Tag: Thailand

  • Gencatan Senjata yang Membekukan Perang: Konflik Perbatasan Thailand–Kamboja 2025–2026 dan Ujian Kapasitas ASEAN

    Gencatan Senjata yang Membekukan Perang: Konflik Perbatasan Thailand–Kamboja 2025–2026 dan Ujian Kapasitas ASEAN

    Research Center / Laporan Riset / Peace & Security
    Laporan Riset · Peace & Security · Southeast Asian Studies · Geopolitics · Intelligence & Strategic Studies

    Gencatan Senjata yang Membekukan Perang: Konflik Perbatasan Thailand–Kamboja 2025–2026 dan Ujian Kapasitas ASEANMengapa tiga kesepakatan gagal menghasilkan stabilitas, dan arsitektur verifikasi seperti apa yang dapat membuat gencatan berikutnya bertahan

    Dua putaran perang pada 2025 menewaskan sedikitnya 150 orang dan memaksa sekitar satu juta orang mengungsi. Laporan ini menunjukkan bahwa kerapuhan gencatan bersumber dari desain yang membekukan posisi pasukan tanpa peta, tanpa verifikasi bebas, dan tanpa jalur menuju demarkasi.

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam AhmadKBA13 Academy Research Center
    2 November 2026
    Waktu baca: ~31 menit
    Gencatan Senjata yang Membekukan Perang: Konflik Perbatasan Thailand–Kamboja 2025–2026 dan Ujian Kapasitas ASEAN
    Gencatan Senjata yang Membekukan Perang: Konflik Perbatasan Thailand–Kamboja 2025–2026 dan Ujian Kapasitas ASEAN · KBA13 Academy Research Center
    Daftar Isi
    1. Ringkasan Eksekutif: Gencatan Senjata yang Membekukan, Bukan Menyelesaikan
    2. Kerangka Analitis dan Catatan Metode
    3. Akar Sengketa: Peta Kolonial, Kuil, dan Pengadilan
    4. Kronologi 2025: Dari Ta Moan Thom ke Perang Dua Puluh Hari
    5. Tahun 2026: Perdamaian Dingin, Garis Kawat Berduri, dan Pergeseran ke Laut
    6. Diagnosis: Lima Cacat Desain yang Membuat Gencatan Senjata Rapuh
    7. Perbandingan Internasional: Empat Model Pemantauan Perbatasan Antarnegara
    8. Argumen Tandingan dan Jawabannya
    9. Skenario dan Indikator hingga Akhir 2027
    10. Rekomendasi Berjangka Waktu bagi Para Aktor
    11. Keterbatasan dan Kesimpulan
    Abstrak

    Laporan riset ini menganalisis konflik perbatasan Thailand–Kamboja sejak bentrokan Juli 2025, Deklarasi Bersama Kuala Lumpur Oktober 2025, perang dua puluh hari Desember 2025 dan gencatan 27 Desember, hingga perdamaian dingin sepanjang 2026. Dengan kerangka literatur daya tahan gencatan senjata dan sengketa teritorial, kajian ini menilai setiap kesepakatan terhadap lima dimensi desain: kejelasan geografis, kapasitas verifikasi, prosedur pelanggaran, keterkaitan politik, dan penjaminan eksternal. Temuannya, gencatan bertahan dalam bentuk tetapi tidak dalam substansi: tidak ada lagi pertempuran besar pada 2026, tetapi posisi pasukan dibekukan tanpa peta, Tim Pengamat ASEAN hanya dapat bergerak dengan izin negara tuan rumah, insiden ranjau tidak memiliki mekanisme investigasi bersama, Joint Boundary Commission tidak bekerja, dan perlintasan perbatasan tetap tertutup. Perbandingan dengan Peru–Ekuador, Ethiopia–Eritrea, India–Tiongkok, dan Armenia–Azerbaijan, serta preseden pengamat Indonesia 2011, menunjukkan empat unsur yang dibutuhkan: geografi yang dipetakan bersama, verifikasi dua sisi dengan hak lapor, mekanisme khusus ranjau dan kejahatan lintas batas, serta jembatan terjadwal menuju demarkasi. Laporan ini menyajikan empat skenario berprobabilitas hingga akhir 2027 dan rekomendasi berjangka waktu bagi Bangkok, Phnom Penh, ketua ASEAN, Malaysia, Indonesia, Amerika Serikat, Tiongkok, dan PBB.

    TesisGencatan senjata Thailand–Kamboja rapuh bukan karena kurang niat baik, melainkan karena dirancang untuk membekukan posisi pasukan tanpa peta, tanpa verifikasi bebas, dan tanpa jalur terjadwal menuju demarkasi, sehingga gencatan berikutnya harus dibangun sebagai rezim verifikasi, bukan upacara penandatanganan.

    Pertanyaan

    Mengapa tiga kesepakatan pada 2025 gagal mengubah jeda tempur menjadi stabilitas, dan apa yang membuat gencatan berikutnya bertahan?

    Temuan

    Gencatan membekukan posisi tanpa peta, pengamat ASEAN bergantung pada izin tuan rumah, dan tidak ada prosedur bersama untuk ranjau maupun jadwal demarkasi.

    Implikasi

    ASEAN perlu mengubah tim atase menjadi misi verifikasi dua sisi yang didukung kekuatan luar, sebelum jendela politik 2027 tertutup.

    Kata kunci: Thailand–Kambojagencatan senjataTim Pengamat ASEANverifikasisengketa perbatasanPreah Vihearranjau daratmanajemen konflik ASEAN
    I

    Ringkasan Eksekutif: Gencatan Senjata yang Membekukan, Bukan Menyelesaikan

    Laporan ini mengajukan satu pertanyaan sederhana dengan jawaban yang tidak sederhana: mengapa tiga kesepakatan penghentian tembak-menembak antara Thailand dan Kamboja dalam rentang lima bulan, yaitu gencatan senjata Putrajaya 28 Juli 2025, Deklarasi Bersama Kuala Lumpur 26 Oktober 2025, dan pernyataan bersama General Border Committee (GBC) 27 Desember 2025, gagal mencegah perang terbuka atau gagal mengubah jeda tempur menjadi stabilitas politik, dan arsitektur pemantauan serta politik seperti apa yang dibutuhkan agar gencatan berikutnya bertahan. Dua putaran pertempuran pada Juli dan Desember 2025 menewaskan sedikitnya 150 orang dan memaksa sekitar satu juta orang mengungsi, menurut laporan International Crisis Group (Oktober 2026) yang diringkas oleh Cambodianess. Angka itu menjadikan konflik ini perang antarnegara paling mematikan di antara sesama anggota ASEAN sejak organisasi tersebut berdiri pada 1967, sebuah klaim yang dipegang analisis ini dengan keyakinan sedang karena data korban Kamboja belum pernah dirilis secara resmi.

    Kesimpulan pokok kajian ini adalah bahwa gencatan-gencatan tersebut rapuh bukan karena kurangnya niat baik di atas kertas, melainkan karena desainnya membekukan posisi pasukan tanpa mekanisme verifikasi independen, tanpa garis pemisah yang dipetakan bersama, tanpa prosedur penanganan pelanggaran yang mengikat, dan tanpa jalur politik yang menghubungkan stabilisasi militer dengan penyelesaian batas. Klausul “mempertahankan penempatan pasukan saat ini” dalam kesepakatan 27 Desember, yang dilaporkan Al Jazeera, secara efektif mengunci keunggulan teritorial pihak yang lebih kuat pada hari penandatanganan. Akibatnya, sejak awal 2026 konflik bergeser dari pertempuran artileri ke perang naratif tentang kawat berduri, kontainer pengiriman, desa yang tidak dapat dihuni kembali, dan ranjau anti-personel, sementara perlintasan perbatasan tetap tertutup hingga hari ini, 2 November 2026. Penilaian ini dipegang dengan keyakinan tinggi untuk diagnosis desain, dan keyakinan sedang untuk perkiraan bahwa pola ini akan berlanjut sepanjang 2027.

    Kasus ini penting secara global karena tiga alasan. Pertama, ia menguji apakah organisasi regional yang berpegang pada prinsip non-intervensi mampu menjalankan fungsi verifikasi gencatan senjata antarnegara, fungsi yang selama ini dilakukan PBB, Uni Eropa, atau kelompok negara penjamin. Kedua, ia memperlihatkan model diplomasi perdamaian transaksional Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, yang menggunakan ancaman tarif untuk menghasilkan gencatan cepat tetapi tidak menyediakan arsitektur implementasi. Ketiga, ia memperlihatkan persaingan halus antara Washington dan Beijing untuk mengklaim peran juru damai di daratan Asia Tenggara. Laporan ini menutup dengan rekomendasi berjangka waktu bagi Bangkok, Phnom Penh, ketua ASEAN dan Tim Pengamat ASEAN, Malaysia dan Indonesia, Amerika Serikat, Tiongkok, serta PBB, dengan fokus pada satu gagasan sentral: gencatan berikutnya harus dirancang sebagai rezim verifikasi, bukan sebagai upacara penandatanganan.

    II

    Kerangka Analitis dan Catatan Metode

    Kerangka analitis kajian ini bertumpu pada literatur daya tahan gencatan senjata yang dirintis Virginia Page Fortna. Dalam artikelnya di International Organization, “Scraps of Paper? Agreements and the Durability of Peace” (2003), Fortna menunjukkan bahwa perdamaian antarnegara setelah perang lebih tahan lama bila perjanjian mengandung mekanisme yang mengubah insentif dan mengurangi ketidakpastian: zona demiliterisasi, pemantauan pihak ketiga, komisi gabungan, dan spesifisitas aturan. Logikanya bersifat kontraktual: perjanjian yang kuat menaikkan biaya serangan ulang, mengurangi kemungkinan insiden kecil disalahartikan sebagai serangan, dan mengurangi ruang bagi pelanggaran yang tidak dapat dibuktikan. Agenda riset yang lebih baru dari Clayton, Nygård, Rustad, dan Strand dalam Journal of Conflict Resolution (2023) menambahkan bahwa gencatan senjata memiliki fungsi berbeda, mulai dari jeda kemanusiaan, langkah membangun kepercayaan, hingga pengaturan definitif, dan bahwa salah membaca fungsi tersebut adalah sumber kegagalan yang umum.

    Lapisan kedua kerangka ini adalah literatur sengketa teritorial. Studi Stephen Quackenbush (2010) dalam Conflict Management and Peace Science, yang menganalisis periode damai setelah 2.974 sengketa militer antarnegara antara 1816 dan 2001, menempatkan isu teritorial sebagai salah satu prediktor terkuat konflik berulang. Artinya, gencatan dalam sengketa wilayah menghadapi tekanan struktural lebih besar dibanding gencatan dalam sengketa kebijakan, karena setiap meter tanah yang dikuasai dapat dibingkai sebagai kemenangan atau kekalahan nasional. Lapisan ketiga adalah literatur kelembagaan ASEAN, terutama analisis Hao Duy Phan (2015) dalam Asian Journal of International Law tentang peran ASEAN dalam sengketa Preah Vihear 2008–2011, yang menyimpulkan bahwa ASEAN cukup berhasil memfasilitasi perundingan tetapi dibatasi oleh “masalah desain kelembagaan”.

    Dari ketiga lapisan itu, kajian ini menurunkan lima dimensi evaluasi desain gencatan: kejelasan geografis (adakah garis atau zona yang dipetakan bersama), kapasitas verifikasi (siapa yang boleh melihat, di mana, dan kapan), prosedur pelanggaran (bagaimana insiden diselidiki dan diumumkan), keterkaitan politik (adakah jembatan menuju penyelesaian batas), serta penjaminan eksternal (siapa yang menanggung biaya bila salah satu pihak melanggar). Setiap kesepakatan 2025 dinilai terhadap kelima dimensi itu, lalu dibandingkan dengan empat kasus internasional. Metode yang digunakan adalah penelusuran proses (process tracing) atas kronologi yang direkonstruksi dari dokumen resmi kedua pemerintah, pernyataan ketua ASEAN, laporan lembaga kajian, dan pemberitaan media regional serta internasional hingga 2 November 2026. Sumber dari kedua pihak yang bertikai diperlakukan sebagai klaim, bukan fakta, kecuali dikonfirmasi oleh sumber ketiga. Tingkat keyakinan dinyatakan eksplisit untuk penilaian utama, dan skenario diberi probabilitas sebagai penilaian subjektif yang dapat diuji melalui indikator yang disebutkan.

    III

    Akar Sengketa: Peta Kolonial, Kuil, dan Pengadilan

    Perbatasan darat Thailand–Kamboja sepanjang sekitar 817 kilometer merupakan warisan konvensi Prancis–Siam awal abad ke-20 dan peta-peta yang dibuat komisi kolonial, yang tidak pernah sepenuhnya dipancangkan di lapangan. Sengketa paling terkenal menyangkut Kuil Preah Vihear. Mahkamah Internasional (ICJ) pada 1962 memutuskan kuil itu berada di wilayah kedaulatan Kamboja, dan dalam putusan interpretasi 11 November 2013 menegaskan bahwa kewajiban Thailand menarik pasukan mencakup seluruh tanjung (promontory) Preah Vihear, sembari menegaskan bahwa perkara 1962 menyangkut kedaulatan atas wilayah kuil dan bukan delimitasi garis perbatasan secara keseluruhan. Ruang kosong inilah, yaitu wilayah di luar tanjung yang belum didelimitasi, yang menjadi lahan subur bagi sengketa kuil-kuil lain seperti Ta Moan Thom, Ta Moan Toch, dan Ta Krabei.

    Instrumen bilateral utama untuk mengelola sengketa ini adalah Memorandum of Understanding (MOU) tahun 2000 tentang survei dan demarkasi batas darat, Kerangka Acuan 2003, dan Joint Boundary Commission (JBC) beserta tim survei gabungannya. Di sisi laut, MOU 2001 mengatur kerangka perundingan atas klaim tumpang tindih di Teluk Thailand, termasuk kemungkinan eksplorasi energi bersama. Kedua MOU itu telah lama menjadi sasaran kaum nasionalis Thailand, yang menuduhnya mengakomodasi peta Kamboja. Episode 2008–2011, ketika pendaftaran Preah Vihear sebagai Warisan Dunia UNESCO memicu bentrokan artileri, memperlihatkan pola yang terulang pada 2025: sengketa batas menjadi alat mobilisasi politik domestik di Bangkok, dan Phnom Penh merespons dengan internasionalisasi melalui PBB dan ICJ. Pada 18 Juli 2011, ICJ memerintahkan zona demiliterisasi sementara di sekitar kuil dan meminta kedua pihak menerima pengamat ASEAN, sebagaimana dilaporkan Associated Press melalui The Washington Times.

    Pemicu langsung krisis 2025 adalah bentrokan 28 Mei 2025 di wilayah yang berbatasan dengan Provinsi Ubon Ratchathani dan Preah Vihear, yang menewaskan seorang sersan Kamboja. Pada Juni 2025, Kamboja secara resmi mengajukan sengketa empat lokasi, yaitu Ta Moan Thom, Ta Moan Toch, Ta Krabei, dan area Mom Bei, ke ICJ. Perdana Menteri Thailand saat itu, Paetongtarn Shinawatra, menyatakan Thailand “tidak mengakui yurisdiksi ICJ dan tidak akan berpartisipasi”, menurut The Star (17 Juni 2025). Sengketa kemudian berubah menjadi krisis politik domestik Thailand ketika percakapan telepon Paetongtarn dengan Ketua Senat Kamboja Hun Sen bocor ke publik. Mahkamah Konstitusi Thailand mencopotnya dari jabatan pada 29 Agustus 2025, seperti dilaporkan Khaosod English. Episode ini penting secara analitis: ia mengajarkan kepada setiap politisi Thailand bahwa kedekatan pribadi dengan Phnom Penh dapat menjadi kesalahan fatal, dan bahwa sikap keras atas perbatasan adalah aset elektoral. Dengan keyakinan tinggi, analisis ini menilai bahwa insentif domestik tersebut, bukan sekadar ketidakjelasan peta, adalah motor eskalasi 2025.

    Dimensi lain yang membedakan krisis ini dari episode 2008–2011 adalah ekonomi politik perbatasan. Jaringan pusat penipuan daring (scam centre) yang beroperasi di kota-kota kasino di sisi Kamboja, termasuk di sekitar O’Smach dan Poipet, menjadi isu keamanan nasional di Thailand karena korban yang direkrut atau diperdagangkan melalui wilayah Thailand. Pemerintah Thailand berulang kali menggunakan penutupan perlintasan sebagai alat tekanan, sementara bagi Kamboja penutupan itu berdampak langsung pada pekerja migran. Kementerian Tenaga Kerja Kamboja memperkirakan sekitar 1,2 juta warganya bekerja di Thailand ketika ketegangan memuncak pada Juni 2025, dan sedikitnya 780.000 orang telah pulang, menurut Khaosod English (7 Oktober 2025). Angka ini dipegang dengan keyakinan sedang karena data Kementerian Tenaga Kerja Thailand mencatat penurunan pekerja resmi yang jauh lebih kecil.

    IV

    Kronologi 2025: Dari Ta Moan Thom ke Perang Dua Puluh Hari

    Pertempuran putaran pertama pecah pada pagi 24 Juli 2025 di dekat Kuil Ta Moan Thom di Provinsi Oddar Meanchey dan cepat meluas ke sedikitnya enam titik perbatasan. Sehari sebelumnya, setelah seorang tentara Thailand kehilangan kaki akibat ranjau yang menurut Bangkok baru dipasang Kamboja, Thailand menarik duta besarnya dan mengusir utusan Kamboja, sementara Kamboja membalas dengan menarik seluruh diplomatnya, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera (24 Juli 2025). Kamboja membantah memasang ranjau baru dan menyatakan tentara Thailand menyimpang dari jalur yang disepakati di area yang masih tercemar ranjau sisa perang saudara. Selama lima hari, kedua pihak menggunakan artileri dan roket, dan Thailand mengerahkan pesawat tempur. Pada akhir putaran ini, sedikitnya 43 orang tewas dan lebih dari 300.000 warga sipil mengungsi menurut tabulasi Al Jazeera (10 November 2025).

    Gencatan senjata pertama disepakati pada 28 Juli 2025 di Putrajaya, dimediasi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim selaku ketua ASEAN, dan berlaku tengah malam. Menurut laporan Associated Press melalui PBS NewsHour, pertemuan itu dihadiri Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Penjabat Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai, dengan duta besar Amerika Serikat dan Tiongkok untuk Malaysia hadir; pernyataan bersama menyebut AS sebagai salah satu penyelenggara dan Tiongkok sebagai peserta. Presiden Trump sebelumnya memperingatkan bahwa AS tidak akan melanjutkan perundingan dagang dengan kedua negara bila pertempuran berlanjut. Dalam beberapa hari, Kamboja mengumumkan pembentukan tim pengamat sementara yang terdiri dari atase pertahanan tujuh negara ASEAN, yaitu Malaysia, Indonesia, Laos, Myanmar, Filipina, Singapura, dan Vietnam, di bawah kepemimpinan Malaysia, menurut The Star (3 Agustus 2025). Pertemuan Luar Biasa GBC di Malaysia pada 7 Agustus kemudian menetapkan langkah lanjutan, dan Indonesia resmi bergabung dengan Tim Pengamat ASEAN (ASEAN Observer Team, AOT) pada 10 September 2025, seperti dicatat RRI.

    Tahap kedua adalah upaya mengubah gencatan menjadi kesepakatan politik. Pada 26 Oktober 2025, di sela KTT ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur, Hun Manet dan Perdana Menteri Thailand yang baru, Anutin Charnvirakul, menandatangani Deklarasi Bersama yang oleh Gedung Putih disebut Kuala Lumpur Peace Accords, disaksikan Trump dan Anwar. Ringkasan United States Institute of Peace dan pemberitaan Herald Malaysia menunjukkan muatannya: penarikan senjata berat dari perbatasan di bawah pengawasan AOT pimpinan Malaysia, penambahan pengamat, pembersihan ranjau kemanusiaan, penguatan pengendalian perbatasan dan pemberantasan kejahatan lintas negara, serta komitmen Thailand membebaskan 18 tentara Kamboja yang ditawan. Namun Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow menyatakan pembebasan tawanan bergantung pada kemajuan Kamboja atas empat poin utama, tanpa tenggat waktu. Di sinilah benih kegagalan pertama tertanam: kesepakatan politik tingkat tinggi yang diumumkan sebagai “perdamaian”, tetapi dengan prasyarat bersyarat, tanpa jadwal, dan tanpa mekanisme penilaian kepatuhan yang disepakati.

    Benih itu tumbuh cepat. Pada 10 November 2025, ledakan ranjau di Provinsi Sisaket melukai tentara Thailand, dan Anutin menangguhkan implementasi deklarasi “sampai tuntutan Thailand dipenuhi”, dengan pernyataan bahwa “permusuhan terhadap keamanan nasional kami tidak berkurang seperti yang kami kira”, sebagaimana dikutip Al Jazeera. Pada 5 Desember, di Pertemuan Negara Pihak ke-22 Konvensi Ottawa di Jenewa, Thailand menuduh Kamboja melanggar Pasal 1 konvensi dan meminta Sekretaris Jenderal PBB membantu membentuk misi pencari fakta independen, menurut The Nation (6 Desember 2025). Dua hari kemudian, pada 7 Desember, pertempuran putaran kedua pecah, dengan masing-masing pihak menyalahkan pihak lain, dan meluas di sepanjang perbatasan, termasuk sekitar Preah Vihear dan Ta Kwai. Thailand melancarkan serangan udara jauh ke wilayah Kamboja. Pada 12 Desember Trump mengumumkan bahwa kedua pihak sepakat menghentikan pertempuran, tetapi Anutin menyatakan belum ada gencatan dan Thailand akan terus bertempur, seperti diberitakan Dawn. Episode ini adalah bukti paling gamblang bahwa daya ungkit tarif Washington memiliki batas ketika pemerintah sasaran sedang menuju pemilu dengan agenda nasionalis.

    Penghentian putaran kedua lahir melalui jalur ASEAN. Pertemuan khusus para menteri luar negeri ASEAN di Kuala Lumpur pada 22 Desember 2025 mendesak penghentian permusuhan, pemulihan kerja sama pembersihan ranjau, dan de-eskalasi militer di bawah pengamatan AOT, serta menjadwalkan pertemuan GBC, sebagaimana tercantum dalam Pernyataan Ketua ASEAN. Pada 27 Desember, Menteri Pertahanan Thailand Natthaphon Narkphanit dan Menteri Pertahanan Kamboja Tea Seiha menandatangani gencatan senjata yang berlaku pukul 12.00 waktu setempat, mencakup “semua jenis senjata”, dengan komitmen mempertahankan penempatan pasukan, tidak melakukan provokasi, dan tidak menyebarkan informasi palsu. Lebih dari 100 orang tewas dan lebih dari 500.000 warga mengungsi dalam sekitar 20 hari pertempuran, menurut Al Jazeera. Angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi: militer Thailand mencatat 27 prajuritnya gugur per 26 Desember menurut The Nation, sedangkan Nikkei Asia memverifikasi lebih dari 110 nama tentara dan polisi Kamboja yang tewas, seperti dikutip Khaosod English (13 Januari 2026). Kamboja sendiri tidak pernah merilis angka nasional, sehingga total korban dipegang dengan keyakinan sedang. Pernyataan Kementerian Luar Negeri Thailand atas hasil GBC menambahkan masa pemantauan 72 jam sebelum pemulangan 18 tawanan dan penetapan prosedur pembersihan ranjau melalui gugus tugas gabungan sebelum survei batas, menurut MFA Thailand. Dua hari kemudian, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menjamu kedua mitranya di Yuxi, Yunnan, dan menghasilkan “konsensus tiga poin” tentang konsolidasi gencatan dan pemulihan kepercayaan, menurut The Star. Thailand membebaskan 18 tawanan pada 31 Desember, menurut catatan CSIS.

    V

    Tahun 2026: Perdamaian Dingin, Garis Kawat Berduri, dan Pergeseran ke Laut

    Sepanjang 2026, gencatan 27 Desember bertahan dalam arti tidak ada lagi pertempuran skala besar, tetapi tidak bertahan dalam arti politik. Kajian ini tidak menemukan bukti adanya putaran pertempuran ketiga dengan artileri berat atau serangan udara antara Januari dan awal November 2026, sehingga laporan tentang “perang baru” pada 2026 harus dibaca sebagai insiden terbatas, sebuah penilaian dengan keyakinan sedang hingga tinggi. Insiden-insiden itu nyata dan berulang. Pada awal Januari, Thailand menuduh tembakan mortir lintas batas melukai seorang prajuritnya, sementara Kamboja menyebutnya ledakan tumpukan sampah yang melukai dua tentaranya sendiri. Pada 24 Februari, militer Thailand melaporkan satu tembakan granat 40 mm dekat patroli di Sisaket dan membalas dengan tembakan peringatan, yang dibantah keras oleh Phnom Penh, menurut RTÉ/AFP. Pada 13 Mei, hanya beberapa hari setelah pertemuan puncak di Cebu, tentara Thailand melepaskan tembakan peringatan terhadap sekelompok tentara Kamboja dekat O’Smach dan mencatat sebelas tembakan senjata ringan dari sisi Kamboja, menurut The Nation. Pada 17 Agustus, seorang prajurit Thailand kehilangan pergelangan kakinya akibat ranjau PMN-2 dalam misi pembersihan ranjau dekat Celah An Mah.

    Inti sengketa 2026 bukanlah tembakan, melainkan garis. Pada 17 Februari, Hun Manet menyatakan kepada Reuters bahwa “pasukan Thailand masih menduduki jauh ke dalam wilayah Kamboja di banyak area”, dengan kontainer pengiriman dan kawat berduri dipasang di wilayah yang lama diakui Thailand sebagai milik Kamboja, sementara Thailand menyatakan sekadar mempertahankan posisi sebagai bagian dari de-eskalasi, menurut The Star/Reuters. Pada Mei 2026, lebih dari 34.440 orang, termasuk 11.355 anak, masih tinggal di kamp pengungsian di Kamboja, dan akses ke desa Chouk Chey serta Prey Chan di Banteay Meanchey tertutup oleh penghalang Thailand, menurut Al Jazeera (9 Mei 2026). Pada akhir Oktober, Kamboja menyebut lebih dari 20.000 orang tetap tidak dapat pulang, sedangkan militer Thailand membantah dan hanya mengidentifikasi sekitar 4.600 orang di tiga komunitas yang dianggapnya wilayah Thailand, menurut The Nation (28 Oktober 2026). Perbedaan angka ini sendiri adalah gejala desain: tanpa pihak ketiga yang berwenang memverifikasi, setiap fakta di lapangan menjadi fakta politik.

    Politik domestik Thailand mengeras. Anutin, yang membubarkan parlemen setelah berselisih dengan Partai Rakyat, memenangkan pemilu kilat 8 Februari 2026 dengan kampanye nasionalis, menjadi perdana menteri pertama dalam dua dasawarsa yang terpilih kembali, menurut The Star/Reuters. Pemerintahnya kemudian menarik diri secara sepihak dari MOU 2001 tentang klaim maritim pada 5 Mei 2026, dan Anutin menyebut langkah itu janji kampanye yang “tidak terkait dengan konflik perbatasan”, menurut Daily Maverick/AP. Kamboja menjawab dengan memulai konsiliasi wajib berdasarkan UNCLOS, sebagaimana dilaporkan Khaosod English (2 Juni 2026). Pada 22 Oktober, Thailand mengumumkan akan menguji “ketulusan” Kamboja melalui enam langkah membangun kepercayaan yang diusulkan Komisi Konsiliasi, termasuk saluran komunikasi langsung antarangkatan laut, dengan Mahkamah Arbitrase Permanen sebagai registri, menurut The Nation. Ironinya tajam: Bangkok yang menolak ICJ untuk sengketa darat kini berpartisipasi dalam prosedur pihak ketiga untuk sengketa laut. Di sisi lain, Hun Sen pada Juni menyatakan Kamboja harus merebut kembali wilayah yang disengketakan, lalu menegaskan Kamboja “tidak boleh memilih” jalan militer, yang dijawab Anutin dengan peringatan agar siapa pun “berpikir sangat hati-hati” sebelum menggunakan kekuatan, menurut The Nation (9 Juni 2026).

    Diplomasi regional bergerak, tetapi lambat. Ketua ASEAN 2026, Filipina, menyelenggarakan pertemuan trilateral Marcos–Hun Manet–Anutin di Cebu pada 7 Mei 2026; kedua perdana menteri menugasi menteri luar negerinya menyusun langkah praktis membangun kepercayaan dan membahas dihidupkannya kembali JBC, GBC, dan Regional Border Committee, sedangkan mandat AOT diperpanjang tiga bulan hingga Juli 2026, menurut Cambodianess dan Free Malaysia Today. Kedua menteri luar negeri bertemu lagi di sela debat Dewan Keamanan PBB di New York akhir Mei, menurut Pattaya Mail/NNT. Namun pada 22 Juli di Manila, Sihasak menyatakan Kamboja yang “menutup pintu” perundingan batas darat, dan bahwa pembersihan ranjau serta kerja sama memberantas penipuan daring harus mendahului pertemuan demarkasi JBC, menurut The Nation. Ketegangan simbolik memuncak ketika Anutin mengunjungi Bukit 500 dekat Celah An Mah pada 23 Agustus, yang oleh Kamboja disebut “pelanggaran serius kedaulatan”, menurut Thai PBS World. Pada 31 Oktober 2026, Anutin menyatakan perlintasan tidak akan dibuka “sampai Thailand mendapatkan apa yang kami yakini pantas”, dengan menyebut sengketa darat dan laut serta jaminan bahwa wilayah perbatasan tidak dipakai jaringan penipuan, menurut The Thaiger (1 November 2026). Perdagangan bilateral pada semester pertama 2026 turun 40 persen menjadi 1,3 miliar dolar AS, menurut Crisis Group.

    Dimensi penipuan daring menjadi arena tempat agenda kedua negara, dan agenda kekuatan besar, bertemu. Kamboja mengekstradisi Chen Zhi, ketua Prince Group, ke Tiongkok pada Januari 2026, menurut Khaosod English, dan parlemennya mengesahkan undang-undang kejahatan siber pada April. Pada 23 April 2026, Kementerian Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada Senator Kamboja Kok An dan 28 individu serta entitas dalam jaringannya, menurut Al Jazeera, sementara militer Thailand mempublikasikan kompleks penipuan dekat O’Smach dan mengundang pengawasan internasional, menurut Khaosod English. Bagi Bangkok, isu penipuan memberi legitimasi internasional atas penutupan perbatasan; bagi Phnom Penh, ia menjadi ujian apakah negara mau menindak aktor yang berkoneksi politik. Pemantauan KBA13 Insight dalam Southeast Asia Intelligence Brief (7 September 2026) merangkum keadaan ini secara tepat: gencatan “bertahan dalam bentuk, tetapi tidak dalam substansi”.

    VI

    Diagnosis: Lima Cacat Desain yang Membuat Gencatan Senjata Rapuh

    Cacat pertama adalah ketiadaan kejelasan geografis. Tidak satu pun dari tiga kesepakatan 2025 menyertakan peta garis kontak, zona penyangga, atau koridor penarikan yang disepakati bersama. Klausul “mempertahankan penempatan saat ini” tanpa peta berarti setiap pihak menafsirkan sendiri di mana penempatan itu berada. Pusat Informasi Gabungan Thailand pada 13 September 2026 menegaskan bahwa posisi pasukan setelah gencatan “tidak menentukan letak perbatasan” dan bahwa pernyataan 27 Desember menyebut posisi itu tidak memengaruhi survei batas, menurut The Thaiger. Secara hukum argumen itu masuk akal; secara praktis, ketika survei JBC tidak berjalan, posisi sementara berubah menjadi permanen. Crisis Group menilai pasukan Thailand menguasai sebagian besar dataran tinggi, termasuk wilayah yang menurut lembaga itu jelas milik Kamboja di luar garis yang diusulkan Bangkok sendiri. Analisis ini menilai dengan keyakinan tinggi bahwa pembekuan tanpa peta menguntungkan pihak yang menang di medan pada hari penandatanganan, sehingga pihak yang kalah memiliki insentif permanen untuk menggugat gencatan.

    Cacat kedua adalah lemahnya verifikasi. AOT dibangun dari atase pertahanan dan perwira yang jumlahnya kecil, dengan rotasi pendek: penambahan empat perwira Singapura dan Malaysia pada Maret 2026, sebagaimana dilaporkan Asia News Network, dan pergantian dua perwira TNI pada April 2026 adalah berita tersendiri, yang menunjukkan skala misi. Lebih penting lagi, pengamat hanya dapat memasuki wilayah perbatasan dengan izin dan koordinasi negara tuan rumah. AOT bahkan terbagi menjadi tim yang bekerja di sisi Kamboja dan sisi Thailand, masing-masing didampingi kelompok penghubung nasional, sehingga kunjungan lapangan mudah berubah menjadi tur yang diatur. Kamboja membawa pengamat ke desa Seila Khmer pada 17 Mei untuk menguatkan klaimnya, menurut Khaosod English, sementara Kamboja juga memprotes ketika pengamat bersama personel Thailand memasuki area di Oddar Meanchey tanpa pemberitahuan pada 26 Juni, menurut Cambodianess. Ketika pengamat sendiri menjadi objek sengketa, verifikasi kehilangan fungsinya sebagai wasit.

    Cacat ketiga adalah tidak adanya prosedur pelanggaran yang mengikat, terutama untuk ranjau. Isu ranjau adalah titik paling rentan karena satu ledakan dapat membekukan seluruh proses, seperti terjadi pada 10 November 2025. Thailand menyatakan sebelas prajuritnya kehilangan anggota tubuh akibat ranjau PMN-2 sejak putaran pertama, menurut The Nation, sementara Kamboja menyatakan ledakan berasal dari ranjau lama. Tidak ada badan yang disepakati kedua pihak untuk memeriksa apakah sebuah ranjau baru dipasang, meski Konvensi Ottawa menyediakan prosedur klarifikasi dan Thailand telah meminta misi pencari fakta. Rekomendasi Crisis Group agar Kamboja memusnahkan sisa stok ranjau anti-personel dan memenuhi kewajiban pelaporan konvensi, tanpa menjadikannya temuan tanggung jawab, menunjukkan bahwa jalan keluar teknis tersedia tetapi tidak dilembagakan dalam gencatan. Cacat keempat adalah terputusnya jalur politik: gencatan 27 Desember menyebut JBC sebagai tempat penyelesaian batas, tetapi Thailand menunda pertemuan JBC dengan alasan pemilu, lalu prosedur internal, lalu prasyarat pembersihan ranjau dan pemberantasan penipuan. Setiap penundaan dapat dibenarkan secara terpisah; secara kumulatif, penundaan itu mengubah gencatan menjadi status quo yang menguntungkan satu pihak.

    Cacat kelima adalah sifat penjaminan eksternal yang transaksional dan berganti-ganti. Washington memakai ancaman tarif pada Juli dan seremoni penandatanganan pada Oktober, tetapi tidak menyediakan dana, personel, atau teknologi pemantauan, dan tidak memimpin pada Desember, sebagaimana dicatat Quitzon dan Poling dari CSIS (Januari 2026). Peringatan satu tahun deklarasi oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio pada 25 Oktober 2026 kembali menekankan jasa Trump, menurut The Nation, tetapi tidak menyebut mekanisme baru. Beijing menawarkan forum dan bantuan kemanusiaan, termasuk tenda untuk pengungsi, tetapi enggan memaksakan kesepakatan. Monografi tahun 2026 berjudul The Beijing Factor in Southeast Asia merumuskan pembedaan yang relevan di sini: kehadiran tidak sama dengan pengaruh, dan pengaruh tidak sama dengan kendali. Dalam konflik ini, baik Washington maupun Beijing hadir, sebagian berpengaruh, tetapi tidak ada yang mengendalikan atau menjamin. Survei State of Southeast Asia 2026 ISEAS–Yusof Ishak Institute menunjukkan sebagian elite kawasan melihat peran aktor luar justru sebagai tanda keterbatasan ASEAN.

    Gencatan senjata yang membekukan posisi pasukan tanpa memverifikasinya bukanlah jeda menuju perdamaian, melainkan cara lain untuk memenangkan perang.
    VII

    Perbandingan Internasional: Empat Model Pemantauan Perbatasan Antarnegara

    Kasus Peru–Ekuador 1995–1998 adalah perbandingan paling dekat dan paling instruktif. Setelah Perang Cenepa awal 1995, Deklarasi Itamaraty membentuk Misi Pengamat Militer Ekuador–Peru (MOMEP) yang beranggotakan 112 pengamat dari empat negara penjamin Protokol Rio 1942, yaitu Argentina, Brasil, Chili, dan Amerika Serikat, dengan logistik dipimpin militer AS. Menurut Better Evidence Project, Carter School, George Mason University, MOMEP memverifikasi gencatan dan memantau penarikan sekitar 3.000 kombatan Ekuador dan 2.000 kombatan Peru, membantu merundingkan zona demiliterisasi yang berlaku sejak 1 Agustus 1995, serta menjalankan patroli dan pertemuan gabungan, sementara perwakilan penjamin memediasi di jalur politik. Jalur paralel ini menghasilkan empat komisi binasional pada Januari 1998 dan Acta Presidencial de Brasilia pada 26 Oktober 1998, yang menurut Andina mengakhiri sengketa atas 78 kilometer perbatasan yang belum didemarkasi. Pelajarannya bagi Asia Tenggara bersifat langsung: pengamat yang bertugas di kedua sisi, zona demiliterisasi yang dipetakan, dan penjamin yang memiliki kedudukan hukum dalam perjanjian dasar, berjalan serentak dengan jalur demarkasi yang dijadwalkan.

    Kasus Ethiopia–Eritrea memberikan pelajaran sebaliknya. Perjanjian Aljir 12 Desember 2000 mengakhiri perang 1998–2000 dan membentuk Komisi Batas Eritrea–Ethiopia dengan putusan “final dan mengikat”. Komisi itu pada 13 April 2002 menempatkan Badme, titik nyala perang, di wilayah Eritrea, tetapi Ethiopia hanya menerimanya “secara prinsip”, sehingga terjadi enam belas tahun “tanpa perang, tanpa damai” hingga Ethiopia mengumumkan penerimaan penuh pada Juni 2018, menurut The African Courier. Misi PBB UNMEE, yang mengawasi Zona Keamanan Sementara, dilumpuhkan oleh pembatasan “yang melumpuhkan” dan pemutusan pasokan bahan bakar oleh Eritrea, dan Dewan Keamanan mengakhiri mandatnya melalui Resolusi 1827 pada 30 Juli 2008, menurut arsip UNMEE. Pelajarannya: verifikasi militer yang kuat tidak cukup bila penyelesaian hukum tidak diimplementasikan, dan misi pemantau yang bergantung pada izin negara tuan rumah dapat dicekik oleh salah satu pihak. Kamboja, yang memilih ICJ dan UNCLOS, dan Thailand, yang menolak yurisdiksi ICJ, sedang menuju jebakan serupa: kemenangan hukum tanpa implementasi.

    Kasus India–Tiongkok di Garis Kontrol Aktual (LAC) memperlihatkan model ketiga, yaitu manajemen bilateral tanpa pihak ketiga. Setelah bentrokan Galwan 15 Juni 2020 yang menewaskan 20 tentara India dan, menurut pengakuan Beijing sendiri, empat tentara Tiongkok, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, kedua negara menempuh lebih dari empat tahun perundingan komandan korps hingga kesepakatan pengaturan patroli di Depsang dan Demchok pada 21 Oktober 2024. Menteri Luar Negeri S. Jaishankar membela zona penyangga dan moratorium patroli yang dapat “ditinjau kembali sesuai situasi”, menurut Deccan Herald (Desember 2024). Model ini menunjukkan bahwa zona penyangga dan protokol patroli yang sangat rinci dapat menstabilkan perbatasan tanpa pengamat asing, tetapi hanya di antara dua negara dengan kapasitas militer setara dan saluran komando yang terlembaga. Thailand dan Kamboja tidak memiliki keseimbangan itu; bilateralisme murni dalam asimetri kekuatan cenderung membakukan keunggulan pihak yang kuat.

    Kasus Armenia–Azerbaijan dengan Misi Uni Eropa di Armenia (EUMA) memperlihatkan model keempat, yaitu pemantauan satu sisi. EUMA diluncurkan 20 Februari 2023, beroperasi hanya di wilayah Armenia, berkoordinasi dengan otoritas Armenia dan memberi tahu pihak Azerbaijan bila relevan, dengan hingga 225 personel dan mandat hingga 19 Februari 2027, menurut EEAS. Misi ini menurunkan frekuensi insiden dan memberi Armenia saksi independen, tetapi dipandang Baku sebagai keberpihakan. Jalur politik akhirnya bergerak melalui diplomasi tingkat tinggi Washington pada 8 Agustus 2025, ketika kedua negara menandatangani dokumen perdamaian awal di Gedung Putih yang mencakup koridor transit bernama “Trump Route for International Peace and Prosperity”, menurut Dawn/Reuters. Perbandingan ini relevan karena AOT secara de facto sudah bergerak ke arah model EUMA yang terbelah dua, dengan kerentanan yang sama: pemantau satu sisi mudah dituduh menjadi juru bicara tuan rumah.

    Preseden kelima berasal dari ASEAN sendiri. Pada Mei 2011, di bawah keketuaan Indonesia, Kamboja menandatangani kerangka acuan bagi Tim Pengamat Indonesia yang direncanakan beranggotakan 15 personel militer dan sipil di masing-masing sisi perbatasan Preah Vihear. Thailand tidak pernah menandatanganinya karena keberatan atas lokasi, nama, status diplomatik, dan seragam tim, dengan para jenderal Thailand menolak tentara Indonesia berseragam di tanah Thailand, menurut The Jakarta Post (17 Maret 2012). Fakta bahwa pada 2025 tujuh negara ASEAN berhasil menempatkan atase pertahanan di lapangan dalam hitungan hari adalah kemajuan kelembagaan yang nyata dibanding 2011. Namun keempat kasus internasional di atas menunjukkan bahwa kehadiran pengamat hanya bermakna bila disertai empat unsur yang belum dimiliki AOT: akses di kedua sisi tanpa veto harian, peta zona yang disepakati, mandat melaporkan pelanggaran secara publik, dan jalur politik yang dijadwalkan. Penilaian komparatif ini dipegang dengan keyakinan tinggi.

    VIII

    Argumen Tandingan dan Jawabannya

    Argumen tandingan terkuat terhadap tesis laporan ini berbunyi sebagai berikut. Gencatan 27 Desember sebenarnya berhasil: sejak itu tidak ada lagi serangan udara, korban jiwa turun drastis, dan perang telah digantikan oleh sengketa diplomatik, hukum, dan naratif. Dalam pandangan ini, perdamaian dingin adalah hasil yang wajar dan bahkan stabil bagi sengketa teritorial berusia seabad; India dan Tiongkok hidup bertahun-tahun dengan status quo serupa. Memperkuat AOT secara agresif dapat menjadi kontraproduktif karena Thailand, negara yang lebih kuat, akan menolak pengamat yang dirasakan membatasi kedaulatannya, sebagaimana terjadi pada 2011, sehingga desakan verifikasi justru dapat mengakhiri satu-satunya kehadiran pihak ketiga yang ada. Lebih jauh, para pendukung argumen ini menunjukkan bahwa model “Trump” terbukti efektif secara cepat pada Juli dan Oktober, dan bahwa jalur hukum Kamboja melalui ICJ dan UNCLOS akan menyelesaikan isu substantif dalam jangka panjang tanpa membutuhkan arsitektur regional yang mahal.

    Argumen ini memiliki kekuatan nyata, dan laporan ini mengakuinya: gencatan memang menyelamatkan nyawa, dan kegagalan 2011 adalah peringatan sah bahwa desain yang terlalu ambisius dapat ditolak. Namun argumen itu gagal pada tiga titik. Pertama, ia salah membaca stabilitas. Perdamaian dingin India–Tiongkok bertumpu pada keseimbangan militer dan protokol rinci yang dirundingkan selama puluhan tahun; perdamaian dingin Thailand–Kamboja bertumpu pada ketidakseimbangan dan klaim pendudukan yang tidak terverifikasi, kombinasi yang menurut literatur sengketa teritorial merupakan resep konflik berulang. Puluhan ribu pengungsi yang tidak dapat pulang dan perdagangan yang anjlok 40 persen bukan tanda stabilitas, melainkan biaya yang terus menumpuk dan suatu saat menuntut pelampiasan politik, terutama di Phnom Penh. Kedua, ia melebih-lebihkan efektivitas daya ungkit tarif. Episode 12 Desember 2025, ketika Thailand menolak klaim gencatan dari Trump, menunjukkan bahwa tekanan ekonomi eksternal kalah oleh kalkulasi pemilu domestik. Ketiga, ia mengasumsikan jalur hukum akan diimplementasikan, padahal kasus Ethiopia–Eritrea menunjukkan putusan final pun dapat dibekukan enam belas tahun. Konsiliasi UNCLOS bahkan tidak menghasilkan putusan mengikat.

    Adapun risiko bahwa penguatan verifikasi akan ditolak Thailand, jawabannya terletak pada desain, bukan pada pengurangan ambisi. Bangkok sendiri yang meminta misi pencari fakta independen untuk ranjau di forum Ottawa, dan Bangkok sendiri yang mengundang pengawasan internasional atas kompleks penipuan di O’Smach. Artinya, Thailand menerima verifikasi pihak ketiga bila verifikasi itu dirasakan menguatkan klaimnya. Desain yang cerdas akan memanfaatkan hal ini: paket verifikasi yang mencakup isu-isu prioritas Thailand (ranjau baru dan kejahatan lintas batas) sekaligus isu prioritas Kamboja (posisi pasukan dan kembalinya pengungsi), sehingga kedua pihak memperoleh sesuatu yang mereka inginkan dari kehadiran pengamat. Dengan keyakinan sedang, kajian ini menilai bahwa paket semacam itu lebih mungkin diterima Bangkok daripada mandat verifikasi teritorial semata.

    IX

    Skenario dan Indikator hingga Akhir 2027

    Empat skenario disusun untuk horizon hingga akhir 2027, dengan mempertimbangkan pergantian keketuaan ASEAN dari Filipina ke Singapura pada 2027, sebagaimana diumumkan dalam pernyataan Perdana Menteri Lawrence Wong yang dilaporkan The Star (15 Juli 2026), serta kalender konsiliasi UNCLOS di Den Haag. Probabilitas di bawah merupakan penilaian subjektif yang diturunkan dari pola 2025–2026 dan dimaksudkan untuk diuji terhadap indikator, bukan sebagai prediksi pasti. Skenario dasar adalah perdamaian dingin yang kronis, sedangkan skenario risiko tertinggi adalah putaran pertempuran ketiga yang dipicu insiden ranjau atau tembakan di titik sensitif seperti O’Smach, An Mah, atau desa-desa Banteay Meanchey.

    Skenario Konflik Thailand–Kamboja hingga Akhir 2027

    SkenarioProbabilitas (penilaian penulis)Indikator
    Perdamaian dingin kronis: gencatan bertahan, insiden kecil berulang, perlintasan sebagian besar tertutup, JBC tidak bekerja substantif50%Penundaan berulang pertemuan JBC; perpanjangan AOT jangka pendek tanpa perubahan mandat; angka pengungsi stagnan di atas 20.000; retorika kedaulatan pada momen simbolik
    Stabilisasi terstruktur: mandat AOT diperkuat, peta zona penyangga disepakati, survei JBC dimulai di segmen tak bersengketa, perlintasan dibuka bertahap25%Kesepakatan kerangka acuan AOT baru; pembentukan sel investigasi ranjau gabungan; pembukaan satu atau dua perlintasan; kemajuan langkah kepercayaan maritim di Den Haag
    Putaran pertempuran ketiga: bentrokan berhari-hari dengan artileri atau serangan udara20%Ledakan ranjau dengan korban jiwa diikuti penangguhan kesepakatan; penarikan pengamat; mobilisasi pasukan atau senjata berat ke garis depan; eskalasi retorika Hun Sen atau pimpinan militer Thailand; krisis politik domestik di Bangkok
    Penyelesaian menyeluruh: kesepakatan demarkasi darat dan laut5%Pertemuan JBC tingkat menteri dengan jadwal demarkasi; kesepakatan perlakuan atas empat lokasi ICJ; normalisasi penuh perdagangan

    Indikator terpenting yang perlu dipantau adalah tiga. Pertama, keputusan atas mandat AOT setelah keketuaan Filipina berakhir: perpanjangan tiga bulanan yang berulang menandakan skenario perdamaian dingin, sedangkan kerangka acuan baru dengan akses kedua sisi menandakan stabilisasi. Kedua, perlakuan atas insiden ranjau berikutnya: bila sebuah ledakan diselidiki bersama oleh tim yang disepakati dalam hitungan hari, sistem bekerja; bila diikuti penangguhan sepihak, risiko eskalasi naik tajam. Ketiga, perilaku politik domestik: setiap krisis legitimasi di Bangkok, atau suksesi dan konsolidasi kekuasaan di Phnom Penh, dapat menjadikan perbatasan kembali sebagai panggung mobilisasi. Analisis ini menilai dengan keyakinan sedang bahwa risiko eskalasi paling tinggi pada musim kemarau, ketika operasi militer di medan hutan lebih mudah, dan pada momen simbolik seperti peringatan pertempuran.

    ASEAN tidak gagal karena tidak hadir; ia rapuh karena hadir tanpa mata yang boleh melihat ke mana pun ia perlu melihat.
    X

    Rekomendasi Berjangka Waktu bagi Para Aktor

    Bagi Bangkok, rekomendasi utama adalah menerima paket verifikasi timbal balik sebelum 31 Maret 2027. Pemerintah Anutin telah memperoleh mandat elektoral yang kuat, sehingga kini berada pada posisi politik terbaik untuk berkompromi tanpa tampak lemah. Langkah konkret yang diusulkan adalah menyepakati peta bersama garis penempatan pasukan per 27 Desember 2025 yang dititipkan kepada ketua ASEAN, mengizinkan AOT melakukan inspeksi mendadak di kedua sisi dengan pemberitahuan singkat, dan menggelar pertemuan JBC pertama sebelum akhir kuartal pertama 2027 untuk segmen yang tidak dipersengketakan. Pembukaan bertahap satu perlintasan, misalnya untuk lalu lintas kemanusiaan dan pekerja migran berdokumen, dapat dikaitkan dengan indikator terukur pemberantasan penipuan di sisi Kamboja, sehingga tuntutan Bangkok atas kejahatan lintas batas memperoleh jalur pemenuhan yang jelas alih-alih menjadi syarat tanpa batas.

    Bagi Phnom Penh, rekomendasi utama adalah mengambil langkah sepihak yang menghilangkan alasan penundaan Thailand dalam enam bulan ke depan. Kamboja sebaiknya, sebelum April 2027, memusnahkan secara terverifikasi sisa stok ranjau anti-personel dan menyerahkan laporan transparansi Pasal 7 Konvensi Ottawa, sebagaimana direkomendasikan Crisis Group, serta mengundang misi pencari fakta di bawah prosedur konvensi untuk insiden yang dituduhkan. Penegakan hukum atas jaringan penipuan perlu diarahkan juga kepada aktor yang memiliki koneksi politik, bukan hanya pelaksana lapangan, dengan data penindakan yang dibagi kepada Thailand dan AOT. Kamboja juga perlu mendokumentasikan secara rinci posisi pasukan dan perubahan penguasaan wilayah, tetapi menahan diri dari retorika “merebut kembali” wilayah yang memberi alasan bagi kaum garis keras di Bangkok.

    Bagi ketua ASEAN dan AOT, Filipina hingga akhir 2026 dan Singapura sepanjang 2027, rekomendasi utama adalah mengubah AOT dari tim atase menjadi misi verifikasi dengan kerangka acuan tertulis yang disepakati sebelum KTT ASEAN pertama 2027. Kerangka acuan itu sebaiknya memuat mandat minimal dua belas bulan alih-alih tiga bulanan, personel tetap minimal tiga puluh perwira dari sedikitnya enam negara anggota, sel investigasi ranjau dengan ahli teknis dari pusat pekerjaan ranjau yang netral, hak melaporkan ringkasan temuan kepada seluruh menteri luar negeri ASEAN setiap bulan, serta penggunaan citra satelit komersial dan drone yang disepakati untuk memantau garis penempatan. Ketua ASEAN juga sebaiknya mulai menyiapkan opsi penggunaan Dewan Tinggi Traktat Persahabatan dan Kerja Sama (TAC) sebagai instrumen jasa baik, yang menurut survei ISEAS dinilai sebagian elite kawasan belum dimanfaatkan.

    Bagi Malaysia dan Indonesia, yang masing-masing memiliki modal kepercayaan sebagai pemimpin AOT awal dan sebagai ketua ASEAN pada episode 2011, rekomendasi utamanya adalah membentuk kelompok pendukung informal bersama Filipina dan Singapura dalam tiga bulan ke depan. Malaysia dapat menyediakan kesinambungan institusional karena memegang memori negosiasi Putrajaya dan Kuala Lumpur, sedangkan Indonesia dapat menyumbang perwira berpengalaman pemeliharaan perdamaian PBB dan pengalaman menyusun kerangka acuan pengamat 2011 yang gagal, sebagai pelajaran tentang apa yang harus dihindari. Kedua negara juga dapat mendanai bersama sel investigasi ranjau. Paparan tahun 2025 berjudul Transformasi Geopolitik Asia Tenggara menekankan bahwa peran ASEAN berubah di tengah rivalitas kekuatan besar; kasus ini adalah kesempatan bagi negara-negara menengah ASEAN untuk menunjukkan bahwa perubahan itu dapat berarti kapasitas, bukan hanya retorika sentralitas.

    Bagi Amerika Serikat, rekomendasi utamanya adalah mengubah diplomasi seremonial menjadi dukungan implementasi sebelum pertengahan 2027: membiayai kapasitas teknis AOT, termasuk citra satelit dan peralatan deteksi ranjau, melalui ketua ASEAN dan bukan secara bilateral; melanjutkan sanksi terarah terhadap jaringan penipuan sebagai instrumen yang menguntungkan kedua pihak; dan menahan diri dari klaim gencatan yang tidak dikonfirmasi para pihak, karena episode Desember 2025 merusak kredibilitas mediasi. Bagi Tiongkok, rekomendasinya adalah menggunakan pengaruhnya terhadap Phnom Penh untuk mendorong kepatuhan Konvensi Ottawa dan penindakan terhadap jaringan penipuan yang juga merugikan warga Tiongkok, serta mendukung, bukan menyaingi, kerangka ASEAN dengan menyalurkan bantuan pembersihan ranjau dan rekonstruksi melalui mekanisme yang diawasi AOT. Bagi PBB, rekomendasinya adalah agar Sekretaris Jenderal, melalui Kantor Urusan Perlucutan Senjata dan Layanan Pekerjaan Ranjau PBB, menawarkan dukungan teknis bagi misi pencari fakta ranjau dalam kerangka Konvensi Ottawa sebelum Pertemuan Negara Pihak berikutnya, sementara badan kemanusiaan PBB membantu program pemulangan sukarela bagi pengungsi yang masih tertahan.

    XI

    Keterbatasan dan Kesimpulan

    Kajian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dinyatakan secara terbuka. Data korban, terutama di pihak Kamboja, tidak pernah dirilis secara resmi dan bergantung pada verifikasi media, sehingga angka gabungan sedikitnya 150 korban tewas harus dibaca sebagai batas bawah. Angka pengungsi juga diperdebatkan, sebagaimana tampak dari selisih antara klaim Kamboja tentang lebih dari 20.000 orang yang tidak dapat pulang dan identifikasi Thailand atas sekitar 4.600 orang di tiga komunitas. Kerangka acuan AOT tidak dipublikasikan secara lengkap, sehingga penilaian atas mandat dan aksesnya bersandar pada pernyataan pemerintah dan laporan media. Sebagian besar sumber berasal dari media dan pemerintah kedua pihak yang bertikai, yang diperlakukan sebagai klaim, dan tidak ada wawancara lapangan yang dilakukan untuk laporan ini. Klaim tentang pelanggaran gencatan pada 2026, termasuk tembakan mortir Januari, granat Februari, dan tembakan Mei, dibantah oleh pihak lawan dan tidak diverifikasi secara independen. Terakhir, perbandingan internasional selalu tidak sempurna; Peru–Ekuador memiliki negara penjamin dengan kedudukan hukum sejak 1942, sesuatu yang tidak dimiliki ASEAN.

    Kesimpulan laporan ini jelas. Konflik Thailand–Kamboja 2025–2026 bukan kegagalan ASEAN dalam arti ketidakhadiran; Malaysia memediasi dua gencatan, tujuh negara anggota menempatkan pengamat dalam hitungan hari, dan Filipina mempertemukan kedua pemimpin di Cebu. Kegagalannya terletak pada desain: gencatan-gencatan itu membekukan posisi tanpa peta, menghadirkan pengamat tanpa akses bebas, menetapkan komitmen tanpa prosedur pelanggaran, dan menjanjikan penyelesaian batas tanpa jadwal. Gencatan berikutnya, entah lahir dari insiden baru atau dari kesepakatan sukarela, akan bertahan hanya bila memuat empat unsur yang dipelajari dari Peru–Ekuador, Ethiopia–Eritrea, India–Tiongkok, dan Armenia–Azerbaijan: geografi yang dipetakan bersama, verifikasi di kedua sisi dengan hak lapor, mekanisme khusus untuk ranjau dan kejahatan lintas batas, serta jembatan terjadwal menuju demarkasi. Jendela untuk membangun arsitektur itu terbuka hingga 2027, ketika mandat elektoral Bangkok masih segar, kalender konsiliasi maritim sedang berjalan, dan keketuaan ASEAN berpindah ke negara yang memiliki kapasitas teknis. Bila jendela itu terlewat, perbatasan sepanjang 817 kilometer ini akan tetap menjadi garis kawat berduri yang menunggu ledakan berikutnya.

    ✦ ✦ ✦
    Referensi

    Dokumen resmi dan data

    1. ASEAN Chair / Government Public Relations Department Thailand (2025). ASEAN Chair’s Statement on the Current Situation Between Cambodia and Thailand, 22 December 2025, Kuala Lumpur. PRD Thailand.
    2. Ministry of Foreign Affairs of Thailand (2025). Statement on the Outcome of the 3rd Special Meeting of the General Border Committee (GBC) between Thailand and Cambodia. MFA Thailand.
    3. International Court of Justice (2013). Request for Interpretation of the Judgment of 15 June 1962 in the Case concerning the Temple of Preah Vihear (Cambodia v. Thailand), Judgment of 11 November 2013. ICJ.
    4. European External Action Service (2025). About the European Union Mission in Armenia (EUMA). EEAS.
    5. United Nations (2008). United Nations Mission in Ethiopia and Eritrea (UNMEE): Security Council documents and termination of mandate. UNMEE archive.

    Literatur ilmiah

    1. Fortna, V. P. (2003). Scraps of Paper? Agreements and the Durability of Peace. International Organization 57(2).
    2. Clayton, G., Nygård, H. M., Rustad, S. A., & Strand, H. (2023). Ceasefires in Civil Conflict: A Research Agenda. Journal of Conflict Resolution 67(7-8).
    3. Quackenbush, S. L. (2010). Territorial Issues and Recurrent Conflict. Conflict Management and Peace Science 27(3).
    4. Phan, H. D. (2015). Institutional Design and Its Constraints: Explaining ASEAN’s Role in the Temple of Preah Vihear Dispute. Asian Journal of International Law 5(1).

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    1. International Crisis Group (2026). Toward a Thaw in the Cambodia-Thailand Border Conflict (Asia Report No. 359). International Crisis Group.
    2. Quitzon, J. & Poling, G. B. (2026). The Latest on Southeast Asia: The 2nd Cambodia-Thailand Ceasefire. Center for Strategic and International Studies.
    3. United States Institute of Peace (2025). Kuala Lumpur Peace Accords: Cambodia-Thailand. USIP.
    4. Better Evidence Project, Carter School, George Mason University (n.d.). Resolving the Militarised Territorial Dispute between Ecuador and Peru. George Mason University.
    5. kba13.com (2026). Southeast Asia Intelligence Brief: ASEAN, Myanmar & South China Sea (25-31 August 2026). kba13.com.

    Media dan pemberitaan

    1. Al Jazeera (2025, 24 July). Thailand and Cambodia exchange fire in deadly border clashes. Al Jazeera.
    2. Associated Press / PBS NewsHour (2025, 28 July). Thailand and Cambodia agree to unconditional ceasefire to end border fighting, Malaysian PM says. PBS NewsHour.
    3. The Star (2025, 17 June). Thailand rules out ICJ, reaffirms bilateral approach in border dispute with Cambodia. The Star.
    4. Khaosod English (2025, 29 August). Paetongtarn Removed from Office Over Leaked Hun Sen Call. Khaosod English.
    5. The Star (2025, 3 August). Cambodia confirms Malaysia-led Asean defence attache team to monitor ceasefire. The Star.
    6. Khaosod English (2025, 7 October). Cambodian Workers in Thailand Drop to 490,000 Amid Border Tensions. Khaosod English.
    7. Herald Malaysia (2025, 27 October). Cambodia, Thailand pull out heavy weapons after signing peace deal. Herald Malaysia.
    8. Al Jazeera (2025, 10 November). Thailand suspends Cambodia peace deal after landmine blast. Al Jazeera.
    9. The Nation (2025, 6 December). Thailand tells Ottawa Convention meeting that Cambodia violated landmine ban, calls for independent fact-finding mission. The Nation Thailand.
    10. Dawn / Reuters (2025, 13 December). Thailand vows to keep fighting Cambodia, despite Trump’s ceasefire claim. Dawn.
    11. Al Jazeera (2025, 27 December). Thailand and Cambodia agree on ceasefire to end weeks of deadly fighting. Al Jazeera.
    12. The Nation (2025, December). From standoff to clashes: Thai-Cambodian border tensions in 2025. The Nation Thailand.
    13. The Star (2025, 29 December). China-Cambodia-Thailand foreign ministers’ meeting reaches three-point consensus. The Star.
    14. Khaosod English (2026, 8 January). Prince Group Chairman Chen Zhi Arrested and Deported to China. Khaosod English.
    15. Khaosod English (2026, 13 January). Nikkei Asia: Cambodian soldier death toll in border conflict exceeds 110. Khaosod English.
    16. The Star / Reuters (2026, 9 February). Thailand’s PM Anutin staked his election on nationalism, and won. The Star.
    17. The Star / Reuters (2026, 18 February). Cambodian PM says Thailand is occupying territory after Trump-brokered ceasefire. The Star.
    18. RTÉ / AFP (2026, 24 February). Thailand, Cambodia dispute exchange of fire at border. RTÉ News.
    19. Asia News Network (2026, 30 March). ASEAN observers expand presence to monitor ceasefire with Thailand. Asia News Network.
    20. Khaosod English (2026, 7 April). Thailand exposes scam city in O’Smach, invites international scrutiny. Khaosod English.
    21. The Nation (2026, 8 April). ASEAN criticised as too slow in Thai-Cambodia border crisis. The Nation Thailand.
    22. Al Jazeera (2026, 23 April). US sanctions Cambodian senator over purported scam network links. Al Jazeera.
    23. RRI (2026, 2 May). Indonesia Deploys TNI Personnel to Cambodia for ASEAN Observer Team. Radio Republik Indonesia.
    24. Daily Maverick / AP (2026, 5 May). Thailand scraps 25-year-old agreement with Cambodia on joint energy exploration. Daily Maverick.
    25. Cambodianess (2026, 7 May). Hun Manet, Anutin Agree on New Confidence-Building Steps Under Philippines’ ASEAN Good Offices. Cambodianess.
    26. Free Malaysia Today (2026, 7 May). Asean observer team to remain for another 3 months. Free Malaysia Today.
    27. Al Jazeera (2026, 9 May). Cambodians struggle with displaced lives amid tense ceasefire with Thailand. Al Jazeera.
    28. The Nation (2026, 14 May). Thai army reports two Cambodian border provocations near Chong Chom. The Nation Thailand.
    29. Khaosod English (2026, 18 May). Cambodia brings ASEAN observers to inspect disputed Thai frontier. Khaosod English.
    30. Pattaya Mail / NNT (2026, 28 May). Thailand, Cambodia hold talks to rebuild trust during UN Meeting. Pattaya Mail.
    31. Khaosod English (2026, 2 June). Cambodia launches UNCLOS conciliation after Thailand ends maritime MoU. Khaosod English.
    32. The Nation (2026, 9 June). Anutin warns against any encroachment on Thai sovereignty after Hun Sen border remarks. The Nation Thailand.
    33. Cambodianess (2026, 3 July). ASEAN observers remain impartial, Philippine envoy says. Cambodianess.
    34. The Star (2026, 15 July). Both sides to ensure smooth transition as Singapore takes over from Philippines as Asean chair: PM Wong. The Star.
    35. The Nation (2026, 22 July). Thailand says Cambodia closed the door on land-boundary talks. The Nation Thailand.
    36. Thai PBS World (2026, 26 August). Cambodia calls PM Anutin’s border visit violation of sovereignty. Thai PBS World.
    37. The Thaiger (2026, 13 September). Thailand rejects Cambodian claims of seized border territory. The Thaiger.
    38. Cambodianess (2026, October). International Crisis Group Warns Cambodia Faces Uphill Battle to Resolve Border Dispute With Thailand. Cambodianess.
    39. The Nation (2026, 22 October). Thailand to test Cambodia’s sincerity through six trust measures. The Nation Thailand.
    40. The Nation (2026, 26 October). US marks first anniversary of Thai-Cambodia peace accords, credits Trump. The Nation Thailand.
    41. The Nation (2026, 28 October). Thai army rejects Cambodia’s claims over border barriers and displaced residents. The Nation Thailand.
    42. The Thaiger (2026, 1 November). Thailand-Cambodia border to stay shut until demands met. The Thaiger.
    43. Associated Press / The Washington Times (2011, 18 July). UN court draws DMZ for Thai, Cambodia troops. The Washington Times.
    44. The Jakarta Post (2012, 17 March). Waiting for RI observers in Preah Vihear. The Jakarta Post.
    45. The African Courier (2018, 6 June). Ethiopia finally to accept boundary ruling to formally end war with Eritrea. The African Courier.
    46. Al Jazeera (2021, 19 February). China admits it lost four soldiers in 2020 India border clash. Al Jazeera.
    47. Deccan Herald (2024, 3 December). India-China LAC: Jaishankar defends buffer zones, says moratorium on patrolling can be revisited as situation demands. Deccan Herald.
    48. Dawn / Reuters (2025, 9 August). Azerbaijan and Armenia sign peace deal at White House. Dawn.
    49. Andina (2024, October). Peru commemorates 26th anniversary of Brasilia Peace Accords signing. Andina.

    Arsip & Pustaka

    1. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (2025). Transformasi Geopolitik Asia Tenggara (presentasi, Geopolitik Master Series). Arsip & Pustaka.
    2. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (2026). The Beijing Factor in Southeast Asia: Chinese Power, Regional Response, and the Contest for the Archipelago. Arsip & Pustaka.
    Cara Mengutip

    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad (2026). Gencatan Senjata yang Membekukan Perang: Konflik Perbatasan Thailand–Kamboja 2025–2026 dan Ujian Kapasitas ASEAN: Mengapa tiga kesepakatan gagal menghasilkan stabilitas, dan arsitektur verifikasi seperti apa yang dapat membuat gencatan berikutnya bertahan. KBA13 Academy Research Center, Laporan Riset, 2 November 2026. https://kba13academy.com/gencatan-senjata-rapuh-thailand-kamboja-asean/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Menulis tentang antropologi, studi intelijen dan strategis, geopolitik, peradaban Islam, serta masa depan Asia Tenggara.

  • ASEAN Sebelas Anggota dan Batas Konsensus: Arsitektur Manajemen Konflik setelah Perbatasan Thailand–Kamboja, Myanmar, dan Laut China Selatan

    ASEAN Sebelas Anggota dan Batas Konsensus: Arsitektur Manajemen Konflik setelah Perbatasan Thailand–Kamboja, Myanmar, dan Laut China Selatan

    Kertas Putih · Studi Asia Tenggara, Perdamaian dan Keamanan

    ASEAN Sebelas Anggota dan Batas Konsensus:Arsitektur Manajemen Konflik setelah Perbatasan Thailand–Kamboja, Myanmar, dan Laut China Selatan

    ASEAN Way berhasil menghentikan perang, tetapi gagal membangun perdamaian. Menjelang KTT Manila, kajian ini mengusulkan arsitektur lima lapis berbasis verifikasi yang tetap menghormati nonintervensi.

    KBA
    PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
    • Kertas Putih
    • 23 Oktober 2026
    • ± 32 menit baca
    ASEAN Sebelas Anggota dan Batas Konsensus: Arsitektur Manajemen Konflik setelah Perbatasan Thailand–Kamboja, Myanmar, dan Laut China Selatan
    ASEAN Way berhasil menghentikan perang, tetapi gagal membangun perdamaian. Menjelang KTT Manila, kajian ini mengusulkan arsitektur lima lapis berbasis verifikasi yang tetap menghormati nonintervensi.

    Abstrak

    Kertas putih ini menilai apakah konsensus dan nonintervensi masih mampu mengelola konflik keras setelah ASEAN menjadi organisasi sebelas anggota dengan masuknya Timor-Leste pada Oktober 2025. Tiga ujian dianalisis melalui penelusuran proses atas dokumen hingga 23 Oktober 2026: perang perbatasan Thailand–Kamboja 2025 beserta Deklarasi Kuala Lumpur dan gencatan senjata Desember 2025; Myanmar setelah pemilu junta dan pelantikan Min Aung Hlaing sebagai presiden; serta perundingan Kode Tata Perilaku Laut China Selatan yang ditargetkan rampung pada 2026. Temuannya, ASEAN Way efektif sebagai mekanisme penahanan tetapi lemah pada verifikasi dan hampir absen pada penyelesaian, karena lima cacat desain: ketergantungan pada ketua bergilir, veto implisit pihak bersengketa, mandat tanpa verifikasi, substitusi oleh patron eksternal, dan heterogenitas yang meningkat. Dengan membandingkan Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika, misi lapangan OSCE, dan Deklarasi Biketawa Forum Kepulauan Pasifik, kajian ini mengusulkan mekanisme pemantauan permanen, aktivasi Dewan Tinggi TAC, AIPR sebagai simpul peringatan dini, formula ASEAN minus X, dan Indonesia sebagai jangkar kelembagaan. Empat skenario hingga 2028 dan rekomendasi bertenggat bagi sebelas aktor melengkapi analisis.

    Tesis

    ASEAN Way tetap efektif untuk menahan eskalasi, tetapi tanpa instrumen verifikasi yang berbasis persetujuan dan transparan, ia akan perlahan digantikan oleh mediasi kekuatan besar. Nonintervensi perlu didefinisikan ulang sebagai larangan pemaksaan, bukan larangan pengamatan.

    1. DataDokumen ASEAN, deklarasi bilateral, laporan ICG, ISEAS, OCHA, dan pemberitaan hingga 23 Oktober 2026.
    2. KerangkaEmpat anak tangga manajemen konflik dan perbandingan dengan Uni Afrika, OSCE, serta Forum Kepulauan Pasifik.
    3. ProyeksiEmpat skenario hingga 2028, indikator bertanggal, dan rekomendasi bagi sebelas aktor.

    Kata kunci

    • ASEAN
    • ASEAN Way
    • manajemen konflik
    • Thailand–Kamboja
    • Myanmar
    • Konsensus Lima Butir
    • Kode Tata Perilaku Laut China Selatan
    • Tim Pengamat ASEAN
    • Timor-Leste
    I

    Ringkasan Eksekutif: Sebelas Anggota, Tiga Ujian, Satu Arsitektur yang Belum Selesai

    Kajian ini mengajukan satu pertanyaan sederhana yang jawabannya tidak sederhana: apakah konsensus dan prinsip nonintervensi, dua pilar yang selama ini disebut “ASEAN Way”, masih mampu mengelola konflik keras di Asia Tenggara ketika organisasi itu kini beranggotakan sebelas negara? Pertanyaan ini mendesak karena tiga alasan. Pertama, ASEAN baru saja mengalami perluasan pertama dalam seperempat abad ketika Timor-Leste resmi diterima sebagai anggota kesebelas pada 26 Oktober 2025 di Kuala Lumpur, dan keanggotaan itu dikukuhkan melalui Protokol Cebu, amandemen pertama Piagam ASEAN sejak 2007, yang diadopsi pada 8 Mei 2026. Kedua, Filipina sebagai ketua 2026 akan menjadi tuan rumah KTT ASEAN ke-49 dan KTT terkait pada 16–18 November 2026 di Philippine International Convention Center, Pasay, yang menurut Kementerian Luar Negeri Filipina akan dihadiri Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Ketiga, tiga ujian terberat bagi kawasan, yaitu perang perbatasan Thailand–Kamboja, Myanmar pascapemilu junta, dan Kode Tata Perilaku (Code of Conduct, COC) Laut China Selatan, semuanya bermuara pada KTT itu tanpa satu pun yang benar-benar tuntas.

    Jawaban kajian ini bersifat bersyarat. ASEAN Way tidak runtuh, tetapi telah berubah fungsi: ia masih efektif sebagai mekanisme pencegah eskalasi menjadi perang regional dan sebagai ruang temu yang tidak dimiliki kawasan lain, namun ia tidak lagi memadai sebagai mekanisme penyelesaian. Bukti paling tajam datang dari perbatasan Thailand–Kamboja. Gencatan senjata Juli 2025 dan Deklarasi Bersama Kuala Lumpur Oktober 2025 tidak mencegah pertempuran kedua pada Desember 2025, yang dihentikan oleh perundingan yang difasilitasi Tiongkok, bukan ASEAN. Menurut laporan International Crisis Group tertanggal 9 Oktober 2026, kedua putaran pertempuran menewaskan sedikitnya 150 orang dan memaksa sekitar satu juta orang mengungsi. Untuk Myanmar, Konsensus Lima Butir hidup sebagai rujukan formal tetapi telah ditolak secara terbuka oleh pihak yang seharusnya melaksanakannya. Untuk Laut China Selatan, target penyelesaian COC pada 2026 tampak semakin sulit dicapai tanpa mengorbankan substansi.

    Taruhannya global, bukan hanya regional. ASEAN adalah poros dari hampir semua forum keamanan multilateral di Indo-Pasifik, mulai dari Forum Regional ASEAN hingga KTT Asia Timur. Bila pusat ini tidak dapat mengelola konflik di antara anggotanya sendiri, legitimasi “sentralitas ASEAN” sebagai prinsip penataan kawasan akan tergerus, dan ruang itu akan diisi oleh kekuatan besar atau koalisi kecil yang tidak inklusif. Survei The State of Southeast Asia 2026 yang dianalisis Melinda Martinus dan Indira Zahra Aridati dari ISEAS menunjukkan paradoks itu dengan jelas: 23,4 persen responden kini menilai ASEAN sebagai penjaga tatanan berbasis aturan yang paling dipercaya, untuk pertama kalinya mengungguli Amerika Serikat, tetapi 34,7 persen sekaligus menilainya lamban dan tidak efektif. Kepercayaan sedang naik justru ketika kapasitas tertinggal.

    Laporan ini mengusulkan arsitektur lima lapis yang realistis secara politik: pelembagaan Tim Pengamat ASEAN menjadi mekanisme pemantauan permanen yang tidak lagi bergantung pada ketua bergilir; aktivasi Dewan Tinggi Traktat Persahabatan dan Kerja Sama (TAC) melalui revisi aturan prosedur; transformasi ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (AIPR) menjadi simpul peringatan dini; formula “ASEAN minus X” untuk tindakan politik-keamanan yang terbatas dan sukarela; serta peran Indonesia sebagai jangkar kelembagaan, bukan sekadar mediator ad hoc. Dengan keyakinan sedang, kajian ini menilai bahwa jendela untuk pembaruan semacam itu terbuka antara KTT Manila November 2026 dan peringatan enam puluh tahun ASEAN pada 8 Agustus 2027, ketika Singapura memegang keketuaan.

    II

    Kerangka Analitis, Posisi dalam Literatur, dan Catatan Metode

    Analisis ini membedah manajemen konflik ASEAN melalui empat anak tangga fungsi: pencegahan (mendeteksi dan meredam sebelum kekerasan pecah), penahanan (menghentikan pertempuran dan mencegah perluasan), verifikasi (memastikan komitmen dijalankan di lapangan), dan penyelesaian (menangani akar sengketa melalui hukum atau politik). Pada setiap anak tangga diajukan tiga variabel penjelas. Variabel pertama adalah ambang keputusan, yakni apakah sebuah langkah memerlukan persetujuan semua anggota, persetujuan para pihak yang bersengketa saja, atau dapat diambil oleh sebagian anggota. Variabel kedua adalah sumber mandat, yaitu apakah inisiatif berasal dari ketua bergilir, dari Sekretariat, atau dari perjanjian yang mengikat. Variabel ketiga adalah peran patron eksternal, yakni sejauh mana Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, atau PBB menggantikan atau melengkapi kapasitas ASEAN. Hipotesis kerjanya: ASEAN relatif kuat pada anak tangga penahanan, lemah pada verifikasi, dan hampir absen pada penyelesaian, dan kelemahan itu bersifat desain, bukan kebetulan kepemimpinan.

    Kerangka ini berdiri di atas perdebatan akademik yang panjang. Amitav Acharya dalam Constructing a Security Community in Southeast Asia berargumen bahwa norma-norma ASEAN, termasuk nonintervensi dan penyelesaian damai, telah membentuk komunitas keamanan yang baru lahir, di mana perang antaranggota menjadi semakin tak terbayangkan. Jürgen Haacke dalam ASEAN’s Diplomatic and Security Culture memetakan budaya diplomatik itu secara lebih rinci, termasuk penghindaran konfrontasi publik dan preferensi pada konsultasi tertutup, sekaligus menunjukkan bahwa norma tersebut dapat ditafsir ulang di bawah tekanan. Donald Emmerson dalam “Security, Community, and Democracy in Southeast Asia: Analyzing ASEAN” mengingatkan bahwa yang ada mungkin hanyalah komunitas keamanan “tipis”, yaitu ketiadaan perang tanpa kepercayaan yang dalam. Alice Ba dalam (Re)Negotiating East and Southeast Asia menekankan bahwa ASEAN adalah proses negosiasi identitas kawasan yang terus-menerus, bukan struktur yang selesai.

    Di sisi skeptis, David Martin Jones dan Michael L. R. Smith dalam “Making Process, Not Progress” di jurnal International Security edisi musim panas 2007 berargumen bahwa norma ASEAN hanya menopang interaksi antarpemerintah yang terbatas dan kaku secara birokratis, sehingga organisasi itu hanya sekuat yang dikehendaki anggotanya. Tahun 2025–2026 memberi data baru untuk menguji kedua posisi. Fakta bahwa dua anggota ASEAN saling menggunakan artileri berat dan serangan udara secara langsung menggugat tesis komunitas keamanan dalam bentuk kuatnya, sedangkan fakta bahwa pertempuran itu dihentikan dua kali dalam enam bulan dan tidak meluas ke negara lain memberi sebagian pembenaran pada versi tipisnya. Kajian ini berpihak pada posisi tengah: ASEAN Way adalah teknologi penahanan yang berhasil, tetapi teknologi penyelesaian yang gagal.

    Dari sudut pandang Indonesia, perdebatan ini juga memiliki genealogi lokal. Artikel tahun 2011 berjudul Redefinisi “Perbatasan dan Keamanan” di Asia Tenggara dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik mengusulkan agar perbatasan dibaca sebagai ruang ketahanan sosial, bukan sekadar garis militer. Paparan tahun 2025 berjudul Transformasi Geopolitik Asia Tenggara dalam seri Geopolitik Master menelusuri evolusi peran ASEAN dari era kolonial hingga rivalitas Amerika Serikat–Tiongkok di Indo-Pasifik. Kedua karya itu membantu menjelaskan mengapa sengketa batas Thailand–Kamboja tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan peta.

    Catatan metode. Analisis ini menggunakan penelusuran proses (process tracing) atas dokumen resmi ASEAN, deklarasi bilateral, rilis kementerian luar negeri, laporan lembaga riset, dan pemberitaan yang dapat diverifikasi hingga 23 Oktober 2026. Setiap penilaian kunci diberi tingkat keyakinan: tinggi bila didukung oleh beberapa sumber independen dan dokumen primer; sedang bila bertumpu pada satu sumber primer atau pada kesimpulan analitis yang wajar; rendah bila bersifat spekulatif atau bergantung pada informasi yang belum terkonfirmasi. Perbandingan internasional dipilih berdasarkan kemiripan fungsional, bukan kemiripan budaya: Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika, misi lapangan OSCE, dan mekanisme Biketawa Forum Kepulauan Pasifik. Karena data korban dan pengungsi berbeda antarsumber, kajian ini selalu menyebut sumbernya dan tidak menjumlahkan angka dari sumber yang berbeda.

    III

    Ujian Pertama: Perbatasan Thailand–Kamboja dan Batas Diplomasi Ketua Bergilir

    Kronologinya perlu dibaca dengan cermat karena di sanalah anatomi kelemahan ASEAN terlihat. Pada akhir Juli 2025, ketegangan perbatasan meledak menjadi pertukaran tembakan artileri berat yang meluas, pertempuran terberat antara kedua negara dalam lebih dari satu dekade. Setelah lima hari, gencatan senjata berlaku pada 28–29 Juli 2025 melalui perundingan darurat di Putrajaya yang dipimpin Malaysia sebagai ketua ASEAN, dengan kehadiran perwakilan Amerika Serikat dan Tiongkok. Sekretaris Jenderal PBB menyambut gencatan senjata itu. Tiga bulan kemudian, di sela KTT ke-47, Perdana Menteri Hun Manet dan Anutin Charnvirakul menandatangani Deklarasi Bersama pada 26 Oktober 2025, yang kemudian dikenal sebagai Kesepakatan Damai Kuala Lumpur, dengan Presiden Trump dan Anwar Ibrahim sebagai saksi.

    Isi deklarasi itu, di atas kertas, adalah lompatan kelembagaan. Kerangka acuan Tim Pengamat ASEAN (ASEAN Observer Team, AOT) ditandatangani bersamaan, dengan mandat memastikan gencatan senjata dilaksanakan dan melapor kepada ASEAN, mengawasi penarikan senjata berat dari wilayah perbatasan, mendukung pembersihan ranjau bersama, serta pembebasan tawanan perang. PBB menyambut deklarasi itu sebagai konsolidasi gencatan senjata Juli. Untuk pertama kalinya, ASEAN menempatkan personel berseragam dengan mandat verifikasi di wilayah sengketa antaranggota. Bandingkan dengan 2011, ketika menurut catatan Jonathan Prentice dari International Crisis Group rencana pengiriman 15 pengamat Indonesia ke masing-masing sisi perbatasan di sekitar Preah Vihear tidak pernah terlaksana karena Thailand tidak menandatangani kerangka acuannya, bahkan setelah Mahkamah Internasional memerintahkan penempatan pengamat pada Juli 2011.

    Namun lompatan itu rapuh. Pada 10 November 2025, setelah ranjau melukai prajurit Thailand yang berpatroli di Provinsi Sisaket, Bangkok menangguhkan pelaksanaan kesepakatan dengan tuduhan bahwa ranjau itu baru dipasang, tuduhan yang dibantah Phnom Penh. Pada 8 Desember 2025, pertempuran pecah kembali disertai serangan udara Thailand. Menurut Al Jazeera, sekitar dua puluh hari pertempuran putaran kedua menewaskan lebih dari 100 orang dan memaksa lebih dari setengah juta warga sipil mengungsi. Gencatan senjata baru ditandatangani pada 27 Desember 2025 oleh menteri pertahanan kedua negara dalam pertemuan khusus Komite Perbatasan Umum di Chanthaburi, dengan ketentuan bahwa pasukan tetap di posisi masing-masing dan AOT memantau pelaksanaannya.

    Detail yang paling penting secara analitis terjadi sehari kemudian. Pada 28–29 Desember 2025, menteri luar negeri dan pejabat militer senior Tiongkok, Kamboja, dan Thailand bertemu di Danau Fuxian, Yunnan. Siaran pers Kementerian Luar Negeri Tiongkok mencatat bahwa Beijing menjanjikan dukungan bagi Komisi Batas Bersama, pembersihan ranjau, dan AOT, serta menawarkan diri sebagai platform perundingan lanjutan. Laporan Crisis Group menyebut gencatan senjata akhir tahun itu dicapai dengan bantuan Tiongkok. Dengan keyakinan tinggi, kajian ini menyimpulkan bahwa pada momen paling kritis, fungsi penahanan dijalankan oleh kombinasi mekanisme bilateral dan patron eksternal, sedangkan ASEAN berperan sebagai penyedia legitimasi dan personel pemantau, bukan sebagai penengah utama.

    Tahun 2026 memperlihatkan bahwa gencatan senjata bertahan, tetapi perdamaian tidak bergerak. Anutin membubarkan parlemen pada Desember 2025 dan memenangi pemilu Februari 2026 sebagian karena sikap kerasnya terhadap Kamboja. Pada Mei 2026, Thailand menarik diri dari MOU 44 tahun 2001 tentang klaim maritim yang tumpang-tindih, dan Kamboja membalas dengan memulai konsiliasi wajib di bawah UNCLOS, proses yang menurut Crisis Group akan memakan waktu sedikitnya setahun. Pertemuan trilateral Marcos, Hun Manet, dan Anutin di Cebu pada 7 Mei 2026 disambut dalam Komunike Bersama Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN ke-59 tanggal 21 Juli 2026 sebagai momentum membangun kepercayaan, tetapi Komisi Batas Bersama belum bersidang kembali dan kerja sama pembersihan ranjau tetap tertunda.

    Di lapangan, AOT bekerja dalam batas yang sempit. Kepemimpinannya beralih dari Malaysia ke Angkatan Bersenjata Filipina pada Februari 2026, Jepang menjadi kontributor non-ASEAN pertama, dan rincian anggaran, jumlah personel, maupun mekanisme pelaporannya tidak dipublikasikan. The Cambodia Daily melaporkan bahwa pada 8 Agustus 2026 tim pengamat yang dipimpin perwira Filipina memeriksa area sengketa di penanda perbatasan 37 di Banteay Meanchey, sementara Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow menolak laporan Pelapor Khusus PBB Tom Andrews tentang pengungsi sebagai berat sebelah. Pengamat dapat melihat, tetapi tidak dapat menyimpulkan secara publik, apalagi memaksa. Seperti dicatat Crisis Group, Filipina sebagai ketua tidak berada dalam posisi untuk mendorong dialog, Amerika Serikat tidak lagi menengahi, dan Tiongkok dapat mengundang perundingan tetapi tidak akan memaksakan kesepakatan.

    ASEAN berhasil menghentikan perang dua kali dalam enam bulan, tetapi belum sekali pun berhasil memulai perdamaian.
    IV

    Ujian Kedua: Myanmar Pascapemilu dan Nasib Konsensus Lima Butir

    Konsensus Lima Butir lahir dalam Pertemuan Pemimpin ASEAN di Jakarta pada 24 April 2021, kurang dari tiga bulan setelah kudeta, dan memuat lima tuntutan: penghentian kekerasan, dialog konstruktif semua pihak, mediasi oleh utusan khusus, bantuan kemanusiaan, dan kunjungan utusan khusus untuk bertemu semua pihak. Min Aung Hlaing hadir dalam pertemuan itu. Lima tahun kemudian, junta menyelenggarakan pemilu dalam tiga tahap, yakni 28 Desember 2025, 11 Januari 2026, dan 25 Januari 2026, dengan 56 kota kecamatan dikecualikan dan Partai Solidaritas dan Pembangunan Persatuan (USDP) meraih mayoritas di kedua kamar. Pada 29 Januari 2026, Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro, yang juga menjabat Utusan Khusus Ketua ASEAN untuk Myanmar, menegaskan bahwa ASEAN “untuk saat ini” tidak mengesahkan ketiga tahap pemilu itu.

    Peristiwa berikutnya bergerak lebih cepat daripada posisi ASEAN. Min Aung Hlaing dilantik sebagai presiden pada 10 April 2026, padahal jaksa Mahkamah Pidana Internasional telah mengajukan permohonan surat perintah penangkapan terhadapnya pada November 2024 atas kejahatan terhadap kemanusiaan yang dialami Rohingya. Menteri luar negeri Thailand berkunjung ke Naypyidaw pada April, Malaysia pada Mei, dan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono pada 8 Juni 2026, kunjungan menteri Indonesia pertama sejak kudeta, yang dibaca analis ISEAS Joanne Lin sebagai “kalibrasi ulang yang pragmatis” sekaligus berisiko melegitimasi militer tanpa kemajuan di lapangan. Pada 6 Agustus 2026, Min Aung Hlaing tiba di Bangkok untuk kunjungan pertamanya ke Thailand sebagai pemimpin sipil, dengan Bangkok memimpin upaya normalisasi baik secara bilateral maupun melalui ASEAN.

    Sementara itu, pihak yang seharusnya melaksanakan konsensus menyangkalnya. Dalam pidato seratus hari kepresidenan di parlemen pada 31 Juli 2026, Min Aung Hlaing menyatakan bahwa Konsensus Lima Butir “bukan konsensus semua negara anggota ASEAN”, melainkan sekadar pernyataan ketua tahun 2021, dan menuduh sebagian anggota bersikap diskriminatif. Pada 13 Oktober 2026, Kementerian Luar Negeri Myanmar menggelar rapat pertama Komite Urusan ASEAN yang dipimpin Menteri Luar Negeri Than Swe, yang menegaskan bahwa Myanmar akan berhubungan dengan anggota ASEAN secara individual sesuai prioritasnya sendiri. Strateginya jelas: memecah posisi kolektif menjadi serangkaian hubungan bilateral yang dapat dinegosiasikan satu per satu.

    Di atas kertas, ASEAN bertahan. Komunike 21 Juli 2026 menyebut Konsensus Lima Butir sebagai “rujukan utama”, mendesak penghentian segera kekerasan tanpa pandang bulu, mencatat diskusi informal di Bangkok pada 12 Juli 2026 tentang cara menilai kemajuan, dan menantikan kunjungan Lazaro ke Myanmar pada kuartal terakhir 2026 serta tinjauan menyeluruh atas konsensus itu yang akan diserahkan ke KTT ke-49. Representasi politik junta masih dikecualikan dari KTT, dan pada KTT ke-48 di Cebu Myanmar hanya diwakili sekretaris tetap kementerian luar negerinya. Namun di lapangan, menurut pembaruan kemanusiaan OCHA tertanggal 13 Juli 2026, hampir 3,8 juta orang mengungsi dan baru 43 persen dari kebutuhan dana 890 juta dolar AS yang terpenuhi. Rencana Respons Kemanusiaan 2026 mencatat 16,2 juta orang membutuhkan bantuan.

    Keanggotaan Timor-Leste menambah dimensi baru yang belum diantisipasi. Pada Januari 2026, Chin Human Rights Organisation mengajukan perkara berbasis yurisdiksi universal terhadap sepuluh petinggi junta, dan otoritas Timor-Leste membuka proses hukum pada awal Februari. Human Rights Watch mencatat bahwa pada 13 Februari 2026 junta memerintahkan kepala kedutaan Timor-Leste di Yangon meninggalkan negara itu dalam tujuh hari. Untuk pertama kalinya, satu anggota ASEAN menempuh jalur pidana terhadap pemimpin anggota lain. Dengan keyakinan sedang, kajian ini menilai bahwa perkara ini lebih menantang prinsip nonintervensi daripada seluruh tekanan diplomatik sejak 2021, karena ia berlangsung di ranah peradilan domestik yang tidak dapat dibatalkan oleh konsensus regional.

    Kesimpulan untuk ujian kedua bernuansa. Konsensus Lima Butir gagal sebagai peta jalan perdamaian, tetapi tetap berguna sebagai standar evaluasi. Kekeliruan terbesar ASEAN bukan pada isinya, melainkan pada ketiadaan tolok ukur dan tenggat. Penilaian ISEAS bahwa pendekatan ASEAN belum berdampak signifikan, dan bahwa pandangan negara anggota terus berbeda, menggambarkan sebuah kebijakan yang bertahan karena tidak ada pengganti yang disepakati, bukan karena ia bekerja. Keyakinan tinggi: tanpa tolok ukur yang dapat diverifikasi, normalisasi bertahap akan terjadi melalui akumulasi kunjungan bilateral, bukan melalui keputusan kolektif.

    V

    Ujian Ketiga: Kode Tata Perilaku Laut China Selatan dan Godaan Dokumen Kosong

    Ujian ketiga berbeda sifatnya karena pihak utamanya bukan anggota ASEAN. Kajian ini tidak membahas kerja sama maritim bilateral atau wilayah tertentu, melainkan menempatkan COC sebagai ujian bagi kemampuan ASEAN merundingkan aturan bersama dengan kekuatan besar. Sejak Deklarasi Tata Perilaku 2002 yang tidak mengikat secara hukum, lebih dari dua puluh empat tahun berlalu tanpa aturan yang mengikat. Komunike Juli 2026 menyambut “kemajuan signifikan” dan menargetkan COC yang efektif dan substantif rampung “dalam tahun ini”, sesuai dengan UNCLOS, sambil mencatat kekhawatiran sebagian menteri tentang reklamasi, insiden serius, dan kerusakan lingkungan.

    Sinyal dari Manila sendiri tidak meyakinkan. Pada 8 Oktober 2026, di Forbes Global CEO Conference di Singapura, Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyebut perundingan membuat “kemajuan baik”, tetapi mengakui ia tidak tahu apakah resolusi dapat ditemukan, bahwa “definisi kata-kata biasa menjadi tulang perselisihan”, dan bahwa Filipina “pasrah untuk sekadar mengelola masalah”. Dari Beijing, Wu Shicun, presiden pendiri National Institute for South China Sea Studies, menyatakan kepada South China Morning Post bahwa dokumen yang ditandatangani tahun ini “100 persen tidak mungkin” karena Manila pasti akan mengangkat putusan arbitrase 2016. Hai Hong Nguyen dari VinUniversity, dalam analisis untuk Asialink tertanggal 18 Oktober 2026, melaporkan bahwa peserta Konferensi Internasional Laut China Selatan ke-18 di Hanoi tidak mengharapkan terobosan dalam waktu dekat.

    Nguyen mengidentifikasi lima titik buntu yang belum terselesaikan: cakupan geografis, termasuk penolakan Tiongkok agar sengketa Paracel dimasukkan; kekuatan hukum, yakni mengikat atau sekadar deklarasi politik; definisi pengekangan diri atas reklamasi, militerisasi, dan pelecehan kapal; mekanisme pengawasan kepatuhan; dan penyelesaian sengketa atas dugaan pelanggaran. Tang Siew Mun, mantan direktur politik-keamanan Sekretariat ASEAN, dalam Konferensi Laut China Selatan MIMA pada 16 Oktober 2026 mengusulkan agar ASEAN menghidupkan kembali kaukus internal untuk menyepakati posisi bersama sebelum berunding dengan Tiongkok, mengingatkan bahwa kesepakatan yang ditandatangani tidak boleh otomatis dirayakan, dan menyarankan agar ASEAN meninjau ulang seluruh proses bila tidak ada kesepakatan hingga akhir 2026.

    Inti masalahnya adalah asimetri struktural yang tidak dapat diatasi oleh konsensus. Dalam perundingan dengan Tiongkok, konsensus ASEAN bekerja secara terbalik: setiap anggota yang tidak memiliki klaim, atau yang bergantung secara ekonomi pada Beijing, dapat mencegah posisi ASEAN menjadi lebih tegas, sedangkan Tiongkok cukup menunggu sampai rumusan yang paling lunak disepakati. Buku tahun 2026 berjudul The Beijing Factor in Southeast Asia berargumen bahwa kehadiran Tiongkok tidak otomatis menjadi pengaruh, dan pengaruh tidak otomatis menjadi kendali, karena negara-negara Asia Tenggara bernegosiasi, melakukan lindung nilai, dan mendiversifikasi. Argumen itu benar pada tingkat negara; pada tingkat perundingan kolektif, justru keragaman strategi itulah yang memperlemah daya tawar bersama.

    Dengan keyakinan sedang, kajian ini menilai bahwa hasil paling mungkin di Manila bukan COC lengkap yang mengikat, melainkan pernyataan kemajuan atau dokumen kerangka yang menunda isu-isu inti. Risiko terbesarnya bukan kegagalan perundingan, melainkan keberhasilan semu: sebuah teks yang memungkinkan semua pihak mengklaim kemenangan tanpa mengubah perilaku di laut. Tolok ukur yang tepat, sebagaimana diusulkan Nguyen, adalah berkurangnya insiden dan kejelasan aturan yang dapat ditegakkan. Dari perspektif arsitektur konflik, ujian ketiga menunjukkan bahwa kelemahan ASEAN pada anak tangga verifikasi dan penyelesaian terbawa ke meja perundingan eksternal: tanpa mekanisme pengawasan sendiri, ASEAN tidak dapat menuntut mekanisme pengawasan dalam COC secara kredibel.

    VI

    Diagnosis Sistemik: Lima Cacat Desain yang Terungkap oleh Tiga Ujian

    Cacat pertama adalah ketergantungan pada ketua bergilir. Hampir setiap langkah penting antara Juli dan Oktober 2025 lahir dari inisiatif pribadi Anwar Ibrahim sebagai ketua, mulai dari perundingan Putrajaya hingga AOT yang awalnya hanya berupa detasemen sepuluh orang personel Malaysia. Ketika keketuaan beralih ke Filipina, energi itu tidak berpindah bersamanya, karena Manila sendiri merupakan pihak dalam sengketa Laut China Selatan dan sedang menavigasi hubungan yang sensitif dengan Beijing. Keketuaan juga tidak netral secara struktural: tahun 2026 diambil alih Filipina karena giliran Myanmar dilewati, dan pada 2027 Singapura akan mengambil alih keketuaan, sebagaimana dikonfirmasi Perdana Menteri Lawrence Wong pada 15 Juli 2026. Setiap pergantian ketua berarti memori kelembagaan, jaringan personal, dan prioritas ikut berganti. ISEAS menyebut kontribusi ASEAN dalam krisis Thailand–Kamboja bersifat inkremental karena dibatasi kendala kelembagaan dan ketergantungan pada ketua bergilir.

    Cacat kedua adalah hak veto implisit dari pihak yang bersengketa. Pasal 14 hingga 16 Traktat Persahabatan dan Kerja Sama 1976 memang membentuk Dewan Tinggi tingkat menteri yang dapat merekomendasikan jasa baik, mediasi, penyelidikan, atau konsiliasi, tetapi Pasal 16 menetapkan bahwa prosedur itu hanya berlaku bila semua pihak dalam sengketa menyetujuinya. Akibatnya, sebagaimana dicatat Dewi Fortuna Anwar dalam The Jakarta Post pada 5 Maret 2026, Dewan Tinggi tidak pernah sekali pun diaktifkan untuk menengahi sengketa, termasuk dalam konflik Thailand–Kamboja 2008–2011 dan 2025. Ironisnya, komunike Juli 2026 mencatat aksesi Lituania, Polandia, Rumania, dan Swedia ke TAC bertepatan dengan peringatan lima puluh tahunnya. Traktat itu semakin menarik bagi pihak luar justru ketika mekanisme intinya tidak pernah dipakai oleh anggota sendiri.

    Cacat ketiga adalah mandat tanpa verifikasi. Konsensus Lima Butir tidak memiliki tolok ukur, tenggat, atau mekanisme pemantauan; Deklarasi Kuala Lumpur memiliki AOT, tetapi laporannya tidak dipublikasikan dan tidak ada prosedur yang menentukan apa yang terjadi bila pelanggaran terverifikasi. Cacat keempat adalah substitusi oleh patron eksternal. Pada Oktober 2025, legitimasi kesepakatan diperkuat oleh kehadiran Presiden Amerika Serikat; pada Desember 2025, AOT memanfaatkan citra satelit Amerika Serikat; pada akhir Desember, Tiongkok membuka jalur Fuxian; Jepang memasok peralatan. Masing-masing kontribusi itu berguna, tetapi secara kolektif ia menandakan bahwa ASEAN meminjam kapasitas yang semestinya dimilikinya sendiri, dan pinjaman itu datang dengan kepentingan pemberi pinjaman.

    Cacat kelima adalah heterogenitas yang meningkat akibat perluasan. Dengan sebelas anggota, jumlah kemungkinan pemveto bertambah, dan, lebih penting, rentang preferensi normatif melebar. Timor-Leste membawa tradisi pascakonflik yang sangat peka terhadap impunitas, sementara Thailand mendorong normalisasi penuh dengan Myanmar. Komunike Juli 2026 mencatat bahwa Timor-Leste masih harus memenuhi kriteria peta jalan keanggotaan penuh, termasuk aksesi ke berbagai perjanjian ASEAN. Analisis tentang Thailand Selatan yang diterbitkan KBA13 Insight pada 27 September 2026, Patani di Antara Bangkok dan Kuala Lumpur, merumuskan mekanisme yang sama dari arah lain: ASEAN tidak menghapus intervensi, tetapi memindahkannya dari ruang multilateral yang terlihat ke ruang bilateral yang tertutup. Kelima cacat ini saling memperkuat. Ketua bergilir tidak dapat mengatasi veto pihak bersengketa, ketiadaan verifikasi membuat veto itu tidak berbiaya, dan patron eksternal mengisi kekosongan dengan agenda mereka sendiri.

    Membaca Ulang Arsip: ASEAN Paling Kuat di Ranah Fungsional

    Pada tahun 2014, Maria Guevara dari Médecins Sans Frontières dalam harian Kompas yang berjudul Peran ASEAN dalam Melawan Ebola mendesak ASEAN memanfaatkan pengalaman satu dekade kesiapsiagaan pandemi pasca-SARS untuk menunjukkan kepemimpinan dalam krisis lintas batas. Artikel itu mengingatkan pola yang konsisten: ASEAN membangun kapasitas kelembagaan paling cepat di ranah fungsional seperti kesehatan, bencana, dan maritim nontradisional, karena ranah itu tidak menyentuh kedaulatan inti. Komunike Juli 2026 menegaskan pola ini dengan daftar lembaga baru, dari Pusat Maritim ASEAN di Filipina hingga Forum Penjaga Pantai ASEAN. Pelajaran bagi arsitektur konflik adalah bahwa jalan paling realistis untuk memperkuat verifikasi adalah membingkainya sebagai fungsi teknis, bukan sebagai intervensi politik.

    VII

    Perbandingan Internasional: Uni Afrika, OSCE, dan Forum Kepulauan Pasifik

    Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika menawarkan kontras paling tajam. Protokol pembentukannya diadopsi di Durban pada 9 Juli 2002 dan berlaku sejak Desember 2003, dengan lima belas anggota yang memiliki hak suara setara dan tanpa anggota tetap. Dewan ini ditopang empat pilar: Panel of the Wise yang terdiri atas lima tokoh untuk diplomasi preventif, Sistem Peringatan Dini Kontinental dengan ruang situasi yang bekerja sepanjang waktu, Pasukan Siaga Afrika, dan Dana Perdamaian. Dewan ini berwenang menjatuhkan sanksi bila terjadi perubahan pemerintahan yang inkonstitusional dan dapat merekomendasikan intervensi Majelis dalam kasus kejahatan perang, genosida, atau kejahatan terhadap kemanusiaan. Pelajaran pentingnya bukan bahwa ASEAN perlu meniru kewenangan intervensi, yang mustahil secara politik di Asia Tenggara, melainkan bahwa keanggotaan dewan yang terbatas dan bergilir memungkinkan keputusan diambil tanpa persetujuan seluruh anggota, sementara ruang situasi permanen memisahkan fungsi peringatan dini dari siklus politik ketua.

    OSCE menawarkan pelajaran tentang verifikasi dan sekaligus tentang batasnya. Pusat Pencegahan Konflik OSCE didirikan pada 1990 di bawah Piagam Paris untuk Eropa Baru dan berfungsi sebagai simpul peringatan dini serta penghubung harian bagi misi-misi lapangan. Misi Pemantauan Khusus di Ukraina dibentuk pada 21 Maret 2014, kapasitas maksimumnya dinaikkan menjadi 1.000 pemantau pada Maret 2015, dan misi itu menerbitkan laporan harian yang terbuka untuk publik. Laporan harian terakhirnya, tertanggal 23 Februari 2022, mencatat 1.420 ledakan pada hari sebelumnya. Namun misi itu berakhir pada 31 Maret 2022 karena perpanjangan mandatnya, yang memerlukan konsensus, diblokir Rusia. Pelajaran ganda bagi ASEAN: transparansi laporan pemantauan menciptakan biaya reputasi bagi pelanggar, tetapi selama mandat bergantung pada konsensus yang mencakup pihak bersengketa, misi dapat dibunuh oleh pihak yang paling dirugikan oleh transparansi itu.

    Forum Kepulauan Pasifik menyediakan model yang paling dekat dengan budaya diplomatik ASEAN. Deklarasi Biketawa yang disepakati di Kiribati pada Oktober 2000, di tengah kudeta Fiji dan ketegangan etnis di Kepulauan Solomon, memungkinkan Sekretaris Jenderal Forum dan para anggota merumuskan respons atas krisis, mulai dari mediasi hingga dukungan kelembagaan. Atas dasar itu lahir Misi Bantuan Regional untuk Kepulauan Solomon (RAMSI) yang berlangsung 2003–2017 atas undangan pemerintah setempat, dan Fiji ditangguhkan keanggotaannya pada 2009 hingga 2014. Deklarasi Boe 2018 memperluas cakupannya sekaligus menegaskan hak berdaulat setiap anggota atas urusan dalam negerinya. Model Pasifik membuktikan bahwa penghormatan kedaulatan dan mekanisme respons kolektif yang dipicu undangan tidak saling meniadakan.

    Dibaca bersama, ketiga kasus ini menunjukkan spektrum pilihan desain. Uni Afrika memilih kewenangan kuat dengan pelaksanaan yang sering terkendala dana; OSCE memilih verifikasi transparan dengan mandat yang rapuh; Pasifik memilih mekanisme berbasis undangan dengan dukungan negara besar anggotanya, Australia dan Selandia Baru. Kajian ini menilai, dengan keyakinan sedang, bahwa ASEAN paling realistis menggabungkan tiga unsur: ruang situasi dan dewan terbatas ala Uni Afrika tanpa kewenangan intervensinya, pelaporan transparan ala OSCE dengan mandat yang tidak dapat dibatalkan oleh satu pihak bersengketa, dan pemicu berbasis undangan ala Biketawa. Kombinasi itu tidak menuntut ASEAN meninggalkan nonintervensi, tetapi menuntutnya mendefinisikan ulang nonintervensi sebagai larangan pemaksaan, bukan larangan pengamatan.

    VIII

    Argumen Tandingan yang Dikuatkan: Mengapa ASEAN Way Mungkin Justru Benar

    Argumen tandingan terkuat layak dirumuskan dalam bentuk terbaiknya. Pertama, ASEAN Way telah mencegah perang antarnegara berskala besar di kawasan yang pada 1960-an dan 1970-an menjadi medan konfrontasi dan perang proksi; sejak Deklarasi Bangkok 8 Agustus 1967, tidak ada konflik antaranggota yang meluas menjadi perang regional. Kedua, pertempuran Thailand–Kamboja dua kali dihentikan dalam enam bulan, dan meskipun ASEAN bukan satu-satunya aktor, kerangka ASEAN-lah yang menyediakan tempat, personel pemantau, dan bahasa bersama. Ketiga, pelembagaan yang lebih keras berisiko mendorong anggota yang paling sensitif terhadap kedaulatan, seperti Myanmar, Vietnam, Laos, atau bahkan Thailand, menjauh dari ASEAN dan mendekat ke patron eksternal, sehingga merusak inklusivitas yang menjadi aset terbesar organisasi ini. Keempat, contoh OSCE membuktikan bahwa mekanisme yang lebih kuat pun dapat dilumpuhkan oleh satu veto. Kelima, konflik keras di Asia Tenggara berakar pada nasionalisme domestik, sehingga tidak ada arsitektur regional yang dapat menggantikan kehendak politik di Bangkok, Phnom Penh, atau Naypyidaw.

    Kajian ini menerima sebagian besar premis itu, tetapi menolak kesimpulannya. Benar bahwa ASEAN Way efektif sebagai mekanisme penahanan; justru karena itu, menambahkan kapasitas verifikasi tidak berarti mengganti fondasinya, melainkan menambah lantai di atasnya. Benar bahwa pelembagaan berisiko mengasingkan anggota tertentu; karena itu usulan dalam kajian ini disusun dengan pemicu berbasis persetujuan dan formula keikutsertaan sukarela, bukan kewenangan memaksa. Benar bahwa mekanisme OSCE dibunuh oleh veto; karena itu usulan ini memisahkan keputusan pembentukan misi, yang memerlukan persetujuan pihak bersengketa, dari keputusan perpanjangan dan publikasi laporan, yang tidak boleh dapat diveto oleh satu pihak. Benar bahwa nasionalisme domestik adalah akar konflik; namun nasionalisme justru tumbuh subur dalam ketiadaan fakta yang diverifikasi secara independen, ketika setiap ranjau dan setiap tembakan dapat diklaim sebagai provokasi pihak lain.

    Argumen tandingan juga mengabaikan biaya ketidakbertindakan yang kini terukur. Menurut ICG, Thailand menguasai sebagian besar area sengketa ketika pertempuran berhenti, sehingga status quo bukan titik netral, melainkan hasil perang yang dibekukan. Tanpa mekanisme penyelesaian, ASEAN secara diam-diam mengesahkan prinsip bahwa kekuatan militer menentukan garis di lapangan, prinsip yang bertentangan langsung dengan Piagam dan TAC. Dalam kasus Myanmar, ketiadaan tolok ukur memungkinkan normalisasi terjadi tanpa konsesi. Dengan keyakinan tinggi, kajian ini menyimpulkan bahwa pilihan sebenarnya bukan antara ASEAN Way dan intervensionisme, melainkan antara ASEAN Way yang dilengkapi instrumen verifikasi dan ASEAN Way yang perlahan digantikan oleh mediasi kekuatan besar.

    IX

    Arsitektur yang Diusulkan: Lima Lapis Manajemen Konflik ASEAN

    Lapis pertama adalah Mekanisme Pemantauan dan Verifikasi ASEAN yang permanen. AOT harus diubah dari tim ad hoc yang dipimpin militer negara ketua menjadi unit tetap di bawah Sekretariat ASEAN, dengan daftar perwira dan sipil terlatih yang dicalonkan oleh semua anggota, kepala misi yang ditunjuk untuk masa tiga tahun terlepas dari pergantian ketua, serta dana khusus yang dapat menerima kontribusi mitra wicara tanpa memberi mereka kendali operasional. Pembentukan misi baru tetap memerlukan persetujuan negara yang wilayahnya dipantau, sesuai prinsip nonintervensi. Namun begitu misi dibentuk, laporan berkala harus diterbitkan secara ringkas kepada publik, dan perpanjangan mandat harus berlangsung otomatis kecuali dihentikan oleh konsensus tanpa pihak bersengketa. Modal awalnya sudah ada: kerangka acuan AOT dalam Deklarasi Kuala Lumpur, pengalaman kepemimpinan dua negara, kontribusi personel Jepang, dan rencana perluasan yang diumumkan Panglima Angkatan Bersenjata Filipina pada 2026.

    Lapis kedua adalah aktivasi Dewan Tinggi TAC. Mengubah Pasal 16 traktat memerlukan amandemen yang berat secara politik, tetapi aturan prosedur Dewan Tinggi dapat direvisi oleh para menteri. Kajian ini mengusulkan tiga perubahan prosedural: Sekretaris Jenderal ASEAN atau troika ketua (ketua sebelumnya, ketua saat ini, dan ketua berikutnya) dapat mengajukan sebuah situasi untuk “dicatat” oleh Dewan Tinggi tanpa permintaan pihak bersengketa, sebagaimana dimungkinkan oleh rumusan Pasal 14 yang berbicara tentang sengketa atau situasi yang dapat mengganggu perdamaian; para pihak yang menolak prosedur penyelesaian wajib menyampaikan alasan tertulis kepada Dewan; dan Dewan dapat membentuk panel pencari fakta yang laporannya diserahkan kepada para pemimpin. Langkah ini tidak memaksakan penyelesaian, tetapi menaikkan biaya politik untuk menolak mediasi, dan menjawab seruan Dewi Fortuna Anwar agar Dewan Tinggi berubah dari konstruksi teoretis menjadi forum yang dapat diakses.

    Lapis ketiga adalah transformasi AIPR menjadi simpul peringatan dini. Institut ini dibentuk melalui pernyataan bersama KTT ke-18 pada 8 Mei 2011, tetapi diskusi perwakilan Indonesia dan Thailand di Dewan Pengurusnya pada 20 April 2026 justru mengarahkan kerjanya pada isu keamanan nontradisional seperti perubahan iklim, pangan, energi, dan kejahatan lintas negara. Komunike Juli 2026 memuji riset, advokasi, dan keterlibatan AIPR di bidang pembangunan perdamaian serta agenda perempuan, perdamaian, dan keamanan. Semua itu bernilai, tetapi kawasan memerlukan lebih: sebuah ruang situasi kecil di Jakarta yang memantau indikator eskalasi di titik-titik rawan, menyusun laporan rahasia bulanan bagi Sekretaris Jenderal dan troika, serta mengelola daftar mediator ASEAN yang dapat dikerahkan cepat. Laporan tahunan AIPR 2025 dan proses perekrutan direktur eksekutif periode 2027–2029 memberi momen alami untuk menulis ulang mandat itu.

    Lapis keempat adalah formula “ASEAN minus X” untuk politik-keamanan. Formula ini sudah lama diterima dalam komitmen ekonomi; Piagam ASEAN yang ditandatangani di Singapura pada 20 November 2007 menjadikan konsultasi dan konsensus sebagai prinsip dasar pengambilan keputusan, tetapi memberi ruang bagi Konferensi Tingkat Tinggi untuk menentukan cara lain bila konsensus tidak tercapai. Kajian ini mengusulkan agar KTT mengadopsi pedoman yang memungkinkan sekelompok anggota yang bersedia, dengan persetujuan negara tuan rumah, menjalankan misi pemantauan, pengiriman bantuan kemanusiaan lintas garis konflik, atau fasilitasi dialog atas nama ASEAN, sementara anggota yang tidak ikut tidak dapat memblokirnya tetapi juga tidak terikat. Untuk Myanmar, formula ini memungkinkan kelompok kontak beberapa negara bekerja dengan tolok ukur yang jelas, tanpa menunggu persetujuan Naypyidaw atas setiap langkah ASEAN.

    Lapis kelima adalah peran Indonesia sebagai jangkar kelembagaan. Indonesia memiliki kombinasi yang tidak dimiliki anggota lain: ukuran, tradisi mediasi dari Kamboja 1980-an hingga Preah Vihear 2011, kedudukan Sekretariat ASEAN dan AIPR di Jakarta, serta ketiadaan sengketa langsung dengan Thailand, Kamboja, atau Myanmar. Pada 28 Januari 2026, dalam konsultasi informal di Cebu, Menteri Luar Negeri Sugiono menawarkan fasilitasi dialog inklusif dan berbagi pengalaman Indonesia tentang otonomi daerah. Tawaran itu perlu diterjemahkan menjadi komitmen kelembagaan: kontribusi dana awal bagi mekanisme pemantauan, perwira untuk daftar pengamat, dan kepemimpinan dalam merancang pedoman ASEAN minus X. Pengalaman Filipina sendiri relevan di sini. Pada tahun 2005, Anthony Spaeth dalam majalah TIME edisi Asia yang berjudul Under the Gun memotret militer Filipina yang kelelahan menghadapi pemberontakan berkepanjangan di selatan; proses damai Bangsamoro kemudian justru bergerak maju berkat fasilitasi pihak ketiga dari kawasan. Negara anggota ASEAN telah berulang kali menerima mediasi regional untuk konflik internal mereka; yang belum ada adalah wadah kelembagaan yang membuat praktik itu dapat diandalkan.

    Prinsip Desain: Nonintervensi sebagai Larangan Pemaksaan, Bukan Larangan Pengamatan

    Kelima lapis di atas bertumpu pada satu reinterpretasi. Nonintervensi dipertahankan sepenuhnya dalam arti larangan penggunaan kekuatan, sanksi, atau perubahan rezim dari luar. Namun pengamatan yang disetujui, pencatatan fakta, dan publikasi laporan tidak diperlakukan sebagai intervensi, karena semuanya memperkuat, bukan melemahkan, komitmen yang telah ditandatangani negara anggota sendiri dalam Piagam, TAC, dan deklarasi bilateral. Reinterpretasi ini dapat diadopsi melalui deklarasi pemimpin tanpa amandemen traktat.

    X

    Skenario hingga 2028 dan Indikator yang Perlu Dipantau

    Empat skenario disusun berdasarkan dua ketidakpastian kunci: apakah ASEAN melembagakan kapasitas verifikasi atau tetap bergantung pada ketua bergilir, dan apakah ketiga konflik bergerak menuju pembekuan yang stabil atau kambuh. Skenario pertama, pengelolaan tambal-sulam, adalah kelanjutan pola 2026: gencatan senjata Thailand–Kamboja bertahan dengan insiden sporadis, Myanmar dinormalisasi secara bertahap melalui hubungan bilateral, dan COC menghasilkan dokumen kerangka atau pernyataan kemajuan tanpa mekanisme pengawasan. Skenario kedua, fragmentasi dan normalisasi tanpa syarat, adalah keadaan ketika Myanmar diterima kembali tanpa tolok ukur, perbatasan Thailand–Kamboja kembali memanas, dan COC ditandatangani sebagai teks simbolis. Skenario ketiga, pelembagaan bertahap, terjadi bila KTT Manila memberi mandat dan Singapura sebagai ketua 2027 menuntaskan kerangka mekanisme pemantauan permanen serta revisi aturan prosedur Dewan Tinggi menjelang ulang tahun keenam puluh ASEAN. Skenario keempat, krisis berganda, adalah pertempuran ketiga Thailand–Kamboja yang bersamaan dengan insiden maritim serius.

    Empat Skenario hingga 2028 (penilaian penulis, 23 Oktober 2026)

    1. 1Pengelolaan tambal-sulam45%
    2. 2Fragmentasi dan normalisasi tanpa syarat25%
    3. 3Pelembagaan bertahap20%
    4. 4Krisis berganda10%

    Probabilitas adalah penilaian penulis berdasarkan bukti hingga 23 Oktober 2026, bukan prediksi statistik.

    Penilaian ini memberi bobot terbesar pada tambal-sulam karena seluruh insentif jangka pendek mengarah ke sana: tidak ada anggota yang menanggung biaya langsung dari status quo, dan setiap usulan pelembagaan memerlukan konsensus yang sama yang hendak diperbaiki. Fragmentasi diberi bobot lebih tinggi daripada pelembagaan karena dinamika Myanmar sedang bergerak cepat ke arah normalisasi, sebagaimana tampak dari kunjungan Bangkok pada Agustus dan rapat perdana Komite Urusan ASEAN milik Myanmar pada Oktober, sementara rangkuman intelijen kawasan yang diterbitkan pada 7 September 2026, Southeast Asia Intelligence Brief: ASEAN, Myanmar & South China Sea, mencatat bahwa gencatan senjata di perbatasan masih diwarnai insiden ranjau dan penutupan pos lintas batas. Pelembagaan bertahap tetap realistis karena modal kelembagaan dan momentum simbolis enam puluh tahun ASEAN tersedia; ia hanya memerlukan satu ketua dan satu negara jangkar yang bersedia menanggung biaya politiknya. Krisis berganda bernilai rendah tetapi berdampak sangat tinggi.

    Indikator yang perlu dipantau, dengan urutan waktu, adalah sebagai berikut. Pada KTT ke-49 di Manila, 16–18 November 2026: apakah tinjauan menyeluruh Konsensus Lima Butir yang dijanjikan komunike Juli diterbitkan dengan tolok ukur, apakah dokumen COC memuat ketentuan pengawasan dan penyelesaian sengketa, dan apakah pernyataan ketua menugaskan Sekretariat merancang mekanisme pemantauan permanen. Pada akhir 2026: apakah kunjungan Lazaro ke Myanmar terlaksana dan apakah ia bertemu pihak di luar pemerintah, serta apakah Komando AOT diserahkan kepada Singapura dengan kesinambungan personel. Pada semester pertama 2027: apakah Komisi Batas Bersama Thailand–Kamboja bersidang kembali, apakah perwakilan politik Myanmar diundang ke KTT, dan apakah konsiliasi UNCLOS Kamboja menghasilkan laporan. Menjelang 8 Agustus 2027: apakah deklarasi enam puluh tahun ASEAN memuat reinterpretasi nonintervensi. Sinyal peringatan paling serius adalah insiden ranjau atau tembakan artileri yang menewaskan warga sipil, yang selama 2025 terbukti menjadi pemicu runtuhnya kesepakatan.

    XI

    Rekomendasi Kebijakan per Aktor dengan Tenggat

    Untuk Sekretariat ASEAN: sebelum 31 Maret 2027, susun kerangka acuan Mekanisme Pemantauan dan Verifikasi ASEAN yang permanen, lengkap dengan struktur komando yang tidak bergantung pada ketua bergilir, daftar pengamat yang dicalonkan semua anggota, dan dana khusus dengan aturan kontribusi mitra yang transparan. Sebelum akhir Januari 2027, terbitkan ringkasan publik pertama atas kegiatan AOT sejak Oktober 2025, termasuk jumlah inspeksi dan kategori insiden, tanpa menyebut atribusi kesalahan bila hal itu belum disepakati. Untuk Filipina sebagai ketua 2026: pada KTT ke-49, 16–18 November 2026, pastikan pernyataan ketua memuat penugasan resmi kepada Sekretariat untuk rancangan mekanisme permanen; terbitkan tinjauan menyeluruh Konsensus Lima Butir dengan tolok ukur yang terukur, seperti akses kemanusiaan lintas garis konflik dan pembebasan tahanan politik, dan tenggat yang jelas; serta tolak penandatanganan COC yang tidak memuat ketentuan pengawasan dan penyelesaian sengketa, karena teks kosong lebih merugikan daripada penundaan. Sebelum 31 Desember 2026, laksanakan kunjungan Utusan Khusus ke Myanmar dengan syarat pertemuan dengan pihak di luar pemerintah.

    Untuk Singapura sebagai ketua 2027: jadikan reformasi arsitektur konflik sebagai warisan peringatan enam puluh tahun ASEAN. Sebelum Juni 2027, ajukan revisi aturan prosedur Dewan Tinggi TAC yang memberi troika ketua dan Sekretaris Jenderal hak mengajukan situasi untuk dicatat; sebelum 8 Agustus 2027, adopsi deklarasi pemimpin tentang nonintervensi sebagai larangan pemaksaan, bukan larangan pengamatan. Singapura juga paling siap memimpin kaukus internal ASEAN tentang COC sebagaimana diusulkan Tang Siew Mun, mengingat ia bukan negara pengklaim. Buku tahun 2025 berjudul Intelligence as Statecraft: Singapore’s Strategic Transformation in the Indo-Pacific menekankan bahwa kekuatan Singapura terletak pada koordinasi dan interoperabilitas kawasan, bukan ukuran; kapasitas itu relevan untuk membangun ruang situasi bersama yang dapat dipercaya semua anggota. Untuk Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri: sebelum KTT pertama 2027, umumkan kontribusi dana awal dan penugasan perwira bagi mekanisme pemantauan; sebelum Juni 2027, pimpin perancangan pedoman ASEAN minus X untuk misi politik-keamanan; dan pada siklus anggaran 2027, perkuat AIPR yang berkedudukan di Jakarta dengan unit peringatan dini. Indonesia juga sebaiknya menawarkan forum teknis netral bagi pertemuan Komisi Batas Bersama Thailand–Kamboja sebelum Maret 2027.

    Untuk Thailand: sebelum Maret 2027, sidangkan kembali Komisi Batas Bersama dan pulihkan kerja sama pembersihan ranjau, sebagaimana direkomendasikan Crisis Group, serta jamin akses AOT ke seluruh area yang disengketakan, karena verifikasi independen juga melindungi Bangkok dari tuduhan pendudukan. Dalam soal Myanmar, Thailand perlu mengaitkan dukungan normalisasi dengan tolok ukur yang disepakati kolektif agar tidak dipersepsikan sebagai sponsor tunggal. Untuk Kamboja: turunkan retorika resmi yang menempatkan Thailand sebagai musuh, lanjutkan konsiliasi UNCLOS tanpa menjadikannya pengganti dialog bilateral, dan dukung publikasi ringkasan laporan AOT. Untuk Malaysia: sebagai pemrakarsa Deklarasi Kuala Lumpur dan anggota troika hingga akhir 2026, alihkan memori kelembagaan keketuaan 2025 kepada Sekretariat sebelum Desember 2026, termasuk catatan perundingan dan jaringan perwira penghubung.

    Untuk Tiongkok: dukungan bagi AOT yang dinyatakan di Fuxian akan lebih kredibel bila disalurkan melalui dana ASEAN, bukan melalui jalur paralel; dalam COC, terima ketentuan pengawasan dan penyelesaian sengketa sebagai bukti bahwa perundingan bukan sekadar instrumen penundaan. Untuk Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Uni Eropa: sebelum pertengahan 2027, salurkan dukungan citra satelit, peralatan, dan pelatihan melalui dana mekanisme pemantauan ASEAN dengan prinsip bahwa ASEAN memegang kendali operasional; Jepang, sebagai kontributor personel pertama, dapat menjadi teladan bagi mitra lain. Untuk PBB: manfaatkan kehadiran Sekretaris Jenderal di KTT ASEAN–PBB di Manila untuk menawarkan dukungan teknis Departemen Urusan Politik dan Pembangunan Perdamaian bagi unit peringatan dini AIPR, dan selaraskan kerja Utusan Khusus PBB untuk Myanmar dengan tolok ukur ASEAN agar Naypyidaw tidak dapat memainkan satu jalur terhadap jalur lain.

    XII

    Keterbatasan Kajian dan Kesimpulan

    Kajian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dinyatakan secara terbuka. Pertama, data korban dan pengungsi dari perbatasan Thailand–Kamboja berbeda secara signifikan antarsumber, dan kedua pemerintah saling membantah angka pihak lain, sehingga angka yang dikutip harus dibaca sebagai kisaran. Kedua, laporan internal AOT tidak dipublikasikan, sehingga penilaian atas efektivitasnya bertumpu pada pemberitaan dan dokumen sekunder. Ketiga, perundingan COC berlangsung tertutup; penilaian tentang titik buntu bergantung pada pernyataan publik pejabat dan analis yang memiliki kepentingan masing-masing. Keempat, kajian ini ditulis tiga minggu sebelum KTT ke-49, sehingga hasil KTT dapat mengubah sebagian penilaian. Kelima, usulan arsitektur dalam kajian ini belum diuji melalui konsultasi dengan pejabat negara anggota dan mungkin meremehkan hambatan birokratis dan anggaran yang dihadapi Sekretariat ASEAN.

    Kesimpulannya tegas meskipun bersyarat. ASEAN sebelas anggota tidak menghadapi krisis eksistensial, tetapi menghadapi krisis kecukupan. Konsensus dan nonintervensi masih menjalankan fungsi yang tidak dapat digantikan, yakni menjaga semua negara tetap berada di satu meja dan mencegah konflik bilateral berkembang menjadi perang regional. Namun tiga ujian 2025–2026 membuktikan bahwa fungsi itu berhenti tepat di titik di mana perdamaian mulai memerlukan verifikasi, tolok ukur, dan biaya bagi penolakan. Di celah itulah Washington, Beijing, dan Tokyo masuk, masing-masing membawa kapasitas sekaligus kepentingannya sendiri.

    Pilihan bagi para pemimpin di Manila pada November 2026 dan di Singapura pada 2027 bukanlah antara mempertahankan atau meninggalkan ASEAN Way. Pilihannya adalah antara membiarkan ASEAN Way menua menjadi ritual yang dihormati tetapi tidak dipakai, seperti Dewan Tinggi TAC selama lima puluh tahun, atau memperbaruinya dengan instrumen yang sederhana, berbasis persetujuan, dan transparan. Kajian ini berpendapat bahwa pembaruan semacam itu dapat dilakukan tanpa amandemen traktat, tanpa kewenangan memaksa, dan tanpa mengorbankan inklusivitas. Kawasan yang telah membangun salah satu komunitas keamanan paling tahan lama di dunia berkembang mampu melangkah dari menghentikan perang menuju membangun perdamaian. Prasyaratnya hanyalah kemauan politik untuk mengakui bahwa mengamati bukanlah mencampuri.

    ◆

    Rujukan dan Sumber

    Dokumen resmi dan data

    Literatur ilmiah

    Analisis kebijakan dan laporan lembaga

    Media dan pemberitaan

    Arsip & Pustaka

    Cara Mengutip

    Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. (2026). ASEAN Sebelas Anggota dan Batas Konsensus: Arsitektur Manajemen Konflik setelah Perbatasan Thailand–Kamboja, Myanmar, dan Laut China Selatan. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/asean-sebelas-anggota-manajemen-konflik/

    KBA
    Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

    Guru Besar Antropologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh; pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy. Meraih PhD Sosiologi dari La Trobe University.

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →