Ketika Hormuz Tertutup: Asia Tenggara di Antara Dua SelatKetergantungan Titik Sempit, Kehadiran Angkatan Laut Kekuatan Besar, dan Reposisi Strategis Indonesia dalam Tatanan Energi-Geopolitik yang Sedang Terbentuk
Delapan bulan penutupan efektif Selat Hormuz menunjukkan bahwa Asia Tenggara bukan pinggiran krisis, melainkan sandera di hilir sekaligus penjaga selat terbesar dunia di hulunya. Kertas kerja ini menimbang apa artinya bagi Indonesia dan ASEAN.

Abstrak
Perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang dimulai 28 Februari 2026 telah membuat Selat Hormuz tertutup secara efektif selama sekitar 242 hari. Kertas kerja ini bertanya apa yang diungkapkan penutupan berkepanjangan itu tentang posisi Asia Tenggara dalam tatanan energi-geopolitik yang sedang terbentuk, dan bagaimana negara ASEAN, khususnya Indonesia, sebaiknya mereposisi diri. Dengan memadukan konsep interdependensi yang dipersenjatai, geopolitik maritim klasik Mahan dan Spykman, serta kerangka empat A keamanan energi, kajian ini merunut data lalu lintas kapal, harga, cadangan, dan kebijakan dari Februari hingga akhir Oktober 2026. Temuan utamanya: kawasan ini terpapar sangat dalam di hilir Hormuz, tetapi sekaligus memegang Selat Malaka, titik sempit minyak terbesar dunia, sehingga daya ungkitnya bersifat normatif dan bergantung pada kredibilitas rezim lintas transit. Kesepakatan lintas bilateral dengan Teheran, gagasan tarif Malaka, dan kegagalan mengaktifkan mekanisme darurat ASEAN menggerus aset itu. Kajian ini membandingkan embargo 1973, Perang Tanker, krisis Laut Merah, serta respons Jepang, Korea, Tiongkok, dan India; menguji argumen tandingan; menyusun tiga skenario hingga 2030 dengan probabilitas dan penanda; lalu merumuskan rekomendasi berbasis aktor dan tenggat waktu.
Pertanyaan, Jawaban Inti, dan Taruhannya
Pada 29 Oktober 2026, pelacak independen straits.live mencatat hari ke-242 hingga 243 penutupan efektif Selat Hormuz bagi pelayaran komersial. Data IMF PortWatch yang dirujuk pelacak itu hanya mencatat dua lintasan kapal yang memancarkan sinyal AIS pada 25 Oktober, dibandingkan sekitar 85 lintasan per hari sebelum krisis. Harga Brent ditutup pada US$115,32 per barel pada 28 Oktober menurut The National, sekitar 60 persen di atas tingkat prakrisis. Perang yang dimulai dengan serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 telah berubah dari kejutan pasokan menjadi kondisi struktural. Kertas kerja ini mengajukan satu pertanyaan: apa yang diungkapkan penutupan berkepanjangan Hormuz tentang posisi Asia Tenggara dalam tatanan energi-geopolitik yang sedang terbentuk, dan bagaimana negara ASEAN, terutama Indonesia, sebaiknya mereposisi diri di antara ketergantungan pada titik sempit, kehadiran angkatan laut kekuatan besar, diplomasi Teluk dan Asia, serta daya ungkit Selat Malaka sendiri?
Jawaban intinya, dengan keyakinan sedang, adalah bahwa Asia Tenggara bukan pinggiran krisis ini. Kawasan ini menempati posisi ganda yang jarang disadari dalam perdebatan publik: ia adalah sandera di hilir Hormuz sekaligus penjaga di hulu Malaka. Sekitar 56 persen impor minyak mentah ASEAN pada 2025 berasal dari Timur Tengah menurut Observer Research Foundation, dan sekitar 80 persen aliran energi yang melewati Hormuz memang ditujukan ke Asia menurut ERIA. Pada saat yang sama, Selat Malaka mengalirkan 23,2 juta barel minyak per hari pada paruh pertama 2025, lebih besar daripada Hormuz, dan menurut Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) merupakan titik sempit minyak terbesar di dunia. Daya ungkit kawasan atas Malaka bukan daya paksa, melainkan daya normatif: nilainya terletak pada kredibilitas janji bahwa selat itu akan tetap terbuka bagi semua pihak dalam keadaan apa pun.
Taruhannya global. Bila negara pantai Malaka dan negara kepulauan seperti Indonesia ikut memperlakukan lintas transit sebagai sesuatu yang dapat dirundingkan, diberi izin, atau dikenai tarif, preseden Hormuz akan menular ke simpul kedua rantai pasok energi dunia. Sebaliknya, bila kawasan ini menjadikan dirinya penjamin rezim terbuka sambil membangun cadangan nyata, ia dapat mengubah kerentanan menjadi posisi tawar dalam tatanan yang kian ditentukan oleh siapa yang menguasai simpul. Kajian ini menyimpulkan bahwa Indonesia perlu bergeser dari diplomasi lintas kasus per kasus, yang efektif menyelamatkan awak dan kapal tetapi secara strategis reaktif, menuju peran penjaga rezim lintas transit yang ditopang cadangan minyak strategis, reformasi subsidi, dan mekanisme darurat ASEAN yang benar-benar bisa diaktifkan.
Kerangka Analitis: Titik Sempit Bertingkat, Rimland, dan Empat A
Kajian ini memadukan tiga lensa yang biasanya dipakai terpisah. Lensa pertama adalah konsep interdependensi yang dipersenjatai dari Henry Farrell dan Abraham Newman dalam Weaponized Interdependence: How Global Economic Networks Shape State Coercion (International Security, 2019). Gagasan pokoknya adalah bahwa jaringan ekonomi global tidak datar; jaringan itu memiliki simpul pusat, dan negara yang menguasai simpul dapat memakainya untuk mengawasi pihak lain atau memutus akses mereka. Farrell dan Newman menulis tentang simpul keuangan dan informasi. Krisis 2026 memperlihatkan versi fisik dari logika yang sama: Iran memakai geografi Hormuz sebagai titik sempit, sementara Amerika Serikat membalas dengan blokade pelabuhan Iran dan sanksi atas jaringan kapal bayangan. Dua bentuk pemaksaan itu, fisik dan finansial, kini berlangsung bersamaan.
Lensa kedua adalah geopolitik maritim klasik. Alfred Thayer Mahan menekankan penguasaan jalur laut oleh armada, sedangkan Nicholas Spykman menamai lautan pinggir Asia Timur sebagai “Laut Tengah Asia” dan, sebagaimana diulas Francis Sempa di The Diplomat, menyamakan Selat Malaka dengan Terusan Panama sebagai titik sempit strategis dan komersial. Ludovico Domini dalam CIMSEC (Juli 2026) berargumen bahwa krisis Hormuz membuktikan penguasaan simpul dapat lebih menentukan daripada kekuatan armada, karena kekuatan regional dengan ranjau, drone, dan kapal cepat mampu menumpulkan angkatan laut dominan. Bagi Asia Tenggara, revisi atas Spykman ini penting: kawasan rimland bukan lagi sekadar penyangga antara kekuatan darat dan laut, tetapi wilayah yang nilai strategisnya melekat pada simpul yang dikuasainya.
Lensa ketiga adalah kerangka empat A keamanan energi dari Asia Pacific Energy Research Centre dalam A Quest for Energy Security in the 21st Century (2007), yang dirangkum oleh International Energy Forum: ketersediaan (availability), keterjangkauan akses (accessibility), keterjangkauan harga (affordability), dan keberterimaan (acceptability). Kerangka ini berguna karena memisahkan empat jenis kerusakan yang sering dicampur: kekurangan fisik, putusnya jalur, lonjakan biaya, dan krisis legitimasi kebijakan.
Sintesis kajian ini adalah model titik sempit bertingkat. Tingkat pertama adalah simpul di sisi produsen, yakni Hormuz, tempat pihak yang menguasai geografi dapat memutus pasokan. Tingkat kedua adalah simpul di sisi konsumen, yakni Malaka dan selat-selat kepulauan Indonesia, tempat aliran yang tersisa harus lewat menuju Asia Timur. Negara yang memegang simpul tingkat kedua menghadapi pilihan: memanfaatkan simpul itu untuk keuntungan sesaat, misalnya tarif atau izin selektif, atau menjaminnya sebagai barang publik. Kajian ini menguji tiga dugaan. Pertama, paparan Asia Tenggara terhadap penutupan Hormuz lebih dalam daripada kapasitas penyangganya. Kedua, respons kawasan cenderung bilateral dan ad hoc sehingga menggerus rezim yang justru menjadi sumber daya tawarnya. Ketiga, daya tawar itu dapat dipulihkan bila jaminan atas Malaka dipadukan dengan cadangan energi yang kredibel.
Catatan metode
Kajian ini memakai penelusuran proses atas peristiwa 28 Februari hingga 29 Oktober 2026, dengan sumber dokumen resmi (IEA melalui siaran pers anggota, EIA, ASEAN, kantor perdana menteri Singapura, kementerian Korea), lembaga riset (ERIA, ORF, ISEAS, CSIS), serta media bereputasi. Data lalu lintas kapal berbeda menurut metode: IMF PortWatch menghitung lintasan berbasis AIS sekitar 85 per hari sebelum krisis, sedangkan data Starboard yang dipakai CSIS mencatat lebih dari 153 kapal per hari karena cakupan jenis kapal berbeda; kedua angka tidak dicampur. Lintasan gelap tanpa AIS berarti aliran nyata lebih tinggi daripada angka resmi. Klaim pihak yang berperang, misalnya klaim ranjau IRGC 29 Oktober, diperlakukan sebagai belum terverifikasi. Ringkasan ensiklopedis dipakai hanya untuk kronologi dan selalu ditandai. Tingkat keyakinan dinyatakan sebagai tinggi, sedang, atau rendah. Probabilitas skenario bersifat subjektif dan dimaksudkan untuk diuji terhadap penanda yang disebutkan.
Kerangka ini juga meminjam kesadaran epistemik yang dirumuskan dalam buku Judgement Before the Evidence: A Year of Fault Lines in the Indo-Pacific and Beyond (2026), yakni bahwa keputusan strategis hampir selalu diambil sebelum bukti lengkap tersedia dan bahwa krisis di berbagai kawasan kini saling memengaruhi. Karena itu, setiap penilaian dalam kertas kerja ini disertai tingkat keyakinan dan setiap skenario disertai penanda yang dapat membatalkannya.
Anatomi 242 Hari: Kronologi dan Data Penutupan
Kronologi berikut disusun dari laporan media dan ringkasan ensiklopedis Wikipedia tentang krisis Selat Hormuz 2026, yang dipakai sebagai peta awal dan dicocokkan dengan sumber primer bila tersedia. Pada 28 Februari 2026, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel memicu peringatan IRGC bahwa tidak ada kapal yang boleh melintas. Analisis CSIS (6 Maret 2026) mencatat bahwa lalu lintas turun dari lebih dari 153 kapal per hari menjadi rata-rata 13 per hari sejak 1 Maret, dengan hanya 13 lintasan pada 2 Maret. Pada 11 Maret, ke-32 anggota Badan Energi Internasional (IEA) secara bulat menyetujui pelepasan 400 juta barel cadangan darurat, terbesar dalam sejarah lembaga itu, sebagaimana dicatat Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea dan Xinhua.
Fase berikutnya ditandai oleh gencatan senjata yang rapuh. Ringkasan Wikipedia mencatat gencatan senjata sementara pada 8 April, kegagalan perundingan Islamabad dan dimulainya blokade laut Amerika Serikat atas pelabuhan Iran pada 13 April, penandatanganan Memorandum Islamabad pada 17 Juni, penutupan kembali selat oleh Iran pada 20 Juni, dan runtuhnya gencatan sementara pada 8 Juli. Laporan IR Insider menyebut blokade dicabut pada Juni di bawah nota kesepahaman 60 hari lalu diberlakukan kembali sekitar pertengahan Juli. Perang Saudi-Houthi menyala lagi pada 13 Juli, dan Arab Saudi, Turki, serta Pakistan menandatangani Pakta Pertahanan Mekkah pada 7 Agustus menurut Chatham House. Pada akhir Agustus, Washington menyatakan jalur pelayaran bebas ranjau, tetapi lalu lintas tidak pulih.
Minggu terakhir Oktober memperlihatkan diplomasi dan persiapan militer berjalan berdampingan. Menurut CBS News, mediator Qatar menyerahkan draf kesepakatan baru kepada Iran pada 25 Oktober; seorang pejabat senior Iran menyangkal menerima proposal dan menyebut gagasan Doha “tidak dapat diterima”, sementara kantor berita Tasnim menyatakan Teheran tidak akan melepas syarat pencabutan blokade, pelonggaran sanksi, dan pencairan aset beku. Pada 26 Oktober, Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman memimpin delegasi negara-negara Pakta Mekkah ke Teheran menurut Arab News, dan pada hari yang sama parlemen Mesir memberi mandat kepada Presiden El Sisi untuk membela wilayah dan tempat suci Arab Saudi, meskipun pengerahan hanya akan terjadi atas permintaan resmi Riyadh, sebagaimana dilaporkan The National. CBS juga memperoleh perkiraan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) bahwa biaya perang mencapai sekitar US$47 miliar, termasuk sekitar US$29 miliar untuk mengganti amunisi. Pada 29 Oktober, IRGC mengklaim tiga tanker menabrak ranjau di rute selatan; klaim ini belum terverifikasi, meskipun UKMTO melaporkan satu kapal terbakar di dekat Khasab.
Tabel berikut merangkum indikator kunci. Angka paling mutakhir dan rujukan silangnya juga dihimpun dalam pembaruan KBA13 Insight 29 Oktober 2026, yang menilai serangan besar baru terhadap Iran dalam empat hingga enam minggu lebih mungkin terjadi daripada tidak, dengan keyakinan sedang.
| Indikator | Prakrisis | Kondisi krisis | Sumber |
|---|---|---|---|
| Lintasan Hormuz berbasis AIS (IMF PortWatch) | sekitar 85 per hari | 2 lintasan (25 Okt 2026) | straits.live |
| Lalu lintas kapal (data Starboard) | lebih dari 153 per hari | rata-rata 13 per hari (1-5 Mar 2026) | CSIS |
| Aliran minyak Hormuz / Malaka | 20,9 / 23,2 juta barel per hari (paruh I 2025) | Hormuz mendekati nol; Malaka tetap terbuka | EIA |
| Kapasitas pipa pintas Hormuz (Saudi dan UEA) | sekitar 4,7 juta barel per hari | jauh di bawah aliran normal selat | EIA |
| Harga Brent | sekitar US$72 | US$115,32 (28 Okt 2026) | The National |
| Premi risiko perang (perkiraan) | 1 kali | sekitar 32 kali (7 Okt 2026) | straits.live |
| Kargo LNG Qatar (periode sebanding) | 509 kargo | 18 kargo; force majeure diperpanjang hingga akhir November | OilPrice/ICIS |
| Aksi kolektif IEA | disepakati 400 juta barel (11 Mar) | sekitar 325 juta barel dilepas; sekitar 1,1 miliar barel cadangan publik tersisa (7 Okt) | Xinhua/IEA |
| Asumsi ICP APBN 2026 dan kepekaan subsidi | US$70 per barel | setiap kenaikan US$1 menambah Rp6,8-10 triliun | Straits Times/ANN |
| Kurs rupiah | sekitar Rp18.182 per US$ (29 Okt 2026) | KBA13 Insight | |
| Biaya perang AS (perkiraan CENTCOM) | sekitar US$47 miliar, US$29 miliar untuk amunisi | CBS News |
Dua pola menonjol dari data ini. Pertama, krisis tidak berbentuk satu guncangan tunggal, melainkan siklus buka-tutup yang berulang, sehingga setiap pengumuman pembukaan kehilangan kredibilitas di mata pemilik kapal dan penjamin asuransi. Kedua, penyangga global sedang menipis: IEA telah melepas sebagian besar volume yang dijanjikan pada Maret, dan bank UBS, sebagaimana dikutip The National, menilai pelepasan cadangan strategis “sebagian besar telah selesai”. Dengan keyakinan tinggi, kajian ini menilai bahwa tahun kedua krisis akan diuji dengan bantalan yang lebih tipis daripada tahun pertama.
Asia Tenggara di Hilir Krisis: Paparan dan Respons Negara demi Negara
Paparan Asia Tenggara tidak seragam, tetapi secara keseluruhan dalam. Menurut ERIA, ketergantungan impor minyak mentah Singapura mencapai 100 persen, Filipina 99 persen, dan Thailand 94 persen pada 2024, sedangkan rata-rata ASEAN sekitar 66 persen. Data ORF menambahkan dimensi waktu: cadangan Filipina hanya sekitar 45 hari pada Maret 2026 tanpa cadangan strategis, Vietnam 30 hingga 45 hari, Indonesia sekitar 23 hari, Thailand sekitar 95 hari, dan Singapura lebih dari 200 hari. Ian Storey dari ISEAS dalam Fulcrum (12 Mei 2026) mencatat bahwa sebagian besar negara kawasan hanya menyimpan cadangan 30 hingga 100 hari, jauh di bawah Jepang dan Korea. Perbandingan inilah yang menjelaskan perbedaan perilaku: negara dengan bantalan tipis tidak punya waktu untuk menunggu dan karena itu cenderung tawar-menawar langsung.
Filipina menjadi negara pertama di dunia yang menyatakan darurat energi nasional pada 24 Maret 2026. Menurut AsiaNews, Menteri Energi menyatakan cadangan akan habis dalam 45 hari tanpa langkah luar biasa, dan Manila meminta keringanan dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk membeli minyak dari negara yang dikenai sanksi. Thailand memberlakukan kerja dari rumah bagi aparatur sipil, melarang ekspor BBM kecuali ke Myanmar dan Laos, membatasi harga solar, dan menghidupkan kembali pembangkit batu bara Mae Moh. Vietnam, yang mengimpor lebih dari 80 persen minyak mentahnya dari Kuwait, memangkas tarif impor BBM dan menghentikan ekspor minyak mentah. Malaysia menurunkan kuota BBM bersubsidi dari 300 menjadi 200 liter per konsumen, sementara Laos memotong pekan sekolah menjadi tiga hari. Semua data ini berasal dari tabel perbandingan ORF dan dikonfirmasi sebagian oleh Storey.
Singapura memperlihatkan pola berbeda. Perdana Menteri Lawrence Wong dalam pesan 2 April 2026 menyatakan bahwa harga minyak telah naik lebih dari 60 persen, bahwa infrastruktur yang rusak akan memerlukan berbulan-bulan untuk dipulihkan bahkan jika gencatan senjata tercapai, dan bahwa Australia sudah memasok lebih dari sepertiga LNG Singapura. Menurut Storey, sekitar 60 persen listrik berbasis LNG di Singapura bergantung pada pasokan Qatar, dan kompleks Ras Laffan mengalami kerusakan. Kerentanan Singapura dengan demikian bukan pada minyak, yang ditopang cadangan lebih dari 200 hari, melainkan pada gas. Ekspor LNG Qatar yang anjlok hingga 96 persen menurut data ICIS yang dikutip OilPrice menjadikan gas sebagai saluran guncangan yang paling lama pulih.
Kerangka empat A membantu membaca respons ini. Krisis ketersediaan terlihat pada cadangan yang menipis. Krisis akses terlihat pada kapal yang terjebak di Teluk. Krisis keterjangkauan harga tampak dalam pembengkakan subsidi dan kenaikan harga BBM sekitar 50 persen di beberapa negara menurut Storey. Krisis keberterimaan muncul ketika pemerintah memangkas program sosial atau memberlakukan penjatahan: Storey mencatat Indonesia dan Myanmar memperkenalkan penjatahan BBM, dan Indonesia mengurangi skala program makan bergizi gratis. Guncangan energi dengan cepat menjadi guncangan pangan pula. ERIA mencatat indeks pupuk Bank Dunia naik lebih dari 37 persen dan harga urea sekitar 85 persen antara Desember 2025 dan Maret 2026, sementara Thailand mengimpor sekitar 67 persen ureanya dari kawasan Teluk.
Respons kolektif ASEAN tertinggal dari respons nasional. Para menteri ekonomi ASEAN pada 14 Maret menyerukan percepatan perjanjian keamanan perminyakan ASEAN (APSA), yang pertama kali ditandatangani di Manila pada 1986 dan diperbarui pada Oktober 2025 untuk mencakup gas alam, menurut Philippine Information Agency. Namun pertemuan khusus menteri energi ASEAN pada 27 April, sebagaimana dilaporkan GridWatch, hanya dapat merujuk Mekanisme Tanggap Darurat Terkoordinasi (CERM) tanpa mengaktifkannya secara resmi karena ratifikasi belum lengkap. Pernyataan menteri luar negeri ASEAN pada 21 Juli 2026 menolak “tindakan diskriminatif atau sepihak” di Hormuz dan menuntut lintas transit yang aman, tanpa hambatan, dan berkelanjutan sesuai UNCLOS 1982, tetapi tidak menyebut APSA sama sekali. Dengan keyakinan tinggi, kajian ini menilai bahwa ASEAN memiliki bahasa normatif yang tepat tetapi belum memiliki perangkat operasional untuk menopangnya.
Indonesia: Pasokan, Fiskal, dan Diplomasi di Bawah Tekanan
Paparan Indonesia lebih rendah daripada Filipina atau Singapura, tetapi tidak kecil. Pada 2025, Pertamina mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah, dan sekitar 19 persen atau 25,36 juta barel berasal dari Arab Saudi, menurut Jakarta Globe; ORF memperkirakan sekitar 25 persen impor minyak mentah Indonesia melewati Hormuz. Kerentanan yang lebih tajam ada pada LPG. Menurut data BPS yang dihimpun Petromindo, Indonesia mengimpor 7,49 juta ton LPG pada 2025 dengan 29,1 persen berasal dari Timur Tengah; pada Maret 2026, impor turun 27,6 persen dari bulan sebelumnya dan Amerika Serikat memasok 90,4 persen volume karena kiriman dari Saudi, Qatar, dan Kuwait terhenti. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, sebagaimana dikutip Jakarta Globe (31 Maret 2026), mengumumkan pengalihan sumber LPG dan BBM menjauhi Timur Tengah, sebagian dalam kerangka perjanjian dagang resiprokal senilai US$15 miliar dengan Washington.
Krisis juga menyentuh armada nasional secara langsung. Empat kapal milik Pertamina International Shipping berada di Teluk saat perang pecah. Dua di antaranya, PIS Rinjani dan PIS Paragon, berhasil keluar pada awal Maret menurut Türkiye Today, sementara VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro tertahan. Upaya keluar pada 18 April dibatalkan karena Teheran memberlakukan kembali pembatasan setelah Washington memblokade pelabuhan Iran, sebagaimana dilaporkan Jakarta Globe. Gamsunoro akhirnya melintas pada 24 Juni setelah penilaian risiko selama sebulan dan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri serta KBRI Teheran, menurut ANTARA. Kajian ini tidak menemukan sumber yang dapat diverifikasi tentang tanggal lintasan Pertamina Pride setelah itu.
Di sisi pasokan, langkah paling berani adalah impor minyak Rusia. Menurut ANTARA (21 Juli 2026), Indonesia memulai impor pertama dari rencana 150 juta barel melalui Lemigas, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2026 tentang pengadaan minyak mentah, BBM, dan LPG untuk ketahanan energi; Bahlil menegaskan bahwa “kedaulatan nasional tidak dapat dicampuri negara lain”. Pada 11 Mei, ia juga mengusulkan Indonesia menjadi tuan rumah pusat penyimpanan minyak ASEAN dan merencanakan fasilitas penyimpanan di kawasan ekonomi khusus Sumatra, menurut ANTARA. Usulan ini tepat arah, tetapi masih pada tahap studi kelayakan.
Tekanan fiskal adalah titik terlemah. Laporan Straits Times yang dimuat ulang Asia News Network (20 Mei 2026) mencatat bahwa APBN 2026 mengasumsikan ICP US$70 per barel, bahwa setiap kenaikan US$1 menambah Rp6,8 hingga 10 triliun pada tagihan subsidi tahunan menurut perkiraan pemerintah, dan bahwa negara membelanjakan lebih dari Rp500 miliar per hari untuk subsidi BBM. Pertalite, yang mencakup sekitar 80 persen konsumsi BBM nasional, tidak dinaikkan harganya. Pada 29 September, pemerintah menegaskan harga Pertalite dan Biosolar tetap hingga akhir tahun, sementara proyeksi rata-rata ICP tahunan kini sekitar US$100 per barel, menurut ANTARA. Pada 26 Oktober, The Jakarta Post melaporkan bahwa stok Pertalite hanya cukup untuk 18 hari, kuota akan dinaikkan dengan impor tambahan, dan Bahlil menyatakan bahwa tambahan subsidi dan kompensasi “pasti akan terjadi”. Dengan rupiah sekitar Rp18.182 per dolar, kebijakan menahan harga memindahkan seluruh guncangan ke anggaran.
Dilema ini bukan hal baru. Pada tahun 2014, Rinaldy Dalimi dalam harian Kompas yang berjudul KEN-2050 dan Dilema Harga BBM menguraikan bahwa Kebijakan Energi Nasional menuntut pembangunan cadangan operasional, penyangga, dan strategis serta pengurangan subsidi harga energi secara bertahap. Dua belas tahun kemudian, krisis Hormuz menemukan Indonesia dengan cadangan sekitar tiga minggu dan subsidi yang tetap menjadi jangkar politik. Kesinambungan itu menunjukkan bahwa masalahnya bukan ketiadaan konsep, melainkan ketiadaan urgensi pelaksanaan pada masa tenang.
Di bidang diplomasi, Jakarta bergerak cepat tetapi dengan modal terbatas. Pada hari pertama perang, Kementerian Luar Negeri menyatakan Presiden Prabowo Subianto siap terbang ke Teheran sebagai mediator bila kedua pihak menerima, menurut Jakarta Globe. Menteri Luar Negeri saat itu, Sugiono, menyampaikan tawaran itu kepada Abbas Araghchi melalui telepon, tetapi Duta Besar Iran Mohammad Boroujerdi menegaskan tidak ada negosiasi dengan negara yang memerangi Iran, dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mempertanyakan apakah Jakarta memiliki modal diplomatik yang cukup, menurut Jakarta Globe. Indonesia menunda KTT D-8 yang dijadwalkan pertengahan April di Jakarta, menurut laporan Jakarta Post yang dimuat APSN, dan menurut Storey menangguhkan partisipasinya dalam Board of Peace untuk Gaza. Perombakan kabinet 1 Oktober menempatkan Arrmanatha Christiawan Nasir sebagai Menteri Luar Negeri dan Bahlil sebagai Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, sementara Suahasil Nazara menjabat Menteri Keuangan sejak 14 September, menurut Jakarta Globe. Penilaian kajian ini, dengan keyakinan sedang: manajemen krisis Indonesia kompeten secara taktis, terutama dalam menyelamatkan awak dan kapal, tetapi reaktif secara strategis karena belum memiliki doktrin tentang posisinya dalam rantai titik sempit.
Paradoks Lintas Transit dan Daya Ungkit Selat Malaka
Inti analitis kertas kerja ini terletak pada sebuah paradoks. Untuk menyelamatkan kapal dan awaknya, beberapa negara Asia Tenggara merundingkan izin lintas langsung dengan Teheran. Menurut Storey, Malaysia, Thailand, dan Filipina bernegosiasi langsung dengan Iran, sementara Singapura menolak dengan alasan hak lintas transit di bawah UNCLOS. Indonesia, melalui KBRI Teheran dan koordinasi Kemlu-ESDM-Pertamina, menempuh jalur yang mirip demi Pertamina Pride dan Gamsunoro. Setiap langkah itu rasional pada tingkat kapal. Namun pada tingkat sistem, setiap izin bilateral secara diam-diam mengakui klaim Iran bahwa lintas melalui selat internasional adalah hak istimewa yang dapat diberikan atau dicabut. Iran sendiri kemudian membentuk otoritas selat dan, sebagaimana dirujuk menteri keuangan Indonesia, merencanakan pungutan bagi kapal yang melintas.
Paradoks itu menjadi nyata ketika pada 22 April 2026 Menteri Keuangan saat itu, Purbaya Yudhi Sadewa, melontarkan gagasan bahwa Indonesia dapat memungut tarif atas kapal yang melintasi Selat Malaka dan membagi hasilnya dengan Singapura dan Malaysia, dengan merujuk rencana Iran di Hormuz, sebelum segera menariknya kembali, menurut ABC News. Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan telah lebih dahulu menegaskan bahwa Singapura tidak akan ikut dalam upaya menutup, mencegat, atau memungut tarif di kawasannya. Analis ASPI Euan Graham mengingatkan bahwa Indonesia “berutang integritas teritorialnya” pada UNCLOS. Peringatan itu tepat sasaran: status negara kepulauan yang memungkinkan Indonesia menyatukan perairan di antara pulau-pulaunya lahir dari tawar-menawar UNCLOS yang sama, yang mewajibkan Indonesia menghormati lintas transit dan lintas alur laut kepulauan. Menggugat satu bagian berarti melemahkan bagian lain.
Daya ungkit Asia Tenggara atas Malaka hanya bernilai selama tidak dipakai sebagai alat tekan; begitu dipakai, nilainya runtuh.
Bobot Malaka sendiri tidak diragukan. Laporan Reuters yang dimuat Gulf Times (24 April 2026) mencatat lebih dari 102.500 kapal melintasi selat itu pada 2025, bahwa sekitar 75 persen impor minyak mentah lintas laut Tiongkok melewatinya menurut data Vortexa, dan bahwa titik tersempitnya di Phillips Channel hanya sekitar 2,7 kilometer. Ketergantungan Beijing ini telah lama dikenal sebagai “dilema Malaka”; Ian Storey dalam China Brief (2006) mencatat bahwa pada November 2003 Hu Jintao menyebut “kekuatan besar tertentu” berupaya menguasai selat itu. Krisis Hormuz membalik sorotan: kini bukan hanya Tiongkok, tetapi seluruh Asia Timur menyadari bahwa simpul tingkat kedua dalam rantai pasoknya berada di tangan negara-negara Asia Tenggara.
Selat-selat kawasan juga sudah masuk ke dalam geografi ekonomi perang. Menurut IR Insider, yang mengolah data UANI dan Kpler, kawasan labuh Eastern Outer Port Limits sekitar 45 mil dari pantai timur Johor menjadi tempat alih muat minyak mentah Iran dari kapal ke kapal, dengan sekitar 9 juta barel bertolak ke kilang independen Tiongkok pada September. Malaysia menolak legitimasi sanksi sepihak Amerika Serikat, tetapi pada Juni mewajibkan izin tertulis untuk alih muat di zona ekonomi eksklusifnya dan pada September menetapkan kawasan laut sensitif di dekat Selat Singapura, yang mendorong sedikitnya 25 tanker berpindah ke perairan selatan Hong Kong. Temuan ini bersumber tunggal dan perlu diverifikasi lebih lanjut, sehingga kajian ini memberinya keyakinan rendah hingga sedang. Namun arahnya jelas: Asia Tenggara bukan penonton, melainkan tuan rumah pintu belakang perang.
Kehadiran angkatan laut kekuatan besar tidak dapat diandalkan untuk menyelesaikan dilema ini. Storey mencatat bahwa pasukan dan amunisi Amerika Serikat dipindahkan dari Asia ke Teluk, yang menimbulkan keraguan atas kapasitas Washington di Asia, dan bahwa survei ISEAS menunjukkan penurunan kepercayaan atas keandalan Amerika Serikat. CSIS menunjukkan bahwa Tiongkok, meskipun dekat dengan Teheran, tidak mampu menjamin lintas kapal-kapalnya sendiri pada pekan-pekan awal perang. India mengawal kapal-kapal berbendera India dengan kapal perangnya sendiri, menurut ringkasan Wikipedia. Pelajaran bagi Asia Tenggara bersifat ganda: tidak ada pelindung yang akan datang otomatis, dan setiap pengawalan kekuatan besar membawa agenda kekuatan besar pula. Dengan keyakinan sedang, kajian ini menilai bahwa sumber daya tawar paling murah dan paling tahan lama bagi kawasan adalah reputasi sebagai penjamin rezim lintas yang tidak memihak.
Perbandingan Internasional: Dari 1973 hingga Respons Asia 2026
Embargo minyak Arab 1973-1974 adalah titik rujukan pertama. Menurut Kantor Sejarawan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, harga minyak mula-mula berlipat dua lalu berlipat empat, inflasi dan stagnasi melanda negara pengimpor, dan krisis itu melahirkan Badan Energi Internasional serta Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat. Pelajaran utamanya institusional: negara konsumen membangun lembaga bersama setelah terguncang. Asia Tenggara justru sudah memiliki kerangka sejak 1986 dalam bentuk APSA, tetapi pada 2026 mekanisme daruratnya belum dapat diaktifkan karena ratifikasi tidak lengkap. Perbedaannya bukan pada ide, melainkan pada kesediaan mengikat diri.
Perang Tanker 1980-an memberikan pelajaran kedua. Stephen Phillips dalam War on the Rocks (2024) mencatat bahwa sekitar 60 persen minyak dunia melewati Hormuz pada 1980-an, bahwa Kuwait meminta tankernya dikibarkan bendera Amerika Serikat pada Januari 1987, dan bahwa tanker Bridgeton menabrak ranjau pada 24 Juli 1987, dua hari setelah konvoi pertama Operasi Earnest Will berangkat. Perang Tanker menaikkan premi asuransi tetapi tidak menghentikan aliran, karena kekuatan laut dominan bersedia mengawal kapal di bawah benderanya. Pada 2026, kedua syarat itu tidak terpenuhi sepenuhnya: aliran hampir berhenti total, dan pengawalan seperti Operasi Project Freedom pada Mei dihentikan beberapa hari setelah dimulai menurut ringkasan Wikipedia.
Krisis Laut Merah 2023-2024 adalah pembanding ketiga. Menurut UNCTAD, sebagaimana dilaporkan AFP melalui Free Malaysia Today, lintasan Terusan Suez turun 42 persen dalam dua bulan dan lintasan kapal kontainer mingguan turun 67 persen dibanding tahun sebelumnya, karena kapal memutar lewat Tanjung Harapan. Perbedaannya mendasar: Suez memiliki jalur pengganti laut, sedangkan Hormuz tidak. Satu-satunya pintas adalah pipa Saudi dan UEA berkapasitas sekitar 4,7 juta barel per hari menurut EIA, kurang dari seperempat aliran normal. Karena itu, analogi Laut Merah cenderung meremehkan keparahan krisis Hormuz.
Respons Asia Timur pada 2026 memperlihatkan nilai kedalaman penyangga. Jepang memasuki krisis dengan cadangan 254 hari atau 470 juta barel, mulai melepas cadangan setara 45 hari pada 16 Maret menurut Nippon.com, lalu melepas lagi 20 hari mulai 1 Mei. Pada 12 Mei, Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan tidak perlu pelepasan ketiga karena pengadaan alternatif telah berjalan, dengan impor dari Amerika Serikat untuk Juni diperkirakan delapan kali lipat dibanding tahun sebelumnya dan kargo minyak Rusia pertama sejak Juni 2025 tiba pada 5 Mei, menurut S&P Global. Korea menyumbang 22,46 juta barel pada aksi kolektif IEA, alokasi terbesar dalam sejarahnya, mengirim utusan minyak ke Arab Saudi, Oman, dan Aljazair, serta mengizinkan tanker memakai rute Laut Merah menuju Yanbu, menurut Seoul Economic Daily.
India dan Tiongkok melengkapi gambaran. Menurut IMPRI, cadangan strategis India hanya 5,33 juta ton atau sekitar sembilan hingga sepuluh hari impor bersih, sehingga New Delhi bergantung pada diversifikasi cepat: porsi impor minyak mentah non-Hormuz naik dari sekitar 55 menjadi 70 persen dalam beberapa minggu, cukai bensin dan solar dipangkas ₹10 per liter, dan rupee melemah ke sekitar 93 per dolar. CSIS mencatat bahwa hingga 40 persen minyak dan 30 persen LNG Tiongkok melewati Hormuz dan bahwa Beijing memerintahkan kilangnya menghentikan ekspor BBM pada 5 Maret. Pola komparatifnya jelas dengan keyakinan tinggi: kedalaman cadangan membeli waktu, waktu membeli pilihan diplomatik, dan negara dengan bantalan tipis terdorong ke tawar-menawar bilateral yang menggerus rezim. Asia Tenggara, dengan cadangan antara kurang dari 30 hari dan sekitar 95 hari di luar Singapura, berada di sisi rentan dari pola ini.
Perbandingan ini juga menguji tesis Parag Khanna dalam The Future Is Asian (2019) bahwa Asia adalah sistem berjejaring yang membentang dari Teluk hingga Jepang. Krisis 2026 membenarkan tesis itu, tetapi dengan sisi gelapnya: jaringan yang sama yang menyebarkan pertumbuhan juga menyebarkan guncangan, dan simpul Teluk serta simpul Malaka kini terbukti saling terkait. Pembacaan serupa tentang runtuhnya tatanan lama di kawasan Teluk dikembangkan dalam The Middle East Fault Lines: Iran, Gaza, the Gulf, and the Rewriting of the Regional Order (2026), yang memandang konflik saat ini sebagai gejala retakan struktural selama puluhan tahun, bukan peristiwa sesaat.
Argumen Tandingan: Pasar Beradaptasi, Asia Tenggara Sebaiknya Diam
Argumen tandingan terkuat layak dirumuskan secara adil. Pertama, pasar telah beradaptasi. Aksi kolektif IEA melepas sekitar 325 juta barel, Jepang mengamankan lebih dari 70 persen pengadaan Juni dari sumber alternatif, Indonesia memperoleh LPG Amerika Serikat dan minyak Rusia, dan Brent sempat turun ke sekitar US$72 pada awal Juli menurut ringkasan Wikipedia sebelum naik kembali. UBS memperkirakan Brent bertahan di sekitar US$110 hingga akhir tahun, angka yang mahal tetapi bukan bencana. Kedua, Asia Tenggara terbukti pinggiran secara diplomatik. Kawasan ini tidak duduk dalam perundingan Islamabad, tidak menjadi bagian dari draf Qatar, tidak termasuk dalam Pakta Mekkah, dan tidak hadir dalam pertemuan 12 menteri luar negeri negara Arab dan Muslim di Riyadh pada Maret yang menuntut Iran berhenti menyerang tetangganya, menurut Dawn. Tawaran mediasi Indonesia ditolak secara halus oleh Duta Besar Iran, dan gagasan tarif Malaka mempermalukan Jakarta di mata tetangganya. Kesimpulan logisnya: kawasan sebaiknya tetap nonblok, diam, dan mengelola risiko secara komersial.
Argumen itu benar dalam dua hal dan karena itu sebagian diterima. Ambisi mediasi Indonesia memang perlu dikecilkan menjadi peran yang sepadan dengan modal diplomatiknya, sebagaimana diingatkan Dino Patti Djalal. Nonblok juga tetap merupakan sikap yang tepat; kawasan tidak diuntungkan dengan memihak salah satu kubu perang.
Namun argumen itu keliru dalam tiga hal yang lebih menentukan. Pertama, adaptasi pasar berlangsung mahal dan tidak merata. Filipina harus menyatakan darurat energi, Laos memotong pekan sekolah, Indonesia mengurangi program makan bergizi gratis dan menanggung tambahan Rp6,8 hingga 10 triliun untuk setiap kenaikan satu dolar. Lebih penting lagi, adaptasi itu bertumpu pada cadangan negara anggota IEA, sementara sebagian besar negara Asia Tenggara bukan anggota dan, dalam kasus Indonesia, hanya berstatus mitra asosiasi sejak 2015 menurut Ditjen Migas. Ketika UBS menilai pelepasan cadangan strategis sebagian besar sudah selesai, kemampuan adaptasi pada tahun kedua jauh lebih lemah. Kedua, keterpinggiran dalam diplomasi Teluk tidak sama dengan keterpinggiran dalam sistem. Malaka dan kawasan labuh di lepas Johor menunjukkan bahwa kawasan ini adalah simpul tingkat kedua dan pintu belakang perang; diam pun merupakan pilihan yang akan ditafsirkan pihak lain, sebagaimana terlihat dari tekanan sanksi terhadap jaringan alih muat. Ketiga, nonblok tidak identik dengan pasif. Rumusan politik luar negeri bebas aktif justru menuntut kehadiran pada isu yang menyentuh kepentingan inti, dan rezim lintas transit adalah kepentingan inti negara kepulauan.
Dengan demikian, jawaban atas argumen tandingan bukanlah aktivisme mediasi yang lebih keras, melainkan aktivisme rezim yang lebih tenang tetapi konsisten: membela prinsip lintas transit tanpa pengecualian, membangun cadangan, dan mengoperasikan mekanisme regional. Dengan keyakinan sedang, kajian ini menilai bahwa jalur ini lebih murah daripada mediasi tingkat tinggi dan lebih tahan lama daripada diam.
Skenario 2026-2030 dan Penanda
Tiga skenario disusun berdasarkan kondisi Hormuz hingga akhir 2027, lalu diproyeksikan dampak strukturalnya hingga 2030. Probabilitas berikut adalah penilaian subjektif per 29 Oktober 2026 (penilaian penulis): skenario pembukaan bertahap yang dirundingkan 30 persen, skenario penutupan berkepanjangan berintensitas rendah 45 persen, dan skenario eskalasi dua titik sempit 25 persen. Ketiganya disusun saling eksklusif berdasarkan keadaan selat pada akhir 2027.
Skenario pertama, pembukaan bertahap yang dirundingkan, mengandaikan bahwa jalur mediasi Qatar, Pakistan, dan negara-negara Pakta Mekkah menghasilkan kesepakatan bertahap pada paruh pertama 2027, dengan pencabutan sebagian blokade Amerika Serikat sebagai imbalan pembukaan koridor yang diawasi. Bahkan dalam skenario ini, lalu lintas tidak segera normal karena penjamin asuransi menuntut bukti keamanan berbulan-bulan dan infrastruktur Teluk perlu diperbaiki, sebagaimana diingatkan Lawrence Wong. Brent kemungkinan turun ke kisaran US$80-90, tetapi premi risiko titik sempit menjadi permanen dalam perencanaan energi Asia. Penanda awalnya adalah jawaban positif Iran atas draf Qatar, yang menurut CBS diharapkan sekitar 31 Oktober; Brent bertahan di bawah US$105, yang menurut pembaruan 29 Oktober menandakan diplomasi mendapat tempat; serta lintasan PortWatch yang melampaui 20 per hari secara berkelanjutan.
Skenario kedua, penutupan berkepanjangan berintensitas rendah, adalah yang paling mungkin. Selat tetap tertutup bagi sebagian besar pelayaran, dengan lintasan gelap, alih muat, dan izin selektif, sementara serangan baru Amerika Serikat setelah pemilihan sela 3 November bersifat singkat tetapi tidak mengubah keseimbangan. Brent bergerak di kisaran US$100-125. Bagi Asia Tenggara, ini adalah skenario pengikisan: subsidi menggerus ruang fiskal, penjatahan menjadi kebiasaan, dan tekanan untuk kesepakatan bilateral dengan Teheran makin kuat. Penandanya adalah perpanjangan force majeure Qatar melampaui November, aksi kolektif IEA baru yang lebih kecil, dan tidak adanya kemajuan ratifikasi APSA.
Skenario ketiga, eskalasi dua titik sempit, terjadi bila kampanye militer pascapemilu meluas menjadi serangan terhadap infrastruktur energi Teluk dan perang Saudi-Houthi menutup Bab el-Mandeb, sehingga rute Laut Merah ke Yanbu yang dipakai Korea juga terancam. Brent menembus US$120, yang menurut pembaruan 29 Oktober menandakan pasar mulai memperhitungkan serangan baru, dan dapat melampaui US$140. Dalam skenario ini, tekanan atas Malaka meningkat tajam karena seluruh aliran pengganti dari Atlantik dan Afrika harus melewatinya, sementara armada bayangan mencari tempat alih muat baru di perairan Asia Tenggara. Penandanya adalah serangan terhadap pipa East-West atau terminal Fujairah, permintaan resmi Saudi kepada Mesir untuk mengerahkan pasukan, dan klaim ranjau yang terkonfirmasi di rute selatan.
Hingga 2030, ketiga skenario berujung pada satu kesimpulan struktural dengan keyakinan sedang: Asia akan menata ulang keamanan energinya di sekitar asumsi bahwa titik sempit dapat ditutup dalam waktu lama. Itu berarti cadangan yang lebih dalam, pipa pintas tambahan seperti pipa UEA berkapasitas 1,5 juta barel per hari yang direncanakan rampung 2027 menurut EIA, pengadaan yang lebih beragam termasuk dari Rusia dan Amerika Serikat, serta percepatan listrik domestik. Bagi Asia Tenggara, pertanyaannya adalah apakah penataan ulang itu berlangsung secara regional melalui APSA dan pusat penyimpanan bersama, atau secara terpecah oleh setiap negara sendiri. Pilihan pertama memperkuat posisi kawasan sebagai simpul tingkat kedua; pilihan kedua mengembalikannya ke peran sandera.
Rekomendasi Berbasis Aktor dan Tenggat Waktu
Pemerintah Indonesia
Kementerian Luar Negeri, di bawah kepemimpinan baru, sebaiknya dalam 30 hari menerbitkan pernyataan posisi bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan menolak setiap bentuk izin, tarif, atau pembatasan diskriminatif atas lintas transit di selat internasional mana pun, termasuk Hormuz dan Malaka, sekaligus menegaskan bahwa koordinasi teknis demi keselamatan awak tidak berarti pengakuan atas rezim izin. Hingga kuartal pertama 2027, Kemlu perlu mengecilkan ambisi mediasi tingkat tinggi menjadi tawaran yang konkret dan sepadan: menyediakan Jakarta sebagai tempat perundingan teknis tentang keselamatan pelaut, pembersihan ranjau, dan koridor kemanusiaan, serta memakai keketuaan D-8 dan forum OKI untuk mendukung jalur Qatar dan Pakistan, bukan menyainginya.
Kementerian ESDM sebaiknya sebelum akhir 2026 mempublikasikan secara berkala jumlah hari stok BBM, LPG, dan minyak mentah, karena transparansi menenangkan pasar lebih murah daripada subsidi. Hingga pertengahan 2027, ESDM perlu menuntaskan studi kelayakan fasilitas penyimpanan Sumatra dan menyiapkan dasar hukum cadangan penyangga energi dengan target bertahap menuju standar 90 hari IEA pada 2030. Pertamina perlu melembagakan pusat krisis PIS yang terbukti efektif dalam kasus Gamsunoro menjadi protokol armada nasional, mengurangi porsi LPG dan minyak mentah dari satu titik sempit di bawah ambang yang ditetapkan, dan menilai risiko hukum serta sanksi atas kontrak minyak Rusia secara terbuka. Kementerian Keuangan sebaiknya menetapkan asumsi ICP APBN 2027 yang realistis, menyusun pita penyesuaian otomatis harga Pertalite yang dipadukan dengan bantuan tunai terarah bagi rumah tangga miskin, dan membentuk cadangan fiskal kontingensi energi sebelum siklus anggaran 2027 berjalan.
ASEAN dan negara pantai Malaka
ASEAN perlu menetapkan tenggat ratifikasi penuh APSA yang telah diperbarui sebelum KTT ASEAN 2027, sehingga CERM dapat diaktifkan pada krisis berikutnya, lalu mengembangkan transparansi stok regional, protokol pelepasan, dan pengadaan bersama sebagaimana direkomendasikan ERIA. Malaysia, Singapura, dan Indonesia sebaiknya dalam enam bulan mengeluarkan pernyataan trilateral bahwa Selat Malaka dan Singapura tidak akan pernah dikenai tarif atau izin, sekaligus memperluas patroli terkoordinasi untuk memantau alih muat armada bayangan berdasarkan hukum lingkungan laut, sebagaimana dirintis Malaysia. Pernyataan itu mengubah gaffe tarif menjadi jaminan kredibel.
Mitra Asia, negara Teluk, dan IEA
Jepang, Korea, Tiongkok, dan India memiliki kepentingan langsung atas Malaka yang tetap terbuka. Dalam 12 bulan, Jepang dan Korea dapat menawarkan pengaturan pinjaman cadangan atau penyimpanan bersama kepada ASEAN melalui ERIA; Tiongkok, sebagai pembeli sekitar 90 persen minyak Iran menurut IR Insider, perlu memakai pengaruhnya di Teheran untuk mendukung draf Qatar; India dapat mengoordinasikan informasi keselamatan pelayaran Samudra Hindia dengan Indonesia. Arab Saudi dan UEA sebaiknya mempercepat pipa pintas dan menawarkan skema penyimpanan bersama di Asia Tenggara, meniru cadangan bersama dengan negara produsen yang telah dimiliki Jepang. IEA perlu membuka jalur kerja sama darurat dengan mitra asosiasi seperti Indonesia pada 2027, sehingga aksi kolektif berikutnya mencakup konsumen Asia Tenggara yang kini berada di luar jaring pengaman.
Keterbatasan dan Pertanyaan Riset Lanjutan
Kertas kerja ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, data lalu lintas berbasis AIS menghitung kurang lintasan nyata karena kapal gelap tidak tercatat, dan berbagai penyedia data memakai cakupan berbeda; kajian ini menghindari mencampur angka PortWatch dan Starboard, tetapi tidak dapat mengukur aliran gelap secara langsung. Kedua, sebagian kronologi bergantung pada ringkasan ensiklopedis yang merangkum ratusan laporan, dan beberapa tanggal, misalnya masa berlaku blokade Amerika Serikat, tercatat tidak konsisten di dalamnya. Ketiga, temuan tentang alih muat di lepas Johor bersumber dari satu analisis yang mengolah data organisasi advokasi, sehingga diberi keyakinan rendah hingga sedang. Keempat, data stok nasional berasal dari perhitungan lembaga riset, bukan publikasi resmi pemerintah, dan definisi hari stok berbeda antarnegara. Kelima, perubahan kabinet Indonesia pada September dan Oktober 2026 berarti arah kebijakan energi dan luar negeri dapat bergeser lebih cepat daripada yang tercermin dalam sumber.
Beberapa pertanyaan riset terbuka layak dikejar. Bagaimana sebenarnya volume aliran gelap melalui Hormuz dan alih muat di perairan Asia Tenggara, dan apa implikasinya bagi penegakan hukum laut negara pantai? Sejauh mana kesepakatan lintas bilateral negara ASEAN dengan Teheran memengaruhi persepsi hukum internasional tentang lintas transit, dan apakah ada preseden serupa dalam praktik negara? Bagaimana distribusi beban penyesuaian subsidi BBM di Indonesia antara kelompok pendapatan dan wilayah selama 2026? Apakah pusat penyimpanan ASEAN lebih efisien dibanding cadangan nasional terpisah, dan bagaimana mengatasi defisit kepercayaan antaranggota? Terakhir, bagaimana krisis Hormuz akan memengaruhi kalkulasi kawasan dalam kontingensi Selat Taiwan atau Laut Cina Selatan, tempat Malaka sendiri dapat menjadi simpul tingkat pertama?
Kesimpulan
Penutupan Hormuz selama delapan bulan menyingkap posisi Asia Tenggara dengan kejelasan yang jarang terjadi. Kawasan ini sangat terpapar, dengan cadangan yang tipis, subsidi yang mahal, dan mekanisme regional yang belum bisa diaktifkan. Namun kawasan ini juga memegang simpul kedua dari rantai titik sempit yang sama, dan nilai simpul itu bergantung sepenuhnya pada kesediaan untuk tidak memakainya sebagai senjata. Kesepakatan lintas bilateral, gagasan tarif, dan diam yang pasif sama-sama menggerus aset itu.
Bagi Indonesia, pilihan strategisnya bukan antara mediasi spektakuler dan sikap diam, melainkan antara reaksi kasus per kasus dan peran penjaga rezim. Peran itu menuntut tiga hal sekaligus: prinsip lintas transit yang dibela tanpa pengecualian, cadangan energi yang nyata, dan ASEAN yang mampu bertindak. Krisis berikutnya tidak akan menunggu, dan negara yang paling siap menjamin selatnya sendiri akan menjadi negara yang paling didengar ketika selat lain tertutup.
Rujukan dan Sumber
Dokumen resmi dan data
- U.S. Energy Information Administration. (2026). World Oil Transit Chokepoints (updated 3 March 2026).
- Ministry of Trade, Industry and Resources, Republic of Korea. (2026). Korea to Join IEA Collective Action, Release 22.46 Million Barrels of Emergency Oil Stocks.
- Prime Minister’s Office Singapore. (2026). PM Lawrence Wong on the Situation in the Middle East (2 April 2026).
- ASEAN. (2026). ASEAN Foreign Ministers’ Statement on the Evolving Situation in the Middle East (21 July 2026).
- Philippine Information Agency. (2026). ASEAN Ministers Urge Development of Petroleum Sharing Agreement amid Middle East Tensions.
- Office of the Historian, U.S. Department of State. Oil Embargo, 1973-1974.
- Ditjen Migas, Kementerian ESDM. (2015). Indonesia Ditawari Jadi Anggota IEA.
- straits.live. (2026). Strait of Hormuz Status Tracker (data IMF PortWatch; diakses 29 Oktober 2026).
Literatur ilmiah
- Farrell, H., & Newman, A. L. (2019). Weaponized Interdependence: How Global Economic Networks Shape State Coercion. International Security, 44(1), 42-79.
- Kendell, J. (IEF16 Ministerial, n.d.). Energy security dimensions, drawing on APERC (2007), A Quest for Energy Security in the 21st Century. International Energy Forum.
- Storey, I. (2006). China’s “Malacca Dilemma”. China Brief, 6(8). Jamestown Foundation.
- Sempa, F. P. (2015). Nicholas Spykman and the Struggle for the Asiatic Mediterranean. The Diplomat.
- Phillips, S. (2024). Revisiting the Tanker War. War on the Rocks.
Analisis kebijakan dan laporan lembaga
- ERIA. (2026). Strengthening ASEAN Energy Security and Economic Resilience after the Strait of Hormuz Disruption. Issue Paper No. 2026-1.
- Bakshi, P. (2026). ASEAN’s Energy Vulnerability and the Impact of the Hormuz Crisis. ORF Occasional Paper No. 563.
- Storey, I. (2026). Southeast Asia and the Third Gulf War: Impact, Responses and Implications. Fulcrum, ISEAS-Yusof Ishak Institute.
- Prétat, H., Sato, M., Powers-Riggs, A., & Funaiole, M. P. (2026). No One, Not Even Beijing, Is Getting Through the Strait of Hormuz. CSIS.
- Chatham House. (2026). Should Egypt Join the Mecca Pact? Expert comment.
- Domini, L. (2026). The Hormuz Strait Crisis Confirms Nodal Control Will Dominate Maritime Geopolitics. CIMSEC.
- IMPRI. (2026). India’s Response to the Strait of Hormuz Crisis.
- Li, A. (2026). The Iran War’s Back Door Runs Through Malaysian Waters. IR Insider.
- KBA13 Insight. (2026). KBA13 Insight Update: 29 October 2026, Middle East.
Media dan pemberitaan
- The National. (2026, 29 October). Oil prices decline after diplomatic push in Iran war.
- The National. (2026, 26 October). Egypt’s parliament authorises El Sisi to send troops to defend Saudi Arabia.
- CBS News. (2026, 29 October). Iran war: Qatar mediators present new proposal (live updates).
- Khaleej Times. (2026, 28 October). US-Israel-Iran-Lebanon war live updates.
- Arab News. (2026, 26 October). Saudi defense minister leads delegation attending Makkah Pact countries meeting with Iran.
- Soeriaatmadja, W. (2026, 20 May). Indonesia clings to fuel subsidies despite oil price surge, worrying economists. The Straits Times via Asia News Network.
- ANTARA. (2026, 30 September). Indonesia holds Pertalite prices steady despite $107 global oil surge.
- Ghifari, D. (2026, 26 October). Govt to hike imports to meet subsidized gasoline demand. The Jakarta Post.
- ANTARA. (2026, 21 July). Indonesia begins first Russian oil imports under 150-mln-barrel plan.
- ANTARA. (2026, 11 May). Indonesia proposes ASEAN oil storage hub, eyes Sumatra site.
- ANTARA. (2026, 25 June). After months of delay, Pertamina’s Gamsunoro safely transits Hormuz.
- Jakarta Globe. (2026, 29 March). Indonesia lobbies Iran to secure passage for oil tankers through Strait of Hormuz.
- Jakarta Globe. (2026, 20 April). Indonesian tankers cancel exit after Strait of Hormuz is closed again.
- Jakarta Globe. (2026, 31 March). Indonesia shifts LPG and fuel sourcing away from Middle East risks.
- Jakarta Globe. (2026, 28 February). Indonesia’s Prabowo ready to fly to Tehran as mediator.
- Jakarta Globe. (2026, 3 March). Indonesia tells Iran Prabowo still wants to mediate conflict.
- Jakarta Globe. (2026, 1 October). Prabowo cabinet reshuffle puts focus on industry, energy and diplomacy.
- Türkiye Today. (2026, 11 March). Indonesia-owned tankers escape Strait of Hormuz as Jakarta vows fuel prices to hold.
- Petromindo. (2026). Indonesia’s March LPG imports slump as Middle East supplies dry up.
- ABC News. (2026, 23 April). Indonesia’s finance minister suggests Strait of Malacca toll before immediately backtracking.
- Reuters via Gulf Times. (2026, 24 April). Hormuz crisis throws spotlight on world’s largest chokepoint, the Malacca Strait.
- AsiaNews. (2026, 25 March). Marcos declares energy emergency, with only 45 days of supplies.
- Al Jazeera. (2026, 21 July). ASEAN diplomats voice serious concern over Iran war and energy crisis.
- GridWatch. (2026). ASEAN energy ministers adopt joint statement on petroleum security and regional resilience.
- Xinhua. (2026, 7 October). IEA members support accelerating release of about 100 mln barrels of oil stocks.
- Nippon.com. (2026). Japan set for record oil reserve release.
- S&P Global. (2026, 12 May). Japan PM says no additional oil reserve release after securing enough crude for June.
- Seoul Economic Daily. (2026, 6 April). Korea sends oil envoys to Middle East, deploys 5 tankers to Red Sea.
- Kennedy, C. (2026, 28 September). Qatar extends LNG force majeure as Hormuz crisis drags on. OilPrice.com.
- AFP via Free Malaysia Today. (2024, 26 January). UN reports 42% drop in Suez traffic following Houthi attacks.
- Dawn. (2026, 20 March). Riyadh moot asks Tehran to stop attacking neighbours.
- Tanamal, Y. (2026, 16 March). Indonesia delays D-8 summit as Mideast war rages. The Jakarta Post via APSN.
Arsip & Pustaka
- Dalimi, R. (2014, 9 Oktober). KEN-2050 dan Dilema Harga BBM. Kompas.
- Bustamam Ahmad, K., & Ibrahim, F. Z. (2026). The Middle East Fault Lines: Iran, Gaza, the Gulf, and the Rewriting of the Regional Order. Independently published.
- Bustamam Ahmad, K. (2026). Judgement Before the Evidence: A Year of Fault Lines in the Indo-Pacific and Beyond. Independently published.
- Khanna, P. (2019). The Future Is Asian: Global Order in the Twenty-first Century. New York: Simon & Schuster.
Cara Mengutip
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad. (2026). Ketika Hormuz Tertutup: Asia Tenggara di Antara Dua Selat: Ketergantungan Titik Sempit, Kehadiran Angkatan Laut Kekuatan Besar, dan Reposisi Strategis Indonesia dalam Tatanan Energi-Geopolitik yang Sedang Terbentuk. Kertas Kerja, KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/hormuz-tertutup-asia-tenggara/
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad adalah Guru Besar Antropologi Agama di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia meraih PhD sosiologi dari La Trobe University dan Master of Syariah dari Universiti Malaya, menulis lebih dari enam puluh buku, dan memimpin Asian Muslim Action Network (AMAN) International. Ia mendirikan KBA13 Insight dan KBA13 Academy sebagai ekosistem riset, pengajaran, dan analisis strategis.
When Hormuz Closes: Southeast Asia Between Two StraitsChokepoint Dependence, Great-Power Naval Presence and Indonesia’s Strategic Repositioning in an Emerging Energy-Geopolitical Order
Eight months of effective closure of the Strait of Hormuz show that Southeast Asia is not the periphery of the crisis but a downstream hostage that also guards the world’s largest strait upstream. This working paper weighs what that means for Indonesia and ASEAN.

Abstract
The United States and Israeli war against Iran that began on 28 February 2026 has kept the Strait of Hormuz effectively closed for some 242 days. This working paper asks what a prolonged closure reveals about Southeast Asia’s position in the emerging energy-geopolitical order, and how ASEAN states, Indonesia above all, should reposition. Combining the concept of weaponised interdependence, the classical maritime geopolitics of Mahan and Spykman, and the four A’s framework of energy security, the study traces shipping, price, stock and policy data from February to late October 2026. Its central finding is that the region is deeply exposed downstream of Hormuz yet also holds the Strait of Malacca, the world’s largest oil chokepoint, so its leverage is normative and depends on the credibility of the transit-passage regime. Bilateral passage deals with Tehran, the idea of a Malacca toll and the failure to activate ASEAN’s emergency mechanism all erode that asset. The study compares the 1973 embargo, the Tanker War, the Red Sea crisis and the responses of Japan, Korea, China and India; tests a counter-argument; sets out three scenarios to 2030 with probabilities and signposts; and offers actor-specific, time-bound recommendations.
The Question, the Bottom Line and the Stakes
On 29 October 2026 the independent tracker straits.live recorded day 242 to 243 of the effective closure of the Strait of Hormuz to commercial shipping. The IMF PortWatch data it draws on logged only two AIS-visible transits on 25 October, against roughly 85 a day before the crisis. Brent settled at US$115.32 a barrel on 28 October according to The National, some 60 per cent above its pre-crisis level. The war that began with United States and Israeli strikes on Iran on 28 February 2026 has turned from a supply shock into a structural condition. This working paper asks one question: what does a prolonged Hormuz closure reveal about Southeast Asia’s position in the emerging energy-geopolitical order, and how should ASEAN states, Indonesia above all, reposition themselves between chokepoint dependence, great-power naval presence, Gulf and Asian diplomacy, and the leverage of the Strait of Malacca itself?
The bottom line, held with moderate confidence, is that Southeast Asia is not the periphery of this crisis. The region occupies a dual position rarely acknowledged in public debate: it is a hostage downstream of Hormuz and a custodian upstream at Malacca. Around 56 per cent of ASEAN’s crude imports in 2025 came from the Middle East according to the Observer Research Foundation, and about 80 per cent of the energy passing through Hormuz is bound for Asia according to ERIA. At the same time, the Strait of Malacca carried 23.2 million barrels of oil a day in the first half of 2025, more than Hormuz, and according to the US Energy Information Administration (EIA) is the largest oil chokepoint in the world. The region’s leverage over Malacca is not coercive but normative: its value lies in the credibility of the promise that the strait will remain open to all, whatever happens.
The stakes are global. If the Malacca littoral states and archipelagic states such as Indonesia also come to treat transit passage as something to be negotiated, licensed or tolled, the Hormuz precedent will spread to the second node of the world’s energy supply chain. If, instead, the region makes itself the guarantor of an open regime while building real buffers, it can turn vulnerability into bargaining power in an order increasingly shaped by who controls the nodes. This study concludes that Indonesia needs to move from case-by-case passage diplomacy, which effectively rescued crews and ships but was strategically reactive, towards the role of custodian of the transit-passage regime, backed by a strategic petroleum reserve, subsidy reform and an ASEAN emergency mechanism that can actually be activated.
Analytical Framework: Tiered Chokepoints, the Rimland and the Four A’s
This study combines three lenses usually applied separately. The first is the concept of weaponised interdependence developed by Henry Farrell and Abraham Newman in Weaponized Interdependence: How Global Economic Networks Shape State Coercion (International Security, 2019). Its core idea is that global economic networks are not flat; they have central hubs, and states that control hubs can use them to watch others or cut off their access. Farrell and Newman wrote about financial and information hubs. The 2026 crisis displays a physical version of the same logic: Iran uses the geography of Hormuz as a chokepoint, while the United States answers with a blockade of Iranian ports and sanctions on shadow-fleet networks. The two forms of coercion, physical and financial, now run side by side.
The second lens is classical maritime geopolitics. Alfred Thayer Mahan stressed fleet control of sea lanes, while Nicholas Spykman called the marginal seas of East Asia the “Asiatic Mediterranean” and, as Francis Sempa notes in The Diplomat, likened the Strait of Malacca to the Panama Canal as a strategic and commercial chokepoint. Ludovico Domini argues in CIMSEC (July 2026) that the Hormuz crisis proves that control of a node can matter more than fleet strength, because a regional power with mines, drones and fast craft can blunt a dominant navy. For Southeast Asia this revision of Spykman matters: the rimland is no longer merely a buffer between land and sea power but a zone whose strategic value attaches to the nodes it holds.
The third lens is the four A’s framework of energy security from the Asia Pacific Energy Research Centre’s A Quest for Energy Security in the 21st Century (2007), as summarised by the International Energy Forum: availability, accessibility, affordability and acceptability. The framework is useful because it separates four kinds of damage that are often conflated: physical shortage, severed routes, cost spikes and crises of policy legitimacy.
This study’s synthesis is a tiered-chokepoint model. The first tier is the producer-side node, Hormuz, where whoever controls the geography can cut supply. The second tier is the consumer-side node, Malacca and the Indonesian archipelagic straits, through which remaining flows must pass on their way to East Asia. A state holding a second-tier node faces a choice: exploit it for short-term gain, through tolls or selective permission, or guarantee it as a public good. The study tests three propositions. First, Southeast Asia’s exposure to a Hormuz closure is deeper than its buffering capacity. Second, the region’s responses tend to be bilateral and ad hoc, eroding the very regime that is the source of its bargaining power. Third, that bargaining power can be restored if a guarantee over Malacca is combined with credible energy reserves.
Method note
This study uses process tracing of events from 28 February to 29 October 2026, drawing on official documents (the IEA through member press releases, the EIA, ASEAN, Singapore’s Prime Minister’s Office, the Korean ministry), research institutions (ERIA, ORF, ISEAS, CSIS) and reputable media. Vessel-traffic data differ by method: IMF PortWatch counts AIS-based transits at about 85 a day pre-crisis, while the Starboard data used by CSIS record more than 153 vessels a day because vessel-type coverage differs; the two figures are never mixed. Dark transits without AIS mean real flows exceed official counts. Claims by belligerents, such as the IRGC mine claims of 29 October, are treated as unverified. Encyclopaedic summaries are used only for chronology and are always flagged. Confidence is stated as high, moderate or low. Scenario probabilities are subjective and meant to be tested against the stated signposts.
The framework also borrows the epistemic awareness set out in Judgement Before the Evidence: A Year of Fault Lines in the Indo-Pacific and Beyond (2026), namely that strategic decisions are almost always taken before the evidence is complete and that crises in different regions now interact. Every judgement in this working paper therefore carries a confidence level and every scenario carries signposts that could overturn it.
Anatomy of 242 Days: Chronology and Closure Data
The chronology below is assembled from media reports and the encyclopaedic summary in Wikipedia’s entry on the 2026 Strait of Hormuz crisis, used as an initial map and checked against primary sources where available. On 28 February 2026 joint United States and Israeli strikes prompted IRGC warnings that no ship would be allowed through. A CSIS analysis (6 March 2026) recorded traffic falling from more than 153 vessels a day to an average of 13 a day from 1 March, with only 13 transits on 2 March. On 11 March all 32 members of the International Energy Agency (IEA) unanimously agreed to release 400 million barrels of emergency stocks, the largest release in the agency’s history, as recorded by Korea’s Ministry of Trade, Industry and Resources and Xinhua.
The next phase was marked by fragile ceasefires. The Wikipedia summary records a temporary ceasefire on 8 April, the failure of the Islamabad talks and the start of a US naval blockade of Iranian ports on 13 April, the signing of the Islamabad Memorandum on 17 June, Iran’s re-closure of the strait on 20 June and the collapse of the interim truce on 8 July. IR Insider reports that the blockade was lifted in June under a 60-day memorandum of understanding and reimposed around mid-July. The Saudi–Houthi war reignited on 13 July, and Saudi Arabia, Turkey and Pakistan signed the Mecca Joint Defence Agreement on 7 August according to Chatham House. In late August Washington declared the shipping lanes mine-free, but traffic did not recover.
The last week of October showed diplomacy and military preparation running in parallel. According to CBS News, Qatari mediators handed Iran a new draft deal on 25 October; a senior Iranian official denied receiving a proposal and called Doha’s ideas “unacceptable”, while the Tasnim agency said Tehran would not drop its conditions on lifting the blockade, easing sanctions and releasing frozen assets. On 26 October Saudi Defence Minister Prince Khalid bin Salman led a delegation of Mecca Pact countries to Tehran according to Arab News, and on the same day Egypt’s parliament authorised President El Sisi to defend Saudi Arabia’s territory and holy sites, though deployment would follow only a formal request from Riyadh, as reported by The National. CBS also obtained a US Central Command (CENTCOM) estimate putting the cost of the war at about US$47 billion, including about US$29 billion to replace munitions. On 29 October the IRGC claimed three tankers had hit mines on the southern route; the claim is unverified, although UKMTO reported a vessel on fire near Khasab.
The table below summarises the key indicators. The latest figures and their cross-references are also compiled in the KBA13 Insight update of 29 October 2026, which judges that renewed large-scale strikes on Iran within four to six weeks are more likely than not, with moderate confidence.
| Indicator | Pre-crisis | Crisis level | Source |
|---|---|---|---|
| AIS-based Hormuz transits (IMF PortWatch) | about 85 a day | 2 transits (25 Oct 2026) | straits.live |
| Vessel traffic (Starboard data) | more than 153 a day | average 13 a day (1-5 Mar 2026) | CSIS |
| Oil flows Hormuz / Malacca | 20.9 / 23.2 million b/d (1H 2025) | Hormuz near zero; Malacca open | EIA |
| Hormuz bypass pipeline capacity (Saudi and UAE) | about 4.7 million b/d | far below normal strait flows | EIA |
| Brent price | about US$72 | US$115.32 (28 Oct 2026) | The National |
| War-risk premium (estimate) | 1x | about 32x (7 Oct 2026) | straits.live |
| Qatari LNG cargoes (comparable period) | 509 cargoes | 18 cargoes; force majeure extended to end-November | OilPrice/ICIS |
| IEA collective action | 400 million barrels agreed (11 Mar) | about 325 million released; about 1.1 billion barrels of public stocks remaining (7 Oct) | Xinhua/IEA |
| Indonesia’s 2026 budget ICP assumption and subsidy sensitivity | US$70 a barrel | each US$1 rise adds Rp6.8-10 trillion | Straits Times/ANN |
| Rupiah exchange rate | about Rp18,182 per US$ (29 Oct 2026) | KBA13 Insight | |
| US war cost (CENTCOM estimate) | about US$47 billion, US$29 billion for munitions | CBS News |
Two patterns stand out. First, the crisis is not a single shock but a repeated open-close cycle, so every announcement of reopening loses credibility with shipowners and underwriters. Second, global buffers are thinning: the IEA has released most of the volume pledged in March, and UBS, as quoted by The National, judges that strategic reserve releases are “largely finished”. With high confidence, this study judges that the second year of the crisis will be met with thinner cushions than the first.
Southeast Asia Downstream: Exposure and Responses Country by Country
Southeast Asia’s exposure is uneven but, overall, deep. According to ERIA, crude import dependence reached 100 per cent in Singapore, 99 per cent in the Philippines and 94 per cent in Thailand in 2024, against an ASEAN average of about 66 per cent. ORF data add the dimension of time: Philippine stocks stood at only about 45 days in March 2026 with no strategic reserve, Vietnam’s at 30 to 45 days, Indonesia’s at about 23 days, Thailand’s at about 95 days and Singapore’s above 200 days. Ian Storey of ISEAS notes in Fulcrum (12 May 2026) that most regional states hold only 30 to 100 days of reserves, far below Japan and Korea. This comparison explains the difference in behaviour: states with thin cushions have no time to wait and therefore tend to bargain directly.
The Philippines became the first country in the world to declare a national energy emergency, on 24 March 2026. According to AsiaNews, the energy secretary said reserves would run out within 45 days without extraordinary measures, and Manila sought waivers from the US State Department to buy oil from sanctioned countries. Thailand imposed work from home for civil servants, banned fuel exports except to Myanmar and Laos, capped diesel prices and reactivated the Mae Moh coal plant. Vietnam, which imports more than 80 per cent of its crude from Kuwait, cut fuel import tariffs and suspended crude exports. Malaysia reduced the subsidised fuel quota from 300 to 200 litres per consumer, while Laos cut the school week to three days. All these data come from ORF’s comparative table and are partly confirmed by Storey.
Singapore shows a different pattern. In his message of 2 April 2026, Prime Minister Lawrence Wong said oil prices had risen by more than 60 per cent, that damaged infrastructure would take months to restore even if a ceasefire were reached, and that Australia already supplied more than a third of Singapore’s LNG. According to Storey, about 60 per cent of Singapore’s LNG-based electricity depends on Qatari supply, and the Ras Laffan complex was damaged. Singapore’s vulnerability is therefore not oil, backed by more than 200 days of stocks, but gas. Qatari LNG exports falling by as much as 96 per cent, on ICIS data cited by OilPrice, make gas the channel of shock that will take longest to heal.
The four A’s framework helps read these responses. The availability crisis shows in dwindling stocks. The accessibility crisis shows in ships trapped in the Gulf. The affordability crisis appears in ballooning subsidies and fuel price rises of about 50 per cent in several countries, according to Storey. The acceptability crisis emerges when governments cut social programmes or impose rationing: Storey notes that Indonesia and Myanmar introduced fuel rationing and that Indonesia scaled back its free school meals programme. The energy shock quickly became a food shock as well. ERIA records that the World Bank fertiliser index rose by more than 37 per cent and urea prices by about 85 per cent between December 2025 and March 2026, while Thailand imports about 67 per cent of its urea from the Gulf region.
ASEAN’s collective response lagged behind national responses. ASEAN economic ministers on 14 March called for accelerating the ASEAN Petroleum Security Agreement (APSA), first signed in Manila in 1986 and renewed in October 2025 to cover natural gas, according to the Philippine Information Agency. Yet the special ASEAN energy ministers’ meeting on 27 April, as reported by GridWatch, could only invoke the Coordinated Emergency Response Mechanism (CERM) without formally activating it, because ratification was incomplete. The ASEAN foreign ministers’ statement of 21 July 2026 rejected “discriminatory or unilateral measures” in Hormuz and demanded safe, unimpeded and continuous transit passage consistent with UNCLOS 1982, but did not mention APSA at all. With high confidence, this study judges that ASEAN has the right normative language but not yet the operational tools to back it.
Indonesia: Supply, Fiscal Strain and Diplomacy Under Pressure
Indonesia’s exposure is lower than that of the Philippines or Singapore, but not small. In 2025 Pertamina imported 135.33 million barrels of crude, about 19 per cent or 25.36 million barrels of it from Saudi Arabia, according to the Jakarta Globe; ORF estimates that about 25 per cent of Indonesia’s crude imports pass through Hormuz. The sharper vulnerability lies in LPG. According to Statistics Indonesia data compiled by Petromindo, Indonesia imported 7.49 million tonnes of LPG in 2025, 29.1 per cent of it from the Middle East; in March 2026 imports fell 27.6 per cent month on month and the United States supplied 90.4 per cent of volume because shipments from Saudi Arabia, Qatar and Kuwait stopped. Energy Minister Bahlil Lahadalia, quoted by the Jakarta Globe (31 March 2026), announced a shift of LPG and fuel sourcing away from the Middle East, partly within a US$15 billion reciprocal trade agreement with Washington.
The crisis also hit the national fleet directly. Four Pertamina International Shipping vessels were in the Gulf when the war broke out. Two of them, PIS Rinjani and PIS Paragon, got out in early March according to Türkiye Today, while the VLCC Pertamina Pride and the Gamsunoro were held back. An exit attempt on 18 April was cancelled because Tehran reimposed restrictions after Washington blockaded Iranian ports, as the Jakarta Globe reported. The Gamsunoro finally transited on 24 June after a month-long risk assessment and coordination with the Foreign Ministry and the Indonesian Embassy in Tehran, according to ANTARA. This study found no verifiable source on when the Pertamina Pride transited thereafter.
On the supply side, the boldest step was importing Russian oil. According to ANTARA (21 July 2026), Indonesia began the first imports under a 150-million-barrel plan through Lemigas, on the basis of Presidential Regulation No. 26 of 2026 on procuring crude, fuel and LPG for energy security; Bahlil stressed that “national sovereignty cannot be interfered with by other countries”. On 11 May he also proposed that Indonesia host an ASEAN oil storage hub and planned a storage facility in a Sumatran special economic zone, according to ANTARA. The proposal points in the right direction but remains at the feasibility-study stage.
Fiscal strain is the weakest point. A Straits Times report republished by Asia News Network (20 May 2026) noted that the 2026 budget assumed an ICP of US$70 a barrel, that each US$1 rise adds Rp6.8 to 10 trillion to the annual subsidy bill according to government estimates, and that the state was spending more than Rp500 billion a day on fuel subsidies. Pertalite, which accounts for about 80 per cent of national fuel consumption, was not repriced. On 29 September the government confirmed that Pertalite and Biosolar prices would hold until year-end, while the projected annual average ICP now stands at about US$100 a barrel, according to ANTARA. On 26 October The Jakarta Post reported that Pertalite stocks covered only 18 days, that the quota would be raised through additional imports, and that Bahlil said additional subsidies and compensation “will certainly happen”. With the rupiah at about Rp18,182 to the dollar, the price freeze shifts the whole shock onto the budget.
The dilemma is not new. In 2014, Rinaldy Dalimi, writing in the daily Kompas under the title KEN-2050 dan Dilema Harga BBM (KEN-2050 and the Fuel Price Dilemma), explained that the National Energy Policy required building operational, buffer and strategic reserves and gradually reducing energy price subsidies. Twelve years later, the Hormuz crisis finds Indonesia with roughly three weeks of stocks and subsidies still serving as a political anchor. That continuity shows the problem is not a lack of concepts but a lack of urgency in implementing them in calm times.
In diplomacy, Jakarta moved quickly but with limited capital. On the first day of the war the Foreign Ministry said President Prabowo Subianto was ready to fly to Tehran as a mediator if both sides agreed, according to the Jakarta Globe. Sugiono, foreign minister at the time, conveyed the offer to Abbas Araghchi by telephone, but Iranian Ambassador Mohammad Boroujerdi insisted there could be no negotiation with a country waging war on Iran, and former Deputy Foreign Minister Dino Patti Djalal questioned whether Jakarta had enough diplomatic capital, according to the Jakarta Globe. Indonesia postponed the D-8 summit scheduled for mid-April in Jakarta, according to a Jakarta Post report carried by APSN, and, according to Storey, suspended its participation in the Board of Peace for Gaza. The cabinet reshuffle of 1 October made Arrmanatha Christiawan Nasir Foreign Minister and Bahlil Coordinating Minister for Downstream Industrialisation and Energy Transition while keeping him at the energy ministry, while Suahasil Nazara has been Finance Minister since 14 September, according to the Jakarta Globe. This study’s assessment, with moderate confidence: Indonesia’s crisis management was tactically competent, especially in rescuing crews and ships, but strategically reactive because it lacks a doctrine on its place in the chain of chokepoints.
The Transit-Passage Paradox and the Leverage of Malacca
The analytical core of this working paper is a paradox. To save their ships and crews, several Southeast Asian states negotiated passage permission directly with Tehran. According to Storey, Malaysia, Thailand and the Philippines negotiated directly with Iran, while Singapore declined, citing the right of transit passage under UNCLOS. Indonesia, through its embassy in Tehran and coordination among the Foreign Ministry, the energy ministry and Pertamina, took a similar path for the Pertamina Pride and the Gamsunoro. Each step was rational at the level of the ship. At the level of the system, however, each bilateral permission tacitly recognised Iran’s claim that passage through an international strait is a privilege that can be granted or withdrawn. Iran itself then created a strait authority and, as Indonesia’s finance minister noted, planned to charge passing ships.
The paradox became tangible when, on 22 April 2026, then Finance Minister Purbaya Yudhi Sadewa floated the idea that Indonesia could levy tolls on ships transiting the Strait of Malacca and share the revenue with Singapore and Malaysia, citing Iran’s plans for Hormuz, before quickly walking it back, according to ABC News. Singapore’s Foreign Minister Vivian Balakrishnan had already said that Singapore would not take part in any attempt to close, interdict or impose tolls in its neighbourhood. ASPI analyst Euan Graham pointed out that Indonesia “owes its territorial integrity” to UNCLOS. The warning hits the mark: the archipelagic status that allows Indonesia to unify the waters between its islands was born of the same UNCLOS bargain that obliges it to respect transit passage and archipelagic sea-lanes passage. Challenging one part weakens the other.
Southeast Asia’s leverage over Malacca is worth something only so long as it is not used as a lever; once used, its value collapses.
Malacca’s own weight is beyond doubt. A Reuters report carried by the Gulf Times (24 April 2026) noted that more than 102,500 ships transited the strait in 2025, that about 75 per cent of China’s seaborne crude imports pass through it on Vortexa data, and that its narrowest point in the Phillips Channel is only about 2.7 kilometres wide. Beijing’s dependence has long been known as the “Malacca dilemma”; Ian Storey, writing in China Brief (2006), recorded that in November 2003 Hu Jintao said “certain major powers” were trying to control the strait. The Hormuz crisis reverses the spotlight: now not only China but the whole of East Asia realises that the second-tier node of its supply chain lies in Southeast Asian hands.
The region’s straits have also entered the war’s economic geography. According to IR Insider, drawing on UANI and Kpler data, the Eastern Outer Port Limits anchorage about 45 miles off Johor’s east coast became a site for ship-to-ship transfers of Iranian crude, with about 9 million barrels leaving for Chinese independent refiners in September. Malaysia rejects the legitimacy of unilateral US sanctions, but in June it required written permission for transfers in its exclusive economic zone and in September declared a marine sensitive area near the Singapore Strait, pushing at least 25 tankers to waters south of Hong Kong. These findings are single-sourced and need further verification, so this study gives them low to moderate confidence. Yet the direction is clear: Southeast Asia is not a spectator but the host of the war’s back door.
Great-power naval presence cannot be relied on to resolve this dilemma. Storey notes that US forces and munitions were moved from Asia to the Gulf, raising doubts about Washington’s capacity in Asia, and that the ISEAS survey shows declining trust in US reliability. CSIS shows that China, despite its closeness to Tehran, could not secure passage for its own ships in the first weeks of the war. India escorted Indian-flagged ships with its own warships, according to the Wikipedia summary. The lesson for Southeast Asia is twofold: no protector will arrive automatically, and every great-power escort carries a great-power agenda. With moderate confidence, this study judges that the region’s cheapest and most durable source of bargaining power is a reputation as an impartial guarantor of the passage regime.
International Comparison: From 1973 to Asia’s Responses in 2026
The Arab oil embargo of 1973-1974 is the first reference point. According to the US State Department’s Office of the Historian, oil prices first doubled and then quadrupled, inflation and stagnation hit importing countries, and the crisis gave birth to the International Energy Agency and the US Strategic Petroleum Reserve. Its main lesson is institutional: consumer states built common institutions after being shaken. Southeast Asia, by contrast, has had a framework since 1986 in APSA, yet in 2026 its emergency mechanism could not be activated because ratification was incomplete. The difference lies not in ideas but in the willingness to be bound.
The Tanker War of the 1980s offers the second lesson. Stephen Phillips, in War on the Rocks (2024), notes that about 60 per cent of the world’s oil passed through Hormuz in the 1980s, that Kuwait asked for its tankers to be reflagged under US protection in January 1987, and that the tanker Bridgeton hit a mine on 24 July 1987, two days after the first Operation Earnest Will convoy set out. The Tanker War raised insurance premiums but did not halt flows, because the dominant sea power was willing to escort ships under its flag. In 2026 neither condition fully holds: flows have almost stopped, and escorts such as Operation Project Freedom in May were paused days after they began, according to the Wikipedia summary.
The Red Sea crisis of 2023-2024 is the third comparator. According to UNCTAD, as reported by AFP via Free Malaysia Today, Suez Canal transits fell 42 per cent in two months and weekly container-ship transits fell 67 per cent year on year, as ships rerouted around the Cape of Good Hope. The difference is fundamental: Suez has a maritime alternative, Hormuz does not. The only bypass is the Saudi and UAE pipeline system of about 4.7 million barrels a day according to the EIA, less than a quarter of normal flows. The Red Sea analogy therefore tends to understate the severity of the Hormuz crisis.
East Asia’s responses in 2026 show the value of deep buffers. Japan entered the crisis with 254 days or 470 million barrels of reserves, began releasing 45 days’ worth on 16 March according to Nippon.com, and released another 20 days from 1 May. On 12 May Prime Minister Sanae Takaichi said a third release was unnecessary because alternative procurement was under way, with US supplies for June expected at eight times the previous year’s level and the first Russian crude cargo since June 2025 arriving on 5 May, according to S&P Global. Korea contributed 22.46 million barrels to the IEA collective action, its largest allocation ever, sent oil envoys to Saudi Arabia, Oman and Algeria, and allowed tankers to use the Red Sea route to Yanbu, according to the Seoul Economic Daily.
India and China complete the picture. According to IMPRI, India’s strategic reserve held only 5.33 million tonnes, about nine to ten days of net imports, so New Delhi relied on rapid diversification: the non-Hormuz share of crude imports rose from about 55 to 70 per cent within weeks, petrol and diesel excise was cut by ₹10 a litre, and the rupee weakened to about 93 to the dollar. CSIS notes that up to 40 per cent of China’s oil and 30 per cent of its LNG pass through Hormuz and that Beijing ordered its refiners to halt fuel exports on 5 March. The comparative pattern is clear, with high confidence: depth of reserves buys time, time buys diplomatic options, and states with thin cushions are pushed into bilateral bargaining that erodes the regime. Southeast Asia, with reserves ranging from under 30 days to about 95 days outside Singapore, sits on the vulnerable side of this pattern.
The comparison also tests Parag Khanna’s thesis in The Future Is Asian (2019) that Asia is a networked system stretching from the Gulf to Japan. The 2026 crisis confirms the thesis, but with its dark side: the same network that spreads growth also spreads shocks, and the Gulf node and the Malacca node have proved to be linked. A similar reading of the collapse of the old Gulf order is developed in The Middle East Fault Lines: Iran, Gaza, the Gulf, and the Rewriting of the Regional Order (2026), which treats current conflicts as symptoms of structural fault lines decades in the making rather than passing events.
The Counter-Argument: Markets Adapt, Southeast Asia Should Stay Quiet
The strongest counter-argument deserves a fair statement. First, markets have adapted. The IEA collective action released about 325 million barrels, Japan secured more than 70 per cent of its June procurement from alternative sources, Indonesia obtained US LPG and Russian oil, and Brent briefly fell to about US$72 in early July according to the Wikipedia summary before rising again. UBS expects Brent to hold around US$110 to year-end, expensive but not catastrophic. Second, Southeast Asia has proved diplomatically peripheral. The region did not sit at the Islamabad talks, is not part of the Qatari draft, is outside the Mecca Pact, and was absent from the March meeting in Riyadh of 12 Arab and Muslim foreign ministers that demanded Iran stop attacking its neighbours, according to Dawn. Indonesia’s mediation offer was politely rebuffed by Iran’s ambassador, and the Malacca toll idea embarrassed Jakarta before its neighbours. The logical conclusion: the region should remain non-aligned, keep quiet and manage risk commercially.
The argument is right on two counts and is therefore partly accepted. Indonesia’s mediation ambitions do need to be scaled down to a role commensurate with its diplomatic capital, as Dino Patti Djalal cautioned. Non-alignment also remains the right stance; the region gains nothing by siding with either camp in the war.
But the argument is wrong on three more decisive counts. First, market adaptation has been costly and unequal. The Philippines had to declare an energy emergency, Laos cut its school week, and Indonesia scaled back free school meals and absorbs an extra Rp6.8 to 10 trillion for every one-dollar rise. More importantly, adaptation rested on the reserves of IEA member states, while most Southeast Asian states are not members and Indonesia has been only an association partner since 2015, according to the Directorate General of Oil and Gas. When UBS judges strategic releases largely finished, the capacity to adapt in a second year is much weaker. Second, peripherality in Gulf diplomacy is not peripherality in the system. Malacca and the anchorage off Johor show that the region is the second-tier node and the war’s back door; silence too is a choice others will interpret, as sanctions pressure on transfer networks shows. Third, non-alignment is not passivity. Indonesia’s free and active (bebas aktif) foreign policy doctrine demands presence on issues touching core interests, and the transit-passage regime is a core interest of an archipelagic state.
The answer to the counter-argument is therefore not louder mediation activism but quieter, consistent regime activism: defending transit passage without exception, building reserves and operating regional mechanisms. With moderate confidence, this study judges that this path is cheaper than high-level mediation and more durable than silence.
Scenarios 2026-2030 and Signposts
Three scenarios are built on the state of Hormuz to the end of 2027, then projected for their structural effects to 2030. The probabilities below are subjective judgements as of 29 October 2026 (author’s assessment): a negotiated phased reopening at 30 per cent, a prolonged low-intensity closure at 45 per cent, and a dual-chokepoint escalation at 25 per cent. The three are mutually exclusive by the state of the strait at end-2027.
The first scenario, a negotiated phased reopening, assumes that the Qatari, Pakistani and Mecca Pact mediation tracks produce a phased deal in the first half of 2027, with partial lifting of the US blockade in exchange for a monitored corridor. Even here, traffic does not normalise quickly, because underwriters will demand months of proof of safety and Gulf infrastructure needs repair, as Lawrence Wong warned. Brent would probably fall to the US$80-90 range, but a chokepoint risk premium becomes permanent in Asian energy planning. Early signposts are a positive Iranian reply to the Qatari draft, expected around 31 October according to CBS; Brent holding below US$105, which the 29 October update reads as diplomacy gaining ground; and PortWatch transits sustained above 20 a day.
The second scenario, a prolonged low-intensity closure, is the most likely. The strait stays closed to most shipping, with dark transits, ship-to-ship transfers and selective permissions, while renewed US strikes after the 3 November midterm elections are short and do not change the balance. Brent moves in a US$100-125 range. For Southeast Asia this is the attrition scenario: subsidies eat fiscal space, rationing becomes habit, and pressure for bilateral deals with Tehran grows. Its signposts are an extension of Qatari force majeure beyond November, a new and smaller IEA collective action, and no progress on APSA ratification.
The third scenario, a dual-chokepoint escalation, occurs if the post-election military campaign widens into attacks on Gulf energy infrastructure and the Saudi–Houthi war closes Bab el-Mandeb, threatening the Red Sea route to Yanbu that Korea uses. Brent breaks above US$120, which the 29 October update reads as markets pricing in renewed strikes, and could exceed US$140. In this scenario pressure on Malacca rises sharply, as all replacement flows from the Atlantic and Africa must pass through it, while the shadow fleet seeks new transfer sites in Southeast Asian waters. Signposts are attacks on the East-West pipeline or the Fujairah terminal, a formal Saudi request for Egyptian troops, and confirmed mine strikes on the southern route.
To 2030, all three scenarios lead to one structural conclusion, with moderate confidence: Asia will reorganise its energy security around the assumption that chokepoints can be closed for long periods. That means deeper reserves, additional bypass pipelines such as the UAE’s planned 1.5 million barrel a day line due by 2027 according to the EIA, more diverse procurement including from Russia and the United States, and faster domestic electrification. For Southeast Asia, the question is whether this reorganisation happens regionally, through APSA and a shared storage hub, or piecemeal, state by state. The first strengthens the region’s position as a second-tier node; the second returns it to the role of hostage.
Actor-Specific, Time-Bound Recommendations
Government of Indonesia
The Foreign Ministry, under its new leadership, should within 30 days issue a position statement that Indonesia, as an archipelagic state, rejects any form of permission, toll or discriminatory restriction on transit passage through any international strait, Hormuz and Malacca included, while making clear that technical coordination for crew safety does not imply recognition of a permit regime. By the first quarter of 2027 the ministry should scale down high-level mediation ambitions into concrete, proportionate offers: hosting technical talks in Jakarta on seafarer safety, mine clearance and humanitarian corridors, and using Indonesia’s D-8 chairmanship and the OIC to support the Qatari and Pakistani tracks rather than compete with them.
The energy ministry (ESDM) should, before the end of 2026, publish regular figures on days of fuel, LPG and crude stocks, because transparency calms markets more cheaply than subsidies. By mid-2027 it should complete the feasibility study for the Sumatra storage facility and prepare the legal basis for an energy buffer reserve with a phased target towards the IEA’s 90-day standard by 2030. Pertamina should institutionalise the PIS crisis centre that proved effective in the Gamsunoro case as a national fleet protocol, cut the share of LPG and crude passing through any single chokepoint below a set threshold, and openly assess the legal and sanctions risks of Russian crude contracts. The Finance Ministry should set a realistic ICP assumption for the 2027 budget, design an automatic adjustment band for Pertalite prices paired with targeted cash transfers to poor households, and create a contingent energy fiscal reserve before the 2027 budget cycle gets under way.
ASEAN and the Malacca littoral states
ASEAN should set a deadline for full ratification of the renewed APSA before the 2027 ASEAN Summit, so that CERM can be activated in the next crisis, and then develop regional stock transparency, release protocols and joint procurement as ERIA recommends. Malaysia, Singapore and Indonesia should within six months issue a trilateral statement that the Straits of Malacca and Singapore will never be subject to tolls or permits, while expanding coordinated patrols to monitor shadow-fleet transfers on the basis of marine environmental law, as Malaysia has begun to do. Such a statement would turn the toll gaffe into a credible guarantee.
Asian partners, Gulf states and the IEA
Japan, Korea, China and India have a direct interest in an open Malacca. Within 12 months Japan and Korea could offer ASEAN reserve-lending or joint-storage arrangements through ERIA; China, buyer of about 90 per cent of Iran’s oil according to IR Insider, should use its influence in Tehran to back the Qatari draft; India could coordinate Indian Ocean shipping-safety information with Indonesia. Saudi Arabia and the UAE should accelerate bypass pipelines and offer joint storage schemes in Southeast Asia, modelled on the joint reserves with producer countries that Japan already holds. The IEA should open an emergency cooperation channel with association partners such as Indonesia in 2027, so that its next collective action covers Southeast Asian consumers now outside the safety net.
Limitations and Questions for Further Research
This working paper has several limitations. First, AIS-based traffic data undercount real transits because dark vessels are not recorded, and data providers use different coverage; this study avoids mixing PortWatch and Starboard figures but cannot measure dark flows directly. Second, part of the chronology relies on an encyclopaedic summary of hundreds of reports, and some dates, such as the duration of the US blockade, are recorded inconsistently within it. Third, the findings on ship-to-ship transfers off Johor come from a single analysis drawing on an advocacy organisation’s data, and so carry low to moderate confidence. Fourth, national stock data come from research-institute calculations rather than official government publications, and definitions of stock days differ across countries. Fifth, Indonesia’s cabinet changes in September and October 2026 mean energy and foreign policy may shift faster than the sources reflect.
Several open questions merit pursuit. What is the real volume of dark flows through Hormuz and of transfers in Southeast Asian waters, and what does it imply for coastal-state enforcement of the law of the sea? How far have bilateral passage deals between ASEAN states and Tehran affected international legal perceptions of transit passage, and is there precedent in state practice? How has the burden of Indonesia’s fuel-subsidy adjustment been distributed across income groups and regions during 2026? Is an ASEAN storage hub more efficient than separate national reserves, and how can the trust deficit among members be overcome? Finally, how will the Hormuz crisis shape the region’s calculus in a Taiwan Strait or South China Sea contingency, in which Malacca itself could become a first-tier node?
Conclusion
Eight months of Hormuz closure have exposed Southeast Asia’s position with rare clarity. The region is highly exposed, with thin reserves, costly subsidies and regional mechanisms that cannot yet be activated. Yet it also holds the second node of the same chain of chokepoints, and the value of that node depends entirely on the willingness not to use it as a weapon. Bilateral passage deals, toll ideas and passive silence all erode that asset.
For Indonesia, the strategic choice is not between spectacular mediation and silence but between case-by-case reaction and the role of regime custodian. That role demands three things at once: a principle of transit passage defended without exception, real energy reserves, and an ASEAN able to act. The next crisis will not wait, and the state best prepared to guarantee its own straits will be the one most listened to when other straits close.
References and Sources
Official documents and data
- U.S. Energy Information Administration. (2026). World Oil Transit Chokepoints (updated 3 March 2026).
- Ministry of Trade, Industry and Resources, Republic of Korea. (2026). Korea to Join IEA Collective Action, Release 22.46 Million Barrels of Emergency Oil Stocks.
- Prime Minister’s Office Singapore. (2026). PM Lawrence Wong on the Situation in the Middle East (2 April 2026).
- ASEAN. (2026). ASEAN Foreign Ministers’ Statement on the Evolving Situation in the Middle East (21 July 2026).
- Philippine Information Agency. (2026). ASEAN Ministers Urge Development of Petroleum Sharing Agreement amid Middle East Tensions.
- Office of the Historian, U.S. Department of State. Oil Embargo, 1973-1974.
- Ditjen Migas, Kementerian ESDM. (2015). Indonesia Ditawari Jadi Anggota IEA.
- straits.live. (2026). Strait of Hormuz Status Tracker (IMF PortWatch data; accessed 29 October 2026).
Scholarly literature
- Farrell, H., & Newman, A. L. (2019). Weaponized Interdependence: How Global Economic Networks Shape State Coercion. International Security, 44(1), 42-79.
- Kendell, J. (IEF16 Ministerial, n.d.). Energy security dimensions, drawing on APERC (2007), A Quest for Energy Security in the 21st Century. International Energy Forum.
- Storey, I. (2006). China’s “Malacca Dilemma”. China Brief, 6(8). Jamestown Foundation.
- Sempa, F. P. (2015). Nicholas Spykman and the Struggle for the Asiatic Mediterranean. The Diplomat.
- Phillips, S. (2024). Revisiting the Tanker War. War on the Rocks.
Policy analysis and institutional reports
- ERIA. (2026). Strengthening ASEAN Energy Security and Economic Resilience after the Strait of Hormuz Disruption. Issue Paper No. 2026-1.
- Bakshi, P. (2026). ASEAN’s Energy Vulnerability and the Impact of the Hormuz Crisis. ORF Occasional Paper No. 563.
- Storey, I. (2026). Southeast Asia and the Third Gulf War: Impact, Responses and Implications. Fulcrum, ISEAS-Yusof Ishak Institute.
- Prétat, H., Sato, M., Powers-Riggs, A., & Funaiole, M. P. (2026). No One, Not Even Beijing, Is Getting Through the Strait of Hormuz. CSIS.
- Chatham House. (2026). Should Egypt Join the Mecca Pact? Expert comment.
- Domini, L. (2026). The Hormuz Strait Crisis Confirms Nodal Control Will Dominate Maritime Geopolitics. CIMSEC.
- IMPRI. (2026). India’s Response to the Strait of Hormuz Crisis.
- Li, A. (2026). The Iran War’s Back Door Runs Through Malaysian Waters. IR Insider.
- KBA13 Insight. (2026). KBA13 Insight Update: 29 October 2026, Middle East.
News media
- The National. (2026, 29 October). Oil prices decline after diplomatic push in Iran war.
- The National. (2026, 26 October). Egypt’s parliament authorises El Sisi to send troops to defend Saudi Arabia.
- CBS News. (2026, 29 October). Iran war: Qatar mediators present new proposal (live updates).
- Khaleej Times. (2026, 28 October). US-Israel-Iran-Lebanon war live updates.
- Arab News. (2026, 26 October). Saudi defense minister leads delegation attending Makkah Pact countries meeting with Iran.
- Soeriaatmadja, W. (2026, 20 May). Indonesia clings to fuel subsidies despite oil price surge, worrying economists. The Straits Times via Asia News Network.
- ANTARA. (2026, 30 September). Indonesia holds Pertalite prices steady despite $107 global oil surge.
- Ghifari, D. (2026, 26 October). Govt to hike imports to meet subsidized gasoline demand. The Jakarta Post.
- ANTARA. (2026, 21 July). Indonesia begins first Russian oil imports under 150-mln-barrel plan.
- ANTARA. (2026, 11 May). Indonesia proposes ASEAN oil storage hub, eyes Sumatra site.
- ANTARA. (2026, 25 June). After months of delay, Pertamina’s Gamsunoro safely transits Hormuz.
- Jakarta Globe. (2026, 29 March). Indonesia lobbies Iran to secure passage for oil tankers through Strait of Hormuz.
- Jakarta Globe. (2026, 20 April). Indonesian tankers cancel exit after Strait of Hormuz is closed again.
- Jakarta Globe. (2026, 31 March). Indonesia shifts LPG and fuel sourcing away from Middle East risks.
- Jakarta Globe. (2026, 28 February). Indonesia’s Prabowo ready to fly to Tehran as mediator.
- Jakarta Globe. (2026, 3 March). Indonesia tells Iran Prabowo still wants to mediate conflict.
- Jakarta Globe. (2026, 1 October). Prabowo cabinet reshuffle puts focus on industry, energy and diplomacy.
- Türkiye Today. (2026, 11 March). Indonesia-owned tankers escape Strait of Hormuz as Jakarta vows fuel prices to hold.
- Petromindo. (2026). Indonesia’s March LPG imports slump as Middle East supplies dry up.
- ABC News. (2026, 23 April). Indonesia’s finance minister suggests Strait of Malacca toll before immediately backtracking.
- Reuters via Gulf Times. (2026, 24 April). Hormuz crisis throws spotlight on world’s largest chokepoint, the Malacca Strait.
- AsiaNews. (2026, 25 March). Marcos declares energy emergency, with only 45 days of supplies.
- Al Jazeera. (2026, 21 July). ASEAN diplomats voice serious concern over Iran war and energy crisis.
- GridWatch. (2026). ASEAN energy ministers adopt joint statement on petroleum security and regional resilience.
- Xinhua. (2026, 7 October). IEA members support accelerating release of about 100 mln barrels of oil stocks.
- Nippon.com. (2026). Japan set for record oil reserve release.
- S&P Global. (2026, 12 May). Japan PM says no additional oil reserve release after securing enough crude for June.
- Seoul Economic Daily. (2026, 6 April). Korea sends oil envoys to Middle East, deploys 5 tankers to Red Sea.
- Kennedy, C. (2026, 28 September). Qatar extends LNG force majeure as Hormuz crisis drags on. OilPrice.com.
- AFP via Free Malaysia Today. (2024, 26 January). UN reports 42% drop in Suez traffic following Houthi attacks.
- Dawn. (2026, 20 March). Riyadh moot asks Tehran to stop attacking neighbours.
- Tanamal, Y. (2026, 16 March). Indonesia delays D-8 summit as Mideast war rages. The Jakarta Post via APSN.
Arsip & Pustaka
- Dalimi, R. (2014, 9 October). KEN-2050 dan Dilema Harga BBM. Kompas.
- Bustamam Ahmad, K., & Ibrahim, F. Z. (2026). The Middle East Fault Lines: Iran, Gaza, the Gulf, and the Rewriting of the Regional Order. Independently published.
- Bustamam Ahmad, K. (2026). Judgement Before the Evidence: A Year of Fault Lines in the Indo-Pacific and Beyond. Independently published.
- Khanna, P. (2019). The Future Is Asian: Global Order in the Twenty-first Century. New York: Simon & Schuster.
How to Cite
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad. (2026). When Hormuz Closes: Southeast Asia Between Two Straits: Chokepoint Dependence, Great-Power Naval Presence and Indonesia’s Strategic Repositioning in an Emerging Energy-Geopolitical Order. Working Paper, KBA13 Academy Research Center. https://kba13academy.com/hormuz-tertutup-asia-tenggara/
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad is Professor of Religious Anthropology at UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. He holds a PhD in sociology from La Trobe University and a Master of Syariah from Universiti Malaya, has written more than sixty books, and serves as President of the Asian Muslim Action Network (AMAN) International. He founded KBA13 Insight and KBA13 Academy as an ecosystem for research, teaching and strategic analysis.
Research to teaching · Futures Studies
Bahan ajar terkait kajian ini
Kajian ini terhubung dengan School dan Course KBA13 Academy pada bidang Futures Studies, serta dengan koleksi Arsip & Pustaka dan KBA13 Insight.
Course terkait
- FS-A01: Strategic Foresight Fundamentals
- FS-A02: Anticipatory Governance
- FS-A03: Early Warning Systems
- FS-A04: Risk and Resilience Futures
- FS-A05: Innovation and Futures
- FS-A06: Foresight for Institutions
Arsip & Pustaka
- Jangkar atau Enklave? Kampus Asing dan Masa Depan Pendidikan Tinggi Indonesia2026-11-02
- Syamsuddin as-Sumatrani2026-10-30
- Forum Peduli Hak Asasi Manusia (FP-HAM) dan dokumentasi pelanggaran HAM masa DOM2026-10-30
- Sultanah Tajul Alam Safiatuddin2026-10-30
- Ketua yang Selalu Waspada: Watak Negara Singapura dan Masa Depan ASEAN di Bawah Keketuaan 20272026-10-30
KBA13 Insight
- Dari Transit ke Pabrik: Anatomi Jaringan Narkoba Aceh di Pesisir Timur2026-10-28
- Masa Depan Konfrontasi menuju Perang Terbuka Antara Singapura dan Indonesia2026-10-25
- Bireuen Berdiri di Atas Kaki Sendiri: Kepemimpinan Lokal, Hunian Tetap, dan Krisis Kepercayaan Pascabanjir 20252026-10-24
- Menjaga Hutan, Menanggung Banjir: Paradoks Ketambe dan Pelajaran Ekologis dari Kaki Leuser2026-10-24
- Beyond the Smoke: Indonesia’s 2026 Fires, Singapore- and Malaysia-Linked Corporate Networks, and the Regional Accountability Gap2026-10-20

Leave a Reply