditahan di Shwe Kokko bersama 1.367 warga asing lain, menurut Metro TV yang mengutip KBRI Yangon. Pemulangan berlangsung lambat karena kapasitas penampungan penuh dan karena verifikasi status korban memakan waktu. Di sinilah literatur tentang kaburnya batas korban dan pelaku menjadi relevan secara operasional. Penelitian Luong dan rekan (2024) tentang pekerja Vietnam di Kamboja menunjukkan bagaimana lowongan palsu yang menyasar lulusan berketerampilan teknologi informasi dan layanan pelanggan menjadi pintu masuk kerja paksa. Profil serupa muncul dalam kasus Indonesia, dan ia menjelaskan mengapa penipuan lowongan kerja sekaligus menjadi kategori besar dalam laporan IASC: simpul rekrutmen dan simpul kontak memakai teknik yang sama terhadap populasi yang sama.
Peran ketiga, sebagai tuan rumah, adalah perkembangan paling mengkhawatirkan dalam data 2025 hingga 2026. Siaran pers Departemen Kehakiman AS tentang Scam Center Strike Force pada November 2025 menyebut jaringan penipuan di Bali yang dikendalikan fasilitator berbasis Kamboja dan menargetkan lebih dari 150 korban di Amerika Serikat, dengan 38 warga negara Indonesia dituntut berdasarkan informasi satuan tugas tersebut. Pada Mei 2026, aparat menangkap 210 warga asing di Batam atas dugaan penipuan investasi daring dan 321 warga asing di Jakarta yang mengoperasikan 75 situs judi online, mayoritas warga Vietnam dan Tiongkok, menurut Reuters melalui Arab News. Pejabat Interpol Indonesia dalam laporan yang sama menyatakan bahwa operasi judi online tampak berpindah dari kota-kota Kamboja ke Indonesia, dan South China Morning Post mengutip analis yang menunjuk rezim visa yang longgar dan penegakan hukum yang lemah sebagai daya tariknya. Kajian ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa Indonesia sedang menjadi salah satu tujuan relokasi, dan dengan keyakinan rendah mengenai skala relokasi tersebut, karena data penangkapan belum menjadi seri yang konsisten.
Skala Regional dan Global: Membandingkan Estimasi yang Bertentangan
Tabel 4 mengumpulkan sepuluh estimasi kunci. Membacanya memerlukan disiplin metodologis, karena angka-angka itu mengukur hal yang berbeda: jumlah orang yang tertahan, dana yang dicuri, kerugian yang dilaporkan, atau kerugian menurut survei. Estimasi tenaga kerja paling awal yang berpengaruh datang dari OHCHR pada Agustus 2023, yang menyebut setidaknya 120.000 orang di Myanmar dan sekitar 100.000 di Kamboja mungkin dipaksa bekerja dalam operasi penipuan daring, sebagaimana dilaporkan UN News. Kelompok studi USIP pada Mei 2024 memperkirakan sekitar 305.000 pekerja scam di Myanmar, Kamboja, dan Laos, dan dalam kesaksian tertulis Jason Tower di Kongres AS (Juli 2024) menyatakan bahwa kelompok-kelompok ini mencuri sekitar US$64 miliar per tahun hingga akhir 2023.
| Estimasi | Nilai | Cakupan dan tahun | Sumber dan sifat data |
|---|---|---|---|
| Orang tertahan di operasi scam | ≥120.000 (Myanmar); 100.000 (Kamboja) | 2023 | OHCHR via UN News; estimasi kredibel, bukan sensus |
| Dana dicuri sindikat | US$63,9 mlrd global; Mekong US$43,8 mlrd atau US$39 mlrd | 2023 | Asia Financial vs VOA atas laporan USIP Mei 2024; pemodelan |
| Tenaga kerja scam | ±305.000 di Myanmar, Kamboja, Laos | 2023–2024 | VOA; estimasi kelompok studi |
| Kerugian di Asia Timur dan Tenggara | ±US$37 mlrd | laporan UNODC April 2025 | AsiaNews; agregasi data resmi |
| Kerugian akibat scam | US$88,3–114,1 mlrd | Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru; 2025 | UNODC, Jul 2026 via OCCRP; rentang model |
| Kerugian global (survei) | US$442 mlrd; 57% orang dewasa mengalami scam | 42 negara, 46.000 responden; 2025 | GASA/Feedzai; survei daring |
| Kerugian Indonesia (survei) | Rp49 T (US$3,3 mlrd); 66% menjumpai, 14% kehilangan uang | 1.000 responden; 26 Feb–14 Mar 2025 | GASA/Mastercard; survei daring |
| Kerugian terlapor di AS | US$20,877 mlrd; 1.008.597 aduan; kripto US$11,366 mlrd | 2025 | FBI IC3 via FOX 5; data aduan |
| Kerugian warga AS akibat scam Asia Tenggara | ≥US$10 mlrd (+66%) | 2024 | US Treasury; estimasi pemerintah |
| Hasil kejahatan keluarga Ming (Kokang) | >100 mlrd yuan (±US$13,9 mlrd) | 2015–2023 | OCCRP; putusan pengadilan RRT |
Sumber: sebagaimana tercantum per baris. mlrd = miliar.
Konflik internal muncul bahkan dalam satu laporan. Untuk wilayah Mekong, Asia Financial melaporkan angka US$43,8 miliar per tahun, setara sekitar 40 persen produk domestik bruto gabungan tiga negara, sedangkan VOA melaporkan US$39 miliar untuk Myanmar, Kamboja, dan Laos. Kajian ini mencatat keduanya tanpa memilih, karena dokumen primernya tidak dapat diakses ulang pada saat penyusunan untuk memastikan angka mana yang benar. Untuk Kamboja saja, kedua laporan sepakat bahwa hasil penipuan melampaui US$12,5 miliar pada 2023, kira-kira separuh PDB resmi negara itu. Angka-angka ini adalah estimasi kelompok pakar, sehingga kajian ini memperlakukannya dengan keyakinan sedang sebagai penunjuk orde besaran, bukan sebagai pengukuran.
Lintasan estimasi UNODC sangat instruktif. Laporan April 2025 berjudul Inflection Point menyebut kerugian sekitar US$37 miliar di negara-negara Asia Timur dan Tenggara, menurut AsiaNews, dan memperingatkan bahwa industri ini menyebar ke Afrika, Amerika Latin, dan kawasan lain. Laporan Juli 2026, An Interconnected Criminal Ecosystem, menaikkan estimasi untuk 2025 menjadi US$88,3 sampai 114,1 miliar, dengan cakupan yang kini memasukkan Australia dan Selandia Baru, menurut Decrypt. Kenaikan lebih dari dua kali lipat tidak boleh dibaca sebagai pertumbuhan riil semata, karena cakupan geografis dan metode berbeda. Namun, arah keduanya jelas: tidak ada estimasi lembaga kredibel yang menunjukkan penyusutan. Laporan yang sama mencatat orang dari setidaknya 80 negara teridentifikasi di dalam kompleks, naik dari lebih dari 50 negara dalam laporan 2025, serta kenaikan 42 persen insiden iklan berbahaya pada 2025. Kajian ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa ekonomi penipuan regional pada 2025 tidak lebih kecil daripada pada 2023.
Di ujung lain spektrum, survei konsumen menghasilkan angka jauh lebih besar. GASA (Oktober 2025) memperkirakan kerugian global US$442 miliar dari 46.000 responden di 42 negara, dan Rp49 triliun untuk Indonesia. Survei semacam ini cenderung menggelembungkan nilai karena ekstrapolasi dari sampel daring dan karena responden memasukkan pengalaman yang tidak semuanya merupakan penipuan dalam arti hukum. Sebaliknya, data aduan resmi seperti IC3 atau IASC menyusutkan nilai karena hanya sebagian kecil korban melapor. Pemerintah AS sendiri memperkirakan warga Amerika kehilangan setidaknya US$10 miliar akibat scam Asia Tenggara pada 2024, naik 66 persen, menurut Departemen Keuangan AS. Posisi kajian ini adalah triangulasi: kerugian riil kawasan hampir pasti berada di antara angka laporan resmi dan angka survei, dan untuk Indonesia, rentang yang dapat dipertahankan terbentang antara Rp9,1 triliun kerugian terlapor kumulatif selama sekitar empat belas bulan dan Rp49 triliun kerugian menurut survei dua belas bulan, dengan keyakinan rendah untuk titik mana pun di dalam rentang itu.
Penindakan 2025–2026: Prince Group, KK Park, dan Efek Balon
Tabel 5 menyusun kronologi sebelas peristiwa penindakan beserta penanda kuantitatifnya. Dari kronologi itu tampak tiga jenis tekanan yang bekerja bersamaan. Tekanan pertama bersifat finansial dan hukum: pada 14 Oktober 2025, Departemen Keuangan AS menetapkan Prince Group sebagai organisasi kriminal transnasional dan menyanksi 146 target, bersamaan dengan aksi Inggris, sementara FinCEN memutus Huione Group dari sistem keuangan Amerika karena mencuci sedikitnya US$4 miliar hasil kejahatan antara Agustus 2021 dan Januari 2025. Pada saat yang sama, jaksa AS mengajukan penyitaan 127.271 bitcoin yang bernilai sekitar US$15 miliar, yang oleh TRM Labs disebut sebagai penyitaan terbesar dalam sejarah Amerika. Tekanan kedua bersifat koersif ekstrateritorial, terutama dari Tiongkok, dan tekanan ketiga bersifat fisik terhadap infrastruktur, yang paling jelas dalam keputusan Thailand memutus listrik, bahan bakar, dan internet ke kawasan perbatasan Myanmar pada 5 Februari 2025.
| Tanggal | Aktor dan tindakan | Indikator kuantitatif | Sumber |
|---|---|---|---|
| 5 Feb 2025 | Thailand memutus listrik, BBM, dan internet ke perbatasan Myanmar | ±7.000 korban menunggu repatriasi | Khaosod; NPR/Michigan Public |
| 26 Jun 2025 | Amnesty International memetakan kompleks Kamboja | ≥53 kompleks | Amnesty |
| 14 Okt 2025 | AS dan Inggris menyanksi jaringan Prince Group; FinCEN memutus Huione | 146 target; Huione mencuci ≥US$4 mlrd; 127.271 BTC (±US$15 mlrd) disita | US Treasury; TRM Labs |
| Pertengahan–27 Okt 2025 | Junta Myanmar menggerebek lalu meledakkan sebagian KK Park | >1.500 orang menyeberang ke Thailand dalam sepekan | AP via News4Jax |
| 12 Nov 2025 | Scam Center Strike Force AS dibentuk | US$401,66 juta kripto disita; 38 WNI dituntut (Bali) | DOJ |
| 17 Nov 2025 | Operasi di Shwe Kokko, Myawaddy | >200 WNI di antara 1.367 WNA lain | Metro TV |
| Awal Jan 2026 | Chen Zhi ditangkap di Kamboja dan diekstradisi ke RRT; Prince Bank dilikuidasi | n.a. | Decrypt; The Sun |
| 29 Jan & 2 Feb 2026 | RRT mengeksekusi 11 anggota keluarga Ming dan 4 tokoh keluarga Bai | 14 warga RRT tewas akibat jaringan Ming | OCCRP; Caixin |
| Apr 2026 | Amnesty memperbarui pemetaan Kamboja | 53 → 86 kompleks; intervensi negara hanya di 24 lokasi | The Nation/ANN |
| 6–9 Mei 2026 | Penggerebekan di Batam dan Jakarta | 210 WNA (Batam, investasi); 321 WNA (Jakarta, 75 situs judi) | Arab News/Reuters; Antara |
| 27 Agu 2026 | Kamboja mengklaim pusat scam besar telah bersih | 793 lokasi diperiksa; ±30.000 ditahan; 58.266 WNA dipulangkan | ANN |
Sumber: sebagaimana tercantum per baris.
Hasil jangka pendek tekanan itu nyata. Setelah pemutusan listrik oleh Thailand, sekitar 7.000 korban dari berbagai negara menunggu repatriasi di sisi Myanmar, menurut Khaosod English. Pada pertengahan Oktober 2025, militer Myanmar menggerebek KK Park, lalu mulai 24 Oktober meledakkan sebagian bangunannya; lebih dari 1.500 orang menyeberang ke Thailand dalam sepekan, menurut Associated Press. Pada awal Januari 2026, Chen Zhi ditangkap di Kamboja dan diekstradisi ke Tiongkok, menurut Decrypt, dan bank sentral Kamboja memerintahkan likuidasi Prince Bank. Pada 29 Januari 2026, Tiongkok mengeksekusi sebelas anggota keluarga Ming yang menurut otoritas setempat menghasilkan lebih dari 100 miliar yuan hasil kejahatan dan menyebabkan kematian 14 warga Tiongkok, sebagaimana dilaporkan OCCRP; empat hari kemudian, empat tokoh keluarga Bai menyusul. Dalam ukuran simbolik, 2025 dan awal 2026 adalah periode penindakan paling keras sejak industri ini muncul.
Namun indikator perpindahan menceritakan kisah lain. Amnesty International memetakan sedikitnya 53 kompleks di Kamboja dalam laporan Juni 2025; per April 2026, menurut pembaruan yang dilaporkan The Nation melalui Asia News Network, jumlahnya naik menjadi 86, dengan bukti intervensi negara hanya di 24 lokasi. Pada 27 Agustus 2026, pemerintah Kamboja mengklaim seluruh pusat penipuan besar telah dibersihkan, dengan 793 lokasi diperiksa, hampir 30.000 tersangka ditahan, dan 58.266 warga asing dipulangkan, menurut Asia News Network. Pejabat yang sama mengakui bahwa jaringan berpindah cepat ke lokasi yang lebih kecil dan tersembunyi seperti rumah tamu, kondominium, bahkan kendaraan. Analis CSIS dan Interpol yang dikutip dalam laporan Juni 2026 menggambarkan pola serupa: fragmentasi ke jaringan kecil dan penyebaran ke kawasan permukiman. Klaim pembersihan dan bukti fragmentasi bukanlah dua fakta yang bertentangan; keduanya adalah gambaran dari proses yang sama, yaitu pembongkaran kompleks besar yang memaksa model bisnis berubah bentuk.
Logika ekonominya mudah dipahami. Biaya tetap kompleks besar, termasuk sewa, perlindungan, dan infrastruktur satelit, menjadi beban ketika penindakan meningkat, sementara aset inti industri ini, yakni skrip, basis data korban, akses ke rekening penampung, dan jaringan pencucian, bersifat portabel. UNODC dalam laporan Juli 2026 menggambarkan model ini sebagai waralaba korporat dan menegaskan bahwa disrupsi saja tidak cukup, sebagaimana dikutip Decrypt, sementara analis utamanya menyatakan bahwa skala dan kompleksitas ekonomi kriminal ini melampaui respons yang ada, menurut JURIST. Sebuah ringkasan intelijen Asia Tenggara KBA13 Insight untuk pekan 25–31 Agustus 2026 juga mencatat peringatan PBB bahwa operasi pusat penipuan dan tambang ilegal memperparah krisis hak asasi di Myanmar, sebuah pengingat bahwa di wilayah konflik, ekonomi penipuan menjadi sumber pendanaan bagi aktor bersenjata. Kajian ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa penindakan 2025 hingga 2026 telah menaikkan biaya operasi kompleks besar, dan dengan keyakinan sedang bahwa ia belum menurunkan total kerugian korban di kawasan.
Judi Online sebagai Infrastruktur Pembayaran Kembar
Penipuan daring dan judi online sering dibahas sebagai dua persoalan terpisah, satu di bawah otoritas keuangan dan satu di bawah otoritas komunikasi. Data yang dihimpun dalam kajian ini menunjukkan bahwa keduanya berbagi simpul yang sama dalam rantai nilai. Kompleks di Myawaddy yang menahan WNI disebut sebagai pusat penipuan atau judi online dalam laporan yang sama. Penggerebekan Jakarta pada Mei 2026 menemukan 321 warga asing mengoperasikan 75 situs judi dari satu gedung, dan Interpol Indonesia mengaitkannya dengan perpindahan dari Kamboja. Pada simpul monetisasi, keduanya memakai rekening penampung, dompet elektronik, dan pembayaran berbasis kode QR yang sama. Karena itu, seri PPATK tentang perputaran judi online relevan sebagai indikator kesehatan simpul monetisasi yang juga melayani penipuan.
| Periode | Perputaran dana | Deposit | Transaksi | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| 2023 | Rp327 T | n.a. | n.a. | Data PPATK dikutip Kominfo |
| 2024 (proyeksi Kominfo) | Rp900 T | n.a. | n.a. | Proyeksi, tidak terealisasi |
| 2024 (realisasi) | Rp359,81 T | Rp51,3 T | n.a. | Puncak seri sejak 2017; 571.410 NIK penerima bansos terkait judol |
| 2025 | Rp286,84 T (±−20%) | Rp36,01 T | n.a. | Komdigi menangani 2.087.109 konten judi |
| Semester I 2025 | Rp99,68 T | Rp17,50 T | 174,90 juta (deposit 94,50 juta) | Rerata deposit ±Rp185.200* |
| Semester I 2026 | Rp86,82 T (−12,9%) | Rp22,05 T (QRIS Rp12,36 T) | 467,32 juta (deposit 226,76 juta; QRIS 87,66%) | Rerata deposit ±Rp97.200* (−47,5%) |
Sumber: Bisnis, 1 Agu 2024 · Metro TV, 23 Jul 2026 · Bisnis, 5 Agu 2026 · Bisnis, 8 Okt 2026. *Dihitung kajian ini: nilai deposit / jumlah transaksi deposit.
Tabel 7 memperlihatkan paradoks yang penting. Menurut Kepala PPATK Ivan Yustiavandana, perputaran dana judi online mencapai puncaknya pada 2024 sebesar Rp359,81 triliun dan turun sekitar 20 persen menjadi Rp286,84 triliun pada 2025, penurunan signifikan pertama sejak seri dimulai pada 2017, sebagaimana dilaporkan Metro TV. Pada semester pertama 2026, perputaran turun lagi 12,9 persen menjadi Rp86,82 triliun. Akan tetapi, jumlah transaksi justru melonjak dari 174,90 juta menjadi 467,32 juta, dan nilai deposit naik dari Rp17,50 triliun menjadi Rp22,05 triliun, menurut Bisnis. Perhitungan kajian ini menunjukkan bahwa rata-rata nilai per transaksi deposit turun hampir separuh, dari sekitar Rp185.200 menjadi sekitar Rp97.200. Kepala PPATK sendiri mengaitkan kenaikan jumlah transaksi dengan deteksi yang lebih baik, sambil mengakui bahwa jaringan judi memecah transaksi menjadi nominal lebih kecil dengan frekuensi lebih tinggi.
Pemecahan transaksi, yang dalam literatur anti pencucian uang dikenal sebagai structuring, adalah indikator perpindahan pada simpul monetisasi yang sejajar dengan fragmentasi kompleks pada simpul produksi. QRIS menyumbang 87,66 persen jumlah transaksi deposit judi pada semester pertama 2026. Fakta ini tidak berarti QRIS adalah masalahnya; ia berarti bahwa infrastruktur pembayaran paling inklusif di Indonesia, yang dirancang untuk transaksi kecil yang cepat dan murah, adalah juga yang paling cocok bagi pelaku yang ingin bersembunyi di dalam volume. Kajian ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa penurunan nilai perputaran judi online sebagian mencerminkan keberhasilan penindakan dan sebagian mencerminkan adaptasi pelaku yang menurunkan visibilitas transaksi.
Sejarah seri ini juga memberi pelajaran tentang bahaya proyeksi. Pada Agustus 2024, Kementerian Komunikasi dan Informatika memproyeksikan perputaran judi online 2024 akan mencapai Rp900 triliun, hampir tiga kali lipat realisasi 2023 sebesar Rp327 triliun, menurut Bisnis. Realisasinya ternyata Rp359,81 triliun. Selisih sebesar ini mengingatkan bahwa angka besar yang dikomunikasikan untuk memobilisasi perhatian publik dapat merusak kredibilitas seri data itu sendiri. Pada 8 Oktober 2026, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan bahwa ukuran keberhasilan harus bergeser dari jumlah konten yang dihapus ke sejauh mana rantai aktivitas judi terputus, menurut Bisnis; pada 2025 saja, kementerian menangani 2.087.109 konten judi. Pergeseran dari ukuran keluaran ke ukuran dampak ini tepat, dan logika yang sama perlu diterapkan pada penipuan: jumlah rekening diblokir bukan ukuran keberhasilan, rasio intersepsi dan pemulihanlah ukurannya.
Perbandingan Internasional: Singapura, Inggris, Australia, dan Indonesia
Tabel 6 membandingkan empat yurisdiksi yang mewakili tiga filosofi respons. Singapura menggabungkan komando penegakan hukum terpusat, alokasi tanggung jawab berjenjang, dan kewenangan intervensi preventif terhadap calon korban. Inggris memilih penggantian wajib, yaitu memindahkan beban kerugian dari korban ke penyedia jasa pembayaran agar insentif pencegahan berada pada pihak yang paling mampu mencegah. Australia memilih kewajiban ex ante lintas sektor, yaitu mewajibkan bank, operator telekomunikasi, dan platform digital mengambil langkah wajar untuk mencegah, mendeteksi, melaporkan, mengganggu, dan merespons penipuan, dengan ancaman denda besar. Indonesia, sejauh ini, bertumpu pada koordinasi pemblokiran melalui IASC dan penanganan konten, tanpa alokasi tanggung jawab penggantian yang mengikat.
| Yurisdiksi | Instrumen utama dan tanggal | Model tanggung jawab | Indikator hasil terbaru |
|---|---|---|---|
| Singapura | Anti-Scam Command; Shared Responsibility Framework berlaku 16 Des 2024; Protection from Scams Act disahkan 7 Jan 2025, berlaku 1 Jul 2025 | Air terjun: bank, lalu operator seluler, lalu konsumen (phishing); perintah pembatasan rekening maks. 30 hari, dapat diperpanjang 5 kali | 2025: 41.974 kasus (−24,8%), kerugian S$913,1 juta, ±S$140 juta dipulihkan; Sem. I 2026: S$410,6 juta (−17,9%), >S$97,7 juta dipulihkan |
| Inggris | Penggantian wajib APP fraud oleh PSR sejak 7 Okt 2024; plafon £85.000, ekses £100 | Penyedia jasa pembayaran menanggung penggantian | 88% dana dalam cakupan diganti (Okt 2024–Mar 2026); evaluasi independen: 54% → 65%, kerugian via Faster Payments −21%; kerugian APP 2025 £576,4 juta (+19%) |
| Australia | Scams Prevention Framework disahkan parlemen 13 Feb 2025; National Anti-Scam Centre | Kewajiban ex ante bagi bank, telko, platform digital; denda hingga A$50 juta; jalur sengketa eksternal | 2025: kerugian A$2,18 mlrd (+7,8%), 481.523 laporan; 29,7% di bawah puncak 2022 |
| Indonesia | IASC (OJK) sejak 22 Nov 2024 atas mandat UU 4/2023 (P2SK); Satgas PASTI (21 anggota); penanganan konten Komdigi | Berbasis pemblokiran; belum ada alokasi tanggung jawab penggantian | Sep 2026: 702.342 laporan; Rp811,1 M diblokir; Rp207,16 M dikembalikan |
Sumber: SPF · Malay Mail · MHA · Reed Smith · PSR · Regulation Tomorrow · Fintech Futures/UK Finance · NASC · Jones Day · Kontan · Kontan
Singapura menunjukkan hasil yang paling terukur. Menurut Kepolisian Singapura, jumlah kasus penipuan dan kejahatan siber turun 24,8 persen menjadi 41.974 pada 2025, kerugian turun dari sekitar S$1,1 miliar menjadi S$913,1 juta, dan sekitar S$140 juta berhasil dipulihkan, setara sekitar 15 persen kerugian. Pada semester pertama 2026, kerugian turun lagi 17,9 persen menjadi S$410,6 juta dengan pemulihan lebih dari S$97,7 juta, atau sekitar 24 persen, menurut Malay Mail. Shared Responsibility Framework yang berlaku sejak 16 Desember 2024 menempatkan kerugian akibat phishing pertama pada bank yang lalai, lalu operator seluler yang lalai, baru kemudian konsumen. Protection from Scams Act yang berlaku 1 Juli 2025 memberi polisi kewenangan mengeluarkan perintah pembatasan rekening hingga 30 hari terhadap orang yang diyakini akan mentransfer dana ke penipu, sebuah intervensi paternalistik yang dibenarkan oleh kenyataan bahwa lebih dari 80 persen kasus di Singapura melibatkan transfer yang dilakukan korban sendiri.
Inggris menawarkan eksperimen kebijakan paling jelas tentang penggantian. Sejak 7 Oktober 2024, penyedia jasa pembayaran wajib mengganti korban penipuan pembayaran yang diotorisasi hingga £85.000. Dasbor Payment Systems Regulator menunjukkan 88 persen dana yang hilang dalam cakupan aturan telah diganti selama delapan belas bulan pertama, dan 82 persen klaim ditutup dalam lima hari kerja. Evaluasi independen yang diterbitkan Juli 2026, menurut Regulation Tomorrow, menemukan tingkat penggantian naik dari 54 menjadi 65 persen jika diukur atas seluruh penipuan APP melalui Faster Payments, dan kerugian melalui kanal itu turun sekitar 21 persen, setara £73 juta per tahun. Namun, laporan tahunan UK Finance mencatat kerugian APP 2025 naik 19 persen menjadi £576,4 juta, didorong penipuan investasi yang naik 40 persen, menurut Fintech Futures. Perbedaan cakupan menjelaskan sebagian kontradiksi ini, dan kajian ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa penggantian wajib meningkatkan keadilan bagi korban lebih cepat daripada ia menurunkan insiden.
Australia memberi pelajaran tentang batas kewajiban ex ante. Parlemen mengesahkan Scams Prevention Framework pada 13 Februari 2025 dengan denda hingga A$50 juta per pelanggaran, menurut Jones Day. Kerugian gabungan 2025 tercatat A$2,18 miliar, naik 7,8 persen dari 2024, meski masih 29,7 persen di bawah puncak 2022, menurut National Anti-Scam Centre. Penipuan investasi tetap menjadi kategori terbesar dengan A$837,7 juta. Pelajaran dari ketiga yurisdiksi ini bagi Indonesia jelas. Rasio pemulihan Indonesia yang berada pada orde satu digit persen tertinggal jauh dari Singapura dan Inggris. Perbedaan itu bukan semata soal kapasitas teknis, melainkan soal desain insentif: selama kerugian sepenuhnya ditanggung korban, bank, penyedia dompet elektronik, dan operator seluler tidak memiliki dorongan finansial untuk berinvestasi dalam intersepsi waktu nyata. Langkah OJK mengajak asosiasi operator telekomunikasi bergabung dengan IASC, sebagaimana diumumkan Friderica Widyasari Dewi pada Januari 2026 menurut Kontan, adalah awal yang benar tetapi belum mengubah struktur insentif tersebut.
Kualitas Data, Celah Bukti, dan Argumen Tandingan
Celah data terbesar terletak pada ketiadaan dataset terbuka. IASC adalah salah satu pusat anti-penipuan dengan volume laporan tertinggi di dunia, tetapi datanya hanya tersedia sebagai angka kumulatif dalam paparan lisan yang ditranskripsikan wartawan. Akibatnya, tidak ada seri bulanan insiden baru, tidak ada rincian kerugian per jenis penipuan, tidak ada distribusi waktu antara kejadian dan laporan, dan tidak ada data tentang bank atau penyedia mana yang paling sering menjadi tempat rekening penampung. Seri kerugian berhenti dirilis setelah Januari 2026, sehingga rasio intersepsi tidak dapat dihitung untuk periode terbaru. Patahan definisi rekening diblokir memperburuk keadaan. Celah kedua menyangkut WNI: tidak ada data publik yang memisahkan korban perdagangan orang, pekerja sukarela, dan perekrut, padahal ketiganya menuntut respons hukum yang berbeda. Celah ketiga menyangkut aliran kripto, yang dalam data Indonesia hampir tidak terlihat meskipun di Amerika Serikat lebih dari separuh kerugian terlapor terkait kripto.
Argumen tandingan yang paling kuat terhadap tesis kajian ini perlu dinyatakan dalam bentuk terbaiknya. Argumen itu berbunyi sebagai berikut: ekonomi penipuan Asia Tenggara sedang melewati puncaknya. Kamboja mengklaim seluruh pusat besar telah bersih dan memulangkan lebih dari 58.000 warga asing. KK Park dihancurkan. Chen Zhi diekstradisi dan aset bitcoin terbesar dalam sejarah disita. Para pemimpin klan Kokang dieksekusi. Kerugian di Singapura turun dua tahun berturut-turut. Perputaran judi online di Indonesia turun 20 persen pada 2025 dan turun lagi pada 2026. Laju laporan harian IASC pun menurun. Menurut argumen ini, kenaikan angka kumulatif IASC hanyalah cerminan kematangan kanal pelaporan, bukan memburuknya kejahatan, dan tesis tentang perpindahan terlalu pesimistis.
Argumen ini benar dalam beberapa hal, dan kajian ini menerimanya sebagian. Penindakan memang menaikkan biaya, kematangan kanal pelaporan memang menjelaskan sebagian kenaikan laporan, dan penurunan laju harian adalah sinyal yang tidak boleh diabaikan. Namun, empat bukti melemahkan kesimpulannya. Pertama, jumlah kompleks di Kamboja menurut Amnesty naik dari 53 menjadi 86 pada periode yang sama dengan klaim pembersihan. Kedua, estimasi kerugian regional UNODC untuk 2025 jauh di atas estimasi 2023, dan jumlah negara asal pekerja naik. Ketiga, penurunan nilai perputaran judi online disertai lonjakan jumlah transaksi dan penurunan nilai rata-rata deposit hampir separuh, pola klasik penghindaran deteksi. Keempat, dan paling relevan bagi Indonesia, penangkapan ratusan warga asing di Batam, Jakarta, dan Bali pada 2025 hingga 2026 adalah bukti langsung relokasi ke wilayah Indonesia. Keberhasilan Singapura pun tidak dapat digeneralisasi, karena ia lahir dari kombinasi kapasitas negara dan desain insentif yang belum dimiliki tetangganya. Kajian ini mempertahankan tesisnya dengan keyakinan sedang: ekonomi penipuan sedang berubah bentuk, bukan menghilang.
Skenario hingga Akhir 2027 dan Rekomendasi Kebijakan
Tiga skenario disusun untuk horizon hingga akhir 2027, dengan probabilitas yang merupakan penilaian berbasis bukti hingga 21 Oktober 2026. Skenario pertama, fragmentasi dan relokasi, membayangkan penindakan terus memecah kompleks besar, sementara operasi berpindah ke lokasi kecil di Kamboja dan Myanmar serta ke yurisdiksi baru, termasuk Indonesia, Filipina, dan kawasan di luar Asia; kerugian korban di Indonesia bertahan atau naik moderat. Skenario kedua, penyempitan bertahap, membayangkan tekanan terkoordinasi, yaitu sanksi, ekstradisi, penggabungan operator telekomunikasi ke IASC, dan pengaturan tanggung jawab bersama, mulai menurunkan kerugian per kapita secara terukur. Skenario ketiga, eskalasi berbasis kecerdasan buatan dan kripto, membayangkan pelaku memanfaatkan suara dan video sintetis serta stablecoin untuk menaikkan nilai per korban, sehingga kerugian melonjak meski jumlah kompleks fisik berkurang.
Skenario ekonomi penipuan dan paparan Indonesia hingga akhir 2027 (penilaian penulis, 21 Oktober 2026)
- 1Fragmentasi dan relokasi50%
- 2Penyempitan bertahap30%
- 3Eskalasi berbasis AI dan kripto20%
Probabilitas adalah penilaian analitis berdasarkan bukti yang tersedia hingga 21 Oktober 2026, bukan keluaran model statistik.
Penanda yang perlu dipantau berbeda untuk setiap skenario. Skenario pertama menguat jika penangkapan warga asing dalam razia penipuan atau judi di Indonesia menjadi rutin setiap kuartal, jika pemetaan independen di Kamboja terus menunjukkan kompleks baru, dan jika permintaan repatriasi WNI dari Kamboja tetap di atas seribu orang per bulan. Skenario kedua menguat jika OJK kembali merilis seri kerugian dan rasio intersepsi naik di atas sepuluh persen, jika operator telekomunikasi benar-benar terintegrasi dalam IASC, dan jika laju laporan harian terus turun selama tiga kuartal berturut-turut. Skenario ketiga menguat jika kerugian rata-rata per laporan naik tajam, jika laporan penipuan dengan suara atau video sintetis menjadi kategori tersendiri, dan jika porsi kripto dalam kerugian terlapor meningkat. Data FBI tentang lebih dari 22.000 aduan terkait kecerdasan buatan dengan kerugian hampir US$900 juta pada 2025, menurut WaterISAC, adalah penanda awal yang patut dicermati.
Rekomendasi pertama ditujukan kepada OJK: paling lambat kuartal kedua 2027, IASC perlu menerbitkan dataset bulanan terbuka dengan definisi baku, mencakup insiden baru, kerugian per jenis penipuan, waktu dari kejadian ke laporan, rasio intersepsi, dan rasio pemulihan, serta mengumumkan target rasio intersepsi tahunan. Rekomendasi kedua ditujukan kepada pemerintah dan DPR: sepanjang 2027, perlu disusun kerangka tanggung jawab bersama yang mengikat bank, penyedia dompet elektronik, dan operator seluler, dengan mengadaptasi model air terjun Singapura dan model penggantian Inggris secara bertahap, dimulai dari phishing dan rekening penampung yang terbukti lalai diawasi. Rekomendasi ketiga ditujukan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital bersama operator seluler: dalam dua belas bulan, integrasi penuh ke IASC, pemblokiran nomor yang dilaporkan secara waktu nyata, dan pengetatan registrasi kartu prabayar perlu dituntaskan, mengingat 173.718 nomor telepon telah dilaporkan korban hingga September 2026 menurut Kontan.
Rekomendasi keempat ditujukan kepada Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran, Imigrasi, dan Polri: mulai 2027, perlu diterapkan penyaringan korban perdagangan orang yang seragam bagi setiap WNI yang dipulangkan, prinsip tidak menghukum korban yang dipaksa melakukan kejahatan, dan program reintegrasi untuk mencegah korban berulang, disertai satuan tugas bersama Polri dan Imigrasi untuk memetakan jaringan warga asing di Batam, Jakarta, Bali, dan kota lain sebelum operasi berskala kompleks terbentuk. Rekomendasi kelima ditujukan kepada PPATK dan Bank Indonesia: dalam satu tahun, pemantauan pola pemecahan transaksi pada pedagang QRIS dan dompet elektronik perlu diperkuat dengan indikator yang dipublikasikan secara agregat. Rekomendasi keenam ditujukan kepada aktor internasional: UNODC dan mitra ASEAN dapat memprioritaskan bantuan teknis untuk standardisasi data penipuan lintas negara, sedangkan Amerika Serikat, Inggris, dan Tiongkok perlu membuka jalur berbagi informasi tentang aset yang disita agar korban Indonesia dari jaringan yang sama berpeluang memperoleh restitusi.
Keterbatasan dan Kesimpulan
Keterbatasan kajian ini perlu dinyatakan secara terbuka. Pertama, sebagian besar data Indonesia diperoleh melalui transkripsi media atas paparan lisan, bukan dari dokumen statistik resmi, sehingga galat transkripsi tidak dapat sepenuhnya disingkirkan, sebagaimana tampak pada judul artikel yang tidak sesuai dengan batas datanya. Kedua, indikator turunan dihitung dengan penyebut yang kadang berbeda tanggal, dan batas atas pemulihan sengaja dibuat konservatif. Ketiga, estimasi regional bersandar pada pemodelan yang dokumen teknisnya tidak semuanya dapat diakses ulang. Keempat, data pelaku dan aliran kripto yang menyangkut Indonesia hampir tidak tersedia, sehingga analisis simpul monetisasi bertumpu pada data judi online sebagai proksi. Kelima, kajian ini belum memiliki data primer dari wawancara korban atau aparat, sehingga mekanisme mikro hanya dibaca melalui literatur dan laporan lembaga.
Meski demikian, kesimpulan pokoknya kokoh terhadap keterbatasan itu. Ekonomi penipuan Asia Tenggara pada 2023 hingga 2026 adalah industri bernilai puluhan miliar dolar per tahun yang telah membuktikan kemampuannya beradaptasi terhadap penindakan paling keras dalam sejarahnya. Indonesia terpapar dalam tiga peran: sebagai pasar volume dengan lebih dari 700.000 laporan dalam kurang dari dua tahun, sebagai pemasok tenaga kerja dengan lebih dari 12.000 permintaan repatriasi dari Kamboja dalam enam bulan pertama 2026, dan sebagai tuan rumah baru bagi operasi yang terdesak dari pusat tradisionalnya. Respons nasional telah membangun fondasi kelembagaan yang berarti, tetapi masih mengukur keberhasilan dengan jumlah rekening yang diblokir, bukan dengan uang yang diselamatkan.
Ukuran keberhasilan melawan penipuan bukan jumlah rekening yang diblokir, melainkan jumlah rupiah yang kembali ke tangan korban.
Pilihan kebijakan di depan karena itu jelas. Selama kerugian sepenuhnya jatuh pada korban dan data tetap tertutup, Indonesia akan terus menjadi pasar yang menguntungkan, pemasok tenaga yang murah, dan tempat persembunyian yang nyaman bagi industri ini. Transparansi data, alokasi tanggung jawab yang mengubah insentif pelaku usaha, dan perlakuan terhadap WNI di kompleks sebagai korban sekaligus sumber intelijen adalah tiga tuas yang dapat menggeser Indonesia dari skenario fragmentasi menuju skenario penyempitan. Dalam peradaban digital, kepercayaan adalah infrastruktur, dan infrastruktur itu kini sedang digerogoti secara industrial.
Rujukan dan Sumber
Dokumen resmi dan data
- OJK, “SP 127: OJK Ingatkan Bahaya Scam yang Semakin Meluas, PBB Apresiasi Peran OJK dalam Penanganan Scam” (6 Juli 2026)
- U.S. Department of the Treasury, “U.S. and UK Take Largest Action Ever Targeting Cybercriminal Networks in Southeast Asia” (14 Oktober 2025)
- U.S. Attorney’s Office for the District of Columbia, “New Scam Center Strike Force Battles Southeast Asian Crypto Investment Fraud” (12 November 2025)
- Federal Bureau of Investigation, Internet Crime Complaint Center, “2025 Internet Crime Report” (April 2026)
- Singapore Police Force, “Scams and Cybercrime Fell by Almost a Quarter in 2025” (Februari 2026)
- Ministry of Home Affairs Singapore, “Commencement of the Protection from Scams Act” (30 Juni 2025)
- Payment Systems Regulator, “APP Scams Reimbursement Dashboard” (diperbarui Juli 2026)
- National Anti-Scam Centre (ACCC), “Continued Action Critical to Combat Fraud as Annual Scam Losses Exceed $2 Billion” (30 Maret 2026)
- UN News, “Hundreds of Thousands Trafficked into Online Criminality across SE Asia” (laporan OHCHR, Agustus 2023)
- UNODC Regional Office for Southeast Asia and the Pacific, “An Interconnected Criminal Ecosystem” (Juli 2026)
- Amnesty International, “‘I Was Someone Else’s Property’: Slavery, Human Trafficking and Torture in Cambodia’s Scamming Compounds” (26 Juni 2025)
Literatur ilmiah
- Lazarus, S., Chiang, M., Dimitrova, R. S., Thu, T. T., & Essien, E., “What Do We Know About Human Trafficking and Scam Compounds in Southeast Asia (2020–2025)?”, Deviant Behavior 47(6) (2026)
- Cross, C., “Romance Baiting, Cryptorom and ‘Pig Butchering’: An Evolutionary Step in Romance Fraud”, Current Issues in Criminal Justice 36(3) (2024)
- Luong, H. T., dkk., “Unveiling the Nature of Scam Forced Criminality in Southeast Asia”, ANZSOC 2024 Abstract Book (2024)
- Franceschini, I., Li, L., & Bo, M., Scam: Inside Southeast Asia’s Cybercrime Compounds (London: Verso, 2025)
Analisis kebijakan dan laporan lembaga
- Global Initiative Against Transnational Organized Crime, “Compound Crime: Cyber Scam Operations in Southeast Asia” (29 Mei 2025)
- Jason Tower, Written Testimony to the U.S. House of Representatives on Transnational Crime in Southeast Asia (9 Juli 2024)
- TRM Labs, “Operation Prince: Inside the Global Effort That Led to the Largest Forfeiture in US History” (Oktober 2025)
- GASA dan Feedzai, “Global State of Scams Report 2025” (9 Oktober 2025)
- GASA dan Mastercard, “GASA Launches ‘State of Scams in Indonesia 2025’ Report” (31 Oktober 2025)
- Reed Smith, “Singapore to Implement Shared Responsibility Framework for Phishing Scams” (2024)
- Jones Day, “Australia Passes Landmark Scam Prevention Legislation” (Maret 2025)
- Regulation Tomorrow, “Payment Fraud Falls by £73m Following PSR Reimbursement Scheme” (Juli 2026)
- WaterISAC, “FBI’s IC3 Releases 2025 Internet Crime Report” (9 April 2026)
- KBA13 Insight, “Southeast Asia Intelligence Brief: ASEAN, Myanmar & South China Sea, 25–31 August 2026” (7 September 2026)
Media dan pemberitaan
- Kontan, “IASC Terima 702.342 Laporan Kasus Penipuan hingga September 2026” (6 Oktober 2026)
- CNN Indonesia, “OJK Amankan Rp723,7 M Dana Korban Scam, 604 Ribu Rekening Diblokir” (5 Agustus 2026)
- Kontan, “IASC Terima 579.459 Laporan Kasus Penipuan per Mei 2026, Terbanyak di Pulau Jawa” (30 Juni 2026)
- Kontan, “Hingga 14 Januari 2026, Kerugian Masyarakat akibat Penipuan (Scam) Rp9,1 Triliun” (22 Januari 2026)
- Kontan, “OJK Sebut Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Segera Bergabung dengan IASC” (22 Januari 2026)
- Kontan, “Total Kerugian Masyarakat akibat Penipuan Capai Rp9 Triliun per Desember 2025” (9 Januari 2026)
- Kontan, “Total Kerugian Masyarakat akibat Penipuan Keuangan Capai Rp8,2 Triliun” (12 Desember 2025)
- Kontan, “Total Kerugian Masyarakat akibat Penipuan Capai Rp7,5 Triliun” (10 November 2025)
- Indonesia Business Post, “Indonesia Records World’s Highest Number of Financial Scam Reports: OJK” (3 November 2025)
- Investortrust, “Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) OJK Terima 204.011 Laporan, Total Kerugian Capai Rp4,1 Triliun” (6 Agustus 2025)
- Bisnis.com, “7.600 Kasus WNI Terjerat Sindikat Penipuan Daring di Luar Negeri, Paling Banyak di Kamboja” (30 Juni 2025)
- IDX Channel, “Kemlu: 10 Ribu WNI Terjerat Kasus Online Scam di 10 Negara termasuk Kamboja” (21 Oktober 2025)
- Bisnis.com, “Razia Online Scam di Kamboja, WNI yang Minta Dipulangkan Tembus 2.117 Orang” (24 Januari 2026)
- RRI Voice of Indonesia, “Indonesia Repatriates 1,816 Citizens from Cambodia Linked to Online Scams” (11 Maret 2026)
- RRI Voice of Indonesia, “Indonesian Embassy Races to Help Citizens amid Cambodia Fraud Raids” (10 Juli 2026)
- Metro TV, “KBRI Yangon Koordinasikan Repatriasi 55 WNI Eks KK Park dari Myanmar” (22 November 2025)
- Borneo Post/AFP, “Indonesia to Bring Home 561 Myanmar Scam Centre Workers” (18 Maret 2025)
- OCCRP, “UN Report Details Southeast Asia’s Interconnected Criminal Economy” (21 Juli 2026)
- Decrypt, “Southeast Asian Scam Networks Cost Victims Up to $114B in a Year: UN” (23 Juli 2026)
- JURIST, “UN Report Exposes Explosive Growth of Southeast Asian Crime Syndicates” (Juli 2026)
- AsiaNews, “UN Warns Scam Centres Go beyond Southeast Asia, Becoming a Global Threat” (22 April 2025)
- VOA, “Report: Southeast Asia Scam Centers Swindle Billions” (2024)
- Asia Financial, “Scamming Compounds in SE Asia Stole $64 Billion in 2023: Report” (7 Juni 2024)
- FOX 5 New York, “Crypto Fraud Tops FBI’s Annual Crime Report as Americans Lose Billions to Scams” (9 April 2026)
- Khaosod English, “Scammer Exodus from Myanmar Border; 7,000 Victims Await Freedom” (12 Februari 2025)
- Michigan Public/NPR, “Over 7,000 from Scam Centers in Myanmar Are Awaiting Repatriation after Crackdown” (27 Februari 2025)
- Associated Press via News4Jax, “Stragglers from Myanmar Scam Center Raided by Army Cross into Thailand as Buildings Are Blown Up” (28 Oktober 2025)
- Decrypt, “Alleged Crypto Scam Kingpin Arrested in Cambodia after $12 Billion Bitcoin Seizure” (7 Januari 2026)
- Casino.org, “Casino Scam Lord Chen Zhi Extradited to Face Music in China” (8 Januari 2026)
- The Sun (Malaysia), “Cambodia Orders Liquidation of Bank Founded by Accused Scam Boss” (8 Januari 2026)
- OCCRP, “China Executes 11 in Myanmar-Linked Telecom Fraud Gang” (29 Januari 2026)
- Caixin Global, “China Executes Four More Chiefs in Myanmar Cyberfraud Crackdown” (2 Februari 2026)
- The Nation/Asia News Network, “Cambodia Scam Centres Grow despite Crackdown, Amnesty Says” (9 Juni 2026)
- Asia News Network, “Cambodia Claims ‘No Major Online Scam Centres Remain’ after More than 700 Sites Cleared” (31 Agustus 2026)
- South China Morning Post, “Police Raids Reveal Indonesia as New Hub for Scam Syndicates” (12 Mei 2026)
- Arab News/Reuters, “More than 300 Foreigners Arrested in Jakarta Raid on Online Gambling Operation” (9 Mei 2026)
- Antara, “Hundreds Nabbed in Batam Raid over Suspected Online Scam Syndicate” (6 Mei 2026)
- Metro TV, “Perputaran Dana Judol Turun hingga Rp286,84 Triliun di Era Prabowo” (23 Juli 2026)
- Bisnis.com, “PPATK Catat Nilai Perputaran Judol Turun per Semester I/2026, Jumlah Transaksi Melonjak” (5 Agustus 2026)
- Bisnis.com, “Transaksi Judi Online Diramal Tembus Rp900 Triliun 2024, Naik 3 Kali Lipat” (1 Agustus 2024)
- Bisnis.com, “Komdigi Perluas Pemberantasan Judi Online, Tak Hanya Blokir Situs” (8 Oktober 2026)
- Malay Mail, “Singapore Sees 17.9pc Drop in Scams and Cybercrime but Losses Remain High” (26 Agustus 2026)
- Fintech Futures, “UK Payment Fraud Losses Topped £1.28bn in 2025, New UK Finance Report Finds” (Juni 2026)
Arsip & Pustaka
- Marc Goodman, Future Crimes: Inside the Digital Underground and the Battle for Our Connected World (London: Corgi Books), koleksi Arsip & Pustaka
- Foreign Affairs, “World War Web: The Fight for the Internet’s Future”, Vol. 97 No. 5 (September/Oktober 2018), koleksi Arsip & Pustaka
- The Digital Civilization: Techno-Religion, the Abandoned Society, and the Crisis of Human Authentic Selfhood in the Planetary Era (2026), koleksi Arsip & Pustaka
- Arsip & Pustaka, hasil penelusuran teks penuh “penipuan”
Cara Mengutip
Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. (2026). Neraca Gelap Ekonomi Penipuan Digital: Dataset Kerugian, Korban, dan Respons Kebijakan atas Industri Scam di Asia Tenggara dan Indonesia, 2023–2026. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/dataset-ekonomi-penipuan-digital-asia-tenggara/
Guru Besar Antropologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh; pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy. Meraih PhD Sosiologi dari La Trobe University.
Dataset · Digital Civilization · Transnational Scam Economy
The Dark Ledger of the Digital Scam EconomyA Dataset on Losses, Victims and Policy Responses to the Scam Industry in Southeast Asia and Indonesia, 2023–2026
More than 700,000 scam reports, over twelve thousand Indonesians seeking to come home from Cambodian compounds, and an interception ratio below five per cent. This dataset assembles official figures and international estimates for 2023–2026, records every conflict between sources, and shows that Southeast Asia’s scam industry is relocating, not collapsing.

Abstract
This dataset study compiles, cleans and grades data on the industrial-scale digital scam economy in Southeast Asia and Indonesia’s exposure to it from 2023 to October 2026. Seven data tables and a data dictionary bring together the cumulative series of the Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) run by the Financial Services Authority (OJK), Foreign Ministry records on Indonesian citizens in Cambodian and Myanmar scam compounds, estimates from UNODC, USIP, OHCHR, GASA and the FBI’s IC3, a chronology of enforcement against the Prince Group, KK Park and the Kokang networks, online gambling turnover data from the financial intelligence unit PPATK, and policy outcome indicators from Singapore, the United Kingdom and Australia. A framework of four nodes (recruitment, production, contact, monetisation) and three ratios (interception, recovery, displacement) is used to read these data. The main finding: by 30 September 2026 the IASC had received 702,342 reports and frozen Rp811.1 billion, yet the interception ratio against reported losses fell from 8.5 per cent to about 4.8 per cent, and money actually returned to victims amounts to no more than 2.3 per cent of losses. Regional enforcement in 2025 and 2026 struck the most visible nodes, but the data show fragmentation and relocation, including to Indonesia. This study offers three scenarios to the end of 2027 with actor-specific, time-bound recommendations, and records every conflict of figures between sources.
Southeast Asia’s scam economy is not collapsing but splintering and relocating, and Indonesia is now exposed in three roles at once, as a victim market, a labour supplier and a new host, while its national response architecture still rests on account blocking that holds back less than five per cent of losses.
- DataOJK/IASC, Foreign Ministry and embassies, PPATK, Komdigi, UNODC, OHCHR, USIP, GASA, FBI IC3, and authorities in Singapore, the UK and Australia
- FrameworkFour value-chain nodes (recruitment, production, contact, monetisation) and three ratios (interception, recovery, displacement)
- OutlookThree scenarios to the end of 2027 with signposts and six time-bound recommendations
Keywords
- digital fraud
- Indonesia Anti-Scam Centre
- scam compounds
- human trafficking
- online gambling
- Southeast Asia
- shared responsibility
- data dictionary
Executive Summary: The Question, the Bottom Line and the Stakes
The question this study asks is simple to frame but hard to answer with data: how large was the industrial-scale digital scam economy in Southeast Asia in 2023 to 2026, how is Indonesia exposed to it, and are available policy responses commensurate with the scale of the threat? The bottom line can be stated in one sentence. The wave of enforcement across 2025 and 2026, from US and British sanctions on the Prince Group and the partial destruction of KK Park in Myawaddy to Chen Zhi’s extradition to China and the execution of leaders of the Ming and Bai families, has broken the most visible nodes but not the business model. Data from Cambodia, Myanmar and Indonesia itself show a pattern of fragmentation into smaller sites and relocation to new jurisdictions, while victim losses remain in the order of tens of billions of dollars a year at regional level.
For Indonesia, the core evidence sits in the IASC series. By 30 September 2026 the centre, set up by OJK on 22 November 2024, had received 702,342 reports, verified 1,372,483 fraud-linked accounts, blocked 702,833 of them, frozen Rp811.1 billion of victims’ funds and returned Rp207.16 billion, as presented at OJK’s press conference of 5 October 2026. The last cumulative loss figure released, Rp9.1 trillion as of 14 January 2026, means the system manages to hold back roughly five rupiah of every hundred lost, and returns far less. This study assesses the direction of this finding with high confidence and its exact magnitude with moderate confidence, because the loss series stopped being published after January 2026 and the definition of blocked accounts underwent a break.
The stakes are both global and civilisational. The UNODC report released on 21 July 2026 estimates scam losses in East Asia, Southeast Asia, Australia and New Zealand at US$88.3 to 114.1 billion in 2025, according to coverage by OCCRP. In the United States, the 2025 IC3 report recorded reported losses of US$20.877 billion, more than half of them linked to crypto. The industry rests on human trafficking, cross-jurisdictional money laundering and the protection of local elites, so it is at once a security, human rights and governance problem. For a country with a fast-growing instant payment system such as Indonesia, what is ultimately at stake is trust, the invisible capital that underpins the entire agenda of financial inclusion and the digital economy. This dataset was assembled so that the policy debate can rest on traceable numbers, complete with notes on where those numbers contradict each other.
Analytical Framework and Method Note
This study reads the scam economy as an industrial value chain made up of four nodes. The first node is recruitment, the labour supply often obtained through fake job advertisements and ending in forced labour. The second is production, the physical compounds in special economic zones, former casinos or office buildings where fraud scripts are run in shifts. The third is contact, the telecommunications infrastructure and digital platforms that let offenders reach victims at scale. The fourth is monetisation, covering mule accounts, e-wallets, QR-code payments, crypto-assets and, as Section VIII explains, the payment infrastructure of online gambling. This division is consistent with the meta-synthesis by Lazarus and colleagues in Deviant Behavior (2026), which concludes from 50 publications that scam compounds are industrialised socio-technical systems living between legal and illegal economies, exploiting lax special economic zones and the precarity of migrants.
On top of these four nodes, this study derives three ratios as measures of response. The interception ratio is funds successfully blocked divided by reported losses; it measures how quickly the system holds money before it moves. The recovery ratio is money actually returned to victims divided by losses or by funds blocked; it measures the system’s ability to convert interception into justice for victims. The displacement indicator is a set of markers that activity has not disappeared but shifted, such as a rising number of compounds despite raids, arrests of foreigners outside traditional hubs, or the fragmentation of transactions into smaller amounts. These three measures were chosen because they can be calculated from public data and because each targets a different weak point in the value chain.
The method has four steps. First, every figure is collected from a primary source or from media quoting a named official on a specific date, and the data cut-off is recorded separately from the publication date. Second, conflicting figures are not resolved by choosing one; they are shown side by side and recorded in the data dictionary. Third, derived indicators are calculated transparently with the formula stated. Fourth, every key judgment carries a label of high, moderate or low confidence, following the practice of structured intelligence analysis: high confidence means several good-quality independent sources agree; moderate confidence means sources are credible but single or differ in coverage; low confidence means evidence is indirect. For the central question of whether the scam economy is shrinking or relocating, this study weighs the two hypotheses competitively and looks for the evidence that best discriminates between them, not evidence merely consistent with one.
The framework also draws on a wider literature. Cassandra Cross (2024) shows that the fraud known as pig butchering is a convergence of romance and investment fraud, so conventional reporting categories tend to miscount it. The Global Initiative Against Transnational Organized Crime report (May 2025) introduces the concept of role shifters, actors who blur the lines between government, business and crime, which explains why enforcement often stops at field workers. Long before the current wave of compounds, Marc Goodman’s book Future Crimes already described a digital underground economy operating like a corporation. The 2026 book The Digital Civilization offers the idea of the Abandoned Society, groups excluded from digital benefits yet bearing its risks, which this study uses as a lens to read why young job seekers and low-income e-wallet users become both the fuel and the victims of this industry.
Data Provenance, Processing and Data Dictionary
All data in this study come from documents publicly accessible as of 21 October 2026. The Indonesian series derives from OJK presentations at monthly Board of Commissioners press conferences, working meetings with Parliament and official press releases, subsequently relayed by outlets such as Kontan, CNN Indonesia, Bisnis and Investortrust. The first provenance problem is immediately apparent: OJK does not publish the IASC dataset in an open format, so researchers depend on journalists’ transcriptions. This study links each data point to the article that carried it and checks internal consistency, for instance whether reports filed via financial institutions and reports filed directly by victims add up to the total. In the 30 September 2026 release, for example, 334,756 reports via financial service providers and 367,586 direct victim reports do indeed sum to 702,342.
Data on Indonesian citizens come from statements by the Foreign Ministry and the embassies in Phnom Penh and Yangon, quoted by national media and news agencies. Regional estimates come from three families of sources whose methods differ fundamentally: multilateral bodies (UNODC, OHCHR) combining official national data with modelling, policy study groups (USIP) using expert triangulation, and consumer surveys (GASA) extrapolating from online samples. Enforcement data come from US government press releases, Chinese court rulings as reported by the media, statements by the Cambodian and Thai governments, and human rights organisations. Comparative policy data come from the Singapore Police Force, Britain’s payment systems regulator and Australia’s National Anti-Scam Centre, all of which publish statistics with written methodology.
Processing follows three rules. Currency values are not converted into a common currency unless the source itself does so, because conversion at exchange rates from different dates would add an unnecessary layer of error. Derived indicators are calculated only from pairs of figures with the same cut-off or, where unavailable, with an explicit note on the date mismatch. Conflicting figures are left side by side. Table 8 below summarises the variable, definition, unit, source, coverage and quality grade of each data group, on a scale of A for official statistics with published methodology, B for official data that are partial or relayed by media, and C for estimates, surveys or conflicting figures.
| Variable | Definition | Unit | Source | Coverage | Quality grade and conflict notes |
|---|---|---|---|---|---|
| iasc_reports | Cumulative scam reports received by IASC, via financial service providers and directly from victims | count | OJK board press conferences, relayed by media | 22 Nov 2024–30 Sep 2026 | B: official but no open dataset |
| iasc_losses | Losses reported by victims, cumulative | Rp | OJK | to 14 Jan 2026 | C: unverified self-reports; not released after Jan 2026; GASA estimates Rp49 tn over 12 months |
| iasc_acc_blocked | Accounts flagged for fraud that have been blocked | count | OJK | Jul 2025–Sep 2026 | C: definitional break, 127,047 (23 Dec 2025) jumps to 397,028 (14 Jan 2026); 510,357 (24 Oct 2025) vs 100,565 (31 Oct 2025) |
| iasc_funds_blocked / funds_returned | Victim funds held / returned | Rp | OJK | Jul 2025–Sep 2026 | B: consistent across releases; a Kontan headline of 10 Nov 2025 says “September” though the cut-off is 31 Oct 2025 |
| wni_scam_cases | Cases of Indonesians linked to online scams abroad | cases/persons | Foreign Ministry | 2020–Oct 2025 | C: ≈7,600 (2021–Jun 2025) vs >10,000 (2020–Oct 2025); cases and persons mixed; repeat victims |
| wni_repatriation_kh | Indonesians seeking help or repatriated from Cambodia | persons | Embassy in Phnom Penh | Jan–Jul 2026 | B: daily breakdown 1,726+224+164 = 2,114, not 2,117 |
| regional_losses | Scam losses in the region | US$ | UNODC, USIP | 2023–2025 | C: different coverage; USIP Mekong US$43.8 bn (Asia Financial) vs US$39 bn (VOA) |
| gasa_survey | Prevalence and losses by survey | % and Rp/US$ | GASA | 2025 | C: online survey n=1,000 (Indonesia), n=46,000 (global) |
| ic3_losses | Losses reported to the FBI | US$ | FBI IC3 | 2025 | B: investment fraud >US$8.6 bn (WaterISAC) vs crypto investment fraud US$7.2 bn (FOX 5), different categories |
| gambling_turnover | Online gambling turnover | Rp | PPATK | 2017–H1 2026 | B: projection of Rp900 tn for 2024 vs actual Rp359.81 tn |
| kh_enforcement | Sites, detentions, deportations in Cambodia | count | Cambodian government; Amnesty | 2025–2026 | C: “cleared” claim vs 86 compounds (Amnesty) |
| id_foreigner_raids | Foreigners arrested in scam/gambling raids in Indonesia | persons | Police, Immigration | May 2026 | C: date (7 vs 9 May) and Jakarta location differ across outlets |
| sg / uk / au | Losses, cases, reimbursement | S$, £, A$ | SPF, PSR, UK Finance, NASC | 2024–H1 2026 | A: official statistics; UK: 88% (dashboard, in scope) vs 65% (evaluation, all APP via FPS) |
Source: compiled by this study. Grade A = official statistics with published methodology; B = official but partial or relayed by media; C = estimates, surveys or conflicting figures.
Three conflicts in the data dictionary deserve emphasis because they affect interpretation. The first concerns blocked accounts: the Kontan series records 127,047 accounts as of 23 December 2025, then 397,028 as of 14 January 2026, a threefold jump in three weeks that almost certainly reflects a change of definition or the merging of bank-level blocks, not a sudden gain in performance. At almost the same time, an OJK presentation at an industry forum on 31 October 2025 cited 510,357 blocked accounts, while the Kontan series as of 31 October 2025 cited 100,565. The second concerns the size of losses: the IASC’s Rp9.1 trillion against the GASA survey’s Rp49 trillion, a more than fivefold gap reflecting the difference between losses reported and losses experienced. The third concerns Indonesian citizens, because the Foreign Ministry uses cases and persons interchangeably. This study’s confidence in the funds-blocked and funds-returned series is high; in the blocked-accounts series, low.
Indonesia as a Victim Market: Reading the IASC Series
Table 1 presents ten IASC data points from July 2025 to September 2026. The most striking pattern is sustained growth in reports: from 204,011 as of 29 July 2025 to 702,342 as of 30 September 2026, more than a threefold increase in fourteen months. Cumulative reported losses rose from Rp4.1 trillion to Rp9.1 trillion between July 2025 and January 2026, then ceased to be released. Since the May 2026 release, OJK has foregrounded funds blocked and funds returned, a communication shift that is institutionally understandable but removes the denominator most needed to judge performance.
| Data cut-off | Reports | Reported losses | Accounts reported | Accounts blocked | Funds blocked | Funds returned |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 29 Jul 2025 | 204,011 | Rp4.1 tn | 326,283 | 66,271 | Rp348.3 bn | n.a. |
| 24 Oct 2025 | 311,597 | Rp7.3 tn | n.a. | 510,357* | Rp381.3 bn | n.a. |
| 31 Oct 2025 | 323,841 | Rp7.5 tn | 530,794 | 100,565 | Rp383.6 bn | n.a. |
| 30 Nov 2025 | 373,129 | Rp8.2 tn | 619,394 | 117,301 | Rp389.3 bn | n.a. |
| 23 Dec 2025 | 411,055 | Rp9.0 tn | 681,890 | 127,047 | Rp402.5 bn | n.a. |
| 14 Jan 2026 | 432,637 | Rp9.1 tn | 721,101 | 397,028 | Rp436.88 bn | n.a. |
| 31 May 2026 | 579,459 | not released | 998,558 | 515,553 | Rp638.9 bn | Rp169.3 bn |
| June 2026 | >608,000 | not released | n.a. | >557,000 | Rp674 bn | ≈Rp200 bn |
| 31 Jul 2026 | 636,014 | not released | 1,176,571 | 604,923 | Rp723.7 bn | Rp204.3 bn |
| 30 Sep 2026 | 702,342 | not released | 1,372,483 | 702,833 | Rp811.1 bn | Rp207.16 bn |
Source: Investortrust, 6 Aug 2025 · Indonesia Business Post, 3 Nov 2025 · Kontan, 10 Nov 2025 · Kontan, 12 Dec 2025 · Kontan, 9 Jan 2026 · Kontan, 22 Jan 2026 · Kontan, 30 Jun 2026 · OJK SP 127, 6 Jul 2026 · CNN Indonesia, 5 Aug 2026 · Kontan, 6 Oct 2026. tn = trillion, bn = billion. *The 510,357 figure was presented as blocked accounts on 31 October 2025, conflicting with 100,565 in the Kontan series; see Table 8.
Table 2 turns the raw series into indicators. The interception ratio fell from 8.5 per cent in July 2025 to 4.5 to 4.8 per cent at the end of 2025 and early 2026. In other words, as report volumes rose, the system’s capacity to hold funds did not rise proportionately. Funds held per blocked account are only about Rp1.15 million, a figure suggesting that most mule accounts are drained before blocking occurs. The return ratio on blocked funds is fairly stable at around a quarter, but measured against the last released loss figure, money returned to victims does not exceed 2.3 per cent. This upper bound deliberately uses an old denominator; actual losses up to September 2026 are certainly larger, so the true ratio is smaller. This study judges with high confidence that recovery for victims in Indonesia is in the single-digit per cent range.
| Indicator | Value | Formula and period |
|---|---|---|
| Interception ratio | 8.5% → 5.1% → 4.7% → 4.5% → 4.8% | Funds blocked / reported losses; Jul, Oct, Nov, Dec 2025, Jan 2026 |
| Return ratio on blocked funds | 26.5% (May 2026); 25.5% (Sep 2026) | Funds returned / funds blocked |
| Upper bound of recovery against losses | ≤2.3% | Rp207.16 bn (Sep 2026) / Rp9.1 tn (last released loss figure, Jan 2026) |
| Daily reporting rate | ≈1,353 → ≈1,072 → ≈1,007 | 29 Jul 2025–14 Jan 2026; 14 Jan–31 May 2026; 31 May–30 Sep 2026 |
| Share of reports filed directly by victims | 36.4% → 52.3% | 74,218/204,011 (Jul 2025); 367,586/702,342 (Sep 2026) |
| Share of reported accounts blocked | 51.2% | 702,833 / 1,372,483 (Sep 2026) |
| Funds held per blocked account | ≈Rp1.15 million | Rp811.1 bn / 702,833 (Sep 2026) |
| Average loss per report | ≈Rp21.0 million | Rp9.1 tn / 432,637 (Jan 2026) |
| Geographic concentration of reports | Java 69.8%; West Java 20.7% | 404,502 and 119,750 of 579,459 (May 2026) |
Source: this study’s calculations from Kontan, 6 Oct 2026, Investortrust, 6 Aug 2025, Kontan, 30 Jun 2026, Kontan, 22 Jan 2026. Figures rounded.
Two other indicators change how the growth in reports should be read. The daily reporting rate has actually declined, from about 1,353 reports a day in the second half of 2025 to about 1,007 a day between June and September 2026. At the same time, the share of reports filed directly by victims rose from 36.4 per cent to 52.3 per cent. This combination is consistent with two explanations that are not mutually exclusive: the IASC reporting channel is becoming better known so more victims report themselves, while bank-relayed reports have slowed, either because incidents are falling or because banks handle some cases internally. This study cannot distinguish between them with the available data and therefore assesses the true incident trend with low confidence.
The composition of scam types clarifies the contact node being exploited. As of 31 May 2026, the PASTI Task Force release listed shopping fraud as the largest category with 77,740 reports, followed by impersonation or fake-call fraud at 47,269, investment fraud at 26,649 and job fraud at 23,910. Geographic concentration is also sharp: Java accounted for 404,502 of 579,459 reports, or 69.8 per cent, and West Java alone for 20.7 per cent. This pattern shows that most of Indonesia’s losses come not from sophisticated high-value schemes but from a high volume of mid-value fraud. The average loss per report in January 2026 was about Rp21 million. The GASA survey for Indonesia (2025), which found that 66 per cent of adults encountered a scam attempt within a year and 14 per cent lost money, suggests that the IASC captures only a small fraction of the victim population.
OJK’s own cross-country comparison underlines the distinctiveness of Indonesia’s profile. According to Indonesia Business Post (November 2025), Indonesia recorded about 874 reports a day from November 2024 to October 2025, far above Malaysia, Singapore or Hong Kong, but with lower total losses than Singapore and Hong Kong. In other words, Indonesia is a volume market, not a value market. The analytical implication is important: strategies that work in high-value markets, such as in-depth investigation of each case, cannot be scaled to hundreds of thousands of mid-value reports. Indonesia needs automated interception at the contact and monetisation nodes, not merely faster case handling.
Indonesia as Labour Supplier and New Host
Indonesia’s second role in this economy is as a labour supplier, and the data, summarised in Table 3, are growing faster than the state’s capacity to respond. The Foreign Ministry recorded more than 4,700 Indonesians repatriated from online scam operations between 2020 and September 2024, according to data quoted by AFP via the Borneo Post. In June 2025, Foreign Minister Sugiono cited about 7,600 cases for 2021 to 2025, with Cambodia at about 4,300 and Myanmar about 1,100, as reported by Bisnis. In October 2025, the Director for the Protection of Citizens cited more than 10,000 cases in ten countries since 2020. The gap between 7,600 and more than 10,000 within four months is partly due to different starting years, but also to the mixing of cases and persons, including repeat victims who return to compounds after repatriation.
| Indicator | Value | Period | Source |
|---|---|---|---|
| Indonesians repatriated from online scam operations | >4,700 | 2020–Sep 2024 | Foreign Ministry via AFP/Borneo Post |
| Indonesians from Myanmar repatriated via Thailand | 561 (≈400 + ≈161) | Mar 2025 | Borneo Post, 18 Mar 2025 |
| Cases of Indonesians linked to online scams | ≈7,600 (Cambodia ≈4,300; Myanmar ≈1,100; 1,508 linked to trafficking) | 2021–Jun 2025 | Bisnis, 30 Jun 2025 |
| Online scam cases involving Indonesians | >10,000 in 10 countries | 2020–Oct 2025 | IDX Channel, 21 Oct 2025 |
| Indonesians affected by Myawaddy operations | ≈400 (>200 at Shwe Kokko) | Oct–Nov 2025 | Metro TV, 22 Nov 2025 |
| Cases handled by the embassy in Phnom Penh | 5,088 | 2025 | Bisnis, 24 Jan 2026 |
| Indonesians requesting return after Cambodian raids | 2,117 | 16–23 Jan 2026 | Bisnis, 24 Jan 2026 |
| Indonesians seeking help to return / repatriated | 5,481 / 1,816 | 16 Jan–8 Mar 2026 | RRI, 11 Mar 2026 |
| Indonesians seeking repatriation support / repatriated | 12,207 / 5,966; ≈1,100 held at Pochentong; >600 at other sites | 1 Jan–9 Jul 2026 | RRI, 10 Jul 2026 |
| Indonesians prosecuted in a Bali scam network targeting Americans | 38 | to Nov 2025 | DOJ, 12 Nov 2025 |
Source: as listed per row. Foreign Ministry figures mix cases and persons; see Table 8.
The year 2026 brought an unprecedented surge. After Cambodian government raids in mid-January 2026, the number of Indonesians registering for repatriation reached 2,117 in a week, according to Bisnis quoting Ambassador Santo Darmosumarto; by comparison, the embassy in Phnom Penh handled 5,088 cases in the whole of 2025. By 8 March 2026, 5,481 people had sought help to return and 1,816 had been repatriated. On 10 July 2026, RRI reported that 12,207 Indonesians had sought repatriation support since the start of the year, 5,966 had been repatriated, about 1,100 were held at the Pochentong immigration facility, and more than 600 others were at suspected scam sites in Bati, Siem Reap, Phnom Penh and Sihanoukville. In the first six months of 2026 alone, requests for help from Cambodia exceeded twice the total caseload of the previous year.
On the Myanmar side, junta operations at KK Park in October 2025 and at Shwe Kokko on 17 November 2025 affected about 400 Indonesians, more than 200 of whom were held at Shwe Kokko alongside 1,367 other foreigners, according to Metro TV quoting the embassy in Yangon. Repatriation has been slow because shelters are full and because verifying victim status takes time. This is where the literature on the blurring of victim and offender becomes operationally relevant. Research by Luong and colleagues (2024) on Vietnamese workers in Cambodia shows how fake vacancies targeting graduates with information technology and customer service skills become a gateway to forced labour. A similar profile appears in Indonesian cases, and it explains why job fraud is also a large category in IASC reports: the recruitment and contact nodes use the same techniques against the same population.
The third role, as host, is the most worrying development in the 2025 to 2026 data. The US Justice Department press release on the Scam Center Strike Force of November 2025 cited a scam network in Bali directed by Cambodia-based facilitators and targeting more than 150 victims in the United States, with 38 Indonesian nationals prosecuted on the basis of the task force’s information. In May 2026, authorities arrested 210 foreigners in Batam over alleged online investment fraud and 321 foreigners in Jakarta operating 75 online gambling sites, mostly Vietnamese and Chinese nationals, according to Reuters via Arab News. An Interpol Indonesia official in the same report said online gambling operations appeared to be moving from Cambodian cities to Indonesia, and the South China Morning Post quoted analysts pointing to a porous visa regime and weak law enforcement as the draw. This study judges with moderate confidence that Indonesia is becoming one of the relocation destinations, and with low confidence regarding the scale of that relocation, because arrest data have not yet become a consistent series.
Regional and Global Scale: Comparing Conflicting Estimates
Table 4 gathers ten key estimates. Reading them requires methodological discipline, because the figures measure different things: the number of people held, funds stolen, losses reported or losses according to surveys. The earliest influential workforce estimate came from OHCHR in August 2023, stating that at least 120,000 people in Myanmar and around 100,000 in Cambodia may be held in forced online scam work, as reported by UN News. A USIP study group in May 2024 estimated some 305,000 scam workers in Myanmar, Cambodia and Laos and, in Jason Tower’s written testimony to the US Congress (July 2024), stated that these groups steal about US$64 billion a year as of the end of 2023.
| Estimate | Value | Coverage and year | Source and nature of data |
|---|---|---|---|
| People held in scam operations | ≥120,000 (Myanmar); 100,000 (Cambodia) | 2023 | OHCHR via UN News; credible estimate, not a census |
| Funds stolen by syndicates | US$63.9 bn global; Mekong US$43.8 bn or US$39 bn | 2023 | Asia Financial vs VOA on the USIP report of May 2024; modelled |
| Scam workforce | ≈305,000 in Myanmar, Cambodia, Laos | 2023–2024 | VOA; study-group estimate |
| Losses in East and Southeast Asia | ≈US$37 bn | UNODC report, April 2025 | AsiaNews; aggregation of official data |
| Scam losses | US$88.3–114.1 bn | East Asia, Southeast Asia, Australia, New Zealand; 2025 | UNODC, Jul 2026 via OCCRP; modelled range |
| Global losses (survey) | US$442 bn; 57% of adults scammed | 42 countries, 46,000 respondents; 2025 | GASA/Feedzai; online survey |
| Indonesian losses (survey) | Rp49 tn (US$3.3 bn); 66% encountered, 14% lost money | 1,000 respondents; 26 Feb–14 Mar 2025 | GASA/Mastercard; online survey |
| Reported US losses | US$20.877 bn; 1,008,597 complaints; crypto US$11.366 bn | 2025 | FBI IC3 via FOX 5; complaint data |
| US losses to Southeast Asian scams | ≥US$10 bn (+66%) | 2024 | US Treasury; government estimate |
| Criminal proceeds of the Ming family (Kokang) | >100 bn yuan (≈US$13.9 bn) | 2015–2023 | OCCRP; PRC court findings |
Source: as listed per row. bn = billion.
Internal conflict appears even within a single report. For the Mekong region, Asia Financial reported US$43.8 billion a year, about 40 per cent of the combined gross domestic product of three countries, whereas VOA reported US$39 billion for Myanmar, Cambodia and Laos. This study records both without choosing, because the primary document could not be re-accessed at the time of writing to confirm which figure is correct. For Cambodia alone, both reports agree that scam proceeds exceeded US$12.5 billion in 2023, roughly half the country’s official GDP. These are expert-group estimates, so this study treats them with moderate confidence as indicators of order of magnitude, not as measurements.
The trajectory of UNODC estimates is instructive. The April 2025 report, Inflection Point, cited losses of about US$37 billion in East and Southeast Asian countries, according to AsiaNews, and warned that the industry was spreading to Africa, Latin America and other regions. The July 2026 report, An Interconnected Criminal Ecosystem, raised the estimate for 2025 to US$88.3 to 114.1 billion, with coverage that now includes Australia and New Zealand, according to Decrypt. A more than twofold increase should not be read as real growth alone, because geographic coverage and methods differ. Yet the direction of both is clear: no credible institutional estimate shows shrinkage. The same report records people from at least 80 countries identified inside compounds, up from more than 50 countries in the 2025 report, and a 42 per cent rise in malvertising incidents in 2025. This study judges with high confidence that the regional scam economy in 2025 was no smaller than in 2023.
At the other end of the spectrum, consumer surveys produce far larger figures. GASA (October 2025) estimated global losses of US$442 billion from 46,000 respondents in 42 countries, and Rp49 trillion for Indonesia. Such surveys tend to inflate values because of extrapolation from online samples and because respondents include experiences that are not all fraud in the legal sense. Conversely, official complaint data such as IC3 or the IASC deflate values because only a small share of victims report. The US government itself estimated that Americans lost at least US$10 billion to Southeast Asian scams in 2024, up 66 per cent, according to the US Treasury. This study’s position is triangulation: real regional losses almost certainly lie between official reported figures and survey figures, and for Indonesia the defensible range stretches between Rp9.1 trillion in cumulative reported losses over about fourteen months and Rp49 trillion in losses according to a twelve-month survey, with low confidence in any single point within that range.
Enforcement in 2025–2026: The Prince Group, KK Park and the Balloon Effect
Table 5 sets out a chronology of eleven enforcement events and their quantitative markers. Three kinds of pressure working together emerge from it. The first is financial and legal: on 14 October 2025 the US Treasury designated the Prince Group a transnational criminal organisation and sanctioned 146 targets, alongside British action, while FinCEN cut Huione Group off from the US financial system for laundering at least US$4 billion in illicit proceeds between August 2021 and January 2025. At the same time, US prosecutors filed to forfeit 127,271 bitcoin worth about US$15 billion, which TRM Labs describes as the largest forfeiture in US history. The second pressure is coercive and extraterritorial, chiefly from China, and the third is physical pressure on infrastructure, most clearly in Thailand’s decision to cut electricity, fuel and internet to the Myanmar border area on 5 February 2025.
| Date | Actor and action | Quantitative marker | Source |
|---|---|---|---|
| 5 Feb 2025 | Thailand cuts electricity, fuel and internet to the Myanmar border | ≈7,000 victims awaiting repatriation | Khaosod; NPR/Michigan Public |
| 26 Jun 2025 | Amnesty International maps Cambodian compounds | ≥53 compounds | Amnesty |
| 14 Oct 2025 | US and UK sanction the Prince Group network; FinCEN cuts off Huione | 146 targets; Huione laundered ≥US$4 bn; 127,271 BTC (≈US$15 bn) seized | US Treasury; TRM Labs |
| Mid–27 Oct 2025 | Myanmar’s junta raids, then blows up parts of, KK Park | >1,500 people cross into Thailand in a week | AP via News4Jax |
| 12 Nov 2025 | US Scam Center Strike Force launched | US$401.66 m in crypto seized; 38 Indonesians prosecuted (Bali) | DOJ |
| 17 Nov 2025 | Operation at Shwe Kokko, Myawaddy | >200 Indonesians among 1,367 other foreigners | Metro TV |
| Early Jan 2026 | Chen Zhi arrested in Cambodia and extradited to the PRC; Prince Bank liquidated | n.a. | Decrypt; The Sun |
| 29 Jan & 2 Feb 2026 | PRC executes 11 Ming family members and 4 Bai family figures | 14 PRC citizens killed by the Ming network | OCCRP; Caixin |
| Apr 2026 | Amnesty updates its Cambodia mapping | 53 → 86 compounds; state intervention at only 24 sites | The Nation/ANN |
| 6–9 May 2026 | Raids in Batam and Jakarta | 210 foreigners (Batam, investment); 321 foreigners (Jakarta, 75 gambling sites) | Arab News/Reuters; Antara |
| 27 Aug 2026 | Cambodia claims major scam centres cleared | 793 sites inspected; ≈30,000 detained; 58,266 foreigners repatriated | ANN |
Source: as listed per row.
The short-term results of that pressure were real. After Thailand’s power cut, about 7,000 victims from many countries awaited repatriation on the Myanmar side, according to Khaosod English. In mid-October 2025 Myanmar’s military raided KK Park and from 24 October began blowing up parts of it; more than 1,500 people crossed into Thailand within a week, according to the Associated Press. In early January 2026 Chen Zhi was arrested in Cambodia and extradited to China, according to Decrypt, and Cambodia’s central bank ordered the liquidation of Prince Bank. On 29 January 2026 China executed eleven members of the Ming family, which local authorities said generated more than 100 billion yuan in criminal proceeds and caused the deaths of 14 Chinese citizens, as reported by OCCRP; four days later, four figures of the Bai family followed. In symbolic terms, 2025 and early 2026 were the harshest period of enforcement since the industry emerged.
Yet the displacement indicators tell a different story. Amnesty International mapped at least 53 compounds in Cambodia in its June 2025 report; by April 2026, according to an update reported by The Nation via Asia News Network, the number had risen to 86, with evidence of state intervention at only 24 sites. On 27 August 2026 the Cambodian government claimed that all major scam centres had been cleared, with 793 sites inspected, nearly 30,000 suspects detained and 58,266 foreigners repatriated, according to Asia News Network. The same official acknowledged that networks were moving rapidly to smaller, concealed locations such as guesthouses, condominiums and even vehicles. CSIS and Interpol analysts quoted in the June 2026 report described a similar pattern: fragmentation into small networks and spread into residential areas. The clearance claim and the evidence of fragmentation are not contradictory facts; both describe the same process, the dismantling of large compounds that forces the business model to change shape.
The economic logic is easy to grasp. The fixed costs of large compounds, including rent, protection and satellite infrastructure, become a burden as enforcement intensifies, while the industry’s core assets, namely scripts, victim databases, access to mule accounts and laundering networks, are portable. UNODC’s July 2026 report describes this model as corporate franchising and stresses that disruption alone does not work, as quoted by Decrypt, while its lead analyst states that the scale and complexity of this criminal economy are outpacing existing responses, according to JURIST. A KBA13 Insight Southeast Asia intelligence brief for the week of 25–31 August 2026 also noted the UN warning that scam-centre operations and illegal mining are compounding Myanmar’s human rights crisis, a reminder that in conflict zones the scam economy becomes a source of finance for armed actors. This study judges with high confidence that enforcement in 2025 and 2026 raised the operating costs of large compounds, and with moderate confidence that it has not yet reduced total victim losses in the region.
Online Gambling as a Twin Payment Infrastructure
Online fraud and online gambling are often discussed as two separate problems, one under the financial authority and one under the communications authority. The data compiled in this study show that the two share the same nodes in the value chain. The Myawaddy compounds holding Indonesians were described as scam or online gambling centres in the same report. The Jakarta raid of May 2026 found 321 foreigners running 75 gambling sites from a single building, and Interpol Indonesia linked it to relocation from Cambodia. At the monetisation node, both use the same mule accounts, e-wallets and QR-code payments. PPATK’s series on online gambling turnover is therefore relevant as an indicator of the health of a monetisation node that also serves fraud.
| Period | Turnover | Deposits | Transactions | Notes |
|---|---|---|---|---|
| 2023 | Rp327 tn | n.a. | n.a. | PPATK data cited by the ICT Ministry |
| 2024 (ministry projection) | Rp900 tn | n.a. | n.a. | Projection, not realised |
| 2024 (actual) | Rp359.81 tn | Rp51.3 tn | n.a. | Peak of the series since 2017; 571,410 social-aid recipient IDs linked to gambling |
| 2025 | Rp286.84 tn (≈−20%) | Rp36.01 tn | n.a. | Komdigi handled 2,087,109 gambling content items |
| H1 2025 | Rp99.68 tn | Rp17.50 tn | 174.90 m (deposits 94.50 m) | Average deposit ≈Rp185,200* |
| H1 2026 | Rp86.82 tn (−12.9%) | Rp22.05 tn (QRIS Rp12.36 tn) | 467.32 m (deposits 226.76 m; QRIS 87.66%) | Average deposit ≈Rp97,200* (−47.5%) |
Source: Bisnis, 1 Aug 2024 · Metro TV, 23 Jul 2026 · Bisnis, 5 Aug 2026 · Bisnis, 8 Oct 2026. *Calculated by this study: deposit value / number of deposit transactions.
Table 7 reveals an important paradox. According to PPATK head Ivan Yustiavandana, online gambling turnover peaked in 2024 at Rp359.81 trillion and fell about 20 per cent to Rp286.84 trillion in 2025, the first significant decline since the series began in 2017, as reported by Metro TV. In the first half of 2026, turnover fell a further 12.9 per cent to Rp86.82 trillion. However, the number of transactions jumped from 174.90 million to 467.32 million, and deposit value rose from Rp17.50 trillion to Rp22.05 trillion, according to Bisnis. This study’s calculation shows that the average value per deposit transaction almost halved, from about Rp185,200 to about Rp97,200. The PPATK head himself attributed the rise in transaction numbers to better detection, while acknowledging that gambling networks split transactions into smaller amounts at higher frequency.
Transaction splitting, known in the anti-money-laundering literature as structuring, is a displacement indicator at the monetisation node that parallels the fragmentation of compounds at the production node. QRIS accounted for 87.66 per cent of gambling deposit transactions in the first half of 2026. This does not mean QRIS is the problem; it means that Indonesia’s most inclusive payment infrastructure, designed for small, fast and cheap transactions, is also the best suited to offenders who want to hide within volume. This study judges with moderate confidence that the fall in online gambling turnover partly reflects successful enforcement and partly reflects offender adaptation that reduces the visibility of transactions.
The history of this series also teaches a lesson about the danger of projections. In August 2024, the Ministry of Communication and Informatics projected that online gambling turnover in 2024 would reach Rp900 trillion, almost triple the 2023 figure of Rp327 trillion, according to Bisnis. The actual figure turned out to be Rp359.81 trillion. A gap of this size is a reminder that large numbers communicated to mobilise public attention can damage the credibility of the data series itself. On 8 October 2026, Minister of Communication and Digital Affairs Meutya Hafid said the measure of success must shift from the number of content items removed to how far gambling activity chains are broken, according to Bisnis; in 2025 alone, the ministry handled 2,087,109 gambling content items. This shift from output to impact measures is right, and the same logic should be applied to fraud: the number of accounts blocked is not the measure of success; the interception and recovery ratios are.
International Comparison: Singapore, the United Kingdom, Australia and Indonesia
Table 6 compares four jurisdictions representing three response philosophies. Singapore combines a centralised law enforcement command, a tiered allocation of liability and preventive powers to intervene with would-be victims. The United Kingdom chose mandatory reimbursement, shifting the burden of loss from victims to payment service providers so that the incentive to prevent sits with the party best able to prevent. Australia chose cross-sector ex ante obligations, requiring banks, telecommunications operators and digital platforms to take reasonable steps to prevent, detect, report, disrupt and respond to scams, backed by heavy penalties. Indonesia has so far relied on coordinated blocking through the IASC and content handling, without any binding allocation of reimbursement liability.
| Jurisdiction | Main instruments and dates | Liability model | Latest outcome indicators |
|---|---|---|---|
| Singapore | Anti-Scam Command; Shared Responsibility Framework in force 16 Dec 2024; Protection from Scams Act passed 7 Jan 2025, in force 1 Jul 2025 | Waterfall: bank, then mobile operator, then consumer (phishing); account restriction orders up to 30 days, extendable five times | 2025: 41,974 cases (−24.8%), losses S$913.1 m, ≈S$140 m recovered; H1 2026: S$410.6 m (−17.9%), >S$97.7 m recovered |
| United Kingdom | Mandatory APP fraud reimbursement by the PSR since 7 Oct 2024; cap £85,000, excess £100 | Payment service providers bear reimbursement | 88% of in-scope money reimbursed (Oct 2024–Mar 2026); independent evaluation: 54% → 65%, Faster Payments losses −21%; 2025 APP losses £576.4 m (+19%) |
| Australia | Scams Prevention Framework passed by Parliament 13 Feb 2025; National Anti-Scam Centre | Ex ante obligations for banks, telcos, digital platforms; penalties up to A$50 m; external dispute resolution | 2025: losses A$2.18 bn (+7.8%), 481,523 reports; 29.7% below the 2022 peak |
| Indonesia | IASC (OJK) since 22 Nov 2024 under Law 4/2023 (P2SK); PASTI Task Force (21 members); Komdigi content handling | Blocking-based; no allocation of reimbursement liability | Sep 2026: 702,342 reports; Rp811.1 bn blocked; Rp207.16 bn returned |
Source: SPF · Malay Mail · MHA · Reed Smith · PSR · Regulation Tomorrow · Fintech Futures/UK Finance · NASC · Jones Day · Kontan · Kontan
Singapore shows the most measurable results. According to the Singapore Police Force, scam and cybercrime cases fell 24.8 per cent to 41,974 in 2025, losses fell from about S$1.1 billion to S$913.1 million, and about S$140 million was recovered, equal to about 15 per cent of losses. In the first half of 2026, losses fell a further 17.9 per cent to S$410.6 million with recoveries of more than S$97.7 million, or about 24 per cent, according to Malay Mail. The Shared Responsibility Framework, in force since 16 December 2024, places phishing losses first on a negligent bank, then on a negligent mobile operator, and only then on the consumer. The Protection from Scams Act, in force from 1 July 2025, gives police power to issue account restriction orders of up to 30 days against persons believed about to transfer funds to scammers, a paternalistic intervention justified by the fact that more than 80 per cent of cases in Singapore involve transfers made by victims themselves.
The United Kingdom offers the clearest policy experiment on reimbursement. Since 7 October 2024, payment service providers must reimburse victims of authorised push payment fraud up to £85,000. The Payment Systems Regulator dashboard shows that 88 per cent of money lost within the scope of the rule was reimbursed over the first eighteen months, and 82 per cent of claims were closed within five business days. An independent evaluation published in July 2026, according to Regulation Tomorrow, found the reimbursement rate rose from 54 to 65 per cent when measured across all APP fraud over Faster Payments, and losses through that channel fell about 21 per cent, equivalent to £73 million a year. However, UK Finance’s annual report recorded 2025 APP losses rising 19 per cent to £576.4 million, driven by investment fraud up 40 per cent, according to Fintech Futures. Differences in scope explain part of this contradiction, and this study judges with moderate confidence that mandatory reimbursement improves fairness for victims faster than it reduces incidence.
Australia offers a lesson on the limits of ex ante obligations. Parliament passed the Scams Prevention Framework on 13 February 2025 with penalties of up to A$50 million per breach, according to Jones Day. Combined 2025 losses were A$2.18 billion, up 7.8 per cent on 2024, though still 29.7 per cent below the 2022 peak, according to the National Anti-Scam Centre. Investment scams remained the largest category at A$837.7 million. The lesson of these three jurisdictions for Indonesia is clear. Indonesia’s recovery ratio in the single-digit per cent range lags far behind Singapore and the United Kingdom. The difference is not merely one of technical capacity but of incentive design: as long as losses fall entirely on victims, banks, e-wallet providers and mobile operators have no financial incentive to invest in real-time interception. OJK’s move to bring telecommunications operator associations into the IASC, announced by Friderica Widyasari Dewi in January 2026 according to Kontan, is the right start but has not yet changed that incentive structure.
Data Quality, Evidence Gaps and the Counter-Argument
The largest data gap is the absence of an open dataset. The IASC is one of the anti-scam centres with the highest report volumes in the world, yet its data are available only as cumulative figures in oral presentations transcribed by journalists. As a result, there is no monthly series of new incidents, no breakdown of losses by scam type, no distribution of time between incident and report, and no data on which banks or providers most often host mule accounts. The loss series stopped being released after January 2026, so the interception ratio cannot be calculated for the latest period. The definitional break in blocked accounts makes matters worse. The second gap concerns Indonesian citizens: no public data separate trafficking victims, voluntary workers and recruiters, although each requires a different legal response. The third gap concerns crypto flows, which are almost invisible in Indonesian data even though in the United States more than half of reported losses are linked to crypto.
The strongest counter-argument to this study’s thesis should be stated in its best form. It runs as follows: Southeast Asia’s scam economy is past its peak. Cambodia claims all major centres have been cleared and has repatriated more than 58,000 foreigners. KK Park has been destroyed. Chen Zhi has been extradited and the largest bitcoin holding in history seized. The leaders of the Kokang clans have been executed. Losses in Singapore have fallen two years in a row. Online gambling turnover in Indonesia fell 20 per cent in 2025 and fell again in 2026. Even the IASC’s daily reporting rate is declining. On this argument, the rise in the IASC’s cumulative figures merely reflects a maturing reporting channel, not worsening crime, and the displacement thesis is too pessimistic.
This argument is right in several respects, and this study partly accepts it. Enforcement has indeed raised costs, a maturing reporting channel does explain part of the rise in reports, and the falling daily rate is a signal that should not be ignored. However, four pieces of evidence weaken its conclusion. First, the number of compounds in Cambodia according to Amnesty rose from 53 to 86 during the same period as the clearance claims. Second, UNODC’s regional loss estimate for 2025 is far above the 2023 estimate, and the number of countries of origin of workers has increased. Third, the fall in online gambling turnover came with a surge in transaction numbers and an almost halving of the average deposit, a classic pattern of detection avoidance. Fourth, and most relevant to Indonesia, the arrest of hundreds of foreigners in Batam, Jakarta and Bali in 2025 to 2026 is direct evidence of relocation onto Indonesian territory. Singapore’s success cannot be generalised either, because it springs from a combination of state capacity and incentive design that its neighbours do not yet possess. This study maintains its thesis with moderate confidence: the scam economy is changing shape, not disappearing.
Scenarios to the End of 2027 and Policy Recommendations
Three scenarios are set out for a horizon to the end of 2027, with probabilities that are an evidence-based assessment as of 21 October 2026. The first scenario, fragmentation and relocation, envisages enforcement continuing to break up large compounds while operations move to small sites in Cambodia and Myanmar and to new jurisdictions, including Indonesia, the Philippines and regions beyond Asia; victim losses in Indonesia hold steady or rise moderately. The second scenario, gradual contraction, envisages coordinated pressure, namely sanctions, extradition, the integration of telecommunications operators into the IASC and shared-liability rules, beginning to reduce per capita losses measurably. The third scenario, escalation driven by artificial intelligence and crypto, envisages offenders using synthetic voice and video and stablecoins to raise the value per victim, so that losses surge even as the number of physical compounds falls.
Scenarios for the scam economy and Indonesia’s exposure to the end of 2027 (author’s assessment, 21 October 2026)
- 1Fragmentation and relocation50%
- 2Gradual contraction30%
- 3AI- and crypto-driven escalation20%
Probabilities are an analytical assessment based on evidence available up to 21 October 2026, not the output of a statistical model.
The signposts to watch differ for each scenario. The first scenario strengthens if arrests of foreigners in scam or gambling raids in Indonesia become routine every quarter, if independent mapping in Cambodia keeps showing new compounds, and if Indonesian repatriation requests from Cambodia stay above a thousand a month. The second strengthens if OJK resumes releasing the loss series and the interception ratio rises above ten per cent, if telecommunications operators are genuinely integrated into the IASC, and if the daily reporting rate keeps falling for three consecutive quarters. The third strengthens if the average loss per report rises sharply, if fraud using synthetic voice or video becomes a category of its own, and if the share of crypto in reported losses increases. FBI data on more than 22,000 AI-related complaints with losses of nearly US$900 million in 2025, according to WaterISAC, are an early signpost worth watching.
The first recommendation is addressed to OJK: by the second quarter of 2027 at the latest, the IASC should publish an open monthly dataset with standard definitions, covering new incidents, losses by scam type, time from incident to report, the interception ratio and the recovery ratio, and announce an annual interception-ratio target. The second is addressed to the government and Parliament: during 2027, a shared-liability framework binding banks, e-wallet providers and mobile operators should be drafted, adapting Singapore’s waterfall model and Britain’s reimbursement model in stages, starting with phishing and mule accounts demonstrably left unmonitored. The third is addressed to the Ministry of Communication and Digital Affairs together with mobile operators: within twelve months, full integration into the IASC, real-time blocking of reported numbers and tighter prepaid SIM registration should be completed, given that 173,718 phone numbers had been reported by victims by September 2026 according to Kontan.
The fourth recommendation is addressed to the Foreign Ministry, the Ministry for the Protection of Migrant Workers, Immigration and the National Police: from 2027, uniform trafficking-victim screening should be applied to every repatriated Indonesian, together with the principle of non-punishment for victims compelled to commit crimes and reintegration programmes to prevent repeat victimisation, backed by a joint police and immigration task force to map foreign networks in Batam, Jakarta, Bali and other cities before compound-scale operations take shape. The fifth is addressed to PPATK and Bank Indonesia: within a year, monitoring of transaction-splitting patterns at QRIS merchants and e-wallets should be strengthened, with indicators published in aggregate. The sixth is addressed to international actors: UNODC and ASEAN partners can prioritise technical assistance to standardise scam data across countries, while the United States, the United Kingdom and China should open channels for sharing information on seized assets so that Indonesian victims of the same networks have a chance of restitution.
Limitations and Conclusion
The limitations of this study should be stated openly. First, most Indonesian data were obtained through media transcriptions of oral presentations, not from official statistical documents, so transcription error cannot be fully ruled out, as seen in an article headline that does not match its data cut-off. Second, derived indicators are sometimes calculated with denominators from different dates, and the recovery upper bound is deliberately conservative. Third, regional estimates rely on modelling whose technical documents cannot all be re-accessed. Fourth, data on offenders and crypto flows involving Indonesia are almost unavailable, so the analysis of the monetisation node relies on online gambling data as a proxy. Fifth, this study does not yet have primary data from interviews with victims or officials, so micro-mechanisms are read only through the literature and institutional reports.
Even so, the main conclusion is robust to these limitations. Southeast Asia’s scam economy in 2023 to 2026 is an industry worth tens of billions of dollars a year that has proven able to adapt to the harshest enforcement in its history. Indonesia is exposed in three roles: as a volume market with more than 700,000 reports in less than two years, as a labour supplier with more than 12,000 repatriation requests from Cambodia in the first six months of 2026, and as a new host for operations pushed out of their traditional hubs. The national response has built a meaningful institutional foundation, but it still measures success by the number of accounts blocked, not by the money saved.
The measure of success against fraud is not the number of accounts blocked but the number of rupiah returned to victims.
The policy choice ahead is therefore clear. As long as losses fall entirely on victims and data remain closed, Indonesia will remain a profitable market, a cheap labour supplier and a comfortable hiding place for this industry. Data transparency, a liability allocation that changes the incentives of businesses, and treating Indonesians in compounds as both victims and sources of intelligence are three levers that can shift Indonesia from the fragmentation scenario towards the contraction scenario. In a digital civilisation, trust is infrastructure, and that infrastructure is now being eroded on an industrial scale.
References and Sources
Official documents and data
- OJK, “SP 127: OJK Ingatkan Bahaya Scam yang Semakin Meluas, PBB Apresiasi Peran OJK dalam Penanganan Scam” (6 July 2026)
- U.S. Department of the Treasury, “U.S. and UK Take Largest Action Ever Targeting Cybercriminal Networks in Southeast Asia” (14 October 2025)
- U.S. Attorney’s Office for the District of Columbia, “New Scam Center Strike Force Battles Southeast Asian Crypto Investment Fraud” (12 November 2025)
- Federal Bureau of Investigation, Internet Crime Complaint Center, “2025 Internet Crime Report” (April 2026)
- Singapore Police Force, “Scams and Cybercrime Fell by Almost a Quarter in 2025” (February 2026)
- Ministry of Home Affairs Singapore, “Commencement of the Protection from Scams Act” (30 June 2025)
- Payment Systems Regulator, “APP Scams Reimbursement Dashboard” (updated July 2026)
- National Anti-Scam Centre (ACCC), “Continued Action Critical to Combat Fraud as Annual Scam Losses Exceed $2 Billion” (30 March 2026)
- UN News, “Hundreds of Thousands Trafficked into Online Criminality across SE Asia” (OHCHR report, August 2023)
- UNODC Regional Office for Southeast Asia and the Pacific, “An Interconnected Criminal Ecosystem” (July 2026)
- Amnesty International, “‘I Was Someone Else’s Property’: Slavery, Human Trafficking and Torture in Cambodia’s Scamming Compounds” (26 June 2025)
Scholarly literature
- Lazarus, S., Chiang, M., Dimitrova, R. S., Thu, T. T., & Essien, E., “What Do We Know About Human Trafficking and Scam Compounds in Southeast Asia (2020–2025)?”, Deviant Behavior 47(6) (2026)
- Cross, C., “Romance Baiting, Cryptorom and ‘Pig Butchering’: An Evolutionary Step in Romance Fraud”, Current Issues in Criminal Justice 36(3) (2024)
- Luong, H. T., et al., “Unveiling the Nature of Scam Forced Criminality in Southeast Asia”, ANZSOC 2024 Abstract Book (2024)
- Franceschini, I., Li, L., & Bo, M., Scam: Inside Southeast Asia’s Cybercrime Compounds (London: Verso, 2025)
Policy analysis and institutional reports
- Global Initiative Against Transnational Organized Crime, “Compound Crime: Cyber Scam Operations in Southeast Asia” (29 May 2025)
- Jason Tower, Written Testimony to the U.S. House of Representatives on Transnational Crime in Southeast Asia (9 July 2024)
- TRM Labs, “Operation Prince: Inside the Global Effort That Led to the Largest Forfeiture in US History” (October 2025)
- GASA and Feedzai, “Global State of Scams Report 2025” (9 October 2025)
- GASA and Mastercard, “GASA Launches ‘State of Scams in Indonesia 2025’ Report” (31 October 2025)
- Reed Smith, “Singapore to Implement Shared Responsibility Framework for Phishing Scams” (2024)
- Jones Day, “Australia Passes Landmark Scam Prevention Legislation” (March 2025)
- Regulation Tomorrow, “Payment Fraud Falls by £73m Following PSR Reimbursement Scheme” (July 2026)
- WaterISAC, “FBI’s IC3 Releases 2025 Internet Crime Report” (9 April 2026)
- KBA13 Insight, “Southeast Asia Intelligence Brief: ASEAN, Myanmar & South China Sea, 25–31 August 2026” (7 September 2026)
News media
- Kontan, “IASC Terima 702.342 Laporan Kasus Penipuan hingga September 2026” (6 October 2026)
- CNN Indonesia, “OJK Amankan Rp723,7 M Dana Korban Scam, 604 Ribu Rekening Diblokir” (5 August 2026)
- Kontan, “IASC Terima 579.459 Laporan Kasus Penipuan per Mei 2026, Terbanyak di Pulau Jawa” (30 June 2026)
- Kontan, “Hingga 14 Januari 2026, Kerugian Masyarakat akibat Penipuan (Scam) Rp9,1 Triliun” (22 January 2026)
- Kontan, “OJK Sebut Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Segera Bergabung dengan IASC” (22 January 2026)
- Kontan, “Total Kerugian Masyarakat akibat Penipuan Capai Rp9 Triliun per Desember 2025” (9 January 2026)
- Kontan, “Total Kerugian Masyarakat akibat Penipuan Keuangan Capai Rp8,2 Triliun” (12 December 2025)
- Kontan, “Total Kerugian Masyarakat akibat Penipuan Capai Rp7,5 Triliun” (10 November 2025)
- Indonesia Business Post, “Indonesia Records World’s Highest Number of Financial Scam Reports: OJK” (3 November 2025)
- Investortrust, “Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) OJK Terima 204.011 Laporan, Total Kerugian Capai Rp4,1 Triliun” (6 August 2025)
- Bisnis.com, “7.600 Kasus WNI Terjerat Sindikat Penipuan Daring di Luar Negeri, Paling Banyak di Kamboja” (30 June 2025)
- IDX Channel, “Kemlu: 10 Ribu WNI Terjerat Kasus Online Scam di 10 Negara termasuk Kamboja” (21 October 2025)
- Bisnis.com, “Razia Online Scam di Kamboja, WNI yang Minta Dipulangkan Tembus 2.117 Orang” (24 January 2026)
- RRI Voice of Indonesia, “Indonesia Repatriates 1,816 Citizens from Cambodia Linked to Online Scams” (11 March 2026)
- RRI Voice of Indonesia, “Indonesian Embassy Races to Help Citizens amid Cambodia Fraud Raids” (10 July 2026)
- Metro TV, “KBRI Yangon Koordinasikan Repatriasi 55 WNI Eks KK Park dari Myanmar” (22 November 2025)
- Borneo Post/AFP, “Indonesia to Bring Home 561 Myanmar Scam Centre Workers” (18 March 2025)
- OCCRP, “UN Report Details Southeast Asia’s Interconnected Criminal Economy” (21 July 2026)
- Decrypt, “Southeast Asian Scam Networks Cost Victims Up to $114B in a Year: UN” (23 July 2026)
- JURIST, “UN Report Exposes Explosive Growth of Southeast Asian Crime Syndicates” (July 2026)
- AsiaNews, “UN Warns Scam Centres Go beyond Southeast Asia, Becoming a Global Threat” (22 April 2025)
- VOA, “Report: Southeast Asia Scam Centers Swindle Billions” (2024)
- Asia Financial, “Scamming Compounds in SE Asia Stole $64 Billion in 2023: Report” (7 June 2024)
- FOX 5 New York, “Crypto Fraud Tops FBI’s Annual Crime Report as Americans Lose Billions to Scams” (9 April 2026)
- Khaosod English, “Scammer Exodus from Myanmar Border; 7,000 Victims Await Freedom” (12 February 2025)
- Michigan Public/NPR, “Over 7,000 from Scam Centers in Myanmar Are Awaiting Repatriation after Crackdown” (27 February 2025)
- Associated Press via News4Jax, “Stragglers from Myanmar Scam Center Raided by Army Cross into Thailand as Buildings Are Blown Up” (28 October 2025)
- Decrypt, “Alleged Crypto Scam Kingpin Arrested in Cambodia after $12 Billion Bitcoin Seizure” (7 January 2026)
- Casino.org, “Casino Scam Lord Chen Zhi Extradited to Face Music in China” (8 January 2026)
- The Sun (Malaysia), “Cambodia Orders Liquidation of Bank Founded by Accused Scam Boss” (8 January 2026)
- OCCRP, “China Executes 11 in Myanmar-Linked Telecom Fraud Gang” (29 January 2026)
- Caixin Global, “China Executes Four More Chiefs in Myanmar Cyberfraud Crackdown” (2 February 2026)
- The Nation/Asia News Network, “Cambodia Scam Centres Grow despite Crackdown, Amnesty Says” (9 June 2026)
- Asia News Network, “Cambodia Claims ‘No Major Online Scam Centres Remain’ after More than 700 Sites Cleared” (31 August 2026)
- South China Morning Post, “Police Raids Reveal Indonesia as New Hub for Scam Syndicates” (12 May 2026)
- Arab News/Reuters, “More than 300 Foreigners Arrested in Jakarta Raid on Online Gambling Operation” (9 May 2026)
- Antara, “Hundreds Nabbed in Batam Raid over Suspected Online Scam Syndicate” (6 May 2026)
- Metro TV, “Perputaran Dana Judol Turun hingga Rp286,84 Triliun di Era Prabowo” (23 July 2026)
- Bisnis.com, “PPATK Catat Nilai Perputaran Judol Turun per Semester I/2026, Jumlah Transaksi Melonjak” (5 August 2026)
- Bisnis.com, “Transaksi Judi Online Diramal Tembus Rp900 Triliun 2024, Naik 3 Kali Lipat” (1 August 2024)
- Bisnis.com, “Komdigi Perluas Pemberantasan Judi Online, Tak Hanya Blokir Situs” (8 October 2026)
- Malay Mail, “Singapore Sees 17.9pc Drop in Scams and Cybercrime but Losses Remain High” (26 August 2026)
- Fintech Futures, “UK Payment Fraud Losses Topped £1.28bn in 2025, New UK Finance Report Finds” (June 2026)
Arsip & Pustaka
- Marc Goodman, Future Crimes: Inside the Digital Underground and the Battle for Our Connected World (London: Corgi Books), Arsip & Pustaka collection
- Foreign Affairs, “World War Web: The Fight for the Internet’s Future”, Vol. 97 No. 5 (September/October 2018), Arsip & Pustaka collection
- The Digital Civilization: Techno-Religion, the Abandoned Society, and the Crisis of Human Authentic Selfhood in the Planetary Era (2026), Arsip & Pustaka collection
- Arsip & Pustaka, full-text search results for “penipuan”
How to Cite
Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. (2026). The Dark Ledger of the Digital Scam Economy: A Dataset on Losses, Victims and Policy Responses to the Scam Industry in Southeast Asia and Indonesia, 2023–2026. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/dataset-ekonomi-penipuan-digital-asia-tenggara/
Professor of Religious Anthropology at UIN Ar-Raniry Banda Aceh; founder of KBA13 Insight and KBA13 Academy. PhD in Sociology, La Trobe University.
Research to teaching · Digital Civilization
Bahan ajar terkait kajian ini
Kajian ini terhubung dengan School dan Course KBA13 Academy pada bidang Digital Civilization, serta dengan koleksi Arsip & Pustaka dan KBA13 Insight.
Course terkait
- DC-A01: AI Civilization and Future Humanity
- DC-A02: Algorithmic Institutions and Society
- DC-A03: Knowledge Systems in Digital Civilization
- DC-A04: Planetary Technology and Global Futures
- DC-A05: Digital Civilization in Southeast Asia
- DC-A06: Designing Humane Digital Futures
Arsip & Pustaka
- Negara Tanpa Salinan: Serangan Ransomware PDNS 2 Surabaya 2024 dan Politik Ketahanan Berdaulat Negara Digital Indonesia2026-11-02
- Mahavaipulya Paripurnabuddhi Nitarthasutra: Sutra Maha Kesadaran yang Sempurna2026-10-29
- Bisakah Menjadi Ilmuwan di Indonesia?: Keilmuan, Birokrasi dan Globalisasi2026-10-29
- The Age of AI: And Our Human Future2026-10-29
- Tubuh Posmodern, Bejana Sensual2026-10-29

Leave a Reply