Artikel ini membaca wajah budaya anak muda Indonesia ketika tradisi bertemu algoritma. TikTok, FYP, dan media sosial tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga arena baru tempat Jaipong, gamelan, ulos, mantra, blangkon, dan bahasa adat masuk ke dalam kehidupan digital. Di satu sisi, algoritma membuka jalan baru bagi anak muda untuk mengenal akar budaya. Di sisi lain, tradisi dapat berubah menjadi konten singkat, komoditas visual, dan identitas yang dipotong demi viralitas. Pertanyaannya bukan lagi apakah tradisi akan kalah oleh digital, tetapi bagaimana anak muda merawat makna di tengah kecepatan algoritma.
Ketika Tradisi Bertemu Algoritma: Wajah Baru Budaya Anak Muda di Era FYP
Written by
in
