Tag: perdagangan orang

  • Neraca Gelap Ekonomi Penipuan Digital: Dataset Kerugian, Korban, dan Respons Kebijakan atas Industri Scam di Asia Tenggara dan Indonesia, 2023–2026

    Neraca Gelap Ekonomi Penipuan Digital: Dataset Kerugian, Korban, dan Respons Kebijakan atas Industri Scam di Asia Tenggara dan Indonesia, 2023–2026

    Dataset · Peradaban Digital · Ekonomi Penipuan Lintas Negara

    Neraca Gelap Ekonomi Penipuan DigitalDataset Kerugian, Korban, dan Respons Kebijakan atas Industri Scam di Asia Tenggara dan Indonesia, 2023–2026

    Lebih dari 700.000 laporan penipuan, belasan ribu WNI yang meminta dipulangkan dari kompleks Kamboja, dan rasio intersepsi di bawah lima persen. Dataset ini merangkai angka resmi dan estimasi internasional 2023–2026, mencatat setiap konflik antarsumber, dan menunjukkan bahwa industri scam Asia Tenggara sedang berpindah, bukan runtuh.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • Dataset
    • 21 Oktober 2026
    • ± 32 menit baca
    Neraca Gelap Ekonomi Penipuan Digital: Dataset Kerugian, Korban, dan Respons Kebijakan atas Industri Scam di Asia Tenggara dan Indonesia, 2023–2026
    Industri penipuan digital Asia Tenggara 2023–2026 dalam angka: kerugian, korban, penindakan, dan respons kebijakan.

    Abstrak

    Kajian dataset ini menghimpun, membersihkan, dan menilai mutu data tentang ekonomi penipuan digital berskala industri di Asia Tenggara dan paparannya terhadap Indonesia pada 2023 hingga Oktober 2026. Tujuh tabel data dan satu kamus data menggabungkan seri kumulatif Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) milik OJK, catatan Kementerian Luar Negeri tentang warga negara Indonesia di kompleks penipuan Kamboja dan Myanmar, estimasi UNODC, USIP, OHCHR, GASA, dan FBI IC3, kronologi penindakan terhadap Prince Group, KK Park, dan jaringan Kokang, data perputaran judi online dari PPATK, serta indikator hasil kebijakan di Singapura, Inggris, dan Australia. Kerangka empat simpul (rekrutmen, produksi, kontak, monetisasi) dan tiga rasio (intersepsi, pemulihan, perpindahan) dipakai untuk membaca data tersebut. Temuan utamanya: hingga 30 September 2026 IASC menerima 702.342 laporan dan menahan Rp811,1 miliar, tetapi rasio intersepsi terhadap kerugian terlapor turun dari 8,5 persen menjadi sekitar 4,8 persen, dan dana yang benar-benar kembali ke korban tidak lebih dari 2,3 persen kerugian. Penindakan regional 2025 sampai 2026 memukul simpul paling terlihat, namun data menunjukkan fragmentasi dan relokasi, termasuk ke Indonesia. Kajian ini menawarkan tiga skenario hingga akhir 2027 beserta rekomendasi yang terikat aktor dan tenggat, sekaligus mencatat setiap konflik angka antarsumber.

    Tesis

    Ekonomi penipuan Asia Tenggara tidak sedang runtuh melainkan sedang terpecah dan berpindah, dan Indonesia kini terpapar dalam tiga peran sekaligus, sebagai pasar korban, pemasok tenaga kerja, dan tuan rumah baru, sementara arsitektur respons nasionalnya masih bertumpu pada pemblokiran yang menahan kurang dari lima persen kerugian.

    1. DataOJK/IASC, Kemlu dan KBRI, PPATK, Komdigi, UNODC, OHCHR, USIP, GASA, FBI IC3, serta otoritas Singapura, Inggris, dan Australia
    2. KerangkaEmpat simpul rantai nilai (rekrutmen, produksi, kontak, monetisasi) dan tiga rasio (intersepsi, pemulihan, perpindahan)
    3. ProyeksiTiga skenario hingga akhir 2027 beserta penanda dan enam rekomendasi berjangka waktu

    Kata kunci

    • penipuan digital
    • Indonesia Anti-Scam Centre
    • kompleks penipuan
    • perdagangan orang
    • judi online
    • Asia Tenggara
    • tanggung jawab bersama
    • kamus data
    I

    Ringkasan Eksekutif: Pertanyaan, Jawaban Pokok, dan Taruhannya

    Pertanyaan kajian ini sederhana untuk dirumuskan tetapi sulit dijawab dengan data: seberapa besar ekonomi penipuan digital berskala industri di Asia Tenggara pada 2023 hingga 2026, bagaimana Indonesia terpapar olehnya, dan apakah respons kebijakan yang tersedia sepadan dengan skala ancaman. Jawaban pokoknya dapat dinyatakan dalam satu kalimat. Gelombang penindakan sepanjang 2025 hingga 2026, mulai dari sanksi Amerika Serikat dan Inggris terhadap Prince Group, penghancuran sebagian KK Park di Myawaddy, ekstradisi Chen Zhi ke Tiongkok, sampai eksekusi para pemimpin keluarga Ming dan Bai, telah mematahkan simpul-simpul yang paling terlihat, tetapi tidak mematahkan model bisnisnya. Data dari Kamboja, Myanmar, dan Indonesia sendiri memperlihatkan pola fragmentasi ke lokasi yang lebih kecil dan relokasi ke yurisdiksi baru, sementara kerugian korban tetap berada pada orde puluhan miliar dolar per tahun di tingkat kawasan.

    Bagi Indonesia, bukti intinya terkumpul dalam seri IASC. Hingga 30 September 2026, pusat yang dibentuk OJK pada 22 November 2024 itu telah menerima 702.342 laporan, memverifikasi 1.372.483 rekening terkait penipuan, memblokir 702.833 di antaranya, menahan Rp811,1 miliar dana korban, dan mengembalikan Rp207,16 miliar, sebagaimana dipaparkan dalam konferensi pers OJK 5 Oktober 2026. Angka kerugian kumulatif terakhir yang dirilis, Rp9,1 triliun per 14 Januari 2026, berarti sistem hanya mampu menahan kira-kira lima rupiah dari setiap seratus rupiah yang hilang, dan mengembalikan jauh lebih sedikit lagi. Kajian ini menilai arah temuan tersebut dengan keyakinan tinggi, sedangkan besaran persisnya dengan keyakinan sedang, karena seri kerugian berhenti dipublikasikan setelah Januari 2026 dan definisi rekening diblokir mengalami patahan.

    Taruhannya bersifat global sekaligus peradaban. Laporan UNODC yang dirilis 21 Juli 2026 memperkirakan kerugian akibat scam di Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru mencapai US$88,3 sampai 114,1 miliar pada 2025, menurut liputan OCCRP. Di Amerika Serikat, laporan IC3 2025 mencatat kerugian terlapor sebesar US$20,877 miliar, lebih dari separuhnya terkait kripto. Industri ini bertumpu pada perdagangan orang, pencucian uang lintas yurisdiksi, dan perlindungan elite lokal, sehingga ia adalah persoalan keamanan, hak asasi, dan tata kelola sekaligus. Bagi negara dengan sistem pembayaran instan yang tumbuh cepat seperti Indonesia, yang dipertaruhkan pada akhirnya adalah kepercayaan, yakni modal tak kasatmata yang menopang seluruh agenda inklusi keuangan dan ekonomi digital. Dataset ini disusun agar perdebatan kebijakan berpijak pada angka yang dapat ditelusuri, lengkap dengan catatan di mana angka-angka itu saling bertentangan.

    II

    Kerangka Analitis dan Catatan Metode

    Kajian ini membaca ekonomi penipuan sebagai rantai nilai industri yang terdiri atas empat simpul. Simpul pertama adalah rekrutmen, yaitu pasokan tenaga kerja yang sering diperoleh melalui iklan lowongan palsu dan berakhir pada kerja paksa. Simpul kedua adalah produksi, yakni kompleks fisik di zona ekonomi khusus, bekas kasino, atau gedung perkantoran tempat skrip penipuan dijalankan dalam sif. Simpul ketiga adalah kontak, yaitu infrastruktur telekomunikasi dan platform digital yang memungkinkan pelaku menjangkau korban dalam jumlah besar. Simpul keempat adalah monetisasi, mencakup rekening penampung, dompet elektronik, kode QR pembayaran, aset kripto, dan, sebagaimana diuraikan pada bagian VIII, infrastruktur pembayaran judi online. Pembagian ini sejalan dengan meta-sintesis Lazarus dan kawan-kawan dalam Deviant Behavior (2026), yang menyimpulkan dari 50 publikasi bahwa kompleks penipuan adalah sistem sosio-teknis terindustrialisasi yang hidup di antara ekonomi legal dan ilegal, memanfaatkan zona ekonomi khusus yang longgar dan kerentanan migran.

