Tag: pusat data

  • Kedaulatan Komputasi: Pilihan Strategis Indonesia di antara Tumpukan AI Amerika dan Tiongkok, 2026–2030

    Kedaulatan Komputasi: Pilihan Strategis Indonesia di antara Tumpukan AI Amerika dan Tiongkok, 2026–2030

    Kajian Strategis · Tata Kelola AI dan Geopolitik

    Kedaulatan Komputasi:Pilihan Strategis Indonesia di antara Tumpukan AI Amerika dan Tiongkok, 2026–2030

    Indonesia sudah berdiri dengan satu kaki di setiap tumpukan AI. Kajian ini menawarkan doktrin kedaulatan berlapis: selaras di lapisan cip yang terkunci, membangun opsi di lapisan energi, data, model, talenta, dan aturan.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • Kajian Strategis
    • 29 Oktober 2026
    • ± 32 menit baca
    Kedaulatan Komputasi: Pilihan Strategis Indonesia di antara Tumpukan AI Amerika dan Tiongkok, 2026–2030
    Indonesia sudah berdiri dengan satu kaki di setiap tumpukan AI. Kajian ini menawarkan doktrin kedaulatan berlapis: selaras di lapisan cip yang terkunci, membangun opsi di lapisan energi, data, model, talenta, dan aturan.
    Daftar Isi
    1. IRingkasan Eksekutif: Pertanyaan, Jawaban Pokok, dan Taruhannya
    2. IIKerangka Analitis dan Catatan Metode: Matriks Kedaulatan Tumpukan
    3. IIIDua Tumpukan, Dua Tawaran: Arsitektur Persaingan 2025–2026
    4. IVPosisi Indonesia per Oktober 2026: Aturan Tertunda, Investasi Melaju
    5. VGeografi Komputasi Selat Malaka: Batam, Johor, dan Singapura
    6. VIEnergi sebagai Lapisan Dasar Kedaulatan Komputasi
    7. VIIMatriks Kedaulatan Tumpukan Indonesia: Penilaian Enam Lapisan
    8. VIIIPerbandingan Internasional: Teluk, India, dan Tetangga ASEAN
    9. IXArgumen Tandingan yang Diperkuat dan Jawabannya
    10. XSkenario hingga 2030 dan Penanda
    11. XIRekomendasi Berbatas Waktu untuk Aktor Nasional, Regional, dan Internasional
    12. XIIKeterbatasan Kajian dan Kesimpulan: Kedaulatan sebagai Kemampuan Memilih Syarat

    Abstrak

    Kajian strategis ini menilai posisi Indonesia dalam persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok untuk mengekspor tumpukan teknologi kecerdasan artifisial pada 2026–2030. Bukti hingga 29 Oktober 2026 menunjukkan bahwa Indonesia telah mengikat komitmen digital dengan Washington melalui Perjanjian Perdagangan Resiprokal (Februari 2026) dan menjadi negara pendiri WAICO prakarsa Beijing (Juli 2026). Pada saat yang sama, Perpres Peta Jalan AI dan Perpres Etika AI belum terbit. Dengan Matriks Kedaulatan Tumpukan yang menilai enam lapisan, yaitu energi, komputasi, data, model, talenta, dan aturan, kajian ini menemukan bahwa kendali Indonesia paling lemah di lapisan cip dan paling kuat di lapisan energi dan data, sedangkan lapisan model menawarkan opsi terbanyak. Perbandingan dengan Uni Emirat Arab, Arab Saudi, India, Malaysia, dan Vietnam memperlihatkan empat model respons negara menengah. Kajian ini menguji dua argumen tandingan, yakni bahwa penguncian standar membuat lindung nilai mustahil dan bahwa kedaulatan komputasi adalah ilusi. Kajian ini lalu menyusun empat skenario hingga 2030 beserta penandanya dan merumuskan rekomendasi berbatas waktu bagi Presiden, Komdigi, Danantara, PLN, BRIN, perguruan tinggi, ASEAN, serta aktor internasional.

    Tesis

    Indonesia tidak dapat memilih satu tumpukan AI secara utuh dan tidak dapat melakukan lindung nilai secara merata. Strategi yang realistis adalah kedaulatan berlapis: penjajaran yang dinegosiasikan di lapisan cip dan pembangunan opsi di lapisan energi, data, model, talenta, dan aturan.

    1. DataFederal Register, BIS, Komdigi, Kemenko Perekonomian, MITI, IMDA, IEA, Ember, BRI Danareksa, JLL, Oxford Insights
    2. KerangkaMatriks Kedaulatan Tumpukan enam lapisan; tata kelola komputasi; interdependensi yang dipersenjatai; teori lindung nilai
    3. ProyeksiEmpat skenario hingga 2030 dengan probabilitas dan penanda; rekomendasi berbatas waktu

    Kata kunci

    • kedaulatan komputasi
    • tata kelola AI
    • kendali ekspor cip
    • pusat data
    • Danantara
    • WAICO
    • Asia Tenggara
    • geopolitik teknologi
    I

    Ringkasan Eksekutif: Pertanyaan, Jawaban Pokok, dan Taruhannya

    Kajian ini menjawab satu pertanyaan strategis: dalam persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok untuk mengekspor “tumpukan” kecerdasan artifisial (AI) mereka, mulai dari cip, pusat data, dan model hingga standar dan aturan, apa pilihan yang paling masuk akal bagi Indonesia antara 2026 dan 2030? Pertanyaan ini sudah tidak lagi hipotetis. Pada 23 Juli 2025 Washington menerbitkan Perintah Eksekutif 14320 untuk mempromosikan ekspor “tumpukan teknologi AI Amerika” secara utuh. Pada 16 Juli 2026 di Shanghai, Indonesia ikut menandatangani pendirian World AI Cooperation Organization (WAICO) prakarsa Tiongkok bersama 28 negara lain. Lima bulan sebelumnya, Indonesia menandatangani Perjanjian Perdagangan Resiprokal dengan Amerika Serikat yang memuat komitmen luas di bidang data dan perdagangan digital. Dengan kata lain, Jakarta sudah berdiri dengan satu kaki di masing-masing tumpukan. Pertanyaannya kini adalah apakah posisi ganda itu dapat dikelola secara sengaja atau akan ditentukan oleh pihak lain.

    Jawaban pokok kajian ini sebagai berikut. Indonesia tidak dapat dan tidak perlu memilih satu tumpukan secara utuh. Akan tetapi, Indonesia juga tidak dapat melakukan lindung nilai (hedging) secara merata di semua lapisan. Di lapisan perangkat keras komputasi mutakhir, rezim kendali ekspor Amerika menjadikan pencampuran cip Nvidia dan Huawei Ascend dalam satu fasilitas berisiko hukum tinggi. Karena itu, di lapisan ini penjajaran yang terukur lebih realistis. Di lapisan model, data, talenta, energi, dan aturan, ruang otonomi Indonesia jauh lebih lebar, dan di situlah kedaulatan harus dibangun. Kajian ini menyebut strategi tersebut kedaulatan berlapis, yaitu menyelaraskan diri di lapisan yang dikunci oleh pihak lain dan membangun opsi di lapisan yang masih terbuka. Penilaian ini dipegang dengan keyakinan sedang. Asumsinya ialah Washington tidak menghidupkan kembali sistem kuota per negara ala AI Diffusion Rule dan Beijing tidak menjadikan keanggotaan WAICO sebagai syarat pembelian perangkat keras.

    Taruhannya melampaui Indonesia. Indonesia adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20. Indonesia juga merupakan pasar digital yang, menurut riset ekuitas BRI Danareksa Sekuritas (Agustus 2026), baru memiliki sekitar 580 MW kapasitas TI pusat data pada semester pertama 2026, tetapi dengan proyeksi pertumbuhan hingga 3,5 GW pada 2030. Cara Indonesia mengatur ketegangan antara dua tumpukan akan menjadi preseden bagi negara-negara berpendapatan menengah lain yang dalam literatur disebut berada di “Compute South“, yakni negara yang menjadi lokasi penerapan AI tetapi bukan tempat model-model terdepan dilatih. Jika Indonesia berhasil, akan ada model ketiga di antara penjajaran penuh ala Teluk dan ketergantungan pasif. Jika gagal, “kedaulatan komputasi” akan berhenti sebagai slogan, sementara keputusan tentang cip, energi, dan model diambil oleh perusahaan dan regulator asing.

    Laporan ini disusun sebagai bahan ajar tata kelola AI. Isinya bergerak dari kerangka analitis ke bukti, perbandingan internasional, argumen tandingan, skenario, rekomendasi, dan keterbatasan. Kajian ini sengaja tidak mengulang perdebatan filosofis tentang kuasa epistemik algoritma yang telah dibahas dalam kajian Research Center tentang peradaban algoritmik. Fokus kajian ini adalah ekonomi-politik infrastruktur: siapa yang memasok listrik, cip, model, dan aturan, dengan syarat apa, serta di mana Indonesia masih punya daya tawar.

    II

    Kerangka Analitis dan Catatan Metode: Matriks Kedaulatan Tumpukan

    Kerangka kajian ini berangkat dari tiga khazanah literatur. Pertama, literatur tata kelola komputasi, terutama Sastry dan kolega (2024). Mereka berargumen bahwa daya komputasi merupakan titik intervensi paling mudah diatur dalam rantai AI karena dapat dideteksi, dapat dikecualikan, dapat dikuantifikasi, dan rantai pasoknya sangat terkonsentrasi. Sifat-sifat yang memudahkan regulasi itu juga memudahkan negara pemasok menjadikannya alat tekanan. Kedua, teori interdependensi yang dipersenjatai dari Farrell dan Newman (2019) dalam International Security. Teori ini menjelaskan bagaimana negara yang menguasai simpul jaringan global dapat memakai simpul itu untuk mengawasi atau memutus akses pihak lain. Ketiga, literatur lindung nilai negara-negara Asia Tenggara, khususnya Kuik Cheng-Chwee (2008). Kuik menunjukkan bahwa hedging berbeda dari balancing dan bandwagoning, dan bahwa pilihan itu banyak ditentukan oleh kebutuhan legitimasi elite di dalam negeri, bukan semata oleh distribusi kekuatan.

    Dari ketiga sumber tersebut kajian ini merumuskan Matriks Kedaulatan Tumpukan. Tumpukan AI diurai menjadi enam lapisan: energi, komputasi (cip dan pusat data), data, model, talenta, dan aturan. Setiap lapisan dinilai dengan dua pertanyaan. Pertama, seberapa besar kendali efektif Indonesia hari ini, dalam skala 1 (hampir sepenuhnya ditentukan pihak luar) sampai 5 (ditentukan oleh pilihan domestik). Kedua, seberapa besar biaya beralih pemasok jika salah satu tumpukan memutus atau mempersyaratkan akses. Logika matriks ini adalah bahwa kedaulatan bukan sifat biner yang dimiliki atau tidak dimiliki suatu negara. Kedaulatan adalah portofolio kendali dan opsi yang berbeda-beda per lapisan. Negara berpendapatan menengah tidak mungkin berdaulat di semua lapisan, tetapi dapat memilih di lapisan mana ia menginvestasikan modal politik dan fiskalnya.

    Ada tiga catatan metode. Pertama, bukti dikumpulkan dari dokumen resmi seperti Federal Register, siaran pers Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, MITI Malaysia, dan IMDA Singapura, ditambah data lembaga multilateral dan riset pasar, serta pemberitaan bereputasi hingga 29 Oktober 2026. Ketika angka dari dua sumber berbeda tajam, misalnya kapasitas pusat data Johor, kajian ini menyebutkan perbedaannya alih-alih memilih angka yang paling dramatis. Kedua, skor matriks merupakan penilaian analitis yang dapat diperdebatkan, bukan hasil pengukuran. Skor itu dimaksudkan untuk menstrukturkan diskusi, terutama di ruang kelas tata kelola AI. Ketiga, setiap penilaian kunci diberi tingkat keyakinan. Keyakinan tinggi berarti didukung beberapa sumber primer yang saling menguatkan. Keyakinan sedang berarti didukung bukti kuat tetapi bergantung pada asumsi kebijakan yang dapat berubah. Keyakinan rendah berarti bersandar pada informasi parsial atau laporan yang belum dikonfirmasi pemerintah terkait.

    Batas analisis juga perlu ditegaskan. Kajian ini tidak menilai kualitas teknis model tertentu dan tidak memberi rekomendasi investasi. Kajian ini juga tidak memperlakukan “Amerika” dan “Tiongkok” sebagai blok homogen. Di dalam tumpukan Amerika ada perbedaan kepentingan antara Nvidia, penyedia awan raksasa (hyperscaler), Departemen Perdagangan, dan Kongres. Di dalam tumpukan Tiongkok ada perbedaan antara Huawei, Alibaba, Tencent, laboratorium model terbuka, dan Kementerian Luar Negeri. Perbedaan-perbedaan internal itulah yang membuka ruang tawar bagi Indonesia.

    III

    Dua Tumpukan, Dua Tawaran: Arsitektur Persaingan 2025–2026

    Tawaran Amerika berubah bentuk secara drastis dalam delapan belas bulan. Pada Januari 2025, Biro Industri dan Keamanan (BIS) menerbitkan AI Diffusion Rule yang membagi dunia menjadi tiga tingkat. Menurut analisis RSIS (Maret 2025), sebagian besar negara Asia Tenggara, termasuk Singapura, ditempatkan di Tingkat 2. Negara Tingkat 2 dikenai pagu impor setara kira-kira 50.000 GPU H100 hingga 2027, dan hyperscaler Amerika tidak boleh menempatkan lebih dari 7 persen kapasitas komputasinya di satu negara Tingkat 2. Aturan itu tidak pernah berlaku. Pada 13 Mei 2025, Departemen Perdagangan mengumumkan pencabutannya dua hari sebelum tanggal kepatuhan. Bersamaan dengan itu, BIS menerbitkan tiga panduan. Salah satunya, menurut ringkasan Kirkland & Ellis, memperingatkan bahwa penggunaan cip maju buatan Tiongkok, termasuk Huawei Ascend 910B, 910C, dan 910D, dapat memicu General Prohibition 10 di mana pun di dunia.

    Pencabutan itu tidak berarti kelonggaran. Logika kuota digantikan oleh dua instrumen lain, yaitu promosi ekspor dan penegakan hukum. America’s AI Action Plan (23 Juli 2025) menjadikan “ekspor AI tumpukan penuh ke sekutu” sebagai bagian dari pilar diplomasi internasional. Rencana itu juga memerintahkan penjajakan fitur verifikasi lokasi pada cip AI. Perintah Eksekutif 14320 menerjemahkannya menjadi program: konsorsium industri Amerika mengajukan paket yang mencakup perangkat keras, pusat data, model, keamanan siber, dan aplikasi sektoral, lalu pemerintah menyediakan pinjaman, penjaminan, ekuitas, dan asuransi risiko politik. Pada 16 Maret 2026, Departemen Perdagangan membuka panggilan proposal mulai 1 April 2026. Paket yang disetujui dijanjikan prioritas peninjauan izin ekspor dan advokasi antarpemerintah. Hingga siaran pers itu, belum ada negara sasaran yang diumumkan.

    Sisi penegakan hukum menunjukkan mengapa Asia Tenggara berada di pusat persoalan. Pada Februari 2025, Singapura mendakwa tiga orang dalam perkara penipuan terkait server Dell dan Supermicro. Menteri K. Shanmugam menilai server itu kemungkinan berisi cip Nvidia dan dikirim ke Malaysia. Pada 14 Juli 2025, Malaysia mewajibkan Izin Perdagangan Strategis untuk ekspor, transhipmen, dan transit cip AI berkinerja tinggi asal Amerika berdasarkan Pasal 12 Undang-Undang Perdagangan Strategis 2010. Pada Maret 2026, jaksa Amerika mendakwa salah satu pendiri Supermicro dan dua orang lain. Mereka dituduh menyalurkan server senilai sekitar 2,5 miliar dolar AS melalui sebuah perusahaan di Asia Tenggara, dan sedikitnya 510 juta dolar di antaranya diteruskan ke Tiongkok pada April–Mei 2025. Beberapa hari kemudian, Senator Elizabeth Warren dan Jim Banks meminta Menteri Perdagangan mensyaratkan komitmen pengguna akhir yang mengikat dan dapat diaudit untuk setiap permohonan izin dari Asia Tenggara. Surat itu menyebut Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura sebagai titik perantara.

    Ironinya, Washington sendiri melonggarkan akses Tiongkok di tingkat produk. Pada 8 Desember 2025, Presiden Trump mengumumkan bahwa ekspor cip H200 ke Tiongkok akan diizinkan dengan pungutan 25 persen bagi pemerintah AS, sementara Blackwell dan Rubin tetap dikecualikan. Bagi Jakarta, pesannya ambivalen. Garis merah Amerika lebih bersifat transaksional daripada ideologis, tetapi pengawasan terhadap rute pengalihan melalui Asia Tenggara justru makin ketat. Negara yang ingin menjadi tuan rumah komputasi Amerika harus siap diaudit.

    Tawaran Tiongkok disusun dengan logika yang berbeda. Pada 26 Juli 2025, Perdana Menteri Li Qiang mengumumkan Rencana Aksi Tata Kelola AI Global berisi 13 butir. Rencana itu menekankan pembangunan kapasitas Global South melalui listrik bersih, jaringan, daya komputasi, dan pusat data, disertai usulan organisasi kerja sama AI yang berkantor di Shanghai. Usulan itu terwujud setahun kemudian sebagai WAICO. Di lapisan perangkat keras, Huawei mengumumkan peta jalan Ascend pada 18 September 2025: Ascend 950PR pada kuartal pertama 2026, 950DT pada kuartal keempat 2026, Ascend 960 pada akhir 2027, dan Atlas 950 SuperPoD berisi hingga 8.192 cip. Huawei mengompensasi keterbatasan cip tunggal dengan skala klaster. Di lapisan model, keunggulan Tiongkok paling nyata. Kajian Stanford HAI dan DigiChina mencatat bahwa pada September 2025, 63 persen model turunan baru di Hugging Face dibangun di atas model dasar Tiongkok, dan keluarga Qwen menggeser Llama sebagai keluarga model bahasa yang paling banyak diunduh.

    Washington menjual paket lengkap dengan syarat audit; Beijing menawarkan model terbuka dan klub diplomatik tanpa menjamin cip terbaik.

    Kedua tawaran ini asimetris. Amerika unggul di lapisan cip terdepan dan layanan awan terkelola, tetapi aksesnya bersyarat dan dapat berubah melalui keputusan eksekutif. Tiongkok unggul di lapisan model berbobot terbuka dan diplomasi multilateral, tetapi perangkat kerasnya membawa risiko hukum bagi siapa pun yang juga ingin membeli dari Amerika. Kajian ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa asimetri ini, dan bukan pilihan biner “Amerika atau Tiongkok”, merupakan fakta struktural yang harus dikelola Indonesia.

    IV

    Posisi Indonesia per Oktober 2026: Aturan Tertunda, Investasi Melaju

    Indonesia memasuki kompetisi ini dengan kerangka kebijakan yang belum selesai. Pada awal Agustus 2025, Komdigi meluncurkan Buku Putih Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional bersama Konsep Pedoman Etika AI untuk konsultasi publik hingga 22 Agustus 2025. Dokumen itu disusun gugus tugas beranggotakan 443 orang. Menurut GovInsider, buku putih itu menjanjikan komputasi berkinerja tinggi, GPU/TPU, dan awan nasional di pusat data berdaulat. Targetnya 100.000 talenta AI per tahun dan 20 juta warga melek AI pada 2029. Danantara disebut sebagai penggerak pembiayaan melalui instrumen “Sovereign AI Fund”. Buku putih ini menggantikan Strategi Nasional KA 2020–2045 yang dinilai tertinggal oleh gelombang AI generatif.

    Masalahnya terletak pada transformasi buku putih menjadi hukum. JDIH Komdigi mencatat bahwa rapat pleno panitia antarkementerian untuk Rancangan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional Tahun 2026–2029 digelar pada 11 Februari 2026 dengan target penetapan pada kuartal pertama 2026. Rancangan ini dipasangkan dengan Rancangan Perpres tentang Etika AI. Target itu meleset. Pada 6 Mei 2026, Dirjen Ekosistem Digital Edwin Hidayat Abdullah menyatakan rancangan sedang di Sekretariat Negara dan diharapkan ditandatangani bulan itu. Pada 11 Juni 2026, Menteri Meutya Hafid mengakui bahwa draf direvisi setelah konsultasi dengan beberapa perusahaan Amerika. Pada 3 September 2026, Edwin menyebut bahwa yang tersisa tinggal tanda tangan Presiden. Hingga tanggal kajian ini, kajian ini tidak menemukan laporan resmi bahwa kedua Perpres telah diundangkan (keyakinan sedang, karena pengundangan dapat terjadi tanpa liputan luas).

    Penundaan itu bermakna secara geopolitik. Revisi setelah masukan perusahaan Amerika terjadi pada bulan-bulan yang sama ketika Indonesia memikul komitmen perdagangan digital dengan Washington. Perjanjian Perdagangan Resiprokal yang teksnya bertanggal 19 Februari 2026 memuat, menurut pembacaan asosiasi industri CCIA, larangan pajak layanan digital yang diskriminatif, larangan alih teknologi paksa termasuk pengungkapan kode sumber, pembebasan perusahaan Amerika dari persyaratan konten lokal, dan pengakuan kecukupan perlindungan data pribadi Amerika. Selain itu, ada komitmen untuk berkoordinasi dengan Amerika tentang infrastruktur TIK yang aman dan pemasok teknologi tepercaya. Narasi resmi Indonesia lebih berhati-hati. Halaman Wantimpres menyebut Indonesia hanya akan mengizinkan transfer data lintas batas secara terbatas sesuai hukum nasional. Celah antara dua pembacaan itu kelak akan menjadi arena tafsir. Bagi kedaulatan komputasi, klausul “pemasok tepercaya” dan larangan konten lokal mempersempit dua instrumen klasik kebijakan industri, yaitu preferensi vendor dan kewajiban lokalisasi.

    Lima bulan kemudian, Indonesia bergerak ke arah yang tampak berlawanan. Komdigi memberitakan bahwa Wakil Menteri Angga Raka Prabowo mendampingi Menko Airlangga Hartarto dalam penandatanganan WAICO di Shanghai, dan menyebutnya sebagai “momentum strategis untuk memperkuat tata kelola AI nasional“. Menurut The China-Global South Project, kunjungan itu juga mencakup pertemuan dengan ByteDance, Unitree, dan FiberHome serta peluncuran wilayah awan GPU Tencent di Indonesia. Kajian ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa kedua langkah itu tidak bertentangan secara hukum. WAICO adalah forum kerja sama tanpa kewajiban pengadaan, sedangkan perjanjian dagang dengan Amerika mengikat. Akan tetapi, langkah-langkah itu menciptakan ketegangan reputasional yang akan diuji saat Indonesia memilih vendor untuk proyek komputasi berskala besar.

    Di sisi investasi, gerak Indonesia lebih cepat daripada regulasinya. Pada 23 Februari 2026 di London, Danantara dan Arm menandatangani perjanjian kerangka untuk melatih 15.000 insinyur desain cip, disaksikan Presiden Prabowo. Pada 26 Oktober 2026, dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum, CTO Danantara Sigit Puji Santosa memaparkan rencana enam sektor semikonduktor dan sebuah pusat data 1 GW sebagai proyek prioritas klaster telekomunikasi, berdampingan dengan “kedaulatan AI nasional” dan awan berdaulat. Pada forum yang sama, Telkom meluncurkan empat kapabilitas “sovereign digital technology” dengan target kapasitas pusat data AI 1 GW. Nilai investasi dan pemasok cip untuk proyek-proyek ini belum diumumkan. Kekosongan informasi itu merupakan penanda terpenting yang perlu diawasi.

    Sementara itu, ekosistem swasta sudah membuat pilihan secara de facto. Indosat bersama Nvidia dan Cisco membangun AI Center of Excellence di bawah Komdigi dengan “pabrik AI” berbasis GPU Blackwell (Juli 2025). Microsoft membuka wilayah awan Indonesia Central pada Mei 2025 sebagai bagian dari komitmen investasi 1,7 miliar dolar AS untuk 2024–2028. Tencent menyatakan akan menanamkan 500 juta dolar AS hingga 2030 dan membangun pusat data ketiganya di Indonesia, melengkapi dua fasilitas yang sudah beroperasi di Jakarta. Model bahasa unggulan nasional, Sahabat-AI dari GoTo dan Indosat, diluncurkan dalam versi 70 miliar parameter pada Juni 2025 dan dijalankan di awan GPU Merdeka milik Indosat. Menurut katalog LLM Reference, varian-varian Sahabat-AI dibangun di atas Llama dan Gemma. Dengan demikian, “model berdaulat” Indonesia saat ini merupakan penyesuaian berbahasa lokal atas model dasar Amerika yang dijalankan pada cip Amerika di wilayah Indonesia. Itu capaian nyata, tetapi kedaulatannya ada pada data dan bahasa, bukan pada fondasinya.

    V

    Geografi Komputasi Selat Malaka: Batam, Johor, dan Singapura

    Kedaulatan komputasi Indonesia tidak dapat dipahami tanpa geografi Selat Malaka. Tiga yurisdiksi yang bertetangga, yaitu Singapura, Johor, dan Batam, membentuk satu pasar komputasi regional dengan aturan berbeda. Singapura memberlakukan moratorium pusat data baru pada 2019. Menurut DatacenterDynamics, moratorium itu dilonggarkan pada Juli 2022 melalui skema percontohan yang menghasilkan sekitar 80 MW kapasitas baru bagi empat operator. Pada 29 Mei 2024, Singapura meluncurkan Green Data Centre Roadmap yang membuka setidaknya 300 MW tambahan dalam jangka dekat dengan syarat efisiensi ketat, termasuk target PUE 1,3 atau lebih rendah. Pada Oktober 2025, EDB dan JTC menyiapkan sekitar 20 hektare di Pulau Jurong untuk taman pusat data rendah karbon hingga 700 MW. Singapura memilih kelangkaan yang terkelola: sedikit megawatt, nilai tambah tinggi, dan seleksi ketat.

    Kelangkaan di Singapura melimpah ke Johor. Menurut JLL, Johor kini memiliki 850 MW kapasitas operasional, 1.800 MW sedang dibangun, dan 2.700 MW dalam rencana (April 2026). Knight Frank menyebut angka yang jauh lebih besar, yaitu 5,8 GW pada kuartal kedua 2025. Selisih ini hampir pasti mencerminkan perbedaan definisi antara kapasitas terpasang dan kapasitas yang telah dikomitmenkan. Pertumbuhan itu menabrak batas air. Pada November 2025, pemerintah negara bagian Johor berhenti menyetujui pusat data Tier 1 dan Tier 2. Saat itu Johor telah menyetujui 51 proyek senilai RM182,96 miliar, dan fasilitas berpendingin air disebut dapat menyedot hingga 50 juta liter per hari. Pada Juli 2026, sejumlah operator mulai beralih ke air daur ulang, sementara pemerintah negara bagian dan federal menyiapkan RM5 miliar untuk tiga waduk dan tiga instalasi pengolahan air.

    Batam adalah limpahan tahap berikutnya. Menurut riset BRI Danareksa yang dikutip di atas, Batam memiliki sekitar 126 MW kapasitas operasional dengan rencana sekitar 1,4 GW. Sebanyak 71 persen di antaranya berskala hyperscale dan sebagian besar dimiliki swasta asing, sehingga laporan itu menyebutnya “regional-spillover play”. Proyek paling representatif adalah kampus DayOne bersama Indonesia Investment Authority (INA) di Nongsa Digital Park. Proyek berkapasitas sekitar 72 MW itu dibiayai pinjaman Rp6,7 triliun dari DBS dan UOB. Strukturnya terang benderang: modal dan bank Singapura, operator berakar regional, dana kekayaan negara Indonesia sebagai mitra, dan pelanggan global. Jakarta tetap menjadi pasar terbesar dengan sekitar 322 MW kapasitas operasional, tetapi Batam menunjukkan bahwa sebagian “kapasitas Indonesia” sesungguhnya adalah perpanjangan pasar Singapura di wilayah Indonesia.

    Tabel 1. Kapasitas pusat data di koridor Selat Malaka dan Indonesia (data terbaru yang tersedia)
    LokasiKapasitas operasionalPipa/rencanaKendala utamaSumber, waktu
    Singapura±1,4 GW (lebih dari 70 pusat data)≥300 MW (GDC Roadmap); hingga 700 MW JurongLahan, energi, target PUE ≤1,3DCD 2024; IMDA 2024; Reed Smith 2025
    Johor850 MW1.800 MW dibangun; 2.700 MW rencanaAir; larangan Tier 1–2 sejak Nov 2025JLL, Apr 2026
    Batam±126 MW±1,4 GWKetergantungan modal asing; jaringan listrik lokalBRIDS, Agu 2026
    Jakarta Raya±322 MW±1,7 GWLahan, pasokan listrik hijauBRIDS, Agu 2026
    Indonesia (total)±580 MW (1H 2026)Proyeksi 3,5 GW pada 2030Bauran listrik 82% fosil (2024)BRIDS, Agu 2026; Ember

    Sumber: DatacenterDynamics; NST/JLL; BRI Danareksa Sekuritas; Ember. Definisi kapasitas berbeda antarsumber; angka tidak sepenuhnya sebanding.

    Implikasi strategisnya ada tiga. Pertama, Indonesia diuntungkan oleh kendala tetangganya: moratorium Singapura dan krisis air Johor mendorong permintaan ke Batam. Keunggulan ini bersifat sementara dan dapat hilang jika Johor menyelesaikan infrastruktur airnya. Kedua, rute pengalihan cip yang disorot Washington justru melewati koridor ini. Batam akan diperlakukan dengan kecurigaan yang sama seperti Johor jika Indonesia tidak memiliki rezim kendali ekspor setara dengan izin Malaysia, dan risiko ini dinilai dengan keyakinan sedang. Ketiga, nilai tambah kapasitas Batam bagi kedaulatan Indonesia bergantung pada siapa yang memakai komputasinya. Jika pemakainya terutama beban kerja pelanggan Singapura, Batam memperkuat posisi tawar Indonesia di lapisan energi dan lahan, bukan di lapisan model atau talenta. Persoalan ini juga bersinggungan dengan perdebatan lebih luas tentang kedaulatan ekonomi dalam hubungan Singapura–Indonesia, meskipun kajian ini membatasi diri pada lapisan komputasi.

    VI

    Energi sebagai Lapisan Dasar Kedaulatan Komputasi

    Semua lapisan tumpukan AI pada akhirnya bertumpu pada listrik. Laporan Energy and AI Badan Energi Internasional (IEA) pada April 2025 memperkirakan konsumsi listrik pusat data global akan meningkat dari sekitar 415 TWh pada 2024 menjadi sekitar 945 TWh pada 2030, kira-kira setara dengan konsumsi listrik Jepang saat ini. Untuk Asia Tenggara, IEA memperkirakan konsumsi pusat data hampir dua kali lipat pada 2030. Proyeksi Ember (Mei 2025) lebih tajam untuk Malaysia: permintaan listrik pusat data naik dari 9 TWh pada 2024 menjadi 68 TWh pada 2030, sekitar 30 persen konsumsi nasional. Untuk Indonesia, Ember memproyeksikan emisi sektor listrik dari pusat data meningkat empat kali lipat dan menambah 13 juta ton CO2e pada 2030.

    Di sinilah kelemahan struktural Indonesia terletak. Menurut Ember, hanya 18 persen listrik Indonesia pada 2024 berasal dari sumber bersih, dan pembangkitan batu bara bertambah 12 TWh dalam tahun itu. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN 2025–2034 menargetkan tambahan 69,5 GW, dengan 42,6 GW energi terbarukan, 10,3 GW penyimpanan, dan 16,6 GW fosil. Angka itu ambisius, tetapi tidak dirancang khusus untuk lonjakan beban pusat data AI yang padat, terkonsentrasi, dan menuntut keandalan sangat tinggi. Pada 23 Oktober 2026, Danantara bahkan dilaporkan mendorong pusat data besar untuk mengamankan pasokan energinya sendiri. Sinyal ini menunjukkan bahwa jaringan nasional belum siap dijadikan sandaran bagi proyek skala gigawatt.

    Bagi strategi kedaulatan, energi adalah lapisan yang paling sering diremehkan sekaligus paling menentukan. Hyperscaler Amerika memiliki komitmen iklim yang menuntut pasokan rendah karbon, sedangkan Tiongkok menawarkan “listrik bersih” sebagai bagian dari paket pembangunan kapasitas dalam Rencana Aksi 2025. Negara yang dapat menawarkan listrik hijau yang andal dan murah dalam skala ratusan megawatt akan memiliki daya tawar di lapisan atas, termasuk syarat transfer pengetahuan, porsi kapasitas untuk riset publik, dan lokasi pelatihan model. Kajian ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa dalam jangka 2026–2030, kendala energi, bukan izin ekspor cip, akan menjadi batas efektif pertumbuhan komputasi Indonesia. Karena itu, PLN dan Kementerian ESDM adalah aktor kedaulatan komputasi yang sama pentingnya dengan Komdigi.

    Ada pula dimensi distribusi. Beban pusat data yang terkonsentrasi di Jawa bagian barat dan Batam berarti investasi transmisi dan pembangkit akan mengikuti peta pelanggan korporasi, bukan peta kebutuhan rumah tangga. Pengalaman Johor menunjukkan bahwa kompetisi atas air dan listrik antara pusat data dan warga dapat dengan cepat menjadi isu politik lokal. Kedaulatan komputasi yang mengabaikan keadilan energi akan kehilangan legitimasi domestik. Padahal, seperti diingatkan Kuik, legitimasi domestik adalah penggerak utama strategi lindung nilai negara-negara Asia Tenggara.

    VII

    Matriks Kedaulatan Tumpukan Indonesia: Penilaian Enam Lapisan

    Dengan bukti di atas, matriks kedaulatan tumpukan Indonesia dapat diisi. Tabel 2 merangkum penilaian kajian ini. Skor kendali efektif menggunakan skala 1–5, dan biaya beralih diukur sebagai rendah, sedang, atau tinggi. Uraian setelah tabel menjelaskan dasar setiap penilaian yang tidak sudah terang dari bagian-bagian sebelumnya.

    Tabel 2. Matriks Kedaulatan Tumpukan AI Indonesia, Oktober 2026 (penilaian analitis)
    LapisanKendali efektif (1–5)Ketergantungan utamaBiaya beralihKeyakinan
    Energi3Domestik (PLN), tetapi 82% fosilRendah (domestik)Tinggi
    Komputasi (cip, pusat data)1Cip AS (Nvidia); modal Singapura/AS/TiongkokTinggiTinggi
    Data3Domestik (UU PDP), dibatasi komitmen ARTSedangSedang
    Model2Model dasar AS (Llama, Gemma) dan Tiongkok (Qwen, DeepSeek)Rendah–sedangSedang
    Talenta2Pelatihan oleh vendor (Arm, Microsoft, Nvidia)SedangSedang
    Aturan2Perpres belum terbit; komitmen ART dan WAICOSedangTinggi

    Sumber: sintesis kajian ini berdasarkan sumber-sumber yang dikutip pada bagian III–V dan Oxford Insights 2024 via Databoks.

    Lapisan komputasi memperoleh skor terendah karena Indonesia tidak memproduksi cip AI. Akses ke cip terdepan sepenuhnya bergantung pada izin dan kebijakan Amerika, sedangkan alternatif Huawei membawa risiko General Prohibition 10 bagi siapa pun yang juga memakai teknologi Amerika. Kemitraan Danantara–Arm penting secara simbolik dan untuk talenta desain, tetapi tidak mengubah ketergantungan itu sebelum 2030. Biaya beralih tinggi karena perangkat lunak, kompilator, dan keterampilan insinyur terkunci pada ekosistem tertentu. Perangkat CUDA milik Nvidia adalah contoh paling jelas.

    Lapisan data memperoleh skor menengah. UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi berlaku penuh sejak 17 Oktober 2024. Namun, laporan resmi terakhir yang dapat diverifikasi kajian ini menyebut lembaga pengawasnya belum dibentuk dan peraturan pelaksananya masih diharmonisasi. Indonesia memiliki aset data linguistik dan sosial yang tidak tergantikan, tetapi komitmen arus data lintas batas dalam perjanjian dengan Amerika membatasi penggunaan lokalisasi sebagai alat tawar. Kedaulatan data, dengan demikian, harus dibangun melalui tata kelola akses dan kurasi korpus publik, bukan melalui larangan transfer.

    Lapisan model memperoleh skor rendah tetapi dengan biaya beralih yang juga rendah. Inilah lapisan dengan opsi terbanyak. Ekosistem model berbobot terbuka dari kedua negara memungkinkan pengembang Indonesia berpindah dasar model dengan biaya relatif kecil. Sahabat-AI sendiri merilis varian berbasis Llama 3, lalu Gemma 2, kemudian kembali ke Llama dalam waktu kurang dari setahun. Kerentanannya bukan pada akses, melainkan pada lisensi dan evaluasi. Model dasar membawa lisensi dan nilai-nilai bawaan pembuatnya, dan Indonesia belum memiliki lembaga evaluasi model yang independen untuk menilai keamanan, bias, dan kesesuaian dengan hukum nasional.

    Lapisan talenta dan aturan sama-sama memperoleh skor 2, tetapi karena alasan berbeda. Oxford Insights Government AI Readiness Index 2024 menempatkan Indonesia di peringkat 38 dari 188 negara. Skor pilar pemerintahnya 79,86, sedangkan skor pilar sektor teknologinya hanya 48,06. Celah ini mencerminkan kemauan politik yang mendahului kapasitas industri dan riset. Program talenta terbesar saat ini, seperti target 15.000 insinyur bersama Arm atau program pelatihan Microsoft, dijalankan bersama vendor. Program-program itu berguna, tetapi mereproduksi ketergantungan ekosistem. Di lapisan aturan, ketiadaan Perpres membuat Indonesia bernegosiasi tanpa jangkar hukum domestik. Akibatnya, komitmen eksternal seperti perjanjian dagang dan keanggotaan WAICO mendahului kerangka nasional, padahal seharusnya kerangka nasional yang lebih dulu ada.

    Pembacaan keseluruhan matriks memperlihatkan pola yang jelas. Kendali Indonesia paling kuat di lapisan bawah (energi) dan tengah (data), tetapi paling lemah di lapisan perangkat keras. Lapisan model memiliki kendali rendah tetapi opsi tinggi. Strategi yang rasional adalah memperkuat lapisan dengan skor sedang agar menjadi alat tawar, menjaga keterbukaan di lapisan model, dan menerima penjajaran yang dinegosiasikan di lapisan cip.

    VIII

    Perbandingan Internasional: Teluk, India, dan Tetangga ASEAN

    Uni Emirat Arab mewakili model penjajaran yang dibayar dengan akses. Stargate UAE berkapasitas 1 GW adalah bagian dari kampus AI UEA–AS seluas 19,2 km² berkapasitas 5 GW di Abu Dhabi, dikembangkan Khazna (G42) bersama OpenAI, Oracle, Nvidia, Cisco, dan SoftBank. Menurut The National (Desember 2025), tahap pertama 200 MW ditargetkan rampung pada kuartal ketiga 2026, setelah Washington pada November 2025 mengizinkan G42 membeli setara hingga 35.000 cip GB300. Arab Saudi menempuh jalur serupa: Humain milik PIF memperoleh 18.000 cip GB300 pada Mei 2025 untuk tahap awal kapasitas hingga 500 MW. Pelajaran dari Teluk adalah bahwa akses ke komputasi terdepan dapat dinegosiasikan oleh negara di luar sekutu tradisional Amerika, tetapi dengan modal yang sangat besar, keputusan politik dari pucuk pimpinan, dan kesediaan menjadikan diri bagian dari arsitektur keamanan teknologi Amerika. Indonesia tidak memiliki surplus modal sebesar itu dan tradisi politik luar negerinya bebas-aktif, sehingga model ini tidak dapat ditiru utuh.

    India mewakili model komputasi publik bersubsidi. Menurut Business Standard (Juni 2026), IndiaAI Mission kini menyediakan lebih dari 38.000 GPU dengan tarif sekitar ₹65 per jam-GPU, jauh di bawah harga pasar internasional. Namun, laporan yang sama mencatat kritik penting. Sebagian besar perusahaan rintisan menyesuaikan model terbuka alih-alih melatih model dasar. Batas sewa tujuh hari menyulitkan pelatihan. Hampir separuh anggaran misi tersedot ke komputasi, sementara porsi untuk data relatif kecil. Seorang pakar yang dikutip menyatakan bahwa “50.000 H100 tidak akan menolong jika korpus pelatihan untuk bahasa Indik tipis”. Pelajaran dari India bagi Indonesia adalah bahwa subsidi komputasi tanpa investasi data dan talenta menghasilkan kapasitas yang kurang termanfaatkan. Dalam skema Diffusion Rule, India juga berada di Tingkat 2, yang menunjukkan bahwa ukuran ekonomi tidak otomatis menjamin akses istimewa.

    Malaysia mewakili tuan rumah yang terjepit. Sebagai pusat pusat data terbesar di Asia Tenggara, Malaysia paling terpapar pada pengawasan pengalihan cip, sehingga menjadi yang pertama menerapkan izin ekspor cip AS. Akan tetapi, ia juga menunjukkan betapa sulitnya membangun opsi Tiongkok. Pada Mei 2025, seorang wakil menteri mengumumkan sistem AI berdaulat berbasis 3.000 cip Huawei Ascend. Pernyataan itu ditarik dalam sehari, dan MITI menyatakan proyek itu sepenuhnya swasta. Pada September 2026, Bloomberg melaporkan bahwa Malaysia kembali menimbang Ascend 910C untuk program AI berdaulat senilai RM2 miliar, dengan Departemen Luar Negeri AS memperingatkan tentang “pemasok tidak tepercaya”. Pemerintah Malaysia tidak memberi komentar, sehingga laporan ini dinilai dengan keyakinan rendah. Kasus Malaysia memperlihatkan bahwa untuk data pemerintah yang sensitif, godaan memilih perangkat keras non-Amerika bisa nyata, tetapi setiap langkah ke arah itu segera menjadi isu bilateral dengan Washington.

    Vietnam mewakili model hukum lebih dahulu. Majelis Nasional mengesahkan Undang-Undang Nomor 134/2025/QH15 tentang Kecerdasan Artifisial pada 10 Desember 2025, dan undang-undang itu berlaku sejak 1 Maret 2026 dengan rezim berbasis risiko, jangkauan ekstrateritorial, dan kotak pasir regulasi. Vietnam menunjukkan bahwa negara berpendapatan menengah dapat mengunci kerangka domestiknya sebelum tekanan eksternal mengeras. Langkah itu memberi pejabatnya jangkar hukum saat bernegosiasi dengan kedua tumpukan. Kontras dengan Indonesia sangat tajam: Hanoi menetapkan undang-undang sebelum menandatangani komitmen eksternal, sedangkan Jakarta melakukan sebaliknya.

    Ketika keempat kasus ditempatkan dalam literatur, tampak satu pola. Lehdonvirta, Wú, dan Hawkins (2024) membedakan negara yang menjadi lokasi komputasi untuk pengembangan (Compute North), negara yang menjadi lokasi penerapan (Compute South), dan negara tanpa komputasi awan publik (Compute Desert). Uni Emirat Arab dan Arab Saudi sedang membeli jalan masuk ke kategori pertama. India mencoba melompat dengan subsidi publik. Malaysia dan Indonesia saat ini berada di kategori kedua. Kategori itu, dalam kerangka Farrell dan Newman, adalah posisi paling rentan terhadap interdependensi yang dipersenjatai, karena simpul jaringan yang menentukan berada di luar wilayahnya. Sejumlah tulisan dalam edisi Foreign Affairs Maret/April 2023 bertajuk Innovation Power: How Technology Will Reshape Geopolitics, termasuk esai pembuka Eric Schmidt, sudah mengantisipasi bahwa kapasitas inovasi akan menjadi sumber kekuatan negara. Kasus-kasus 2025–2026 menunjukkan sisi lainnya: bagi negara menengah, kekuatan itu terutama berupa kemampuan memilih syarat ketergantungan.

    IX

    Argumen Tandingan yang Diperkuat dan Jawabannya

    Argumen tandingan pertama dan terkuat menyatakan bahwa lindung nilai mustahil karena penguncian standar memaksa pilihan. Versi terkuatnya berbunyi sebagai berikut. Panduan BIS Mei 2025 membuat penggunaan Ascend di mana pun berpotensi melanggar hukum Amerika. Perjanjian dagang Februari 2026 mengikat Indonesia untuk berkoordinasi tentang “pemasok tepercaya”. Surat Senat Maret 2026 menuntut komitmen pengguna akhir yang dapat diaudit bagi Asia Tenggara. Di sisi lain, ekosistem perangkat lunak (CUDA versus CANN milik Huawei), standar interkoneksi, dan rantai pasok suku cadang tidak kompatibel. Pusat data yang dibangun untuk satu tumpukan tidak dapat dialihkan ke tumpukan lain tanpa biaya hampir setara membangun ulang. Ditambah perilaku pengadaan pemerintah yang cenderung memilih satu vendor utama, “lindung nilai” pada praktiknya akan menjadi penundaan keputusan yang mahal. Dalam waktu itu, kompetitor regional mengunci investasi.

    Argumen ini benar untuk lapisan perangkat keras, dan kajian ini menerimanya di lapisan itu. Akan tetapi, argumen ini keliru jika diperluas ke seluruh tumpukan. Model berbobot terbuka dapat dijalankan di perangkat keras apa pun yang memadai. Sahabat-AI sudah lebih dari sekali berganti model dasar. Data, talenta, energi, dan aturan tidak tunduk pada General Prohibition 10. Bahkan di lapisan perangkat keras, pemisahan fisik dan kelembagaan tetap mungkin. Satu fasilitas dapat menjalankan klaster berlisensi Amerika dengan rezim kepatuhan penuh, sementara riset nonsensitif di lembaga lain dapat menguji alternatif secara terbatas. Pemisahan ini berbiaya, tetapi biayanya terukur dan jauh lebih kecil daripada kehilangan opsi sepenuhnya. Kesimpulannya, yang mustahil adalah lindung nilai merata di setiap lapisan, bukan lindung nilai sebagai strategi portofolio.

    Argumen tandingan kedua menyatakan bahwa kedaulatan komputasi adalah ilusi bagi negara berpendapatan menengah, sehingga Indonesia sebaiknya membeli layanan awan saja. Versi terkuatnya juga meyakinkan. Biaya membangun dan memperbarui klaster GPU sangat besar, dan generasi cip berganti setiap satu sampai dua tahun. Hyperscaler menawarkan skala, keandalan, dan perangkat pengembang yang tidak dapat ditandingi fasilitas publik, sebagaimana diakui pengguna IndiaAI. Wilayah awan Microsoft, AWS, Google, Alibaba, Tencent, dan Huawei sudah beroperasi di Jakarta, sehingga data tetap di wilayah Indonesia. Modal Danantara yang terbatas lebih baik dipakai untuk pendidikan, kesehatan, atau jaringan listrik. Mengejar pusat data 1 GW milik negara dikhawatirkan mengulangi kesalahan proyek mercusuar yang berakhir kurang termanfaatkan.

    Kajian ini menerima sebagian besar premis argumen kedua. Membangun kapasitas pelatihan model terdepan milik negara memang tidak rasional bagi Indonesia sebelum 2030. Akan tetapi, kesimpulan “beli awan saja” mengabaikan tiga hal. Pertama, ketergantungan penuh pada awan komersial membuat Indonesia tidak memiliki kapasitas cadangan ketika akses berubah karena keputusan eksekutif di negara lain. Pencabutan dan penggantian aturan dalam hitungan bulan pada 2025 menunjukkan bahwa risiko ini nyata. Kedua, tanpa kapasitas riset publik yang terjangkau, universitas dan BRIN tidak dapat menghasilkan talenta dan evaluasi independen. Padahal kedua hal itu merupakan syarat negosiasi yang cerdas dengan vendor. Ketiga, posisi tawar Indonesia terhadap hyperscaler justru bergantung pada adanya alternatif kredibel, meskipun kecil. Jadi jawabannya bukan “bangun semuanya” atau “beli semuanya”, melainkan memiliki kapasitas inti yang cukup untuk riset, evaluasi, dan layanan publik kritis, lalu membeli sisanya dengan syarat yang dinegosiasikan.

    Kedua argumen tandingan juga mengandung pelajaran bagi strategi yang dianjurkan kajian ini. Keduanya menunjukkan bahwa biaya ketidakpastian ditanggung oleh pasar. Investor pusat data yang menunggu kejelasan vendor, aturan, dan pasokan listrik akan memilih Johor atau Singapura. Oleh karena itu, kedaulatan berlapis harus diumumkan dan dijalankan secara eksplisit dan cepat. Ambiguitas yang strategis bagi diplomasi bisa menjadi racun bagi investasi.

    X

    Skenario hingga 2030 dan Penanda

    Empat skenario disusun berdasarkan dua ketidakpastian kunci. Ketidakpastian pertama adalah apakah Indonesia akan merumuskan doktrin kedaulatan komputasi yang eksplisit dan menegakkannya melalui Perpres, kebijakan pengadaan, dan keputusan vendor Danantara. Ketidakpastian kedua adalah apakah persaingan Amerika–Tiongkok di lapisan perangkat keras makin mengeras, misalnya melalui aturan pengganti Diffusion Rule atau syarat verifikasi lokasi cip, atau justru makin transaksional.

    Empat Skenario hingga 2030 (penilaian penulis, 29 Oktober 2026)

    1. APenjajaran de facto ke tumpukan Amerika40%
    2. BKedaulatan berlapis yang terkelola30%
    3. CStagnasi: kedaulatan nominal20%
    4. DPergeseran ke tumpukan Tiongkok10%

    Probabilitas merupakan penilaian penulis berdasarkan bukti hingga 29 Oktober 2026, bukan hasil model kuantitatif, dan akan berubah seiring penanda di bawah.

    Skenario A, penjajaran de facto ke tumpukan Amerika, adalah yang paling mungkin karena merupakan kelanjutan dari tren yang sudah berjalan. Pusat data besar, termasuk proyek 1 GW Danantara dan Telkom, memakai cip Nvidia di bawah rezim kepatuhan Amerika, mungkin melalui paket American AI Exports Program. Model Tiongkok tetap dipakai luas oleh pengembang swasta, sedangkan keanggotaan WAICO tinggal sebagai forum diplomatik. Dalam skenario ini Indonesia memperoleh investasi, tetapi daya tawarnya menyusut di setiap putaran karena tidak memiliki alternatif kredibel dan kerangka hukum yang kuat. Penandanya meliputi pengumuman pemasok cip untuk proyek 1 GW, keikutsertaan konsorsium yang menyasar Indonesia dalam program ekspor AI Amerika, dan Perpres AI yang terbit dengan klausul yang melunak setelah masukan perusahaan asing.

    Skenario B, kedaulatan berlapis yang terkelola, adalah skenario yang dianjurkan kajian ini. Indonesia menerbitkan Perpres dan menjadikannya jangkar. Indonesia menegosiasikan jalur izin yang dapat diprediksi dengan Washington sebagai imbalan atas rezim kepatuhan ekspor yang kredibel. Di lapisan model, Indonesia mempertahankan keterbukaan terhadap model kedua negara melalui lembaga evaluasi nasional. Di lapisan energi, data, dan talenta, Indonesia berinvestasi secara agresif. Penandanya adalah terbitnya aturan kendali ekspor dan transit cip ala Malaysia, kontrak listrik hijau khusus pusat data dari PLN, alokasi kapasitas riset publik di proyek-proyek Danantara, dan inisiatif evaluasi model bersama di bawah ASEAN AI Safety Network.

    Skenario C, stagnasi atau kedaulatan nominal, terjadi jika regulasi terus tertunda, jaringan listrik tidak mampu mengimbangi, dan investor mengalihkan proyek ke Johor yang telah menyelesaikan masalah airnya atau ke Thailand dan Vietnam. Slogan kedaulatan tetap dipakai, tetapi Indonesia menjadi konsumen layanan awan tanpa kapasitas inti dan tanpa daya tawar. Penandanya meliputi konversi pipa kapasitas Batam dan Jakarta yang jauh di bawah proyeksi, kegagalan pendanaan proyek 1 GW, dan pembatalan atau penundaan proyek hyperscaler.

    Skenario D, pergeseran ke tumpukan Tiongkok, memiliki probabilitas terendah, tetapi dampaknya terbesar. Pemicunya dapat berupa krisis dalam hubungan dagang Indonesia–Amerika, penolakan izin ekspor untuk proyek strategis, atau tawaran pembiayaan Tiongkok yang sangat murah untuk paket listrik, pusat data, dan Ascend. Skenario ini akan memicu tekanan sekunder dari Washington terhadap mitra-mitra Indonesia dan dapat memecah ekosistem domestik antara perusahaan yang melayani pasar global dan proyek negara. Penandanya adalah pengadaan Ascend oleh BUMN, proyek WAICO dengan komponen perangkat keras di Indonesia, atau pernyataan resmi Indonesia yang mempertanyakan rezim kendali ekspor Amerika.

    Penanda lintas skenario yang perlu dipantau setiap kuartal adalah penandatanganan ASEAN Digital Economy Framework Agreement yang perundingannya telah rampung pada 30 Mei 2026 dan ditargetkan ditandatangani pada November 2026, aturan pengganti Diffusion Rule dari BIS, kelanjutan laporan pembelian Ascend oleh Malaysia, dan kecepatan Johor menyelesaikan krisis airnya.

    XI

    Rekomendasi Berbatas Waktu untuk Aktor Nasional, Regional, dan Internasional

    Untuk Presiden Republik Indonesia, langkah paling mendesak adalah menandatangani Perpres Peta Jalan AI dan Perpres Etika AI paling lambat akhir kuartal pertama 2027. Bersamaan dengan itu, pemerintah perlu mempublikasikan ringkasan perubahan yang dilakukan setelah konsultasi dengan perusahaan asing agar legitimasi domestiknya terjaga. Presiden juga perlu menetapkan, melalui Perpres atau instruksi, doktrin kedaulatan berlapis sebagai pedoman tunggal bagi Komdigi, Danantara, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Perdagangan. Tanpa doktrin bersama, komitmen eksternal Indonesia akan terus dibuat secara terpisah oleh kementerian yang berbeda, seperti terlihat pada perjanjian dagang Februari dan penandatanganan WAICO pada Juli 2026.

    Untuk Komdigi, dalam enam bulan setelah Perpres terbit, perlu diterbitkan peraturan menteri tentang pengadaan AI sektor publik. Peraturan itu mewajibkan portabilitas model dan data, melarang ketergantungan pada satu model dasar untuk layanan kritis, dan mensyaratkan evaluasi keamanan sebelum penerapan. Pada 2027, Komdigi bersama BRIN perlu membentuk unit evaluasi model nasional yang menguji model dasar dari Amerika, Tiongkok, dan Eropa dengan tolok ukur berbahasa Indonesia dan bahasa daerah. Unit ini sebaiknya terhubung dengan jaringan evaluasi regional.

    Untuk Danantara, sebelum keputusan vendor proyek pusat data 1 GW pada 2027, Danantara perlu menerbitkan kerangka tata kelola proyek yang mencakup kepatuhan kendali ekspor, struktur kepemilikan, dan alokasi minimal kapasitas untuk riset publik dan layanan pemerintah. Proyek perlu dirancang sebagai klaster berlisensi Amerika dengan kepatuhan penuh. Uji coba perangkat keras alternatif, jika diinginkan, harus dipisahkan secara fisik dan kelembagaan agar tidak membahayakan izin. Danantara juga perlu mengaitkan setiap investasi pusat data dengan kontrak energi terbarukan baru, bukan sekadar sertifikat.

    Untuk PLN dan Kementerian ESDM, hingga pertengahan 2027, perlu dirancang tarif dan skema kontrak listrik hijau khusus pusat data skala besar, termasuk opsi pembangkit terbarukan terdedikasi di Batam dan Jawa bagian barat. Revisi RUPTL berikutnya perlu memasukkan proyeksi beban pusat data secara eksplisit. Untuk BRIN dan perguruan tinggi, pada 2027–2028 perlu dibangun fasilitas komputasi riset bersama dengan perjanjian tingkat layanan yang jelas, belajar dari kritik terhadap IndiaAI. Perguruan tinggi juga perlu mengembangkan kurikulum tata kelola AI yang memasukkan rantai pasok komputasi dan kendali ekspor. Prioritas lainnya adalah korpus data bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang dikurasi secara terbuka, termasuk di perguruan tinggi keagamaan yang tengah bergulat dengan dampak AI generatif terhadap otoritas ilmu.

    Untuk ASEAN, setelah penandatanganan DEFA pada November 2026, negara anggota perlu menyepakati mekanisme bersama verifikasi pengguna akhir untuk cip AI paling lambat 2028. Tujuannya agar kawasan tidak diperlakukan sebagai rute pengalihan oleh Washington, dan agar tidak ada negara yang menanggung beban penegakan sendirian. ASEAN AI Safety Network, yang menurut ADGMIN Hanoi Januari 2026 bersekretariat di Kuala Lumpur, sebaiknya diberi mandat evaluasi model bersama. Pemutakhiran ASEAN Guide on AI Governance and Ethics (Februari 2024) juga perlu memasukkan bab tentang infrastruktur komputasi dan energi.

    Untuk aktor internasional, rekomendasinya sebagai berikut. Departemen Perdagangan dan BIS Amerika Serikat sebaiknya menawarkan Indonesia jalur izin yang dapat diprediksi, misalnya melalui jaminan antarpemerintah, sebagai imbalan atas rezim kepatuhan kredibel. Paket AI Exports Program untuk Indonesia juga perlu memuat komponen kapasitas lokal, seperti pelatihan, akses riset, dan alih pengetahuan, karena paket tanpa komponen itu akan memperkuat narasi bahwa penjajaran berarti ketergantungan. Tiongkok sebaiknya mewujudkan komitmen WAICO dalam bentuk yang tidak memaksakan pilihan perangkat keras, seperti dokumentasi model terbuka, kerja sama data bahasa, dan riset efisiensi energi, serta menghormati kerangka hukum Indonesia. Jepang dan Uni Eropa memiliki peran unik sebagai pemasok netral di lapisan energi dan aturan. Pembiayaan transmisi dan energi terbarukan untuk koridor pusat data serta kerja sama evaluasi model dapat mengurangi tekanan biner. Investor Teluk yang berminat pada pusat data Indonesia sebaiknya menerima standar keterbukaan kepemilikan dan kepatuhan yang sama. Para hyperscaler perlu berkomitmen pada pengadaan energi terbarukan tambahan di Indonesia dan pada akses kapasitas bersubsidi bagi riset publik hingga 2030.

    XII

    Keterbatasan Kajian dan Kesimpulan: Kedaulatan sebagai Kemampuan Memilih Syarat

    Kajian ini memiliki empat keterbatasan utama. Pertama, isi final kedua rancangan Perpres AI belum dipublikasikan. Penilaian lapisan aturan bersandar pada buku putih, pernyataan pejabat, dan laporan media, sehingga dapat berubah jika teks akhirnya memuat ketentuan yang berbeda. Kedua, data kapasitas pusat data sangat bergantung pada definisi dan sumber. Perbedaan antara angka Knight Frank dan JLL untuk Johor merupakan pengingat bahwa angka-angka dalam Tabel 1 perlu dibaca sebagai indikasi orde besaran, bukan ukuran presisi. Beberapa laporan riset pasar juga berada di balik dinding berbayar sehingga tidak dapat diperiksa sepenuhnya.

    Ketiga, isi lengkap Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia–Amerika ditafsirkan berbeda oleh pihak Amerika dan Indonesia. Kajian ini mengutip pembacaan CCIA dan Wantimpres tanpa analisis hukum pasal demi pasal. Karena itu, penilaian tentang batas-batas kebijakan data dan konten lokal dipegang dengan keyakinan sedang. Laporan tentang pertimbangan Malaysia atas cip Ascend pada September 2026 juga belum dikonfirmasi pemerintah Malaysia.

    Keempat, kajian ini tidak didukung wawancara dengan pejabat atau pelaku industri, dan probabilitas skenario merupakan penilaian subjektif. Pembaca, terutama peserta pendidikan tata kelola AI, dianjurkan memperlakukan matriks dan skenario sebagai alat diskusi yang dapat diperbarui. Keduanya bukan prediksi. Kebijakan kendali ekspor Amerika dapat berubah dalam hitungan minggu, dan kecepatan perubahan itu sendiri merupakan bagian dari temuan kajian ini.

    Dengan segala keterbatasan itu, kesimpulan pokok kajian ini tetap jelas. Kedaulatan komputasi bagi Indonesia tidak berarti memiliki semua lapisan tumpukan AI. Kedaulatan itu berarti mampu menentukan di lapisan mana Indonesia bersandar pada pihak lain, dengan syarat apa, dan dengan jalan keluar seperti apa. Bukti 2025–2026 menunjukkan bahwa Indonesia telah melangkah ke dua tumpukan sekaligus tanpa doktrin yang mengikat langkah-langkah itu. Perjanjian dagang dengan Amerika mengunci sebagian alat kebijakan data, WAICO membuka saluran diplomatik dengan Tiongkok, dan investasi swasta sudah menjatuhkan pilihan perangkat keras. Pada saat yang sama, aturan domestik tertinggal di meja tanda tangan.

    Selaraskan di lapisan yang dikunci pihak lain; bangun opsi di lapisan yang masih terbuka.

    Rumusan kedaulatan berlapis menawarkan jalan keluar yang realistis. Di lapisan cip, Indonesia menjalankan penjajaran yang dinegosiasikan. Di lapisan model, Indonesia menjaga keterbukaan yang diawasi. Di lapisan energi, data, talenta, dan aturan, Indonesia berinvestasi agar kelak tidak hanya menjadi lokasi komputasi milik pihak lain. Buku The Beijing Factor in Southeast Asia (2026) menegaskan bahwa kehadiran, pengaruh, dan kendali adalah tiga hal berbeda, dan bahwa ketergantungan ekonomi tidak otomatis melahirkan kepatuhan politik. Pelajaran yang sama berlaku bagi kedua tumpukan. Delapan tahun lalu, edisi Foreign Affairs bertajuk World War Web (2018) memperingatkan bahwa internet akan terbelah menurut garis kekuasaan negara. Kini garis yang sama ditarik melalui pusat data dan jaringan listrik. Selama empat tahun ke depan, Indonesia harus memastikan bahwa garis itu tidak ditarik melewati kepentingannya tanpa persetujuannya.

    ◆

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    Literatur ilmiah

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    Media dan pemberitaan

    Arsip & Pustaka

    Cara Mengutip

    Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. (2026). Kedaulatan Komputasi: Pilihan Strategis Indonesia di antara Tumpukan AI Amerika dan Tiongkok, 2026–2030. Kajian Strategis. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/kedaulatan-komputasi-ai-indonesia/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh; pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy. Meraih PhD Sosiologi dari La Trobe University.

  • Tuan Rumah tanpa Kendali: Kedaulatan Komputasi, Pusat Data, dan Geopolitik Kecerdasan Buatan di Asia Tenggara

    Tuan Rumah tanpa Kendali: Kedaulatan Komputasi, Pusat Data, dan Geopolitik Kecerdasan Buatan di Asia Tenggara

    Bab Buku · Kecerdasan Buatan, Geopolitik & Asia Tenggara

    Tuan Rumah tanpa Kendali:Kedaulatan Komputasi, Pusat Data, dan Geopolitik Kecerdasan Buatan di Asia Tenggara

    Asia Tenggara sedang menjadi salah satu kawasan dengan pembangunan pusat data tercepat di dunia, tetapi hampir seluruh cip, model, dan aturan yang menggerakkannya dikendalikan dari luar kawasan. Bab ini menimbang apa arti “AI berdaulat” bagi negara yang menjadi tuan rumah komputasi tanpa memegang kendalinya, lalu menawarkan jalan kedaulatan tawar yang realistis hingga 2030.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • Bab Buku
    • 24 Oktober 2026
    • ± 32 menit baca
    Tuan Rumah tanpa Kendali: Kedaulatan Komputasi, Pusat Data, dan Geopolitik Kecerdasan Buatan di Asia Tenggara
    Kawasan yang menyediakan tanah, listrik, dan air bagi komputasi dunia belum tentu memegang kunci atas cip, model, dan aturan yang menjalankannya.

    Abstrak

    Bab ini menelaah kedaulatan komputasi di Asia Tenggara pada periode Januari 2025 hingga Oktober 2026, ketika kawasan ini menjadi salah satu tujuan utama investasi pusat data kecerdasan buatan sekaligus medan tarik-menarik kontrol ekspor Amerika Serikat dan tawaran teknologi Tiongkok. Dengan kerangka empat lapis, yakni lapis fisik (tanah, listrik, air), lapis silikon (cip dan rezim ekspornya), lapis yurisdiksi (data, perizinan, dan hukum), serta lapis kognitif (model bahasa, talenta, dan aplikasi), kajian ini membandingkan Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Vietnam dengan empat kasus luar kawasan: negara Teluk, India, Uni Eropa, dan Jepang. Temuan utamanya ialah bahwa kawasan ini memegang daya tawar nyata pada lapis fisik dan yurisdiksi, tetapi nyaris tidak berdaya pada lapis silikon, sehingga kedaulatan penuh atas tumpukan teknologi bukan tujuan yang masuk akal. Kajian ini mengusulkan konsep kedaulatan tawar, yaitu kemampuan mengubah posisi tuan rumah menjadi posisi penawar melalui standar energi dan air, klausul akses komputasi bagi riset domestik, pengadaan kolektif, dan model bahasa terbuka yang dapat dipindahkan antarpenyedia.

    Tesis

    Asia Tenggara tidak akan memiliki tumpukan AI-nya sendiri, tetapi kawasan ini dapat memiliki syarat-syaratnya: tanah, listrik, air, izin, dan bahasa adalah sumber kedaulatan yang selama ini dijual terlalu murah.

    1. DataDokumen resmi, rilis kebijakan, dan laporan lembaga 2024–2026 dari lima negara kawasan dan empat kasus pembanding.
    2. KerangkaEmpat lapis kedaulatan komputasi dan uji daya tawar: substitusi, opsi keluar, dan tangkapan nilai lokal.
    3. ProyeksiEmpat skenario 2026–2030 berprobabilitas, penanda arah, dan rekomendasi berbatas waktu.

    Kata kunci

    • kedaulatan komputasi
    • AI berdaulat
    • pusat data
    • kontrol ekspor cip
    • Johor
    • Batam
    • Sahabat-AI
    • SEA-LION
    • Pax Silica
    • ASEAN
    I

    Ringkasan Eksekutif: Kawasan yang Menjadi Lumbung Komputasi

    Pertanyaan yang diajukan bab ini sederhana dalam rumusan tetapi berat dalam konsekuensi: apa arti kedaulatan atas kecerdasan buatan bagi kawasan yang menjadi tuan rumah komputasi dunia tanpa memegang kendali atas cip, model, dan aturan yang menjalankannya? Asia Tenggara menyediakan tanah, listrik, air, dan stabilitas politik bagi gelombang pusat data yang dibangun untuk melatih dan menjalankan model AI. Pada Oktober 2026, Kementerian Transisi Energi dan Transformasi Air Malaysia melaporkan kepada parlemen bahwa empat puluh lima pusat data telah beroperasi di Semenanjung dengan kapasitas pasokan gabungan 6.041 megawatt, dan kebutuhan listriknya diproyeksikan mencapai 8.391 megawatt pada 2030, dengan Johor sendiri menyerap 4.428 megawatt (Media Selangor, 2026). Thailand mencatat komitmen investasi pusat data senilai 521,2 miliar baht dari dua puluh delapan proyek hanya pada semester pertama 2025 (W.Media, 2025). Indonesia, dengan 196 fasilitas, menargetkan kenaikan kapasitas dari sekitar 600 megawatt menuju 1,65 gigawatt pada akhir 2026 (Tech For Good Institute, 2026). Angka-angka ini menempatkan kawasan sebagai lumbung komputasi, tetapi lumbung tidak sama dengan pemilik panen.

    Jawaban pokok kajian ini dapat dirumuskan dalam satu kalimat: kedaulatan penuh atas tumpukan teknologi AI berada di luar jangkauan setiap negara Asia Tenggara, tetapi kedaulatan tawar, yaitu kemampuan menentukan syarat atas sumber daya yang dibutuhkan pihak lain, sepenuhnya mungkin dan selama ini belum dimanfaatkan. Pada lapis silikon, kawasan ini sepenuhnya bergantung pada rantai pasok cip yang dikendalikan Amerika Serikat dan sekutunya, sementara alternatif Tiongkok membawa risiko sanksi. Pada lapis fisik dan yurisdiksi, kawasan ini justru memegang sesuatu yang langka: lahan berizin, sambungan listrik tegangan tinggi, air pendingin, dan kepastian hukum. Tingkat keyakinan atas penilaian ini tinggi untuk lapis silikon, karena ketergantungannya terdokumentasi dalam rezim kontrol ekspor dan perjanjian dagang, dan sedang untuk lapis fisik, karena daya tawar itu bergantung pada apakah pemerintah kawasan bertindak bersama atau saling bersaing menurunkan syarat.

    Persoalan ini penting secara global karena tiga alasan. Pertama, pusat gravitasi infrastruktur AI sedang bergeser ke yurisdiksi menengah yang menawarkan energi dan ruang, sehingga cara Asia Tenggara mengatur pusat data akan menjadi preseden bagi Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin. Kedua, kawasan ini adalah garis depan perlombaan teknologi Amerika Serikat dan Tiongkok, tempat kebijakan kontrol ekspor diuji, disiasati, dan dinegosiasikan ulang. Ketiga, sebagian besar warga dunia yang belum terlayani AI dalam bahasanya sendiri hidup di kawasan seperti ini; Badan Energi Internasional mencatat bahwa negara berkembang di luar Tiongkok menampung separuh pengguna internet dunia tetapi kurang dari sepuluh persen kapasitas pusat data global (IEA, 2025). Apakah Asia Tenggara hanya menjadi ruang mesin bagi kecerdasan yang dirancang di tempat lain, atau berhasil menukar posisinya dengan akses, pengetahuan, dan suara, akan ikut menentukan apakah tata kelola AI global bersifat multipolar atau hierarkis.

    II

    Kerangka Analitis: Empat Lapis Kedaulatan Komputasi

    Istilah “AI berdaulat” dipopulerkan oleh industri sebelum dirumuskan oleh ilmuwan. Pada Februari 2024, di World Government Summit di Dubai, pimpinan Nvidia Jensen Huang menyatakan bahwa setiap negara perlu membangun infrastruktur AI-nya sendiri dan bahwa produksi kecerdasan nasional “tidak bisa diserahkan kepada orang lain” (Malay Mail, 2024). Rumusan itu menarik bagi pemerintah, tetapi ia juga strategi pasar: setiap negara yang ingin berdaulat adalah pelanggan baru bagi pemasok cip. Karena itu, kajian ini memisahkan kedaulatan sebagai slogan dari kedaulatan sebagai kapasitas yang dapat diukur. Literatur tata kelola komputasi menegaskan bahwa daya komputasi adalah titik kendali yang unik karena dapat dideteksi, dapat dikecualikan, dan dapat dikuantifikasi, serta rantai pasoknya sangat terkonsentrasi (Sastry dkk., 2024). Konsentrasi semacam itu, sebagaimana dijelaskan dalam teori interdependensi yang dipersenjatai, memungkinkan negara yang menguasai simpul jaringan menggunakan simpul itu untuk mengawasi dan menekan pihak lain (Farrell dan Newman, 2019).

    Dari dua tradisi itu, kajian ini menyusun empat lapis kedaulatan komputasi. Lapis fisik meliputi tanah, sambungan listrik, sumber air, dan izin lingkungan; inilah lapis tempat negara tuan rumah memiliki kewenangan paling langsung. Lapis silikon meliputi akselerator, server, dan jaringan berkecepatan tinggi beserta rezim kontrol ekspor yang mengaturnya; di sini kewenangan tuan rumah paling lemah. Lapis yurisdiksi meliputi hukum pelindungan data, kewajiban lokalisasi, hak akses aparat asing, dan aturan pengadaan; lapis ini menentukan siapa yang dapat memerintah data dan beban kerja yang berada di wilayah nasional. Lapis kognitif meliputi model bahasa, korpus, talenta, dan aplikasi publik; lapis ini menentukan apakah komputasi yang ditampung menghasilkan kecerdasan yang memahami bahasa, hukum, dan kebutuhan warga setempat. Pemetaan Lehdonvirta, Wú, dan Hawkins atas wilayah komputasi awan publik menunjukkan bahwa dunia terbelah antara “Compute North” yang menampung komputasi untuk pengembangan model, “Compute South” yang hanya menampung komputasi untuk penerapan, dan “gurun komputasi” yang tidak menampung apa pun (Lehdonvirta dkk., 2024). Pertanyaan bagi Asia Tenggara ialah apakah ledakan pusat data memindahkan kawasan dari Selatan ke Utara komputasi, atau hanya memperbesar fungsi penerapan.

    Untuk menilai kedaulatan tawar pada setiap lapis, kajian ini menggunakan tiga uji. Uji substitusi menanyakan apakah negara dapat mengganti pemasok tanpa kerugian besar. Uji opsi keluar menanyakan apakah negara dapat menghentikan atau memindahkan beban kerja tanpa kehilangan layanan publik yang vital. Uji tangkapan nilai menanyakan seberapa besar nilai tambah, pengetahuan, dan akses komputasi yang tertinggal di dalam negeri dibandingkan dengan yang mengalir keluar. Sebuah lapis dianggap berdaulat secara tawar bila negara lulus setidaknya dua dari tiga uji tersebut.

    Empat Lapis Kedaulatan Komputasi

    1. 01Lapis FisikDaya tawar: tinggiTanah, listrik, air, izin lingkungan; kewenangan tuan rumah paling langsung.
    2. 02Lapis SilikonDaya tawar: rendahAkselerator, server, jaringan, dan rezim kontrol ekspor yang ditetapkan di luar kawasan.
    3. 03Lapis YurisdiksiDaya tawar: sedangPelindungan data, lokalisasi, akses aparat asing, pengadaan publik.
    4. 04Lapis KognitifDaya tawar: sedangModel bahasa, korpus, talenta, dan aplikasi layanan publik.

    Catatan metode perlu disampaikan secara terbuka. Kajian ini menggunakan perbandingan terstruktur dan terfokus atas lima negara Asia Tenggara dan empat kasus pembanding, ditambah penelusuran proses atas keputusan kebijakan utama antara Januari 2025 dan Oktober 2026. Sumber primer meliputi rilis pemerintah, jawaban parlemen, dokumen strategi nasional, dan siaran pers perusahaan; sumber sekunder meliputi literatur ilmiah, laporan lembaga riset, dan pemberitaan yang dapat diverifikasi. Klaim yang hanya bersumber dari laporan anonim ditandai sebagai laporan, bukan fakta. Tingkat keyakinan dinyatakan sebagai tinggi, sedang, atau rendah berdasarkan jumlah sumber independen, kedekatan sumber dengan peristiwa, dan konsistensi antardokumen.

    III

    Peta Ledakan Pusat Data: Johor, Batam–Jakarta, dan Pesisir Timur Thailand

    Geografi pusat data Asia Tenggara dibentuk oleh satu keputusan kebijakan yang sering dilupakan: pembatasan pembangunan pusat data baru di Singapura sejak 2019, yang kemudian dilonggarkan secara selektif. Ketika negara-kota itu menerbitkan Peta Jalan Pusat Data Hijau pada 30 Mei 2024 (IMDA, 2024), tambahan kapasitas yang dibuka hanya sekurang-kurangnya 300 megawatt, dengan syarat efisiensi dan energi hijau yang ketat (Linklaters, 2024). Kelangkaan yang disengaja di Singapura menciptakan limpahan ke tetangga. Johor, yang hanya dipisahkan selat sempit, menjadi penerima utama, disusul Batam di sisi selatan, dan kemudian Jakarta serta Greater Bangkok. Pola ini memperlihatkan bahwa yang terbentuk bukan tiga atau empat pasar nasional yang terpisah, melainkan satu kawasan komputasi lintas batas yang otak komersial dan kontraktualnya tetap berada di Singapura, sementara mesin fisiknya tersebar di wilayah yang lebih murah.

    Malaysia adalah pemenang terbesar gelombang ini sejauh ini. Jawaban parlemen Oktober 2026 yang dikutip di atas menunjukkan bahwa kapasitas pasokan untuk pusat data di Semenanjung sudah melampaui enam gigawatt, dengan Johor diproyeksikan menyerap lebih dari separuh kebutuhan 2030 dan Selangor di posisi kedua dengan 1.481 megawatt (Media Selangor, 2026). Perusahaan teknologi Amerika memperluas operasinya di Malaysia secara signifikan, dan negara itu kini dipandang sebagai simpul pusat data AI terdepan di ASEAN (W.Media, 2025a). Thailand bergerak dengan pendekatan insentif bersyarat: Dewan Investasi Thailand menyetujui enam proyek pusat data Tier 3 dengan beban TI gabungan sekitar 740 megawatt pada Mei–Juni 2025, sebagian besar di Rayong dan Chonburi, dan merevisi kriteria sehingga pembebasan pajak penghasilan badan delapan tahun hanya diberikan kepada proyek yang memenuhi standar efektivitas penggunaan daya dan menawarkan komputasi berbasis GPU (W.Media, 2025b). Syarat terakhir ini penting secara analitis karena merupakan salah satu contoh awal negara kawasan yang mengikat insentif fiskal pada kontribusi terhadap kapasitas komputasi AI, bukan sekadar pada ruang rak.

    Indonesia berada pada posisi yang lebih ambigu. Kawasan Nongsa di Batam menjadi simpul utama, dan pemerintah mulai menimbang wilayah Batam–Bintan–Karimun ketika Nongsa mendekati batas kapasitasnya, dengan insentif berupa libur pajak, perizinan yang disederhanakan, dan pembebasan bea masuk (Tech For Good Institute, 2026). Di Jakarta, penyedia awan global telah membuka wilayah komputasi baru; Microsoft, misalnya, mengumumkan investasi 1,7 miliar dolar AS untuk awan dan AI di Indonesia pada April 2024 (Al Jazeera, 2024) dan meresmikan wilayah awan Indonesia Central pada Mei 2025 (Bisnis.com, 2025). Namun Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria sendiri mengakui pada Desember 2025 bahwa infrastruktur AI nasional masih belum memadai, terutama di hulu, dan ia mencontohkan pabrik semikonduktor di Batam yang harus mengimpor kawat emas dari Jepang sementara nikel dan pasir silika dalam negeri belum diolah (Bisnis.com, 2025).

    Penilaian kajian ini atas lapis fisik ialah bahwa kawasan sedang menjual komoditas langka dengan harga pasar biasa. Investor membutuhkan kombinasi lahan, listrik stabil, air, kabel laut, dan kepastian hukum yang hanya tersedia di segelintir lokasi di dunia, tetapi pemerintah kawasan bersaing satu sama lain dengan menurunkan syarat. Keyakinan atas penilaian ini sedang hingga tinggi: data kapasitas dan insentif terdokumentasi dengan baik, tetapi nilai tawar yang hilang sulit dihitung secara presisi karena kontrak antara pemerintah daerah dan operator jarang dipublikasikan.

    IV

    Listrik dan Air: Batas Fisik Kedaulatan Digital

    Kecerdasan buatan sering dibicarakan sebagai sesuatu yang tanpa bobot, padahal ia adalah industri berat yang menyerap listrik dan air dalam skala yang sebanding dengan kota. Badan Energi Internasional memperkirakan konsumsi listrik pusat data global sebesar 415 terawatt-jam pada 2024, atau sekitar 1,5 persen konsumsi listrik dunia, dan memproyeksikan angka itu lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 945 terawatt-jam pada 2030; satu pusat data yang berfokus pada AI dapat menggunakan listrik setara seratus ribu rumah tangga, sementara yang terbesar yang sedang dibangun akan mengonsumsi sekitar dua puluh kali lipatnya (IEA, 2025). Bagi kawasan yang jaringan listriknya masih bergantung pada batu bara dan gas, dan yang target transisi energinya sudah dinegosiasikan dengan donor internasional, angka-angka itu bukan statistik abstrak melainkan pertanyaan tentang siapa yang mendapat prioritas ketika pasokan terbatas.

    Malaysia adalah laboratorium paling jelas dari ketegangan ini. Proyeksi kebutuhan air pusat data di Selangor dan Johor mencapai 389,04 juta liter per hari pada 2030, padahal konsumsi aktual yang dilaporkan saat ini sekitar 63,9 juta liter per hari (Media Selangor, 2026). Pemerintah federal memberlakukan tarif tegangan ultra-tinggi sejak 1 Juli 2025, menaikkan biaya beban tersambung untuk mencegah kapasitas yang dipesan tetapi tidak dipakai, dan mewajibkan sekurang-kurangnya tiga puluh persen energi pusat data berasal dari sumber terbarukan. Pada akhir November 2025, Pemerintah Negeri Johor mengumumkan tidak akan lagi menyetujui pusat data Tier 1 dan Tier 2 karena dinilai boros air, serta mensyaratkan air daur ulang dan lokasi yang jauh dari permukiman (W.Media, 2025c). Pada Juli 2026, laporan lapangan mencatat bahwa operator di Ulu Tiram dan Gelang Patah telah membangun instalasi pengolahan air limbah sendiri berkapasitas jutaan liter per hari, bahwa Dewan Rakyat diberi tahu pusat data baru hanya akan disetujui bila pasokan energi dan air mencukupi, dan bahwa protes warga terhadap pusat data di Gelang Patah telah terjadi pada Februari 2026 (The Star, 2026).

    Kecerdasan buatan sering dibicarakan sebagai sesuatu yang tanpa bobot, padahal ia adalah industri berat yang menyerap listrik dan air dalam skala sebuah kota.

    Episode Johor mengandung pelajaran yang melampaui Malaysia. Pertama, kendala fisik adalah sumber daya tawar, bukan sekadar hambatan; begitu negara bagian mulai memilih jenis pusat data yang diizinkan, ia sesungguhnya sedang menegosiasikan ulang syarat masuk. Kedua, legitimasi sosial adalah bagian dari lapis fisik. Protes warga, keluhan tentang air, dan pertanyaan parlemen menunjukkan bahwa izin sosial untuk menampung komputasi dunia dapat ditarik bila manfaatnya tidak terasa di tingkat lokal. Ketiga, standar efisiensi yang tinggi cenderung menguntungkan operator besar yang mampu membangun sistem pendingin canggih, sehingga regulasi lingkungan dapat sekaligus berfungsi sebagai kebijakan industri yang menyaring pemain.

    Bagi Indonesia dan Thailand, pelajaran ini datang lebih awal dari krisisnya. Kedua negara masih dapat merancang syarat air dan energi sebelum lonjakan permintaan menekan jaringan, termasuk mewajibkan pembangkit terbarukan tambahan, bukan sekadar sertifikat, serta mengaitkan sambungan listrik prioritas dengan komitmen akses komputasi bagi lembaga riset nasional. Penilaian kajian ini, dengan tingkat keyakinan sedang, ialah bahwa negara yang lebih dahulu menetapkan standar fisik yang tegas tidak akan kehilangan investasi, melainkan akan menyaring investasi menuju operator dengan horizon jangka panjang, sebagaimana diperlihatkan oleh Singapura sejak 2019.

    V

    Rezim Cip: Dari Aturan Difusi ke Diplomasi Tumpukan Penuh

    Jika lapis fisik adalah wilayah tempat kawasan memegang kartu, lapis silikon adalah wilayah tempat kartu itu dibagikan oleh pihak lain. Pada 13 Januari 2025, pemerintahan Biden menerbitkan Kerangka Difusi Kecerdasan Buatan yang membagi dunia ke dalam tiga tingkatan akses terhadap cip AI tercanggih, dengan sebagian besar negara Asia Tenggara di luar lingkar sekutu terdekat. Aturan itu dijadwalkan berlaku 15 Mei 2025, tetapi pada 13 Mei Departemen Perdagangan memulai pencabutannya, sekaligus menerbitkan panduan bahwa penggunaan cip Huawei Ascend 910B, 910C, dan 910D di mana pun berisiko melanggar kontrol ekspor Amerika, serta menambahkan sebelas tanda bahaya baru untuk mencegah pengalihan cip (Kirkland & Ellis, 2025). Pencabutan itu tidak berarti pelonggaran bagi kawasan; ia menggantikan sistem tingkatan yang dapat diprediksi dengan rezim kepatuhan berbasis kasus yang lebih bergantung pada hubungan bilateral.

    Kawasan ini segera merasakan akibatnya. Pada 27 Februari 2025, Singapura mendakwa tiga orang dalam perkara penipuan terkait server yang diduga berisi cip Nvidia; jaksa menyebut nilai transaksi sekitar 390 juta dolar AS dan menyatakan server itu dipindahkan ke Malaysia, sementara tujuan akhirnya tidak jelas (TechCrunch, 2025). Laporan yang sama mencatat bahwa Singapura menyumbang delapan belas persen pendapatan Nvidia dalam tahun fiskal yang berakhir Januari 2025, padahal pengiriman fisik ke Singapura kurang dari dua persen, sebuah selisih yang mencerminkan peran negara-kota itu sebagai pusat penagihan dan kontrak (Nvidia, 2025). Pada 14 Juli 2025, Malaysia mewajibkan Izin Dagang Strategis untuk setiap ekspor, transhipment, dan transit cip AI berkinerja tinggi asal Amerika dengan dasar ketentuan sapu jagat Undang-Undang Perdagangan Strategis 2010, sambil menegaskan tidak ada bukti pengiriman ilegal (W.Media, 2025a).

    Langkah berikutnya lebih struktural. Pada 23 Juli 2025, Gedung Putih merilis Rencana Aksi AI Amerika beserta Perintah Eksekutif 14320 tentang promosi ekspor tumpukan teknologi AI Amerika, yang mengundang konsorsium industri mengajukan paket ekspor “tumpukan penuh” berupa perangkat keras, model, dan aplikasi untuk negara atau kawasan tertentu, dengan dukungan pembiayaan dan diplomasi pemerintah (Jones Day, 2025). Pada 26 Oktober 2025, Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Amerika–Malaysia memuat komitmen Malaysia untuk menyelaraskan diri dengan seluruh kontrol ekspor unilateral Amerika yang berlaku serta mengadopsi pembatasan setara bila Amerika memberlakukan pembatasan impor atas negara ketiga dengan alasan keamanan; perjanjian dengan Kamboja pada tanggal yang sama memuat penyelarasan berbasis kasus (Mondaq, 2025). Pada Desember 2025, Washington juga mengumumkan bahwa cip H200 dapat dijual kepada pelanggan yang disetujui di Tiongkok dengan potongan dua puluh lima persen bagi pemerintah Amerika, sementara generasi Blackwell tetap dilarang (The Register, 2025).

    Akhir 2025 juga memperkenalkan Deklarasi Pax Silica, lingkar mitra tepercaya Amerika dalam rantai pasok AI, dengan Singapura sebagai satu-satunya penanda tangan Asia Tenggara bersama Jepang, Korea Selatan, Australia, Inggris, dan Israel (Fortune, 2025); pada pertengahan 2026, Filipina dilaporkan mengejar kesepakatan kerangka serupa (The Star, 2026b). Penilaian kajian ini, dengan keyakinan tinggi, ialah bahwa rezim cip telah bergeser dari aturan teknis menjadi instrumen tata susunan aliansi: akses terhadap silikon kini ditukar dengan penyelarasan kebijakan, dan kawasan terbelah menjadi lingkar dalam, lingkar tengah, dan lingkar luar.

    VI

    Bayangan Tiongkok: Ascend, Qwen, dan Pilihan yang Tidak Biner

    Narasi persaingan Amerika–Tiongkok sering menggambarkan pilihan kawasan sebagai biner, padahal praktiknya berlapis. Episode Malaysia pada Mei 2025 menunjukkan betapa tipisnya ruang gerak di lapis silikon. Sekitar 20 Mei 2025, pernyataan Wakil Menteri Komunikasi Teo Nie Ching tentang rencana sistem AI nasional berbasis server Huawei Ascend, dengan target tiga ribu server hingga 2026, ditarik dalam waktu sehari tanpa penjelasan, sementara Huawei menyatakan belum ada cip Ascend yang terjual di Malaysia (Malay Mail, 2025). Lebih dari setahun kemudian, pada September 2026, Bloomberg dan Free Malaysia Today melaporkan berdasarkan sumber anonim bahwa Malaysia kembali menimbang perangkat keras Huawei untuk proyek AI berdaulat senilai dua miliar ringgit yang dijalankan Telekom Malaysia, dengan alasan menjaga data pemerintah, militer, dan intelijen di bawah yurisdiksi nasional dan kekhawatiran terhadap CLOUD Act Amerika, sambil mempertimbangkan tender terpisah yang memungkinkan Nvidia dan AMD bersaing (SoyaCincau, 2026). Laporan ini belum terkonfirmasi, dan kajian ini memperlakukannya dengan keyakinan rendah, tetapi logikanya penting: alasan yang dikemukakan bukan harga, melainkan yurisdiksi.

    Di lapis kognitif, pengaruh Tiongkok justru lebih dalam dan kurang diperdebatkan. Pada 25 November 2025, AI Singapore meluncurkan Qwen-SEA-LION-v4, versi terbaru model bahasa regionalnya, yang dibangun di atas model dasar Qwen3-32B dari Alibaba dan dilatih lanjut dengan lebih dari seratus miliar token bahasa Asia Tenggara (eCommerceNews Asia, 2025). Dengan kata lain, negara yang menjadi satu-satunya penanda tangan Pax Silica di kawasan menggunakan fondasi model terbuka dari Tiongkok untuk proyek bahasa regionalnya. Paradoks ini bukan inkonsistensi melainkan rasionalitas: model terbuka yang efisien dan berlisensi longgar menurunkan biaya pengembangan secara drastis. Publikasi DeepSeek-R1 pada Januari 2025, yang menunjukkan bahwa kemampuan penalaran dapat ditingkatkan terutama melalui pembelajaran penguatan (DeepSeek-AI, 2025), memperkuat keyakinan banyak pengembang kawasan bahwa kecerdasan yang kompetitif tidak selalu memerlukan akses terhadap cip tercanggih.

    Implikasinya bagi kedaulatan bersifat dua arah. Model terbuka, dari mana pun asalnya, memperluas opsi keluar karena dapat dijalankan di perangkat keras milik sendiri dan dipindahkan antarpenyedia awan; dalam pengertian ini, ia lulus uji substitusi lebih baik daripada layanan model tertutup. Namun model dasar juga membawa nilai, sensor, dan pilihan kurasi data dari pembuatnya, sehingga ketergantungan dapat berpindah dari lapis silikon ke lapis kognitif tanpa disadari. Kawasan ini, dengan demikian, tidak sedang memilih antara Amerika dan Tiongkok, melainkan menyusun portofolio ketergantungan: silikon dan awan dari Amerika, sebagian fondasi model dari Tiongkok, dan lapis bahasa dari kerja sama regional.

    Penilaian kajian ini, dengan keyakinan sedang, ialah bahwa portofolio ketergantungan semacam itu lebih tangguh daripada keberpihakan tunggal, asalkan dikelola dengan sadar. Risikonya terletak pada titik ketika tekanan kepatuhan Amerika, misalnya melalui klausul penyelarasan dalam perjanjian dagang, mulai menjangkau lapis model dan bukan hanya lapis cip. Bila itu terjadi, ruang yang kini dimanfaatkan oleh proyek seperti SEA-LION dapat menyempit, dan kawasan akan dipaksa memilih di lapis yang selama ini menjadi ruang bernapasnya.

    VII

    Strategi Nasional dan Model Bahasa Berdaulat

    Setiap negara utama kawasan kini memiliki strategi AI, tetapi strategi itu berbeda dalam satu hal mendasar: apakah komputasi diperlakukan sebagai infrastruktur publik atau sebagai daya tarik investasi. Singapura meluncurkan Strategi AI Nasional 2.0 pada 4 Desember 2023, menargetkan peningkatan jumlah praktisi AI menjadi sekitar lima belas ribu orang, menarik pusat keunggulan AI perusahaan, dan berkomitmen memastikan ketersediaan daya komputasi yang memadai bagi riset dan industri, meskipun tanpa angka kuantitatif (MDDI, 2023). Malaysia membentuk Kantor AI Nasional pada 12 Desember 2024 sebagai lembaga pusat untuk perencanaan strategis, riset, dan pengawasan regulasi, dengan tujuh keluaran tahun pertama termasuk kode etik AI, kerangka regulasi, dan rencana aksi teknologi AI hingga 2030 (Malay Mail, 2024b). Vietnam melangkah paling jauh secara legislatif: pada 10 Desember 2025, Majelis Nasional mengesahkan undang-undang AI pertama negara itu dengan 429 dari 434 suara, berlaku 1 Maret 2026, yang mengatur sistem AI berdasarkan tingkat risiko dan secara eksplisit mengizinkan investasi negara dalam pusat komputasi AI nasional serta sistem data terbuka terkendali untuk menurunkan biaya komputasi, disertai dana pengembangan AI nasional dan mekanisme voucer bagi dunia usaha (VnEconomy, 2025).

    Indonesia memperlihatkan jarak antara ambisi dan penyelesaian. Peta jalan AI nasional yang dirancang Komdigi membagi strategi ke dalam tiga horizon, dengan rencana jangka pendek 2025–2027 mencakup tata kelola ekosistem, pelatihan seratus ribu talenta AI per tahun, dan pembangunan infrastruktur pusat data berdaulat (Bisnis.com, 2025). Buku putih yang dikonsultasikan pada Agustus 2025 mengusulkan dana AI berdaulat yang dikelola Danantara pada jendela 2027–2029, tanpa angka besaran dana (W.Media, 2025d). Rancangan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan AI 2026–2029 menetapkan sepuluh sektor strategis dan program cepat seperti penapisan tuberkulosis serta pemetaan risiko tengkes, sementara rancangan Perpres Etika AI menetapkan tiga tingkat risiko dari rendah hingga tidak dapat diterima (Katadata, 2026). Namun hingga Agustus 2026 kedua rancangan itu masih menunggu penetapan Presiden, dengan pemerintah menyebutnya sebagai uji coba menuju undang-undang AI (Warta Alor, 2026), dan analis mengingatkan bahwa tanpa otoritas pelindungan data yang independen, aturan etika dapat berubah menjadi alat kontrol negara (Hermawan, 2026).

    Di lapis kognitif, dua proyek menjadi rujukan kawasan. Sahabat-AI, yang diluncurkan Indosat Ooredoo Hutchison dan GoTo pada 14 November 2024 dengan model berukuran delapan dan sembilan miliar parameter untuk bahasa Indonesia dan bahasa daerah, dilatih dengan platform Nvidia, didukung AI Singapore, dan dikembangkan lebih lanjut di awan GPU Merdeka milik Indosat; peluncurannya dibingkai secara eksplisit sebagai langkah memajukan kedaulatan digital Indonesia (GoTo, 2024). SEA-LION dari Singapura berfungsi sebagai fondasi regional yang dipakai lintas negara. Kedua proyek ini menunjukkan bahwa kedaulatan kognitif di kawasan bersifat hibrida: model dasarnya impor, perangkat kerasnya impor, tetapi korpus bahasa, evaluasi, dan penerapannya lokal.

    Penilaian kajian ini atas strategi nasional ialah bahwa kawasan lebih maju dalam merumuskan etika dan menarik investasi daripada dalam menjamin akses komputasi bagi publik. Hanya Vietnam yang secara hukum menempatkan pusat komputasi nasional sebagai infrastruktur negara, dan hanya Thailand yang mengikat insentif fiskal pada ketersediaan GPU. Keyakinan atas penilaian ini sedang, karena beberapa program akses komputasi mungkin berjalan melalui kerja sama universitas yang tidak terdokumentasi dalam sumber publik.

    VIII

    Perbandingan Internasional: Teluk, India, Eropa, dan Jepang

    Empat kasus luar kawasan memperlihatkan empat jalan menuju kedaulatan komputasi, masing-masing dengan harga yang berbeda. Jalan Teluk adalah kedaulatan melalui modal dan keberpihakan. Pada Mei 2025, Uni Emirat Arab mengumumkan rencana Kampus AI UEA–AS berkapasitas lima gigawatt, dengan klaster Stargate UAE satu gigawatt yang dibangun G42 bersama OpenAI, Oracle, Cisco, Nvidia, dan SoftBank; pada 19 November 2025, Departemen Perdagangan Amerika menyetujui G42 dan perusahaan Saudi Humain masing-masing membeli setara hingga 35.000 cip Blackwell GB300 dengan syarat keamanan dan pelaporan yang ketat (The National, 2025). Model ini membuktikan bahwa negara menengah dapat memperoleh komputasi kelas dunia, tetapi dengan menukar kebebasan memilih pemasok dan menerima pengawasan pihak pengekspor atas penggunaannya.

    Jalan India adalah kedaulatan melalui subsidi publik dan skala pasar. Misi IndiaAI yang diluncurkan Maret 2024 dengan anggaran lebih dari 10.300 crore rupee menargetkan 38.000 GPU dalam lima tahun dan menyediakan akses GPU kelas atas dengan harga bersubsidi sekitar 65 rupee per jam, serta mendukung model fondasi multibahasa seperti BharatGen (The Statesman, 2025). Pelajaran utamanya bagi Asia Tenggara ialah bahwa komputasi dapat diperlakukan sebagai utilitas publik yang disewakan murah kepada perusahaan rintisan dan peneliti, alih-alih sekadar sebagai properti operator swasta. Jalan Eropa adalah kedaulatan melalui pengumpulan sumber daya. Pada 30 Juli 2026, Uni Eropa membuka seruan untuk hingga tujuh gigafactory AI dengan pendanaan publik hingga sepuluh miliar euro yang diharapkan memobilisasi sedikitnya dua puluh miliar euro investasi swasta, melengkapi sembilan belas pabrik AI yang sudah ada, dengan penutupan seruan pada 12 November 2026 (ERA Portal Austria, 2026).

    Jalan Jepang adalah kedaulatan melalui industri hulu. Pada 12 November 2024, pemerintahan Ishiba menjanjikan dukungan lebih dari sepuluh triliun yen hingga tahun fiskal 2030 bagi semikonduktor dan AI, termasuk bagi Rapidus yang berupaya memproduksi cip generasi berikutnya (ICIS, 2024). Namun bahkan Jepang tidak mengklaim kedaulatan penuh. Analisis Brookings pada September 2026 menyimpulkan bahwa kedaulatan AI tumpukan penuh secara struktural mustahil bagi hampir semua negara, bahwa kekuatan data, robotika, dan aplikasi Jepang menciptakan daya ungkit tetapi bukan kedaulatan komputasi, dan bahwa negara menengah memerlukan cukup kapasitas, portabilitas, pilihan, dan daya tawar untuk mencegah ketergantungan berubah menjadi subordinasi (Rediker, 2026).

    Dibandingkan dengan keempat kasus itu, Asia Tenggara memiliki keunggulan fisik yang tidak dimiliki Eropa dan Jepang, yaitu ruang dan potensi energi, tetapi tidak memiliki modal terkonsentrasi seperti Teluk, pasar tunggal sebesar India, maupun industri hulu seperti Jepang. Kombinasi yang paling relevan bagi kawasan, menurut penilaian kajian ini dengan keyakinan sedang, ialah gabungan model India dan Eropa: komputasi sebagai utilitas publik yang disubsidi di tingkat nasional, ditambah pengumpulan sumber daya dan pengadaan bersama di tingkat regional, sambil memanfaatkan keunggulan fisik sebagai alat tawar terhadap operator global.

    IX

    Argumen Tandingan: Apakah Kedaulatan Komputasi Hanya Ilusi Mahal?

    Argumen tandingan terkuat terhadap tesis kajian ini layak dirumuskan dalam bentuk terbaiknya. Menurut pandangan ini, kedaulatan komputasi adalah ilusi mahal yang akan merugikan negara berkembang. Pasar komputasi awan global sangat efisien; perusahaan rintisan dan universitas di Jakarta atau Hanoi dapat menyewa GPU dari penyedia global dengan harga yang terus turun, sementara pembangunan pusat komputasi nasional akan menghasilkan aset yang cepat usang karena generasi cip berganti setiap satu hingga dua tahun. Syarat air, energi, dan akses komputasi yang ketat hanya akan mengusir investasi ke negara tetangga yang lebih lunak, sehingga kawasan kehilangan lapangan kerja, pajak, dan transfer keterampilan. Lebih jauh, upaya menyusun portofolio ketergantungan dengan melibatkan perangkat keras atau model Tiongkok mengundang sanksi sekunder yang dapat memutus akses terhadap seluruh ekosistem Amerika. Bagi pandangan ini, kebijakan terbaik adalah menjadi tuan rumah yang ramah, mengatur di lapis aplikasi, dan membiarkan pasar menyediakan komputasi.

    Argumen ini mengandung kebenaran penting, dan kajian ini menerimanya sebagian. Benar bahwa membangun pabrik cip atau pusat komputasi nasional berskala besar tanpa permintaan yang jelas adalah pemborosan, dan benar bahwa sanksi sekunder adalah risiko nyata, sebagaimana diperlihatkan oleh penarikan cepat pengumuman Huawei di Malaysia pada Mei 2025. Namun argumen ini keliru dalam tiga hal. Pertama, ia mengandaikan pasar komputasi bersifat netral, padahal akses terhadap cip tercanggih kini ditentukan oleh keputusan politik di Washington, sebagaimana terlihat dalam persetujuan berbasis kasus untuk G42 dan Humain serta klausul penyelarasan dalam perjanjian dagang. Komputasi yang dapat disewa hari ini dapat menjadi komputasi yang ditolak besok. Kedua, ia mengabaikan bahwa daya tawar fisik bersifat kolektif: syarat ketat hanya mengusir investasi bila negara tetangga menawarkan syarat lebih lunak, sehingga jawabannya adalah koordinasi regional, bukan penurunan standar. Ketiga, ia meremehkan legitimasi sosial; protes di Johor menunjukkan bahwa tuan rumah yang terlalu ramah dapat kehilangan izin sosial, yang pada akhirnya justru merugikan investor.

    Dengan demikian, kajian ini mempertahankan tesisnya dalam bentuk yang lebih sempit: kedaulatan yang dicari bukan kepemilikan tumpukan teknologi, melainkan kemampuan menetapkan syarat dan mempertahankan opsi keluar. Pendekatan ini tidak menuntut pembangunan pabrik cip, tidak menuntut keberpihakan pada Tiongkok, dan tidak menuntut penolakan investasi asing. Ia hanya menuntut agar sumber daya fisik yang langka tidak diberikan tanpa imbalan berupa akses, pengetahuan, dan portabilitas.

    X

    Skenario 2026–2030 dan Penanda Arah

    Pandangan bahwa teknologi telah menjadi mata uang utama kekuasaan bukan hal baru. Edisi Maret/April 2023 majalah Foreign Affairs bertajuk Innovation Power: How Technology Will Reshape Geopolitics menempatkan inovasi sebagai penentu keseimbangan kekuatan global, dan analisis berjudul Kekuatan Inovasi: Mengapa Teknologi Menjadi Senjata Baru Geopolitik Dunia membaca AI, komputasi awan, dan semikonduktor sebagai sumber kekuasaan geopolitik baru. Persoalan yang belum banyak dibahas dalam literatur itu ialah posisi kawasan yang menampung infrastruktur kekuatan inovasi tanpa memilikinya. Berdasarkan kerangka empat lapis dan bukti hingga Oktober 2026, kajian ini menyusun empat skenario bagi Asia Tenggara hingga 2030. Probabilitasnya merupakan penilaian analitis yang dapat berubah seiring penanda arah yang diuraikan di bawah.

    Empat Skenario Kedaulatan Komputasi Asia Tenggara 2026–2030 (penilaian penulis, 24 Oktober 2026)

    1. ATuan rumah bertingkat45%
    2. BKawasan terbelah dua tumpukan25%
    3. CKedaulatan tawar kolektif15%
    4. DKemacetan fisik15%

    Probabilitas bersifat subjektif dan berjumlah 100 persen; disusun dari kerangka empat lapis dan bukti kebijakan Januari 2025–Oktober 2026.

    Skenario A, tuan rumah bertingkat, adalah kelanjutan arah saat ini dan paling mungkin terjadi. Kawasan terus menampung pertumbuhan pusat data, tetapi akses terhadap cip tercanggih bertingkat sesuai kedekatan politik dengan Washington: Singapura dan mungkin Filipina di lingkar dalam, Malaysia dan Vietnam di lingkar tengah yang terikat klausul penyelarasan, sementara Indonesia dan Thailand bernegosiasi kasus per kasus. Komputasi berkembang, tetapi fungsinya tetap dominan untuk penerapan, bukan pelatihan model. Skenario B, kawasan terbelah dua tumpukan, terjadi bila satu atau dua negara, misalnya Malaysia melalui proyek AI berdaulat atau negara lain di bawah tekanan keamanan data, mengadopsi perangkat keras Tiongkok untuk beban kerja pemerintah, sehingga kawasan memiliki dua standar teknis dan dua rezim kepatuhan yang saling mencurigai. Skenario C, kedaulatan tawar kolektif, terjadi bila ASEAN atau koalisi beberapa negara menyepakati standar minimum bersama untuk energi, air, dan akses komputasi riset, serta pengadaan bersama untuk model bahasa terbuka. Skenario D, kemacetan fisik, terjadi bila keterbatasan listrik, air, dan penolakan warga memperlambat pembangunan, sehingga investasi bergeser ke India, Timur Tengah, atau Australia.

    Penanda arah untuk masing-masing skenario dapat diamati dalam dua belas hingga delapan belas bulan ke depan. Penanda Skenario A meliputi bertambahnya negara kawasan dalam Pax Silica, terbitnya paket ekspor tumpukan penuh Amerika untuk negara Asia Tenggara, dan berlanjutnya persetujuan cip berbasis kasus. Penanda Skenario B meliputi konfirmasi resmi pengadaan Huawei Ascend untuk proyek pemerintah Malaysia, munculnya pusat data pemerintah berbasis perangkat keras Tiongkok di negara lain, dan tanggapan Amerika berupa penambahan entitas kawasan ke daftar pembatasan. Penanda Skenario C meliputi masuknya standar pusat data hijau dalam agenda menteri digital ASEAN, perjanjian pengadaan bersama, dan klausul akses komputasi riset dalam izin pusat data di lebih dari satu negara. Penanda Skenario D meliputi moratorium baru di tingkat negara bagian atau provinsi, penundaan sambungan jaringan listrik, dan meningkatnya protes lingkungan seperti yang terjadi di Gelang Patah.

    XI

    Rekomendasi bagi Aktor Kawasan dan Internasional

    Bagi Pemerintah Indonesia, langkah paling mendesak ialah menetapkan kedua Peraturan Presiden tentang peta jalan dan etika AI sebelum akhir 2026, disertai pembentukan otoritas pelindungan data pribadi yang independen sebagaimana diamanatkan undang-undang, agar aturan etika tidak menjadi alat kontrol yang selektif. Dalam enam bulan berikutnya, Komdigi bersama Kementerian Investasi dan BKPM sebaiknya menambahkan syarat baru dalam izin pusat data berskala besar: sebagian kecil kapasitas GPU, misalnya pada kisaran lima persen, dialokasikan dengan harga biaya bagi universitas dan lembaga riset nasional, mengikuti logika subsidi komputasi Misi IndiaAI. Danantara, sebelum jendela 2027–2029 yang diusulkan dalam buku putih, perlu menerbitkan kerangka investasi yang menjelaskan apakah dana AI berdaulat akan membeli kapasitas, membiayai model bahasa terbuka, atau mengambil saham operator, karena ketiganya memiliki implikasi kedaulatan yang berbeda.

    Bagi Pemerintah Malaysia dan Pemerintah Negeri Johor, rekomendasinya ialah mengubah syarat air dan energi yang sudah ada menjadi paket tawar yang eksplisit pada 2027: prioritas sambungan listrik dan izin air diberikan kepada operator yang menyediakan akses komputasi bagi peneliti dan perusahaan rintisan lokal serta pelatihan teknisi. Dalam urusan proyek AI berdaulat, Kuala Lumpur sebaiknya menjalankan tender terbuka yang membandingkan biaya, keamanan, dan risiko sanksi secara transparan di hadapan parlemen, sehingga keputusan apa pun, baik memilih pemasok Amerika maupun Tiongkok, memiliki legitimasi domestik. Bagi Singapura, kedudukan di lingkar dalam Pax Silica memberikan tanggung jawab regional: hingga 2028, AI Singapore dapat memperluas SEA-LION menjadi infrastruktur bersama dengan tata kelola multinegara, termasuk evaluasi bias dan keamanan atas model dasar yang digunakan, sehingga ketergantungan pada fondasi model mana pun dapat diaudit.

    Bagi ASEAN, khususnya pertemuan menteri digital pada 2027, kajian ini merekomendasikan tiga keputusan: standar minimum bersama untuk efisiensi energi dan penggunaan air pusat data agar negara anggota tidak berlomba menurunkan syarat; mekanisme pengadaan bersama untuk lisensi model, layanan evaluasi, dan kapasitas komputasi riset; serta forum kepatuhan kontrol ekspor regional yang memungkinkan negara anggota bernegosiasi sebagai kelompok, bukan satu per satu. Bagi Vietnam dan Thailand, prioritasnya ialah mengoperasionalkan pusat komputasi nasional dan insentif berbasis GPU dengan laporan pemanfaatan yang dipublikasikan setiap tahun mulai 2027.

    Bagi aktor internasional, rekomendasinya bersifat timbal balik. Pemerintah Amerika Serikat, melalui Departemen Perdagangan dan program ekspor AI-nya, sebaiknya menawarkan kepada mitra Asia Tenggara jalur lisensi yang dapat diprediksi dan dipublikasikan, bukan semata persetujuan berbasis kasus, karena ketidakpastian mendorong kawasan mencari alternatif. Pemerintah Tiongkok dan penyedia model terbuka Tiongkok sebaiknya mempublikasikan dokumentasi data pelatihan dan kebijakan penyaringan konten agar model dasarnya dapat diaudit oleh pengguna kawasan. Uni Eropa, Jepang, dan India dapat menawarkan kemitraan komputasi riset dan pertukaran talenta yang memberikan opsi ketiga di luar dua kutub. Lembaga multilateral seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia sebaiknya memasukkan kebutuhan listrik pusat data ke dalam perencanaan transisi energi kawasan hingga 2030, agar komputasi tidak bersaing dengan elektrifikasi rumah tangga.

    XII

    Keterbatasan dan Kesimpulan: Dari Tuan Rumah ke Penawar

    Kajian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dinyatakan. Pertama, data kapasitas pusat data di kawasan berasal dari sumber yang tidak seragam: jawaban parlemen Malaysia, data persetujuan investasi Thailand, dan laporan lembaga riset tentang Indonesia, sehingga perbandingan langsung antarnegara harus dibaca dengan hati-hati. Kedua, kontrak antara pemerintah dan operator pusat data jarang dipublikasikan, sehingga penilaian tentang nilai tawar yang hilang bersandar pada bukti tidak langsung. Ketiga, beberapa peristiwa penting, terutama laporan September 2026 tentang pertimbangan Malaysia atas perangkat keras Huawei, bersumber dari laporan anonim yang belum terkonfirmasi. Keempat, kebijakan kontrol ekspor Amerika berubah cepat, sehingga analisis lapis silikon dapat usang dalam hitungan bulan. Kelima, kajian ini tidak mengukur secara kuantitatif kualitas model bahasa kawasan dibandingkan model global, dan tidak membahas Filipina, Kamboja, Laos, Myanmar, serta Brunei secara mendalam.

    Kesimpulan kajian ini dapat dipadatkan dalam satu gagasan. Asia Tenggara sedang menjadi tuan rumah bagi salah satu infrastruktur paling strategis abad ini, tetapi posisi tuan rumah tidak otomatis memberikan kendali. Kendali atas cip berada di luar kawasan dan akan tetap demikian dalam horizon yang dapat diperkirakan. Namun kendali atas tanah, listrik, air, izin, data, dan bahasa berada di dalam kawasan, dan selama ini sumber daya itu diberikan dengan syarat yang terlalu ringan karena negara-negara kawasan saling bersaing. Paparan tahun 2026 berjudul Wacana Kontemporer dalam Studi Islam: Peradaban, Otoritas, dan Kesadaran di Hadapan Kecerdasan Buatan mengingatkan bahwa AI pada akhirnya menyangkut otoritas pengetahuan dan kesadaran peradaban, bukan hanya mesin; dalam bahasa kajian ini, lapis kognitif adalah tempat kedaulatan paling bermakna bagi masyarakat yang ingin mesin memahami bahasa, hukum, dan nilai mereka sendiri.

    Peralihan dari tuan rumah menjadi penawar tidak memerlukan pabrik cip atau keberpihakan geopolitik yang dramatis. Ia memerlukan tiga hal yang lebih sederhana tetapi lebih sulit secara politik: kesediaan menetapkan syarat fisik yang tegas, kemampuan bertindak bersama di tingkat regional, dan komitmen memperlakukan sebagian komputasi sebagai barang publik bagi riset dan layanan warga. Bila ketiganya terwujud sebelum gelombang pembangunan berikutnya mencapai puncaknya pada akhir dekade ini, kawasan akan memasuki tata dunia AI bukan sebagai ruang mesin, melainkan sebagai pihak yang ikut menentukan syarat. Bila tidak, Asia Tenggara akan tetap menjadi lumbung yang penuh, dengan panen yang dibawa pergi.

    ◆ ◆ ◆

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    • IEA. (2025). Energy and AI: Executive Summary. International Energy Agency. iea.org
    • IMDA. (2024, 30 Mei). Charting Green Growth for Data Centres in SG (Green Data Centre Roadmap). imda.gov.sg
    • MDDI Singapura. (2023, 4 Desember). Launch of Singapore’s Second National AI Strategy. mddi.gov.sg
    • Nvidia Corporation. (2025). Form 10-K, Fiscal Year 2025. U.S. Securities and Exchange Commission. sec.gov
    • DeepSeek-AI. (2025). DeepSeek-R1: Incentivizing Reasoning Capability in LLMs via Reinforcement Learning. arXiv:2501.12948. arxiv.org

    Literatur ilmiah

    • Farrell, H., & Newman, A. L. (2019). Weaponized Interdependence: How Global Economic Networks Shape State Coercion. International Security, 44(1). henryfarrell.net
    • Lehdonvirta, V., Wú, B., & Hawkins, Z. (2024). Compute North vs. Compute South: The Uneven Possibilities of Compute-based AI Governance Around the Globe. Proceedings of the AAAI/ACM Conference on AI, Ethics, and Society, 7(1), 828–838. ojs.aaai.org
    • Sastry, G., dkk. (2024). Computing Power and the Governance of Artificial Intelligence. Institute for Law & AI. law-ai.org

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    • Rediker, D. A. (2026, 8 September). Middle-Power AI Agency: Preserving Choice between the United States and China. Brookings Institution. brookings.edu
    • Hermawan, A. (2026, 5 September). Indonesia’s AI Regulations Leave State Repression Unchecked. East Asia Forum. eastasiaforum.org
    • Noer, H., & Putra, M. I. D. (2026, 10 Juli). Consolidation Without Completion: Indonesia’s AI Developments in 2026. Tech For Good Institute. techforgoodinstitute.org
    • Kirkland & Ellis. (2025, 27 Mei). BIS Rescission of the Biden Administration’s AI Diffusion Rule. kirkland.com
    • Jones Day. (2025, Agustus). White House Issues Executive Orders on AI Action Plan. jonesday.com
    • Mondaq. (2025). Shifts in U.S. Trade in Asia: Key Agreements from President Trump’s October 2025 Asia Trip, Part I: Southeast Asia. mondaq.com
    • Linklaters TechInsights. (2024). Powering Up to Go Green: Singapore Announces at Least 300 Megawatts Increase in Data Centre Capacity. linklaters.com
    • Kekuatan Inovasi: Mengapa Teknologi Menjadi Senjata Baru Geopolitik Dunia. kba13.com. kba13.com

    Media dan pemberitaan

    • Media Selangor. (2026, 20 Oktober). Data Centres to Need 8GW by 2030, Selangor Facilities Require Second-Largest Share. mediaselangor.com
    • The Star. (2026, 23 Juli). Johor Data Centres Turn to Recycled Water. thestar.com.my
    • The Star. (2026, 7 Juli). Philippines Eyes Pax Silica Framework Deal with US within This Year. thestar.com.my
    • W.Media. (2025a, 15 Juli). Malaysia Imposes Curbs on Exports of US-Origin AI Chips. w.media
    • W.Media. (2025b, 6 Agustus). Thailand Data Center Investments Hit US$16.1 Billion from 28 Projects in 1H 2025. w.media
    • W.Media. (2025c, 28 November). Johor Stops Approving Tier 1 and Tier 2 Data Centers Due to Water “Overuse”. w.media
    • W.Media. (2025d, 15 Agustus). Indonesia Mulls “Sovereign AI Fund” in AI Push. w.media
    • Bisnis.com. (2025, 18 Desember). Komdigi: Ruang Pengembangan Infrastruktur Penunjang AI Masih Luas. bisnis.com
    • Bisnis.com. (2025, 27 Mei). Microsoft Resmikan Indonesia Central Cloud Region. bisnis.com
    • Katadata. (2026, 15 April). Dua Perpres AI Segera Terbit: Atur Tiga Tingkatan Risiko dan Mitigasi Kerugian. katadata.co.id
    • Warta Alor. (2026, 8 Agustus). Pemerintah Antisipasi Disrupsi AI lewat Perpres Peta Jalan dan Etika AI. wartaalor.com
    • Al Jazeera. (2024, 1 Mei). Microsoft to Invest $1.7bn in AI, Cloud Infrastructure in Indonesia. aljazeera.com
    • GoTo. (2024, 15 November). Indosat Ooredoo Hutchison and GoTo Launch Sahabat-AI. gotocompany.com
    • eCommerceNews Asia. (2025, 25 November). AI Singapore, Alibaba Unveil Regional Model for 1,200 Languages. ecommercenews.asia
    • TechCrunch. (2025, 13 Maret). Singapore Grants Bail for Nvidia Chip Smugglers in Alleged $390M Fraud. techcrunch.com
    • Malay Mail. (2024, 12 Februari). Nvidia CEO Huang Says Countries Must Build Sovereign AI Infrastructure. malaymail.com
    • Malay Mail. (2024b, 12 Desember). PM Anwar Launches National AI Office. malaymail.com
    • Malay Mail. (2025, 21 Mei). Malaysia Walks Back Huawei AI Project amid US–China Tech Tensions. malaymail.com
    • SoyaCincau. (2026, 10 September). Malaysia Reportedly Eyeing Huawei Chips for RM2 Billion Sovereign AI Push. soyacincau.com
    • The Register. (2025, 9 Desember). Trump Says Nvidia Can Sell H200s to China – If Washington Gets a 25 Percent Cut. theregister.com
    • Fortune. (2025, 30 Desember). Why Singapore Is the Only Southeast Asian Country in Pax Silica. fortune.com
    • The National. (2025, 20 November). US Approves Export of Nvidia AI Chips to UAE and Saudi Arabia. thenationalnews.com
    • The Statesman. (2025, 30 Desember). India Steps Up AI Push with Rs 10,300 Crore Investment, 38,000 GPUs Deployed. thestatesman.com
    • ERA Portal Austria. (2026, 30 Juli). EU Launches AI Gigafactories Call to Boost Europe’s Computing Capacity. era.gv.at
    • ICIS. (2024, 12 November). Ishiba Stays on as Japan PM; Pledges $65bn Semiconductor/AI Support. icis.com
    • VnEconomy. (2025, 11 Desember). National Assembly Approves Vietnam’s First AI Law. vneconomy.vn

    Arsip & Pustaka

    • Council on Foreign Relations. (2023). Foreign Affairs, 102(2), Maret/April 2023: “Innovation Power: How Technology Will Reshape Geopolitics”. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy. pustaka.kba13academy.com/s/arsip/item/740
    • Paparan (2026). Wacana Kontemporer dalam Studi Islam: Peradaban, Otoritas, dan Kesadaran di Hadapan Kecerdasan Buatan. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy. pustaka.kba13academy.com/s/arsip/item/917

    Cara Mengutip

    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad. (2026). Tuan Rumah tanpa Kendali: Kedaulatan Komputasi, Pusat Data, dan Geopolitik Kecerdasan Buatan di Asia Tenggara. KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/kedaulatan-komputasi-ai-asia-tenggara/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama di UIN Ar-Raniry Banda Aceh; PhD Sosiologi, La Trobe University (2011). Pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy, menulis analisis geopolitik, kajian strategis, dan studi peradaban Islam di Dunia Melayu.

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →