Flexing di sekolah SMA kini sudah jadi fenomena sehari-hari. Dari sepatu branded, gadget terbaru, nongkrong di café hits, hingga prestasi akademik, semuanya bisa jadi ajang pamer alias flexing. Esai ini ditulis oleh Qaishar, siswa SMA Banda Aceh, yang mencoba melihat fenomena flexing bukan sekadar soal barang mahal atau gengsi, tapi juga kebutuhan sosial anak muda untuk diakui dan diterima. Dengan gaya reflektif, ia mengajak pembaca memahami sisi positif dan negatif flexing, sekaligus mengingatkan bahwa nilai diri bukan ditentukan dari barang yang dipamerkan, melainkan dari sikap dan prestasi nyata.
Tradisi Flexing di Sekolah SMA: Antara Gaya, Gengsi, dan Identitas Anak Muda
Written by
in