    Di atas empat simpul itu, kajian ini menurunkan tiga rasio sebagai alat ukur respons. Rasio intersepsi adalah dana yang berhasil diblokir dibagi kerugian terlapor; ia mengukur kecepatan sistem menahan uang sebelum berpindah. Rasio pemulihan adalah dana yang benar-benar kembali ke korban dibagi kerugian atau dibagi dana yang diblokir; ia mengukur kemampuan sistem mengubah intersepsi menjadi keadilan bagi korban. Indikator perpindahan adalah himpunan penanda bahwa aktivitas tidak hilang tetapi bergeser, misalnya bertambahnya kompleks meski ada razia, penangkapan warga asing di luar pusat tradisional, atau fragmentasi transaksi menjadi nominal yang lebih kecil. Ketiga ukuran ini dipilih karena dapat dihitung dari data publik dan karena masing-masing menyasar satu titik lemah yang berbeda dalam rantai nilai.

    Metodenya terdiri atas empat langkah. Pertama, setiap angka dikumpulkan dari sumber primer atau dari media yang mengutip pejabat bernama pada tanggal tertentu, dan batas data dicatat terpisah dari tanggal publikasi. Kedua, angka yang saling bertentangan tidak dipilih salah satunya, melainkan ditampilkan berdampingan dan dicatat dalam kamus data. Ketiga, indikator turunan dihitung secara transparan dengan rumus yang dicantumkan. Keempat, setiap penilaian kunci diberi label keyakinan tinggi, sedang, atau rendah, dengan mengikuti praktik analisis intelijen terstruktur: keyakinan tinggi berarti beberapa sumber independen bermutu baik sejalan; keyakinan sedang berarti sumber kredibel tetapi tunggal atau berbeda cakupan; keyakinan rendah berarti bukti tidak langsung. Untuk pertanyaan sentral apakah ekonomi penipuan menyusut atau berpindah, kajian ini menimbang kedua hipotesis secara bersaing dan mencari bukti yang paling membedakan keduanya, bukan bukti yang sekadar konsisten dengan salah satunya.

    Kerangka ini juga bertumpu pada literatur yang lebih luas. Cassandra Cross (2024) menunjukkan bahwa penipuan yang dikenal sebagai pig butchering adalah konvergensi penipuan asmara dan penipuan investasi, sehingga kategori pelaporan konvensional cenderung salah menghitungnya. Laporan Global Initiative Against Transnational Organized Crime (Mei 2025) memperkenalkan konsep role shifters, yaitu aktor yang mengaburkan batas antara pemerintah, bisnis, dan kejahatan, yang menjelaskan mengapa penindakan sering berhenti pada pekerja lapangan. Jauh sebelum gelombang kompleks ini, buku Marc Goodman, Future Crimes, sudah menggambarkan ekonomi bawah tanah digital yang beroperasi layaknya korporasi. Adapun buku tahun 2026 berjudul The Digital Civilization menawarkan gagasan Abandoned Society, kelompok yang tersisih dari manfaat digital tetapi menanggung risikonya, yang dalam kajian ini menjadi lensa untuk membaca mengapa pencari kerja muda dan pengguna dompet digital berpenghasilan rendah menjadi bahan bakar sekaligus korban industri ini.

    III

    Provenans Data, Pengolahan, dan Kamus Data

    Seluruh data dalam kajian ini bersumber dari dokumen yang dapat diakses publik hingga 21 Oktober 2026. Seri Indonesia berasal dari paparan OJK dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner bulanan, rapat kerja dengan DPR, dan siaran pers resmi, yang kemudian diteruskan oleh media seperti Kontan, CNN Indonesia, Bisnis, dan Investortrust. Persoalan provenans pertama langsung tampak di sini: OJK tidak menerbitkan dataset IASC dalam format terbuka, sehingga peneliti bergantung pada transkripsi wartawan. Kajian ini menautkan setiap titik data ke artikel yang memuatnya dan memeriksa konsistensi internal, misalnya apakah jumlah laporan melalui pelaku usaha dan laporan langsung korban berjumlah sama dengan totalnya. Pada rilis 30 September 2026, misalnya, 334.756 laporan via pelaku usaha jasa keuangan dan 367.586 laporan langsung korban memang berjumlah 702.342.

    Data tentang warga negara Indonesia berasal dari pernyataan Kementerian Luar Negeri, KBRI Phnom Penh, dan KBRI Yangon yang dikutip media nasional dan kantor berita. Estimasi regional berasal dari tiga keluarga sumber yang metodenya berbeda secara mendasar: lembaga multilateral (UNODC, OHCHR) yang menggabungkan data resmi negara dan pemodelan, kelompok studi kebijakan (USIP) yang menggunakan triangulasi pakar, serta survei konsumen (GASA) yang mengekstrapolasi dari sampel daring. Data penindakan berasal dari siaran pers pemerintah Amerika Serikat, putusan pengadilan Tiongkok sebagaimana dilaporkan media, pernyataan pemerintah Kamboja dan Thailand, serta organisasi hak asasi. Data kebijakan pembanding berasal dari kepolisian Singapura, regulator sistem pembayaran Inggris, dan National Anti-Scam Centre Australia, yang semuanya menerbitkan statistik dengan metodologi tertulis.

    Pengolahan data mengikuti tiga aturan. Nilai mata uang tidak dikonversi ke satu mata uang bersama kecuali sumber sendiri yang melakukannya, karena konversi dengan kurs berbeda tanggal akan menambah lapisan galat yang tidak perlu. Indikator turunan hanya dihitung dari pasangan angka dengan batas data yang sama atau, jika tidak tersedia, dengan catatan eksplisit tentang ketidaksesuaian tanggal. Angka yang saling bertentangan dibiarkan berdampingan. Tabel 8 di bawah ini merangkum variabel, definisi, satuan, sumber, cakupan, dan nilai mutu setiap kelompok data, dengan skala A untuk statistik resmi bermetodologi terbit, B untuk data resmi yang parsial atau diteruskan media, dan C untuk estimasi, survei, atau angka yang bertentangan.

    Tabel 8. Kamus data: variabel, definisi, satuan, sumber, cakupan, dan mutu
    VariabelDefinisiSatuanSumberCakupanMutu dan catatan konflik
    iasc_laporanLaporan penipuan kumulatif yang diterima IASC, via pelaku usaha jasa keuangan dan langsung oleh korbanjumlahOJK, konferensi pers RDK, diteruskan media22 Nov 2024–30 Sep 2026B: resmi tetapi tanpa dataset terbuka
    iasc_kerugianKerugian yang dilaporkan korban, kumulatifRpOJKs.d. 14 Jan 2026C: swa-lapor tanpa verifikasi; tidak dirilis lagi setelah Jan 2026; GASA memperkirakan Rp49 T per 12 bulan
    iasc_rek_blokirRekening terindikasi penipuan yang telah diblokirjumlahOJKJul 2025–Sep 2026C: patahan definisi, 127.047 (23 Des 2025) melonjak ke 397.028 (14 Jan 2026); 510.357 (24 Okt 2025) vs 100.565 (31 Okt 2025)
    iasc_dana_blokir / dana_kembaliDana korban yang tertahan / telah dikembalikanRpOJKJul 2025–Sep 2026B: konsisten antarrilis; judul Kontan 10 Nov 2025 menyebut “September” padahal batas data 31 Okt 2025
    wni_kasus_scamKasus WNI terkait online scam di luar negerikasus/orangKemlu2020–Okt 2025C: ±7.600 (2021–Jun 2025) vs >10.000 (2020–Okt 2025); satuan kasus dan orang tercampur; korban berulang
    wni_repatriasi_khWNI meminta bantuan atau dipulangkan dari KambojaorangKBRI Phnom PenhJan–Jul 2026B: rincian harian 1.726+224+164 = 2.114, bukan 2.117
    kerugian_regionalKerugian akibat scam di kawasanUS$UNODC, USIP2023–2025C: cakupan berbeda; USIP Mekong US$43,8 mlrd (Asia Financial) vs US$39 mlrd (VOA)
    survei_gasaPrevalensi dan kerugian menurut survei% dan Rp/US$GASA2025C: survei daring n=1.000 (Indonesia), n=46.000 (global)
    ic3_kerugianKerugian terlapor ke FBIUS$FBI IC32025B: penipuan investasi >US$8,6 mlrd (WaterISAC) vs penipuan investasi kripto US$7,2 mlrd (FOX 5), kategori berbeda
    judol_perputaranPerputaran dana judi onlineRpPPATK2017–Sem. I 2026B: proyeksi Rp900 T untuk 2024 vs realisasi Rp359,81 T
    kh_penindakanLokasi, penahanan, deportasi di KambojajumlahPemerintah Kamboja; Amnesty2025–2026C: klaim “bersih” vs 86 kompleks (Amnesty)
    id_razia_wnaWNA ditangkap dalam razia scam/judi di IndonesiaorangPolri, ImigrasiMei 2026C: tanggal (7 vs 9 Mei) dan lokasi Jakarta berbeda antarmedia
    sg / uk / auKerugian, kasus, penggantianS$, £, A$SPF, PSR, UK Finance, NASC2024–Sem. I 2026A: statistik resmi; UK: 88% (dashboard, dalam cakupan) vs 65% (evaluasi, semua APP via FPS)

    Sumber: disusun kajian ini. Mutu A = statistik resmi dengan metodologi terbit; B = resmi tetapi parsial atau lewat media; C = estimasi, survei, atau angka bertentangan.

    Tiga konflik dalam kamus data layak disorot karena memengaruhi interpretasi. Konflik pertama menyangkut rekening diblokir: seri Kontan mencatat 127.047 rekening per 23 Desember 2025, lalu 397.028 per 14 Januari 2026, lonjakan tiga kali lipat dalam tiga minggu yang hampir pasti mencerminkan perubahan definisi atau penggabungan pemblokiran oleh bank, bukan peningkatan kinerja mendadak. Pada saat yang hampir sama, paparan OJK di sebuah forum industri pada 31 Oktober 2025 menyebut 510.357 rekening diblokir, sementara seri Kontan per 31 Oktober 2025 menyebut 100.565. Konflik kedua menyangkut besaran kerugian: Rp9,1 triliun versi IASC berbanding Rp49 triliun versi survei GASA, selisih lebih dari lima kali lipat yang mencerminkan perbedaan antara kerugian yang dilaporkan dan kerugian yang dialami. Konflik ketiga menyangkut warga negara Indonesia, karena Kemlu memakai satuan kasus dan satuan orang secara bergantian. Keyakinan kajian ini terhadap seri dana diblokir dan dana dikembalikan tinggi; terhadap seri rekening diblokir rendah.

    IV

    Indonesia sebagai Pasar Korban: Membaca Seri IASC

    Tabel 1 menyajikan sepuluh titik data IASC dari Juli 2025 hingga September 2026. Pola paling mencolok adalah pertumbuhan laporan yang tetap tinggi: dari 204.011 laporan per 29 Juli 2025 menjadi 702.342 per 30 September 2026, atau lebih dari tiga kali lipat dalam empat belas bulan. Kerugian kumulatif yang dilaporkan bergerak dari Rp4,1 triliun ke Rp9,1 triliun antara Juli 2025 dan Januari 2026, lalu berhenti dirilis. Sejak rilis Mei 2026, OJK menonjolkan dana diblokir dan dana dikembalikan, sebuah pergeseran komunikasi yang dapat dipahami secara kelembagaan tetapi menghilangkan penyebut yang paling penting untuk menilai kinerja.

    Tabel 1. Seri kumulatif Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), sejak 22 November 2024
    Batas dataLaporanKerugian dilaporkanRekening dilaporkanRekening diblokirDana diblokirDana dikembalikan
    29 Jul 2025204.011Rp4,1 T326.28366.271Rp348,3 Mn.a.
    24 Okt 2025311.597Rp7,3 Tn.a.510.357*Rp381,3 Mn.a.
    31 Okt 2025323.841Rp7,5 T530.794100.565Rp383,6 Mn.a.
    30 Nov 2025373.129Rp8,2 T619.394117.301Rp389,3 Mn.a.
    23 Des 2025411.055Rp9,0 T681.890127.047Rp402,5 Mn.a.
    14 Jan 2026432.637Rp9,1 T721.101397.028Rp436,88 Mn.a.
    31 Mei 2026579.459tidak dirilis998.558515.553Rp638,9 MRp169,3 M
    Juni 2026>608.000tidak dirilisn.a.>557.000Rp674 M±Rp200 M
    31 Jul 2026636.014tidak dirilis1.176.571604.923Rp723,7 MRp204,3 M
    30 Sep 2026702.342tidak dirilis1.372.483702.833Rp811,1 MRp207,16 M

    Sumber: Investortrust, 6 Agu 2025 · Indonesia Business Post, 3 Nov 2025 · Kontan, 10 Nov 2025 · Kontan, 12 Des 2025 · Kontan, 9 Jan 2026 · Kontan, 22 Jan 2026 · Kontan, 30 Jun 2026 · OJK SP 127, 6 Jul 2026 · CNN Indonesia, 5 Agu 2026 · Kontan, 6 Okt 2026. T = triliun, M = miliar. *Angka 510.357 disebut sebagai rekening diblokir dalam paparan 31 Oktober 2025, bertentangan dengan 100.565 pada seri Kontan; lihat Tabel 8.

    Tabel 2 mengubah seri mentah itu menjadi indikator. Rasio intersepsi turun dari 8,5 persen pada Juli 2025 menjadi 4,5 sampai 4,8 persen pada akhir 2025 dan awal 2026. Artinya, ketika volume laporan naik, kemampuan sistem menahan dana tidak ikut naik secara proporsional. Dana yang tertahan per rekening yang diblokir hanya sekitar Rp1,15 juta, angka yang menunjukkan bahwa sebagian besar rekening penampung sudah dikuras sebelum pemblokiran terjadi. Rasio pengembalian terhadap dana yang diblokir relatif stabil di kisaran seperempat, tetapi jika dibandingkan dengan kerugian terakhir yang dirilis, dana yang kembali ke korban tidak melebihi 2,3 persen. Batas atas ini sengaja dihitung dengan penyebut lama; kerugian sebenarnya hingga September 2026 pasti lebih besar, sehingga rasio sesungguhnya lebih kecil. Kajian ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa pemulihan bagi korban di Indonesia berada pada orde satu digit persen.

    Tabel 2. Indikator turunan Indonesia (dihitung oleh kajian ini dari Tabel 1)
    IndikatorNilaiRumus dan periode
    Rasio intersepsi8,5% → 5,1% → 4,7% → 4,5% → 4,8%Dana diblokir / kerugian dilaporkan; Jul, Okt, Nov, Des 2025, Jan 2026
    Rasio pengembalian atas dana diblokir26,5% (Mei 2026); 25,5% (Sep 2026)Dana dikembalikan / dana diblokir
    Batas atas pemulihan atas kerugian≤2,3%Rp207,16 M (Sep 2026) / Rp9,1 T (kerugian terakhir yang dirilis, Jan 2026)
    Laju laporan harian±1.353 → ±1.072 → ±1.00729 Jul 2025–14 Jan 2026; 14 Jan–31 Mei 2026; 31 Mei–30 Sep 2026
    Pangsa laporan langsung korban36,4% → 52,3%74.218/204.011 (Jul 2025); 367.586/702.342 (Sep 2026)
    Pangsa rekening dilaporkan yang diblokir51,2%702.833 / 1.372.483 (Sep 2026)
    Dana tertahan per rekening diblokir±Rp1,15 jutaRp811,1 M / 702.833 (Sep 2026)
    Kerugian rata-rata per laporan±Rp21,0 jutaRp9,1 T / 432.637 (Jan 2026)
    Konsentrasi geografis laporanJawa 69,8%; Jawa Barat 20,7%404.502 dan 119.750 dari 579.459 (Mei 2026)

    Sumber: perhitungan kajian ini dari Kontan, 6 Okt 2026, Investortrust, 6 Agu 2025, Kontan, 30 Jun 2026, Kontan, 22 Jan 2026. Angka dibulatkan.

    Dua indikator lain mengubah cara membaca pertumbuhan laporan. Laju laporan harian justru menurun, dari sekitar 1.353 laporan per hari pada paruh kedua 2025 menjadi sekitar 1.007 per hari antara Juni dan September 2026. Pada saat yang sama, pangsa laporan yang diajukan langsung oleh korban naik dari 36,4 persen menjadi 52,3 persen. Kombinasi ini konsisten dengan dua penjelasan yang tidak saling meniadakan: kanal pelaporan IASC makin dikenal sehingga lebih banyak korban melapor sendiri, sementara laporan yang diteruskan bank melambat, entah karena insiden menurun atau karena bank menangani sebagian kasus secara internal. Kajian ini tidak dapat membedakan keduanya dengan data yang ada dan karena itu menilai tren insiden sesungguhnya dengan keyakinan rendah.

    Komposisi jenis penipuan memperjelas simpul kontak yang dimanfaatkan. Per 31 Mei 2026, rilis Satgas PASTI mencatat penipuan transaksi belanja sebagai kategori terbesar dengan 77.740 laporan, disusul penipuan mengaku pihak lain atau fake call sebanyak 47.269, penipuan investasi 26.649, dan penipuan lowongan kerja 23.910. Konsentrasi geografisnya juga tajam: Pulau Jawa menyumbang 404.502 dari 579.459 laporan atau 69,8 persen, dan Jawa Barat sendiri 20,7 persen. Pola ini menunjukkan bahwa sebagian besar kerugian Indonesia tidak berasal dari skema canggih bernilai besar, melainkan dari volume tinggi penipuan bernilai menengah. Kerugian rata-rata per laporan pada Januari 2026 sekitar Rp21 juta. Data survei GASA untuk Indonesia (2025), yang menemukan 66 persen orang dewasa menjumpai upaya penipuan dalam setahun dan 14 persen kehilangan uang, mengisyaratkan bahwa IASC baru menangkap sebagian kecil dari populasi korban.

    Perbandingan lintas negara yang dipaparkan OJK sendiri menegaskan keunikan profil Indonesia. Menurut laporan Indonesia Business Post (November 2025), Indonesia mencatat sekitar 874 laporan per hari pada periode November 2024 hingga Oktober 2025, jauh di atas Malaysia, Singapura, atau Hong Kong, tetapi dengan total kerugian yang lebih rendah daripada Singapura dan Hong Kong. Dengan kata lain, Indonesia adalah pasar volume, bukan pasar nilai. Implikasi analitisnya penting: strategi yang berhasil di pasar bernilai tinggi, seperti investigasi mendalam per kasus, tidak dapat diskalakan ke ratusan ribu laporan bernilai menengah. Indonesia membutuhkan intersepsi otomatis pada simpul kontak dan monetisasi, bukan sekadar penanganan kasus yang lebih cepat.

    V

    Indonesia sebagai Pemasok Tenaga dan Tuan Rumah Baru

    Peran kedua Indonesia dalam ekonomi ini adalah sebagai pemasok tenaga kerja, dan datanya, seperti terangkum dalam Tabel 3, bertumbuh lebih cepat daripada kapasitas negara menanganinya. Kementerian Luar Negeri mencatat lebih dari 4.700 WNI dipulangkan dari operasi penipuan daring antara 2020 dan September 2024, menurut data yang dikutip AFP melalui Borneo Post. Pada Juni 2025, Menteri Luar Negeri Sugiono menyebut sekitar 7.600 kasus untuk periode 2021 hingga 2025, dengan Kamboja sekitar 4.300 dan Myanmar sekitar 1.100, sebagaimana dilaporkan Bisnis. Pada Oktober 2025, Direktur Pelindungan WNI menyebut lebih dari 10.000 kasus di sepuluh negara sejak 2020. Perbedaan angka 7.600 dan lebih dari 10.000 dalam rentang empat bulan sebagian disebabkan oleh perbedaan tahun awal, tetapi juga oleh pencampuran satuan kasus dan satuan orang, termasuk korban berulang yang kembali ke kompleks setelah dipulangkan.

    Tabel 3. Warga negara Indonesia dalam ekonomi kompleks penipuan, 2020–2026
    IndikatorNilaiPeriodeSumber
    WNI dipulangkan dari operasi online scam>4.7002020–Sep 2024Kemlu via AFP/Borneo Post
    WNI dari Myanmar dipulangkan via Thailand561 (±400 + ±161)Mar 2025Borneo Post, 18 Mar 2025
    Kasus WNI terkait online scam±7.600 (Kamboja ±4.300; Myanmar ±1.100; 1.508 terkait TPPO)2021–Jun 2025Bisnis, 30 Jun 2025
    Kasus online scam melibatkan WNI>10.000 di 10 negara2020–Okt 2025IDX Channel, 21 Okt 2025
    WNI terdampak operasi di Myawaddy±400 (>200 di Shwe Kokko)Okt–Nov 2025Metro TV, 22 Nov 2025
    Kasus ditangani KBRI Phnom Penh5.0882025Bisnis, 24 Jan 2026
    WNI minta dipulangkan pascarazia Kamboja2.11716–23 Jan 2026Bisnis, 24 Jan 2026
    WNI minta bantuan pulang / dipulangkan5.481 / 1.81616 Jan–8 Mar 2026RRI, 11 Mar 2026
    WNI minta dukungan repatriasi / dipulangkan12.207 / 5.966; ±1.100 ditahan di Pochentong; >600 di lokasi lain1 Jan–9 Jul 2026RRI, 10 Jul 2026
    WNI dituntut dalam jaringan scam di Bali yang menyasar warga AS38s.d. Nov 2025DOJ, 12 Nov 2025

    Sumber: sebagaimana tercantum per baris. Angka Kemlu mencampur satuan kasus dan orang; lihat Tabel 8.

    Tahun 2026 membawa lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setelah razia pemerintah Kamboja pada pertengahan Januari 2026, jumlah WNI yang mendaftar untuk dipulangkan mencapai 2.117 orang dalam sepekan, menurut Bisnis yang mengutip Duta Besar Santo Darmosumarto; sebagai pembanding, sepanjang 2025 KBRI Phnom Penh menangani 5.088 kasus. Hingga 8 Maret 2026, 5.481 orang meminta bantuan pulang dan 1.816 telah dipulangkan. Pada 10 Juli 2026, RRI melaporkan bahwa 12.207 WNI meminta dukungan repatriasi sejak awal tahun, 5.966 telah dipulangkan, sekitar 1.100 ditahan di fasilitas imigrasi Pochentong, dan lebih dari 600 lainnya berada di lokasi yang diduga kompleks penipuan di Bati, Siem Reap, Phnom Penh, dan Sihanoukville. Dalam enam bulan pertama 2026 saja, permintaan bantuan dari Kamboja lebih dari dua kali lipat total kasus setahun sebelumnya.

    Dari sisi Myanmar, operasi junta di KK Park pada Oktober 2025 dan di Shwe Kokko pada 17 November 2025 berdampak pada sekitar 400 WNI, dengan lebih dari 200 di antaranya ditahan di Shwe Kokko bersama 1.367 warga asing lain, menurut Metro TV yang mengutip KBRI Yangon. Pemulangan berlangsung lambat karena kapasitas penampungan penuh dan karena verifikasi status korban memakan waktu. Di sinilah literatur tentang kaburnya batas korban dan pelaku menjadi relevan secara operasional. Penelitian Luong dan rekan (2024) tentang pekerja Vietnam di Kamboja menunjukkan bagaimana lowongan palsu yang menyasar lulusan berketerampilan teknologi informasi dan layanan pelanggan menjadi pintu masuk kerja paksa. Profil serupa muncul dalam kasus Indonesia, dan ia menjelaskan mengapa penipuan lowongan kerja sekaligus menjadi kategori besar dalam laporan IASC: simpul rekrutmen dan simpul kontak memakai teknik yang sama terhadap populasi yang sama.

    Peran ketiga, sebagai tuan rumah, adalah perkembangan paling mengkhawatirkan dalam data 2025 hingga 2026. Siaran pers Departemen Kehakiman AS tentang Scam Center Strike Force pada November 2025 menyebut jaringan penipuan di Bali yang dikendalikan fasilitator berbasis Kamboja dan menargetkan lebih dari 150 korban di Amerika Serikat, dengan 38 warga negara Indonesia dituntut berdasarkan informasi satuan tugas tersebut. Pada Mei 2026, aparat menangkap 210 warga asing di Batam atas dugaan penipuan investasi daring dan 321 warga asing di Jakarta yang mengoperasikan 75 situs judi online, mayoritas warga Vietnam dan Tiongkok, menurut Reuters melalui Arab News. Pejabat Interpol Indonesia dalam laporan yang sama menyatakan bahwa operasi judi online tampak berpindah dari kota-kota Kamboja ke Indonesia, dan South China Morning Post mengutip analis yang menunjuk rezim visa yang longgar dan penegakan hukum yang lemah sebagai daya tariknya. Kajian ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa Indonesia sedang menjadi salah satu tujuan relokasi, dan dengan keyakinan rendah mengenai skala relokasi tersebut, karena data penangkapan belum menjadi seri yang konsisten.

    VI

    Skala Regional dan Global: Membandingkan Estimasi yang Bertentangan

    Tabel 4 mengumpulkan sepuluh estimasi kunci. Membacanya memerlukan disiplin metodologis, karena angka-angka itu mengukur hal yang berbeda: jumlah orang yang tertahan, dana yang dicuri, kerugian yang dilaporkan, atau kerugian menurut survei. Estimasi tenaga kerja paling awal yang berpengaruh datang dari OHCHR pada Agustus 2023, yang menyebut setidaknya 120.000 orang di Myanmar dan sekitar 100.000 di Kamboja mungkin dipaksa bekerja dalam operasi penipuan daring, sebagaimana dilaporkan UN News. Kelompok studi USIP pada Mei 2024 memperkirakan sekitar 305.000 pekerja scam di Myanmar, Kamboja, dan Laos, dan dalam kesaksian tertulis Jason Tower di Kongres AS (Juli 2024) menyatakan bahwa kelompok-kelompok ini mencuri sekitar US$64 miliar per tahun hingga akhir 2023.

    Tabel 4. Estimasi skala ekonomi penipuan: regional dan global
    EstimasiNilaiCakupan dan tahunSumber dan sifat data
    Orang tertahan di operasi scam≥120.000 (Myanmar); 100.000 (Kamboja)2023OHCHR via UN News; estimasi kredibel, bukan sensus
    Dana dicuri sindikatUS$63,9 mlrd global; Mekong US$43,8 mlrd atau US$39 mlrd2023Asia Financial vs VOA atas laporan USIP Mei 2024; pemodelan
    Tenaga kerja scam±305.000 di Myanmar, Kamboja, Laos2023–2024VOA; estimasi kelompok studi
    Kerugian di Asia Timur dan Tenggara±US$37 mlrdlaporan UNODC April 2025AsiaNews; agregasi data resmi
    Kerugian akibat scamUS$88,3–114,1 mlrdAsia Timur, Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru; 2025UNODC, Jul 2026 via OCCRP; rentang model
    Kerugian global (survei)US$442 mlrd; 57% orang dewasa mengalami scam42 negara, 46.000 responden; 2025GASA/Feedzai; survei daring
    Kerugian Indonesia (survei)Rp49 T (US$3,3 mlrd); 66% menjumpai, 14% kehilangan uang1.000 responden; 26 Feb–14 Mar 2025GASA/Mastercard; survei daring
    Kerugian terlapor di ASUS$20,877 mlrd; 1.008.597 aduan; kripto US$11,366 mlrd2025FBI IC3 via FOX 5; data aduan
    Kerugian warga AS akibat scam Asia Tenggara≥US$10 mlrd (+66%)2024US Treasury; estimasi pemerintah
    Hasil kejahatan keluarga Ming (Kokang)>100 mlrd yuan (±US$13,9 mlrd)2015–2023OCCRP; putusan pengadilan RRT

    Sumber: sebagaimana tercantum per baris. mlrd = miliar.

    Konflik internal muncul bahkan dalam satu laporan. Untuk wilayah Mekong, Asia Financial melaporkan angka US$43,8 miliar per tahun, setara sekitar 40 persen produk domestik bruto gabungan tiga negara, sedangkan VOA melaporkan US$39 miliar untuk Myanmar, Kamboja, dan Laos. Kajian ini mencatat keduanya tanpa memilih, karena dokumen primernya tidak dapat diakses ulang pada saat penyusunan untuk memastikan angka mana yang benar. Untuk Kamboja saja, kedua laporan sepakat bahwa hasil penipuan melampaui US$12,5 miliar pada 2023, kira-kira separuh PDB resmi negara itu. Angka-angka ini adalah estimasi kelompok pakar, sehingga kajian ini memperlakukannya dengan keyakinan sedang sebagai penunjuk orde besaran, bukan sebagai pengukuran.

    Lintasan estimasi UNODC sangat instruktif. Laporan April 2025 berjudul Inflection Point menyebut kerugian sekitar US$37 miliar di negara-negara Asia Timur dan Tenggara, menurut AsiaNews, dan memperingatkan bahwa industri ini menyebar ke Afrika, Amerika Latin, dan kawasan lain. Laporan Juli 2026, An Interconnected Criminal Ecosystem, menaikkan estimasi untuk 2025 menjadi US$88,3 sampai 114,1 miliar, dengan cakupan yang kini memasukkan Australia dan Selandia Baru, menurut Decrypt. Kenaikan lebih dari dua kali lipat tidak boleh dibaca sebagai pertumbuhan riil semata, karena cakupan geografis dan metode berbeda. Namun, arah keduanya jelas: tidak ada estimasi lembaga kredibel yang menunjukkan penyusutan. Laporan yang sama mencatat orang dari setidaknya 80 negara teridentifikasi di dalam kompleks, naik dari lebih dari 50 negara dalam laporan 2025, serta kenaikan 42 persen insiden iklan berbahaya pada 2025. Kajian ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa ekonomi penipuan regional pada 2025 tidak lebih kecil daripada pada 2023.

    Di ujung lain spektrum, survei konsumen menghasilkan angka jauh lebih besar. GASA (Oktober 2025) memperkirakan kerugian global US$442 miliar dari 46.000 responden di 42 negara, dan Rp49 triliun untuk Indonesia. Survei semacam ini cenderung menggelembungkan nilai karena ekstrapolasi dari sampel daring dan karena responden memasukkan pengalaman yang tidak semuanya merupakan penipuan dalam arti hukum. Sebaliknya, data aduan resmi seperti IC3 atau IASC menyusutkan nilai karena hanya sebagian kecil korban melapor. Pemerintah AS sendiri memperkirakan warga Amerika kehilangan setidaknya US$10 miliar akibat scam Asia Tenggara pada 2024, naik 66 persen, menurut Departemen Keuangan AS. Posisi kajian ini adalah triangulasi: kerugian riil kawasan hampir pasti berada di antara angka laporan resmi dan angka survei, dan untuk Indonesia, rentang yang dapat dipertahankan terbentang antara Rp9,1 triliun kerugian terlapor kumulatif selama sekitar empat belas bulan dan Rp49 triliun kerugian menurut survei dua belas bulan, dengan keyakinan rendah untuk titik mana pun di dalam rentang itu.

    VII

    Penindakan 2025–2026: Prince Group, KK Park, dan Efek Balon

    Tabel 5 menyusun kronologi sebelas peristiwa penindakan beserta penanda kuantitatifnya. Dari kronologi itu tampak tiga jenis tekanan yang bekerja bersamaan. Tekanan pertama bersifat finansial dan hukum: pada 14 Oktober 2025, Departemen Keuangan AS menetapkan Prince Group sebagai organisasi kriminal transnasional dan menyanksi 146 target, bersamaan dengan aksi Inggris, sementara FinCEN memutus Huione Group dari sistem keuangan Amerika karena mencuci sedikitnya US$4 miliar hasil kejahatan antara Agustus 2021 dan Januari 2025. Pada saat yang sama, jaksa AS mengajukan penyitaan 127.271 bitcoin yang bernilai sekitar US$15 miliar, yang oleh TRM Labs disebut sebagai penyitaan terbesar dalam sejarah Amerika. Tekanan kedua bersifat koersif ekstrateritorial, terutama dari Tiongkok, dan tekanan ketiga bersifat fisik terhadap infrastruktur, yang paling jelas dalam keputusan Thailand memutus listrik, bahan bakar, dan internet ke kawasan perbatasan Myanmar pada 5 Februari 2025.

    Tabel 5. Kronologi penindakan dan indikator hasilnya, 2025–2026
    TanggalAktor dan tindakanIndikator kuantitatifSumber
    5 Feb 2025Thailand memutus listrik, BBM, dan internet ke perbatasan Myanmar±7.000 korban menunggu repatriasiKhaosod; NPR/Michigan Public
    26 Jun 2025Amnesty International memetakan kompleks Kamboja≥53 kompleksAmnesty
    14 Okt 2025AS dan Inggris menyanksi jaringan Prince Group; FinCEN memutus Huione146 target; Huione mencuci ≥US$4 mlrd; 127.271 BTC (±US$15 mlrd) disitaUS Treasury; TRM Labs
    Pertengahan–27 Okt 2025Junta Myanmar menggerebek lalu meledakkan sebagian KK Park>1.500 orang menyeberang ke Thailand dalam sepekanAP via News4Jax
    12 Nov 2025Scam Center Strike Force AS dibentukUS$401,66 juta kripto disita; 38 WNI dituntut (Bali)DOJ
    17 Nov 2025Operasi di Shwe Kokko, Myawaddy>200 WNI di antara 1.367 WNA lainMetro TV
    Awal Jan 2026Chen Zhi ditangkap di Kamboja dan diekstradisi ke RRT; Prince Bank dilikuidasin.a.Decrypt; The Sun
    29 Jan & 2 Feb 2026RRT mengeksekusi 11 anggota keluarga Ming dan 4 tokoh keluarga Bai14 warga RRT tewas akibat jaringan MingOCCRP; Caixin
    Apr 2026Amnesty memperbarui pemetaan Kamboja53 → 86 kompleks; intervensi negara hanya di 24 lokasiThe Nation/ANN
    6–9 Mei 2026Penggerebekan di Batam dan Jakarta210 WNA (Batam, investasi); 321 WNA (Jakarta, 75 situs judi)Arab News/Reuters; Antara
    27 Agu 2026Kamboja mengklaim pusat scam besar telah bersih793 lokasi diperiksa; ±30.000 ditahan; 58.266 WNA dipulangkanANN

    Sumber: sebagaimana tercantum per baris.

    Hasil jangka pendek tekanan itu nyata. Setelah pemutusan listrik oleh Thailand, sekitar 7.000 korban dari berbagai negara menunggu repatriasi di sisi Myanmar, menurut Khaosod English. Pada pertengahan Oktober 2025, militer Myanmar menggerebek KK Park, lalu mulai 24 Oktober meledakkan sebagian bangunannya; lebih dari 1.500 orang menyeberang ke Thailand dalam sepekan, menurut Associated Press. Pada awal Januari 2026, Chen Zhi ditangkap di Kamboja dan diekstradisi ke Tiongkok, menurut Decrypt, dan bank sentral Kamboja memerintahkan likuidasi Prince Bank. Pada 29 Januari 2026, Tiongkok mengeksekusi sebelas anggota keluarga Ming yang menurut otoritas setempat menghasilkan lebih dari 100 miliar yuan hasil kejahatan dan menyebabkan kematian 14 warga Tiongkok, sebagaimana dilaporkan OCCRP; empat hari kemudian, empat tokoh keluarga Bai menyusul. Dalam ukuran simbolik, 2025 dan awal 2026 adalah periode penindakan paling keras sejak industri ini muncul.

    Namun indikator perpindahan menceritakan kisah lain. Amnesty International memetakan sedikitnya 53 kompleks di Kamboja dalam laporan Juni 2025; per April 2026, menurut pembaruan yang dilaporkan The Nation melalui Asia News Network, jumlahnya naik menjadi 86, dengan bukti intervensi negara hanya di 24 lokasi. Pada 27 Agustus 2026, pemerintah Kamboja mengklaim seluruh pusat penipuan besar telah dibersihkan, dengan 793 lokasi diperiksa, hampir 30.000 tersangka ditahan, dan 58.266 warga asing dipulangkan, menurut Asia News Network. Pejabat yang sama mengakui bahwa jaringan berpindah cepat ke lokasi yang lebih kecil dan tersembunyi seperti rumah tamu, kondominium, bahkan kendaraan. Analis CSIS dan Interpol yang dikutip dalam laporan Juni 2026 menggambarkan pola serupa: fragmentasi ke jaringan kecil dan penyebaran ke kawasan permukiman. Klaim pembersihan dan bukti fragmentasi bukanlah dua fakta yang bertentangan; keduanya adalah gambaran dari proses yang sama, yaitu pembongkaran kompleks besar yang memaksa model bisnis berubah bentuk.

    Logika ekonominya mudah dipahami. Biaya tetap kompleks besar, termasuk sewa, perlindungan, dan infrastruktur satelit, menjadi beban ketika penindakan meningkat, sementara aset inti industri ini, yakni skrip, basis data korban, akses ke rekening penampung, dan jaringan pencucian, bersifat portabel. UNODC dalam laporan Juli 2026 menggambarkan model ini sebagai waralaba korporat dan menegaskan bahwa disrupsi saja tidak cukup, sebagaimana dikutip Decrypt, sementara analis utamanya menyatakan bahwa skala dan kompleksitas ekonomi kriminal ini melampaui respons yang ada, menurut JURIST. Sebuah ringkasan intelijen Asia Tenggara KBA13 Insight untuk pekan 25–31 Agustus 2026 juga mencatat peringatan PBB bahwa operasi pusat penipuan dan tambang ilegal memperparah krisis hak asasi di Myanmar, sebuah pengingat bahwa di wilayah konflik, ekonomi penipuan menjadi sumber pendanaan bagi aktor bersenjata. Kajian ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa penindakan 2025 hingga 2026 telah menaikkan biaya operasi kompleks besar, dan dengan keyakinan sedang bahwa ia belum menurunkan total kerugian korban di kawasan.

    VIII

    Judi Online sebagai Infrastruktur Pembayaran Kembar

    Penipuan daring dan judi online sering dibahas sebagai dua persoalan terpisah, satu di bawah otoritas keuangan dan satu di bawah otoritas komunikasi. Data yang dihimpun dalam kajian ini menunjukkan bahwa keduanya berbagi simpul yang sama dalam rantai nilai. Kompleks di Myawaddy yang menahan WNI disebut sebagai pusat penipuan atau judi online dalam laporan yang sama. Penggerebekan Jakarta pada Mei 2026 menemukan 321 warga asing mengoperasikan 75 situs judi dari satu gedung, dan Interpol Indonesia mengaitkannya dengan perpindahan dari Kamboja. Pada simpul monetisasi, keduanya memakai rekening penampung, dompet elektronik, dan pembayaran berbasis kode QR yang sama. Karena itu, seri PPATK tentang perputaran judi online relevan sebagai indikator kesehatan simpul monetisasi yang juga melayani penipuan.

    Tabel 7. Judi online di Indonesia menurut data PPATK dan Komdigi
    PeriodePerputaran danaDepositTransaksiCatatan
    2023Rp327 Tn.a.n.a.Data PPATK dikutip Kominfo
    2024 (proyeksi Kominfo)Rp900 Tn.a.n.a.Proyeksi, tidak terealisasi
    2024 (realisasi)Rp359,81 TRp51,3 Tn.a.Puncak seri sejak 2017; 571.410 NIK penerima bansos terkait judol
    2025Rp286,84 T (±−20%)Rp36,01 Tn.a.Komdigi menangani 2.087.109 konten judi
    Semester I 2025Rp99,68 TRp17,50 T174,90 juta (deposit 94,50 juta)Rerata deposit ±Rp185.200*
    Semester I 2026Rp86,82 T (−12,9%)Rp22,05 T (QRIS Rp12,36 T)467,32 juta (deposit 226,76 juta; QRIS 87,66%)Rerata deposit ±Rp97.200* (−47,5%)

    Sumber: Bisnis, 1 Agu 2024 · Metro TV, 23 Jul 2026 · Bisnis, 5 Agu 2026 · Bisnis, 8 Okt 2026. *Dihitung kajian ini: nilai deposit / jumlah transaksi deposit.

    Tabel 7 memperlihatkan paradoks yang penting. Menurut Kepala PPATK Ivan Yustiavandana, perputaran dana judi online mencapai puncaknya pada 2024 sebesar Rp359,81 triliun dan turun sekitar 20 persen menjadi Rp286,84 triliun pada 2025, penurunan signifikan pertama sejak seri dimulai pada 2017, sebagaimana dilaporkan Metro TV. Pada semester pertama 2026, perputaran turun lagi 12,9 persen menjadi Rp86,82 triliun. Akan tetapi, jumlah transaksi justru melonjak dari 174,90 juta menjadi 467,32 juta, dan nilai deposit naik dari Rp17,50 triliun menjadi Rp22,05 triliun, menurut Bisnis. Perhitungan kajian ini menunjukkan bahwa rata-rata nilai per transaksi deposit turun hampir separuh, dari sekitar Rp185.200 menjadi sekitar Rp97.200. Kepala PPATK sendiri mengaitkan kenaikan jumlah transaksi dengan deteksi yang lebih baik, sambil mengakui bahwa jaringan judi memecah transaksi menjadi nominal lebih kecil dengan frekuensi lebih tinggi.

    Pemecahan transaksi, yang dalam literatur anti pencucian uang dikenal sebagai structuring, adalah indikator perpindahan pada simpul monetisasi yang sejajar dengan fragmentasi kompleks pada simpul produksi. QRIS menyumbang 87,66 persen jumlah transaksi deposit judi pada semester pertama 2026. Fakta ini tidak berarti QRIS adalah masalahnya; ia berarti bahwa infrastruktur pembayaran paling inklusif di Indonesia, yang dirancang untuk transaksi kecil yang cepat dan murah, adalah juga yang paling cocok bagi pelaku yang ingin bersembunyi di dalam volume. Kajian ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa penurunan nilai perputaran judi online sebagian mencerminkan keberhasilan penindakan dan sebagian mencerminkan adaptasi pelaku yang menurunkan visibilitas transaksi.

    Sejarah seri ini juga memberi pelajaran tentang bahaya proyeksi. Pada Agustus 2024, Kementerian Komunikasi dan Informatika memproyeksikan perputaran judi online 2024 akan mencapai Rp900 triliun, hampir tiga kali lipat realisasi 2023 sebesar Rp327 triliun, menurut Bisnis. Realisasinya ternyata Rp359,81 triliun. Selisih sebesar ini mengingatkan bahwa angka besar yang dikomunikasikan untuk memobilisasi perhatian publik dapat merusak kredibilitas seri data itu sendiri. Pada 8 Oktober 2026, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan bahwa ukuran keberhasilan harus bergeser dari jumlah konten yang dihapus ke sejauh mana rantai aktivitas judi terputus, menurut Bisnis; pada 2025 saja, kementerian menangani 2.087.109 konten judi. Pergeseran dari ukuran keluaran ke ukuran dampak ini tepat, dan logika yang sama perlu diterapkan pada penipuan: jumlah rekening diblokir bukan ukuran keberhasilan, rasio intersepsi dan pemulihanlah ukurannya.

    IX

    Perbandingan Internasional: Singapura, Inggris, Australia, dan Indonesia

    Tabel 6 membandingkan empat yurisdiksi yang mewakili tiga filosofi respons. Singapura menggabungkan komando penegakan hukum terpusat, alokasi tanggung jawab berjenjang, dan kewenangan intervensi preventif terhadap calon korban. Inggris memilih penggantian wajib, yaitu memindahkan beban kerugian dari korban ke penyedia jasa pembayaran agar insentif pencegahan berada pada pihak yang paling mampu mencegah. Australia memilih kewajiban ex ante lintas sektor, yaitu mewajibkan bank, operator telekomunikasi, dan platform digital mengambil langkah wajar untuk mencegah, mendeteksi, melaporkan, mengganggu, dan merespons penipuan, dengan ancaman denda besar. Indonesia, sejauh ini, bertumpu pada koordinasi pemblokiran melalui IASC dan penanganan konten, tanpa alokasi tanggung jawab penggantian yang mengikat.

    Tabel 6. Perbandingan respons kebijakan: Singapura, Inggris, Australia, Indonesia
    YurisdiksiInstrumen utama dan tanggalModel tanggung jawabIndikator hasil terbaru
    SingapuraAnti-Scam Command; Shared Responsibility Framework berlaku 16 Des 2024; Protection from Scams Act disahkan 7 Jan 2025, berlaku 1 Jul 2025Air terjun: bank, lalu operator seluler, lalu konsumen (phishing); perintah pembatasan rekening maks. 30 hari, dapat diperpanjang 5 kali2025: 41.974 kasus (−24,8%), kerugian S$913,1 juta, ±S$140 juta dipulihkan; Sem. I 2026: S$410,6 juta (−17,9%), >S$97,7 juta dipulihkan
    InggrisPenggantian wajib APP fraud oleh PSR sejak 7 Okt 2024; plafon £85.000, ekses £100Penyedia jasa pembayaran menanggung penggantian88% dana dalam cakupan diganti (Okt 2024–Mar 2026); evaluasi independen: 54% → 65%, kerugian via Faster Payments −21%; kerugian APP 2025 £576,4 juta (+19%)
    AustraliaScams Prevention Framework disahkan parlemen 13 Feb 2025; National Anti-Scam CentreKewajiban ex ante bagi bank, telko, platform digital; denda hingga A$50 juta; jalur sengketa eksternal2025: kerugian A$2,18 mlrd (+7,8%), 481.523 laporan; 29,7% di bawah puncak 2022
    IndonesiaIASC (OJK) sejak 22 Nov 2024 atas mandat UU 4/2023 (P2SK); Satgas PASTI (21 anggota); penanganan konten KomdigiBerbasis pemblokiran; belum ada alokasi tanggung jawab penggantianSep 2026: 702.342 laporan; Rp811,1 M diblokir; Rp207,16 M dikembalikan

    Sumber: SPF · Malay Mail · MHA · Reed Smith · PSR · Regulation Tomorrow · Fintech Futures/UK Finance · NASC · Jones Day · Kontan · Kontan

    Singapura menunjukkan hasil yang paling terukur. Menurut Kepolisian Singapura, jumlah kasus penipuan dan kejahatan siber turun 24,8 persen menjadi 41.974 pada 2025, kerugian turun dari sekitar S$1,1 miliar menjadi S$913,1 juta, dan sekitar S$140 juta berhasil dipulihkan, setara sekitar 15 persen kerugian. Pada semester pertama 2026, kerugian turun lagi 17,9 persen menjadi S$410,6 juta dengan pemulihan lebih dari S$97,7 juta, atau sekitar 24 persen, menurut Malay Mail. Shared Responsibility Framework yang berlaku sejak 16 Desember 2024 menempatkan kerugian akibat phishing pertama pada bank yang lalai, lalu operator seluler yang lalai, baru kemudian konsumen. Protection from Scams Act yang berlaku 1 Juli 2025 memberi polisi kewenangan mengeluarkan perintah pembatasan rekening hingga 30 hari terhadap orang yang diyakini akan mentransfer dana ke penipu, sebuah intervensi paternalistik yang dibenarkan oleh kenyataan bahwa lebih dari 80 persen kasus di Singapura melibatkan transfer yang dilakukan korban sendiri.

    Inggris menawarkan eksperimen kebijakan paling jelas tentang penggantian. Sejak 7 Oktober 2024, penyedia jasa pembayaran wajib mengganti korban penipuan pembayaran yang diotorisasi hingga £85.000. Dasbor Payment Systems Regulator menunjukkan 88 persen dana yang hilang dalam cakupan aturan telah diganti selama delapan belas bulan pertama, dan 82 persen klaim ditutup dalam lima hari kerja. Evaluasi independen yang diterbitkan Juli 2026, menurut Regulation Tomorrow, menemukan tingkat penggantian naik dari 54 menjadi 65 persen jika diukur atas seluruh penipuan APP melalui Faster Payments, dan kerugian melalui kanal itu turun sekitar 21 persen, setara £73 juta per tahun. Namun, laporan tahunan UK Finance mencatat kerugian APP 2025 naik 19 persen menjadi £576,4 juta, didorong penipuan investasi yang naik 40 persen, menurut Fintech Futures. Perbedaan cakupan menjelaskan sebagian kontradiksi ini, dan kajian ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa penggantian wajib meningkatkan keadilan bagi korban lebih cepat daripada ia menurunkan insiden.

    Australia memberi pelajaran tentang batas kewajiban ex ante. Parlemen mengesahkan Scams Prevention Framework pada 13 Februari 2025 dengan denda hingga A$50 juta per pelanggaran, menurut Jones Day. Kerugian gabungan 2025 tercatat A$2,18 miliar, naik 7,8 persen dari 2024, meski masih 29,7 persen di bawah puncak 2022, menurut National Anti-Scam Centre. Penipuan investasi tetap menjadi kategori terbesar dengan A$837,7 juta. Pelajaran dari ketiga yurisdiksi ini bagi Indonesia jelas. Rasio pemulihan Indonesia yang berada pada orde satu digit persen tertinggal jauh dari Singapura dan Inggris. Perbedaan itu bukan semata soal kapasitas teknis, melainkan soal desain insentif: selama kerugian sepenuhnya ditanggung korban, bank, penyedia dompet elektronik, dan operator seluler tidak memiliki dorongan finansial untuk berinvestasi dalam intersepsi waktu nyata. Langkah OJK mengajak asosiasi operator telekomunikasi bergabung dengan IASC, sebagaimana diumumkan Friderica Widyasari Dewi pada Januari 2026 menurut Kontan, adalah awal yang benar tetapi belum mengubah struktur insentif tersebut.

    X

    Kualitas Data, Celah Bukti, dan Argumen Tandingan

    Celah data terbesar terletak pada ketiadaan dataset terbuka. IASC adalah salah satu pusat anti-penipuan dengan volume laporan tertinggi di dunia, tetapi datanya hanya tersedia sebagai angka kumulatif dalam paparan lisan yang ditranskripsikan wartawan. Akibatnya, tidak ada seri bulanan insiden baru, tidak ada rincian kerugian per jenis penipuan, tidak ada distribusi waktu antara kejadian dan laporan, dan tidak ada data tentang bank atau penyedia mana yang paling sering menjadi tempat rekening penampung. Seri kerugian berhenti dirilis setelah Januari 2026, sehingga rasio intersepsi tidak dapat dihitung untuk periode terbaru. Patahan definisi rekening diblokir memperburuk keadaan. Celah kedua menyangkut WNI: tidak ada data publik yang memisahkan korban perdagangan orang, pekerja sukarela, dan perekrut, padahal ketiganya menuntut respons hukum yang berbeda. Celah ketiga menyangkut aliran kripto, yang dalam data Indonesia hampir tidak terlihat meskipun di Amerika Serikat lebih dari separuh kerugian terlapor terkait kripto.

    Argumen tandingan yang paling kuat terhadap tesis kajian ini perlu dinyatakan dalam bentuk terbaiknya. Argumen itu berbunyi sebagai berikut: ekonomi penipuan Asia Tenggara sedang melewati puncaknya. Kamboja mengklaim seluruh pusat besar telah bersih dan memulangkan lebih dari 58.000 warga asing. KK Park dihancurkan. Chen Zhi diekstradisi dan aset bitcoin terbesar dalam sejarah disita. Para pemimpin klan Kokang dieksekusi. Kerugian di Singapura turun dua tahun berturut-turut. Perputaran judi online di Indonesia turun 20 persen pada 2025 dan turun lagi pada 2026. Laju laporan harian IASC pun menurun. Menurut argumen ini, kenaikan angka kumulatif IASC hanyalah cerminan kematangan kanal pelaporan, bukan memburuknya kejahatan, dan tesis tentang perpindahan terlalu pesimistis.

    Argumen ini benar dalam beberapa hal, dan kajian ini menerimanya sebagian. Penindakan memang menaikkan biaya, kematangan kanal pelaporan memang menjelaskan sebagian kenaikan laporan, dan penurunan laju harian adalah sinyal yang tidak boleh diabaikan. Namun, empat bukti melemahkan kesimpulannya. Pertama, jumlah kompleks di Kamboja menurut Amnesty naik dari 53 menjadi 86 pada periode yang sama dengan klaim pembersihan. Kedua, estimasi kerugian regional UNODC untuk 2025 jauh di atas estimasi 2023, dan jumlah negara asal pekerja naik. Ketiga, penurunan nilai perputaran judi online disertai lonjakan jumlah transaksi dan penurunan nilai rata-rata deposit hampir separuh, pola klasik penghindaran deteksi. Keempat, dan paling relevan bagi Indonesia, penangkapan ratusan warga asing di Batam, Jakarta, dan Bali pada 2025 hingga 2026 adalah bukti langsung relokasi ke wilayah Indonesia. Keberhasilan Singapura pun tidak dapat digeneralisasi, karena ia lahir dari kombinasi kapasitas negara dan desain insentif yang belum dimiliki tetangganya. Kajian ini mempertahankan tesisnya dengan keyakinan sedang: ekonomi penipuan sedang berubah bentuk, bukan menghilang.

    XI

    Skenario hingga Akhir 2027 dan Rekomendasi Kebijakan

    Tiga skenario disusun untuk horizon hingga akhir 2027, dengan probabilitas yang merupakan penilaian berbasis bukti hingga 21 Oktober 2026. Skenario pertama, fragmentasi dan relokasi, membayangkan penindakan terus memecah kompleks besar, sementara operasi berpindah ke lokasi kecil di Kamboja dan Myanmar serta ke yurisdiksi baru, termasuk Indonesia, Filipina, dan kawasan di luar Asia; kerugian korban di Indonesia bertahan atau naik moderat. Skenario kedua, penyempitan bertahap, membayangkan tekanan terkoordinasi, yaitu sanksi, ekstradisi, penggabungan operator telekomunikasi ke IASC, dan pengaturan tanggung jawab bersama, mulai menurunkan kerugian per kapita secara terukur. Skenario ketiga, eskalasi berbasis kecerdasan buatan dan kripto, membayangkan pelaku memanfaatkan suara dan video sintetis serta stablecoin untuk menaikkan nilai per korban, sehingga kerugian melonjak meski jumlah kompleks fisik berkurang.

    Skenario ekonomi penipuan dan paparan Indonesia hingga akhir 2027 (penilaian penulis, 21 Oktober 2026)

    1. 1Fragmentasi dan relokasi50%
    2. 2Penyempitan bertahap30%
    3. 3Eskalasi berbasis AI dan kripto20%

    Probabilitas adalah penilaian analitis berdasarkan bukti yang tersedia hingga 21 Oktober 2026, bukan keluaran model statistik.

    Penanda yang perlu dipantau berbeda untuk setiap skenario. Skenario pertama menguat jika penangkapan warga asing dalam razia penipuan atau judi di Indonesia menjadi rutin setiap kuartal, jika pemetaan independen di Kamboja terus menunjukkan kompleks baru, dan jika permintaan repatriasi WNI dari Kamboja tetap di atas seribu orang per bulan. Skenario kedua menguat jika OJK kembali merilis seri kerugian dan rasio intersepsi naik di atas sepuluh persen, jika operator telekomunikasi benar-benar terintegrasi dalam IASC, dan jika laju laporan harian terus turun selama tiga kuartal berturut-turut. Skenario ketiga menguat jika kerugian rata-rata per laporan naik tajam, jika laporan penipuan dengan suara atau video sintetis menjadi kategori tersendiri, dan jika porsi kripto dalam kerugian terlapor meningkat. Data FBI tentang lebih dari 22.000 aduan terkait kecerdasan buatan dengan kerugian hampir US$900 juta pada 2025, menurut WaterISAC, adalah penanda awal yang patut dicermati.

    Rekomendasi pertama ditujukan kepada OJK: paling lambat kuartal kedua 2027, IASC perlu menerbitkan dataset bulanan terbuka dengan definisi baku, mencakup insiden baru, kerugian per jenis penipuan, waktu dari kejadian ke laporan, rasio intersepsi, dan rasio pemulihan, serta mengumumkan target rasio intersepsi tahunan. Rekomendasi kedua ditujukan kepada pemerintah dan DPR: sepanjang 2027, perlu disusun kerangka tanggung jawab bersama yang mengikat bank, penyedia dompet elektronik, dan operator seluler, dengan mengadaptasi model air terjun Singapura dan model penggantian Inggris secara bertahap, dimulai dari phishing dan rekening penampung yang terbukti lalai diawasi. Rekomendasi ketiga ditujukan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital bersama operator seluler: dalam dua belas bulan, integrasi penuh ke IASC, pemblokiran nomor yang dilaporkan secara waktu nyata, dan pengetatan registrasi kartu prabayar perlu dituntaskan, mengingat 173.718 nomor telepon telah dilaporkan korban hingga September 2026 menurut Kontan.

    Rekomendasi keempat ditujukan kepada Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran, Imigrasi, dan Polri: mulai 2027, perlu diterapkan penyaringan korban perdagangan orang yang seragam bagi setiap WNI yang dipulangkan, prinsip tidak menghukum korban yang dipaksa melakukan kejahatan, dan program reintegrasi untuk mencegah korban berulang, disertai satuan tugas bersama Polri dan Imigrasi untuk memetakan jaringan warga asing di Batam, Jakarta, Bali, dan kota lain sebelum operasi berskala kompleks terbentuk. Rekomendasi kelima ditujukan kepada PPATK dan Bank Indonesia: dalam satu tahun, pemantauan pola pemecahan transaksi pada pedagang QRIS dan dompet elektronik perlu diperkuat dengan indikator yang dipublikasikan secara agregat. Rekomendasi keenam ditujukan kepada aktor internasional: UNODC dan mitra ASEAN dapat memprioritaskan bantuan teknis untuk standardisasi data penipuan lintas negara, sedangkan Amerika Serikat, Inggris, dan Tiongkok perlu membuka jalur berbagi informasi tentang aset yang disita agar korban Indonesia dari jaringan yang sama berpeluang memperoleh restitusi.

    XII

    Keterbatasan dan Kesimpulan

    Keterbatasan kajian ini perlu dinyatakan secara terbuka. Pertama, sebagian besar data Indonesia diperoleh melalui transkripsi media atas paparan lisan, bukan dari dokumen statistik resmi, sehingga galat transkripsi tidak dapat sepenuhnya disingkirkan, sebagaimana tampak pada judul artikel yang tidak sesuai dengan batas datanya. Kedua, indikator turunan dihitung dengan penyebut yang kadang berbeda tanggal, dan batas atas pemulihan sengaja dibuat konservatif. Ketiga, estimasi regional bersandar pada pemodelan yang dokumen teknisnya tidak semuanya dapat diakses ulang. Keempat, data pelaku dan aliran kripto yang menyangkut Indonesia hampir tidak tersedia, sehingga analisis simpul monetisasi bertumpu pada data judi online sebagai proksi. Kelima, kajian ini belum memiliki data primer dari wawancara korban atau aparat, sehingga mekanisme mikro hanya dibaca melalui literatur dan laporan lembaga.

    Meski demikian, kesimpulan pokoknya kokoh terhadap keterbatasan itu. Ekonomi penipuan Asia Tenggara pada 2023 hingga 2026 adalah industri bernilai puluhan miliar dolar per tahun yang telah membuktikan kemampuannya beradaptasi terhadap penindakan paling keras dalam sejarahnya. Indonesia terpapar dalam tiga peran: sebagai pasar volume dengan lebih dari 700.000 laporan dalam kurang dari dua tahun, sebagai pemasok tenaga kerja dengan lebih dari 12.000 permintaan repatriasi dari Kamboja dalam enam bulan pertama 2026, dan sebagai tuan rumah baru bagi operasi yang terdesak dari pusat tradisionalnya. Respons nasional telah membangun fondasi kelembagaan yang berarti, tetapi masih mengukur keberhasilan dengan jumlah rekening yang diblokir, bukan dengan uang yang diselamatkan.

    Ukuran keberhasilan melawan penipuan bukan jumlah rekening yang diblokir, melainkan jumlah rupiah yang kembali ke tangan korban.

    Pilihan kebijakan di depan karena itu jelas. Selama kerugian sepenuhnya jatuh pada korban dan data tetap tertutup, Indonesia akan terus menjadi pasar yang menguntungkan, pemasok tenaga yang murah, dan tempat persembunyian yang nyaman bagi industri ini. Transparansi data, alokasi tanggung jawab yang mengubah insentif pelaku usaha, dan perlakuan terhadap WNI di kompleks sebagai korban sekaligus sumber intelijen adalah tiga tuas yang dapat menggeser Indonesia dari skenario fragmentasi menuju skenario penyempitan. Dalam peradaban digital, kepercayaan adalah infrastruktur, dan infrastruktur itu kini sedang digerogoti secara industrial.

    ◆

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    Literatur ilmiah

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    Media dan pemberitaan

    Arsip & Pustaka

    Cara Mengutip

    Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. (2026). Neraca Gelap Ekonomi Penipuan Digital: Dataset Kerugian, Korban, dan Respons Kebijakan atas Industri Scam di Asia Tenggara dan Indonesia, 2023–2026. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/dataset-ekonomi-penipuan-digital-asia-tenggara/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh; pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy. Meraih PhD Sosiologi dari La Trobe University.

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →