Pabrik Pengetahuan di Ujung Semenanjung: Sarjana Terkemuka Singapura, Basis Data Ilmiah, dan Arah Kajian Mereka

Pabrik Pengetahuan di Ujung Semenanjung: Sarjana Terkemuka Singapura, Basis Data Ilmiah, dan Arah Kajian Mereka

Laporan Penelitian · Sistem Pengetahuan · Pendidikan Tinggi · Kajian Asia Tenggara

Pabrik Pengetahuan di Ujung Semenanjung:Sarjana Terkemuka Singapura, Basis Data Ilmiah, dan Arah Kajian Mereka

Negara-kota kecil itu kini menempati peringkat ke-16 dunia dalam Nature Index, menempatkan dua universitasnya di jajaran 30 besar dunia, dan menyiapkan S$37 miliar untuk riset hingga 2030. Laporan ini menelusuri basis data, lembaga, dan para sarjananya, lalu bertanya: apa artinya bagi Indonesia, negeri yang lebih sering dikaji daripada mengkaji?

KBA
PenulisKamaruzzaman Bustamam Ahmad
  • Laporan Penelitian
  • 28 Oktober 2026
  • ± 32 menit baca
Pabrik Pengetahuan di Ujung Semenanjung: Sarjana Terkemuka Singapura, Basis Data Ilmiah, dan Arah Kajian Mereka
Laporan penelitian tentang sistem pengetahuan Singapura: pendanaan RIE2025 dan RIE2030, posisi NUS dan NTU dalam QS, THE, ARWU, dan Nature Index, daftar Highly Cited Researchers 2023–2025, ekosistem lembaga kajian seperti ISEAS dan RSIS, profil sarjana terkemuka, arah riset hingga 2030, serta asimetri pengetahuan yang dihadapi Indonesia.
Daftar Isi
  1. IPendahuluan
  2. IIKerangka, Metode, dan Keyakinan
  3. IIIArsitektur Pendanaan Riset
  4. IVMembaca Basis Data
  5. VLembaga Kajian dan Pintu Putar
  6. VISarjana Sosial dan Humaniora
  7. VIIIlmuwan Sains dan Biomedis
  8. VIIIArah Kajian Menuju 2030
  9. IXIndonesia sebagai Objek Kajian
  10. XAsimetri dalam Angka
  11. XIKata Para Pemimpin
  12. XIIArgumen Tandingan
  13. XIIISkenario hingga 2030
  14. XIVRekomendasi
  15. XVKeterbatasan dan Kesimpulan

Abstrak

Laporan ini memetakan sistem produksi pengetahuan Singapura melalui basis data yang dapat diverifikasi: Clarivate Highly Cited Researchers 2023–2025, QS World University Rankings 2027, Times Higher Education World University Rankings 2027, ARWU, dan Nature Index periode 2025–2026, serta dokumen resmi pendanaan RIE2025 dan RIE2030. Hasilnya menunjukkan sebuah negara-kota yang konsisten menanam sekitar satu persen PDB untuk riset publik, menaikkan komitmen menjadi S$37 miliar untuk 2026–2030, dan memusatkan keunggulan pada rekayasa, material, kimia, kecerdasan buatan, dan biomedis. Di sisi ilmu sosial, ekosistem lembaga kajian seperti ISEAS–Yusof Ishak Institute, RSIS, IPS, EAI, ARI, dan MEI berfungsi sebagai simpul antara akademia dan negara, dengan pola pintu putar antara diplomat, birokrat, perwira, dan cendekiawan. Laporan ini kemudian memprofilkan sarjana terkemuka berdasarkan penanda yang dapat dicek, menganalisis arah kajian mereka, khususnya tentang Indonesia, dan membandingkannya dengan posisi Indonesia: belanja litbang sekitar 0,28 persen PDB, Share Nature Index 50,06 berbanding 914,78, dan universitas terbaik di peringkat 191 QS. Laporan ditutup dengan empat skenario keseimbangan pengetahuan hingga 2030 serta rekomendasi bagi Kemdiktisaintek, BRIN, LPDP, Kementerian Agama, dan perguruan tinggi termasuk UIN.

Tesis

Keunggulan Singapura bukan terletak pada jumlah sarjananya, melainkan pada konsistensi pendanaan, konsentrasi institusional, dan kedekatan terkelola antara lembaga kajian dan negara; selama Indonesia tetap menjadi objek kajian tanpa membangun kapasitas mengkaji balik, asimetri pengetahuan akan menjadi asimetri kekuasaan.

  1. DataClarivate HCR 2023–2025, QS 2027, THE 2027, ARWU, Nature Index 2025–2026, dokumen NRF/EDB/PMO, profil resmi lembaga dan sarjana, arsip KBA13
  2. KerangkaSosiologi pengetahuan, relasi pengetahuan–kekuasaan, dan kritik captive mind Syed Hussein Alatas
  3. ProyeksiEmpat skenario keseimbangan pengetahuan Indonesia–Singapura hingga 2030

Kata kunci

  • Singapura
  • sistem pengetahuan
  • NUS
  • NTU
  • Highly Cited Researchers
  • Nature Index
  • RIE2030
  • ISEAS
  • RSIS
  • lembaga kajian
  • BRIN
  • asimetri pengetahuan
I

Pendahuluan: Ketika Tetangga Kecil Menjadi Pabrik Pengetahuan

Oktober 2026 memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan Indonesia dan Singapura ketika tiga persoalan datang bersamaan: pemberitahuan tindakan pencegahan kabut asap terhadap perusahaan yang terkait dengan Indonesia, rencana MSCI menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia, dan pemangkasan pasokan gas pipa ke Singapura. Laporan Mothership pada 16 Oktober 2026 berjudul Grace Fu: Preventive measures notice to 7 Indonesian companies mencatat bahwa Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Grace Fu mengumumkan pemberitahuan kepada tujuh perusahaan di Indonesia berdasarkan Transboundary Haze Pollution Act 2014, sementara The Star pada 21 Oktober 2026 dalam laporan Prabowo vows Indonesia will not be ‘frightened’ by MSCI mengutip Presiden Prabowo Subianto bahwa Indonesia tidak takut kepada siapa pun. Di balik ketegangan diplomatik dan pasar itu terdapat lapisan yang jarang dibicarakan, yakni ketimpangan dalam memproduksi pengetahuan. Ketika krisis terjadi, analisis yang paling cepat dikutip media internasional tentang Indonesia sering lahir dari Singapura: dari ISEAS–Yusof Ishak Institute, dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), atau dari sarjana National University of Singapore (NUS). Esai di KBA13 Insight pada 25 Oktober 2026 berjudul Masa Depan Konfrontasi menuju Perang Terbuka Antara Singapura dan Indonesia membaca ketiga pemicu itu dari sudut eskalasi strategis; laporan ini memilih sudut lain, yaitu siapa yang memiliki kapasitas untuk menafsirkan, mengukur, dan menamai realitas kawasan.

Pertanyaan ini bukan pertanyaan baru. Pada tahun 2014, Hendra Gunawan, guru besar FMIPA Institut Teknologi Bandung, dalam harian Kompas berjudul Mengintip Masa Depan membandingkan anggaran pendidikan tinggi Indonesia tahun 2014 sekitar Rp3,2 triliun dengan anggaran sekitar Rp18 triliun untuk satu universitas, NUS, pada 2013. Catatan katalog arsip yang menyertai dokumen itu dengan jujur menyebut perbandingan tersebut retoris karena struktur dan cakupan anggaran berbeda, tetapi tetap efektif memperlihatkan jurang investasi riset. Pada hari yang sama, Budi Santosa, guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember, menulis di Kompas Dari “Brain Drain” ke “Brain Gain”, mengusulkan agar LPDP tidak sekadar mengirim mahasiswa ke luar negeri, tetapi juga menarik profesor dan peneliti asing ke laboratorium Indonesia. Dua belas tahun kemudian, kedua tulisan itu terasa seperti diagnosis yang belum ditindaklanjuti secara memadai. Singapura telah melangkah dari pendanaan riset S$25 miliar menjadi S$37 miliar, sementara Indonesia baru pada pertengahan 2026 mengumumkan tambahan Rp4 triliun untuk riset nasional.

Laporan ini membangun di atas esai KBA13 Insight tahun 2025 berjudul Profil Sarjana Terkenal Singapura: Politik, Ekonomi, Teknologi, Hukum, dan Sains serta biografi intelektual tahun 2026, Kishore Mahbubani: Singapore’s Diplomat-Philosopher and the Case for an Asian Century, yang menelaah pemikiran Mahbubani tentang abad Asia sambil mencatat kekosongan dalam pembacaannya tentang Islam dan dunia Muslim. Bila kedua karya itu bersifat profil dan biografi, laporan ini bergerak ke tingkat sistem. Pertanyaan pokoknya ada tiga. Pertama, apa yang sebenarnya ditunjukkan oleh basis data ilmiah global tentang kekuatan riset Singapura, dan sejauh mana angka-angka itu dapat dipercaya. Kedua, siapa sarjana terkemuka Singapura dan ke mana arah kajian mereka bergerak, terutama dalam kecerdasan buatan, semikonduktor, biomedis, iklim, serta kajian Asia Tenggara dan Indonesia. Ketiga, pelajaran dan peringatan apa yang patut ditarik Indonesia dari asimetri ini, dalam situasi ketika hubungan bilateral sedang memanas dan pengetahuan semakin menjadi instrumen kekuasaan.

II

Kerangka Analitis, Metode, dan Tingkat Keyakinan

Secara teoretis, laporan ini bertumpu pada tiga lapis pemikiran. Lapis pertama adalah sosiologi pengetahuan, yang memandang ilmu bukan sebagai akumulasi netral fakta, melainkan hasil dari institusi, pendanaan, jaringan, dan insentif. Lapis kedua adalah relasi pengetahuan dan kekuasaan: lembaga yang mampu mendefinisikan masalah, merancang survei, dan menerbitkan analisis cepat akan memengaruhi cara pemerintah, investor, dan publik global memahami suatu negara. Lapis ketiga, dan paling dekat dengan pengalaman intelektual kawasan ini, adalah kritik Syed Hussein Alatas terhadap captive mind dan stereotip kolonial. Pada tahun 2019, laporan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora NUS berjudul Lessons from Syed Hussein Alatas mencatat bahwa Alatas adalah Kepala pertama Departemen Pengajian Melayu NUS dan penulis The Myth of the Lazy Native (1977), karya yang membongkar citra Barat tentang orang Asia Tenggara sebagai malas dan tidak beradab. Ironinya, gagasan dekolonisasi ilmu itu lahir di Singapura, negeri yang kini justru menjadi salah satu simpul paling efisien dari sistem pengetahuan global berbasis peringkat dan sitasi. Laporan ini memanfaatkan ketegangan itu sebagai lensa: Singapura menunjukkan bahwa kemandirian akademik dan integrasi global tidak harus saling meniadakan, sementara Indonesia masih bergulat untuk memiliki keduanya.

Secara metodologis, laporan ini menggunakan analisis dokumen dan data sekunder. Sumber utama meliputi siaran pers Clarivate tentang Highly Cited Researchers 2025, rilis universitas tentang daftar 2023, 2024, dan 2025, halaman resmi QS, THE, dan ShanghaiRanking sebagaimana dilaporkan universitas, halaman negara Nature Index untuk Singapura dan Indonesia, dokumen National Research Foundation (NRF), Economic Development Board (EDB), dan Kantor Perdana Menteri Singapura, profil resmi lembaga kajian dan para sarjana, serta pemberitaan media Indonesia tentang kebijakan riset 2026. Arsip digital KBA13 Academy dan esai KBA13 Insight dipakai sebagai sumber pembanding dan dokumen sejarah. Penulis juga mencoba menarik data tingkat institusi dari API terbuka OpenAlex, dengan kueri daftar institusi berkode negara SG yang diurutkan berdasarkan jumlah karya, serta pencarian institusi National University of Singapore; namun API tersebut tidak dapat diakses dari lingkungan riset yang digunakan, sehingga ukuran keluaran institusional dalam laporan ini memakai Nature Index sebagai pengganti. Keputusan ini dinyatakan terbuka agar pembaca memahami bahwa angka volume publikasi total, misalnya dari Scopus atau OpenAlex, tidak disajikan di sini.

Setiap klaim diberi tingkat keyakinan. Tingkat Tinggi diberikan pada angka yang berasal langsung dari dokumen resmi atau basis data primer, seperti anggaran RIE2030 sebesar S$37 miliar, Share Nature Index, dan jumlah peneliti dalam rilis resmi universitas. Tingkat Sedang diberikan pada perbandingan lintas basis data yang periodenya tidak identik, misalnya Nature Index Singapura untuk Juni 2025 hingga Mei 2026 dan Indonesia untuk April 2025 hingga Maret 2026, sebagaimana ditampilkan halaman masing-masing ketika diakses, serta pada tafsiran arah kajian yang disimpulkan dari publikasi dan program lembaga. Tingkat Rendah diberikan pada proyeksi skenario, yang secara inheren spekulatif. Laporan ini dengan sengaja tidak mencantumkan indeks-h atau jumlah sitasi individual sarjana, karena angka semacam itu berubah setiap hari, berbeda antarbasis data, dan mudah disalahgunakan sebagai ukuran tunggal mutu intelektual. Penanda yang dipakai adalah jabatan, karya utama, penghargaan, dan keanggotaan akademi yang dapat diperiksa pada sumber resmi.

III

Arsitektur Pendanaan: Dari RIE2025 ke RIE2030

Fondasi pabrik pengetahuan Singapura adalah konsistensi fiskal yang jarang ditandingi negara berkembang. Pada 15 Februari 2022, jawaban parlementer yang diterbitkan NRF berjudul Goals and Priorities Set under Research, Innovation and Enterprise 2025 Plan menegaskan alokasi S$25 miliar untuk RIE2025 dan menyebut bahwa rencana itu mempertahankan investasi riset pada kisaran satu persen PDB. Rencana itu dibagi ke dalam empat domain: manufaktur, perdagangan dan konektivitas; kesehatan dan potensi manusia; solusi perkotaan dan keberlanjutan; serta negara pintar dan ekonomi digital. Dalam perjalanannya, anggaran RIE2025 diperbesar. Laporan EDB pada 31 Agustus 2026 berjudul Singapore’s inaugural RIE2025 report card mencatat RIE2025 bernilai S$28 miliar untuk periode April 2021 hingga Maret 2026, bahwa belanja litbang sektor bisnis naik 64 persen menjadi S$9 miliar antara 2018 dan 2023, dan bahwa setiap S$1 belanja litbang publik diikuti S$1,87 belanja bisnis pada 2023, naik dari S$1,48 pada 2018. Rasio terakhir inilah yang sesungguhnya paling penting: dana publik berfungsi sebagai umpan yang menarik modal swasta, bukan sebagai pengganti.

RIE2030 menaikkan taruhan. Laporan EDB pada 5 Desember 2025 berjudul Singapore invests S$37 billion in RIE2030 research plan menyebut kenaikan 32 persen dari RIE2025, dengan S$10,8 miliar untuk empat domain, S$3 miliar untuk dua jenis program baru, yaitu RIE Flagships dan RIE Grand Challenges, 24 persen untuk riset fundamental, 20 persen untuk inovasi dan perusahaan, 17 persen untuk infrastruktur dan program baru, serta 10 persen untuk pengembangan talenta. Flagship pertama adalah semikonduktor, dipimpin A*STAR dan EDB, sedangkan Grand Challenge pertama menyasar penuaan aktif, yakni memperlambat kemunduran kognitif dan fisik warga lanjut usia. Laporan EDB Agustus 2026 menambahkan rincian bahwa paket Flagships dan Grand Challenges senilai S$3 miliar itu mencakup S$800 juta masing-masing untuk semikonduktor, transportasi dan konektivitas, serta dekarbonisasi, S$350 juta untuk umur panjang yang sehat, dan S$250 juta dana penyangga. Ada pula Research Translation Grant senilai S$300 juta untuk mempercepat hilirisasi hasil riset. Struktur ini memperlihatkan logika negara-kota: riset diarahkan pada kerentanan eksistensial, seperti ketergantungan pada rantai pasok chip, populasi menua, dan ancaman iklim terhadap pulau dataran rendah.

Bandingkan dengan Indonesia. Laporan InvestorTrust pada 29 Juni 2026 berjudul Indonesia Boosts Research Budget by $252 Million mengutip data Bank Dunia bahwa belanja litbang Indonesia sekitar 0,28 persen PDB, dibanding rata-rata dunia 2,59 persen, Malaysia 1,01 persen, dan Thailand 0,94 persen. Laporan Antara pada 15 Agustus 2026 berjudul Laying stronger footing for Indonesia’s research push menambahkan bahwa belanja riset nasional selama bertahun-tahun berkisar Rp5 hingga 7 triliun per tahun, sempat turun ke sekitar Rp3 hingga 4 triliun setelah kebijakan efisiensi anggaran 2025, lalu memperoleh tambahan Rp4 triliun yang hampir menggandakan anggaran BRIN dari titik terendahnya. Laporan yang sama mencatat bahwa mantan Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menyebut angka ideal sekitar satu persen PDB, angka yang secara kebetulan persis setara dengan tingkat yang dipertahankan Singapura selama hampir dua dekade. Perbedaan mendasarnya bukan hanya besaran, tetapi juga prediktabilitas: Singapura menetapkan kerangka lima tahunan yang diketahui peneliti jauh hari, sementara riset Indonesia bergantung pada siklus anggaran tahunan yang dapat dipangkas mendadak, sehingga laboratorium sulit merencanakan program jangka panjang dan menarik peneliti terbaik.

IV

Membaca Basis Data: Peringkat, Nature Index, dan Highly Cited Researchers

Peringkat universitas adalah lensa yang paling sering dikutip sekaligus paling sering disalahpahami. Dalam QS World University Rankings 2027 yang dirilis 18 Juni 2026, laporan The Straits Times yang diarsipkan NTU berjudul NUS falls to 10th place while NTU retains 12th spot mencatat NUS turun dari peringkat ke-8 ke ke-10 dunia, NTU bertahan di peringkat ke-12, Singapore University of Technology and Design (SUTD) melonjak 253 tingkat ke peringkat 266, dan Singapore Management University (SMU) naik ke peringkat 411. Dalam Times Higher Education World University Rankings 2027, laporan Fakultas Komputasi NUS pada 1 Oktober 2026 berjudul NUS reaches highest-ever position at 15th menyebut NUS mencapai posisi tertinggi sepanjang sejarahnya di peringkat ke-15 dari 2.297 institusi, sedangkan laporan NTU pada 14 Oktober 2026 berjudul NTU Singapore rises to 28th mencatat kenaikan tiga tingkat ke posisi ke-28. ARWU memberikan gambaran yang lebih sederhana: halaman institusi ShanghaiRanking untuk National University of Singapore menampilkan peringkat ke-56 untuk 2025, sementara halaman Nanyang Technological University menampilkan peringkat ke-84 untuk 2026.

Data ARWU menyimpan petunjuk yang menarik. Pada halaman ShanghaiRanking untuk NUS, skor indikator Alumni dan Award, yaitu alumni dan staf peraih Nobel atau Medali Fields, sama-sama tercatat 0,0, sedangkan skor publikasi mencapai 64,5 dan skor peneliti bersitasi tinggi 43,6. Artinya, kekuatan Singapura bersumber dari volume dan mutu publikasi kontemporer, bukan dari warisan penghargaan sains tertinggi. Kekosongan itu sebagian diisi dengan merekrut. Pada 5 April 2019, NUS News dalam laporan Nobel laureate Konstantin Novoselov joins NUS mengumumkan bahwa peraih Nobel Fisika 2010 untuk riset grafena itu bergabung sebagai Distinguished Professor, peraih Nobel pertama yang menjadi staf universitas Singapura. Strategi impor talenta tingkat puncak semacam ini, berpadu dengan pembinaan sarjana lokal, adalah ciri khas sistem Singapura yang perlu dicermati tanpa romantisasi.

Nature Index memberikan ukuran yang lebih ketat karena hanya menghitung artikel di sekelompok jurnal ilmu alam dan kesehatan terpilih. Halaman Nature Index untuk Singapura periode 1 Juni 2025 hingga 30 Mei 2026 mencatat 2.488 artikel dengan Share 914,78, menempatkan Singapura di posisi ke-16 dunia dan ke-6 Asia Pasifik. NUS menyumbang Share 426,79, NTU 317,41, dan A*STAR 89,00. Keunggulan terbesar ada pada ilmu terapan, dengan posisi ke-14 dunia, dan kimia, juga ke-14 dunia. Sebagai pembanding, halaman Nature Index untuk Indonesia periode 1 April 2025 hingga 31 Maret 2026 mencatat 205 artikel dengan Share 50,06 dan posisi ke-47 dunia, dengan BRIN di urutan pertama nasional pada Share 7,57, diikuti Universitas Indonesia 5,26, ITB 4,80, dan UGM 4,61. Dengan kata lain, Share NUS seorang diri sekitar delapan setengah kali Share seluruh Indonesia, meskipun periode kedua halaman itu tidak persis sama.

Daftar Highly Cited Researchers dari Clarivate memperlihatkan dinamika yang lebih halus. Siaran pers NTU pada 15 November 2023 berjudul NTU is 22nd globally and first locally with most highly cited researchers mencatat 42 peneliti NTU dengan 44 penyebutan, terbanyak di Singapura untuk tahun keenam berturut-turut. Rilis NTU pada 19 November 2024 berjudul NTU Singapore scientists named among most influential researchers in the world mencatat 36 peneliti, dan rilis 12 November 2025 berjudul NTU Singapore scientists named among world’s most influential researchers mencatat 33 peneliti dengan 36 penyebutan. Sebaliknya, NUS News pada 12 November 2025 dalam laporan NUS academics recognised among world’s leading scientists mencatat 37 peneliti NUS, sedangkan pada daftar 2022 jumlahnya lebih dari 30 menurut rilis NUS News 15 November 2022. Penurunan NTU perlu dibaca bersama perubahan metodologi Clarivate: siaran pers Clarivate Announces Highly Cited Researchers 2025 List menyebut 432 calon penghargaan dikeluarkan karena publikasi hiperprolifik serta penyaringan baru terhadap sitasi diri berlebihan. Pada skala sepuluh tahun, analisis Clarivate yang dilaporkan Infodocket pada 26 Februari 2026 mencatat bahwa jumlah penghargaan untuk Singapura naik empat kali lipat antara 2015 dan 2025.

V

Ekosistem Lembaga Kajian dan Pola Pintu Putar

Bila universitas adalah mesin produksi sains, lembaga kajian adalah ruang kendali tafsir. Singapura memiliki ekosistem yang padat untuk ukuran negerinya. Halaman Our History and Mission ISEAS mencatat bahwa parlemen mengesahkan Institute of Southeast Asian Studies Act pada 7 Juni 1968, dan lembaga ini berganti nama menjadi ISEAS–Yusof Ishak Institute pada Agustus 2015; programnya mencakup ASEAN Studies Centre, Singapore APEC Study Centre, studi ekonomi, sosial-budaya, dan politik-strategis kawasan, program negara untuk Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam, serta program perubahan iklim dan media-teknologi. Institute of Policy Studies (IPS), menurut halaman About Us, didirikan pada 1988 sebagai lembaga kajian independen, bergabung dengan Lee Kuan Yew School of Public Policy pada 2008 sebagai pusat riset otonom, dan pada 2026 menjadi lembaga riset otonom tingkat universitas. East Asian Institute, menurut halaman Profile and Objectives, berdiri pada April 1997 sebagai penerus lembaga yang dirintis Goh Keng Swee pada 1983 untuk mengkaji Konfusianisme, kini berfokus pada Tiongkok, Jepang, dan Semenanjung Korea. Asia Research Institute NUS berkiprah sejak 2001 menurut halaman About ARI, sedangkan Middle East Institute NUS berdiri pada 2007 menurut halaman About MEI.

Di NTU, RSIS menyebut dirinya sekolah pascasarjana global dan lembaga kajian strategis. Halaman About RSIS mendaftar lima pusat riset, yaitu Centre for Multilateralism Studies, Centre for Non-Traditional Security Studies, Centre of Excellence for National Security, Institute of Defence and Strategic Studies, dan International Centre for Political Violence and Terrorism Research, ditambah program studi keamanan nasional, kohesi sosial, dan hubungan antaragama. Pola kepemimpinannya memperlihatkan apa yang dapat disebut pintu putar terkelola. Pengumuman RSIS pada 3 November 2014 berjudul Leadership Transition at RSIS menyebut Duta Besar Ong Keng Yong menjadi Wakil Ketua Eksekutif, menggantikan Duta Besar Barry Desker, sementara akademisi Joseph Liow menjadi Dekan. Di ISEAS, halaman About Us mencatat bahwa Ng Chee Khern diangkat sebagai Direktur dan CEO pada 1 April 2026; ia sebelumnya Sekretaris Tetap Kementerian Tenaga Kerja (2022–2025), Sekretaris Tetap untuk Smart Nation dan Pemerintahan Digital (2017–2022), dan Kepala Angkatan Udara Singapura (2006–2009).

Pola itu juga terlihat pada figur publik terpenting dari ilmu kebijakan Singapura. Halaman Distinguished Fellow ARI mencatat bahwa Kishore Mahbubani bertugas di dinas luar negeri Singapura selama 33 tahun (1971–2004), dua kali menjadi Duta Besar untuk PBB, Sekretaris Tetap Kementerian Luar Negeri (1993–1998), lalu Dekan pendiri Lee Kuan Yew School (2004–2017) sebelum menjadi Distinguished Fellow ARI sejak 1 Juli 2019. Dalam tradisi Indonesia, perpindahan dari birokrasi ke akademia sering dicurigai sebagai politisasi ilmu; dalam tradisi Singapura, ia dianggap sebagai cara memindahkan pengalaman negara ke dalam ruang refleksi, dan sebaliknya membawa analisis akademik ke meja kebijakan. Konsekuensinya ganda. Di satu sisi, lembaga kajian Singapura memiliki akses, kecepatan, dan kepekaan kebijakan yang tinggi. Di sisi lain, batas antara analisis independen dan kepentingan negara menjadi kabur, sehingga pembaca Indonesia perlu membaca produk mereka sebagai pengetahuan yang berharga sekaligus sebagai bagian dari perangkat diplomasi negara kecil. Buku tahun 2025 karya Kamaruzzaman Bustamam Ahmad dan Fitri Zulfidar Ibrahim, Intelligence as Statecraft: Singapore’s Strategic Transformation in the Indo-Pacific, menyebut logika ini sebagai fusi kognisi manusia dan digital lintas institusi militer, sipil, dan akademik, dengan tesis bahwa koordinasi, bukan ukuran, yang menentukan kekuatan.

VI

Sarjana Ilmu Sosial dan Humaniora: Dari Wang Gungwu hingga Teo You Yenn

Di puncak tradisi humaniora Singapura berdiri Wang Gungwu. Pada 22 Juni 2020, laporan NUS berjudul Eminent NUS historian Professor Wang Gungwu receives prestigious Tang Prize mencatat bahwa ia menerima Tang Prize in Sinology 2020 atas kajiannya tentang tatanan dunia Tionghoa, diaspora, dan migrasi Tionghoa; ia menjabat University Professor NUS sejak 2007, Direktur East Asian Institute 1997–2007, Wakil Rektor University of Hong Kong 1986–1995, dan anggota kehormatan American Academy of Arts and Sciences. Keistimewaan Wang terletak pada sudut pandangnya: ia membaca Tiongkok dari selatan, melalui hubungannya dengan Asia Tenggara, bukan dari dalam atau dari Barat. Di sosiologi, Chua Beng Huat menempati posisi serupa. NUS Press pada 2017 menerbitkan Liberalism Disavowed: Communitarianism and State Capitalism in Singapore, yang menganalisis bagaimana Partai Aksi Rakyat membangun ideologi komunitarian melalui perumahan publik, multirasialisme, dan kapitalisme negara; halaman ARI juga mencatat Chua memimpin klaster Kajian Budaya di Asia dari 2000 hingga 2015. Keduanya memperlihatkan bahwa sarjana Singapura terbaik tidak sekadar memuji negaranya, tetapi menganalisisnya secara kritis dari dalam.

Warisan Alatas berlanjut melalui putranya. Entri Syed Farid Alatas mencatat bahwa ia mengajar di Departemen Sosiologi NUS sejak 1992 dan menulis Alternative Discourses in Asian Social Science: Responses to Eurocentrism (2006) serta Applying Ibn Khaldun: The Recovery of a Lost Tradition in Sociology (2014). Proyek ayah dan anak ini, yakni membangun ilmu sosial yang otonom dan menghidupkan kembali Ibn Khaldun sebagai teoretikus sosial, sangat relevan bagi perguruan tinggi Islam Indonesia, termasuk jaringan UIN, karena menawarkan jembatan antara warisan intelektual Islam dan ilmu sosial modern tanpa jatuh pada apologetika. Buku tahun 2026 Islam di Dunia Melayu dan Samudera Hindia menempatkan Syed Hussein Alatas di antara sarjana yang diajak berdialog dalam merumuskan kawasan Melayu–Samudra Hindia sebagai medan epistemik. Di bidang sejarah dan kepemimpinan akademik, Tan Tai Yong menjadi contoh sejarawan yang memimpin institusi. Pengumuman SUSS pada 19 Juli 2022 berjudul SUSS appoints Humanities Professor Tan Tai Yong as President mencatat ia menjabat Presiden Singapore University of Social Sciences sejak 1 Januari 2023 setelah memimpin Yale-NUS College, dengan karya antara lain Singapore: Seven Hundred Years (2019) dan Creating Greater Malaysia (2008).

Ilmu kebijakan dan hubungan internasional melahirkan figur yang paling dikenal publik. Selain Mahbubani, Danny Quah adalah ekonom dengan reputasi global. Profil resmi Danny Quah di LKY School mencatat ia adalah Li Ka Shing Professor in Economics, Direktur Asia Competitiveness Institute, Dekan 2018–2025, dan sebelumnya Kepala Departemen Ekonomi London School of Economics; minat terkininya meliputi economic statecraft dan masa depan multilateralisme. Joseph Liow, menurut laporan NTU pada 10 Oktober 2025 berjudul New dean for Lee Kuan Yew School, berpindah ke NUS sebagai Dekan LKY School setelah 28 tahun di NTU, termasuk sebagai dekan RSIS dan dekan College of Humanities, Arts and Social Sciences; ia juga Ketua MEI. Di bidang keamanan, pengumuman RSIS pada 23 Desember 2025 berjudul Re-appointment of Dean in RSIS mencatat Kumar Ramakrishna diangkat kembali sebagai Dekan untuk tiga tahun mulai 1 Januari 2026; ia adalah pendiri Centre of Excellence for National Security dan penulis Jemaah Islamiyah, ISIS and Beyond yang terbit Juli 2025. Bagi Indonesia, karya Ramakrishna penting karena kajian terorisme di Asia Tenggara sangat bergantung pada data dan narasi tentang kelompok yang berakar di Indonesia.

Generasi berikutnya memperlihatkan arah kritis yang lebih tajam. Teo You Yenn, menurut CV yang ia publikasikan April 2026, adalah Provost’s Chair in Sociology dan Direktur Centre for the Study of Social Inequality di NTU, penulis This Is What Inequality Looks Like (2018) yang telah terbit pula di Taiwan dan Tiongkok, serta Unease: Life in Singapore Families (2026). Terence Chong, menurut profil ISEAS, adalah Wakil CEO dan Direktur Senior Divisi Riset ISEAS, dengan kajian tentang kelas menengah, Kristen Pentakosta, dan migran Tionghoa baru di negara-negara CLMV. Leo Suryadinata, sarjana kelahiran Jakarta, menurut laporan RSIS pada 6 Oktober 2018 berjudul Indonesia honours S’porean for work on ethnic Chinese, menjadi warga Singapura pertama yang menerima penghargaan kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia atas kajiannya tentang komunitas Tionghoa Indonesia. Kenneth Paul Tan menunjukkan sisi lain dari sistem ini. Halaman Hong Kong Baptist University mencatat ia mantan Wakil Dekan LKY School yang pindah ke HKBU pada Februari 2021, penulis Singapore: Identity, Brand, Power (2018). Kepergiannya mengingatkan bahwa ekosistem yang efisien tidak selalu menjadi rumah yang nyaman bagi semua suara kritis.

VII

Ilmuwan Sains, Teknologi, dan Biomedis

Di bidang sains dan teknologi, penanda paling jelas adalah penghargaan nasional dan keanggotaan akademi internasional. Laporan BioSpectrum Asia pada 3 Oktober 2025 berjudul Singapore honors excellence at the 2025 President’s Science and Technology Awards mencatat bahwa Presiden NUS Tan Eng Chye menerima President’s Science and Technology Medal, Lim Chwee Teck dan Lisa Ng menerima President’s Science Award, dan Andy Tay menerima Young Scientist Award. Lim Chwee Teck patut disorot. Halaman profil resmi di Departemen Teknik Biomedis NUS mencatat ia Distinguished Professor dan Direktur Institute for Health Innovation and Technology (iHealthtech), Fellow Royal Society pada 2024, International Fellow Royal Academy of Engineering pada 2025, anggota internasional US National Academy of Engineering pada 2026, serta salah satu pendiri sejumlah perusahaan rintisan, termasuk Biolidics. Riset mekanobiologi penyakit, mikrofluida biomedis, dan teknologi wearable yang ia tekuni memperlihatkan model ilmuwan Singapura generasi ini: berkarya di jurnal terkemuka sekaligus mendirikan perusahaan.

Kepemimpinan universitas di Singapura juga dipegang ilmuwan dengan reputasi internasional. Rilis NTU pada 8 Februari 2023 berjudul Professor Ho Teck Hua appointed president of NTU mencatat ia menjadi presiden kelima NTU mulai 24 April 2023 setelah menjabat Senior Deputy President dan Provost NUS sejak 2018, dengan bidang ilmu perilaku dan ekonomi perilaku. Pendahulunya, Subra Suresh, menurut entri Subra Suresh, memimpin NTU pada 2018–2022 setelah menjadi Direktur National Science Foundation Amerika Serikat dan Presiden Carnegie Mellon University, serta menerima National Medal of Science pada 2023. Di A*STAR, Jackie Ying menjadi simbol yang menarik bagi dunia Muslim. Laporan Princeton Engineering pada 19 Februari 2016 berjudul Jackie Ying receives Mustafa Prize and is named AAAS Fellow mencatat bahwa ia, sebagai Direktur Eksekutif Institute of Bioengineering and Nanotechnology A*STAR, menerima Mustafa Prize 2015, penghargaan sains yang disebut tertinggi di dunia Islam, atas riset sistem penghantar obat dan nanopartikel yang mengatur pelepasan insulin.

Daftar Highly Cited Researchers 2025 memetakan siapa yang membentuk arus riset global dari Singapura. Di NUS, menurut laporan NUS News yang telah dikutip, nama-nama itu mencakup Konstantin Novoselov dan Antonio Castro Neto dalam fisika, Liu Bin dan Yan Ning dalam kimia, Jochen Wirtz dalam ekonomi dan bisnis, Thomas Yeo dalam neurosains, serta Yan Shuicheng dalam rekayasa. Laporan Fakultas Komputasi NUS pada 14 November 2025 berjudul Two NUS Computing Professors Among the World’s Most Highly Cited Researchers 2025 menyebut Yan Shuicheng dan Zhang Yang sebagai penggerak riset kecerdasan buatan dan biologi komputasi. Di NTU, rilis 2025 menyebut Joseph Sung, Dekan Lee Kong Chian School of Medicine; Lee Pooi See; Warren Chan; Pu Kanyi, yang diakui di tiga bidang sekaligus dan termasuk satu dari 31 ilmuwan dunia dengan capaian itu; serta Yuen Chau dalam ilmu komputer dan rekayasa. Komposisi ini menunjukkan dua hal. Pertama, keunggulan Singapura terkonsentrasi pada material, kimia, energi, dan rekayasa. Kedua, banyak di antara bintangnya adalah ilmuwan kelahiran luar negeri, sehingga daya tarik institusional, bukan semata talenta lokal, menjadi variabel penentu.

VIII

Arah Kajian Menuju 2030

Arah kajian Singapura dapat dibaca dari tiga sumber yang saling menguatkan: prioritas pendanaan, profil subjek dalam basis data, dan agenda lembaga kajian. Dari sisi pendanaan, RIE2030 menempatkan semikonduktor, kecerdasan buatan, teknologi kuantum, kepercayaan digital, biomanufaktur, kesehatan presisi, penuaan aktif, ketahanan iklim, dan transisi rendah karbon sebagai pusat gravitasi. Dalam pidato peluncurannya pada 5 Desember 2025 yang dimuat Kantor Perdana Menteri dengan judul SM Lee Hsien Loong at the Press Conference on the Launch of RIE2030, Menteri Senior Lee Hsien Loong menyebut tujuan Flagship semikonduktor adalah menjadikan Singapura simpul litbang yang penting secara strategis dalam industri itu. Dari sisi basis data, rincian subjek pada halaman NTU tentang University Rankings menunjukkan NTU berada di peringkat ke-4 dunia untuk Data Science dan AI serta Teknik Elektro dan Elektronika dalam QS by Subject 2026, sedangkan halaman ShanghaiRanking menampilkan NUS di peringkat pertama dunia untuk Geografi dan ke-6 untuk Nanosains dan Nanoteknologi. Pola ini mengonfirmasi bahwa Singapura membangun keunggulan di persimpangan teknologi keras dan kebutuhan negara.

Di bidang ilmu sosial, arah kajian bergerak pada empat poros. Poros pertama adalah persaingan kekuatan besar dan tatanan internasional, sebagaimana tampak dari tema Regional Outlook Forum ISEAS pada 8 Januari 2026, Confronting Chaos: The Future of International Order in Southeast Asia, dan minat Danny Quah pada economic statecraft. Poros kedua adalah keamanan nasional dan kohesi sosial, terutama di RSIS dengan program kontra-terorisme, keamanan siber, dan hubungan antaragama. Poros ketiga adalah ketimpangan, penuaan, dan keluarga, seperti tampak pada agenda IPS dan karya Teo You Yenn. Poros keempat, dan paling relevan bagi pembaca Indonesia, adalah kajian negara-negara tetangga, terutama Indonesia, yang dikelola melalui program negara di ISEAS dan program Indonesia di RSIS. Arah ini konsisten dengan logika negara kecil: memahami kekuatan besar agar dapat menavigasi, memahami masyarakat sendiri agar tetap kohesif, dan memahami tetangga agar tidak terkejut.

Dimensi iklim dan keberlanjutan menjadi titik temu antara sains dan ilmu sosial. Di sisi sains, Nature Index mencatat Singapura di posisi ke-26 dunia untuk ilmu bumi dan lingkungan, lebih rendah dari keunggulannya di kimia dan ilmu terapan, sehingga RIE2030 menambah dana S$800 juta untuk dekarbonisasi. Di sisi ilmu sosial, ISEAS memiliki program Climate Change in Southeast Asia yang, menurut catatan ISEAS pada 3 September 2026, dikoordinasikan Principal Fellow Sharon Seah. Bagi Indonesia, poros ini sensitif, karena kabut asap lintas batas, perusahaan perkebunan, dan Transboundary Haze Pollution Act berada tepat di persimpangannya. Kajian KBA13 Insight pada 20 Oktober 2026 tentang kebakaran 2026 dan jejaring korporasi terkait Singapura dan Malaysia, berjudul Beyond the Smoke, menekankan celah akuntabilitas regional. Ketika riset iklim Singapura makin canggih, kemampuan menghasilkan data independen tentang kebakaran, kepemilikan lahan, dan rantai pasok dari sisi Indonesia menjadi syarat agar perdebatan tidak didominasi satu pihak.

IX

Indonesia sebagai Objek Kajian: Survei, Program, dan Narasi

Hampir tidak ada negara yang dikaji seintensif Indonesia oleh lembaga-lembaga Singapura. Profil Julia Lau mencatat bahwa ia Principal Fellow dan Koordinator Indonesia Studies Programme ISEAS, dengan proyek tentang politik domestik Indonesia, ibu kota Nusantara, dan politik luar negeri Indonesia sebagai kekuatan menengah. Profil Siwage Dharma Negara pada Regional Outlook Forum 2026 menyebutnya Senior Fellow dan Ko-koordinator program yang sama, dengan fokus makroekonomi, industri, dan perdagangan Indonesia. Di RSIS, profil Alexander Raymond Arifianto mencatat ia Senior Fellow dan Koordinator Program Indonesia di IDSS, dengan laporan kebijakan 2025 tentang politik luar negeri Indonesia di bawah Prabowo dan Islam politik pada masa kepresidenan Prabowo. Esai KBA13 Insight tahun 2024 berjudul Relasi Indonesia–Singapura: Interdependensi Ekonomi, Politik Keamanan, dan Dinamika Strategis ASEAN menyediakan latar strategis bagi intensitas perhatian ini.

Instrumen paling berpengaruh adalah survei. ISEAS menerbitkan The Indonesia National Survey Project pada 2017 dan 2022; halaman toko buku ISEAS tentang The Indonesia National Survey Project 2022 mencatat penulisnya Burhanuddin Muhtadi, Hui Yew-Foong, dan Siwage Dharma Negara, dengan temuan tentang persetujuan publik terhadap Presiden Joko Widodo sekitar 71,8 persen sebelum pemotongan subsidi BBM September 2022, pandangan yang lebih negatif terhadap kebangkitan Tiongkok dibanding 2017, dan kekaguman pada Arab Saudi, Turki, dan Singapura. Burhanuddin Muhtadi sendiri, menurut profil ISEAS, adalah guru besar ilmu politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, direktur eksekutif Indikator Politik Indonesia, dan Visiting Fellow ISEAS. Di tingkat kawasan, ISEAS Perspective 2026/65 karya Melinda Martinus pada 10 September 2026 berjudul Indonesia’s Strategic Preferences amid Great-Power Competition mengolah survei State of Southeast Asia 2026 dengan 2.008 responden, 236 di antaranya dari Indonesia; ketika dipaksa memilih, 80,1 persen responden Indonesia menyatakan ASEAN sebaiknya berpihak pada Tiongkok dan hanya 17,3 persen yang mempercayai Amerika Serikat, terendah sejak survei dimulai pada 2019.

Fakta-fakta itu menyimpan paradoks. Sarjana Indonesia hadir dan berperan penting di lembaga-lembaga Singapura, tetapi kerangka pertanyaan, pembiayaan, dan saluran publikasi sebagian besar ditentukan dari Singapura. Survei State of Southeast Asia, misalnya, hanya melibatkan 236 responden Indonesia, sehingga hasilnya perlu dibaca dengan memperhatikan ukuran dan komposisi sampel; Martinus sendiri menafsirkan pergeseran Indonesia sebagai menurunnya kepercayaan pada kebijakan Amerika, bukan penyelarasan dengan Beijing. Namun begitu angka-angka itu dikutip media global, nuansa metodologis sering hilang. Dalam situasi Oktober 2026, ketika isu kabut asap dan MSCI memanas, analisis tentang Indonesia yang paling cepat beredar secara internasional kembali bersumber dari Singapura. Esai KBA13 Insight tahun 2025 berjudul Kekuatan Intelijen Singapura: Struktur, Aliansi, dan Teknologi 10 Tahun Terakhir dan buku Memotret Wajah Singapore Inc. di Indonesia (2025) menempatkan fenomena ini dalam bingkai lebih luas tentang kapital, diplomasi, dan ekonomi informasi. Asimetri ini bukan konspirasi, tetapi hasil logis dari investasi yang berbeda selama setengah abad.

X

Asimetri dalam Angka: Perbandingan Terverifikasi

Tabel berikut merangkum indikator yang dapat diverifikasi dari sumber yang dikutip dalam laporan ini. Tabel ini sengaja tidak memasukkan jumlah total publikasi atau sitasi negara, karena data OpenAlex tidak dapat diakses dalam penelitian ini dan angka Scopus tidak tersedia dari sumber terbuka yang diperiksa. Kolom catatan menyebut periode atau edisi masing-masing angka, sehingga pembaca dapat menilai sendiri derajat keterbandingannya. Hal terpenting dari tabel ini bukan selisih absolut, yang sebagian wajar mengingat perbedaan tingkat pendapatan, melainkan selisih relatif terhadap ukuran negara. Indonesia adalah negara kepulauan dengan penduduk berlipat-lipat lebih besar, tetapi Share Nature Index-nya kurang dari seperenam belas Share Singapura. Ketimpangan ini juga tampak dalam peringkat universitas: universitas terbaik Indonesia dalam QS 2027 berada di peringkat 191, sedangkan dalam THE 2027, menurut laporan RCTI+ pada 30 September 2026 berjudul 42 Universitas Terbaik Indonesia Masuk Peringkat THE WUR 2027, Universitas Indonesia berada di kelompok 651–700, sementara UGM dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berada di kelompok 801–1000.

IndikatorSingapuraIndonesiaCatatan dan sumber
Pendanaan riset publikS$37 miliar (RIE2030, 5 tahun), ±1% PDBTambahan Rp4 triliun (2026); belanja litbang ±0,28% PDBEDB, Des. 2025; InvestorTrust, Juni 2026
Nature Index, Share negara914,78 (posisi 16 dunia)50,06 (posisi 47 dunia)SG: Jun 2025–Mei 2026; ID: Apr 2025–Mar 2026
Institusi teratas Nature IndexNUS 426,79BRIN 7,57Halaman negara Nature Index
QS World University Rankings 2027NUS 10, NTU 12UI 191, UGM 206, Unair 276The Straits Times; GoodStats, Juni 2026
THE World University Rankings 2027NUS 15, NTU 28UI 651–700; 42 PT masukNUS, NTU, RCTI+, Okt. 2026
Highly Cited Researchers 2025NUS 37; NTU 33Tidak ditemukan data terverifikasiRilis NUS dan NTU, Nov. 2025
Dana abadi pendidikan dan risetTidak dibandingkanLPDP Rp180,8 triliun, termasuk Rp14 triliun dana abadi penelitianInfobank, Feb. 2026

Membaca tabel itu dengan jujur menuntut dua kehati-hatian. Kehati-hatian pertama menyangkut ukuran: Nature Index sangat bias terhadap ilmu alam dan jurnal elite, sehingga tidak menangkap kekuatan riset Indonesia dalam bidang seperti kajian Islam, antropologi lokal, atau ilmu pertanian terapan yang banyak terbit di jurnal nasional. Kehati-hatian kedua menyangkut kecenderungan: data Nature Index Indonesia menunjukkan bahwa BRIN, setelah konsolidasi LIPI, BATAN, LAPAN, BPPT, dan Lembaga Eijkman, kini menjadi institusi terdepan, yang berarti konsolidasi kelembagaan mulai memberi hasil statistik meskipun dengan biaya transisi yang besar. Pada tahun 2020, Asep Bayu Dani Nandiyanto dan rekan dalam Indonesian Journal of Science and Technology berjudul How bibliographic dataset portrays decreasing number of scientific publication from Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan publikasi Indonesia di Scopus sepanjang 2014–2019 banyak digerakkan artikel jurnal dan makalah konferensi, lalu menurun pada 2018–2019. Pelajaran dari Singapura adalah bahwa volume tanpa konsentrasi pada mutu dan bidang strategis tidak menghasilkan pengaruh. Di sisi lain, LPDP dengan dana abadi Rp180,8 triliun sesungguhnya memiliki modal yang besar untuk mengubah pola ini, asalkan diarahkan pada pembangunan kelompok riset di dalam negeri, bukan hanya pengiriman individu ke luar negeri.

XI

Kata Para Pemimpin

Pernyataan para pemimpin memperlihatkan bagaimana kedua negara membingkai riset. Dalam pidato peluncuran RIE2030 pada 5 Desember 2025 yang dimuat Kantor Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong menjelaskan logika eksistensial di balik investasi itu dengan kalimat bahwa Singapura “resource-disadvantaged, so all the more we need advanced science and tech capabilities”. Ia juga menegaskan bahwa “a critical success factor is high-quality talent” dan bahwa negaranya “will be investing $37 billion over the next five years in R&D”, sekitar satu persen PDB, tingkat yang dipertahankan hampir dua puluh tahun. Laporan EDB tentang RIE2030 mengutip Tan Chorh Chuan bahwa minat terhadap litbang Singapura justru tumbuh, dan bahwa terobosan yang benar-benar menggerakkan perubahan “often has to come from very novel areas of science and application”. Di tingkat universitas, laporan Fakultas Komputasi NUS tentang THE 2027 mengutip Presiden NUS Tan Eng Chye: “This is not a one-off result. It reflects intentional, sustained effort over many years.” Kata kunci yang berulang dalam pernyataan-pernyataan itu adalah konsistensi, talenta, dan keterbatasan sumber daya alam sebagai alasan untuk berinvestasi pada pengetahuan.

Di Indonesia, bahasa yang dipakai berbeda tetapi menunjukkan kesadaran yang tumbuh. Laporan Sekretariat Kabinet tentang pembukaan Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 pada 26 Juni 2026, yang dihadiri lebih dari 2.600 peserta menurut Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, mengutip Presiden Prabowo Subianto: “Saya selalu berpendapat bahwa para guru besar adalah orang-orang yang terpintar dari sebuah negara.” Presiden juga menyatakan bahwa potensi dan kemampuan kampus “memang harus dimanfaatkan atau digerakan”. Laporan RCTI+ pada 28 Juni 2026 berjudul Mensesneg Ungkap Prabowo Tambah Anggaran Riset Rp4 Triliun mengutip Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi bahwa anggaran riset ditambah “sampai di angka Rp4 triliun” dan bahwa “semua harus dalam satu grand design”. Perbandingan kedua kumpulan pernyataan ini instruktif. Singapura berbicara dalam bahasa kesinambungan dua dekade dan angka lima tahunan yang terkunci; Indonesia berbicara dalam bahasa penghargaan, mobilisasi, dan desain besar yang baru akan disusun. Ujian sesungguhnya bagi Indonesia adalah apakah desain besar itu bertahan melampaui satu siklus anggaran dan satu periode pemerintahan.

XII

Argumen Tandingan

Setidaknya ada empat keberatan serius terhadap pembacaan dalam laporan ini. Keberatan pertama menyatakan bahwa peringkat dan basis data bibliometrik adalah konstruksi komersial yang bias terhadap bahasa Inggris, ilmu alam, dan institusi kaya, sehingga tidak layak dijadikan ukuran kemajuan ilmu. Keberatan ini sah. Peringkat NUS bisa turun dari 8 ke 10 dalam QS dan naik ke 15 dalam THE pada tahun yang sama, menunjukkan sensitivitas terhadap metodologi. Clarivate sendiri mengeluarkan ratusan calon penghargaan karena pola publikasi dan sitasi yang tidak wajar. Namun justru karena itulah laporan ini memakai beberapa basis data sekaligus dan menghindari angka individual. Ketika QS, THE, ARWU, Nature Index, dan Highly Cited Researchers menunjukkan arah yang sama, kesimpulan tentang besarnya jurang menjadi kuat meskipun angka pastinya tetap dapat diperdebatkan. Keberatan kedua menyatakan bahwa membandingkan negara-kota kaya dengan negara kepulauan berpenduduk ratusan juta tidak adil. Laporan ini setuju bahwa perbandingan absolut menyesatkan; karena itu yang ditekankan adalah pola, yakni konsistensi pendanaan, konsentrasi institusional, dan hubungan lembaga kajian dengan negara, yang dapat dipelajari tanpa harus meniru skala.

Keberatan ketiga menyatakan bahwa keunggulan Singapura sebagian bersifat impor: banyak peneliti bersitasi tinggi adalah ilmuwan kelahiran luar negeri, dan kekuatan itu dapat menguap bila lingkungan geopolitik atau kebijakan imigrasi berubah. Data NTU yang turun dari 42 ke 33 peneliti dalam tiga tahun memberi sedikit dukungan bagi argumen ini, meskipun perubahan metodologi Clarivate juga berperan. Kepindahan Kenneth Paul Tan ke Hong Kong menunjukkan bahwa sistem yang sangat terkelola dapat kehilangan suara-suara kritisnya. Keberatan keempat menyatakan bahwa kedekatan lembaga kajian dengan negara justru melemahkan kredibilitas mereka, sehingga Indonesia tidak perlu khawatir terhadap dominasi tafsir Singapura. Keberatan ini lemah. Kredibilitas internasional ISEAS dan RSIS terbukti dari seberapa sering mereka dikutip media global dan diundang ke forum kebijakan, dan kualitas sarjana seperti Wang Gungwu, Chua Beng Huat, atau Teo You Yenn tidak berkurang karena kedekatan institusional. Lebih jauh, sarjana Indonesia sendiri ikut menjadi bagian dari produksi pengetahuan itu. Karena itu respons yang tepat bukan menolak pengetahuan dari Singapura, melainkan membangun kapasitas yang setara untuk berdialog, menguji, dan bila perlu membantahnya dengan data.

XIII

Skenario Keseimbangan Pengetahuan hingga 2030

Empat skenario disusun berdasarkan dua variabel penggerak: konsistensi pendanaan riset Indonesia, apakah tetap di kisaran 0,3 persen PDB atau bergerak menuju satu persen, dan arah hubungan bilateral, apakah tetap kooperatif atau mengalami sekuritisasi pascakrisis Oktober 2026. Skenario pertama, asimetri melebar, terjadi bila Singapura menjalankan RIE2030 sesuai rencana sementara Indonesia kembali pada pola anggaran tahunan yang mudah dipangkas; jurang Nature Index dan peringkat melebar, dan tafsir internasional tentang Indonesia tetap bersumber dari luar. Skenario kedua, pengejaran selektif, terjadi bila tambahan Rp4 triliun menjadi lantai baru, LPDP mengarahkan dana abadi penelitian pada kelompok riset domestik, dan BRIN bersama universitas membangun tiga atau empat bidang unggulan, misalnya biodiversitas, kebencanaan, energi, dan kajian Islam Asia Tenggara. Skenario ketiga, sekuritisasi pengetahuan, terjadi bila ketegangan diplomatik merembes ke kerja sama akademik, misalnya pembatasan akses data, kecurigaan terhadap peneliti asing, atau pembekuan program bersama, sehingga kedua pihak rugi. Skenario keempat, konvergensi kolaboratif, terjadi bila kedua negara membangun lembaga riset bersama dan survei yang dirancang bersama, sehingga Indonesia menjadi ko-produsen, bukan sekadar objek, kajian kawasan.

Skenario hingga 2030

  1. 1Asimetri melebar45%
  2. 2Pengejaran selektif30%
  3. 3Sekuritisasi pengetahuan15%
  4. 4Konvergensi kolaboratif10%

Probabilitas bersifat penilaian analitis (tingkat keyakinan Rendah), disusun dari tren pendanaan 2014–2026, data basis ilmiah 2023–2026, dan dinamika hubungan bilateral Oktober 2026; bukan hasil model kuantitatif.

Skenario asimetri melebar diberi bobot tertinggi karena didukung data historis: belanja litbang Indonesia bertahan di sekitar 0,28 hingga 0,3 persen PDB selama bertahun-tahun, dan pemangkasan 2025 menunjukkan betapa rapuhnya komitmen tahunan. Skenario pengejaran selektif cukup kuat karena terdapat sinyal politik baru: kehadiran Presiden dalam KSTI 2026, tambahan Rp4 triliun, dan dana abadi LPDP yang besar. Indikator peringatan dini untuk membedakan kedua skenario itu dapat dipantau setiap tahun, yakni apakah anggaran riset 2027 dan 2028 sekurang-kurangnya mempertahankan tambahan 2026, apakah Share Nature Index Indonesia bergerak di atas 60, apakah ada universitas Indonesia yang memasuki 150 besar QS, dan apakah muncul lembaga kajian Indonesia yang secara rutin menerbitkan analisis tentang Singapura dan Malaysia dengan standar internasional. Skenario sekuritisasi tidak boleh diremehkan. Krisis kabut asap, MSCI, dan gas pada Oktober 2026 menunjukkan bahwa sentimen publik dapat berubah cepat, dan sejarah hubungan kedua negara, dari peristiwa MacDonald House 1965 hingga polemik penamaan KRI Usman Harun 2014, memperlihatkan bahwa memori kolektif mudah dibangkitkan. Skenario konvergensi kolaboratif paling diinginkan, tetapi saat ini paling kecil kemungkinannya karena membutuhkan kepercayaan politik yang sedang menipis.

XIV

Rekomendasi bagi Aktor Indonesia

Kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, rekomendasi utama adalah mengunci kerangka pendanaan riset lima tahunan yang tidak dapat dipangkas di tengah jalan, meniru disiplin RIE tanpa meniru skalanya. Desain besar yang disebut Mensesneg sebaiknya diterjemahkan menjadi dokumen publik dengan target terukur, misalnya kenaikan bertahap belanja litbang menuju 0,5 persen PDB pada 2030, rasio pendanaan bisnis terhadap publik, dan indikator mutu yang tidak hanya menghitung jumlah artikel. Kementerian juga perlu menyusun program profesor tamu dan peneliti pascadoktoral internasional yang bekerja di laboratorium Indonesia, seperti diusulkan Budi Santosa sejak 2014, sehingga pengetahuan mengalir masuk, bukan hanya mahasiswa yang mengalir keluar. Kepada BRIN, rekomendasinya adalah memanfaatkan posisinya sebagai institusi terdepan Indonesia dalam Nature Index untuk membangun tiga hingga empat program unggulan yang terfokus, dengan pendanaan tahun jamak dan evaluasi internasional, serta membuka akses data dan fasilitas bagi universitas agar konsolidasi tidak memusatkan kapasitas di Jakarta saja. Kepada LPDP, rekomendasinya adalah mengalokasikan sebagian hasil dana abadi penelitian senilai Rp14 triliun untuk hibah kelompok riset domestik yang mengikat alumni luar negeri untuk kembali ke laboratorium yang jelas, bukan sekadar ke kampus asal tanpa infrastruktur.

Kepada perguruan tinggi, termasuk jaringan UIN di bawah Kementerian Agama, rekomendasinya bersifat epistemik sekaligus praktis. Masuknya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ke kelompok 801–1000 THE 2027 menunjukkan bahwa perguruan tinggi Islam dapat bersaing dalam ukuran global. Langkah berikutnya adalah membangun pusat kajian yang memadukan tradisi Ibn Khaldun dan Alatas dengan metode ilmu sosial mutakhir, serta menjadikan Singapura, Malaysia, dan Samudra Hindia sebagai objek kajian, bukan hanya Timur Tengah dan Indonesia sendiri. Kementerian Agama dapat mendanai beasiswa doktoral dan pascadoktoral tematik di bidang kajian Asia Tenggara, ekonomi politik kawasan, dan keamanan nonkonvensional. Kepada lembaga kajian dan lembaga survei Indonesia, rekomendasinya adalah merancang survei elite dan publik tentang Singapura dan ASEAN yang dirilis rutin, sehingga data persepsi kawasan tidak hanya bersumber dari satu pihak. Kepada Kementerian Luar Negeri dan DPR, rekomendasinya adalah memisahkan ketegangan politik dari kerja sama akademik, menjaga agar sengketa kabut asap atau pasar modal tidak berujung pada pembatasan riset bersama, sambil menuntut kesetaraan dalam desain, kepemilikan data, dan kepenulisan pada setiap proyek kolaboratif dengan lembaga Singapura.

XV

Keterbatasan dan Kesimpulan

Laporan ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dinyatakan terbuka. Pertama, data OpenAlex tidak dapat diakses dari lingkungan riset yang digunakan, sehingga perbandingan volume publikasi total dan topik dominan per institusi belum tersaji; penelitian lanjutan sebaiknya menjalankan kueri institusi NUS, NTU, SMU, dan A*STAR melalui API tersebut dan membandingkannya dengan BRIN serta universitas Indonesia terkemuka. Kedua, jumlah Highly Cited Researchers untuk seluruh Singapura dan untuk NUS pada daftar 2023 dan 2024 tidak tersedia dalam sumber yang diperiksa, sehingga tren NUS hanya dibaca dari titik 2022 dan 2025. Ketiga, periode Nature Index untuk kedua negara tidak identik sebagaimana ditampilkan halaman masing-masing. Keempat, sejumlah esai di kba13.com yang disebut dalam laporan ini dirujuk berdasarkan judul dan konteks yang telah diverifikasi sebelumnya, bukan pembacaan ulang menyeluruh pada saat penulisan. Kelima, profil sarjana dibatasi pada mereka yang penanda jabatannya, karya, dan penghargaannya dapat diverifikasi; banyak sarjana penting lain, termasuk di bidang hukum, kedokteran klinis, dan ekonomi, belum tercakup. Keterbatasan ini tidak mengubah arah kesimpulan, tetapi membatasi presisi beberapa angka.

Kesimpulannya, Singapura membuktikan bahwa negara kecil tanpa sumber daya alam dapat menjadi pusat pengetahuan global melalui tiga hal yang saling mengunci: pendanaan riset sekitar satu persen PDB yang konsisten selama hampir dua dekade, konsentrasi institusional pada beberapa universitas dan lembaga kajian berkinerja tinggi, serta hubungan terkelola antara akademia dan negara yang memungkinkan pengetahuan bergerak cepat ke kebijakan. Para sarjananya, dari Wang Gungwu dan Chua Beng Huat hingga Lim Chwee Teck dan Teo You Yenn, bukan sekadar produk sistem itu, tetapi juga penjaga dan pengkritiknya. Bagi Indonesia, pelajaran terpenting bukan meniru skala atau mengejar peringkat, melainkan membangun kapasitas untuk mengkaji balik: mendanai riset secara konsisten, memusatkan keunggulan pada bidang strategis, dan memiliki lembaga yang mampu membaca tetangga dengan kedalaman yang sama seperti tetangga membaca Indonesia. Syed Hussein Alatas pernah mengingatkan bahaya pikiran tertawan; dalam abad data dan peringkat, bahaya itu berganti rupa menjadi ketergantungan tafsir. Ketegangan Oktober 2026 akan berlalu, tetapi pertanyaan tentang siapa yang menulis kawasan ini akan tetap tinggal, dan jawabannya akan ditentukan oleh keputusan anggaran, kelembagaan, dan keberanian intelektual yang diambil Indonesia hari ini.

Asimetri pengetahuan hari ini adalah asimetri kekuasaan esok hari; satu-satunya jawaban yang berkelanjutan adalah kapasitas untuk mengkaji balik.
◆

Rujukan dan Sumber

Dokumen resmi dan data

Literatur ilmiah

Analisis kebijakan dan laporan lembaga

Media dan pemberitaan

Arsip & Pustaka

Cara Mengutip

Ahmad, Kamaruzzaman Bustamam. (2026). Pabrik Pengetahuan di Ujung Semenanjung: Sarjana Terkemuka Singapura, Basis Data Ilmiah, dan Arah Kajian Mereka. Banda Aceh: KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/pabrik-pengetahuan-sarjana-terkemuka-singapura-basis-data-arah-kajian/

KBA
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad

Guru Besar Antropologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh; pendiri KBA13 Insight dan KBA13 Academy. Meraih PhD Sosiologi dari La Trobe University.

Kajian lainnya di Research Center → ↑ Kembali ke atas

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →